MENAPAK JEJAK
IMAN 
PARA SAHABAT RASUL
Penyusun
Buya Ima Ibnu Fachru Rozi
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PENGANTAR

 

 

 

 

          Menapak jejak Iman Para Sahabat

"Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan beramal soleh, maka tiada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka bersedih hati" (Al-Baqarah:62)

Rasulullah s.a.w. bersabda: ".... barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia mukmin, barangsiapa memerangi mereka dengan lidahnya, maka dia mukmin, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya, maka ia mukmin. Di belakang itu tidaklah ada iman sebesar biji sawi pun." (HR Muslim)

Antara kebenaran iman dengan kedustaan pengakuan terdapat jarak sejauh antara timur dan barat. Barangsiapa hendak meyakinkan diri tentang kebenaran hal itu, hendaklah memperhatikan dengan saksama perbedaan antara iman yang dibuktikan dengan amal dan sekadar pengakuan iman semata tanpa bukti yang membenarkannya.

Untuk meneliti kebenaran, marilah imbas kembali halaman sejarah generasi sahabat - sebuah generasi dengan akidah Islam yang telah menyelamatkan mereka dari cengkaman Jahiliyah, melenyapkan noda syirik dan mencuci beraneka rona kekafiran dari diri mereka. Lalu hakikat tersebut menanamkan hakikat iman di lubuk hati mereka dan menyinarkan cahaya tauhid di sekeliling mereka.

BILAL - yang menentang Umayah bin Khalaf dengan ucapannya "Ahad! Ahad!" sedangkan punggungnya berada di atas pasir panas membara dan dadanya ditindih batu besar.

KHABAB - yang seluruh badannya diseterika, namun hal itu tidak memalingkannya keluar dari agama.

Keluarga YASIR - semuanya disiksa, SUMAYAH dibunuh, sedangkan mereka bersabar dan iman mereka tidak melemah. Kerana mereka membenarkan janji Rasulullah: "Sabarlah, keluarga Yasir! Sesungguhnya yang dijanjikan kepada kalian adalah syurga!"

Lihatlah sahabat Muhajirin! Mereka meninggalkan keluarga, harta benda, dan anak, mengharungi padang sahara antara Makkah dan Madinah tanpa bekal. Mereka berhijrah kepada Allah dan Rasul Nya.

ABU UBAIDAH - membunuh ayahnya pada Perang Badr. ABU BAKAR As-Syidiq pada saat itu nyaris membunuh anaknya. Sementara Mush'ab membunuh saudara lelakinya, Ubaid bin Umair.

MUSH'AB - yang terbunuh pada Perang Uhud. Para sahabat tidak mendapatkan kain pembungkus mayatnya selain selembar sarban putih bergaris hitam yang jika digunakan menutup kepala, kakinya terbuka. Semoga Allah merahmati Mush'ab. Sungguh dia sebelumnya adalah seorang pemuda Quraisy yang hidupnya paling mewah.

Mari menyorot sedikit ke belakang, melihat tangan-tangan sahabat Anshar yang berjabat tangan untuk berbaiat pada malam Aqabah, padahal mereka mengerti seluruh bangsa Arab akan bersatu padu memerangi mereka, pedang-pedang akan membabat mereka dari segala penjuru, dan tokoh-tokoh terbaik mereka akan dibunuh. Menghadapi semua risiko ini mereka bahkan berkata:

"Telah beruntung 'jual-beli' ini, kami tidak membatalkan dan tidak akan minta pembatalan!"

Mereka pun berbagi harta, rumah dan hartabenda dengan saudara-saudara mereka, kaum Muhajirin.

"Dan mereka mementingkan saudara mereka daripada diri mereka sendiri, meskipun diri mereka sangat memerlukan." (Al-Hasyr : 9)

Dengarkanlah kisah mereka pada perang Badr, salah seorang di antara mereka ada yang berkata kepada Rasulullah s.a.w:

"Berjalanlah, ya Rasulullah, ke mana tuan kehendaki! Kerana kami akan menyertai tuan! Demi Allah yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran! Sekiranya Anda menghadapi laut ini bersama kami, lalu tuan masuk menyeberanginya, nescaya kami menyeberanginya bersama tuan. Tidak seorang pun dari kami akan ketinggalan, maka berjalanlah dengan berkat Allah!"

Lihatlah mereka, melindungi Rasul pada Perang Uhud. Tujuh orang di antara mereka gugur kerana membela beliau s.a.w.

Pada Perang Hunain, ketika dua belas ribu perajurit melarikan diri meninggalkan Rasulullah s.a.w., sebelum akhirnya delapan puluh sahabat Anshar berhimpun di sekeliling beliau untuk berebut kemenangan dari kaum Hawazin dan mengumpulkan rampasan perang. Dan ternyata Rasulullah s.a.w membahagi-bahagikan rampasan perang itu kepada selain sahabat Anshar.

Beliau memberikannya kepada orang-orang yang paling dahulu melarikan diri dan paling belakang kembali menyerang, kepada orang-orang yang perlu dijinakkan hati mereka. Lalu, apa bagian sahabar Anshar, ya Rasulallah?! Inilah sabda Nabi s.a.w kepada mereka:

"Tidakkah kalian rela kalau orang-orang pulang dengan membawa domba dan unta, sedangkan kalian kembali dengan memboyong Rasulullah dan rombongan kalian?"

Menangislah kaum Anshar sambil berkata: "Kami redha dengan Rasulullah sebagai jatah dan keuntungan!" (HR Al-Bukhari)

Mari kembali ke Madinah - melihat Abu Bakar As-Shidiq yang melepaskan seluruh hartanya dalam mempersiapkan pasukan Islam. Lantas apa yang dia sisakan untuk anak-anaknya?! Dia tinggalkan buat mereka : Allah dan Rasul Nya. Adapun Ibnul Khatab (Umar) mendermakan separuh hartanya, Utsman membiyai sendiri jaisyul 'usrah (pasukan yang dikirim di masa sulit, pasukan perang Tabuk).

Meninjau di balik Perang Khandaq, tentera Sekutu mengepung Madinah selama sebulan sehingga digambarkan "Pandangan mata telah miring dan hati sudah menyesak sampai di tenggorokan." (Al-Ahzab : 10) Maka iman terpekik dari dalam kerongkongan itu: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul Nya kepada kita!" (Al-Ahzab : 22)

Begitu juga ribuan Mujahid yang bergerak menuju Tabuk. Mereka meninggalkan tempat yang teduh penuh buah-buahan serta berjalan melintasi padang sahara gersang dan ganas. Tiada bekal selain sedikit kurma dan air tak seberapa. Namun dengan hati gembira mereka menyertai "Nabi Tercinta" dan "Pilihan Allah" Muhammad s.a.w.

