BicaraMuslim.com Forum Index BicaraMuslim.com
Bicara Kita di Anjung Siber
 
 FAQFAQ   SearchSearch   MemberlistMemberlist   UsergroupsUsergroups   RegisterRegister 
 ProfileProfile   Log in to check your private messagesLog in to check your private messages   Log inLog in 

IMAM AL-GHAZALI

 
Post new topic   Reply to topic    BicaraMuslim.com Forum Index -> Bicara Muslim
View previous topic :: View next topic  
Author Message
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Sat Aug 11, 2001 6:36 am    Post subject: Reply with quote

a'kum..

saya budak baru belajar..

saya slalu baca buku2 ilmiah dari karya imam al-ghazali..

antara..penenang jiwa..mengenal nafsu dan cara2 mengawalnya...petunjuk permulaan..taubat..minhajul abidin..kalo x silap..

saya dapati..karya beliau memang best..pasal menusuk ke dalam hati..seolah2..terasa sangat setiap apa yang ditulisnya..pendek kata gaya penulisannya amat menarik dan sederhana..
jadik saya nak bertanya..pada kawan2..kepada yang tahu..bleh tak ceritakan skit..biodata imam al-ghazali...saya rasa saya btul2 kagum ngan dia..

baru2 nih saya terbaca plak pandangan dia tentang kaunseling dalam islam..antara camana cara nak berdakwah..dan method yang sesuai..serta 7 syarat utk jadik manusia cemerlang..memang best..

so..bley ek?
sapa2 yang tahu..citer ckit..
syukran jazilan pada sapa2 yang bleh kasik infos..a'kum



_________________
::InDahNYa HiDuP bErsAmA IlmU::
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Tue Aug 14, 2001 3:38 am    Post subject: Reply with quote

tolon..jawab la..sapa2 yang tahu...
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Tue Aug 14, 2001 4:18 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Saya jumpa dalam internet, dalam kitab ihya' pun ada biodatanya.

Selayang Pandang Perjalanan Hidup Al Ghazaly 

Al Ghazaly dilahirkan pada tahun 450H./1058M. di daerah Thusy, bagian wilayah Kharasan (sekarang termasuk bagian dari Iran)(7). Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan, taat menjalankan Agama dengan baik. 

Kharasan pada masa pra-Islam diketahui sebagai daerah tempat 
menyebarnya budaya Persia dan Cina. Penyebaran ilmu pengetahuan, 
terutama filsapat Yunani tiumbuh dengan subur-setelah Dewan Pengajaran Alexandria (urusan kedokteran dan filasapat) berpindah-pindah dari Mesir ke Antakiyah, kemudian ke Kharasan (menetap beberapa tahun lamanya), serta ke Jandisabur dan, ke Mara, ke Huran, dan terkahir ke Bagdad.( 

Pengaruh budaya asing di Khurasan kelihatan dengan jelas pada 
perkembangan intelektualitas di masa-masa Islam. Telah bermunculan para pemikir klasik Islam(9) sa`at itu, dengan nilai ilmiyahnya cukup 
mengagumkan.  Bentuk sosial-budaya dan iklim ilmiyah yang berkembang di Khurasan lebih maju dari daerah lainnya ketika daerah itu di kuasai oleh Saljuk. Para pemimmpin Saljuk cinta ilmu pengetahuan. Kecuntaannya itu mereka proyeksiakan dengan membangun sekolah-sekolah di Bagdad dan Nisabur. 

Diajarkan dari sekolah-sekolah tersebut pendidikan tentang Ahlu 
Sunnah-karena mereka sendiri termassuk golongan yang kuat berpegang pada Sunni-dan dengan sendirirnya meluas da`wah Sunni dengan kuat.(10) 

Adapun mengenai Al Ghazaly, ia semenjak kecil telah belajar fiqh di 
daerahnya Thusy kepada Ahmad bin Muhammad al Radzakany al Thusy.(11) menginjak umur 25 tahun, Al Ghazaly pindah belajarnya kepada Ali Nashr al Ismail.(12) Setelah tamat di Jurjan, ia meneruskan ke Nisabur, dan pada masa ini Al Ghazaly mulai belajar menulis, dalam rangka merefleksikan ilmunya yang telah di dapati dara para gurunya. Ini merupakan sebagai awal berkarya dalam dunia intelektual.(13) 

Melalui karyanya Al Ghazaly mulai kedengaran oleh masyarakat, khususnya para pemimpin. Kepandaian Al Ghazaly dalam berdepat dengan argumentasi yang kuat, telah menarik perhatian Raja Nidlam. Sehingga Al Ghazaly diminta untuk mengajar di Madrasah Nidlamiyah. Permintaan Raja tersebut adalah merupakan kehormatan yang tinggi dan di idam-idamkan oleh semua "ulama". Dengan dekatnya ulama pada penguasa, maka mereka akan hidup 
lebih terjamin, kebutuhan primer dan skunder akan tercukupi. 

Sehinga kita bisa memprediksikan, bahwa "ulama" pada masa itu sangat aktif mencari ilmu dan berkarya. Gerakan ilmiyah bermunculan 
dimana-mana. Karena mereka selain mencari ilmu untuk ilmu, mereka juga menjadikan ilmu sebagai media pendekatan dengan penguasa.(14) Suasana keberagaman proses pembentukan intelektualitas tersebut, yang mendorong Al Ghazaly untuk menerima permintaan Raja Nidlam. Pada sebelumnya pun, Al Ghazaly sudah berniat untuk mendekati penguasa. Dengan bukti pada 
tahun 478H. ia keluar dari Nisabur menuju mu`askar (tempat 
berlangsungnya proses belajar dan mengajar di madrasah nidlamiyah) 
bertujuan menghadap Raja Nidlam.(15) Bukti ini diperkuat dengan 
pernyataannya Dr. Zuwaimar-yang dikutip perkataannya oleh Dr. Sulaiman Dunia(15)-yang menyatakan:"Sesungguhnya Al Ghazaly berangkat ke mu`askar bertujuan menampakkan refurtasinya kepada orang-orang yang tidak senang sama dia, dan bahwa dia berhak mendapatkan bintang kehormatan ilmu pengetahuan. 

Nidlam al Malik merupakan orang terkemuka di pemerinthan  dan pemimpin yang benar-benar memperhatikan ilmu. Nidlam al Malik telah mendirikan beberapa sekolah di berbagai daerah untuk mendorong perkembangan ilmu." 

Selama mengajar di madrasah nidlmiyah, AL Ghazaly telah berhasil 
mengarang kitab-kitab yang cukup berarti bagi para anak didiknya 
khususnya, dan bagi musilin umumnya.Diantara karya-karyanya(16) adalah: al mankhul fi Ushul al Fiqhi, Syifaul Ghalil fi Ushul al fiqhi, ma'akhad al Khilaf, Lubab al Nadzar,Tahsin al Ma'akhid, al mabadi' wal Ghayat, al Basith, Khulashah al Nukhtashar, al Wasith, al Wajiz fi Fiqhi al Imam al Syafi'i, Tahdzib al Ushul, Maqashid al falasipah(17), Tahafut al Falasipah(1, Fadlaih al Batiniyah, Hujjatul hak, Mi'yar al `Ilmy(19), Mahkul nadzar, al Iqtishad fil I`tiqad, Mizan al `Amal. 

