BIOGRAFI
SYEKH ABDUL QODIR JAELANI

 
Penyusun
Buya Ima Ibnu Fachru Rozi
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


           MAJLIS TAKLIM

                           WAL

"AL-WASILAH"                DZIKIR

 

 

  

          

 { Biografi Syekh abdul qodir Jilani }

                     

               Jln.Tambak Jati No 29 Surabaya

                              Tlp ( 031 ) 3719121

 

 

PENGANTAR

 

 

 

 

     Biografi asySyaikhAbdulQadir

 al-Jailani

Bagian 1

   Nama-nama Beliau

Nama resmi beliau ialah Abdul Qadir ibn Musa (al-hasani al-Jailani). Nama pergaulan beliau ialah Abu Muhammad. Di antara nama-nama gelar yang telah diberikan kepada beliau ialah al-Baz al-Asyhab ( si burung rajawali kelabu )danMuhyiddin(penghidup agama). 

 

                    Keturunan Serta Tarikh dan

     Tempat Kelahiran

Sultan al-Auliya, al-Ghauth al-aahm, asy-Syaikh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Musa al-Jailani adalah seorang lelaki keturunan Rasulullah AllallAu alaihi wa sallam, melalui Saiyidina al-Hasan A.S juga Saiyidina Husain A.S ,bapaknya adalah seorang keturunan Saiyidina Hasan A.S, sedangkan ibunya pula adalah seorang keturunan Saiyidina Husain A.S. Karena itu, silsilah beliau ini dikenal juga dengan panggilan Silsilah Keemasan.

Bapak asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah Abu salih Musa ibn Abdullah al-Jili ibn Yahya az-Zaid ibn Muhammad ibn Dawud ibn Musa ibn Abdullah ibn Musa al-Jaun ibn Abdullah al-Kamil al-Mahd ibn al-hasan al-Muthanna ibn al-hasan ibn Ali ibn Abi Thalib. (1)

Ibu asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah Fatimah anak perempuan Abdullah ibn Abi Jamaluddin Muhammad ibn Mahmud ibn Tahir ibn Abi al-Ata Abdullah ibn Kamaluddin Isa ibn Muhammad al-Jawad ibn Ali ar-Rida ibn Musa al-Katim ibn Ja‘far as-sodiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Zain al-Abidin  Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib.

Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 470 Hijrah, di sebuah desa bernama Nif di dalam wilayah Jilan, berdekatan dengan Pergunungan Elburz ( di dalam Bahasa Parsi disebut reshteh-ye kihha-ye alborz ) di negara Iran. Wilayah Jilan (sebutan di dalam Bahasa Arab; ia disebut di dalam Bahasa Parsi sebagai Gilan) terletak berdekatan dengan Laut Kaspia ( The Caspian Sea ), dan bandar terbesarnya ialah Rasht.

Dari segi tempat kelahirannya, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (disebut juga sebagai al-Gilani atau al-Gailani atau al-Jailani) bukanlah seorang lelaki Arab, karena dia telah dilahirkan di bumi Ajam ( yakni bukan di bumi Arab; kadangkala perkataan Ajam diartikan juga sebagai bumi Parsi ), tetapi sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini, dia juga adalah seorang lelaki keturunan Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam

Peta yang menunjukkan kedudukan wilayah Gilan dan Laut Kaspia (Caspian Sea) 

Kelahiran asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah diramalkan oleh beberapa orang wali Allah. Umpamanya, ada seorang wali Allah yang bernama asy-Syaikh Abu Bakr ibn Huwar al-Bata’ihi, yang telah meninggal dunia lama sebelum asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dilahirkan. Dia adalah guru asy-Syaikh Abi Muhammad dalhah asy-Syunbuki, yang merupakan guru kepada asy-Syaikh Manair al-Bata’ihi ar-Rabbani, yang merupakan guru asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i, seorang wali Allah yang pernah hidup sezaman dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. (2)

Telah diceritakan oleh asy-Syaikh Abu Muhammad dalhah asy-Syunbuki:  

Pada suatu hari, guruku asy-Syaikh Abu Bakr ibn Huwara al-Bata’ihi telah berkata, “Pasak-pasak bagi Iraq itu ada delapan orang. Mereka itu ialah

(1)   Ma‘ruf al-Karkhi

(2)   Ahmad ibn hanbal

(3)   Bisyr al-hafi

(4)   Mansur ibn Ammar

(5)   al-Junaid

(6)   Sari as-Saqati

(7)   Sahl at-Tustari

(8)   Abdul Qadir ( yakni asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani )

Aku telah bertanya, “Siapa dia Abdul Qadir ? ”

Dia telah menjawab, “Seorang ‘Ajami dari keturunan mulia, yang akan menetap di kota Baghdad. Dia akan didhahirkan pada kurun kelima Hijrah. Dia akan menjadi ketua bagi segala siddiqin, autad, afrad, a‘yan dan aqtab untuk waktu itu.”

Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah meninggal dunia pada bulan Rabiulakhir tahun 561 Hijrah, ketika berumur 91 tahun, di kota Baghdad. Kuburnya yang masih dijaga dan dimuliakan orang itu, telah dijadikan satu tempat ziarah oleh umat Islam dari seluruh dunia. Dan hari kematiannya pula merupakan hari hol ( hauliyyah ) yang diperingati oleh jutaan pengikutnya di seluruh dunia Islam pada setiap tahun.

 

           Silsilah Toriqoh dan    

      Peninggalannya

Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah wali Allah yang paling terkenal di seluruh dunia Islam, bukan saja di kalangan para pengikut ilmu tasawuf, malah juga di kalangan orang-orang awam. Kisah-kisah mengenai dirinya dan karomah-nya, telah dijadikan bahan cerita dan pengajaran di desa dan di kota, selama hampir sembilan ratus tahun.

Dia telah dikenal dengan panggilan al-Ghauth al-A‘jam, yakni Si Penolong Teragung, yang membantu manusia yang sedang dilanda musibah atau ditimpa kecelakaan. Dia juga telah dikenal dengan nama panggilan al-Qutb al-A‘jam, yakni asalk dan pusat alam kerohanian, gudang ilmu, sumber hikmah dan seorang ‘Alim pewaris Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam yang sejati.

Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah pengasas at-Thoriqoh al-Qadiriyyah. Para pengikut toriqoh ini kita dapati hampir di seluruh dunia, dan adalah sebuah toriqoh yang sangat popular.

Pada zaman sekarang, terdapat juga beberapa toriqoh di dunia Islam yang merupakan hasil gabungan dari at-Thoriqoh al-Qadiriyyah dengan sebuah toriqoh lain. Umpamanya, di beberapa buah negara di Afrika Utara terdapat sebuah toriqoh yang bernama at-Thoriqoh al-Qadiriyyah asy-Syadhiliyyah, manakala di Indonesia pula, terdapat sebuah toriqoh yang bernama at-Thoriqoh al-Qadiriyyah wa an-Naqsyabandiyyah dan di negara India pula, terdapat sebuah toriqoh yang bernama at-Thoriqoh al-Qadiriyyah al-Cisytiyyah. Begitu juga di Turki, terdapat sebuah toriqoh yang bernama at-Thoriqoh al-Qadiriyyah ar-Rifa‘iyyah.

Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mengambil ijazah toriqoh dari al-Qadi asy-Syaikh Abu Sa‘id al-Mubarak ibn Ali al-Makhzumi al-Mukharrimi (yakni nama nisbah bagi al-Mukharrim, nama sebuah kawasan di kota Baghdad), yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad al-Qurasyi al-Hakkari, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abiu al-Fath (dikenal juga sebagai Abu al-Faraj) Abdur Rahman ibn Abdullah at-Tharsusi, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu al-Fadl Abdul Wahid ibn Abdul Aziz at-Tamimi, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu Bakr Dulaf ibn Jahdar asy-Syibli, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu al-Qasim al-Junaid ibn Muhammad al-Baghdadi, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu al-hasan Sari ibn al-Mughalis as-Saqati, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu Mahfidh Ma‘rif ibn Fairiz al-Karkhi, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abi Sulaiman Dawud ibn Nasir at-tha’i, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu Muhammad habib ibn Îsa al-Ajami, yang telah menerima dari asy-Syaikh Abu Sa‘id al-Hasan ibn Abu al-Hasan Yasar al-Basri, yang telah menerima dari al-Imam al-Hasan ibn Ali, yang telah menerima dari bapaknya yakni al-Imam Ali ibn Abu Thalib, yang telah menerima dari bapak mertuanya, yang juga adalah sepupunya, yakni junjungan kita Saiyidina Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam.

Walaupun asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menerima khirqah (sepotong kain yang menandakan pengiktirafan) dari asy-Syaikh Abu Sa‘id al-Mubarak ibn Al al-Mukharrimi, gurunya yang lebih terkenal ialah asy-Syaikh Abi al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas (meninggal dunia pada tahun 525 Hijrah).

Di antara kitab-kitab yang telah dinisbahkan kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah al-Fath ar-Rabbani, Jala’ al-Khawatir, Malfihat dan Futih al-Ghaib. (3)

Berbeda dengan keadaan al-Imam Abu Hamid al-Ghazali, yang telah banyak menulis sendiri kitab-kitabnya semasa dia masih hidup, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tidak banyak menulis kitab. Kitab-kitab yang tersebut di atas, sebenarnya adalah rekaman yang telah dibuat oleh beberapa orang muridnya mengenai beberapa nasihat dan ajaran beliau, dan yang kemudiannya telah dibukukan. Dan kitab-kitab ini pula telah dinisbahkan kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, karena isi kitab-kitab ini berkisar kepada ucapan-ucapan dan nasihat-nasihat yang berasal dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilan sendiri.  

 

Satu pemandangan di kawasan pergunungan di wilayah jila


Catatan (1)

Kalimah “al-Jaun” pada nama Musa al-Jaun itu dieja sebagai   manakala kalimah “al-Mahd” pada nama ‘Abdullah al-Kamil al-Mahd itu dieja sebagai (bukan yang ditransliterasikan sebagai al-Mahdi ). 

Musa al-Jaun telah diberikan gelaran al-Jaun karena warna kulitnya yang kemerah-merahan. Dan Abdullah al-Kamil al-Mahd pula telah diberikan gelaran al-Mahd, karena mempunyai nasab keturunan yang suci (yakni memiliki nasab keturunan Ahlul-Bait yang murni di kedua-dua belah pihak) karena bapaknya adalah al-Hasan al-Muthanna, yakni seorang anak lelaki kepada Saiyidina al-Hasan ibn Ali ibn Abu Thalib, sedangkan ibunya pula adalah Fatimah an-Nabawiyyah, yakni seorang anak perempuan kepada Saiyidina al-Husain ibn Ali ibn Abi Thalib.

Ini juga berarti yang Abdullah al-Kamil al-Mahd telah lahir hasil dari perkawinan di antara dua orang saudara sepupu yang berasal dari keturunan Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam.

Al-Hasan al-Muthanna telah meninggal dunia pada tahun 97 Hijrah, sementara Fatimah an-Nabawiyyah pula telah meninggal dunia pada tahun 110 Hijrah.

Terdapat pula sebuah kitab di Turki yang mengatakan bahwa silsilah keturunan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilana adalah seperti berikut:

Abdul Qadir ibn Abu Salih ibn Musa ibn Jangi Dost ibn Abdullah ibn Yahya  . . .  dan seterusnya.

Di sini, terdapat sedikit kesilapan. Yang disebut sebagai Abu Salih, Musa dan Jangi Dost itu sebenarnya, bukanlah tiga orang yang berlainan, tetapi adalah orang yang sama. Yakni, nama resmi bagi bapak asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah Musa. Nama Panggilan  baginya ialah Abu Salih, dan nama gelarannya pula ialah Jangi Dost (di dalam Bahasa Parsi).

Catatan (2)

Asy-Syaikh Ahmad ibn Ali ar-Rifa‘i adalah seorang wali Allah dari keturunan Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam melalui Saiyidina al-Husain. Menurut asy-Syaikh Muhammad ibn Yahya at-Tadifi (meninggal dunia pada tahun 963 Hijrah) di dalam kitabnya yang bernama Qala’id al-Jawahir, silsilah keturunan asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i yang lebih lengkap ialah Abu al-Abbas Ahmad ibn Abu al-Hasan Ali ibn Abu al-Abbas Ahmad ibn Yahya ibn Hazim ibn Ali ibn Thabit ibn Ali ibn al-Husain al-Asghar (yang telah diberikan gelaran Rifa‘ah al-Makki al-Maghribi) ibn al-Mahdi ibn Muhammad ibn al-Qasim ibn Musa ibn Abdur Rahim ibn salih ibn Yahya ibn Muhammad ibn Ibrahim ibn Musa al-Kadhim ibn Ja‘far as-sadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Zain al-Abidin Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abu Thalib.

Ada juga riwayat lain (umpamanya seperti yang tercatat di dalam kitab al-Maraqib al-Yafa‘iyyah Fi al-Manaqib ar-Rifa‘iyyah) yang telah memberikan silsilah keturunan yang agak berlainan dari yang telah diberikan oleh asy-Syaikh Muhammad ibn Yahya at-Tadifi ini. Namun, silsilah itu akhirnya sampai juga kepada cucu Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam yakni Saiyidina al-Husain.

Nama Ar-Rifa‘i yang dikaitkan dengan nama asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i, adalah berdasarkan nama moyangnya yang bernama al-Husain al-Asghar, yang telah diberikan nama gelaran Rifa‘ah. (Ada pula setengah riwayat yang telah mengatakan bahwa nama moyang yang bergelar Rifa‘ah itu adalah al-Hasan, bukannya al-Husain.)

Moyang yang bergelar Rifa‘ah itu, telah berpindah dari kota Makkah al-Mukarramah ke Sevilia ( sekarang ini berada di dalam negara Sepanyol ), yang di masa itu dianggap sebagai bagian dari kawasan al-Maghrib ( yang berarti Barat ), dan telah menetap di situ. Oleh karena itu, dia telah diberikan nama nisbah al-Makki ( berdasarkan tempat asalnya yakni kota Makkah al-Mukarramah ) dan juga dengan nama nisbah al-Maghribi ( berdasarkan tempat dia telah menetap hingga ke akhir hayatnya ).

Tetapi moyang asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i yang bernama Yahya itu pula, telah berpindah dari al-Maghrib ke Makkah al-Mukarramah, dan dari situ berpindah pula ke al-Basrah di Iraq.

Asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i telah dilahirkan pada bulan Rejab tahun 512 Hijrah, di desa Hasan di al-Bata’ih, yang terletak di dalam daerah al-Wasit, berdekatan dengan Umm Abidah (ada juga orang yang menyebut tempat ini sebagai Umm Ubaidah).

Di suatu masa dahulu, selepas bandar al-Basrah dan bandar Kufah, al-Wasit adalah bandar terbesar yang ketiga di negara Iraq. Al-Wasit telah diasaskan oleh gubernur yang memerintah negara Iraq di masa itu, yakni al-Hajjaj ibn Yusuf ath-Thaqafi ( yang terkenal karena kedholimannya, dan telah meninggal dunia pada tahun 95 Hijrah ). Tetapi, selepas beberapa ratus tahun berlalu, bandar al-Wasit telah ditinggalkan manusia dan terus lenyap. Bekas daerah al-Wasit silam terletak di antara Kufah dan al-Basrah pada zaman sekarang.

Asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i telah dilahirkan sebagai seorang anak yatim, karena ayahnya telah meninggal dunia ketika asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i masih di dalam kandungan perut ibunya . (Ada pula riwayat lain yang mengatakan bahwa bapak asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i telah meninggal dunia di Baghdad ketika asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i berumur 7 tahun.)

Asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i telah diasuh dan dididik oleh seorang bapak saudaranya (dari ibu), yakni seorang Alim dan wali Allah yang besar, bernama asy-Syaikh Mansur al-Bata’ihi ar-Rabbani (yang telah meninggal dunia pada tahun 540 Hijrah). Dan bapak saudaranya ini juga telah mengajarkan dasar-dasar ilmu tasawuf kepada asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i dan telah memberinya ijazah toriqoh.

Asy-Syaikh Mansur al-Bata’ihi telah mengambil toriqoh dari asy-Syaikh Abu Muhammad Thalhah asy-Syunbuki. Dia juga telah mengambil toriqoh dari asy-Syaikh Ali al-Wasiti al-Qari’, yang memiliki silsilah toriqoh yang berurutan sampai kepada al-Imam Ali ibn Abu Thalib yang telah mengambil toriqoh dari junjungan kita, Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam.

Asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i telah meninggal dunia di desa Umm Abidah pada 12 hari bulan Jamadilawal tahun 578 Hijrah, ketika berumur enam puluh enam tahun. (Ada juga setengah riwayat yang telah mengatakan bahwa dia telah dilahirkan pada tahun 500 Hijrah, dan telah meninggal dunia pada tahun 580 Hijrah, tetapi riwayat ini adalah kurang sahih.)

Asy-Syaikh Ahmad ar-Rifa‘i adalah pengasas at-Thariqah ar-Rifa‘iyyah. Pengamal-pengamal toriqoh ini kita dapati di beberapa kawasan di benua Afrika dan di benua Asia. Namun, yang lebih banyak kita dapati pada zaman sekarang ialah para pengamal toriqoh-toriqoh yang berasal (atau yang bercabang) dari at-Thariqah ar-Rifa‘iyyah, seperti at-Thariqah al-Badawiyyah (diasaskan oleh asy-Syaikh Ahmad al-Badawi) dan at-Thariqah ad-Dasuqiyyah (diasaskan oleh asy-Syaikh Ibrahim ad-Dasuqi).

Catatan (3)

Terdapat juga beberapa buah kitab lain, yang telah disebut oleh setengah pihak, telah disusun oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Salah satu darinya ialah sebuah kitab yang berjudul Sirr al-Asrar. Ia telah disebut oleh banyak manusia sebagai hasil tulisan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dan telah diterjemahkan dari Bahasa Arab ke dalam beberapa bahasa lain termasuk Bahasa Turki, Bahasa Inggeris dan Bahasa Indonesia.

Sayangnya, di dalam beberapa versi yang terdapat di pasaran pada zaman sekarang, kandungannya sudah diubah sehingga keasliannya masih dipermasalahkan.

Sebagai contoh, si pengarang kitab itu telah memetik beberapa rangkap syair (di dalam Bahasa Parsi) yang berasal dari Maulana Jalaluddin ar-Rumi. Bagaimanakah boleh dikatakan yang si pengarang kitab itu adalah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, sedangkan dia telah meninggal dunia pada tahun 1166 Masehi, manakala Maulana Jalaluddin ar-Rumi telah pula dilahirkan pada tahun 1207 Masehi? Adakah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani akan memetik kata-kata dari seorang manusia yang dilahirkan lebih dari empat puluh tahun selepas kematian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sendiri? Bukan saja petikan syair dari Maulana Jalaluddin ar-Rumi, kitab Sirr al-Asrar juga mengandung beberapa petikan dari tulisan-tulisan beberapa orang pengarang lain yang telah dilahirkan beberapa tahun selepas asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani meninggal dunia. Maka karena itu, telah dikatakan pula oleh beberapa orang peneliti bahwa isi kandungan kitab Sirr al-Asrar, di dalam bentuk versi yang terdapat pada zaman sekarang, telah diubah, yakni tiadalah ia seratus persen berasal dari ajaran-ajaran asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Yang masih asli seratus persen, hanyalah salinan sepucuk surat dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang kadangkalanya tidak pula dimasukkan ke dalam setengah versi kitab ini.

           Bagian 2

               Ringkasan Riwayat Hidupnya

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah digambarkan oleh mereka yang pernah bertemu dengannya, sebagai seorang lelaki yang berkulit putih kemerahan, bertubuh sederhana – agak kurus sedikit, berjanggut lebat, dan sederhana pula tingginya. Dia amat fasih dalam berkata-kata dan kadangkala apabila dia sedang memberikan ceramah, kata-katanya bisa menusuk ke sanubari para pendengarnya, sehingga ada yang telah menangis terisak-isak dan ada pula yang telah jatuh pingsan akibatnya.

                                       

      Gambar lukisan wajah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, menurut khayalan seorang pelukis. Gambar ini pernah kami lihat dijual berdekatan dengan kubur Sunan Kalijaga di Kadilangu, Jawa Tengah.

Ibu asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang bernama Fatimah, adalah seorang wanita sufi. Fatimah ini, yang dikenal juga dengan gelarannya yang lebih mesra, Ummul-Khair, telah bercerita mengenai perilaku anaknya itu semasa kecil:

Anakku asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dilahirkan pada bulan Ramadhan. Walau bagaimanapun aku coba, dia enggan menerima air susuku pada siang hari. Semasa dia masih kecil , dia tidak akan menerima sedikit pun makanan di bulan Ramadhan.

Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani masih kecil , permulaan bulan Ramadhan telah jatuh pada hari di mana langit sedang diliputi awan tebal, sehingga telah menjadi mustahil bagi para penduduk setempat untuk melihat bulan.

Oleh karena mereka tidak pasti bulan Ramadhan sudah bermula ataupun belum, orang banyak telah datang menemui Ummul-Khair dan telah bertanya sama anaknya yang masih kecil itu lalu mengambil sembarang makanan pada hari itu. Bila anak kecil Ummul-Khair itu tidak mengambil makanan apa-apa , mereka pun menetapkan yang bulan Ramadhan sudah bermula.  

Telah bercerita asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani:

Semasa aku masih kanak-kanak, aku telah dikunjungi oleh seorang malaikat di dalam bentuk seorang lelaki yang tampan pada setiap hari. Dia akan berjalan bersamaku dari rumah kami sampai ke madrasah, dan akan menyebabkan anak-anak lain memberikan aku tempat di barisan pertama. (asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah melihat malaikat itu melalui jalan kasyaf.)

Dia akan menungguku sehari semalam dan kemudian akan menghantarku pulang. Aku telah bisa mempelajari apapun dalam satu hari, apa yang dipelajari oleh anakkanak lain dalam satu minggu. Pada suatu hari, aku telah bertanya kepadanya dan dia telah menjawab, “Aku adalah seorang malaikat. Allah telah menghantarku untuk menjagamu selama engkau masih belajar.”

Pada suatu hari, ketika aku sedang berjalan ke madrasah (di masa itu asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berumur sepuluh tahun), aku telah terlihat ada seorang lelaki yang tidak aku kenali, sedang berkata-kata dengan malaikat itu. Lelaki itu telah bertanya, “Siapakah budak lelaki ini?”

Malaikat itu telah menjawab, “Dia seseorang yang mempunyai turunan mulia. Satu tugas yang besar akan diberikan kepada anak muda ini pada suatu hari nanti. Inilah dia orangnya yang akan memberi dan tidak akan menyekat, yang akan membolehkan dan tidak akan menghalang, yang akan didekatkan dan tidak akan tertipu atau terpedaya.”

Hanya selepas empat puluh tahun kemudian, barulah aku kenal siapa lelaki itu, yakni seorang lelaki dari golongan al-Abdal yang hidup di waktu itu.

Dan sewaktu aku masih kanak-kanak lagi, setiap kali aku ingin keluar untuk bermain-main dengan kanak-kanak lain, aku akan terdengar satu suara yang berkata, “Janganlah membazirkan masa, wahai orang yang diberkati (ya mubarak).”

Dengan penuh ketakutan, aku akan lari menemui ibuku dan terus memeluknya.

Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dewasa, yakni berumur dalam lingkungan lapan belas tahun, dia telah pergi ke ladang kepunyaan keluarganya. Ketika dia sedang berjalan, seekor lembu yang berada berdekatan telah menoleh ke arahnya dan merenung wajahnya. Lembu itu seolah-olah telah berkata kepadanya, “Bukanlah karena ini engkau diciptakan!”