Lihat pula ke tengah-tengah barisan yang berjajar, menunggu tugas menghadapi musuh pada Perang Uhud. Umair bin Abi Waqash yang mengendap-ngendap, bersembunyi di antara rombongan tentara, berlindung di belakang mereka untuk menghindari pandangan mata Rasulullah s.a.w. Ia takut disuruh kembali karena usianya masih muda.

Lihat pula para wanita sahabiah yang mengoyakkan kain mereka untuk menutup wajah kerana Al-Quran menurunkan perintah ... "Dan hendaklah kaum wanita menutupkan kerudung ke dada mereka!" (An-Nur : 31)

Seorang wanita Bani Dinar yang setelah selesai perang Uhud mendapat berita gugurnya suami, ayah dan saudaranya justru bertanya, "Bagaimana keadaan Rasulullah s.a.w?" Lalu dijawab bahawa beliau dalam keadaan baik. Wanita itu melihat beliau dan setelah itu berkata, "Setiap bencana setelah keselamatan Anda, adalah kecil."

Begitu juga seorang wanita Ghamidiyah - yang tergelincir dan melakukan penzinaan. Allah menutupi rahsianya sehingga tidak seorang pun mengetahuinya, tetapi dia tidak merasa tenang sebelum datang mengakui perbuatannya di hadapan Rasulullah s.a.w. dan bersumpah kepada beliau agar beliau sudi menyucikan dan merejam dirinya. Ia tidak ragu-ragu mengorbankan jiwanya dan bertaubat agar Tuhannya redha kepadanya.

Lihat pula Abu Dzar r.a. seorang sahabat yang agung. Dia meletakkan sebelah pipinya di tanah dan tidak mau mengangkatnya sebelum Bilal mau menginjak pipinya yang sebelah lagi dengan kakinya, sebagai permintaan maaf kepada Bilal kerana ucapannya menyebabkan kemarahan Bilal.

Ucapan apa yang mampu kita katakan ?

Yang termampu dikatakan sebagaimana firman Allah swt : "Muhammad adalah Rasulullah. Dan orang-orang yang bersamanya amat tegas terhadap orang-orang kafir dan kasih sayang di antara mereka. Kau lihat mereka melakukan rukuk dan sujud mengharap anugerah dan redha Allah. Tanda mereka terdapat pada wajah mereka dari bekas bersujud. Itulah permisalan mereka dalam Taurat. Dan permisalan mereka dalam Injil, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak dengan batangnya, sehingga mempesona para penanamnya, agar Allah menjadikan kaum kafir marah kerana mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar bagi orang-orang beriman dan beramal soleh." (Al-Fath :29)

Demikianlah skenario masa silam. Tiba-tiba sinar cahaya itu berubah menjadi kelam. Iman dan keyakinan tiba-tiba berubah menjadi keraguan dan kebimbangan. Kini kita menyaksikannya sendiri. Siapakah di antara kita yang tidak terkoyak-koyak hatinya sedang dia melihat umatnya terpecah-belah dan akidahnya tercampur aduk, diconteng oleh berbagai bid'ah, hawa nafsu dan mitos. Para penguasa dan malah antara kita secara terang-terangan dan tidak malu-malu bekerjasama dan memberikan cinta sepenuhnya kepada kaum Yahudi dan Nasara.

Sudahkah kita mengerti bahwa sekarang ini tidak cukup sekadar mengaku beriman jika belum dibuktikan dengan amal dan usaha yang selaras dengan pengakuan ini?

Semoga Allah merahmati Imam Syafi'i yang mengatakan: "Sekiranya manusia merenungkan kandungan surah Al-'Ashr, tentulah cukup bagi mereka!"

"Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi masa Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         Faktor-faktor Penyebab Kemenangan

Dalam fakta sejarah, tercatat bahwa kaum muslimin telah mencapai kemenangan berkali-kali dalam berbagai peperangan. Perang yang pertama kali dilakukan oleh kaum muslimin yaitu perang Badar. Pada saat itu, pasukan Rasulullah bersama para sahabat menghadapi kaum kafir Quraisy di bukit Badar. Pasukan muslim pada saat itu berjumlah sekitar 313 orang, hanya dilengkapi 2 ekor kuda dan 70 ekor unta, harus menghadapi 1000-an pasukan kafir Quraisy yang dilengkapi ratusan ekor kuda dan ratusan baju besi.

Bendera komando tertinggi kaum muslimin diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Abdary, komandan batalyon Muhajirin dipegang oleh Ali bin Abu Thalib dan batalyon Anshar oleh Sa’d bin Muadz. Komando Front kanan diserahkan kepada Zubair bin Awwam dan front kiri oleh Al-miqdad bin Amr dan pertahanan garis belakang oleh Qais bin Sha’sha’ah. Sedangkan Komando tertinggi pasukan Quraisy dipegang Abu Jahl bin Hisyam.

Secara kasat mata, mustahil pasukan muslim yang berjumlah 313 itu bisa mengalahkan pasukan Quraisy yang berjumlah 1000 orang dengan segala perlengkapannya. Namun ketika kedua pasukan bertemu pada medan perang, dan perang berkecamuk, ternyata pasukan muslimin mencapai kemenangan yang gemilang. Korban dari pihak pasukan muslim hanya 14, mereka syahid di jalan Allah. Sedangkan korban dari pihak musuh sebanyak 70 orang tewas, dan 70 orang lagi ditawan oleh pasukan muslim. Abu Jahal sendiri tewas di tangan dua orang pemuda muslim yang masih belia (dari kalangan Anshar), yaitu Mu’adz bin Amr Al-jamuh dan Mu’awwid bin Afra’.

Kemenangan yang dicapai kaum muslimin tentu tidak diraih begitu saja. Hal ini diraih atas segala strategi yang cerdas dan jitu di medan perang. Namun di balik strategi itu semua, ada nilai-nilai Robbani yang tertanam pada jiwa-jiwa Badar. Nilai-nilai Robbani ini tertanam selama perjalanan panjang tarbiyah Islamiyah ketika di Mekkah. Kaum muslimin mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Mereka memahami apa-apa saja yang harus dilakukan. Mereka mengerti faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan kemenangan. Dan diatas kepahaman itulah muncul strategi-strategi yang cerdas dan jitu untuk meraih kemenangan.