Dilain segi-selama mengajar-Al Ghazaly mendapatkan kebahagian yang cukup dalam marteri. Yang mana ia hidup serba kecukupan, populeritas namanya punya pengaruh besar di Dunia Islam dengan mendapat dukungan dari penguasa. Sedangkan kebahagian intelektualitas tidak belum didapati secara maksimal. Kebahagian yang dirasakan selama ini belum menemukan hakikat diri sebenarnya. Pencarian hakiakt masih tetap di carinya. pada gilirannya, ia mengasingkan diri jauh dari keramaian dan kebanggaan. pada masa seperti ini Al Ghazaly baru menemukan hakikat yang dicarinya 
yaitu "jalan hidup" yang abadi. Thariqat sufi adalah jalan yang 
ditempuhnya. Selama pengasingan diri Al Ghazaly telah menulis beberapa kitab seputar tasawwuf.(21)  Menjelang meninggalnya beberapa tahun, Al Ghazaly telah memutuskan untuk berhenti(22)mengajar, sampai akhir hayatnya tahun 505H./1111M. Wallahua'lam.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Tue Aug 14, 2001 4:22 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Ini biodata kedua yang saya jumpa di internet:

Imam Al-Ghazali: Hujjatul Islam

NAMA lengkapnya: Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Ibn Muhammad al-Ghazali al-Thusi. Lahir pada 450 H/1058 M di Thus (sekarang dekat Meshed) Iran. Ayahnya seorang perajin wol dan hasilnya dijual sendiri di tokonya di Thus.
Menurut pengakuan Ghazali yang termuat dalam bukunya, Al-munqidz min al-Dhalat (Pembebas dari Kesesatan), sejak masa remajanya sudah memiliki jiwa yang skeptis dan kritis. Ia selalu merasa tidak sesuai dengan apa yang telah dimilikinya. Jiwa semacam inilah yang mendorongnya mencari ilmu ke pelbagai guru dan tempat, untuk mencari kebenaran yang hakiki.
Ia memang pada akhirnya dapat menguasai berbagai ilmu secara mendalam. Namun perasaan ragu senantiasa mengusiknya. Yang diinginkannya adalah keyakinan (kebenaran) yang sampai di tingkat matematis --seperti keyakinan bahwa bilangan sepuluh lebih besar jumlahnya dari tiga-- yang tak tergoyahkan lagi oleh intimidasi apa pun.

Al-Ghazali tidak berhenti di situ. Ia mencari terus kebenaran hakiki. Dengan berpegang kepada kredibilitas pikiran "dharuri", ia mulai melangkah meneliti secara partisipan terhadap empat golongan yang dianggapnya masing-masing mempunyai metode tersendiri dalam usaha memperoleh pengetahuan mengenai hakikat segala sesuatu. Keempat golongan ini adalah golongan teolog (mutakallimun), golongan Bathiniyyah, golongan filsuf, dan golongan sufi.
Pertama-tama Ghazali mengikuti kegiatan para teolog. Tetapi di matanya, para teolog itu hanya sibuk mengumpulkan argumen-argumen lawan pahamnya, untuk dibantah dengan argumen sendiri yang dianggap lebih rasional. Memang, menurutnya, kalam hanya berorientasi untuk membentengi secara rasional akidah yang benar, yang bersumber dari Al Quran dan Hadis. Namun untuk menumbuhkan akidah yang benar pada umat yang belum atau tidak menganutnya, kalam tidak bisa dipercaya berhasil melakukannya. Metode ini tidak memuaskan Ghazali, lantas ditinggalkannya.
Lantas Ghazali meneliti kerja para filsuf dengan metodenya yang rasional, yang mengandalkan akal untuk memperoleh pengetahuan yang meyakinkan. Secara otodidak, ia pun mempelajari filsafat. Dengan kecerdasannya, hanya dalam tempo dua tahun ia berhasil menguasai filsafat sampai ke detail-detailnya. Bahkan ia mampu membongkar kelemahan-kelemahan filsafat dalam bukunya, Tahafut al-Falasifah yang telah mengangkat nama Ghazali dalam bidang filsafat, sehingga ia digelari sebagai filsuf Islam. Ghazali pun lalu meninggalkan metoda para filsuf, kemudian beralih ke Bathiniyyah. Ia pelajari segala aspek ajarannya. Menurut Ghazali golongan ini menolak kredibilitas akal dalam masalah agama, karena pertentangan-pertentangan pendapat yang dihasilkannya. Karena itu, mereka hanya berpegang kepada ajaran dari imam yang ma'shum (terbebas dari kesalahan), yang menerima ajarannya langsung dari Allah melalui Nabi Muhammad SAW.
Mengikuti metode mereka ini, Ghazali pun mencari-cari di mana gerangan imam yang ma'shum itu berada, untuk memperoleh ajarannya. Ternyata tidak bisa ditemukan. Lantaran itu, Ghazali berkesimpulan bahwa para pengikut Bathiniyyah dalam keadaan terkecoh. Pernyataan Ghazali itu termuat dalam bukunya Badaih al-Bathiniyyah (Kesalahan-kesalahan Kaum Bathiniyyah).

Atas jasa-jasanya membantah pernyataan kaum filsuf dan Bathiniyyah, oleh para ulama, Ghazali digelari "hujjatul Islam", artinya: Pembela Islam. Sesuai dengan kata yang dipakai, hujjah (argumen), maka orang yang diberi gelar "hujjatul Islam", artinya ia telah berhasil menangkis serangan-serangan yang ditujukan untuk mengacaukan ajaran Islam. Tangkisan itu --tentu saja-- adalah argumen yang tak terpatahkan lagi oleh lawan.
Kajian-kajian mendalam tentang khasanah intelektual Islam, tidak akan pernah meninggalkan kontribusi Ghazali dalam pemikiran Islam berikut pengaruhnya yang luar biasa terhadap praktik keagamaan di dunia Islam. Tetapi, di tengah-tengah kebesaran Ghazali dengan para pendukungnya juga tidak sepi dari para pengkritiknya yang kontra atas pandangan pemikiran Ghazali, baik dari ulama salaf maupun khalaf.

Sebagai seorang ulama yang menguasai bidang ushul fiqh, fiqh, ilmu kalam, sosiologi, psikologi, metafisika, dan fisika, Ghazali menempatkan diri sebagai ulama ensiklopedis yang tak tertandingi. Apalagi prestasinya dalam menenggelamkan pemikiran kefilsafatan, semakin mengukuhkan Ghazali sebagai filosof besar. Prestasi itulah yang memahkotainya sebagai mujahid dan mujaddid abad ke-5 Hijriyah.
Buku ini merupakan kajian representatif tentang al-Ghazali. Dr Yusuf al-Qardhawi menggambarkan secara jelas posisi pemikiran Ghazali dengan sejumlah karyanya di tengah-tengah gelombang kritik terhadap dirinya, sekaligus meluruskan para kritikus yang kurang proporsional. (Muhammad Ali, peresensi tinggal di Surabaya)
Wallahua'lam.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Tue Aug 14, 2001 4:23 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Saya jumpa dalam internet, dalam kitab ihya' pun ada biodatanya.

Selayang Pandang Perjalanan Hidup Al Ghazaly 

Al Ghazaly dilahirkan pada tahun 450H./1058M. di daerah Thusy, bagian wilayah Kharasan (sekarang termasuk bagian dari Iran)(7). Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana dan, taat menjalankan Agama dengan baik. 

Kharasan pada masa pra-Islam diketahui sebagai daerah tempat 
menyebarnya budaya Persia dan Cina. Penyebaran ilmu pengetahuan, 
terutama filsapat Yunani tiumbuh dengan subur-setelah Dewan Pengajaran Alexandria (urusan kedokteran dan filasapat) berpindah-pindah dari Mesir ke Antakiyah, kemudian ke Kharasan (menetap beberapa tahun lamanya), serta ke Jandisabur dan, ke Mara, ke Huran, dan terkahir ke Bagdad.( 

Pengaruh budaya asing di Khurasan kelihatan dengan jelas pada 
perkembangan intelektualitas di masa-masa Islam. Telah bermunculan para pemikir klasik Islam(9) sa`at itu, dengan nilai ilmiyahnya cukup 
mengagumkan.  Bentuk sosial-budaya dan iklim ilmiyah yang berkembang di Khurasan lebih maju dari daerah lainnya ketika daerah itu di kuasai oleh Saljuk. Para pemimmpin Saljuk cinta ilmu pengetahuan. Kecuntaannya itu mereka proyeksiakan dengan membangun sekolah-sekolah di Bagdad dan Nisabur. 