Dengan serta merta, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun berlari ke rumahnya dan terus naik ke atas atap rumah. Dari atas atap rumah itu, dia telah terlihat gambaran ( yakni melalui jalan kasyaf ) satu kumpulan manusia yang telah berkumpul di padang Arafah. Di waktu itu, umat Islam sedang menunaikan ibadat haji.

Setelah itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun turun dari atas atap rumah dan pergi menemui ibunya, yang ketika itu sudah menjadi seorang janda. Dia telah berkata kepada ibunya, “Hantarkanlah ananda ke Jalan Kebenaran. Izinkanlah ananda pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu, serta bergaul dengan para wali Allah, yang dada mereka penuh dengan hikmah.”

Ummul-Khair pun bertanya apakah sebab anaknya itu telah menyuarakan permintaannya itu dengan tiba-tiba. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menceritakan peristiwa yang telah dialaminya tadi. Ummul-Khair telah menangis. Kemudian, dia telah mengeluarkan delapan puluh keping uang emas (dinar) yang telah ditinggalkan oleh almarhum suaminya. Dia telah menyisihkan sebanyak empat puluh keping  untuk adik asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (yang bernama Abdullah). Yang kesemua uang empat puluh keping itu , telah dijahitkannya di bawah ketiak jubah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Setelah itu, Ummul-Khair pun memberikan izin kepada anaknya itu untuk pergi mencari ilmu, tetapi terlebih dahulu, dia telah meminta anaknya itu supaya berjanji akan senantiasa berbicara benar ( Jujur ), pada setiap waktu dan di dalam setiap keadaan.

Kemudian, sebelum asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bertolak meninggalkannya, Ummul-Khair telah berkata pula kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Semoga engkau senantiasa dilindungi oleh Allah, wahai anakku. Kini aku akan berpisah denganmu. Engkau merupakan buah jantung dan kesayangan hatiku. Namun karena Allah, aku akan merelakannya. Aku rasa, kita tidak akan berjumpa lagi selepas ini, sehingga Hari Kiamat.”

Setelah itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menyertai satu kafilah menuju ke kota Baghdad. Di tengah-tengah perjalanan, ketika mereka tiba dekat dengan kota Hamadan, mereka telah diserang oleh sekumpulan perampok, yang telah merampas barang-barang berharga dari setiap ahli kafilah itu.

Seorang dari perampok-perampok itu telah datang dan bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Wahai orang muda, adakah engkau mempunyai apa-apa barang yang berharga?”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab, “Aku ada empat puluh keping uang emas.”

Si perampok itu telah bertanya lagi, “Di mana?”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab, “Di bawah ketiakku.”

Perampok itu telah ketawa dan telah meninggalkan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani seorang diri.

Kemudian, seorang perampok lain telah datang dan menanyakan soal yang sama kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dan telah dijawab pula oleh asy-Syaikh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dengan jawaban yang sama. Si perampok yang kedua itu pun telah ketawa dan telah meninggalkan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani seorang diri.

Kedua orang perampok itu telah menceritakan peristiwa tadi kepada ketua mereka. Beberapa waktu kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dipanggil untuk berjumpa dengan ketua kumpulan perampok itu. Kali ini, ketua perampok itu yang telah bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dengan soal yang sama. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab yang dia mempunyai empat puluh keping uang emas yang telah dijahit di bawah ketiaknya.

Ketua perampok itu pun mengambil jubah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan telah mengoyaknya. Maka uang emas itu pun dapat dilihat oleh mereka semua. Kemudian, dengan perasaan takjub, ketua perampok itu telah bertanya, “Kenapakah engkau mengaku apabila ditanya? Bukanlah uang itu tersembunyi di tempat yang selamat, yang tidak diketahui oleh siapapun?”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab, “Aku terpaksa berkata yang benar pada setiap waktu, karena aku telah berjanji dengan ibuku.”

Sebaik-baik saja mendengar jawaban dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ini, ketua perampok itu tiba-tiba telah merasa hiba dan terus menangis.

Kemudian ketua perampok itu telah berkata, “Engkau telah melakukan demikian semata-mata karena satu janji yang telah engkau berikan kepada ibumu. Sedangkan aku sendiri, aku telah lalai dengan janjiku kepada Tuhan yang telah menciptaku! Sungguh banyak orang yang telah aku rompak dan telah aku bunuh. Apakah yang akan terjadi kepada diriku?”

Kemudian, seorang ahli kumpulan perampok itu telah berkata pula kepada ketuanya, “Engkau telah menjadi ketua kami selama ini di dalam pekerjaan maksiat. Maka sekarang ini, jadilah ketua kami di dalam bertaubat!”

Maka dengan itu, anggota-anggota kumpulan perampok itu (sebanyak enam puluh orang) pun bertaubatlah di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang masih muda itu. Kemudian, mereka telah memulangkan segala harta yang telah mereka rampas, kepada tuan punya harta-harta itu masing-masing.

Menurut asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, merekalah orang-orang yang pertama bertaubat di tangannya. Ini adalah berkat sifatnya yang senantiasa berkata benar di dalam setiap keadaan. Sifat ini telah diwarisi oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari bapaknya, as-Saiyid Musa, yang lebih dikenal umum dengan panggilan Jangi Dost ( kadangkala dieja juga sebagai Janki Dost ), yang di dalam Bahasa Parsi berarti Pencinta Perjuangan.      

 

 

 

 

 

 

 

 

    Bagian 3

           Sambungan Ringkasan

      Riwayat Hidupnya

Pada masa mudanya, Jangi Dost suka mengembara dalam usaha berjuang untuk menundukkan nafsu dirinya. Pada suatu hari, selepas bertafakur di tebing sebatang sungai, dia telah merasa lapar. Tiba-tiba dilihatnya sebuah Apel sedang terapung-apung di sungai itu. Dia pun mengambil Apel itu, lalu memakannya. Tetapi selepas buah Apel itu dimakannya, hati kecilnya telah berbisik mengatakan yang buah Apel itu mungkin berasal dari tanaman seorang manusia. Oleh itu, dia harus berjumpa dengan orang itu agar dapat dihalalkan buah Apel yang telah dimakannya itu.

Maka Jangi Dost pun berjalan menyusuri tebing sungai itu sehingga dia sampai ke sebuah kebun kepunyaan asy-Syaikh Abdullah as-Sauma‘i, seorang wali Allah yang bermukim di situ. Maka dilihatnya di situ ada sebatang pohon Apel yang sedang berbuah, dan beberapa biji Apel telah jatuh dari pohon itu ke dalam sungai. Dia pun bertemu dengan asy-Syaikh Abdullah as-Sauma‘i dan meminta maaf karena telah memakan Apelnya tanpa izin.  

Satu pemandangan di wilayah jilan 

Asy-Syaikh Abdullah as-Sauma‘i telah dapat mengetahui dengan kasyafnya, Jangi Dost itu adalah seorang lelaki yang jujur dan berasal dari keturunan yang mulia. Maka dia pun berkata yang dia akan memaafkan Jangi Dost hanya apabila JaniÏ Dost sanggup tinggal dengannya selama dua belas tahun. JaniÏ Dost pun setuju dan tinggallah dia di situ selama dua belas tahun.

Tetapi selepas dua belas tahun berlalu, asy-Syaikh Abdullah as-Sauma‘i telah menambahkan syarat, yakni Jangi Dost akan dimaafkan hanya apabila dia setuju menikah dengan anak perempuan asy-Syaikh Abdullah as-Sauma‘i. Asy-Syaikh AbdullÁh as-Sauma‘i telah mengatakan bahwa anaknya itu adalah seorang perempuan yang buta, tuli dan lumpuh. Jangi Dost terpaksa setuju dan pernikahan itu pun dilangsungkan.

Pada malam pengantin, Jangi Dost memasuki biliknya, dia terperanjat melihat wajah isterinya. Semua anggota badan isterinya itu sempurna, tidak sedikit pun cacat. Malah, isterinya itu mempunyai wajah yang cantik.

Pada keesokan harinya, dalam keadaan kebingungan, Jangi Dost telah pergi bertemu dengan bapak mertuanya. Asy-Syaikh Abdullah as-Sauma‘i pun mententeramkan hati Jangi Dost dan telah berkata, “Aku katakan kepada engkau bahwa anakku itu buta karena dia tidak pernah melihat kepada yang bukan mahramnya. Aku katakan yang dia itu tuli karena dia tidak pernah mendengar kata-kata dusta. Aku katakan yang dia itu lumpuh karena tangannya tidak pernah bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya, dan kakinya tidak pernah dilangkahkan ke tempat-tempat maksiat.” (1)

Satu pemandangan air terjun di wilayah Jilan 

Kembali kita kepada kisah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ketika asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sampai di Baghdad, dia telah bertemu dengan al-Khadhir ‘alaihissalÁm, yang telah menunggunya di pintu kota Baghdad. Al-Khadhir ‘alaihissalÁm telah melarang asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari memasuki kota itu, karena menurutnya, Allah Taala telah menetapkan yang asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mesti menunggu selama tujuh tahun terlebih dahulu sebelum dapat menjejakkan kakinya di kota Baghdad. (2)

Al-Khadhir ‘alaihissalam kemudian telah membawa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ke satu sudut di padang pasir dan menyuruhnya tinggal di situ, dan telah melarangnya berpindah ke tempat lain. Pada awal setiap tahun, al-Khadhir ‘alaihissalam akan muncul dan menemui asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dan kemudian berpesan agar asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tidak meninggalkan kawasan itu.

Telah bercerita asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengenai pengalamannya di padang pasir itu:

Semasa aku berada di padang pasir di luar Baghdad, segala bentuk keindahan dunia telah datang dan mencoba membujukku. Tetapi, Allah telah memelihara diriku dari segala tipu-daya mereka. Syaitan-syaitan juga telah datang menemuiku di dalam beberapa bentuk dan rupa, mencoba membujukku, mengganggu dan kadangkala menyerang diriku. Namun, Allah telah memberiku pertolonganNya untuk mengalahkan mereka. Dan nafsuku sendiri telah datang menemuiku di dalam bentuk rupaku sendiri, pada setiap hari, sambil merayu agar aku menjadi rekannya. Apabila aku menolak, dia akan menyerangku. Allah telah memberiku kemenangan ke atasnya. Aku telah berjaya mengalahkannya dan telah mengurungnya di padang pasir itu.

Pernah pada sepanjang satu tahun, aku hanya makan rumput dan akar-akar yang dapat aku temui. Pada sepanjang tahun berikutnya, aku hanya minum air saja. Dan pada sepanjang tahun yang selepas itu, aku langsung tidak minum, tidak makan dan tidak tidur. Selama waktu itu, aku telah tinggal di reruntuhan mahligai raja-raja Parsi dahulu kala.

Aku telah berkaki ayam ( bertelanjang kaki ) di atas padang pasir itu. Dan apabila aku menemui satu bukit, aku akan mendakinya. Aku tidak memberikan peluang langsung kepada nafsuku untuk beristirahat, walaupun untuk sesaat, dan tidak mengendahkan langsung kehendak syahwatku. Pada akhir tahun yang ketujuh, aku telah terdengar satu suara yang berkata, “Wahai Abdul Qadir, sekarang ini engkau telah diberikan izin untuk memasuki kota Baghdad.”

Aku pun memasuki kota Baghdad dan telah tinggal di situ untuk beberapa hari. Aku dapati kota itu penuh dengan kemungkaran, kemunafikan dan fitnah. Untuk menyelamatkan diriku dari segala kecelakaan itu, aku pun meninggalkan kota Baghdad.

Apabila aku sampai di pintu kota, satu suara telah berkata kepadaku, “Ke manakah hendak engkau pergi? Kembalilah dan berkhidmatlah kepada manusia.”

“Apa peduli aku tentang manusia lain. Aku mesti menyelamatkan agamaku terlebih dahulu,” jawabku.

“Kembalilah. Janganlah engkau merasa khuatir mengenai agamamu. Tiada satu mudharat pun akan menimpamu,” berkata pula suara itu.

Kemudian aku telah dilanda Hal( trance / tidak sadarkan diri karena cinta kepada Allah)  . Aku seperti terputus dari dunia luar, dan telah hanyut di dalam meditasi ( khalwat ) . Sepanjang malam, aku telah berdoa kepada Allah agar dibukakan tabirku, supaya aku dapat mengetahui apakah langkah yang harus aku ambil selanjutnya.

Pada keesokan harinya, ketika aku sedang berjalan di kawasan al-Muhaffariyyah (nama satu tempat di kota Baghdad), seorang lelaki yang tidak aku kenali telah membuka pintu rumahnya dan telah memanggil namaku, “Wahai Abdul Qadir, masuklah.”

Apabila aku sampai ke pintu rumah itu, dia telah berkata, “Apakah hajat di hatimu sehingga engkau telah berdoa semalaman?”

Maka aku pun merasa terpegun, dan tidak dapat berkata apa-apa. Lelaki itu telah merenung wajahku dan kemudian menutup pintu rumah itu. Aku pun berjalan meninggalkan rumah itu sambil berfikir apakah yang telah aku pinta di dalam doaku semalam. Kemudian, apabila aku teringat kembali, aku pun berkata-balik untuk memberitahu lelaki itu.

Tetapi anehnya, aku tidak menemui lelaki itu maupun rumahnya. Aku pun merasa gelisah. Sadarlah aku yang lelaki itu sebenarnya adalah seorang wali Allah yang sangat tinggi maqamnya.

Beberapa hari kemudian, aku telah mendapat tahu bahwa lelaki itu adalah asy-Syaikh Hammad ad-Dabbas.

Pada suatu malam yang sejuk dan ketika hujan sedang turun rintik-rintik, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dipimpin oleh sepasang tangan ghaib ke rumah asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas. Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas telah mengetahui terlebih dahulu mengenai kedatangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ini melalui kasyaf dan ingin pula menguji asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Beliau telah menyuruh pintu pagar rumahnya dikunci dan api pelita di dalam rumah itu dimatikan.

Apabila dia melihat keadaan pintu pagar rumah itu berkunci, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani hanya menunggu saja di luar pagar. Setelah beberapa jam menunggu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun tertidur dan telah bermimpi sehingga ihtilam ( mimpi basah ). Dia kemudian terbangun dan terus pergi bermandi wajib di dalam sebuah sungai yang terletak berdekatan, walaupun di waktu itu, airnya sangat dingin. Kemudian setelah itu, dia telah pergi tidur kembali. Dia telah bermimpi lagi, dan seperti keadaaan sebelumnya, telah terbangun dan terus pergi bermandi wajib di sungai yang dingin itu semula. Perkara ini telah berulang sebanyak tujuh belas kali.

Pada waktu pagi, pintu pagar rumah itu telah dibuka orang. Maka asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun melangkah masuk ke dalam pusat pengajian kerohanian itu. Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas telah bangun berdiri untuk menyambutnya. (Di sisi murid-murid toriqoh, perbuatan ini adalah satu penghormatan besar, yang jarang-jarang sekali terjadi.) Kemudian Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas telah memeluk asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dengan mesra dan telah berkata kepadanya, “Semoga Allah menambahkan rahmatNya kepadamu! Pada zaman sekarang, kedudukan al-Qutb adalah milikku, tetapi pada suatu masa nanti, selepas aku pergi ( yakni meninggal dunia ), akan menjadi milikmu. Janganlah sesekali pun engkau tinggalkan jalan ini, wahai anakku ‘Abdul QÁdir.”

Telah bercerita pula asy-Syaikh Abu Syuja’ ibn ad-Dahhan:

Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah datang dan duduk dengan penuh sopan di majlis Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas. Beberapa waktu kemudian, dia telah bangun dan berlalu dari situ.

Sebaik-baik saja  asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani meninggalkan majlis itu, aku telah terdengar Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas berkata, “Lelaki ‘Ajami itu mempunyai satu tapak kaki yang akan diangkatnya pada satu waktu yang sesuai di masa hadapan, dan akan diletakkannya di atas leher-leher para wali Allah di masa itu. Dia akan diperintahkan untuk berkata, “Tapak kakiku ini berada di atas leher setiap wali Allah.” Ya, dia akan berkata demikian dengan pasti, dan leher setiap wali Allah pada masa itu, akan tunduk kepadanya.”

Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas telah menjadi guru yang pertama kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani di dalam bidang kerohanian (yakni selepas al-Khadhir alaihissalam), dan kepadanyalah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memberikan janji setia (‘ahd atau bai‘ah) di dalam toriqoh.

Telah bercerita asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani:

Aku telah belajar dari beberapa orang masyaikh di Baghdad, namun apabila ada sesuatu masalah yang tidak aku fahami, ataupun ada satu rahasia yang ingin aku ketahui dengan lebih jelas, aku akan merujuk kepada Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas, yang akan menerangkannya kepadaku.

Kadangkala, aku akan tinggalkan Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas karena ingin menuntut ilmu-ilmu lain, umpamanya ilmu tauhid, ilmu hadis, ilmu fiqh dan lain-lain lagi. Apabila aku kembali, dia akan bertanya, “Ke manakah engkau pergi tadi? Kami mempunyai banyak makanan untuk kebaikan tubuh dan rohani ketika engkau tiada di sini. Namun, tiada satu pun yang dapat kami tinggalkan untukmu.”

Dan pada waktu yang lain, dia akan berkata pula, “Masya Allah, ke manakah engkau pergi tadi? Adakah orang lain di sini yang lebih berilmu dari engkau?”

Oleh itu, beberapa orang murid lain telah mengejekku dan mereka telah berkata, “Engkau adalah seorang cendekiawan, ahli hukum, ahli persuratan. Apakah urusan engkau berada di sini? Lebih baik engkau tinggalkan saja tempat ini!”

Apabila kata-kata ini sampai ke telinga Asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas, dia telah memarahi mereka dan telah berkata, “Celaka engkau sekalian! Aku bersumpah tiada seorang pun dari engkau sekalian yang dapat menandinginya. Tiada seorang pun dari engkau sekalian yang akan dapat meningkat naik melampaui batas tapak kakinya. Jika engkau sekalian melihat aku telah berkasar dengannya, dan mencoba pula meniru perbuatanku, ingatlah, aku berbuat demikian untuk membawanya ke tahap kesempurnaan dan juga sebagai satu ujian untuknya. Aku lihat di alam kerohanian, dia adalah seumpama satu batu yang teguh dan besar, sebesar gunung.” (3)

Usaha asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani di dalam menuntut ilmu pengetahuan adalah satu contoh yang baik dan yang dapat kita semua tauladani. Ia juga adalah satu perkara yang penting, karena di dalam agama Islam, menuntut ilmu itu adalah satu kewjiban untuk semua orang Islam, lelaki dan perempuan, dari waktu masih di dalam buaian hinggalah sampai ke liang lahad (mafhum sebuah hadis Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam).

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mencari guru-guru yang terkenal di zamannya untuk belajar dari mereka, di dalam semua bidang agama. Di antara guru-gurunya ialah asy-Syaikh Abu al-Wafa Ali ibn Aqil, asy-Syaikh Abu al-Khatab Mahfud al-Kaludhani ibn Ahmad al-Jalil, asy-Syaikh Abu Ghalib Muhammad ibn al-Hasan al-Baqilani, asy-Syaikh Abu al-Qasim Ali ibn Ahmad al-Karkhi, dan asy-Syaikh Abu Zakariyya Yahya ibn Ali at-Tabrizi.

Dan seperti yang telah disebutkan sebelum ini, walaupun asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berguru dengan asy-Syaikh Abu al-Khair Hammad ibn Muslim ad-Dabbas di dalam ilmu toriqoh, dia telah menerima khirqah dari asy-Syaikh Abu Sa‘id al-Mubarak ibn Ali al-Mukharrimi.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjalani latihan-latihan kerohanian yang agak lama. Dia telah mengembara selama dua puluh lima tahun untuk mencapai tahap kesempurnaan di dalam bidang kerohanian. Dia telah menjauhkan dirinya dari orang banyak dan telah menyendiri di padang pasir negara Iraq sambil menanggung kesusahan dan kesulitan yang amat berat. Namun dia telah pikul itu semua demi mencari keredaan Allah Yang Maha Perkasa. Dan hasil pencapaian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah amat tinggi sekali, sehingga di Alam al-malakut dan di kalangan ahli-ahli kerohanian, dia telah diberikan gelaran al-Baz al-Asyhab (si burung rajawali kelabu; di dalam Bahasa Inggeris disebut The Grey Falcon), yakni menandakan pencapaian tahap kerohaniannya yang sangat tinggi.

Setelah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tamat dari pengembaraannya ini dan mencapai tahap kesempurnaan kerohanian, dia telah menikah ketika berumur lima puluh satu tahun. Telah bercerita asy-Syaikh Syihabuddin Abu Hafs Umar as-SuhrawardÏ di dalam kitabnya yang bernama ‘Awarif al-Ma‘arif: (4)

Kami telah mendengar bahwa seorang lelaki dari golongan as-Salihin telah bertanya kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Tidakkah tuan menikah?”

Maka telah dijawab oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Aku tidak menikah sehingga Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam sendiri yang telah datang (yakni secara rohani) dan telah berkata kepada diriku, “Menikahlah!””

Telah dilaporkan juga bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Memang telah lama aku ingin untuk menikah. Tetapi aku tidak berani untuk menikah, karena takut akan mendatangkan kekeliruan jika waktunya tidak sesuai. Maka aku pun bersabar, sehingga sampailah apa yang telah ditentukan oleh takdir. Allah telah menghantar kepadaku empat orang isteri, yang tiap seorang dari mereka adalah bersesuaian dengan diriku, dari segi kehendak dan juga kecenderungannya.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dikurniakan oleh Allah dengan empat puluh sembilan orang anak – dua puluh tujuh orang lelaki dan dua puluh dua orang perempuan.

Guru asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yakni asy-Syaikh Abu Sa‘id al-Mubarak al-Mukharrimi, mempunyai madrasahnya sendiri di Baghdad. Pada suatu hari, dalam tahun 521 Hijrah, asy-Syaikh Abu Sa‘id al-Mubarak al-Mukharrimi telah menyerahkan madrasahnya ini kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani untuk digunakannya sebagai tempat mengajar. Tetapi, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah merasa agak keberatan untuk mengajar.

Telah bercerita asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani:

Pada suatu hari, aku telah bertemu dengan Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam ( yakni secara rohani ). Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam telah berkata, “Kenapakah engkau tidak berkata-kata dengan hamba-hamba Allah (yakni mengajar)?”

Aku pun menjawab, “Aku hanyalah seorang Ajami. Bagaimanakah dapat aku berucap kepada orang-orang Arab di Baghdad yang fasih berkata-kata itu?”

Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam pun menyuruhku membuka mulut. Kemudian Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam telah meludah ke dalam mulutku sebanyak tujuh kali. Sesudah itu, Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam telah berkata, “Sekarang pergilah bertemu dengan orang banyak dan ajaklah mereka ke jalan Allah, dengan menggunakan kata-kata yang baik dan bijaksana.”

Setelah aku menunaikan Sholat dhuhur, aku lihat orang banyak telah berkumpul untuk mendengarku berceramah. Aku telah merasa gelisah, dan lidahku telah menjadi keluh.

Tiba-tiba aku telah terpandang Saiyidina Ali ( yakni secara rohani ). Dia telah menyuruhku membuka mulut dan kemudian telah meludah sebanyak enam kali ke dalam mulutku. Aku telah bertanya, kenapa dia tidak meludah sebanyak tujuh kali sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam. Saiyidina Ali telah menjawab yang dia tidak mau mendahului Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, dan selepas itu, dia pun lenyap dari pandanganku.