Lalu, apa saja faktor-faktor penyebab kemenangan yang harus kita pahami itu? Bagaimanakah nilai-nilai Robbani yang menunjukkan unsur-unsur kemenangan itu? Allah SWT berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Anfal: 45 - 47)

Sudah jelas sekali faktor-faktor kemenangan itu pada firman Allah di atas. Faktor-faktor tersebut adalah:

1. Tsabat,
2. dzikrullah,
3. taat kepada Allah dan Rasul-Nya,
4. tidak berbantah-bantahan,
5. sabar, dan
6. ikhlash

 

Tsabat

"Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu." (QS. Al Anfal: 45). Kalaulah bukan karena keteguhan hati pasukan muslimin dalam perang Badar, dan peneguhan Allah dengan malaikat-malaikat-Nya, maka tidak akan ada kemenangan yang terwujud untuk mereka.

Keteguhan hati ini sangat penting, karena perjalanan da'wah yang kita tempuh adalah jalan yang sangat panjang, beragam tahapannya, dan banyak tantangannya. Dan ini adalah satu-satunya jalan yang dapat menghantarkan kita kepada tujuan dengan janji imbalan kemuliaan dan pahala yang besar. Tidak sedikit orang-orang yang tidak teguh hatinya dalam melalui jalan ini.

Jalan da'wah secara umum terdiri dari 3 marhalah, yaitu da'wah ta'limiyah, da'wah takwiniyah, dan dakwah tanfidziyah. Tanpa keteguhan, maka akan sulit bagi kita dalam mengikuti alur tahapan da'wah ini. Di antara manusia ada saja yang terjangkiti penyakit isti'jal (ketergesaan), karena jiwanya kerdil dan tidak tahan uji. Sehingga da'wah yang sudah digariskan sedemikian rupa tahapannya, tidak berjalan dengan semestinya.

Sedangkan tantangan di jalan da'wah begitu banyak, baik itu dari eksternal maupun internal. Tidak sedikit aktivis da'wah yang "mundur" ketika melihat bahwa jalan ini sedikit orang yang mengikutinya, penentangnya banyak, penuh dengan ancaman, seperti penjara, pembunuhan, penentangan penguasa, penindasan, dsb. Dan tidak sedikit pula yang tidak teguh akibat cobaan pada diri sendiri seperti penyakit wahn, cinta dunia dan takut mati. Silau dengan harta dan kenikmatan dunia, sibuk dengan pekerjaannya sehari-hari, tergoda oleh wanita, dsb, sehingga terlena, cepat jenuh, dan jauh dari aktivitas-aktivitas da'wah dan tarbiyah.

Rasulullah meneladani kepada kita sebuah sikap yang menggambarkan keteguhan. Tercatat dalam sejarah bahwa Rasulullah pernah ditawarkan oleh kaum musyrikin berbagai macam harta, pangkat, dan berbagai kenikmatan, bahkan hingga ancaman dan intimidasi, dengan harapan agar Rasulullah menghentikan aktivitas da'wahnya. Namun Rasulullah menolak semua itu. Bahkan Rasulullah SAW mengucapkan kata-katanya yang sangat terkenal kepada pamannya, agar seluruh dunia dapat mendengar serta merenungkannya, dan para da'i sepanjang masa di seluruh dunia dapat meneladaninya. Kata-katanya itu adalah, "Demi Allah, wahai Pamanku! Andai mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan urusan (da'wah) ini, maka aku tidak akan meninggalkannya, sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karena (membela)nya." (Sirah Ibnu Hisyam: 1/240).

Ikhwah fillah, mari periksa barisan kita masing-masing. Apakah ada anggota dalam barisan kita yang tidak teguh pendirian, yang tidak tahan godaan wanita, dan terjebak dalam kungkungan dunia. Selama ada orang-orang seperti itu dalam barisan kita, camkanlah bahwa kemenangan akan sulit kita raih.

Dzikrullah

Faktor berikutnya adalah dzikrullah. "Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung." (QS. Al Anfal: 45). Bukan hanya dzikir biasa, akan tetapi dzikir yang banyak dengan hati dan lisan. Bisa kita bayangkan, betapa menakutkannya berdzikir kepada Allah di saat berdesingnya suara peluru dan bergeraknya pasukan.

Ketika peristiwa perang Badar, Rasulullah melihat kepada sahabat-sahabatnya, ternyata jumlah mereka hanya tiga ratus lebih sedikit. Dan ketika beliau melihat kaum Musyrikin ternyata jumlah mereka seribu lebih. Maka kemudian beliau menghadap kiblat dengan mengenakan kain dan selendang lalu berkata, "Yaa... Allah, kabulkanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Yaa... Allah, bila Engkau hancurkan jamaah kaum muslimin ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi ini." Rasulullah terus bermohon kepada Rabbnya dan berdoa kepada-Nya sehingga selendangnya terjatuh. Lalu Abu Bakar datang dan memungutnya kemudian mengenakannya kembali pada beliau dan berdiri di belakang Rasulullah lalu berkata, "Wahai Rasulullah! Cukuplah permohonan Anda kepada Rabb Anda, Allah akan memperkenankan janji-Nya kepada Anda."

Sudahkah kita berdzikir kepada Allah saat ini? Rasulullah saja berdo'a hingga sedemikian rupa, apatah lagi kita? Jika Qiyamullail kita, tilawah harian, puasa sunnah, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya hampir tidak pernah kita laksanakan, bagaimana mungkin kita mengharapkan kemenangan yang dijanjikan itu? Apalagi kalau sampai ibadah fardhu tidak dilaksanakan (na'udzubillah), bukan kemenangan yang dicapai, tapi kehinaan.

Taat kepada Allah dan Rasul-Nya

"Dan ta'atlah kepada Allah dan Rasul-Nya.." (QS. Al Anfal: 46). Pertolongan Allah dan kebersamaan-Nya tergantung kepada ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan tidak akan ada kebersamaan Allah, apabila disertai dengan perbuatan maksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya, seperti dalam peristiwa perang Uhud, sehingga menyeret kaum muslimin pada saat itu kepada kegagalan.