Diajarkan dari sekolah-sekolah tersebut pendidikan tentang Ahlu 
Sunnah-karena mereka sendiri termassuk golongan yang kuat berpegang pada Sunni-dan dengan sendirirnya meluas da`wah Sunni dengan kuat.(10) 

Adapun mengenai Al Ghazaly, ia semenjak kecil telah belajar fiqh di 
daerahnya Thusy kepada Ahmad bin Muhammad al Radzakany al Thusy.(11) menginjak umur 25 tahun, Al Ghazaly pindah belajarnya kepada Ali Nashr al Ismail.(12) Setelah tamat di Jurjan, ia meneruskan ke Nisabur, dan pada masa ini Al Ghazaly mulai belajar menulis, dalam rangka merefleksikan ilmunya yang telah di dapati dara para gurunya. Ini merupakan sebagai awal berkarya dalam dunia intelektual.(13) 

Melalui karyanya Al Ghazaly mulai kedengaran oleh masyarakat, khususnya para pemimpin. Kepandaian Al Ghazaly dalam berdepat dengan argumentasi yang kuat, telah menarik perhatian Raja Nidlam. Sehingga Al Ghazaly diminta untuk mengajar di Madrasah Nidlamiyah. Permintaan Raja tersebut adalah merupakan kehormatan yang tinggi dan di idam-idamkan oleh semua "ulama". Dengan dekatnya ulama pada penguasa, maka mereka akan hidup 
lebih terjamin, kebutuhan primer dan skunder akan tercukupi. 

Sehinga kita bisa memprediksikan, bahwa "ulama" pada masa itu sangat aktif mencari ilmu dan berkarya. Gerakan ilmiyah bermunculan 
dimana-mana. Karena mereka selain mencari ilmu untuk ilmu, mereka juga menjadikan ilmu sebagai media pendekatan dengan penguasa.(14) Suasana keberagaman proses pembentukan intelektualitas tersebut, yang mendorong Al Ghazaly untuk menerima permintaan Raja Nidlam. Pada sebelumnya pun, Al Ghazaly sudah berniat untuk mendekati penguasa. Dengan bukti pada 
tahun 478H. ia keluar dari Nisabur menuju mu`askar (tempat 
berlangsungnya proses belajar dan mengajar di madrasah nidlamiyah) 
bertujuan menghadap Raja Nidlam.(15) Bukti ini diperkuat dengan 
pernyataannya Dr. Zuwaimar-yang dikutip perkataannya oleh Dr. Sulaiman Dunia(15)-yang menyatakan:"Sesungguhnya Al Ghazaly berangkat ke mu`askar bertujuan menampakkan refurtasinya kepada orang-orang yang tidak senang sama dia, dan bahwa dia berhak mendapatkan bintang kehormatan ilmu pengetahuan. 

Nidlam al Malik merupakan orang terkemuka di pemerinthan  dan pemimpin yang benar-benar memperhatikan ilmu. Nidlam al Malik telah mendirikan beberapa sekolah di berbagai daerah untuk mendorong perkembangan ilmu." 

Selama mengajar di madrasah nidlmiyah, AL Ghazaly telah berhasil 
mengarang kitab-kitab yang cukup berarti bagi para anak didiknya 
khususnya, dan bagi musilin umumnya.Diantara karya-karyanya(16) adalah: al mankhul fi Ushul al Fiqhi, Syifaul Ghalil fi Ushul al fiqhi, ma'akhad al Khilaf, Lubab al Nadzar,Tahsin al Ma'akhid, al mabadi' wal Ghayat, al Basith, Khulashah al Nukhtashar, al Wasith, al Wajiz fi Fiqhi al Imam al Syafi'i, Tahdzib al Ushul, Maqashid al falasipah(17), Tahafut al Falasipah(1, Fadlaih al Batiniyah, Hujjatul hak, Mi'yar al `Ilmy(19), Mahkul nadzar, al Iqtishad fil I`tiqad, Mizan al `Amal. 

Dilain segi-selama mengajar-Al Ghazaly mendapatkan kebahagian yang cukup dalam marteri. Yang mana ia hidup serba kecukupan, populeritas namanya punya pengaruh besar di Dunia Islam dengan mendapat dukungan dari penguasa. Sedangkan kebahagian intelektualitas tidak belum didapati secara maksimal. Kebahagian yang dirasakan selama ini belum menemukan hakikat diri sebenarnya. Pencarian hakiakt masih tetap di carinya. pada gilirannya, ia mengasingkan diri jauh dari keramaian dan kebanggaan. pada masa seperti ini Al Ghazaly baru menemukan hakikat yang dicarinya 
yaitu "jalan hidup" yang abadi. Thariqat sufi adalah jalan yang 
ditempuhnya. Selama pengasingan diri Al Ghazaly telah menulis beberapa kitab seputar tasawwuf.(21)  Menjelang meninggalnya beberapa tahun, Al Ghazaly telah memutuskan untuk berhenti(22)mengajar, sampai akhir hayatnya tahun 505H./1111M. Wallahua'lam.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Thu Aug 16, 2001 12:22 am    Post subject: Reply with quote

mekasih pada penamerah...

lain kali kalo ader jer infos..kasik agie ek?
syukran jazilan:gelak:

_________________
::InDahNYa HiDuP bErsAmA IlmU::
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
Avicennia
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 477
Location: Johor Bahru

PostPosted: Thu Aug 16, 2001 8:05 am    Post subject: Reply with quote

assalamualaikum..

IMAM AL-GHAZALI seorang tokoh islam yg sangat berwibawa...Avi sangat kagum bila baca sejarah ilmuan islam...

suka baca buku karangannya KESILAPAN DALAM SEMBAHYANG..lepas tu compare dengan solat kita:sedih:

penamerah nak print bleh ka?
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Yahoo Messenger MSN Messenger
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Sat Aug 18, 2001 12:25 am    Post subject: Reply with quote

A’kum
A'kum nahwan dan Avi juga teman2

Buat Avi, silakan print dan sebenarnya semua ni saya jumpa dalam internet masa cari kisah imam ini. Apa2pun bolehlah dirujuk kepada kitab2 yang tertulis di dalam penceritaan ini. Sengaja saya letakkan banyak2 sebagai ilmu juga perbandingan dalam kajian masing2.

Sambung:
AL-GHAZALI
Namanya Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Imam Abu Hamid Al-Ghazali, yang termasyur dengan gelar Hujjatul Islam. Dilahirka di Thus suatu tempat di Khurasan (Iran), pada tahun 450 H atau tahun 1058 M. Ayahnya adalah seorang miskin yang salah. Penghidupannya bertenun memintal benang dari bulu. Ia sangat senang berkunjung kepada alim ulama guna untuk belajar dan memetik ilmu pengetahuan dan juga untuk memberikan bantuan kepada mereka. Ketika mengikuti pelajaran dari gurunya, ayah Al-Ghazali ini sering menangis serta berdoa memohon kepada Allah, semoga dikurniai putera-putera yang pintar dalam agama. Akhirnya ia benar-benar dikaruniai Allah dua orang putera. Kedua orang puteranya itu ialah Al-Ghazali dan Ahmad adiknya.