Setelah itu, keluar dari mulutku kata-kata yang berikut: “Akal itu adalah umpama seorang penyelam yang telah pergi menyelam ke dasar lautan hati untuk mencari permata hikmah. Kemudian, dibawanya ke atas pantai dirinya, lalu keluarlah mutiara itu dari mulutnya sebagai kata-kata dan dengannya dia dapat membeli hamba-hamba yang ahli ibadat (al-Abidin) dari pasar ibadat kepunyaan Allah . . . ”

Dari saat itu, senantiasalah aku menunaikan tugasku untuk mengajar. Terkandung di dalam diriku seolah-olah satu lautan ilmu keimanan dan ilmu keislaman. Andaikata aku tidak berkata-kata dan mencurahkannya keluar, aku khawatir ia akan menenggelamkan diriku. Apabila aku mula-mula mengajar, aku hanya mempunyai dua tiga orang pelajar saja. Tetapi apabila berita mengenaiku telah tersebar luas, jumlah ini telah tertambah sehingga meningkat kepada tujuh puluh ribu orang.

Madrasah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani


Catatan (1)

Ini adalah satu contoh yang menunjukkan bahwa ahli-ahli sufi itu seringkali menggunakan kata-kata simbolik yang memiliki makna tersirat, di dalam pembicaraan mereka. Dari itu, si murid hendaklah berhati-hati dan tidak menerima kata-kata mereka secara bulat-bulat  ( literal ) saja. Seringkali mereka telah berkata-kata dengan maksud-maksud yang tertentu, dan kata-kata mereka pula telah ditujukan kepada golongan-golongan yang tertentu. Yakni, bagi satu golongan, ia mungkin membawa makna A, sedangkan bagi golongan yang lain, ia mungkin membawa makna B. Walaupun pada dhohirnya, kata-kata mereka menyatakan sesuatu makna, jika difahamkan melalui beberapa kaidah yang tertentu, ia akan memberikan pula makna yang berlainan.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sendiri juga telah menggunakan kata-kata “tuli, bisu dan buta” di dalam beberapa syarahannya, dengan penggunaan maksud yang bukan berbentuk literal.

Telah diriwayatkan di dalam kitab al-Fath ar-Rabbani bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata:

Jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk, para wali Allah itu adalah tuli, bisu dan buta.

Setelah hati mereka didekatkan kepada al-Haqq Azza wa Jall, tidak mereka mendengar kepada yang selainNya dan tidak pula mereka melihat kepada yang selainNya.

Kedekatan (al-qurb) telah melindungi mereka, kehebatan (al-haibah) telah menutupi mereka dan kecintaaan (al-mahabbah) pula telah memanfaatkan mereka di sisi Kekasih mereka. Mereka berada di antara Kebesaran (al-Jalal) dan Keindahan (al-Jamal). Tiada mereka menoleh ke kanan atau ke kiri.

Bagi mereka, ada satu kehadapanan tanpa satu kebelakangan. Mereka dikhidmati oleh jin, malaikat dan berbagai jenis makhluk. Mereka dikhidmati oleh hikmah dan ilmu.

Kelaparan mereka dihilangkan oleh kemurahan (al-fadhl) dan kehausan mereka pula dihilangkan oleh keramahan (al-uns). Dari makanan kemurahanNyalah mereka makan. Dari minuman keramahanNyalah mereka minum.

Mereka mempunyai satu urusan yang lebih penting dari mendengar kata-kata makhluk, karena mereka berada di satu lembah dan para makhluk pula berada di satu lembah (yang lain). Mereka menyuruh para makhluk mentaati perintah Allah Azza wa Jall dan melarang mereka dari laranganNya. Mereka adalah pembantu Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam. Mereka adalah waris-waris baginda yang sebenar.

Catatan (2)

Setengah masyaikh menyebut nama ini sebagai al-Khadhir alaihissalam, sedangkan setengah yang lain pula menyebut nama ini sebagai al-Khidhir alaihis salam. Di Indonesia, sebutan yang lebih popular untuknya ialah Nabi Khidhir.

Mengikut al-Imam an-Nawawi, nama sebenarnya bagi al-Khadhir alaihissalam ialah Balyq ibn Malikan ibn Faligh ibn Abir ibn Syalikh ibn Arfakhsyad ibn Sam ibn Nuh alaihissalam. Dia juga dikenal sebagai Abu al-Abbas Ahmad al-Khadhir alaihissalam. Dia telah dilahirkan sebelum Ibrahim alaihissalam, yakni dia adalah berpangkat bapak saudara (yakni anak saudara kepada datuk) kepada Ibrahim alaihissalam. Dari itu, dia bukanlah seorang lelaki dari Bani Isra’il sebagaimana yang telah disebut di dalam beberapa buah kitab lama, karena orang-orang Bani Isra’il berasal dari salah seorang cucu kepada Ibrahim alaihissalam.

Mengikut sebuah hadis yang telah diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari, telah berkata Abu Hurairah, “Telah bersabda Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam bahwa dia (yakni Balya ibn Malikan /Malkan) telah diberikan nama gelaran al-Khadhir (yang bermakna hijau atau yang menjadikan hijau) karena apabila dia duduk di satu tempat yang gersang, tanah di situ akan bertukar pula menjadi hijau dengan tumbuh-tumbuhan.”

Catatan (3)

Pernah dikatakan oleh setengah masyaikh silam, “Ar-rijal kal-jibal”, yang berarti, “Lelaki-lelaki dewasa itu (yakni para wali Allah) adalah seumpama gunung-gunung (yakni sangat teguh pendiriannya).”

Kisah ini menandakan betapa pentingnya bagi si murid untuk memahami maksud atau tujuan sebenar bagi kata-kata atau perbuatan dari seseorang syaikh. Janganlah diambil secara dhohir saja. Ditakuti nanti, si murid akan membuat satu kesimpulan yang salah.

Kadangkala, si murid akan mencontohi satu aspek dari diri si guru, yang pada sangkaan si murid, adalah sesuatu yang penting. Pada hal, yang dicontohinya adalah sesuatu yang paling enteng. Ini selalu berasal dari kelakuan si murid yang suka berfikir secara dangkal (the seeker who thinks superficifially), dan tidak berusaha untuk mencapai kefahaman yang sebenar.

Karena itu, setengah guru sufi telah menceritakan kisah-kisah mengenai NasruddÏn kepada murid-muridnya. Kalimah Nasruddin, jika kita terjemahkan secara bebas, bermaksud Pertolongan Agama, yakni dengan mendengar dan memahami dari kisah-kisah NasruddÏn, seseorang murid itu boleh memahami beberapa aspek yang seni atau halus dari agama.

Orang-orang yang tinggal di Asia Tengah (Central Asia) dan juga di Timur Tengah (Middle East) mengenalinya dengan nama panggilan Mulla NasruddÏn (). Di setengah tempat, dia juga dikenal dengan panggilan Khwajah Nasruddin, atau Khoja Nasruddin. Orang-orang di Turki pula lebih sering menyebutnya sebagai Nasredin Hoca.

Dia adalah lambang kepada satu sifat yang berada pada diri kita sendiri. Yakni, lambang kepada sifat diri yang gemar berfikir secara dangkal (walaupun seseorang itu sudah bergelar terpelajar). Setiap insan memiliki sifat ini, tetapi hanya sedikit saja yang dapat mengenalinya dan mengawasi dirinya sehingga tidak jatuh terperangkap di dalam berfikir secara begini.

Bagi orang-orang yang menganggap diri mereka “sudah pandai”, cerita-cerita begini dianggap sebagai hiburan jenaka saja, tetapi sebenarnya, ada sesuatu yang dapat dipelajari oleh si murid yang mau merenung dengan lebih lanjut. Terdapat di dalam kisah-kisah Mulla Nasruddin, sesuatu yang dapat kita pelajari atau kita hindari.

Sebagai satu contoh kisah Mulla Nasruddin:

Pada suatu hari, seorang tetangganya telah berjumpa dengan Mulla Nasruddin untuk meminjam keledainya. Mulla Nasruddin bagaimanapun, telah mengatakan yang keledainya telah dipinjam oleh orang lain.

Tiba-tiba terdengar suara keledai keluar dari kandangnya. Si tetangga pun berkata yang dia telah dapat mendengar bunyi keledai itu. 

“Siapa yang engkau lebih percaya,” tanya Mulla Nasruddin, “aku, atau seekor keledai?”

Dan masalah si murid yang berfikir secara dangkal bukan saja terdapat di zaman silam, tetapi masih lagi boleh kita dapati di kurun kelima belas Hijrah ini.

Sebagai satu contoh, pernah terdapat di Indonesia satu kumpulan pemuda Melayu yang telah mengenakan pakaian ala orang-orang Pakistan sebagai pakaian harian mereka. “Ini adalah pakaian mengikut as-Sunnah,” kata mereka.

Tetapi sebenarnya, jika mereka dapat berfikir secara lebih waras, mereka akan menyedari bahwa Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam itu adalah seorang lelaki berbangsa Arab, dan dari keturunan Quraisy. Maka, pakaian baginda pun adalah pakaian orang-orang Arab, dan bukanlah pakaian orang-orang Pakistan! Pemuda-pemuda ini telah meniru pakaian guru mereka, seorang guru toriqoh yang berasal dari Pakistan, dan telah menyangka bahwa pakaian guru mereka itu adalah pakaian Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam.

Malah, ada pula di antara mereka yang telah mencontohi guru mereka itu dengan menggunakan tongkat ketika berjalan. padahal mereka masih sehat dan tidak mempunyai satu kecacatan, dan umur mereka pula secara umum, masih di dalam lingkungan dua puluh lima tahun. Sepatutnya, yang perlu mereka sadari terlebih dahulu ialah guru mereka itu telah memakai tongkat karena umur si guru itu sudah pun melebihi delapan puluh tahun, dan badannya sudah tidak lagi kuat.

Maka, jadilah pemuda-pemuda ini, murid-murid yang meniru perbuatan guru mereka pada perkara-perkara yang paling tidak penting (the most insignificant traits of the teacher). Sepatutnya, yang lebih penting untuk ditiru oleh murid-murid ini ialah “pakaian rohani” si guru, yakni pada ilmu dan ciri-ciri seperti sabar dan merendah diri yang dimiliki oleh si guru. Bukan hanya pada pakaian yang phisikal saja, karena ia belum mencukupi untuk mencapai peningkatan rohani.

Ada satu kisah mengenai seorang wali Allah yang bernama asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Kharqani:

Pada suatu hari, seorang lelaki telah bertemu dengan asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Kharqani. Dia telah meminta izin asy-Syaikh Abu al-hasan al-Kharqani untuk memakai pakaian si wali Allah itu, agar dia dapat menjadi seperti asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Kharqani.

Maka asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Kharqani pun bertanya, “Adakah boleh seorang lelaki menjadi seorang perempuan cuma dengan memakai pakaian perempuan? Atau, bolehkah seorang perempuan menjadi seorang lelaki cuma dengan memakai pakaian lelaki?”

Lelaki itu telah menjawab, “Tidak boleh.”

Maka asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Kharqani pun berkata lagi, “Kalau perkataan itu tidak mungkin berlaku, bagaimanakah dengan memakai pakaian aku, engkau boleh menjadi aku?”

Maka dari itu, si murid hendaklah selalu berhati-hati agar dia tidak berfikir secara dangkal. Yakni, sebelum dia membuat  kesimpulan di dalam hal-hal kerohanian, dia mestilah terlebih dahulu berfikir panjang dan masak-masak. Janganlah dia melihat hanya kepada perkara-perkara yang dhohir, tanpa menyoal dirinya terlebih dahulu, apakah segala andaian yang telah dibuatnya itu semuanya benar? Andaian yang kurang tepat boleh menghasilkan kefahaman yang singkat, dan mengakibatkan pula usaha yang sia-sia.

Catatan (4)

Asy-Syaikh Syihabuddin Abu Hafs ‘Umar ibn Muhammad ibn Abdullah as-Suhrawardi adalah seorang wali Allah yang besar, dan di waktu tuanya telah menjadi terkenal di Baghdad dengan panggilan Syaikh Masyayikh Thuruq as-Sufiyyah (guru bagi guru-guru toriqoh). Dia telah dilahirkan pada tahun 539 Hijrah dan telah meninggal dunia pada tahun 632 Hijrah. Asy-Syaikh Abu Hafs as-SuhrawardÏ juga adalah pengarang bagi kitab ‘Awarif al-Ma‘arif. Dia juga telah dianggap sebagai pengasas bagi at-Thariqah as-Suhrawardiyyah.

Ada pula beberapa orang ‘ulama’ lain yang telah menganggap bahwa guru kepada asy-Syaikh Abu Hafs as-Suhrawardi, yang juga adalah bapak saudaranya, yakni asy-Syaikh Siya’uddin Abu an-Najib Abdul Qahir as-Suhrawardi itulah orangnya yang telah mendirikan asas-asas bagi aT-Thariqah as-Suhrawardiyyah, manakala asy-Syaikh Syihabuddin ‘Umar as-Suhrawardi pula adalah orangnya yang telah memperkukuhkan toriqoh itu.

Asy-Syaikh Siya’uddin Abu an-Najib Abdul Qahir as-Suhrawardi, yang telah dilahirkan pada tahun 490 Hijrah dan telah meninggal dunia pada tahun 563 Hijrah di Baghdad, juga adalah pengarang bagi kitab Adab al-Muridin. Beliau pernah berguru dengan asy-Syaikh Ahmad al-Ghazali, yakni adik kepada al-Imam Abu Hamid al-Ghazali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Bagian 4

Sambungan Ringkasan Riwayat Hidupnya

Ketika asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang mengajar, kata-kata yang digunakannya mempunyai satu kekuatan dan kelebihan yang tersendiri, sehingga ianya dapat mengubah tabiat dan pendirian para pendengarnya. Kata-katanya itu juga ada kalanya, adalah di dalam bentuk yang kasar dan tidak berselindung.    

Telah diriwayatkan di dalam kitab Malfudhat, bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pernah berkata di dalam sebuah majlisnya:

Dapatkah engkau memahami perkara ini, wahai si Iraqi, wahai unta di pengisar, wahai si tolol? Engkau telah mendirikan Sholatmu tanpa keikhlasan. Engkau telah mendirikan Sholatmu karena orang-orang lain, dan ketika engkau berpuasa, pandangan matamu berada pada hidangan makanan mereka, dan pada kandungan rumah-rumah mereka.

Wahai orang yang terasing di kalangan manusia, yang tercicir dari kedudukan golongan as-Siddiqin dan rabbaniyyin! . . .

Ada beberapa orang manusia yang telah menghadiri majlis-majlis asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan telah terpedaya dengan menyangka bahwa oleh karena mereka telah menghadiri majlis-majlis itu, mereka kini sudah termasuk ke dalam golongan as-Salihin. Pada hal, keadaan kerohanian mereka masih belum lagi berubah, yakni masih belum bertambah baik dan sifat-sifat mereka pula masih menyerupai sifat-sifat binatang.

Telah diriwayatkan di dalam kitab al-Fath ar-Rabbani, bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pernah berkata di dalam sebuah majlis ceramahnya:

Wahai orang yang telah menjualkan segalanya untuk memperoleh tiada suatu benda pun (la syai’). Dan telah membeli tiada suatu benda pun dengan harga setiap sesuatu (bi kulli syai’). Sesungguhnya engkau telah membeli dunia dengan harga akhirat dan telah menjualkan akhirat dengan harga dunia.

Engkau adalah satu kepandiran di dalam satu kepandiran, satu ketiadaan (‘adam) di dalam satu ketiadaan, satu kejahilan di dalam satu kejahilan.

Engkau makan seperti binatang-binatang ternakan makan, tanpa  usul periksa, tanpa  penghitungan, tanpa  soal, tanpa  niat, tanpa  perintah.

Al-mu‘min (yakni manusia yang beriman dari golongan orang-orang awam dan bukan dari golongan wali-wali Allah) makan apa yang dibenarkan oleh syariat (mubah asy-syar ).

Al-wali (yakni wali Allah yang bukan dari golongan yang bermaqam tertinggi) diperintah untuk makan, atau ditegah darinya, sebagaimana yang ditunjukkan di dalam hatinya.

Al-badal (yakni wali Allah dari golongan yang memiliki maqam yang lebih tinggi) pula tiada mempedulikan satu perkara pun, malah berlaku pula perkara-perkara di dalam dirinya, sedangkan dia telah hilang dari dirinya (fi ghaibatih) bersama Tuhannya Azza wa Jall, dan telah fana di dalamNya.

Dan cara asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengajar juga adalah menakjubkan. Kadangkala, ketika dia sedang memberikan ceramahnya, dia akan berjalan-jalan di udara, di atas kepala para pendengarnya. Kemudian dia akan duduk semula di atas kursi tingginya.                

Dan isi ceramah itu pula selalu berkisarkan kepada lintasan-lintasan hati pendengar-pendengar itu sendiri. Dan yang lebih aneh lagi ialah, syarahan-syarahannya dapat didengar oleh yang dekat dan yang jauh, sehingga para pendengar yang sedang duduk di atas gunung pun boleh mendengarnya dengan jelas, sebagaimana yang dapat didengar oleh mereka yang sedang duduk di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Jumlah pengikut-pengikut asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pada setiap hari menjadi semakin bertambah banyak, dan kumpulan orang-orang yang menghadiri ceramahnya menjadi semakin besar, sehingga tiada lagi ruang yang tinggal di dalam madrasah ataupun di kawasan sekitarnya untuk memuatkan para hadirin itu. Oleh itu, orang banyak pun telah datang untuk membina sebuah bangunan baru secara bergotong-royong, bagi menempatkan para hadirin itu.

Dan yang telah datang menolong membina bangunan itu bukan saja dari golongan orang-orang miskin, tetapi juga dari golongan orang-orang kaya. Dan bukan saja orang-orang lelaki, tetapi juga orang-orang perempuan, dan bukan saja mereka yang masih muda, tetapi juga orang-orang yang sudah tua. Pendek kata, manusia dari semua jenis dan golongan. Mereka telah menyiapkan pembinaan ini pada tahun 528 Hijrah.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah seorang ‘alim yang telah menjadi ikutan orang banyak di dalam semua urusan agama, sama ada dari segi syariat maupun toriqoh. Dia mahir di dalam mazhab al-Imam asy-Syafi‘i dan juga mazhab al-Imam Ahmad ibn Hanbal. Dia adalah seorang guru yang dadanya penuh dengan ilmu dan hikmah. Selama empat puluh tahun, sehingga dia meninggal dunia, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memberikan pelajaran dan kuliah umum kepada orang banyak (yakni dari tahun 521 Hijrah hingga tahun 561 Hijrah).

Di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah ilmu fiqh (termasuk perbedaan-perbedaan pendapat yakni khilaf di antara al-‘ulama’), tafsir al-Quran, ilmu-ilmu hadis (‘ulum al-Hadish), usul al-fiqh dan juga ilmu tata bahasa (nahw).   

Mengikut asy-Syaikh Abdul Wahhab, yakni seorang anak lelaki asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, biasanya bapaknya itu akan mengajar tiga kali seminggu, yakni pada pagi Jumaat, malam Selasa dan pagi Ahad.

Sebagai satu contoh tentang keluasan ilmu yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula, telah diriwayatkan sebuah kisah seperti yang berikut:

Pada suatu hari, ada seorang lelaki telah mendakwa yang dia dapat melihat AllÁh dengan mata di kepalanya. Maka orang banyak pun datang mengadu kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan telah membawa lelaki itu berjumpa dengannya.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah bertanya kepada lelaki itu apakah benar yang lelaki itu telah mendakwa yang dia dapat melihat AllÁh dengan mata di kepalanya. Lelaki itu telah menjawab, ya.

Maka asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun memarahi lelaki itu dan telah menyuruhnya berjanji yang dia tidak akan mengulangi perbuatannya itu.

Setelah itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menoleh kepada orang-orang yang hadir di situ dan telah berkata bahwa lelaki itu benar kata-katanya, cuma dia telah terkeliru saja. Sebenarnya, lelaki itu telah menyaksikan kilauan nur al-jamal (cahaya sifat-sifat keindahan Allah) dengan hatinya. Hatinya itu pula telah ditembusi oleh satu lubang sehingga dia telah melihat dengan penglihatan mata di kepalanya apa yang sebenarnya telah disaksikan oleh mata hatinya. Karena, cahaya penglihatan mata di kepala berhubung rapat dengan cahaya penyaksian mata hati. Maka lelaki itu telah menyangka yang dia telah melihat dengan mata di kepalanya apa yang sebenarnya telah disaksikan oleh mata hatinya.

Setelah mendengar penjelasan dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ini, orang banyak telah menjadi takjub, karena dengan mudah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menguraikan satu masalah yang rumit. (1) 

Di antara sifat-sifat tercela (al-madhmimah) yang perlu dibuang dari diri si murid yang mempelajari ilmu tasawuf ialah sifat ujub, yakni merasa megah dengan diri sendiri karena ilmu yang dimilikinya, ataupun karena segala amal ibadat yang telah dilakukannya, ataupun karena kesanggupan diri si murid untuk menanggung penderitaan-penderitaan, ataupun karena apa jua sebab lain.   

Pernah di dalam sebuah ceramahnya, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menyentuh perkara memiliki sifat ujub (al-‘ujb) ini:

Bagaimanakah engkau dapat merasa megah dengan segala amal baikmu, serta merasa ujub dengannya, lalu meminta pula upah untuknya? Pada hal, segala kejayaanmu itu berasal dari Allah, melalui pertolonganNya, melalui kekuatanNya, melalui kehendakNya, dan juga melalui kurniaNya. Dan termasuk juga di dalam meninggalkan maksiat. Ia dapat dilakukan hanya dengan bantuan, perlindungan dan naungan yang telah Dia berikan. Di manakah kesyukuranmu untuk semua ini, dan di manakah pengiktirafanmu di atas segala rahmat yang telah dikurniakanNya kepadamu?

Ada pula satu kisah mengenai asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang dapat digunakan oleh si murid untuk menilai keikhlasan dirinya sendiri dan juga untuk mengukur sejauh mana dia tidak terperangkap ke dalam kecenderungan untuk mengandai-andaikan beberapa perkara tertentu di dalam ilmu tasawuf:   

Pada suatu hari, sekumpulan manusia telah berkata kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Kami telah berpuasa sebagaimana tuan telah berpuasa. Kami telah bersholat sebagaimana tuan telah bersholat. Kami telah berusaha sepenuh tenaga sebagaimana tuan telah berusaha. Tetapi, kami tidak mengalami apa yang telah tuan alami dari limpahan-limpahan rohani.”

Maka telah dijawab oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Kamu semua telah mencoba menyaingi kami dengan amal, maka kini kamu semua mencoba pula menyaingi kami dengan kebiasaan! Demi Allah, tiada aku makan melainkan setelah aku mendengar perintah, “Demi hakKu ke atas dirimu, makanlah!” Dan tiada aku minum, melainkan setelah aku mendengar perintah, “Demi hakKu ke  atas dirimu, minumlah!””

Termasuk ke dalam perkara-perkara yang pernah diajar oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah tentang perlunya si murid mencari dahulu seorang guru sufi tulen yang dapat membimbingnya di atas jalan kerohanian. Dia tidak boleh memandai-mandai menyendiri di dalam khalwah untuk merasakan pengalaman-pengalaman rohani, karena ia mempunyai bahaya yang banyak.   

Telah bercerita asy-Syaikh Abu Muhammad Abdullah al-Jubba’i sebuah kisah mengenai pengalamannya semasa dia masih muda:

Aku pernah mendengar Ibn Nasir membaca kisah-kisah wali Allah sebagaimana yang terdapat di dalam kitab Hilyah al-Auliya’. Hatiku telah menjadi lembut dan tergerak karenanya. Aku telah berkata kepada diriku sendiri, “Aku akan mengasingkan diriku dari makhluk, dan aku akan menyendiri di dalam zawiyah, dan menyibukkan diriku dengan berbuat ibadat saja.”