Suatu ketika Umar berwasiat kepada Saad bin Abi Waqash Ra, "Sesungguhnya engkau akan menghadapi masalah yang besar, maka bersabarlah. Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, niscaya akan terkumpul rasa takut kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa rasa takut kepada Allah itu terkumpul dalam dua hal, yaitu taat kepada Allah dan meninggalkan maksiat terhadap-Nya. Dan sesungguhnya ketaatan orang yang taat kepada-Nya ialah dengan membenci dunia dan mencintai akhirat, dan maksiat orang yang bermaksiat kepada-Nya ialah dengan mencintai dunia dan membenci akhirat. Pada saat perang Uhud, ada sebagian barisan pasukan muslimin yang silau dengan harta dunia. Sehingga kemaksiatan mereka itu menyebabkan kekalahan.

Salah satu yang diperintahkan Allah dalam hal ketaatan adalah, "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu." (QS. An Nisaa: 59). Tidak pernah terjadi, bahwa seseorang atau jamaah yang mengabaikan ketaatan dalam suatu perintah, lantas ia menuai sukses dan kebaikan. Contohnya pada peristiwa perang Uhud yang sangat berbeda sekali dengan perang Badar. Pada perang Uhud, ada sebagian barisan kaum muslimin yang tidak mentaati perintah untuk tetap menjaga posnya, yaitu menjaga bukit. Tapi mereka melanggar perintah - karena silau dengan godaan harta rampasan perang - sehingga seluruh pasukan kaum muslimin memperoleh kekalahan.
Dalam hal ketaatan kepada pemimpin, Rasulullah bersabda, "Wajib atas seorang muslim mendengar dan taat dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali bila ia diperintahkan (untuk melakukan) maksiat. Bila ia diperintahkan (untuk melakukan) maksiat, maka tiada sikap mendengar dan tiada ketaatan." (An Nawawi, Syarah Muslim, 12/226).

Hawa nafsu anggota, keinginannya, atau beberapa kondisi yang mungkin diterimanya karena melaksanakan perintah, maka semua itu tidak boleh menghalanginya dari ketaatan. Sedangkan kapasitas seorang pemimpin dalam Islam yang wajib ditaati adalah:

# Keimanan yang kuat
# Taqwa kepada Allah SWT
# Pengetahuan dan kekuatan
# Amanah dan ikhlash
# Tidak kasar, bengis, dan keras hati (akan tetapi santun, penyabar, sangat berhati-hati, berpikir sebelum bertindak, mengetahui hak-hak manusia yang ada di sekitarnya, memahami hak-hak Allah atas dirinya, dsb).

Sedangkan batas-batas ketaatan adalah:

# Selama ia melaksanakan syariat Allah sebagaimana diperintahkan-Nya
# Melakukan da'wah secara berkesinambungan, sehingga tiada seorang pun di muka bumi ini melainkan telah mendengar kalimatnya
# Memperlakukan umatnya sejalan dengan amanah yang diembannya itu.

Terkadang seseorang anggota melihat bahwa perintah yang harus ia kerjakan tidak beralasan. Meski demikian, hal itu tidak boleh menyebabkan ia tidak taat dan tidak melaksanakan perintah. Sebab biasanya pemimpin itu lebih mengetahui situasi, kondisi, motif-motif, dan berbagai kaitannya, daripada kebanyakan anggota.

 

 


Tidak berbantah-bantahan

"Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu." (QS. Al Anfal: 46). Keteguhan hati, dzikrullah, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, apabila diikuti dengan berbantah-bantahan maka yang akan terjadi adalah kegagalan dan hilangnya kekuatan.

Dalam perang Badar, Allah menampakkan kepada kaum Muslimin bahwa jumlah kaum Musyrikin itu berjumlah sedikit, sehingga Allah menjaga mereka (pasukan muslimin) dari perselisihan dan berbantah-bantahan. Allah SWT berfirman, "Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepada kamu (berjumlah) banyak tentu saja kamu menjadi gentar dan tentu saja kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, akan tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. (QS. Al Anfal: 43).

Sedangkan dalam perang Uhud, Allah tidak memberikan kemenangan untuk kaum muslimin. Pada saat perang Uhud itu, terjadi perselisihan di barisan kaum muslimin. Ada sebagian di antara mereka yang menginginkan segera mengambil harta rampasan perang dan meninggalkan pos yang diperintahkan (padahal perang belum selesai), dan sebagian lagi bersiteguh agar tetap diposisinya sebagaimana yang telah diperintahkan. "Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat." (QS. Ali Imran: 152). Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa akibat dari perselisihan itu adalah kekalahan yang menimpa SELURUH pasukan, bukan hanya menimpa sebagian orang-orang yang berselisih itu.

Lalu bagaimanakah sebenarnya untuk menghindari berbantah-bantahan dan perselisihan itu? Salah satu jawabannya adalah dengan Syura (musyawarah), yaitu syura yang mengikat untuk menghilangkan pertentangan di antara anggota. Allah SWT berfirman,

"Dan orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka." (QS. Asy Syura: 38).
Rasulullah sendiri melakukan musyawarah. Namun syura yang dilakukan oleh Rasulullah SAW bukan dilakukan dalam hal-hal yang mempunyai nash yang makna dan kandungannya tegas, karena dalam rangka memenuhi perintah Allah dan memberi pelajaran serta bimbingan kepada kaum muslimin. Dalam amal jama'i kita, setiap anggota bebas mengemukakan pandangan dan usulan yang berguna kepada pemimpinnya, namun usulan itu bukan dalam hal-hal yang sudah menjadi kewajiban. Sebab jika sudah menjadi kewajiban, bukan usul namanya.

Dalam perang Badar, beliau meminta pendapat kaum muslimin. Seorang sahabat yang bernama Al Habab bin Mundzir mengusulkan untuk mengubah strategi berperang. Lalu Rasulullah menerima pendapat itu seraya mengatakan, "Kamu telah mengemukakan pendapat yang baik." Rasulullah SAW juga menerima usulan para sahabatnya dalam Perang Uhud. Meskipun kaum muslimin mengalami kerugian dalam perang itu, namun Al Qur'an tetap menekankan pentingnya musyawarah itu. Dalam ayat Al Qur'an dikatakan, "Maafkanlah mereka, mintalah ampunan bagi mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah." (QS. Ali Imran: 159).