Kemudian ayahnya wafat semasa Al-Ghazali masih kecil. Kemudian Al-Ghazali dan adiknya dididik oleh seorang ahli tasawuf sesuai dengan wasiat sang ayah. Karena, itu, ajaran ilmu tasawuf sangatlah mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan jiwa Al-Ghazali. Ketika belajar tampaklah ketajaman otak Al-Ghazali, sehingga ia sering disebut-sebut oleh gurunya di dalam majlis-majlis pengajian. Al-Ghazali belajar dengan Ahmad bin Muhammad Ar-Radzkani seorang guru yang terkenal. Belajar ilmu tasawuf dengan Imam Haramain. Setelah itu, melanjutkan pelajarannya ke Nishabur, dengan seorang alim terkenal bermazhab Syafi'I dan Madrasah Nizamiyah, bernama Dhiauddin Al-Juwaini. Ketika gurunya ini wafat, Al-Ghazali pindah belajar ke Askar pada tahun 478 H. Dalam kepindahan ini, terkandung maksud Al-Ghazali untuk menemui menteri Nizamul Muluk. Kemudian ia dapat bertatap muka dengan menteri Nizamul Muluk dan akhirnya Al-Ghazali dapat bertemu pula dengan para alim ulama di dalam suatu pertemuan.

Dalam pertemuan itu, diadakan tanya jawab soal keagamaan. Ketika itulah kecerdasan dan kemahiran Al-Ghazali dalam ilmu pengetahuan terbukti. Pertanyaan-pertanyaan dan masalah agama yang diajukan kepadanya dapat dijawabnya dengan tepat, sehingga para alim ulama mengakui kelebihannya itu. Bahkan para hadirin dalam sidang itu merasa kagum dan terpesona atas kepintaran Al-Ghazali tersebut.
Oleh karena itu ia mendapat kehormatan dan kepercayaan menjadi tenaga pengajar pada Madrasah Nizamiyah di Baghdad pada tahun 464 H. Kemudian, setelah lima tahun mengajar, Al-Ghazali diangkat menjadi Kepala Madrasah Nizamiyah tersebut. Sebelum Al-Ghazali menjadi Kepala Madrasah tersebut, di dadanya telah penuh oleh berbagai-bagai ilmu, seperti ilmu fiqh, bahasa, filsafat, dan tasawuf. Setelah lima tahun lamanya Al-Ghazali mencurahkan ilmu pengetahuan di Madrasah Nizamiyah di Baghdad, maka timbullah keragu-raguan baginya tentang apakah sebenarnya "hakikat" itu.
Pada masa itu Baghdad sedang berkecamuk bermacam-macam aliran, yang masing-masing mengaku alirannya sajalah yang benar. Oleh Imam Al-Ghazali semua aliran dan faham itu diselidiki dan dipelajarinya sedalam-dalamnya, sampai ia mengambil kesimpulan, aliran mana yang akan dianut atau yang akan diikutinya. Sejak dari aliran ilmu kalam, aliran golongan bathiniyah, aliran golongan filosof dan aliran golongan sufi, semua ini diselidikinya secara bersungguh-sungguh.

Untuk mencari dan menilai kebenaran ini Al-Ghazali beruzlah (mengasingkan diri) untuk ibadah. Maka ditinggalkannyalah, pangkat kedudukan dan pengaruh, untuk sementara ia bercerai dan berpisah dengan harta dan keluarga yang dicintai dan disayanginya. Hartanya dibagi-bagikannya dan ia mengambil hanya sekedar untuk biaya keluarga yang ditinggalkannya dan bekal untuk pergi. Sepuluh tahun lamanya Al-Ghazali melakukan uzlah. Tak seorang pun di Baghdad yang menduga bahwa kepergian beliau itu untuk ber-uzlah.
Dari Baghdad beliau berangkat ke Syam dan dua tahun lamanya berada di negeri Syam ini melakukan uzlah, khilwah, riyadhah dan mujahadah menurut ajaran sufi, guna menjernihkan batin. Setiap hari beliau I'tikaf di masjid Damsyik di atas menara dengan pintu tertutup. Dari Damsyik lalu pergi ke Baitul Maqdis dan di sana memasuki Qubbatus Sachrah dan tinggal dengan pintu tertutup juga. Kemudian, beliau pergi ke Hijaz dan terus menunaikan ibadah haji di Mekkah dan Madinah.

Apakah yang diperoleh Al-Ghazali setelah ber-uzalah selama sepuluh tahun ?
"Selama waktu ber-khalwah itu, terbukalah bagiku rahasia yang tak terhitung jumlahnya, tak mungkin di-istiqsa. Yang akan kukatakan - untuk diambil manfaatnya - ialah, aku yakin benar-benar bahwa kaum Sufiyah itulah yang betul-betul telah menempuh jalan yang dikehendaki Allah Ta'ala. Merekalah golongan yang paling utama dalam cara-cara hidupnya, yang paling tepat tindak lakunya dan paling tinggi budi pekertinya. Bahkan andaikata akal para 'uqala, hikmat para hukama dan ilmu para ulama yang tahu rahasia syara' dihimpunkan untuk menciptakan cara yang lebih utama daripada cara Sufiyah itu, tiadalah akan memberi hasil; sebab segala gerak-gerik mereka (kaum Sufiyah), baik lahir maupun batin, diterangi Cahaya Kenabian. Di dunia tak ada cahaya yang lebih terang darinya.
InsyaAllah bersambung...
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Sat Aug 18, 2001 12:27 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Sambung:

Setelah menempuh jalan Sufiyah itu, jelaslah bagiku Kenabian dan khasiatnya."

1. Jadi tidaklah mengherankan, jika tulisan dan karangan Imam Al-Ghazali, bercorak tasawuf, karena Al-Ghazali sendiri sudah mempelajari, menyelidiki dan mengalami cara-cara hidup kaum Sufi itu. Begitulah kira-kira isi kitab beliau yang masyur yaitu Ihya Ulumiddin dan Minhajul Abidin.
Lama juga Imam Al-Ghazali terombang ambing dalam keresahan, apakah terus ber-uzlah atau kembali menyebarkan ilmu. Akhirnya Al-Ghazali sendiri menerangkan bahwa rekan-rekan beliau mendorong agar beliau kembali menyebarkan ilmu, di mana gerakan ini merupakan permulaan masa kebaikan dan kesadaran yang ditakdirkan Allah. Diperkuat dengan sabda Rasulullah saw, bahwa Allah berjanji akan menghidupkan kembali agama setiap satu abad.

Meskipun Al-Ghazali kembali menyebarkan ilmu seperti dahulu, tapi jiwa dan niat Al-Ghazali tidak seperti dahulu. Sebab berdasarkan keterangan Al-Ghazali sendiri, dalam bukunya Munqidz Minadhdhalal menyebutkan bahwa sebelum beruzlah, tujuan Al-Ghazali menyiarkan ilmu adalah untuk mencari dan mengejar, kedudukan, pangkat dan pengaruh. Tetapi setelah kembali dari uzlah, atau setelah ia menganut dan mengamalkan faham tasawuf atau tarekat sufiyah, maka niat dan tujuan Al-Ghazali bukan lagi mencari pengaruh, ataupun mengejar kedudukan dan pangkat, tapi benar-benar ikhlas bahwa betapa tercelanya sifat ingin pangkat, kedudukan dan pengaruh ini. Kemudian kembalilah Al-Ghazali menyebarkan ilmu dengan penuh keikhlasan, sehingga namanya semakin harum dan termasyhur.