Aku pun pergi ke tempat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan telah bersholat di belakangnya.

Selesai Sholat, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memandang ke arahku dan berkata, “Jika engkau bercita-cita untuk memasuki khalwah, janganlah engkau mengasingkan dirimu sehingga engkau sudah pun bersedia untuknya. Engkau perlu menghabiskan masa terlebih dahulu bergaul dengan para masyaikh, dan menerima beberapa latihan dari mereka. Sesudah itu, barulah engkau layak untuk memasuki khalwah. Jika engkau memasuki khalwah sebelum engkau bersedia, keadaanmu adalah seperti seekor anak ayam yang belum tumbuh bulunya. Jika engkau menghadapi apa-apa masalah di dalam agamamu, engkau perlu keluar dari khalwah-mu dan meminta nasihat dari mereka yang layak menolongmu di dalam masalah-masalah agamamu. Seseorang yang memasuki khalwah, seharusnya bersifat seperti lilin, yang cahayanya adalah sumber penerangan.”

Dan tentang persediaan si murid untuk memasuki khalwah, telah diriwayatkan bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani juga pernah berkata di dalam sebuah majlis ilmunya:

Kasihannya engkau! Tubuhmu berada di rumah-rumah ibadat, tetapi hatimu berada di rumah-rumah makhluk, menanti-nanti kedatangan serta hadiah-hadiah dari mereka. Telah sia-sialah masamu itu dan berubahlah bentuk itu karenamu, tanpa makna yang sebenar. Janganlah engkau menjadikan jiwamu layak untuk sesuatu yang belum pun layak ia untuknya, sehingga Allah sendiri yang menjadikanmu layak untuknya.

Sehingga perkara ini berlaku, maka engkau dan seluruh makhluk tidak akan mampu untuk melaksanakannya. Bila Dia yang menghendakimu pada sesuatu urusan, maka Dialah yang akan mempersiapkanmu untuknya. Jika batinmu tidak benar, dan hatimu tidak kosong dari sesuatu selain dari Allah, maka khalwah-mu itu tidak akan memberikan manfaat langsung . . .

Dan tentang mencari seorang guru sufi yang tulen ini, si murid juga haruslah berhati-hati. Telah berpesan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengenai ciri-ciri seorang guru sufi yang tulen:

Ada lima ciri yang terdapat pada diri seorang syaikh ( yang tulen ). Jika ini tidak terdapat pada dirinya, maka dia adalah seorang peniru ( Pak Turut ), yang akan hanya memimpin kepada kebodohan.

(1) Dia mestilah seorang faqih, yang mengetahui dengan sempurna segala hukum-hukum syariah.

(2) Dia juga mestilah seorang yang mengetahui dengan sempurna ilmu hakikat.

(3) Dia mestilah seorang yang suka merendah diri, sama ada dengan perkataan atau perbuatan, kepada golongan al-fuqara’.

(4) Dia hendaklah menyambut para pemula dengan keramahan. Inilah syaikh yang memiliki nilai yang tinggi. Dia mengetahui hukum-hukum halal dan haram.

(5) Dia melatih murid-muridnya di atas jalan kerohanian sebagai seorang yang dirinya sendiri sudah dilatih dengan sempurna, dengan penuh kemuliaan.

Telah bercerita lagi asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengenai ciri-ciri seorang guru sufi yang tulen:

Sebelum dianggap layak untuk memimpin orang lain di dalam suluk, seorang mursyid itu mestilah mempunyai kelayakan yang berikut. Dia mestilah seorang yang mengetahui ilmu-ilmu syariat dan juga ilmu-ilmu pengobatan (al-‘ulum at-tibbiyyah). Dan dia sendiri sudah pun menerima pengiktirafan dari para masyaikh. Tidak ada pengecualian bagi perkara ini.

Saiyid at-Tha’ifah, asy-Syaikh al-Junaid al-Baghdadi pernah berkata, “Ilmu kami adalah berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah. Jika siapa tidak menghafal hadis-hadis Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan menulisnya, dan tidak pula dia menghafal al-Quran, dan tidak pula memahami istilah-istilah ahli sufi – maka orang itu tidak layak dijadikan mursyid. Semoga Allah meridhoi orang-orang yang pimpinan mereka layak dijadikan ikutan.”  

 

Gambar bangunan yang menempati kubur asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani


Catatan (1)

Dalam perkara ini, melalui kekuatan kasyafnya dan juga berlandaskan pengalaman rohaninya yang banyak dan luas, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memang sudah mengetahui apa yang telah dialami oleh lelaki itu. Pengalaman lelaki itu memang benar. Yang salah, cuma fahaman lelaki itu mengenai pengalamannya.

Namun, terdapat juga beberapa orang lain, yang telah mengalami pengalaman yang hampir-hampir serupa dengan pengalaman si lelaki di dalam kisah ini. Bedanya, pengalaman mereka adalah hasil tipu daya syaitan.

Pada suatu hari, seorang anak murid kepada asy-Syaikh Sahl ibn Abdullah at-Tustari (hidup dari tahun 200 Hijrah hingga ke tahun 283 Hijrah) telah berkata kepada gurunya itu yang pada suatu malam, dia telah melihat dengan mata di kepalanya, Allah sedang duduk di al-‘arsy dan diliputi cahaya yang terang benderang.

Melalui kekuatan kasyafnya, asy-Syaikh Sahl ibn Abdullah at-Tustari telah mengetahui yang anak muridnya itu sebenarnya telah ditipu oleh syaitan. Maka dia pun berkata kepada anak muridnya itu, “Apabila engkau melihatnya lagi di waktu malam, hendaklah engkau meludah kepadanya.”

Beberapa hari kemudian, si anak murid itu telah bercerita, “Apabila pada suatu malam aku melihatnya, aku telah meludahinya. Tiba-tiba, al-‘arsy  telah lenyap, dan cahaya itu pula telah bertukar menjadi kegelapan.”

Maka sejak dari peristiwa malam itu, si anak murid itu tiada lagi mendapat “penglihatan-penglihatan rohani”.

 

 

 

 

 

     Bagian 5

       Sambungan Ringkasan Riwayat Hidupnya

Di antara sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah dia merupakan seorang manusia yang sangat lurus dan dia tidak takut beromong benar kepada siapa pun.

Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, al-Khalifah al-Muqtafi Bi-Amrillah Abu Abdullah Muhammad al-Abbasi telah melantik Abu al-Wafa Yahya ibn Sa‘id sebagai ketua kadi. Dari atas mimbar (yakni ketika memberi khutbah Jumaat), asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memarahi al-Khalifah al-Muqtafi Bi-Amrillah Abu Abdullah Muhammad al-Abbasi di khalayak banyak dan telah berkata kepadanya, “Engkau telah melantik seorang dholim sebagai ketua kadi yang akan menjadi hakim ke atas orang-orang muslimin. Apakah alasan yang dapat engkau berikan esok (yakni pada Hari Kiamat) apabila engkau sendiri akan dihakimi oleh Hakim segala hakim (yakni Allah), Tuhan sekalian alam!”

Selepas mendengar teguran dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ini, al-Khalifah al-Muqtafi Bi-Amrillah Abu Abdullah Muhammad al-Abbasi telah menggeletar seluruh badannya, dan telah menangis dengan iba. Ketua kadi itu pun telah diturunkan jabatannya dengan serta-merta.

Kebanyakan dari penduduk Baghdad pada masa itu adalah orang-orang yang telah rusak akhlaknya. Tetapi melalui pengaruh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani , banyak pula dari mereka yang telah bertaubat dan telah menjadi orang-orang yang baik akhlaknya, serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang tulen dan murni.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah disayangi dan disanjungi oleh setiap lapisan manusia, dan pengaruh serta kemasyhurannya telah tersebar ke seluruh tempat. Semua jenis manusia dapat memperoleh manfaat darinya. Doanya sangat mustajab, sama ada doa untuk kebaikan ataupun doa untuk pembalasan.

Golongan as-Salihin telah mengasihi, dan golongan orang-orang jahat dan dholim pula telah merasa takut kepadanya. Banyak manusia yang telah datang menemuinya untuk bertanyakan bermacam-macam masalah, dan juga untuk menerima nasihat. Mereka ini termasuk manusia-manusia dari golongan raja, menteri dan juga al-‘ulama’.

Sebagai satu contoh mengenai kemasyhuran dan kebesaran asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, telah bercerita asy-Syaikh Abu Muhammad Abdullah al-Jubba’i:

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mempunyai seorang anak murid yang bernama ‘Umar al-Halawi. Dia telah meninggalkan Baghdad untuk beberapa tahun. Apabila dia pulang semula ke Baghdad, aku telah bertanya kepadanya, “Ke manakah engkau telah pergi menghilangkan dirimu selama ini?”

Dia telah menjawab, “Aku telah pergi berkeliling melawati bandar-bandar dan pasar-pasar di Syria, Mesir, Barat (yakni negeri-negeri ke barat dari Mesir) dan juga Iraq. Aku telah bertemu dengan tiga ratus enam puluh orang masyaikh, kesemua mereka adalah wali-wali Allah. Tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak pernah berkata bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu adalah guru yang telah memimpin mereka kepada Allah.”

Banyak juga orang-orang yang beragama Yahudi dan beragama Nasrani yang telah memeluk agama Islam di tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, seorang pendeta Nasrani telah berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan kemudiannya telah memeluk agama Islam di tangannya, di hadapan orang banyak.

Setelah itu, bekas pendeta Nasrani itu pun menoleh ke arah orang banyak dan telah bercerita “Aku adalah seorang lelaki dari Yaman. Telah lama aku bercita-cita untuk memasuki agama Islam, tetapi aku telah berazam aku tidak akan memasuki agama Islam melainkan di tangan sebaik-baik orang Islam. Pada suatu malam, aku telah bermimpi bertemu dengan Isa alaihissalam, dan dia telah menyuruhku pergi ke Baghdad dan bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, karena menurut ‘Isa alaihissalam, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah sebaik-baik manusia di atas bumi di masa ini.”

Beberapa hari kemudian, datang pula tiga belas orang Nasrani dan mereka telah memeluk agama Islam di tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani di dalam majlisnya.

Mereka telah bercerita, “Kami adalah orang-orang berbangsa Arab yang beragama Nasrani. Kami memang telah lama berhajat untuk memeluk agama Islam, tetapi kami telah menangguhkannya karena kami tidak tahu kepada siapa kami harus mengisytiharkan keislaman kami. Pada suatu hari, satu suara ghaib telah menyeru kepada kami. Kami tidak dapat melihat rupa si penyeru itu, tetapi kata-katanya telah dapat kami dengar dengan jelas. Suara ghaib itu telah berkata, “Wahai orang-orang yang sedang menuju kejayaan! Pergilah ke kota Baghdad, dan peluklah agama Islam di tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani karena keimanan yang akan diletakkan di dada kamu semua di hadapannya dan melalui barakahnya, tidak akan dapat disamakan dengan keimanan yang akan diletakkan di dada kamu semua, di hadapan mana-mana orang lain pun di masa ini.” Maka itulah sebabnya kami telah datang ke sini.”

Dan jumlah orang-orang Islam yang telah bertaubat di tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula amat besar sekali. 

Telah bercerita asy-Syaikh Abu Muhammad Abdullah al-Jubba’i mengenai jumlah orang-orang yang telah menerima manfaat melalui asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani:

Guru kami, yakni asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, pernah berkata kepadaku, “Kadang-kadang, aku telah bercita-cita untuk berada semula di padang pasir dan di tanah yang tandus, seperti hari-hari terawalku, sehingga aku tidak memandang kepada manusia dan manusia pula tidak memandang kepadaku. Tetapi, Allah telah menghendaki agar aku menjadi sumber kebaikan untuk para makhlukNya. Karena, ada lebih dari lima ribu orang Yahudi dan Nasrani yang telah memeluk agama Islam di tanganku, dan lebih dari seratus ribu orang pencuri, perampok dan penjahat, yang telah bertaubat di tanganku. Ini semua adalah satu kebaikan yang besar.”

Oleh itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani juga telah dianggap sebagai seorang mujaddid (yakni seorang pembaharu yang menguatkan kembali agama Islam), walaupun beliau tidaklah dianggap sebagai al-mujaddid untuk masa itu.

Asy-Syaikh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani juga telah dikenal dengan nama panggilan Muhyiddin, yang berarti Penghidup Agama.

Menurut asy-Syaikh Muhammad ibn Yahya at-Tadifi di dalam kitabnya yang bernama Qala’id al-Jawahir, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sendiri telah bercerita:

Pada suatu hari Jumaat di dalam tahun 511 Hijrah, aku telah pulang ke Baghdad dari pengembaraanku.Aku sedang berkaki ayam ( bertelanjang kaki ) .

Aku terlihat (di dalam kasyaf) seorang lelaki tua yang sangat lemah, kulitnya sudah berubah warna dan badannya sangat kurus. Dia telah menahanku dan telah berkata, “Selamat sejahtera ke atasmu wahai Abdul Qadir.”

Aku telah menjawab salamnya itu. Dia telah berkata pula, “Marilah dekat kepadaku.”

Aku pun berdiri di sisinya. Dia telah berkata, “Bantulah aku sehingga aku dapat duduk semula.”

Aku pun membantunya sehingga dia dapat duduk. ( Menurut satu riwayat lain, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mendukungnya di atas bahu asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani .) Tiba-tiba badannya telah menjadi sehat, keadaannya telah berubah menjadi kuat dan warna kulitnya telah pulih semula.

Aku telah mula merasa takut terhadapnya. Tetapi dia telah berkata, “Tahukah engkau siapa aku?”

Aku telah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu.”

Dia telah berkata, “Aku adalah ad-din (agama yakni lambang agama Islam). Aku telah mati dan telah dilupakan. Tetapi melaluimu, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, telah menghidupkan aku seperti semula setelah kematianku.”

Aku pun meninggalkannya dan telah pergi ke masjid jamik. Seorang lelaki telah mendekatiku dan meletakkan sepasang kasut di kakiku. Dia telah berkata, “Ya saiyidi Muhyiddin.”

Ketika aku sedang hendak melakukan Sholat, orang-orang banyak telah datang untuk berjumpa denganku dan telah mencium tanganku dan telah berkata, “Wahai Muhyiddin.”

Sebelum itu, aku tidak pernah diberikan nama ini.

Kisah di atas ini adalah sebagai satu kabar gembira mengenai tugas penting yang bakal dilakukan oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sepuluh tahun kemudian, karena setelah dia mula berdakwah kepada orang banyak, pengaruhnya untuk “menghidupkan” semula agama Islam, memang telah dirasakan oleh masyarakat umum di kota Baghdad selama empat puluh tahun (yakni dari masa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berumur lima puluh satu tahun sehingga dia meninggal dunia ketika berumur sembilan puluh satu tahun).

Pada suatu malam, sekumpulan masyaikh ( lebih kurang lima puluh orang ) telah berkumpul bersama-sama asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Tiba-tiba pada suatu ketika, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mengalami satu keadaan kerohanian yang sangat tinggi. Banyak butir-butir mutiara hikmah yang telah keluar mencurah-curah dari bibirnya. Semua orang yang hadir di situ telah mengalami satu suasana ketenangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Di satu saat, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menunjuk ke arah tapak kakinya dan telah berkata, “Dengan izin Allah, tapak kakiku berada di atas tengkuk setiap wali Allah.”

Dengan serta-merta, seorang sahabat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang bernama asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti, telah pergi ke kursi tinggi tempat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani selalu duduk ketika memberikan ceramah, dan telah menundukkan kepalanya di kaki asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Kemudian, asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti telah meletakkan tapak kaki asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani di atas tengkuk asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti. Setelah melihat perbuatan asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti ini, para hadirin yang lain pun telah turut serta melakukan perbuatan yang sama. (1)

Salah seorang dari para wali Allah yang hadir di situ, asy-Syaikh Abu Sa‘id Ali al-Qailawi telah bercerita:

Apabila saja dia mengucapkan kata-kata “Tapak kakiku berada di atas tengkuk setiap wali Allah”, aku telah menyaksikan kebenaran kata-katanya itu. Aku nampak para wali Allah dari seluruh dunia telah berkumpul di hadapannya sehingga memenuhi pandanganku. Yang masih hidup telah datang dengan tubuh badan mereka, sedangkan yang sudah mati, telah hadir dengan roh mereka.

Langit telah dipenuhi oleh malaikat dan juga makhluk-makhluk lain yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar. Sekumpulan malaikat telah turun ke bumi dan telah menyampaikan kepadanya sehelai jubah dari Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam. Apabila kami sedang memanjangkan leher kami, terdengar satu suara yang telah memuji-mujinya dengan beberapa rangkap pujian yang khas.

Apabila asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengatakan yang tapak kakinya berada di atas leher setiap wali Allah, ini bukanlah satu omong besar. Dia hanya membuat satu pengumuman, tanpa merasakan perasaan besar diri di dalam hatinya.

Bolehlah kita bandingkan dengan kata-kata Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, yang pada suatu hari, telah berkata kepada para sahabatnya:

Aku adalah penghulu (saiyid) bagi keturunan Adam, dan aku tidak membanggakan diri. Akulah orang pertama yang akan dibelahkan bumi karenanya (dibangkitkan dari kubur), dan aku tidak membanggakan diri. Akulah orang pertama yang memberikan syafa‘ah dan orang pertama yang diterima syafa‘ah-nya, dan aku tidak membanggakan diri. Dan bendera puji-pujian berada di tanganku di Hari Kiamat, dan aku tidak membanggakan diri. (Diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad ibn Hanbal, al-Imam at-Tirmidhi dan juga al-Imam Ibn Majah.)

Yakni, Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam setakat menyatakan fakta yang baginda telah diberikan derajat yang tertinggi oleh Allah Ta‘ala. Dan ketika baginda menyatakan fakta ini, baginda tidak berkata-kata dengan perasaan bangga diri bertempat di dalam hatinya.

Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Barakat Sakhr ibn Sakhr ibn Musafir:

Aku telah bertanya kepada bapak saudaraku, yakni asy-Syaikh Adi ibn Musafir al-Hakkari (seorang wali Allah yang besar, dan juga seorang sahabat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ), “Dari segala masyaikh yang besar-besar, adakah engkau mengetahui siapa, selain dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang telah berkata bahwa tapak kakinya berada di atas leher setiap wali Allah?”

Dia telah menjawab, “Tidak ada.”

Aku pun bertanya lagi, “Apakah makna kata-katanya itu?”

Dia telah menjawab, “Itu adalah tanda bahwa di waktu ini, dialah yang sedang menduduki maqam keunggulan (fardiyyah).”

Aku bertanya lagi, “Adakah bagi setiap zaman itu, seorang wali Allah yang dianggap terunggul?”

Dia telah menjawab, “Ya, memang benar. Tetapi, hanya asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani seorang saja yang telah diberikan perintah untuk mengumumkannya.”

Aku bertanya lagi, “Adakah maksudmu yang dia telah menerima perintah untuk mengumumkannya?”

Bapak saudaraku telah menjawab, “Ya, benar. Dia memang telah menerima perintah itu. Dan mereka semua (yakni para wali Allah) telah merendahkan leher mereka karena perintah itu. Sebagaimana yang engkau ketahui, para malaikat telah sujud kepada Adam alaihissalam. Dan tiadalah mereka melakukan demikian melainkan karena mereka telah menerima perintah dari Allah untuk melakukannya.”

Ada juga beberapa orang masyaikh lain yang telah memberikan penjelasan seperti berikut:

Perkataan tapak kaki (qadam) hendaklah digunakan secara metafora (majazi), dan bukan secara literal (Haqiqi). Karena, penggunaan secara metafora adalah lebih bersesuaian dengan adab, dan boleh digunakan secara lebih meluas.

Perkataan qadam boleh dimaksudkan sebagai jalan, seperti yang digunakan di dalam ungkapan, “Si Fulan adalah di atas satu tapak kaki yang terpuji (qadam Hamid) ”. Ini boleh diartikan sebagai “jalan yang terpuji (Tariqah Hamidah)”, atau “ibadat yang terpuji”, atau “adab yang sempurna” dan sebagainya.

Kata-katanya ini menandakan yang toriqohnya, kehampirannya dengan Allah, dan juga pembukaan-pembukaan rohaninya (futuhat), adalah di tingkat yang paling atas jika dibandingkan dengan mana-mana toriqoh, kehampiran dan pembukaan rohani, dan telah sampai ke tahap tertinggi.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah meninggal dunia dalam bulan Rabiulakhir tahun 561 Hijrah, ketika beliau berumur 91 tahun. Telah dikatakan oleh setengah riwayat bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu telah dilahirkan di dalam ‘isyq (kerinduan) dan telah meninggal dunia di dalam umur yang kamil (sempurna). (2)

Sebelum dia meninggal dunia, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah jatuh sakit. Anak asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang bernama asy-Syaikh Abdul Wahhab telah meminta agar asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani meninggalkan wasiat.

Maka asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun memberikan nasihat, “Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jall. Janganlah engkau merasa takut melainkan kepada Allah saja. Janganlah engkau menyerahkan dirimu dan segala keperluanmu melainkan kepada Allah. Janganlah engkau mengharap dan janganlah engkau mencari selain dariNya. Bertawakallah kepadaNya dan tidak kepada yang lain. At-Tauhid. Semuanya tertakluk kepada at-Tauhid (pengesaan Allah).”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menyambung, “Apabila hati itu telah sah bersama Allah ‘Azza wa Jall, hati itu tidak lagi akan meminta-minta dan tidak lagi ia mengandung hal-hal yang remeh.”

Seterusnya, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memandang sekelilingnya dan telah berkata kepada anak-anaknya, “Aku ini adalah seperti isi tanpa kulit. Ketepilah sedikit. Aku bersamamu secara dhohir, tetapi aku bersama selainmu secara batin. Telah hadir di sisiku orang-orang lain. Luaskanlah ruang untuk mereka dan beradab-sopanlah di sisi mereka. Ada rahmat yang besar di sini. Janganlah engkau sesakkan tempat ini.”

Selepas itu, sepanjang hari dan malam, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mengucapkan salam, mendoakan kebaikan dan juga mengucapkan selamat jalan kepada para pengunjungnya yang ghaib itu, untuk beberapa kali.

Telah dilaporkan bahwa pada satu ketika, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Celaka engkau! Tidak ada sesuatu pun yang merisaukanku, tidak juga malaikat, termasuk engkau, wahai malaikat maut. Dzat yang memeliharaku telah mengurniakan kepadaku sesuatu yang melampauimu.”

Kemudian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pertepuk tangan sekali dan pada petang hari dia meninggal dunia.

Dilaporkan dari dua orang anak asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yakni asy-Syaikh Abdur Razzaq dan asy-Syaikh Musa, bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah beberapa kali mengangkatkan tangannya dan meluruskannya dan berkata, “Wa alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh. Bertaubatlah dan masuklah kembali ke dalam barisan ketika sampai giliranmu.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani juga telah berkata, “Di antara aku dengan engkau sekalian dan seluruh makhluk, ada satu jarak seperti langit dan bumi jauhnya. Oleh itu, janganlah engkau sekalian membandingkan aku dengan siapa pun, dan janganlah engkau sekalian membandingkan siapa pun dengan aku.”

Anak asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang bernama asy-Syaikh Abdul Aziz, telah bertanya mengenai penyakit dan keadaan ayahnya itu. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab pula, “Janganlah siapa pun menanyakan aku apa-apa. Aku sedang dibalik-balikkan di dalam ilmu Allah.”