Jika kaum muslimin mengalami kerugian dalam sebuah pertempuran sementara syura telah menjadi prinsip di tengah masyarakat mereka, maka hal itu seribu kali lebih baik ketimbang mereka menyerahkan urusan mereka kepada penguasa zalim yang otoriter dan memperbudak. Syura adalah memiliki nilai tinggi, wajib diikuti, dan bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Syura bukan hanya berlaku bagi salah satu pihak saja, melainkan bagi seluruh anggota. Sehingga diharapkan ketika seluruhnya mentaati hasil syura, tidak akan ada lagi pertentangan dan berbantah-bantahan.

Sabar

"Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Anfal: 46). Sabar dalam menghadapi pertempuran dan sabar dalam menghadapi musibah merupakan jaminan bagi sempurnanya pertolongan yang akan diberikan Allah SWT.

Dalam peristiwa perang Badar, dikisahkan sebuah kesabaran seorang jundullah yang terlibat dalam peperangan. Ibnu Ishaq berkata dari Mu’adz bin Amr Al-jamuh, ia berkata, "Saya mendengar bahwa Abu Jahal seperti pohon besar yang dikelilingi pohon-pohon lain yang kecil." Ia berkata, "Ketika saya mendengar hal itu ia menjadi pusat perhatian saya, maka saya pun berteguh hati untuk menerobosnya. Dan ketika saya berhasil mendekatinya, langsung saya tebas dengan pedangku hingga memutuskan setengah betis kakinya. Sungguh demi Allah, setelah kaki itu putus saya mengumpamakannya seperti biji kurma yang terlepas dari bawah batu gilingan ketika biji tersebut dipukul. Lalu anaknya yang bernama Ikrimah memukulku dengan pedangnya sampai memutuskan lenganku, dan lengan itu masih bergantungan pada kulit yang ada pada bagian bawahnya. Hal itu tidak saya rasakan karena sibuk perang. Saya bertempur pada waktu itu sehari penuh. Dan ketika saya rasakan telah terlalu sakit, tangan itu saya injak dan saya tarik sampai putus." Ibnu Hisyam berkata, "Kemudian setelah peristiwa itu ia hidup sampai zaman Usman."

Dalam kisah di atas, tampak sekali bahwa sabar bukan berarti pasif. Justru sabar harus senantiasa diiringi dengan ikhtiar dan mujahadah. "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al Anfal: 46)

Ikhlash

"Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan." (QS. Al Anfal: 47). Kemenangan tidak bisa diraih dengan kesombongan dan riya'. Allah pasti akan menolong orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan niat yang lurus, ikhlash.

Diriwayatkan dari Abu Musa Al Adyari, ia berkata, "Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW lalu ia berkata, "Ada seorang yang berperang karena mengharap harta rampasan perang, ada seorang lagi yang berperang agar selalu diingat orang, dan ada seorang lagi yang berperang agar diketahui kedudukannya. Siapakah di antara mereka yang di jalan Allah?" Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah itu yang tinggi, itulah yang di jalan Allah." (Muttafaq'alaih).

Demikianlah keenam unsur ini, yaitu keteguhan hati, dzikrullah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak berbantah-bantahan, sabar, dan ikhlash. Ayat (keenam unsur) inilah yang diketahui dan dipahami maknanya oleh tentara Badar. Di atas nilai Robbani inilah timbul berbagai macam strategi yang cerdas dan jitu, sehingga mereka memperoleh pertolongan Allah dan kemenangan. Ikhwah fillah, perang kini belum usai. Kemenangan bukan hanya dilihat dengan suara terbanyak saja. Tiada kata istirahat dalam da'wah hingga Allah memenangkannya atau kita syahid di jalan-Nya. "Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar" (QS. At Taubah: 111) [] (hdn)


Maraji':
- Sistem Kaderisasi Dalam Sirah Nabi
- Sirah Nabawiyah
- Tsawabit wa mutaghayirat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         Abdurrahman Bin 'Auf

           Radhiyallahu 'Anhu

 

Apa Sebabnya Anda Menangis, Hai Abu Muhammad....?

 

Pada suatu hari, kota Madinah sedang aman dan tenteram, terlihat debu tebal yang mengepul ke udara, datang dari tempatketinggian di pinggir kota; debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpai hingga hampir menutup ufuk pandangan mata. Anginyang bertiup menyebabkan gumpalan debu kuning dari butiran-butiran sahara yang lunak, terbawa menghampiri pintu-pintu kota, dan berhembus dengan kuatnya di jalan-jalan rayanya.

 

Orang banyak menyangkanya ada angin ribut yang menyapu dan menerbangkan pasir. Tetapi kemudian dari balik tirai debu itu segera  mereka dengar suara hiruk pikuk, yang memberi tahu tibanya suatu iringan kafilah besar yang panjang.

 

Tidak lama kemudian, sampailah 700 kendaraan yang sarat dengan muatannya memenuhi jalan-jalan kota Madinah dan menyibukkannya. Orang banyak saling memanggil dan menghimbau menyaksikan keramaian ini serta turut bergembira dan bersukacita dengan datangnya harta dan rizqi yang dibawa kafilah itu ......

 

Ummul Mu'minin Aisyah Radhiyallahu 'Anha demi mendengar suara hiruk pikuk itu ia bertanya: "Apakah yang telah terjadi di kota Madinah…..?" Mendapat jawaban, bahwa kafilah Abdurrahman bin 'Auf barn datang dari Svam membawa barang-barang dagangannya .  .. Kata Ummul Mu'minin lagi: -- "Kafilah yang telah menyebabkan semua kesibukan ini?" "Benar, ya Ummal Mu' minin ... karena ada 700 kendaraan...... !" Ummul Mu'minin menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari melayangkan pandangnya jauh menembus, seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat atau ucapan yang pernah didengarnya.

Kemudian katanya: "Ingat, aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam bersabda:

"Kulihat Abdurrahman bin'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan!"

 

Abdurrahman bin 'Auf masuk surga dengan perlahan-lahan... ? Kenapa ia tidak memasukinya dengan melompat atau berlari kencang bersama angkatan pertama para shahabat Rasul..  ? Sebagian shahabat menyampaikan ceritera Aisyah kepadanya, maka ia pun teringat pernah mendengar Nabi Sholallahu 'Alaihi Wa Salam Hadits ini lebih dari satu kali dan dengan susunan kata yangberbeda-beda.

 

Dan sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskannya,ditujukannya langkah-langkahnya ke rumah Aisyah lain berkata kepadanya: "Anda telah mengingatkanku suatu Hadits yang tak pernah kulupakannya....". Kemudian ulasnyalagi: "Dengan ini aku mengharap dengan sangat agar anda menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, ku persembahkan di jalan Allah 'azza wajalla.....!" Dan dibagikannyalah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya sebagai perbuatan baik yang maha besar ....