Sebagaimana para ulama yang lain yang mempunyai banyak karya atau kitab, maka Imam Al-Ghazali juga banyak mengarang kitab. Ada yang mengatakan bahwa kitab-kitab Al-Ghazali berjumlah seribu buah. Ada pula yang mengatakan hanya 69 buah dan 84 buah. Yang jelas kitab-kitab karangan Al-Ghazali banyak.
Ada dua buah kitab karangan Al-Ghazali yang kurang dikenal di Indonesia, tapi sangat terkenal di dunia Barat, yaitu Maqashidul Falasifah (maksud ahli-ahli Falsafah) dan Tahafutul Falasifah (Kekacau-balauan Ahli-Ahli Falsafah). Dalam buku ini Al-Ghazali banyak menunjukkan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh para ahli falsafah (filosof). Al-Ghazali tak mempercayai bahwa akal dapat membawa ke hakekat. Timbullah kemudian polemik. Wakil-wakil para ahli falsafah yang diserang Al-Ghazali pun tampil membantahnya. Yang paling tajam menantang Imam Al-Ghazali ialah Ibnu Rasyd, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauzi (murid Ibnu Taimiyah). Inilah Orang-orang yang sangat keras dan tidak sefaham dengan Al-Ghazali.
Kitab beliau yang sangat populer dan terbesar ialah kitab Ihya Ulumiddin. (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama.

2. Kemudianjuga Minhaajul' Abidin.(Jalan bagi Ahli Ibadah) sebuah kitab tasawuf.

3. Setelah Imam Al-Ghazali menunaikan ibadah haji pada tahun 488 H, maka pada tahun 489 H beliau kembali ke Damaskus. Kemudian melawat lagi ke negeri-negeri lainnya, dan akhirnya beliau kembali ke Thus. Tiba di Thus, Al-Ghazali mendirikan perguruan/madrasah dan juga untuk pelajaran tasawuf. Di sinilah beliau mengajar dan beribadah.

Pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H, setelah beliau berwudhu dengan sempurna, kemudian berdaring, diluruskannya badan dan kakinya, lalu menghadap ke kiblat dan tak lama kemudian wafatlah beliau. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raji'un.

4. Pada hari wafat beliau ini banyaklah orang-orang yang datang menjenguk jenazah beliau. Anehnya, sekonyong-konyong datang tiga orang yang tidak dikenal masyarakat di situ. Dua orang langsung memandikan beliau dan yang seorang lagi menghilang entah ke mana. Setelah dimandikan dan dikafani, lalu jenazah dibawa ke kubur. Tiba-tiba datang pula seorang berselimut dan bersorban yang di sebelah kanannya ada panji-panji hitam. Langsung orang itu mensalatkannya dan orang-orang pun ikut di belakang sebagai makmum. Setelah ia (orang yang berselimut tadi) memberi salam ia pun hilang dan orang-orang pun tidak tahu ke mana perginya. Keesokan harinya terdengarlah kabar berita bahwa kedua orang yang memandikan tadi adalah sahabat Imam Al-Ghazali yang datang dari jauh, yaitu dari Marokko, dan namanya Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Ishak As-Syarif.
InsyaAllah bersambung...
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Sat Aug 18, 2001 12:28 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Sambung:

Setelah menempuh jalan Sufiyah itu, jelaslah bagiku Kenabian dan khasiatnya."

1. Jadi tidaklah mengherankan, jika tulisan dan karangan Imam Al-Ghazali, bercorak tasawuf, karena Al-Ghazali sendiri sudah mempelajari, menyelidiki dan mengalami cara-cara hidup kaum Sufi itu. Begitulah kira-kira isi kitab beliau yang masyur yaitu Ihya Ulumiddin dan Minhajul Abidin.
Lama juga Imam Al-Ghazali terombang ambing dalam keresahan, apakah terus ber-uzlah atau kembali menyebarkan ilmu. Akhirnya Al-Ghazali sendiri menerangkan bahwa rekan-rekan beliau mendorong agar beliau kembali menyebarkan ilmu, di mana gerakan ini merupakan permulaan masa kebaikan dan kesadaran yang ditakdirkan Allah. Diperkuat dengan sabda Rasulullah saw, bahwa Allah berjanji akan menghidupkan kembali agama setiap satu abad.

Meskipun Al-Ghazali kembali menyebarkan ilmu seperti dahulu, tapi jiwa dan niat Al-Ghazali tidak seperti dahulu. Sebab berdasarkan keterangan Al-Ghazali sendiri, dalam bukunya Munqidz Minadhdhalal menyebutkan bahwa sebelum beruzlah, tujuan Al-Ghazali menyiarkan ilmu adalah untuk mencari dan mengejar, kedudukan, pangkat dan pengaruh. Tetapi setelah kembali dari uzlah, atau setelah ia menganut dan mengamalkan faham tasawuf atau tarekat sufiyah, maka niat dan tujuan Al-Ghazali bukan lagi mencari pengaruh, ataupun mengejar kedudukan dan pangkat, tapi benar-benar ikhlas bahwa betapa tercelanya sifat ingin pangkat, kedudukan dan pengaruh ini. Kemudian kembalilah Al-Ghazali menyebarkan ilmu dengan penuh keikhlasan, sehingga namanya semakin harum dan termasyhur.

Sebagaimana para ulama yang lain yang mempunyai banyak karya atau kitab, maka Imam Al-Ghazali juga banyak mengarang kitab. Ada yang mengatakan bahwa kitab-kitab Al-Ghazali berjumlah seribu buah. Ada pula yang mengatakan hanya 69 buah dan 84 buah. Yang jelas kitab-kitab karangan Al-Ghazali banyak.
Ada dua buah kitab karangan Al-Ghazali yang kurang dikenal di Indonesia, tapi sangat terkenal di dunia Barat, yaitu Maqashidul Falasifah (maksud ahli-ahli Falsafah) dan Tahafutul Falasifah (Kekacau-balauan Ahli-Ahli Falsafah). Dalam buku ini Al-Ghazali banyak menunjukkan kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh para ahli falsafah (filosof). Al-Ghazali tak mempercayai bahwa akal dapat membawa ke hakekat. Timbullah kemudian polemik. Wakil-wakil para ahli falsafah yang diserang Al-Ghazali pun tampil membantahnya. Yang paling tajam menantang Imam Al-Ghazali ialah Ibnu Rasyd, Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim Al-Jauzi (murid Ibnu Taimiyah). Inilah Orang-orang yang sangat keras dan tidak sefaham dengan Al-Ghazali.
Kitab beliau yang sangat populer dan terbesar ialah kitab Ihya Ulumiddin. (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama.

2. Kemudianjuga Minhaajul' Abidin.(Jalan bagi Ahli Ibadah) sebuah kitab tasawuf.

3. Setelah Imam Al-Ghazali menunaikan ibadah haji pada tahun 488 H, maka pada tahun 489 H beliau kembali ke Damaskus. Kemudian melawat lagi ke negeri-negeri lainnya, dan akhirnya beliau kembali ke Thus. Tiba di Thus, Al-Ghazali mendirikan perguruan/madrasah dan juga untuk pelajaran tasawuf. Di sinilah beliau mengajar dan beribadah.

Pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H, setelah beliau berwudhu dengan sempurna, kemudian berdaring, diluruskannya badan dan kakinya, lalu menghadap ke kiblat dan tak lama kemudian wafatlah beliau. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raji'un.