Asy-Syaikh Abdul Aziz telah bertanya lagi tentang keadaan penyakit ayahnya itu. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata pula, “Tiada siapa yang mengetahui tentang hakikat penyakitku dan tiada siapa yang memahaminya, sama ada manusia, jin ataupun malaikat. Ilmu Allah tidak akan berkurangan karena perintahNya. Perintah itu boleh diubah, tetapi ilmuNya tetap tidak berubah. Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang dikehendakiNya, dan disisiNyalah Ibu Kitab (mafhum dari ayat 39 Surah ar-Ra‘d). Dia tidak akan ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya (mafhum dari ayat 23 Surah al-Anbiya’).”

Anak lelaki asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani  yang bernama asy-Syaikh Abdul Jabbar juga ada bertanya di Bagian tubuhnya yang manakah sakit yang sedang dirasakan oleh ayahnya itu. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab, “Seluruh anggota badanku sakit, melainkan hatiku jua. Tiada kesakitan di situ, karena ia bersama Allah Azza wa Jall.”

Di saat-saat terakhir hayatnya, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Aku berlindung dengan (kalimat) Tiada yang disembah melainkan Allah Subhanahu wa Ta‘ala, yang Maha Hidup, yang tidak takut kepada kebinasaan. Maha Suci Dia yang telah menegakkan KekuasaanNya melalui KekuatanNya dan telah memaksakan kematian ke atas hamba-hambaNya. Tiada yang disembah melainkan Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah.”

Kemudian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mengucapkan kalimat “Allah, Allah, Allah,” sehingga suaranya menjadi semakin pudar dan lidahnya terlekat di langit-langitnya. Rohnya yang mulia itu pun meninggalkan dunia yang fana ini.

Kubur asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani di Baghdad.


Catatan (1)    

Kisah ini adalah sebagai satu tanda bahwa asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti mempunyai sikap merendah diri dan juga memiliki faham yang dalam mengenai hal-hal kerohanian.

Boleh kita bandingkan dengan kisah Saiyidina Abu Bakar, yang tanpa teragak-agak, telah membenarkan kisah Israk dan Mikraj. Sedangkan banyak pula dari para sahabat Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam yang lain, yang telah merasa teragak-agak untuk membenarkan kisah Israk dan Mikraj itu, sewaktu diceritakan oleh baginda, dan termasuk di antara mereka ialah Saiyidina Umar.

Asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti sendiri adalah seorang wali Allah yang menduduki maqam yang tinggi. Dia telah meninggal dunia pada tahun 564 Hijrah, ketika berumur lebih dari seratus dua puluh tahun. Perkara ini bermakna yang beliau adalah lebih tua dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Tetapi, tiadalah beliau membesarkan dirinya di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Malah, asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti adalah seorang sahabat yang sangat menghormati asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Telah diceritakan oleh asy-Syaikh Ali al-Khabbaz bahwa di antara sahabat-sahabat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, tiada seorang pun yang lebih setia dan memberikan perhatian yang khas kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani melebihi kesetiaan dan perhatian asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti.

Telah diceritakan juga bahwa apabila asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti ingin berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dia dan sahabat-sahabatnya akan pergi bermandi terlebih dahulu di sebuah sungai. Kemudian, asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti akan berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Sucikanlah hati engkau sekalian, dan awasilah segala fikiran dan perasaanmu. Kita akan memasuki tempat as-Sultan (yakni Sultan al-Auliya’).”

Dan apabila beliau sampai di tempat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti tidak terus masuk. Beliau akan menunggu saja di muka pintu, sehingga mendengar suara asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani memanggilnya, “Silakanlah masuk, wahai saudaraku.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula, sering memuji asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti. Pernah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani berkata, “Para wali Allah, apabila mereka datang ke kota Baghdad, akan menjadi tetamuku. Sedangkan bagi diriku pula, aku sendiri adalah tamu asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti.”

Catatan (2) 

Bukanlah dimaksudkan yang asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu benar-benar telah dilahirkan di dalam ‘isyq (kerinduan) ataupun umur beliau benar-benar kamil (sempurna), yakni kita tidak boleh mengambil makna yang dhohir saja.

Berdasarkan nilai sesuatu huruf dalam Bahasa Arab, jumlah nilai huruf-huruf di dalam sesuatu perkataan itulah yang dimaksudkan. Ini dikenal  dengan panggilan kiraan al-jumal.

Perkataan isyq () itu dieja dengan 3 huruf, yaitu ain, syin dan qaf. Huruf ain nilainya 70, huruf syin nilainya 300, dan huruf qaf pula nilainya 100. Jumlahnya ialah 470. Maka diambil kesimpulan yang asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah dilahirkan pada tahun 470 Hijrah.

Perkataan kamil () itu dieja dengan 4 huruf, yaitu kaf, alif, mim, dan lam. Huruf kaf nilainya 20, huruf alif nilainya 1, huruf mim nilainya 40 dan huruf lam pula nilainya 30. Jumlahnya ialah 91. Maka diambil kesimpulan bahwa asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah meninggal dunia ketika berumur 91 tahun.

Ini adalah satu kaidah yang kadangkala digunakan oleh orang-orang sufi, walaupun hanya istimewa digunakan oleh orang-orang sufi saja. Mereka yang pakar menulis azimat (rajah-rajah seperti yang terdapat di dalam kitab Syams al-Ma‘arif al-Kubra, tulisan Syaikh Ahmad ibn Ali al-Buni, sebuah kitab yang berumur lebih kurang 800 tahun, tetapi masih popular di Nusantara) pun menggunakan kaidah ini.

Dan tiadalah juga ia bermakna yang kaidah ini sajalah yang digunakan oleh orang-orang dari kalangan sufi. Ada lagi beberapa kaidah tambahan yang lebih rumit, yang selalunya digunakan bersama-sama kaidah ini.

Dari itu, ketika membaca kitab-kitab mengenai ilmu tasawuf, si murid perlulah berhati-hati dengan fakta-fakta mengenai para wali Allah. Fakta-fakta ini tidak boleh diterima secara dhohir saja. Kadangkala, untuk memahaminya dengan tepat, si murid perlu mengetahui ilmu-ilmu lain terlebih dahulu.

Pernah terjadi di satu tempat di Indonesia, seorang pemuda telah menyatakan rasa terkejutnya apabila dia mendengar kata-kata dari seorang Penghulu. Menurutnya, lebai itu telah jatuh kafir atau telah menjadi musyrik, karena mengatakan umurnya adalah dua tahun lebih muda dari Allah!

Seorang ‘Alim yang sedang duduk di situ, telah tersenyum dan menasihatkan pemuda itu supaya bersabar dahulu, dan jangan mudah mengkafirkan orang lain.

Si ‘Alim telah berkata lagi bahwa lebai itu hanya sekadar ingin menguji si pemuda. (Si ‘Alim tahu yang pemuda itu sangat suka beromong besar, seolah-olah ilmunya sangat luas, karena pemuda itu baru saja keluar dari universitas. Kata-kata pemuda itu telah kerap kali menyinggung perasaan orang-orang lain.)  Si ‘Alim telah memberitahu kepada pemuda itu bahwa Penghulu itu sebenarnya telah menggunakan kaidah perkiraan al-jumal. Perkataan Allah () itu dieja dengan huruf-huruf alif, lam, lam dan ha’. Huruf alif bernilai 1, huruf lam (yang pertama) bernilai 30, huruf lam (yang kedua) bernilai 30, dan huruf ha’ bernilai 5. Jumlahnya ialah 66. Oleh karena lebai itu berkata umurnya adalah dua tahun lebih muda dari “Allah”, maka hendaklah ditambah dengan nilai dua. Ini menjadikan jumlahnya 64. Maka maksud Penghulu itu ialah, umurnya adalah 64 tahun, bukanlah dia mengatakan yang umurnya itu benar-benar adalah dua tahun lebih muda dari Zat Allah Taala!

Walau bagaimanapun, si ‘Alim telah menyampaikan juga kepada pemuda itu satu nasihat tambahan, yang berasal dari seorang guru sufi, “Siapa jua yang mengaku menjadi seorang pengikut ilmu tasawuf (sufism), hendaklah mempunyai a sense of humour, dan cara dia berfikir pula, mestilah tidak dangkal (not superficial).”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Bagian 6

     Setengah Dari Karomah

  asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Jumlah karomah yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani adalah banyak sekali dan telah diakui oleh golongan al-‘ulama’ di zamannya dan juga sesudahnya. (1)

Telah berkata pula asy-Syaikh Izzuddin Abdul Aziz ibn Abdus Salam, seorang Alim yang terkenal sebagai Sultan al-‘Ulama’ dan yang telah hidup selepas zaman asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Tiada sampai kepadaku kisah-kisah karomah seorang wali Allah yang lebih mutawatir seperti sampainya kisah-kisah karomah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani


Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Qurasyi al-Jili:

Pada suatu hari, aku telah menghadiri majlis asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, berserta murid-muridnya yang lain. Tiba-tiba, muncul seekor ular besar di pangkuan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Maka orang banyak yang hadir di majlis itu pun berlari lintang-pukang dalam ketakutan. Tetapi asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani hanya duduk dengan tenang saja. Kemudian ular itu pun masuk ke dalam baju asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan telah merayap-rayap di badannya. Setelah itu, ular itu telah naik pula ke lehernya. Namun, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani masih tetap tenang dan tidak berubah keadaan duduknya.

Setelah beberapa waktu berlalu, turunlah ular itu dari badan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan ia telah berkata-kata dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Setelah itu, ular itu pun ghaib.

Maka bertanyalah kami kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tentang apa yang telah dipertuturkan oleh ular itu. Menurut asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, ular itu telah berkata bahwa dia telah menguji banyak wali-wali AllÁh yang lain, tetapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang pun yang setenang dan sehebat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.  


Telah bercerita pula asy-Syaikh Muhammad ibn Yahya at-Tadifi di dalam kitabnya yang bernama Qala’id al-Jawahir :

Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang mengajar murid-muridnya di dalam sebuah majlis, seekor burung telah terbang di udara di atas majlis itu sambil mengeluarkan satu bunyi yang telah mengganggu majlis itu. Maka asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun berkata, “Wahai angin, ambil kepala burung itu.”

Seketika itu juga, burung itu telah jatuh ke atas majlis itu, dalam keadaan kepalanya telah terputus dari badannya.

Setelah melihat keadaan burung itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun turun dari kursi tingginya dan telah mengambil badan burung itu, lalu disambungkan kepala burung itu ke badannya. Kemudian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, Bismillahir rahmanir rahim.”

Dengan serta-merta burung itu telah hidup kembali dan terus terbang dari tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Maka menjadi takjublah para hadirin di majlis itu karena melihat kebesaran Allah yang telah ditunjukkanNya melalui tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu.  


Telah bercerita asy-Syaikh Abu Nahar ibn Umar al-Baghdadi al-Mathni as-Sahrawi yang dia telah mendengar bapaknya bercerita:

Aku berupaya untuk memanggil jin-jin, dan ini telah aku lakukan untuk beberapa kali. Tetapi pada suatu hari, aku telah terpaksa menunggu lebih lama dari biasa, barulah mereka datang. Apabila mereka tiba, mereka telah berkata kepadaku, “Lain kali, apabila engkau ingin memanggil kami, janganlah engkau lakukan pada waktu asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang memberikan ceramah kepada orang banyak.”

Apabila aku tanyakan mereka sebabnya, mereka telah menjawab, “Karena kami sendiri pun akan datang berbondong - bondong untuk menghadiri ceramahnya.”

Aku telah bertanya lagi, “Benarkah jin-jin pun menghadiri majlis ceramah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani?”

Mereka telah menjawab, “Sudah tentu. Dan keadaan kumpulan kami adalah lebih bersesakan dari keadaan kumpulan manusia. Banyak dari kaum kami yang telah memeluk agama Islam dan juga bertaubat di tangannya.”


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, di dalam tahun 537 Hijrah, seorang lelaki dari kota Baghdad (dikatakan oleh setengah perawi bahwa lelaki itu bernama Abu Sa‘id Abdullah ibn Ahmad ibn Ali ibn Muhammad al-Azaji al-Baghdadi) telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Lelaki itu telah berkata kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bahwa dia mempunyai seorang anak Perawan berumur enam belas tahun bernama Fatimah. Anak daranya itu telah diculik (diterbangkan) dari atas atap rumahnya oleh seorang jin.

Maka asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menyuruh lelaki itu pergi pada malam hari itu, ke suatu tempat bekas rumah roboh, di satu kawasan lama di kota Baghdad bernama al-Karkh.

“Carilah bonggol yang kelima, dan duduklah di situ. Kemudian, gariskan satu bulatan sekelilingmu di atas tanah. Semasa engkau membuat garisan, ucapkanlah “Bismillah, dan di atas niat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.” Apabila malam telah gelap, engkau akan didatangi oleh beberapa kumpulan dari jin, dengan berbagai-bagai rupa dan bentuk. Janganlah engkau takut. Apabila waktu hampir terbit fajar, akan datang pula raja jin dengan segala angkatannya yang besar. Dia akan bertanyakan hajatmu. Katakan kepadanya yang aku telah menyuruh engkau datang bertemu dengannya. Kemudian ceritakanlah kepadanya tentang kejadian yang telah menimpa anak perempuanmu itu.”

Lelaki itu pun pergilah ke tempat itu dan melaksanakan arahan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu.

Beberapa waktu kemudian, datanglah jin-jin yang coba menakut-nakutkan lelaki itu, tetapi jin-jin itu tidak berkuasa untuk melintasi garis bulatan itu. Jin-jin itu telah datang bergilir-gilir, yakni satu kumpulan selepas satu kumpulan. Dan akhirnya, datanglah raja jin yang sedang menunggang seekor kuda dan telah disertai oleh satu angkatan yang besar dan hebat rupanya.

Raja jin itu telah memberhentikan kudanya di luar garis bulatan itu dan telah bertanya kepada lelaki itu, “Wahai manusia, apakah hajatmu?”

Lelaki itu telah menjawab, “Aku telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani untuk bertemu denganmu.”

Sebaik-baik saja dia mendengar nama asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani diucapkan oleh lelaki itu, raja jin itu telah turun dari kudanya dan terus mengucup bumi. Kemudian raja jin itu telah duduk di atas bumi, disertai dengan seluruh anggota rombongannya. Sesudah itu, raja jin itu telah bertanyakan masalah lelaki itu. Lelaki itu pun menceritakan kisah anak daranya yang telah diculik oleh seorang jin.

Setelah mendengar cerita lelaki itu, raja jin itu pun memerintahkan agar dicari si jin yang bersalah itu. Beberapa waktu kemudian, telah dibawa ke hadapan raja jin itu, seorang jin lelaki dari negara Cina bersama-sama dengan anak dara manusia yang telah diculiknya.

Raja jin itu telah bertanya, “Kenapakah engkau sambar anak dara manusia ini? Tidakkah engkau tahu yang dia ini berada di bawah naungan  al-Qutb ?”

Jin lelaki dari negara Cina itu telah mengatakan yang dia telah jatuh berahi dengan anak dara manusia itu.

Raja jin itu pula telah memerintahkan agar dipulangkan perawan itu kepada bapaknya, dan jin dari negara Cina itu pula telah dikenakan hukuman pancung kepala.

Lelaki itu (bapak Fatimah) pun mengatakan rasa takjubnya dengan segala perbuatan raja jin itu, yang sangat patuh kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Raja jin itu telah berkata pula, “Sudah tentu, karena asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani boleh melihat dari rumahnya semua kelakuan jin-jin yang jahat. Dan mereka semua sedang berada di sejauh-jauh tempat di atas bumi, karena telah lari dari sebab kehebatannya. Allah Ta’ala telah menjadikan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani bukan saja al-Qutb bagi umat manusia, bahkan juga ke atas seluruh bangsa jin.”

 

 

 


Telah bercerita asy-Syaikh Abu Umar Uthman as-Sirafini dan asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Haqq al-Huraimi:

Pada 3 haribulan Safar tahun 555 Hijrah, kami berada di sisi asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Pada waktu itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang mengambil wuduk dan memakai sepasang terompah. Setelah selesai menunaikan Sholat dua rakaat, dia telah bertepuk tangan tangan dengan tiba-tiba, dan telah melemparkan salah satu dari terompah-terompah itu dengan sekuat tenaga sehingga tiada ternampak lagi oleh mata. Selepas itu, dia telah bertepuk tangan sekali lagi, lalu melemparkan terompah yang satu lagi. Kami yang berada di situ, telah melihat dengan keheranan, tetapi tidak ada seorang pun yang telah berani menanyakan maksud semua itu.

Dua puluh tiga hari kemudian, sebuah kafilah telah datang untuk menziarahi asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Mereka (yakni para anggota kafilah itu) telah membawa hadiah-hadiah untuknya, termasuk baju, emas dan perak. Dan yang anehnya, termasuk juga sepasang terompah. Apabila kami amat-amati, kami lihat terompah-terompah itu adalah terompah-terompah yang pernah dipakai oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pada satu masa dahulu. Kami pun bertanya kepada ahli-ahli kafilah itu, dari manakah datangnya sepasang terompah itu. Inilah cerita mereka:

Pada 3 hari bulan Safar yang lalu, ketika kami sedang di dalam satu perjalanan, kami telah diserang oleh satu kumpulan perampok. Mereka telah merampas kesemua barang-barang kami dan telah membawa barang-barang yang mereka rampas itu ke satu lembah untuk dibagi-bagikan di antara mereka.

Kami pun berbincang sesama sendiri dan telah mencapai satu keputusan. Kami lalu menyeru asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani agar menolong kami. Kami juga telah bernazar apabila kami sudah selamat, kami akan memberinya beberapa hadiah.

Tiba-tiba, kami terdengar satu jeritan yang amat kuat, sehingga menggegarkan lembah itu dan kami lihat di udara ada satu benda yang sedang melayang dengan sangat laju sekali. Beberapa waktu kemudian, terdengar satu lagi bunyi yang sama dan kami lihat satu lagi benda seumpama tadi yang sedang melayang ke arah yang sama.

Selepas itu, kami telah melihat perampok-perampok itu berlari lintang-pukang dari tempat mereka sedang membagi-bagikan harta rampasan itu dan telah meminta kami mengambil balik harta kami, karena mereka telah ditimpa satu kecelakaan. Kami pun pergi ke tempat itu. Kami lihat kedua-dua orang pemimpin perampok itu telah mati. Di sisi mereka pula, ada sepasang terompah. Inilah terompah-terompah itu.


Telah bercerita asy-Syaikh Abdus Samad ibn Hammam:

Pada mulanya aku memang tidak suka kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Walaupun aku merupakan seorang saudagar yang paling kaya di kota Baghdad di waktu itu, aku tidak pernah merasa tenteram ataupun berpuas hati.

Pada suatu hari, aku telah pergi menunaikan Sholat Jumaat. Ketika itu, aku tidak mempercayai tentang cerita-cerita karomah yang dikaitkan dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Sesampainya aku di masjid itu, aku dapati ia telah penuh sesak dengan manusia. Aku telah menyibak orang lain sehingga aku dapat satu tempat duduk, betul-betul di hadapan mimbar.

Di kala itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani baru saja memulai khutbah Jumaat. Ada beberapa perkara yang disentuh oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang telah menyinggung perasaanku. Tiba-tiba, aku terasa hendak buang air besar. Untuk aku keluar dari masjid itu memang sukar dan agak mustahil. Aku pun didatangi rasa gelisah dan malu, takut-takut aku terbuang air besar di situ di hadapan orang banyak. Dan kemarahanku terhadap asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun bertambah dan memuncak.

Pada saat itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah turun dari atas mimbar itu dan telah berdiri di hadapanku. Sambil dia terus memberikan khutbah, dia telah menutup tubuhku dengan jubahnya. Tiba-tiba aku dapati aku sedang berada di satu tempat yang lain, yakni di satu lembah hijau yang sangat indah. Aku lihat sebatang anak sungai sedang mengalir perlahan di situ dan keadaan sekelilingnya pula sunyi sepi, tanpa kehadiran seorang manusia pun.

Aku pun pergi membuang air besar. Setelah selesai, aku pun mengambil wuduk. Apabila aku sedang berniat untuk pergi berSholat, aku dapati diriku tiba-tiba telah berada semula di bawah jubah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia telah mengangkat jubahnya dan menaiki kembali tangga mimbar itu.

Aku sungguh-sungguh merasa terkejut. Bukan saja perutku sudah merasa lega, tetapi begitu juga keadaan hatiku. Segala perasaan marah, ketidakpuasan hati, dan perasaan-perasaan jahat yang lain, semuanya telah hilang.

Selepas sembahyang Jumaat berakhir, aku pun pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, aku tersedar yang kunciku telah hilang. Aku pun kembali ke masjid untuk mencarinya. Puas aku mencari, tetapi tidak aku jumpa. Aku terpaksa menyuruh tukang kunci membuat kunci yang baru.

Pada keesokan harinya, aku telah meninggalkan Baghdad dengan rombonganku karena urusan perniagaan. Tiga hari kemudian, kami telah melewati satu lembah yang sangat indah. Seolah-olah ada satu kuasa ajaib yang telah menarikku untuk pergi ke sebatang anak sungai. Barulah aku teringat yang aku pernah pergi ke situ untuk membuang air besar, beberapa hari sebelum itu. Aku pun bermandi di anak sungai itu. Ketika aku sedang mengambil bajuku, aku telah berjumpa kembali kunciku, yang rupa-rupanya telah tertinggal dan telah tersangkut pada sebatang dahan di situ.

Sebaik-baik saja aku sampai di Baghdad, aku telah terus bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan menjadi anak muridnya.     

 


Telah bercerita asy-Syaikh Adi ibn Musafir al-Hakkari: (2)

Aku pernah berada di antara ribuan hadirin yang telah berkumpul untuk mendengar syarahan dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Ketika asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang bersyarah, tiba-tiba hujan telah turun dengan lebat. Beberapa orang dari hadirin pun berlari meninggalkan tempat itu. Langit di masa itu sedang diliputi awan hitam yang menandakan hujan akan terus turun berpanjangan. Aku melihat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah mendongak ke langit dan telah mengangkat tangannya serta berdoa, “Ya Rabbi! Aku telah mengumpulkan manusia karenaMu, adakah kini Engkau akan menghalau pula mereka dariku?”

Setelah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani habis berdoa, hujan pun berhenti. Tidak setitik pun yang jatuh ke atas kami, pada hal di sekeliling kami, hujan masih terus turun dengan mencurah-curah.


Telah bercerita asy-Syaikh Abdullah adh-Dhaiyal:

Pada tahun 560 Hijrah, aku telah berada di pusat pengajian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Pada suatu hari, aku telah terlihat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang meninggalkan rumahnya sambil memegang sebatang tongkat. Aku telah berkata-kata di dalam hatiku, “Alangkah baiknya jikalau aku dapat melihat satu karomah dari asy-Syaikh, melalui tongkat yang sedang dipegangnya itu.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menoleh ke arahku dan tersenyum. Kemudian ditancapkannya tongkat itu ke dalam tanah. Tiba-tiba keluarlah satu cahaya yang terang benderang darinya. Cahaya itu telah naik menjulang ke arah langit, lalu menerangi berputar-putar di kawasan situ. Beberapa waktu kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menyentuh cahaya itu, dan ia kembali menjadi tongkat semula.

Kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memandang ke arahku dan bertanya, “Inikah yang ingin engkau saksikan, wahai Abdullah?”


Telah diceritakan oleh asy-Syaikh Abu al-Muhaffar Mansur ibn al-Mubarak al-Wasiti (yang dikenal juga sebagai al-Judadah):

Ketika aku masih muda, aku pernah pergi menemui asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, diiringi oleh beberapa orang lain. Aku telah membawa sebuah kitab filsafat di tanganku. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menyambut kami. Apabila dia terpandang saja kepada kitab di tanganku itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Sesungguhnya yang engkau pegang dalam tanganmu itu adalah sejahat-jahatnya teman. Lebih baik engkau pergi buangkan saja kitab itu.”