 

Peristiwa yang satu ini saja, melukiskan gambaran yang sempurna tentang kehidupan shahabat Rasulullah, Abdurahman bin  'Auf. Dialah saudagar yang berhasil. Keberhasilan yang paling besar dan lebih sempurna! Dia pulalah orang yang kaya raya. Kekayaan yang paling banyak dan melimpah ruah ...! Dialah seorang Mu'min yang bijaksana yang tak sudi kehilangan bagian keuntungan dunianya oleh kawna keuntungan Agamanya, dan tidak suka harta benda kekayaannya meninggalkannya dari kafilah iman dan pahala surga. Maka dialah Radhiyallahu 'Anhu yang membaktikan harta kekayaannya dengan kedermawanan dan pemberian yang tidakterkira, dengan hati yang puas dan rela ... !

 

 

Kapan dan bagaimana masuknya orang besar ini ke dalam Islam? Ia masuk Islam sejak fajar menyingsing.... Ia telah memasukinya di saat-saat permulaan da'wah, yakni sebelum Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam memasuki rumah Arqam dan menjadikannya sebagai tempat pertemuan dengan para shahabatnya orang-orang Mu'min ...

 

Dia adalah salah seorang dari delapan orang yang dahulu masuk Islam.. . . Abu, Bakar datang kepadanya menyampaikan Islam, begitu juga kepada Utsman bin 'Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubedillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqash. Makatak ada persoalan yang tertutup bagi mereka, dan tak ada keragu-raguan yang menjadi penghalang, bahkan mereka segera pergi bersama Abu Bakar Shiddiq menemui RasuIullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam menyatakan bai'at dan memikul bendera Islam....

 

Dan semenjak keislamannya sampai berpulang menemui Tuhannya dalam umur tujuhpuluh lima tahun, ia menjadi teladan yang cemerlang sebagai Seorang Mu'min yang besar. Hal ini menyebabkan Nabi Sholallahu 'Alaihi Wa Salam memasukkannya dalam sepuluh orang Yang telah diberi kabar gembira sebagai ahli surga.

 

Dan Umar Radhiyallahu 'Anhu mengangkatnya pula sebagai anggota kelompok musyawarah yang berenam yang merupakan calon khalifah yang akan dipilih sebagai penggantinya, seraya katanya: "Rasulullah wafat dalam keadaan ridla kepada mereka!"

 

******

 

Segeralah  Abdurrahman  masuk  Islam  menyebabkannya menceritakan nasib malang berupa penganiayaan dan penindasan dari Quraisy .... Dan sewaktu Nabi Sholallahu 'Alaihi Wa Salam, memerintahkan para shahabatnya hijrah ke Nabsyi, Ibnu 'Auf ikut berhijrah kemudian kembali lagi ke Mekah, lalu hijrah untuk kedua kalinya ke Habsyi dan kemudian hijrah ke Madinah . . .  ikut bertempur di perang Badar, Uhud dan peperangan-peperangan lainnya.

 

********

 

Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan dirinya pribadi ketakjuban dan keheranan, hingga katanya:

 

"Sungguh, kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan di bawahnya emas dan perak......!"

 

Perniagaan bagi Abdurrahman bin 'Auf Radhiyallahu 'Anhu bukan berarti rakus dan loba   ..   Bukan pula suka menumpuk harta atau hidup mewah dan ria! Malah itu adalah suatu amal dan tugas kewajibanyang keberhasilannya akan menambah dekatnya jiwa kepada Allah dan berqurban di jalan-Nya ... ·

 

Dan Abdurrahman bin 'Auf seorang yang berwatak dinamis, kesenangannya dalam amal yang mulia di mana juga adanya ....Apabila ia tidak sedang shalat di mesjid, dan tidak sedang berjihad  dalam  mempertahankan  Agama  tentulah  ia  sedang mengurus perniagaannya yang berkembang pesat, kafilah-kafilahnya membawa ke Madinah dari Mesir dan Syria barang-barang muatan yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh jazirah Arab berupa pakaian dan makanan .....

 

Dan watak dinamisnya ini terlihat sangat menonjol, ketika Kaum Muslimin hijrah ke Madinah ....Telah menjadi kebiasaan Rasul pada  waktu itu  untuk mempersaudarakan dua orang shahabat, salah seorang dari muhajirin warga Mekah dan yang lain dari Anshar penduduk Madinah.

 

Persaudaraan ini mencapai kesempurnaannya dengan cara yang harmonis yang mempesonakan hati. Orang-orang Anshar penduduk Madinah membagi dua seluruh kekayaan miliknya dengan saudaranya orang muhajirin ..   , sampai-sampai soal rumahtangga. Apabila ia beristeri dua orang diceraikannya yang seorang untuk memperisteri saudaranya ......!

 

Ketika itu Rasul yang mulia mempersaudarakan antara Abdurrahman bin 'Auf dengan Sa'ad bin Rabi'.... Dan marilah kita dengarkan shahabat yang mulia Anas bin Malik Radhiyallahu 'Anhu meriwayatkan kepada kita apa yang terjadi:

" ... dan berkatalah Sa'ad kepada Abdurrahman: "Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya, silakan pilih  separoh hartaku dan ambillah! Dan aku mempunyai dua orang isteri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatian anda, akan kuceraikan ia hingga anda dapat memperisterinya......!

Jawab Abdurrahman bin 'Auf:  "Moga-moga Allah memberkati anda, isteri dan harts anda ! Tunjukkanlah letaknya pasar agar aku dapat berniaga....!

Abdurrahman pergi ke pasar, dan berjual belilah di sana.......ia pun beroleh keuntungan ...!

 

Kehidupan Abdurrahman bin 'Auf di Madinah baik semasa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam maupun sesudah wafatnya terus meningkat · · · Barang apa Saja yang ia pegang dan dijadikannya pokok perniagaan pasti menguntungkannya. Seluruh usahanya ini ditujukan untuk mencapai ridla Allah semata, sebagai bekal di alam baqa kelak.....!