4. Pada hari wafat beliau ini banyaklah orang-orang yang datang menjenguk jenazah beliau. Anehnya, sekonyong-konyong datang tiga orang yang tidak dikenal masyarakat di situ. Dua orang langsung memandikan beliau dan yang seorang lagi menghilang entah ke mana. Setelah dimandikan dan dikafani, lalu jenazah dibawa ke kubur. Tiba-tiba datang pula seorang berselimut dan bersorban yang di sebelah kanannya ada panji-panji hitam. Langsung orang itu mensalatkannya dan orang-orang pun ikut di belakang sebagai makmum. Setelah ia (orang yang berselimut tadi) memberi salam ia pun hilang dan orang-orang pun tidak tahu ke mana perginya. Keesokan harinya terdengarlah kabar berita bahwa kedua orang yang memandikan tadi adalah sahabat Imam Al-Ghazali yang datang dari jauh, yaitu dari Marokko, dan namanya Syeikh Abu Abdullah Muhammad bin Ishak As-Syarif.
InsyaAllah bersambung...
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Sat Aug 18, 2001 12:28 am    Post subject: Reply with quote

A’kum
A'kum nahwan dan Avi juga teman2

Buat Avi, silakan print dan sebenarnya semua ni saya jumpa dalam internet masa cari kisah imam ini. Apa2pun bolehlah dirujuk kepada kitab2 yang tertulis di dalam penceritaan ini. Sengaja saya letakkan banyak2 sebagai ilmu juga perbandingan dalam kajian masing2.

Sambung:
AL-GHAZALI
Namanya Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al Imam Abu Hamid Al-Ghazali, yang termasyur dengan gelar Hujjatul Islam. Dilahirka di Thus suatu tempat di Khurasan (Iran), pada tahun 450 H atau tahun 1058 M. Ayahnya adalah seorang miskin yang salah. Penghidupannya bertenun memintal benang dari bulu. Ia sangat senang berkunjung kepada alim ulama guna untuk belajar dan memetik ilmu pengetahuan dan juga untuk memberikan bantuan kepada mereka. Ketika mengikuti pelajaran dari gurunya, ayah Al-Ghazali ini sering menangis serta berdoa memohon kepada Allah, semoga dikurniai putera-putera yang pintar dalam agama. Akhirnya ia benar-benar dikaruniai Allah dua orang putera. Kedua orang puteranya itu ialah Al-Ghazali dan Ahmad adiknya.

Kemudian ayahnya wafat semasa Al-Ghazali masih kecil. Kemudian Al-Ghazali dan adiknya dididik oleh seorang ahli tasawuf sesuai dengan wasiat sang ayah. Karena, itu, ajaran ilmu tasawuf sangatlah mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan jiwa Al-Ghazali. Ketika belajar tampaklah ketajaman otak Al-Ghazali, sehingga ia sering disebut-sebut oleh gurunya di dalam majlis-majlis pengajian. Al-Ghazali belajar dengan Ahmad bin Muhammad Ar-Radzkani seorang guru yang terkenal. Belajar ilmu tasawuf dengan Imam Haramain. Setelah itu, melanjutkan pelajarannya ke Nishabur, dengan seorang alim terkenal bermazhab Syafi'I dan Madrasah Nizamiyah, bernama Dhiauddin Al-Juwaini. Ketika gurunya ini wafat, Al-Ghazali pindah belajar ke Askar pada tahun 478 H. Dalam kepindahan ini, terkandung maksud Al-Ghazali untuk menemui menteri Nizamul Muluk. Kemudian ia dapat bertatap muka dengan menteri Nizamul Muluk dan akhirnya Al-Ghazali dapat bertemu pula dengan para alim ulama di dalam suatu pertemuan.

Dalam pertemuan itu, diadakan tanya jawab soal keagamaan. Ketika itulah kecerdasan dan kemahiran Al-Ghazali dalam ilmu pengetahuan terbukti. Pertanyaan-pertanyaan dan masalah agama yang diajukan kepadanya dapat dijawabnya dengan tepat, sehingga para alim ulama mengakui kelebihannya itu. Bahkan para hadirin dalam sidang itu merasa kagum dan terpesona atas kepintaran Al-Ghazali tersebut.
Oleh karena itu ia mendapat kehormatan dan kepercayaan menjadi tenaga pengajar pada Madrasah Nizamiyah di Baghdad pada tahun 464 H. Kemudian, setelah lima tahun mengajar, Al-Ghazali diangkat menjadi Kepala Madrasah Nizamiyah tersebut. Sebelum Al-Ghazali menjadi Kepala Madrasah tersebut, di dadanya telah penuh oleh berbagai-bagai ilmu, seperti ilmu fiqh, bahasa, filsafat, dan tasawuf. Setelah lima tahun lamanya Al-Ghazali mencurahkan ilmu pengetahuan di Madrasah Nizamiyah di Baghdad, maka timbullah keragu-raguan baginya tentang apakah sebenarnya "hakikat" itu.
Pada masa itu Baghdad sedang berkecamuk bermacam-macam aliran, yang masing-masing mengaku alirannya sajalah yang benar. Oleh Imam Al-Ghazali semua aliran dan faham itu diselidiki dan dipelajarinya sedalam-dalamnya, sampai ia mengambil kesimpulan, aliran mana yang akan dianut atau yang akan diikutinya. Sejak dari aliran ilmu kalam, aliran golongan bathiniyah, aliran golongan filosof dan aliran golongan sufi, semua ini diselidikinya secara bersungguh-sungguh.

Untuk mencari dan menilai kebenaran ini Al-Ghazali beruzlah (mengasingkan diri) untuk ibadah. Maka ditinggalkannyalah, pangkat kedudukan dan pengaruh, untuk sementara ia bercerai dan berpisah dengan harta dan keluarga yang dicintai dan disayanginya. Hartanya dibagi-bagikannya dan ia mengambil hanya sekedar untuk biaya keluarga yang ditinggalkannya dan bekal untuk pergi. Sepuluh tahun lamanya Al-Ghazali melakukan uzlah. Tak seorang pun di Baghdad yang menduga bahwa kepergian beliau itu untuk ber-uzlah.
Dari Baghdad beliau berangkat ke Syam dan dua tahun lamanya berada di negeri Syam ini melakukan uzlah, khilwah, riyadhah dan mujahadah menurut ajaran sufi, guna menjernihkan batin. Setiap hari beliau I'tikaf di masjid Damsyik di atas menara dengan pintu tertutup. Dari Damsyik lalu pergi ke Baitul Maqdis dan di sana memasuki Qubbatus Sachrah dan tinggal dengan pintu tertutup juga. Kemudian, beliau pergi ke Hijaz dan terus menunaikan ibadah haji di Mekkah dan Madinah.

Apakah yang diperoleh Al-Ghazali setelah ber-uzalah selama sepuluh tahun ?
"Selama waktu ber-khalwah itu, terbukalah bagiku rahasia yang tak terhitung jumlahnya, tak mungkin di-istiqsa. Yang akan kukatakan - untuk diambil manfaatnya - ialah, aku yakin benar-benar bahwa kaum Sufiyah itulah yang betul-betul telah menempuh jalan yang dikehendaki Allah Ta'ala. Merekalah golongan yang paling utama dalam cara-cara hidupnya, yang paling tepat tindak lakunya dan paling tinggi budi pekertinya. Bahkan andaikata akal para 'uqala, hikmat para hukama dan ilmu para ulama yang tahu rahasia syara' dihimpunkan untuk menciptakan cara yang lebih utama daripada cara Sufiyah itu, tiadalah akan memberi hasil; sebab segala gerak-gerik mereka (kaum Sufiyah), baik lahir maupun batin, diterangi Cahaya Kenabian. Di dunia tak ada cahaya yang lebih terang darinya.
InsyaAllah bersambung...
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Sat Aug 18, 2001 12:09 pm    Post subject: Reply with quote

mekasih..mekasih...alhamdulillah kerana allah bukakan hati penamerah utk kasik infos nih..

isnin nih..insya-allah saya akan ke lab..saya nak print semua infos nih..

syukran jazilan sekali lagi..
happy sungguh2 saya...alhamdulillah
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Sat Aug 18, 2001 12:12 pm    Post subject: Reply with quote

a'kum..
kepada penamerah..
kalo nak sambung..go ahead..
i can't wait to read all those infos...