Aku pun menjadi tertegun. Bagaimanakah dia dapat mengetahui isi kandungan kitab itu? Aku memang amat sayang kepada kitab itu, dan telah menghafal hampir-hampir seluruh kandungannya. Aku pun berfikir di dalam hati, lebih baik aku sembunyikan saja kitab itu, dan mengambilnya kembali ketika aku pulang nanti.

Belum pun sempat aku berbuat demikian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah “melemparkan” satu pandangan tajam ke arahku. Tiba-tiba aku tidak dapat menggerakkan badanku dari tempat duduk.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani kemudian telah meminta kitab itu dariku. Ketika aku memberikan kitab itu kepadanya, aku telah sempat membuka lembaran kitab itu untuk kali terakhir. Alangkah terkejutnya aku, apabila aku dapati isinya telah lenyap! Yang tinggal cuma halaman halaman buku yang kosong!

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun mengambil kitab itu dan sesudah menyimak isinya, telah memulangkan kitab itu semula kepadaku.

“Ambillah kitab Fadha’il al-Quran susunan Muhammad ibn adh-Saris ini,” katanya.

Aku pun mengambil kitab itu, dan aku dapati memang benar kitab filsafat kepunyaanku itu telah berubah menjadi kitab yang lain, yakni kitab Fadha’il al-Quran karangan Muhammad ibn adh-Saris, yang telah ditulis dengan tulisan yang sangat indah.

Kemudian dia telah berkata pula kepadaku, “Apakah kini engkau mau bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya?”

Aku pun menjawab, ya. Dia lalu menyuruhku berdiri. Apabila aku berdiri, aku rasa segala ilmu filsafat ku telah hilang. Seolah-olah, semuanya telah mengalir keluar dari tubuhku dan telah meresap ke dasar bumi. Tiada satu perkataan pun darinya yang masih tinggal di dalam ingatanku.


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, isteri-isteri asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah bertemu dengannya dan telah berkata, “Wahai suami kami yang dihormati, anak lelaki kecil kita telah meninggal dunia. Namun kami tidak melihat setitik air mata pun yang mengalir dari mata kekanda dan tidak pula kekanda menunjukkan  tanda sedih. Tidakkah kakanda menyimpan  rasa belas kasihan terhadap anak lelaki kita, yang merupakan sebagian dari darah daging kekanda sendiri? Kami semua sedang dirundung malang yang sangat, namun kekanda masih juga meneruskan pekerjaan biasa kekanda, seolah-olah tiada sesuatu pun yang telah berlaku. Kakandalah merupakan pemimpin dan penaung kami di dunia dan di akhirat. Tetapi jika hati kekanda telah menjadi keras sehingga tiada lagi menyimpan  rasa belas kasihan, bagaimanakah kami dapat bergantung kepada kakanda pada Hari Pembalasan kelak?”

Maka berkatalah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Wahai isteri-isteriku yang tercinta! Janganlah kamu semua menyangka yang hatiku ini keras. Aku menyimpan rasa belas kasihan di hatiku terhadap seluruh makhluk, sehinggakan terhadap orang-orang kafir dan juga terhadap anjing-anjing yang menggigitku. Aku berdoa kepada Allah agar anjing-anjing itu akan berhenti dari menggigit, bukanlah karena aku takut digigit, tetapi aku takut nanti manusia lain akan melontar anjing-anjing itu dengan batu. Tidakkah kamu mengetahui yang aku ini mewarisi sifat belas kasihan dari Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam, yang telah diutus Allah sebagai rahmat untuk sekalian alam?”

Maka wanita-wanita itu telah berkata pula, “Kalau benarlah kakanda mempunyai rasa belas kasihan terhadap seluruh makhluk Allah, sehingga kepada anjing-anjing yang menggigit kakanda, kenapakah kakanda tidak menunjukkan  tanda rasa sedih di atas kehilangan anak lelaki kita yang telah disambar maut itu?”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menjawab, “Wahai isteri-isteriku yang sedang berduka cita, kamu semua menangis karena kamu semua merasa telah berpisah dari anak lelaki kita yang kamu semua sayangi. Tetapi aku pula, senantiasa bersama dengan orang-orang yang aku sayangi. Kamu semua telah melihat anak lelaki kita di dalam satu ilusi yang dipanggil dunia. Kini, dia telah pun meninggalkannya lalu berpindah ke satu tempat yang lain. Allah telah berfirman (Surah al-Hadid, potongan ayat 20 yang bermafhum) “dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanyalah satu ilusi jua.” Memang dunia ini adalah satu ilusi, untuk mereka yang sedang terlena. Tetapi aku tidak terlena – aku bangun dan jaga. Aku telah melihat anak lelaki kita ketika dia sedang berada di dalam bulatan masa, dan kini dia telah keluar darinya. Namun aku masih dapat melihatnya. Dia kini berada di sisiku. Dia sedang bermain-main di sekelilingku, sebagaimana yang pernah dia lakukan pada masa dahulu. Sesungguhnya, jika seseorang itu dapat melihat Kebenaran melalui mata hatinya, sama ada yang dilihatnya itu masih hidup ataupun sudah mati, maka Kebenaran itu tetap tidak akan hilang.”

 

 


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya di padang pasir. Waktu itu hari sangat panas, dan mereka sedang berpuasa. Oleh itu, mereka telah merasa letih dan dahaga.

Tiba-tiba, sekumpulan awan telah muncul, yang melindungi mereka dari panas terik matahari. Setelah itu, sebatang pohon kurma dan sebuah kolam muncul pula di hadapan mereka. Mereka telah menjadi tertegun. Kemudian satu cahaya besar yang berkilauan, telah muncul dari celah awan di hadapan mereka dan kedengaranlah satu suara dari dalamnya yang telah berkata, “Wahai Abdul Qadir, akulah Tuhanmu. Makan dan minumlah, karena pada zaman sekarang, telah aku halalkan untuk engkau apa yang telah aku haramkan untuk orang-orang lain.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun mendongak ke arah cahaya itu dan telah berkata, “Aku berlindung dengan Allah dari syaitan yang direjam.”

Tiba-tiba, cahaya, pohon kurma dan kolam itu semuanya hilang dari pandangan mata. Maka kelihatanlah Iblis di hadapan mereka dengan bentuk rupanya yang aslinya.

Iblis telah bertanya, “Bagaimanakah engkau dapat mengetahui yang itu sebenarnya adalah aku?”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab, “Syariat itu sudah sempurna, dan tidak akan berubah sehingga Hari Kiamat. Allah tidak akan mengubah yang haram kepada yang halal, walaupun untuk orang-orang yang menjadi pilihanNya.”

Maka Iblis pun berkata lagi untuk menguji asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Aku telah berjaya menipu 70 kaum dari golongan as-salikin (yakni orang-orang yang menempuh jalan kerohanian) dengan cara ini. Ilmu yang engkau miliki lebih luas dari ilmu mereka. Apakah ini saja jumlah pengikutmu? Sepatutnya, semua penduduk bumi menjadi pengikutmu, karena ilmumu menyamai ilmu para nabi.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab pula, “Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar, Yang Maha Mengetahui, dari engkau. Bukanlah karena ilmuku aku terselamat, tetapi karena rahmat dari Allah, Pengatur sekalian alam.” (3)


Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Abbas al-Khadhir al-Husaini al-Mausili:

Pada suatu malam, seorang pelayan kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah bermimpi sebanyak tujuh puluh kali. Dan pada setiap mimpinya itu, dia telah bermimpi melakukan zina. Maka pada waktu Subuh, dia pun berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani untuk menceritakan mimpinya itu.

Belum pun sempat dia membuka mulutnya untuk menceritakan mimpinya yang aneh itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Wahai anak muda, janganlah engkau merasa risau berkenaan peristiwa semalam. Aku telah melihat tertulis di Loh Mahfuz bahwa engkau bakal melakukan zina dengan beberapa orang perempuan sebanyak tujuh puluh kali. Maka aku telah berdoa kepada AllÁh agar dengan kurniaNya, perkara itu diubah sehingga ia hanya berlaku di dalam mimpimu, dan bukan semasa jaga. Oleh itu, selamatlah engkau karenanya.”


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, seorang lelaki dari Isfahan (dieja juga sebagai Esfahan) telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia telah mengadu tentang keadaan isterinya yang telah ditimpa satu penyakit ganjil.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memberitahu lelaki itu, apabila dia pulang menemui isterinya kelak, hendaklah diucapkan di telinga isterinya itu, “Wahai Khanis, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menyuruh engkau keluar dari sini, dan jangan sesekali pun engkau kembali. Jika tidak, engkau akan binasa.”

Apabila lelaki itu sampai semula ke rumahnya, dia pun melakukan sebagaimana yang telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Isterinya pun pulih dari penyakitnya.


Satu pemandangan di kota Isfahan (dieja juga sebagai Esfahan)


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, sekumpulan al-fuqaha’ dari Baghdad sebanyak seratus orang telah datang ke tempat perguruan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Mereka telah datang dengan niat untuk menguji asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dengan menanyakan beberapa soal dan masalah yang dianggap paling susah dan rumit.

Apabila mereka semua sedang berada di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dia telah menundukkan kepalanya. Tiba-tiba keluar satu cahaya yang terang benderang dari dada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

(Cahaya rohani ini hanya dapat dilihat oleh mereka yang sudah terbuka mata hatinya saja, dan ini termasuk si periwayat kisah ini. Kumpulan al-fuqaha’ itu pula, yang mata hati mereka masih tertutup, tidak dapat melihat cahaya rohani ini).

Kumpulan al-fuqaha’ itu tiba-tiba telah menjadi terpegun, dan lidah mereka pula telah menjadi keluh. Dan segala soal yang telah mereka sediakan sebelum itu, telah lenyap semuanya dari ingatan mereka.

Kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sendiri yang telah menyebut segala masalah dan soal mereka itu, satu demi satu, lengkap dengan jawabannya sekali.

Maka menjadi takjublah kumpulan al-fuqaha’ itu dan mereka pun meminta maaf dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.


Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Abbas al-Khadhir al-Husaini al-Mausili:

Pada suatu hari, aku sedang duduk di dalam majlis asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Tiba-tiba datang al-Mustanjid Billah Abu al-Muhaffar Yusuf, yakni putera kepada al-Khalifah al-Muqtafi Bi-Amrillah Abu Abdullah Muhammad al-Abbasi (memerintah dari tahun 531 hingga ke tahun 555 Hijrah, dan telah diganti oleh puteranya itu, yakni al-Mustanjid Billah, yang telah memerintah dari tahun 555 hingga ke tahun 566 Hijrah).

Dia telah mengucapkan salam kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia telah membawa harta yang banyak, yang terpaksa dipikul oleh sepuluh orang pekerjanya. Harta itu pun diletakkan di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Maka telah berkata asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Aku tidak berhajat kepada harta-harta ini.”

Maka dijawab pula oleh si pelawat diraja itu, “Wahai tuan guru, kami berharap benar agar tuan guru menerima harta kami.”

Maka asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun pergi mengambil harta itu dan diperasnya pula harta itu. Tiba-tiba keluar darah mengalir dari harta itu.

Kemudian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Wahai Abu al-Muhaffar, apakah engkau tidak merasa malu di hadapan Allah Ta‘ala, Yang Maha Melihat dan Yang Maha Mengetahui akan segala hal-ihwal hamba-hambanya? Harta-harta ini telah engkau peroleh melalui memeras darah manusia lain, dan kini engkau hadapkan harta-harta ini pula kepadaku?”

Melihat akan kejadian karomah dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ini, si pelawat diraja itu pun jatuh pingsan, dan tidak sadarkan dirinya untuk beberapa waktu.  (4)


Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Baghdadi (dikenal juga sebagai Ibn at-Thantanah):

Pada tahun 553 Hijrah, aku telah bertugas sebagai penjaga malam di madrasah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Di antara tugas-tugasku ialah menyediakan sebuah kendi air bagi kegunaan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Tiba-tiba, aku terlihat asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang keluar dari rumahnya dan melalui kawasan madrasah itu. Pintu pagar kawasan madrasah itu telah terbuka dengan sendirinya. Aku pun mengikuti asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari belakang. Apabila kami tiba di pintu gerbang kota Baghdad, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah melambai-lambaikan tangannya. Pintu gerbang itu telah terbuka dengan sendirinya. Apabila kami meninggalkannya, pintu gerbang itu telah tertutup kembali di belakang kami.

Kami telah sampai ke sebuah kota yang belum pernah aku lihat. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah masuk ke dalam sebuah bangunan. Di dalamnya, terdapat enam orang lelaki yang sedang duduk di dalam satu bulatan. Mereka telah memberi salam hormat kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Aku telah bersembunyi di belakang sebatang tiang, sambil memperhatikan segala yang berlaku. Ada seorang lelaki lain yang sedang terbaring (dengan ini jumlah lelaki-lelaki itu semuanya adalah tujuh orang), dan telah mengeluh kesakitan (yakni sedang berada dalam saat-saat kematian). Setelah beberapa waktu berlalu, bunyi keluhan itu pun berhenti. Suasana menjadi sepi.

Kemudian datang seorang lelaki lain yang telah membawa keluar mayat itu. Setelah itu, datang pula seorang lelaki lain, yang mempunyai rambut dan janggut yang panjang. Dia telah duduk berhadapan dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menggunting rambut dan janggut lelaki itu dan kemudian memakaikan sejenis sorban ke atas kepalanya. Kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menyuruh lelaki itu mengucapkan Dua Kalimah Syahadah dan menamakan lelaki itu Muhammad, dan telah mengumumkan yang dia telah memilih lelaki itu sebagai pengganti bagi orang yang baru meninggal dunia itu.

Setelah itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun pulang ke kota  Baghdad. Pintu gerbang dan pintu madrasah itu telah terbuka dan tertutup dengan sendirinya, seperti waktu kami berangkat dahulu.

Pada keesokan harinya, sewaktu mendengar kuliah yang sedang diberikan oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, fikiranku telah terganggu karena mengingatkan peristiwa semalam. Sebaik-baik saja kuliah itu berakhir, aku pun meminta asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani menjelaskan peristiwa itu dengan lebih lanjut.

Menurutnya, kami telah pergi ke kota para wali Allah (dikatakan oleh setengah perawi sebagai kota Nihawand, yang berada di wilayah Hamadan di Iran). Tujuh orang lelaki itu adalah wali-wali Allah berpangkat an-Nujaba’. Ketika seorang dari mereka itu meninggal dunia, tempatnya telah digantikan oleh seorang padri Nasrani dari al-Qustantiniyyah (yakni kota Constantinople, yang sekarang ini pula dikenal sebagai kota Istanbul) yang baru saja memeluk agama Islam di tangan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pada malam itu. Dan lelaki yang telah membawa mayat itu keluar pula adalah al-Khadhir alaihissalam.

(Kisah ini telah diceritakan oleh asy-Syaikh Abu al-Hasan al-Baghdadi hanya selepas asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sudah meninggal dunia, karena asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah melarangnya berbuat demikian selagi asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani masih hidup.)


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Ada seorang wali Allah bernama asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji. Dia telah dikurniakan oleh Allah beberapa karomah. Oleh karena itu, dia pernah merasa besar diri. 

Pada suatu hari, ketika dia sedang mengajar dari atas kursi tingginya, asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji telah berkata bahwa di antara wali-wali Allah, dia adalah seumpama seekor burung kurki (burung yang mempunyai leher panjang), yakni menandakan yang asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji itu adalah seorang wali Allah yang besar kadarnya.

Tiba-tiba, salah seorang lelaki dari para hadirin di situ, telah bangun dan menegur asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji. Dia telah meminta asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji ditinggalkan saja seorang diri bersamanya.

asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji pun memandang kepada lelaki itu dengan satu tilikan rohani. Dia telah mendapati bahwa tidak terdapat sehelai bulu pun di atas badan lelaki itu, melainkan dianya sedang diliputi cahaya yang besar dari inayah Allah. asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji pun meminta lelaki itu duduk dan bertanya nama guru lelaki itu. Lelaki itu telah menjawab bahwa gurunya ialah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang tinggal di kota Baghdad.

Maka berkata pula asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji, “Tiada aku mendengar akan sebutan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu melainkan di atas bumi saja. Aku telah berdiri selama 40 tahun di pintu dargah (berasal dari perkataan Bahasa Parsi yang berarti serambi istana atau halaman muka rumah) ketuhanan. Aku tidak pernah melihat dia masuk ataupun keluar.”

Kemudian asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji telah berkata pula kepada sekumpulan murid-muridnya, “Engkau semua mesti pergi ke Baghdad, dan berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Katakan kepadanya, “asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji berkirim salam kepada tuan guru. Dia ingin menyatakan bahwa dia telah berdiri selama 40 tahun di pintu dargah ketuhanan, namun dia tidak pernah melihat tuan guru masuk ataupun keluar melaluinya.””

Ketika asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji sedang menuturkan kata-kata yang membesarkan dirinya itu, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula sedang berada di dalam majlisnya di kota Baghdad. Namun dia telah dapat mendengar kata-kata asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji itu.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun mengutuskan beberapa orang lelaki yang sedang duduk di dalam majlis asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, pergi ke Thafsunj dengan segera untuk berjumpa dengan asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berpesan kepada mereka, “Katakan kepadanya bahwa aku berkirim salam kepada dirinya. Katakan kepadanya bahwa dia hanya duduk di pintu dargah. Dan mereka yang duduk di pintu dargah, tidak dapat melihat orang yang berada di pintu Hadhrah. Dan mereka yang berada di pintu Hadhrah, tidak dapat melihat orang yang berada di makhda‘ (juga disebut mikhda‘ atau mukhda‘, yang berarti Bilik Tidur). Sedangkan aku berada di makhda‘. Aku masuk dan keluar melalui pintu sirr, yakni satu tempat yang tiada dapat dia melihat akan daku. Dan sebagai tanda benarnya kata-kataku, katakan kepadanya bahwa dia telah diberikan persalinan ridha, yang telah dia peroleh melalui tanganku. Dan lagi, dia telah diberikan tasyrif pada malam tasyrif al-fath, juga melalui tanganku. Dan lagi, telah diberikan juga kepadanya baju wilayah di hadapan dua belas ribu orang wali Allah, yakni baju hijau yang telah disulam dengan Surah al-Ikhlas. Itu pun telah dia peroleh melalui tanganku.”

Apabila para utusan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dari kota Baghdad itu sedang berada di pertengahan perjalanan, mereka telah bertemu dengan para utusan asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji. Maka kumpulan utusan dari asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji itu pun berpatah balik, dan telah mengiringi kumpulan utusan dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pergi bertemu dengan asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji.

Setelah menerima kata-kata dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani tadi, maka berkatalah pula asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji, “Memang benarlah kata-kata asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia adalah as-Sultan bagi segala wali Allah pada masa ini. Pemerintahan segala wali Allah berada di tangannya.” (5)


Telah bercerita asy-Syaikh Abu Abdullah Muhammad ibn Abu al-Fath al-Harawi:

Aku telah menjadi pelayan kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani selama 40 tahun. Aku lihat setiap kali wuduknya batal, dia akan serta-merta mengambil wuduk yang baru dan akan bersholat sunat dua rakaat. Dia bersholat Subuh dengan wuduk Sholat Isyak. Selesai Sholat Isyak, dia akan memasuki bilik khalwatnya dan mengasingkan dirinya dari manusia, hingga ke waktu fajar, barulah dia keluar.

Pernah al-Khalifah (dari Kerajaan Bani al-Abbas) datang untuk bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pada malam hari, tetapi tiada dapat dia berbuat demikian, melainkan selepas masuk waktu fajar.


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Salah satu dari al-karomah yang telah dikurniakan oleh Allah Ta‘ala kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ialah badan dan pakaiannya tidak dihinggapi lalat. Pada suatu hari, dia telah ditanya oleh seorang tetamunya mengenai keadaan ini.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menjawab, “Apa yang akan diperbuat oleh lalat pada tubuhku, sedangkan aku ini bersih, serta tiada pada diriku satu benda pun dari kekotoran dunia dan tiada pula dari kemanisan akhirat?”


Telah bercerita asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti:

Aku telah pergi ke rumah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani diiringi asy-Syaikh Abu Abdullah Muhammad ibn Abu al-Ghana’im al-Husaini. Tiba-tiba kami ternampak seorang lelaki sedang terbaring di dalam keadaan terlentang, di ruang antara bilik dan pintu rumah.

Lelaki itu telah berkata kepadaku, “Tolonglah berikan syafa‘ah-mu bagi pihakku di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.”

Kami pun masuk dan bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Setelah aku terangkan permintaan lelaki itu kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dia pun memaafkan lelaki itu. Kami pun keluar dan memberitahu lelaki itu. Lelaki itu lalu bangun dan keluar dari rumah itu melalui tingkap dan terus terbang di udara.

Setelah itu, kami pun masuk menemui asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan bertanyakan keadaan lelaki tadi.

Menurut asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, lelaki itu sedang terbang di udara apabila dia mula merasa bangga diri dan telah berkata bahwa di kota Baghdad, tidak ada seorang wali Allah pun sepertinya. “Maka aku telah hilangkan karomah-nya itu. Dan kalaulah tidak karenamu, wahai Ali, tidaklah aku kembalikan karomah-nya itu kepadanya.”


Telah bercerita seorang pengikut asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani:

Pada suatu hari Jumaat, dalam tahun 550 Hijrah, aku telah pergi ke masjid bersama-sama asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani untuk bersholat Jumat. Aku telah merasa heran karena tiada seorang manusia pun yang telah mengucapkan salam kepadanya. Aku telah bertanya di dalam hatiku, apakah sebabnya?

Baru saja fikiran tersebut terlintas di hatiku, tiba-tiba asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menoleh ke arahku, sambil tersenyum. Dengan serta-merta, orang banyak telah datang dengan berebut-rebut untuk bersalam dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, sehingga aku telah terpisah darinya. Dan hal ini telah menimbulkan tanda tanya di dalam diriku.

Selepas beberapa waktu kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata kepadaku, “Apabila aku ingin mengumpulkan manusia, mereka semua akan berkumpul, dan jika aku inginkan yang sebaliknya, itu pun akan terjadi.”


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Ada seorang ‘Alim yang terkenal di waktunya bernama asy-Syaikh Abu al-Faraj Jamaluddin ibn al-Jauzi. Pada suatu hari, dia telah menghadiri sebuah majlis asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang sedang memberikan tafsir bagi sepotong ayat al-Quran. Dia telah memberikan sebanyak 11 tafsir yang berlainan. Asy-Syaikh Abu al-Faraj al-Jauzi telah ditanya orang, sama ada dia mengetahui kesemua 11 tafsir yang berlainan itu. Asy-Syaikh Abu al-Faraj al-Jauzi telah menjawab, ya.

Kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah meneruskan lagi sehingga mencapai 40 tafsir yang berlainan. Dalam keadaan penuh takjub, asy-Syaikh Abu al-Faraj al-JauiÏ telah mengaku yang dia tidak mengetahui segala tafsir-tafsir selepas tafsir yang kesebelas itu.

Kemudian, telah berkata pula asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Sekarang ini, aku ingin meninggalkan segala kata-kata dan masuk pula ke dalam Hal : Tiada tuhan melainkan Allah, Muhammad itu pesuruh Allah (La ilaha illallah, Muhammadur rasulullah).”

Maka para hadirin di majlis itu pun telah dilanda Hal, sehingga ada yang telah menggeletar badannya, termasuk asy-Syaikh Abu al-Faraj al-Jauzi, yang dalam keadaan dilanda Hal, telah mengoyak-ngoyakkan pakaiannya.