 

Yang menjadikan perniagaannya berhasil dan beroleh berkat karena ia selalu bermodal dan berniaga barang yang halal dan menjauhkan diri dari perbuatan haram bahkan yang syubhat  Seterusnya yang menambah kejayaan dan diperolehnya berkat, karena labanya bukan untuk Abdurrahman sendiri . · ·  tapi di dalamnya terdapat bagian Allah yang ia penuhi dengan setepat-tepatnya, pula digunakannya untuk memperkokoh hubungan kekeluargaan serta membiayai sanak saudaranya, serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan tentara Islam ......

 

Bila jumlah modal niaga dan harta kekayaan yang lainnya ditambah keuntungannya yang diperolehnya, maka jumlah kekayaan Abdurrahman bin 'Auf itu dapat dikira-kirakan apabila kita memperhatikan  nilai  dan jumlah yang dibelanjakannya pada jalan Allah Rabbul'alamin!

Pada suatu hati ia mendengar Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam bersabda:

"Wahai ibnu 'Auf! anda termasuk golongan orang kaya dan anda akan masuk surga secara perlahan-lahan ....! Pinjamkanlah kekayaan itu kepada Allah, pasti Allah mempermudah langkah anda....!"

 

Semenjak ia mendengar nasihat Rasulullah ini dan ia menyediakan bagi AIlah pinjaman yang baik, maka Allah pun memberi ganjaran kepadanya dengan berlipat ganda.

 

Di suatu hari ia menjual tanah seharga 40 ribu dinar, kemudian uang itu dibagi-bagikannya semua untuk keluarganya dari Bani Zuhrah, untuk para isteri Nabi dan untuk kaum fakir miskin.

 

Diserahkannya pada suatu hari limaratus ekor kuda untuk perlengkapan balatentara islam ...dan di hari yang lain seribu limaratus kendaraan. Menjelang wafatnya ia berwasiat lima puluh ribu dinar untuk jalan Allah, lain diwasiatkannya pula bagi setiap orang yang ikut perang Badar dan masih hidup, masing-masing empat ratus dinar, hingga Utsman bin Affan Radhiyallahu 'Anhu yang terbilang kaya juga mengambil bagiannya dari wasiat itu, serta katanya:

"Harta Abdurrahman bin 'Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkat".

 

******

 

Ibnu 'Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya .... Sebagai buktinya, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkannya dan tidak pula dengan menyimpannya ....Bahkan ia mengumpulkannya secara santai dan dari jalan yang halal ....Kemudian ia tidak menikmati sendirian .... tapi ikut menikmatinya bersama keluarga dan kaum kerabatnya serta saudara·saudaranya dan masyarakat seluruhnya. Dan karena begitu luas pemberian serta pertolongannya, pernah dikatakan orang:

 

"Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin 'Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya kepada mereka .   . Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar hutang-hutang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikannya kepada mereka".

 

Harta kekayaan ini tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya, selama tidak memungkinkannya untuk membela Agama dan membantu kawan-kawannya. Adapun untuk lainnya, ia selalu takut dan ragu.

 

Pada suatu hari dihidangkan kepadanya makanan untuk berbuka, karena waktu itu ia sedang shaum .... Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya, tetapi iapun menangis sambil mengeluh:

 

"Mushab bin Umeir telah gugur sebagai syahid, ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan kedua kakinya terbuka kepalanya!

 

Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku, ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir kalau-kalau telah didahdukan pahala kebaikan kami...!"

 

Pada suatu peristiwa lain sebagian shahabatnya berkumpul bersamanya menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama sesudah makanan diletakkan di hadapan mereka, ia pun menangis; karena itu mereka bertanya:"Apa sebabnya anda menangis wahai Abu Muhammad ... ?" Ujarnya: "Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam telah wafat dan tak pernah beliau berikut ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita ... ?"

 

Begitulah ia, kekayaannya yang melimpah-limpah, sedikitpun tidak membangkitkan kesombongan dan takabur dalam dirinya .... ! Sampai-sampai dikatakan orang tentang dirinya:

 

"Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya dari antara mereka!"

 

Tetapi bila orang asing itu mengenal satu segi saja dari perjuangan ibnu 'Auf dan jasa-jasanya, misalnya diketahuinya bahwa di badannya terdapat duapuluh bekas luka di perang Uhud, dan bahwa salah satu dari bekas luka ini meninggalkan cacad pincang yang tidak sembuhsembuh pada salah satu kakinya......sebagaimana pula beberapa gigi seri rontok di perang Uhud, yang menyebabkan kecadelan yang jelas pada ucapan dan pembicaraannya .... Di waktu itulah orang baru akan menyadari bahwa laki·laki yang berperawakan tinggi dengan air muka berseri dan kulit halus, pincang serta cadel, sebagai tanda jasa dari perang Uhud, itulah orang yang bernama Abdurrahman bin 'Auf ... ! Semoga Allah ridla kepadanya dan ia pun ridla kepada Allah ... !

 

******

 

Sudah menjadi kebiasaan pada tabi'at manusia bahwa harta kekayaan mengundang kekuasaan ... artinya bahwa orang-orang kaya selalu gandrung untuk memiliki pengaruh guna melindungi kekayaan mereka dan melipat gandakannya, dan untuk memuaskan nafsu, sombong, membanggakan dan mementingkan diri sendiri, yakni sifat-sifat yang biasa dibangkitkan oleh kekayaan... !

 

Tetapi bila kita melihat Abdurrahman bin 'Auf dengan kekayaannya yang melimpah ini, kita akan menemukan manusia ajaib yang sanggup menguasai tabi'at kemanusiaan dalam bidang ini dan melangkahinya ke puncak ketinggian yang unik ... !

 

Peristiwa ini terjadi sewaktu Umar bin Khatthab hendak berpisah dengan ruhnya yang suci dan ia memilih enam orang tokoh dari para shahabat Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam sebagai formatur agar mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang baru....

 

Jari-jari tangan sama-sama menunjuk dan mengisyaratkan Ibnu 'Auf .... Bahkan sebagian shahabat telah menegaskan bahwa dialah orang yang lebih berhak dengan khalifah di antara yang enam itu, maka ujamya: "Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, lebih balk ambil pisau lain taruh ke atas leherku, kemudian kalian tusukkan sampai tembus ke sebelah. ..!"

 

Demikianlah, baru saja kelompok Enam formatur itu mengadakan pertemuan untuk memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah yang akan menggantikan al-Faruk, Umar bin Khatthab maka kepada kawan-kawannya yang lima dinyatakannya bahwa ia telah melepaskan haknya yang dilimpahkan Umar kepadanya sebagai salah seorang dari enam orang calon yang akan dipilih menjadi khalifah. Dan adalah kewajiban mereka untuk melakukan pemilihan itu terbatas diantara mereka yang berlima saja ....