_________________
::InDahNYa HiDuP bErsAmA IlmU::
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Tue Aug 21, 2001 1:23 am    Post subject: Reply with quote

A’kum
Sebelum sambungan berkenaan imam al ghazali menyusul, apa kata saya sertakan kisah sufi wanita, Rabiah Al Adawiyyah untuk renungan dan kajian bersama?

RABI'AH AL ADAWIYAH
Perindu Cinta Allah
Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketaqwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Namun begitu, Allah telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasawuf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafu demi mendekatkan diri kepada Allah sebagai hamba yang benar-benar taat.

Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertaqwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Quran sehigga berjaya menghafal kandungan al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba brgantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.
InsyaAllah bersambung...
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Thu Aug 23, 2001 2:21 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Sambung...

5. Ulama itu ada tiga macam. Adakalanya membinasakan diri sendiri dan orang lain, yaitu mereka yang berterus-terang mencari dunia dan memusatkan seluruh perhatiannya kepada dunia. Adakalanya membahagiakan dirinya sendiri dan orang lain, yaitu mereka yang memanggil manusia ke jalan Allah secara lahir batin. Dan ada kalanya membinasakan dirinya dan membahagiakan orang lain, yaitu orang yang memanggil manusia ke jalan akhirat, tetapi pada lahirnya dia sendiri menolak dunia sedang bathinnya bertujuan mempengaruhi orang banyak dan menegakkan kemegahan diri. Maka lihatlah! Di bagian manakah Anda berada dan orang yang menjadi tanggunganmu?

6. Ada empat hal yang menguatkan badan : memakan daging, mencium bau-bauan, membanyakkan mandi dari bukan bersetubuh dan memakai kain katun. Dan empat hal yang melemahkan badan : banyak bersetubuh, banyak duka cita, banyak minum air tanpa memakan sesuatu, dan banyak memakan yang masam. Ada empat hal yang menguatkan penglihatan : duduk ke arah kiblat, bercelak ketika tidur, memandang kepada yang hijau dan membersihkan pakaian. Dan empat hal yang melemahkan penglihatan : memandang kepada yang jijik, memandang kepada orang yang dipancung, memandang kepada kemaluan wanita dan duduk membelakangi kiblat. Ada empat macam hal yang menambah kekuatan bersetubuh : memakan daging burung, memakan ithrifil besar, memakan fustuq (semacam buah-buahan, satu tangkai terdapat berpuluh-puluh buah Pent) dan memakan jirjir (semacam sayur-sayuran yang tumbuh di atas air dan dapat dimakan Pent.)

Tidur itu ada empat macam : tidur di atas duduk, yaitu tidur para Nabi a.s. di mana mereka itu bertafakkur tentang kejadian langit dan bumi; tidur di atas lambung kanan, yaitu tidur pada ulama dan 'abid; tidur di atas lambung kiri, yaitu tidur raja-raja, untuk menghancurkan makanan yang dimakan mereka dan tidur menelungkup, yaitu tidurnya setan-setan.
Empat hal yang menambah kecerdasan akal : meninggalkan perkataan yang tidak perlu, bersugi, duduk dengan orang saleh dan dengan ulama-ulama. Empat hal yang termasuk ibadat : tidak melangkah dengan suatu langkah melalaikan dengan berwudhu', membanyakkan sujud (salat), membiasakan diri di masjid dan membanyakkan pembacaan Al-Quran.

7. Sesungguhnya memandang wajar ulama dan orang-orang salih adalah ibadah.

8. Maka rusaknya rakyat disebabkan rusaknya raja-raja (penguasa-penguasa). Dan rusaknya raja-raja disebabkan rusaknya ulama-ulalma. Dan rusaknya ulama-ulama disebabkan pengaruh kecintaan kepada harta dan kemegahan.
InsyaAllah bersambung...
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Thu Aug 23, 2001 2:24 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Maafkan saya sebab kesilapan teknikal, hantar berulang2 cerita yang sama.

Sambungan...
9. Diam adalah suatu yang utama. Perkataan itu ada empat bagian :
1. Melarat semata-mata
2. Manfaat semata-mata
3. Ada padanya melarat dan manfaat.
4. Tidak ada padanya melarat dan manfaat.

Ketahuilah bahwa lafal "benar" (ash-shidq) dipakai pada empat makna : benar pada perkataan, pada niat dan kehendak, pada cita-cita yang telah diputuskan (al-azm), pada menepati dengan al-azm, pada amal dan tahki-an tingkat kedudukan semua agama. Maka siapa yang bersifat benar pada semua yang demikian itu, nisca dia itu orang yang sangat benar (sangat lurus). Karena itu mereka menjujung tinggi kebenaran. Maka, siapa yang keberuntungan baginya pada sifat benar, niscanya dia itu orang yang sesunggunya benar.

10. Jikalau kita dilihat orang-orang saleh dahulu, niscanya mereka mengatakan denga pasti "Bahwa kita ini tidak beriman deng hari peritungan amal.

11. Tidaklah ada kecintaan kepada kemegahan dari hati selain dengan mengasingkan diri dari manusia, lari dari bercampur baur dengan mereka dan meninggalkan apa yang melebihkan kemegahannya dalam hati mereka

12. "Meniti dan mengenal diri sendiri merupakan kunci rahasia mengenal Allah.

13. "Tujuan perbaikan akhlak ialah untuk membersihkan kalbu dari kotoran-kotoran hawa nafsu dan amarah, hingga ia bersih bagaikan cermin yang dapat menerima cahaya Tuhan."

14. "Kewajiban utama setiap manusia ialah harus mempunyai kebenaran pandangan agar dapat menemukan kenikmatan-kenikmatan utama.

15. "Tidak ada kebahagian yang lebih utama adalah mempunyai ilmu hakikat mengenai Allah.

16. "Seseorang yang kehilanganhasrat untuk mengetahui ilmu ini adalah semisal seseorang yang kehilangan nafsu makan, atau seperti seseorang yang makan roti yang bercampur tanah liat."

17. "Kalau seseorang tidak mengetahui jiwanya sendiri yang paling dekat kepadanya, maka apa gunanya ia menuntut berbagai ilmu yang bermacam-macam itu?."
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
Zikri9815
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 164
Location: Kuala Lumpur

PostPosted: Thu Aug 30, 2001 1:59 am    Post subject: Reply with quote

Assalamualaikum sahabat ana - Pena Merah

Terima kasih atas usaha saudara tersebut,
apakah saudara boleh perincikan berhubung penentangan yang dilakukan di atas pandangan Al- Ghazali oleh Ibn Taimiyah dan kelompoknya.

Apakah ia membabitkan sesuatu khilaf atau konsep tasawuf al Ghazali/\?.

Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Thu Aug 30, 2001 3:38 am    Post subject: Reply with quote

bagus gaks soalan tuh...
penamerah..tolon ek?
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
Lelaki Melayu Terakhir
Ahli
Ahli


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 47
Location: Ampang, KL

PostPosted: Thu Aug 30, 2001 5:29 am    Post subject: Reply with quote


citer Imam Ghazali dan adiknya Shaykh Ahmad.

Sahibul hikayat, diperkatakan ramai orang di kota Baghdad. Hatta, imam Ghazali memimpin solat di mesjid, sedangkan adiknya si-Ahmad tak sekali pun sembahyang di belakangnya. Maka gundah gulana ibu mereka lalu menasihati Ahmad supaya menerima Ghazali menjadi imam solat.