 

Sekumpulan pengamal toriqoh sedang berdzikir berdekatan dengan kubur asy- asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sehingga mereka dilanda Hal 


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, seorang Muslim telah bertengkar dengan seorang Nasrani mengenai kebesaran nabi masing-masing. Orang Nasrani itu telah mengatakan yang Isa alaihissalam adalah lebih besar karena dia mampu menghidupkan orang yang sudah mati.

Maka mereka berdua pun telah dibawa oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ke satu kawasan perkuburan. Apabila sampai di situ, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berdiri di sisi sebuah kubur dan telah berkata kepada mayat di dalamnya, “Bangkitlah dengan izin Allah.” Tiba-tiba, tanah di kubur itu telah bergerak-gerak dan mayat itu telah hidup semula.

Setelah melihat peristiwa yang mengkagumkan ini, orang Nasrani itu pun mengaku kalah, karena menurutnya, jika peristiwa Isa alaihissalam dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati, sudah dianggap oleh orang-orang Nasrani sebagai satu pencapaian yang telah dijadikan satu kebanggaan, bagaimana pula halnya dengan nabi orang-orang Islam yakni Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam, yang mana seorang lelaki Salih dari umatnya saja pun sudah mampu untuk berbuat seperti Isa alaihissalam? (6)


Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Hasan Ali ibn Idris al-Ya‘qubi:

Pada tahun 550 Hijrah, aku telah dibawa oleh asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti untuk berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia telah berkata kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Ini adalah pelayanku yang setia. Namanya Ali.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah melucutkan jubah di atas badannya dan memakaikan jubah itu di atas badanku. Kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata kepadaku, “Wahai Ali, engkau kini telah diberikan pakaian kesehatan.”

Selama enam puluh lima tahun selepas aku memakai jubah itu, aku tidak pernah terkena  penyakit.

Di waktu yang lain, pada tahun 560 Hijrah, sekali lagi aku telah dibawa oleh asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menundukkan kepalanya untuk beberapa ketika. Tiba-tiba, aku terlihat (secara rohani) satu cahaya keluar dari tubuhnya dan cahaya itu telah menyentuh tubuhku. Di saat itu, aku telah melihat keadaan orang-orang yang sudah mati di dalam kubur-kubur mereka. Aku juga telah dapat melihat para malaikat di tempat mereka masing-masing, dan mendengar mereka bertasbih kepada Allah di dalam berbagai-bagai bahasa. Aku juga telah dapat membaca tulisan-tulisan di atas kening-kening manusia. Banyaklah perkara-perkara penting yang telah disingkapkan kepadaku.

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata, “Terimalah saja semua perkara ini dan janganlah engkau merasa takut.”

Kemudian, telah berkata pula asy-Syaikh Ali ibn al-Hiti kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Ya saiyidi, aku khuatir dia akan kehilangan akalnya karena perkara-perkara ini.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pun menepuk dadaku, dan aku telah merasa sesuatu seperti sebongkah besi terbentuk di dalam batinku. Maka aku tidak berasa takut lagi melihat segala perkara-perkara ghaib itu. Aku telah mendengar bunyi tasbih para malaikat, dan sehingga kini, aku masih lagi disingkapkan jalan-jalan ‘Alam al-malakut, hasil dari menerima sentuhan cahaya itu. (7)


Telah bercerita asy-Syaikh Syihabuddin Umar as-Suhrawardi:

Ketika umurku masih muda, aku suka mempelajari ilmu kalam. Banyak kitab mengenai ilmu ini yang telah aku hafal, dan aku telah menjadi seorang ahli baginya. Bapak saudaraku (yakni asy-Syaikh Siya’uddin Abu an-Najib ‘Abdul Qahir as-Suhrawardi) telah melarangku dari membacanya (yakni membaca kitab-kitab ilmu kalam), tetapi aku tidak menghiraukan larangannya itu. Pada suatu hari, aku telah dibawanya pergi menziarahi asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Di dalam perjalanan itu, bapak saudaraku telah berkata kepadaku, “Allah telah berfirman di dalam al-Quran (Surah al-Mujadalah ayat 12, yang bermafhum) “Wahai orang-orang yang beriman, apabila engkau ingin berbicara bersama ar-Rasul, sebelum engkau bertemu dengannya, berikanlah sedekah.” Dan kita ini, sedang  di dalam perjalanan untuk bertemu dengan seorang lelaki yang hatinya diliputi penuh dengan kehadiran Allah. Beradab-sopanlah engkau di hadapannya nanti, agar engkau menerima barakah.”

Sesampainya kami di situ, bapak saudaraku telah berkata kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Ya saiyidi, ini adalah anak saudaraku, Umar. Dia ini sedang sibuk mempelajari ilmu kalam. Aku telah melarangnya, tetapi dia masih meneruskannya.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata kepadaku, “Wahai Umar, kitab-kitab yang manakah yang telah engkau hafal?”

Aku telah menjawab, “Kitab sekian-sekian, dan juga kitab sekian-sekian.”

Setelah aku habis menjelaskannya, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah meletakkan tangannya yang mulia itu di atas dadaku. perlahan saja dia mengangkat tangannya itu, seketika itu aku tidak ingat sedikit pun dari kandungan kitab-kitab itu. Allah telah melenyapkan semua ingatanku mengenainya, dan sebagai gantinya, Allah telah meletakkan ilmu laduni di dalam dadaku.

Aku kemudian telah berdiri di hadapan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, dan tiba-tiba aku mendapati diriku sedang mengucapkan kata-kata hikmah.

Telah berkata pula asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Wahai ‘Umar, engkau akan menjadi syaikh termasyhur yang terakhir dari Iraq.”


Telah bercerita asy-Syaikh Najmuddin an-Naqlisi, seorang anak murid kepada asy-Syaikh Syihabuddin Umar as-Suhrawardi:

Aku telah memasuki khalwah di Baghdad, di bawah pengawasan asy-Syaikh Syihabuddin Umar as-Suhrawardi. Pada hari keempat puluh, aku telah melihat satu pemandangan rohani, di mana aku telah menyaksikan asy-Syaikh Syihabuddin Umar as-Suhrawardi sedang berada di atas sebuah gunung yang tinggi, dikelilingi oleh permata-permata yang indah di sekelilingnya. Asy-syaikh telah mengambil permata-permata itu dengan tangannya dan kemudian menaburkan permata-permata itu kepada orang banyak yang telah datang dengan berebut-rebut untuk mengambilnya. Dan apabila permata-permata itu kehabisan, terbit pula satu mata air yang mengeluarkan permata-permata baru.

Di malam hari, aku telah keluar dari bilik khalwah itu dan pergi berjumpa dengan asy-Syaikh, sambil berniat untuk menceritakan pengalaman rohani yang telah aku alami itu. Belum sempat aku membuka mulutku, dia telah berkata dahulu kepadaku, “Wahai anakku, sebelum engkau menceritakan pengalaman-pengalamanmu itu kepadaku, biarlah aku katakan dahulu kepadamu bahwa semua yang telah engkau saksikan itu adalah benar. Seperti pengalaman-pengalaman lain, ia sebenarnya adalah sebagian dari pemberian yang telah diberikan oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani kepadaku, sebagai ganti bagi ilmu kalam.”


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Ada seorang wanita dari kota Baghdad yang telah mendengar tentang kemasyhuran dan kehebatan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia telah datang membawa anak lelakinya yang masih muda untuk berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Wanita itu telah meminta asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mendidik anak lelakinya itu supaya menjadi seorang lelaki yang Salih, dan yang dapat menuruti jejak langkah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sendiri.

Permintaannya itu telah diterima oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang kemudiannya telah mengajar pemuda itu mengenai zuhud, taqwa dan cara menundukkan hawa nafsu.

Pada suatu hari, wanita itu telah datang untuk menjenguk keadaan anak lelakinya itu. Dia melihat tubuh anak lelakinya itu telah menjadi kurus kering dan kulitnya pula kelihatan pucat lesu. Dan pemuda itu pula sedang memakan sekeping roti kering.

Si ibu lalu berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dia telah terperanjat karena mendapati asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang duduk di dalam keadaan yang agak mewah dan sedang memakan daging ayam.

Si ibu pun bertanya, “Wahai tuan guru, bagaimanakah tuan guru boleh makan daging ayam, sedangkan anak hamba, yang hamba tinggalkan di dalam jagaan tuan guru pula, sedang berada di dalam kelaparan, dan hanya diberi makan sekeping roti kering saja?”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah meletakkan tangannya ke atas tulang-tulang ayam itu lalu berkata, “Bangkitlah dengan izin Allah, Yang Menghidupkan tulang-tulang yang telah hancur luluh (mafhum dari potongan ayat ke-78, Surah Ya Sin).”

Apabila asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani mengangkat tangannya, tulang-tulang itu tiba-tiba telah bertukar menjadi ayam semula.  Ayam itu telah bangun dan berlari-lari mengelilingi meja dan kemudian telah berkata, “Aku menjadi saksi bahwa tiada tuhan melainkan Allah, dan Muhammad itu pesuruh Allah, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu wali Allah.”

Kemudian asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah menoleh ke arah wanita itu dan telah berkata kepadanya, “Jika anak lelakimu telah mampu melakukan apa yang telah aku lakukan tadi, maka barulah boleh dia makan apa saja yang disukainya.” (8)


Telah bercerita asy-Syaikh Abu al-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Qurasyi al-Jili:

Pada suatu hari aku telah mengadu kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, “Wahai tuan guru, aku ini seorang yang sangat miskin. Apabila aku makan di pagi hari, maka pada malam hari, aku tidak lagi mempunyai makanan untuk dimakan. Begitu juga keadaan keluargaku.”

Kemudian, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah memberiku sebuah bakul (keranjang) kecil, yang mempunyai tutup di atasnya. Dia telah berkata, “Ambillah benda ini. Tutupnya biarkan senantiasa terikat dan gantungkan ia di tempat yang tinggi. Bila engkau ingin makan, maka ambillah dari arah tepinya. Ambillah dengan kadar yang mencukupi keperluan keluargamu. Janganlah engkau buka tutupnya, walaupun untuk sekali saja.”

Aku pun melakukan seperti yang telah disuruh oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Setiap kali aku ingin makan, aku akan mengambil makanan dari bakul itu, yang cukup untuk keperluan keluargaku. Isinya tidak pernah kehabisan. Selama lima tahun, aku tidak pernah membeli  makanan pun.

Tetapi sayangnya pada suatu hari, isteriku, karena sifat ingin tahunya, telah membuka tutup bakul itu dan telah menjenguk isi kandungannya. Seminggu kemudian, isi bakul itu pun habis. Aku telah kembali berada di dalam kesulitan hidup seperti dahulu.

Oleh itu, aku pun pergi berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dan telah menceritakan keadaan yang telah menimpa diriku. asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani telah berkata kepadaku, “Aku sudah pun melarang engkau dari membuka tutup bakul itu. Jika engkau menjauhi laranganku itu, sampai engkau mati pun engkau akan senantiasa memiliki makanan yang mencukupi.”  (9)


Telah diceritakan di dalam sebuah riwayat:

Pada suatu hari, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani (yang pada masa itu masih muda dan belum mencapai maqam kerohanian yang tertinggi), telah pergi bersama-sama dua orang pelajar lain, untuk berjumpa dengan asy-Syaikh Abu Ya‘qub Yusuf ibn Ayyub al-Hamadani, yakni seorang Qutb al-Auliya’ dan Ghauth yang terkenal (dilahirkan pada tahun 440 Hijrah dan meninggal dunia pada tahun 535 Hijrah).

Sebelum sampai ke tempat wali Allah ini, pelajar yang pertama telah berkata, “Apabila aku berdepan dengan asy-Syaikh Yusuf al-Hamadani nanti, akan aku tanyakan dia satu soal yang tidak akan dapat dijawabnya.”

Berkata pula pelajar yang kedua, “Aku akan tanyakan dia satu soal, kemudian aku akan lihat bagaimana dia menjawabnya.”

asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula telah berkata, “Semoga Allah memelihara diriku dari mengajukan  soal kepada seorang wali Allah seperti asy-Syaikh Yusuf al-Hamadani. Apabila aku bertemu dengannya nanti, aku akan hanya meminta dia mendoakan barakah untukku.”

Apabila mereka bertiga bertemu dengan si wali Allah itu, belum pun sempat pelajar yang pertama berkata apa-apa, dia telah dimarahi terlebih dahulu oleh asy-Syaikh Yusuf al-Hamadani, yang telah berkata kepadanya, “Berani engkau wahai si fulan, coba menanyakan aku satu soal dengan niat untuk memperbodoh-bodohkan aku. Soalmu itu adalah sekian-sekian . . . dan jawabannya pula adalah sekian-sekian . . . Aku lihat api kekufuran bernyala-nyala di hatimu.”

Kemudian, kepada pelajar yang kedua, dia telah berkata, “Dan engkau pula, wahai si fulan, engkau ingin bertanya sesuatu dan kemudian melihat bagaimana aku akan menjawabnya. Soal engkau adalah sekian-sekian . . . dan jawabannya adalah sekian-sekian . . . Aku lihat engkau akan diuji oleh harta yang banyak karena ketidaksopananmu kepadaku.”

Dan kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula, asy-Syaikh Yusuf al-Hamadani telah berkata, “Marilah dekat, wahai anakku Abdul Qadir. Aku akan mendoakan barakah untukmu. Allah dan rasulNya ridha dengan adabmu yang sempurna terhadapku. Aku lihat pada satu hari kelak, engkau akan duduk di satu tempat yang tinggi di Baghdad, memberi pelajaran dan mendidik orang banyak. Dan engkau akan berkata bahwa kakimu berada di atas tengkuk setiap wali Allah. Aku lihat setiap wali Allah yang hidup di masa itu akan menundukkan kepalanya kepadamu karena ketinggian maqam kerohanianmu.”

Beberapa tahun kemudian, segala perkara yang telah diramalkan oleh asy-Syaikh Abu Ya’qub Yuuuf ibn Ayyub al-Hamadani itu telah benar-benar terjadi.

Pelajar yang pertama tadi telah menganut agama Kristian setelah dia jatuh cinta dan menikah dengan seorang puteri raja Rum Timur (King of Byzantium).

Pelajar yang kedua pula telah menjadi Menteri Wakaf, yang telah  bertanggungjawab mentadbir harta-harta kerajaan. Karena dia terlalu sibuk mengendalikan segala harta yang banyak itu, yang telah datang dari seluruh pelosok bumi, dia tidak mempunyai waktu lapang yang cukup untuk beribadat dengan sempurna.

Manakala asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula (sebagaimana yang telah disebutkan terdahulu) telah menjadi ketua segala wali-wali Allah (Sultan al-Auliya’) untuk zamannya.

Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya konsep adab itu bagi mereka yang sedang mengikuti jalan kerohanian.

Kubah di bangunan yang menempati kubur asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani


Catatan (1)

Telah sampai kepada kami lebih dari dua ratus buah kisah karomah yang dikaitkan dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, tetapi di dalam tulisan ini, kami akan memuatkan tidak lebih dari empat puluh saja dari segala kisah karomah-nya itu.

Catatan (2)    

Namanya yang lebih lengkap ialah asy-Syaikh Adi ibn Musafir ibn Isma‘il ibn Musa ibn Marwan ibn al-Hasan al-Hakkari. Asy-Syaikh Adi ibn Musafir adalah pengasas at-Thariqah al-Adawiyyah. Dia telah meninggal dunia pada tahun 555 Hijrah ketika berumur 90 tahun, di satu tempat yang bernama al-Hakkar di Iraq. (Ini juga berarti yang umurnya adalah lebih tua sedikit dari asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.)

Asy-Syaikh Adi ibn Musafir adalah di antara wali-wali Allah yang telah merendahkan leher mereka setelah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani membuat pengumuman yang tapak kakinya berada di atas leher setiap wali Allah.

Asy-Syaikh Adi ibn Musafir juga adalah seorang lelaki yang amat kuat bermujahadah. Dan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula pernah memujinya dengan berkata, “Andai kata kenabian itu (an-nubuwwah) dapat dicapai melalui jalan mujahadah, sudah tentu asy-Syaikh Adi ibn Musafir telah mencapainya.”

Asy-Syaikh Adi ibn Musafir juga adalah seorang wali Allah yang telah dikurniakan beberapa karomah yang menakjubkan. Dan ini telah berlaku sejak dia masih kanak-kanak .

Bapak kepada asy-Syaikh Adi ibn Musafir, yakni asy-Syaikh Musafir ibn Isma‘il, pernah pergi ke hutan dan telah memencilkan dirinya di sana selama beberapa tahun. Pada suatu malam, dia telah terdengar satu suara ghaib yang telah berkata kepadanya, “Wahai Musafir, pulanglah engkau sekarang ini, dan bergaullah engkau dengan isterimu. Seorang wali Allah akan dilahirkan hasil dari pergaulanmu itu, dan kemasyhurannya nanti akan tersebar luas di Timur dan di Barat.”

Pada suatu hari, ketika asy-Syaikh Adi ibn Musafir masih di dalam kandungan perut ibunya, asy-Syaikh Maslamah as-Saruji dan muridnya bernama asy-Syaikh Uqail Ali al-Manbiji telah bertolak ke satu tempat. Di dalam perjalanan itu, mereka telah melintasi sebuah desa di mana ibu kepada asy-Syaikh Adi ibn Musafir sedang mengambil air dari sebuah danau.

Asy-Syaikh Maslamah as-Saruji telah bertanya kepada muridnya itu, “Adakah engkau melihat apa yang aku lihat?”

Bertanya pula asy-Syaikh Uqail Ali al-Manbiji, “Dan apakah itu, ya saiyidi ?”

Asy-Syaikh Maslamah as-Saruji telah menjawab, “Satu cahaya yang telah menjulang naik ke langit dari perut wanita itu!”

Berkata pula asy-Syaikh Uqail Ali al-Manbiji, “Kalau begitu, kita jadikan dia anak angkat kita, Adi. Marilah kita ucapkan salam ke atasnya.”

Mereka berdua pun pergi berjumpa dengan wanita itu, dan telah berkata kepada kandungan di dalam perutnya, “Assalamu alaik, wahai Ada. Assalamu alaik, wahai wali Allah.”

Selepas itu, mereka berdua pun meneruskan perjalanan mereka.

Beberapa tahun kemudian, mereka berdua telah melintasi desa itu sekali lagi. Mereka telah terlihat sebuah kumpulan kanak-kanak yang sedang bermain-main. Di antara mereka, ada seorang budak lelaki yang telah digelar dengan nama yang lain oleh rakan-rakannya, tetapi budak lelaki itu tetap mengatakan namanya ialah Adi ibn Musafir.

Kedua-dua orang syaikh itu pun mengucapkan salam kepada budak lelaki itu, tetapi budak lelaki itu telah menjawab salam itu sebanyak tiga kali. Mereka telah bertanya pula, kenapa budak itu telah menjawab sebanyak tiga kali, dan bukan sekali saja.

Budak lelaki itu telah menjawab, “Karena tuan-tuan syaikh telah pun mengucapkan salam sebanyak dua kali semasa aku masih berada di dalam kandungan perut ibuku. Dan kalaulah tidak karena merasa segan dengan Isa alaihissalam, sudah tentu aku akan menjawab ucapan kedua-dua salam itu ketika aku masih di dalam kandungan perut ibuku lagi.”

Apabila dia sudah dewasa, asy-Syaikh Adi ibn Musafir telah pergi berguru dengan asy-Syaikh Uqail Ali al-Manbiji.

Pada suatu hari, sesudah dia menjadi seorang guru, asy-Syaikh Adi ibn Musafir telah diziarahi oleh sekumpulan pelawat. Di antara mereka ada seorang lelaki bernama Husain al-Khatib. Asy-Syaikh Adi ibn Musafir telah berkata kepadanya, “Wahai Husain, marilah engkau dan kumpulan engkau, ikut kami pergi naik ke atas bukit untuk mengalihkan batu-batu itu untuk dibuat pagar bagi taman ini.”

asy-Syaikh Adi ibn Musafir pun bangun dan semua hadirin telah mengikutnya. Dia telah pergi naik ke atas sebuah bukit dan telah memecahkan beberapa bongkah batu, yang kemudian dibiarkannya jatuh bergulingan dari atas bukit itu.

Tiba-tiba, ketika batu-batu itu sedang diangkat oleh para pelawat itu, sebongkah batu besar telah terjatuh dan menghempas seorang dari para pelawat itu. Ini telah menyebabkan orang itu mati dengan serta-merta di situ. Maka Husain al-Khatib pun berteriak, “Ya saiyidi, si Fulan anak si Fulan telah mati.”

asy-Syaikh Adi ibn Musafir pun turun dari atas bukit itu dan pergi ke tempat orang yang telah mati itu. Kemudian, asy-Syaikh Adi ibn Musafir telah mengangkat tangannya dan berdoa kepada Allah. Ketika itu juga, dengan izin Allah, orang yang telah mati itu telah bangkit semula dan telah terus berjalan, seolah-olah tidak ada apa-apa perkara pun yang telah menimpa dirinya.

 

 

Catatan (3) 

Cerita ini mempunyai beberapa versi. Ada satu versi di mana peristiwa ini telah berlaku kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani ketika dia sedang berjalan seorang diri. Dan ada pula versi di mana cerita ini telah berlaku di dalam hutan, bukan di padang pasir.

Perbedaan setting and details juga berlaku kepada cerita-cerita lain di dalam tulisan ini. Yang penting bukanlah setting and details bagi sebuah cerita itu, tetapi the moral behind the story.

Cerita ini adalah satu ilustrasi yang menunjukkan bahwa siapa yang ingin mempelajari ilmu tasawuf dan memasuki suatu toriqoh, perlulah mempelajari ilmu syariat terlebih dahulu. Karena, tanpa asas ilmu syariat yang kukuh, dia mungkin akan terpedaya oleh bermacam-macam tipu-daya syaitan.

Dan perkara memiliki dasar ilmu-ilmu agama yang benar dan kukuh adalah sebegitu penting, sehingga pengarang-pengarang kitab-kitab agama seperti al-Imam Abu Hamid al-Ghazali dan al-Imam al-Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad, telah beberapa kali memulai kitab-kitab tulisan mereka dengan bab kelebihan ilmu, sebelum mereka membincangkan beberapa amalan yang dituntut di dalam agama Islam. Yakni, memiliki ilmu agama yang benar dan kukuh adalah penting sebelum seseorang memperbanyakkan amal ibadatnya.

Dan kisah ini juga menandakan betapa pentingnya bagi seseorang murid itu untuk mencari dan mendampingi seorang guru sufi yang tulen, yang memiliki ilmu agama yang dalam dan pengalaman rohani yang luas. Cerita-cerita seperti ini, pernah juga berlaku kepada guru-guru sufi yang lain.

Pada suatu hari, beberapa orang murid telah datang bertemu dengan asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid (meninggal dunia pada tahun 177 Hijrah) dan mereka telah meminta izin untuk berguru dengannya. Maka asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid pun mula mengajarkan mereka beberapa perkara seperti cara-cara untuk bermujahadah, berzuhud dan beberapa jenis ibadat tambahan. Tetapi, setelah mereka melakukan itu semua, mereka tidak lagi bergaul dengan asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid.

Maka oleh karena itu, setelah beberapa waktu berlalu, asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid pun bertemu dengan salah seorang dari mereka, dan bertanyakan khabar. Dengan bangganya, si murid telah berkata bahwa pada setiap malam, dia dan rakan-rakannya dapat masuk ke syurga dan memakan buah-buahannya.

asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid pun meminta si murid itu membawanya ke tempat yang dipanggil syurga itu. Maka dia pun dibawa ke satu tempat di padang pasir.