 

Sikap zuhudnya terhadap jabatan pangkat ini dengan cepat telah menempatkan dirinya sebagai hakim di antara lima orang tokoh terkemuka itu. Mereka menerima dengan senang hati agar Abdurrahman bin 'Auf menetapkan pilihan khalifah itu terhadap salah seorang di antara mereka yang berlima, sementara Imam Ali mengatakan:

 

"Aku pernah mendengar Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam bersabda, bahwa anda adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit, dan dipercaya pula oleh penduduk bumi ... !"

 

Oleh Ibnu 'Auf dipilihlah Utsman bin Affan untuk jabatan khalifah dan yang lain pun menyetujui pilihannya.

 

*****

 

Nah, inilah hakikat seorang laki-laki yang kaya raya dalam Islam! Apakah sudah anda perhatikan bagaimana Islam telah mengangkat dirinya jauh di atas kekayaan dengan segala godaan dan penyesatannya itu, dan bagaimana ia menempa kepribadiannya dengan sebaik-baiknya?

 

Dan pada tahun ketigapuluh dua Hijrah, tubuhnya berpisah dengan ruhnya .... Ummul Mu'minin Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak diberikannya kepada orang lain,maka diusulkannya kepadanya sewaktu ia masih terbaring diranjang menuju kematian, agar ia bersedia dikuburkan di pekarangan rumahnya berdekatan dengan Rasulullah, Abu Bakar dan Umar....

 

Akan tetapi ia memang seorang Muslim yang telah dididik Islam dengan sebaik-baiknya, ia merasa malu diangkat dirinya pada kedudukan tersebut ... !

 

Pula dahulu ia telah membuat janji dan ikrar yang kuat dengan Utsman bin Madh'un, yakni bila salah seorang di antara mereka meninggal sesudah yang lain maka hendaklah ia dikuburkan di dekat shahabatnya itu ... !

 

******

 

Selagi  ruhnya  bersiap-siap  memulai  perjalanannya  yang baru, air matanya meleleh sedang lidahnya bergerak-gerak mengucapkan kata-kata:

 

"Sesungguhnya  aku khawatir dipisahkan dari shahabat-shahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah ... !"

Tetapi sakinah dari Allah·segera menyelimutinya, lain satu senyuman tipis menghiasi wajahnya disebabkan sukacita yang memberi cahaya serta kebahagiaan yang menenteramkan jiwa... Ia memasang telinganya untuk menangkap sesuatu ....seolah-olah ada suara yang lernbut merdu yang datang mendekat ....

Ia sedang mengenangkan kebenaran sabda Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wa Salam yang pernah beliau ucapkan:  "Abdurrahman bin 'Auf dalam surga!", lagi pula ia sedang mengingat-ingat janji Allah dalam kitab-Nya:

 

"Orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Alloh kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafqahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannnya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, niscaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka; mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula berdukacita ... !"(Q·S. 2 al-Baqarah: 262)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

         Bertawassul kepada Nabi

              Semasa Hidupnya

KETIKA Nabi Muhammad masih hidup, para sahabat sering meminta beliau mendoakan mereka untuk suatu keperluan. Padahal, mereka bisa melakukannya sendiri.

Misalnya, ketika hujan tak kunjung turun. Para sahabat meminta Nabi Muhammad beristiqa (meminta hujan). Akhirnya, beliau memohon kepada Allah agar menurunkan hujan, dan Allah mengabulkan doa beliau itu dengan menurunkan hujan kepada mereka. Dalam banyak riwayat juga dikisahkan para sahabat yang meminta didoakan agar masuk surga atau keperluan-keperluan duniawi lainnya.

Meminta dengan perantaraan (tawassul) yang seperti ini, dibolehkan dalam Islam. Yang juga boleh adalah meminta didoakan oleh orang-orang saleh ketika mereka masih hidup. Antar para sahabat Nabi ketika itu juga biasa saling mendoakan.

Tetapi kini, ketika Nabi Muhammad sudah wafat, masihkah boleh berdoa dengan bertawassul (melalui perantaraan) kepada beliau ? Bolehkah pula berdoa dengan bertawassul kepada para wali dan orang saleh yang juga sudah meninggal ?

Jika seseorang berdoa kepada Allah dengan menyebutkan rasa cinta dan ketaatannya kepada nabi-Nya, dan dengan rasa cintanya kepada para wali Allah, hal ini dibolehkan. Sama bolehnya seperti berdoa dengan menyatakan ketaatan kepada Allah dan menyebut-nyebut amal saleh yang telah dilakukan.

Namun, ada juga orang yang meminta kepada Allah dengan menjadikan kedudukan para nabi atau para wali sebagai perantaraan.
Misalnya, dengan berkata, ?Ya Allah, sesunguhnya aku meminta kepada-Mu dengan kedudukan nabi-Mu atau dengan kedudukan Husain atau dengan kedudukan Syaikh Abdul Qadir Jaelani?. Tawassul yang seperti ini tidak boleh. Sebab, kedudukan Nabi dan para wali Allah serta orang-orang saleh, sekalipun mulia di sisi Allah, bukanlah sebab terkabulnya sebuah doa.

Para sahabat Nabi sendiri, sepeninggal beliau, tidak pernah ber-tawassul dengan perantaraan Nabi. Padahal, mereka adalah generasi yang paling baik. Manusia yang paling mengetahui hak-hak Nabi dan yang paling cinta kepada beliau.

Di samping itu, ada juga orang yang berdoa kepada Allah dengan bersumpah atas nama wali atau nabi-Nya. Misalnya dengan mengatakan, ?Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ini (menyebutkan hajatnya) dengan (perantaraan) waliMu si-Fulan atau dengan hak nabi-Mu.? Yang seperti ini pun tidak dibolehkan oleh syariat.

Tidak ada hak bagi makhluk terhadap Sang Khaliq (pencipta) hanya semata-mata lantaran ketaatannya kepada-Nya itu, dia boleh bersumpah dengan para nabi dan wali atau ber-tawassul dengan mereka. Inilah yang ditampakkan oleh syariat. Dengan ini pula akidah seorang muslim terjaga dan pintu-pintu kesyirikan tertutup.

 

 

 

 

 

 

 

                                    BUYA IMA IBNU FACHRU ROZI