Kerana taat pada perintah ibu, Shaykh Ahmad pun setuju solat Jumaat di mesjid di mana Imam Ghazali. Akan tetapi, sedang sembahyang tetiba, Shaykh Ahmaad meninggalkan solat, dan diikuti oleh murid-murid beliau.

Maka terjadilah sedikit kecuh pada jemaah yang lain. Setelah solat ramai lah yang datang meminta penjelasan dari Shaykh Ahmad akan perlakuannya itu. Sehinggakan nak bergaduh pun ada kiranya!!!

Jawab Shaykh Ahmad, "Imam anda telah meninggalkan anda tadi dalam rekaat..."

Maka berpusu-pusulah orang datang pada Imam Ghazali mintak kepastian. "Betul seperti kata adik aku itu, dalam rekaat...fikiranku melayang pada tongkatku yang aku tertinggal di bawah pohon sana."

Maka begitulah juga maqam masing-masing. Ada yang tahu dan ada yang tidak.Wallahu'alam.
Back to top
View user's profile Send private message
Zikri9815
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 164
Location: Kuala Lumpur

PostPosted: Thu Aug 30, 2001 6:20 am    Post subject: Reply with quote

ana rasa cerita Lelaki Melayu terakhir itu ada pertindihannya dengan kisah yang lebih kurang sama juga tetapi Shiekh Ahmad keluar dari menjadi makmum disebabkan beliau mendapati terdapat kesn darah dibelakang AL-Ghazali.

Diringkaskan cerita..... Al -Ghazali mengakui bahawa adiknya itu benar keran ketika mengimami solat tersebut beliau sedang berfikir berhubung pertanyaan seorang wanita berhubung haid.

Syiekh melihat dengan pengllihatan mata batin dan beliau merupakan seorang ahli tarikat.

mana saudara ana penamerah
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Thu Aug 30, 2001 7:20 am    Post subject: Reply with quote

A’kum
Buat sahabat2 yang saya hormati. Tertarik dengan persoalan zikri, sahabat lama tu... hehehe

Sebenarnya saya sendiripun tidaklah mendasar sangat pengetahuan tentang khilaf kedua ulama’ ulung ini apa2pun kita bersangka baik dan tentunya wajar kita berfikir tentang apa yang mereka katakan berdasarkan kitab2 karangan kedua ulama’ ini. Maka tidak dapat saya memberi komen tentang itu, bimbang kerana kitab2 ibnu taimiyyah tidak ada bersama saya.

Apa2pun saya terus terangnya kurang meneliti fahaman ulama ulung ibnu taimiyyah kerana saya ini masih mentah dan baru menyelak2 karya imam ghazali sendiri. Apa2pun barangkali kefahaman tentang karya2 imam al ghazali itu sendiri banyak yang keliru kerana terus terangnya saya tidak pernah berjumpa dengan karya2 yang sehalus karya beliau dan tentunya dengan berguru baru dapat dikupas pandangan2 ghazali itu dengan kefahaman yang kadang2 tidak terfikir oleh kita. Rasanya kekeliruan fahaman tentang karya2 imam ghazali perlu kita sama2 perinci dahulu sebelum kita melihat kritikan2 terhadap beliau. Apa2pun kita kena faham, apa yang mahu disampaikan oleh imam ini adalah berdasarkan pengalaman rohani yang bersifat tanzih (tidak terhad) dan beliau berusaha memahamkan kita dengan bahasa tulisan (tasybih) dan tentunya simbol tidak akan dapat menceritakan apa yang dilalui oleh rohani. Barangkali sahabat saya zikri dapat mengupas dengan lebih lanjut. Wallahua’lam.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Thu Aug 30, 2001 7:30 am    Post subject: Reply with quote

A’kum
Saya ada sebuah buku tentang kritikan dan jawapan terhadap imam al ghazali juga kisah perjuangannya, barangkali kalau saya ingat saya akan bawa ke bukit cerakah nanti. Wassalam.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
Zikri9815
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 164
Location: Kuala Lumpur

PostPosted: Fri Aug 31, 2001 12:59 pm    Post subject: Reply with quote

alhamdulillah saudara ana pena merah

Ana pun begitu juga saudaraku, tapi ana setuju bahawa sememangnya pengalaman kerohanian akan menjadi sumber fitnah yang besar sekiranya diterjemahkan kepada orang awam. malah hukumnyta haram diceritakan kepada bukan ahlinya.

di atas dasar ini ana rasa muncul selepas itu beberapa tokoh yang berpegang kepada konsep Ibn Taimiyyah sebagai asas rujukan mereka seperti munculnya Muhammad bin wahhab.

Golongan ini dikatakan mempunyai beberapa pertentangan dengan jalan kesufian dan sesetengahnya menolak terus pandangan Al-Ghazali berhubung perkara-perkara pokok kerohanian.

wallahhuaklam
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
nahwan_nur
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 01 Jan 1970
Posts: 240
Location: iN tHe miDDlE Of NoWhErE

PostPosted: Thu Sep 06, 2001 3:32 am    Post subject: Reply with quote

TERUSKAN..DIskusi..
saya rasa topic nih makin ke belakang..saya nak kedepankan,..heheh:gelak:

_________________
::InDahNYa HiDuP bErsAmA IlmU::
Back to top
View user's profile Send private message Visit poster's website Yahoo Messenger
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Thu Sep 06, 2001 7:29 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Jom kita kaji-mengkaji... hehehe

Nasehat, dari Imam Al-Ghazali

Assalamu'alaikum wr. wb.

Semoga Nasehat berikut ini bermanfaat bagi kita semua.

Kata Imam Al -Ghazali :

Ketahuilah bahwasanya tidur itu seumpama mati, dan bangun dari tidur itu seumpama bangkit dari kubur pada hari kiamat nanti. Siapa tahu barangkali rohmu dicabut oleh Allah Taala ketika engkau tidur pada suatu malam. Oleh karena itu bersiaplah engkau menemui Tuhanmu dengan tidur dalam keadaan suci dan wasiatmu ada tersimpan di bawah bantalmu.

Hendaklah engkau tidur dalam keadaan bertaubat kepada Allah dari segala dosa dan meminta ampun dari segala kesalahan dan tidak akan mengulangi lagi semua kemaksiatan yang pernah engkau kerjakan dan berazamlah untuk membuat kebaikan kepada seluruh orang Islam jikalau Allah membangkitkan engkau pada keesokan harinya.
---------------
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
penamerah
Ahli Setia
Ahli Setia


Joined: 25 Feb 2001
Posts: 1893
Location: selangor

PostPosted: Thu Sep 06, 2001 7:30 am    Post subject: Reply with quote

A'kum
Sambung...
Ketahuilah bahwa siang dan malam itu hanya dua puluh empat jam saja. Maka janganlah engkau tidur pada waktu siang atau malam lebih dari delapan jam karena jikalau engkau berumur enam puluh tahun maka engkau menyia-nyiakan umurmu itu sebanyak dua puluh tahun, yaitu sepertiga dari umurmu.

Dan berazamlah ketika hendak tidur untuk bangun di tengah malam atau sekurang-kurangnya di akhir malam sebelum waktu Subuh karena dua rakaat di tengah malam itu merupakan satu perbendaharaan kebaikan.

Dan janganlah engkau panjangkan angan-anganmu karena engkau akan merasa malas melakukan ibadat, bahkan hendaklah engkau fikirkan bahwa kematianmu itu sangat dekat sekali kepadamu.

Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.

Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri,dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Visit poster's website
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    BicaraMuslim.com Forum Index -> Bicara Muslim All times are GMT + 8 Hours
Page 1 of 1

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


Powered by phpBB 2.0.11 © 2001, 2002 phpBB Group