Apabila hari sudah gelap, tiba-tiba muncullah sekumpulan makhluk berupa manusia-manusia yang berpakaian hijau (yang dianggap oleh si murid sebagai kumpulan malaikat), dan muncul juga kebun-kebun dengan buah-buahan yang masak ranum.

asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid telah memerhatikan semua itu dengan teliti, dan telah mendapati yang kumpulan makhluk itu mempunyai kuku (hoofs) di kaki mereka, seperti kuku binatang-binatang tunggangan. Oleh itu, asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid telah mengetahui yang kumpulan makhluk itu sebenarnya adalah syaitan.

Setelah berada beberapa waktu di situ, murid-murid itu ingin pulang, tetapi mereka telah ditegur oleh asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid. Dia telah berkata, “Kamu semua hendak pergi ke mana? Bukankah Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam telah berkata bahwa siapa yang masuk ke dalam syurga, akan duduk kekal di dalamnya dan tidak perlu keluar?”

Maka mereka pun bermalam di situ dan telah tidur sehingga waktu pagi. Apabila tersedar dari tidur, mereka telah merasa terperanjat karena mendapati diri mereka sedang berada di atas timbunan tahi binatang-binatang tunggangan!

Murid-murid itu pun bertaubat dan telah kembali bergaul semula dengan asy-Syaikh Abdul Wahid ibn Zaid.

Catatan (4) 

Walaupun kisah ini adalah mengenai karomah asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, ada juga pelajaran-pelajaran lain yang kita peroleh dari kisah ini. Salah satu darinya ialah, sebelum memasuki suatu toriqoh, si murid perlu mempelajari ilmu fiqh terlebih dahulu dengan sempurna sehingga dia dapat menentukan yang segala amal ibadatnya akan diterima oleh Allah. Yakni, si murid hendaklah menjauhkan dirinya dari perkara-perkara yang boleh menyebabkan amal ibadatnya ditolak oleh Allah. Dan salah satu dari perkara-perkara ini ialah mempunyai asal rizky yang tidak halal.

Kami pernah bertemu dengan seorang lelaki yang mendakwa telah berusaha lebih dari sepuluh tahun, mencari-cari pembukaan rohani. Namun selama waktu itu, dia telah gagal. Banyak guru-guru yang telah ditemuinya, tetapi mereka bukanlah jenis guru-guru sufi yang tulen. Guru-guru sufi tiruan ini telah mengajarkannya beberapa amalan tertentu. Tetapi amalan-amalan ini tidak mendatangkan pembukaan rohani yang dikehendakinya.

Sebab yang sebenar dia masih terhijab, ialah manusia ini bekerja di dalam sebuah institusi yang mengamalkan riba, yakni satu perkara yang dianggap sebagai satu dosa besar di dalam agama Islam. Yang perlu dilakukan oleh manusia ini terlebih dahulu, ialah berhenti dari bekerja di institusi itu, dan mencari pekerjaan lain, yang asalnya seratus persen halal. Barulah dia boleh mencari pembukaan rohani.

Seorang manusia yang sedang berusaha untuk memperoleh peningkatan rohani, adalah seumpama seorang manusia yang sedang mengangkat air dari sebuah danau untuk dibawa ke kolah. Dia mestilah menentukan timba yang digunakannya untuk membawa air itu tidak bocor. Jika timba itu bocor, akan menjadi sia-sialah perbuatan si manusia yang membawa air itu.

Begitulah juga dengan keadaan seorang manusia yang bekerja mencari rizky dari asal yang tidak halal, tetapi sedang mencari pembukaan rohani. Keadaannya adalah seperti keadaan seorang manusia yang mengangkat air dengan menggunakan timba yang bocor !

Dan yang kami maksudkan dengan asal rizky yang tidak halal bukanlah terbatas kepada rizky yang berasal dari riba saja. Rizky yang tidak halal termasuk juga rizky yang asalnya bercampur-campur dengan perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Termasuk di dalam kategori ini, usaha-usaha di mana di dalamnya terdapat eksploitasi, penipuan atau pendholiman.

Kebanyakan manusia tahu bahwa rizky hasil dari mencuri atau merampok itu adalah haram. Tetapi sayangnya, mereka akan hanya memandang enteng saja kepada hasil rizky yang berhasil dari penipuan, atau eksploitasi, atau pendholiman.

Sebagai satu contoh, lihatlah kepada situasi orang yang bekerja di dalam sebuah gedung yang mengadakan jualan murah (cheap sales). Semasa jualan murah ini sedang diadakan, para pembeli dijanjikan akan mendapat potongan harga (discount), katakanlah sebanyak dua puluh peratus. Tetapi, kadangkalanya yang berlaku ialah barang-barang itu akan dinaikkan harganya terlebih dahulu sebanyak dua puluh lima peratus, dan harga baru ini akan ditampalkan di atas barang-barang itu. Maka pada musim jualan murah, potongan harga dua puluh peratus akan diberikan berdasarkan harga baru ini. Yakni, sebenarnya jika kita kira betul-betul, harga barang-barang itu adalah sama dengan harganya yang asal.

(Umpamanya, katakanlah barang itu berharga satu ringgit. Dinaikkan harganya dua puluh lima peratus menjadikan harganya yang baru sebagai satu ringgit dua puluh lima sen. Apabila kita darab lapan puluh peratus, yakni setelah mendapat potongan harga dua puluh peratus, dengan harga yang baru yakni satu ringgit dua puluh lima sen, hasilnya adalah tetap satu ringgit!)

Dari itu, rizky yang berasal dari perbuatan seperti ini, adalah rizky yang telah bercampur dengan yang haram, karena asalnya  melibatkan penipuan.

Dan perbuatan sebegini tidak boleh dipandang ringan oleh si murid yang mau melangkahkan kakinya ke dalam toriqoh atau jalan kerohanian. (Lainlah kalau dia sedang mencari pembukaan mistik. Pencapaian mistik atau kebatinan tidaklah sama dengan pencapaian rohani.)

Ada sebuah cerita mengenai asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi:

Pada suatu hari, asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi telah diberitahu mengenai seorang pemuda ganjil, yang dikatakan memiliki pencapaian kerohanian yang menakjubkan, dan telah mendisplinkan dirinya dengan beberapa latihan kerohanian yang berat-berat.

Pada suatu hari, asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi telah pergi melawat pemuda itu. Pemuda itu telah mempelawa asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi menjadi tetamunya untuk tiga hari.

Ketika menjadi tamunya, asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi telah memperhatikan keadaan pemuda itu dengan penuh teliti. Keadaan pemuda itu rupa-rupanya melebihi apa yang telah diceritakan oleh teman-teman asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi sebelum itu. Dia telah menyaksikan pemuda itu berjaga sepanjang malam, dan tidak pernah mengantuk atau beristirahat, walaupun untuk sesaat. asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi telah merasa kagum.

“Aku akan siasat kesini. Aku mesti pastikan yang keadaan pemuda ini benar-benar tulen, atau adakah keadaannya hasil pengaruh dari syaitan. Aku mesti periksa terlebih dahulu dasar bagi perkara ini. Dan dasar bagi sesuatu perkara sebegini, ialah makanan yang dimakan oleh seseorang,” berkata asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi dirinya sendiri.

Setelah diperiksa dengan teliti, asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi telah mendapati bahwa asal makanan si pemuda itu tidaklah benar-benar halal dan suci.

“Allahu Akbar! Asal keadaan rohani pemuda ini adalah pengaruh dari syaitan,” berbisik hati kecil asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi.

Kemudian, dia telah berkata kepada pemuda itu, “Aku telah menjadi tamumu selama tiga hari. Sekarang ini, marilah engkau pula menjadi tamuku untuk empat puluh hari.”

Pemuda itu telah setuju. asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi pun membawa pemuda itu tinggal di rumahnya, dan pemuda itu telah diberi kongsi makanan asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi. Makanan asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi berasal dari titik peluhnya sendiri, dan adalah halal dan suci seluruhnya.

Setelah empat puluh hari berlalu, pemuda itu telah berubah. Segala rasa ekstasi ( wajd ) pemuda itu telah hilang. Segala rasa “rindu” dan “keluh-kesah” pun turut hilang. Pemuda itu tidak lagi berjaga sepanjang malam, dan tidak lagi dia menangis-nangis seperti keadaan sebelumnya

Pemuda itu telah bertanya kepada asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi, “Apakah yang telah engkau lakukan kepadaku?”

asy-Syaikh Ibrahim ibn Adham al-Balkhi telah menjawab, “Sebenarnya, asal makananmu sebelum ini tidaklah benar-benar halal dan suci. Oleh itu, syaitanlah yang telah datang dan yang telah mempengaruhi keadaan dirimu. Sebaik-baik saja makanan yang engkau makan ditukarkan kepada makanan yang benar-benar halal dan suci, segala keadaan kerohanian yang engkau miliki dahulu pun jadi tersingkaplah kebenarannya. Dan sebenarnya, ia semua adalah hasil pengaruh dari syaitan.”

Catatan (5) 

Beberapa waktu kemudian, asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji telah berpesan kepada salah seorang anak lelakinya agar dia pergi berkhidmat kepada asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Setelah asy-Syaikh Abdur Rahman at-Thafsunji meninggal dunia, anak lelakinya itu pun pergi ke kota Baghdad dan telah berjumpa dengan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang telah mengawinkannya dengan seorang anak perempuan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Dari perkawinan ini, muncullah beberapa orang keturunan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani yang telah menjadi wali-wali Allah dan guru-guru yang terkenal di Baghdad di kemudian harinya.

Catatan (6) 

Membanggakan diri karena nabi, atau guru, atau datuk moyang seseorang itu telah melakukan satu mukjizat atau karomah yang lebih besar, adalah perkara yang tidak harus dilakukan oleh para pengikut ilmu tasawuf. Para pengikut ilmu tasawuf itu disuruh agar merendahkan diri, bukan membesarkan diri.

Kami pernah berjumpa dengan beberapa orang pengamal dari sebuah toriqoh, yang dengan bangganya telah menepuk dada mengatakan bahwa toriqoh yang mereka ikuti itu adalah sebaik-baik toriqoh di atas bumi, karena toriqoh yang mereka amalkan itu adalah satu-satunya toriqoh di dunia Islam yang telah diasaskan oleh sebesar-besar wali Allah, yang telah mencapai tingkat tertinggi yang dikenal sebagai puncak Kewalian.

Maka jadilah orang-orang ini terjatuh ke dalam bersifat ujub dan membesarkan diri sendiri, yakni dua sifat yang harus dikikis dari hati murid-murid ilmu tasawuf di peringkat awal lagi, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh al-Imam Abu Hamid al-Ghazali.

Sepatutnya, mereka senantiasa ingat kepada sebuah nasihat yang pernah diberikan oleh seorang guru sufi yang bernama asy-Syaikh Abu Abdur Rahman Hatim ibn Alwan al-Asamm (meninggal dunia pada tahun 237 Hijrah), sebagaimana yang telah disebutkan oleh al-Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi di dalam kitab Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah:

Janganlah engkau tertipu oleh tempat-tempat yang Salih (yakni suci), sebab tiada tempat yang lebih Salih (yakni suci) dari syurga, namun telah menimpa Adam alaihissalam di tempat itu apa yang telah menimpanya (yakni dia telah disuruh keluar).

Janganlah engkau tertipu oleh banyaknya ibadat, karena Iblis setelah amat banyak sekali ibadatnya, telah menimpa dia apa yang telah menimpa dia (yakni dia telah dilaknat oleh Allah).

Dan janganlah engkau tertipu oleh banyaknya ilmu, karena Bal‘am pun mengetahui ia akan nama Allah yang teragung, maka lihatlah apa yang telah menimpanya (yakni dia telah menjadi kafir).

Dan janganlah engkau tertipu karena telah bertemu dengan orang-orang yang Salihin, karena tiada orang yang lebih besar kadarnya dari al-Mustafa (yakni Rasulullah) Sallallahu alaihi wa sallam, tetapi tiada memberikan manfaat perjumpaan mereka dengan baginda, bagi para kerabat dan musuh-musuhnya (yakni banyak yang telah mengingkarinya, seperti bapak saudaranya yang bernama Abu Lahab).

Si murid yang mengikuti ajaran mana-mana toriqoh yang tulen, hendaklah berjaga-jaga dengan rasa ujub di dalam hati, yakni satu sifat yang tercela (madhmumah). Takut-takut nanti terjadi seperti di dalam kisah Azazil (juga disebut Izazil):

Pada suatu masa di zaman dahulu, ada seorang jin bernama Azazil. Dia telah diberikan penghormatan oleh Allah Ta‘ala karena dia telah banyak beribadat. Maka dia telah diberikan kurnia sehingga dapat bergaul dengan kumpulan para malaikat.

Pada suatu hari, apabila Allah memerintahkan kumpulan para malaikat sujud kepada makhlukNya yang bernama Adam alaihissalam, mereka semua telah sujud. Tetapi Azazil pula, telah merasa iri hati lalu enggan.

( Azazil bukanlah seorang malaikat. Ketika itu, Azazil sedang berada dalam kumpulan malaikat, dan perintah itu telah ditujukan kepada mereka yang berada di dalam kumpulan malaikat itu. Sebenarnya, Azazil adalah seorang jin, seperti yang tersebut di dalam al-Quran, ayat 50 Surah al-Kahf.)

Apabila ditanya oleh Allah kenapa dia tidak bersujud, Azazil telah menjawab yang dia telah dicipta dari api, sedangkan makhluk yang disuruh dia bersujud kepadanya itu, yakni Adam alaihissalam, hanya dicipta dari tanah.

Karena kesombongan Azazil ini, dia telah dilaknat oleh Allah, dan dihalau keluar dari tempat yang mulia itu. Dan namanya pula telah ditukar menjadi Iblis.

Maka ini adalah satu iktibar bagi siapa yang merasa ujub, tidak kira sama ada ujub karena asal-usulnya yang dianggap mulia, ataupun ilmu yang dianggap tinggi, ataupun ibadat yang dianggap banyak, ataupun wajah yang dianggap rupawan, ataupun karena apa jua sebab-sebab yang lain.

Yang lebih penting bukanlah merasa bangga dengan orang yang darinya kita mewarisi sesuatu, sama ada harta ataupun ilmu, tetapi yang lebih penting ialah apa yang kita lakukan dengan warisan itu.

Apalah gunanya mengaku mewarisi ilmu dari sebesar-besar sahabat Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam ataupun dari sebesar-besar wali Allah, tetapi cara hidup dan kelakuan si murid itu sangat berbeda, malah bertentangan pula dengan cara hidup si sahabat Rasulullah Sallallahu alaihi wa sallam ataupun si wali Allah itu sendiri.

Catatan (7) 

Asy-Syaikh Abu al-Hasan Ali ibn Idris al-Ya‘qubi telah meninggal dunia pada tahun 619 Hijrah. Sebelum meninggal dunia, dia telah menjadi salah seorang guru sufi yang terbesar di negara Iraq.

Catatan (8) 

Kisah ini menandakan bahwa ketinggian maqam kerohanian yang dimiliki oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani itu telah juga diakui oleh makhluk-makhluk yang lain dari manusia.

Namun, ada juga beberapa perkara lain yang boleh kita peroleh dari kisah ini, karena lazimnya, di dalam kisah-kisah karomah para wali Allah itu, terdapat beberapa iktibar dan juga pelajaran-pelajaran yang tertentu. Salah satu darinya ialah si murid ilmu tasawuf (dilambangkan di sini oleh si ibu) tidak boleh menentukan sesuatu keadaan itu berdasarkan apa yang dapat dilihat oleh mata kasarnya saja.

Orang yang bertasawuf itu bukanlah pada pakaian, atau pada makan minumnya saja. Bertasawuf itu bersangkut-paut dengan urusan rohani, yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar. Yakni, urusan tasawuf itu ialah urusan hati. Dan benarnya atau tidak orang yang mendakwa mengikuti ilmu tasawuf itu, tidak boleh ditentukan dengan pakaian atau makan minum saja. Banyak manusia yang telah tertipu dengan orang-orang yang pada rupa dhohirnya adalah ahli-ahli sufi, tetapi sebenarnya memiliki batin yang sudah rusak.

Dan asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani pula, dengan menunjukkan karomah-nya menghidupkan semula ayam dari tulang-tulang itu, telah menunjukkan bahwa seorang sufi tulen itu bisa dikenali dengan beberapa tanda.

Tanda rohani itu boleh dilihat melalui mata hati. Sedangkan bagi orang-orang yang mata hatinya masih tertutup, seperti keadaan si ibu di dalam kisah ini, mereka boleh melihat (dengan mata di kepalanya) kepada al-karomah yang dapat dilakukan oleh seorang sufi tulen.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa kebanyakan manusia tidak faham dengan apa yang sedang dilakukan oleh seseorang guru sufi. Pada pandangan dhohir, si pemuda itu sedang disiksa dengan tidak membiarkan dia makan sepuasnya, sehingga dia menjadi kurus kering. Tetapi, dari segi kerohanian pula, asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sedang menolong si pemuda itu mengawal dan mendidik nafsunya.

 

 

 

Catatan (9) 

Kisah ini mengajar kita agar tidak mudah terpedaya dengan sifat ingin tahu (mencari rahasia), yakni salah satu dari sifat-sifat yang dianggap tercela (madhmumah).

Banyak manusia yang telah terpedaya dengan memasuki beberapa kumpulan ajaran-ajaran sesat karena mereka ingin mencari “ilmu-ilmu rahasia”. Mereka telah tertipu dan tertarik kepada beberapa orang guru sufi tiruan, karena guru-guru tiruan ini mengajarkan “ilmu-ilmu rahasia”, yang konon adalah harta perbendaharaan yang tersembunyi, yang diketahui hanya oleh wali-wali Allah saja.

Dan guru-guru sufi tiruan ini selalunya menggantikan makna sebenar sesesuatu perkara di dalam agama Islam, dengan satu tafsir yang lebih disenangi oleh nafsu. Mereka telah memutarbalikkan makna sholat, puasa, zakat, dosa, pahala, kiamat, syurga, neraka, malaikat, Allah, rasul, dan beberapa perkara lain, sehingga ada beberapa orang dari pengikut-pengikut mereka yang telah melakukan perkara-perkara yang melanggar syariat Islam tetapi tiada merasa bersalah, karena telah tertipu oleh takrif-takrif dari guru-guru sufi palsu ini.

Si murid yang baru mempelajari ilmu tasawuf hendaklah selalu ingat bahwa mencari rahasia-rahasia itu bukanlah tujuan utama dalam mempelajari ilmu tasawuf dan ilmu toriqoh. Sifat ingin mengetahui rahasia-rahasia adalah di antara sifat-sifat yang tidak digalakkan oleh guru-guru sufi tulen. Mereka telah mengajar murid-murid mereka bahwa sifat ingin tahu (yakni sifat ingin tahu mengenai perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama Islam) adalah satu sifat negatif yang harus dikikis terlebih dahulu dari diri seorang murid ilmu tasawuf.

Ada satu kisah mengenai seorang wali Allah bernama asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain yang berasal dari Rayy di negara Iran, yang boleh dijadikan satu ilustrasi:

Di masa mudanya, yakni semasa dia masih seorang murid lagi, asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain telah pergi bertemu dengan asy-Syaikh Dhun-Nun al-Misr untuk mempelajari al-ism al-a‘dham (nama Allah yang teragung). Setelah beberapa tahun berlalu, asy-Syaikh Dhun-Nun al-Misr telah memberi sebuah mangkuk yang bertutup kepada asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain dan menyuruhnya pergi membawa mangkuk itu kepada seorang tua di seberang Sungai Nil. Dia telah diberitahu supaya jangan membuka mangkuk itu, dan mendengar apa yang akan dikatakan oleh orang tua itu dengan baik-baik.

Di dalam perjalanan itu, asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain tidak dapat menahan rasa ingintahunya, karena dia telah terdengar satu bunyi dari dalam mangkuk itu. Maka dia pun membuka mangkuk itu. Seekor tikus telah berlari keluar dari dalam mangkuk itu.

Apabila orang tua itu melihat asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain sampai ke tempatnya, dia telah tersenyum dan telah bertanya kepada asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain, “Betulkah engkau telah meminta diajarkan al-ism al-a‘dham?”

asy-Syaikh Yusuf ibn al-Husain pun menjawab, “Ya, benar.”

Orang tua itu telah berkata pula, “Subhanallah! Terhadap seekor tikus pun engkau tidak dapat menjaga amanah, bagaimanakah pula dengan al-ism al-a‘dham?”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                     Bagian 7

                                                   Nasihat Dari

 asy-Syaikh Abdul  Qadir al-Jilani

 

1.  Wahai orang muda, janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah Azza wa Jall karena kemaksiatan yang telah engkau lakukan. Bersihkanlah kekotoran dari pakaian agamamu dengan air taubat, dengan taubat yang berkekalan dan ikhlas. Kemudian, harumkanlah pakaian agamamu itu dengan (air uangi) ma‘rifah. Berhati-hatilah engkau dengan kedudukanmu sekarang karena ke arah mana pun engkau toleh, terdapat haiwan-haiwan yang buas sedang berada di sekeliling dirimu, dan pengaruh-pengaruh jahat yang merusakkan pula sedang bartindak ke atas dirimu. Lepaskanlah dirimu darinya dan kembalikanlah hatimu kepada al-Haqq Azza wa Jall.

 

2. Ada seorang insan yang telah berkata: “Aku ingin menjadi salah seorang dari orang-orang yang menuntut wajahNya. Hatiku telah terpandang Pintu Kehampiran (Bab al-Qurb) dan aku telah melihat para kekasih memasukinya dan kemudian telah keluar memakai pakaian-pakaian yang telah dianugerahkan oleh al-Malik (Raja, yakni Allah Ta‘ala). Apakah bayaran untuk memasukinya?”

 

Kepadanya, aku telah menjawab: “Hendaklah engkau korbankan seluruh dirimu. Tinggalkan segala kehendak syahwat dan segala rasa kelezatan. Lenyapkan dirimu di dalamNya. Ucapkan selamat tinggal kepada segala taman syurga dan segala isi kandungannya, dan tinggalkanlah ia. Ucapkan selamat jalan kepada nafsu, hawa dan tabiat-tabiat. Ucapkan selamat jalan kepada segala keinginan, sama ada yang berbentuk keduniaan ataupun keakhiratan. Ucapkan selamat tinggal kepada setiap sesuatu dan engkau tinggalkannya di belakang hatimu. Setelah itu, masuklah. Engkau akan melihat apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, yang tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah terlintas di hati manusia.”

 

3. Si sufi (as-Sufi) ialah seorang manusia yang telah bersih batinnya dan juga dhohirnya, dengan mengikuti kitab Allah Azza wa Jall dan sunnah rasulNya. Dan jika kebersihannya sudah bertambah, dia akan keluar dari lautan kewujudannya, dan meninggalkan segala kehendak, ikhtiar dan keinginannya, karena kebersihan hatinya.

 

Asas kebaikan ialah dengan menuruti an-Nabi Sallallahu alaihi wa sallam pada (seluruh) perkataannya dan perbuatannya.

 

Apabila hati si hamba (qalb al-abd) telah bersih, dia akan dapat melihat an-Nabi Sallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam tidurnya, yang akan memberitahunya tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dijauhkan.  

 

Seluruh dirinya akan menjadi sekeping hati, dan terpisah dengan niatnya. Dia akan menjadi sebuah rahasia tanpa penyataan, satu kebersihan tanpa kekeruhan. Kulit dhohirnya akan tertanggal dari dirinya, sehingga yang tinggal adalah isi (lubb) tanpa kulit.

 

Dia akan bersama an-Nabi Sallallahu alaihi wa sallam dari segi maknawi, yang akan melatih hatinya dan berada di hadapannya. Tangannya berada di dalam tangan baginda Nabi Sallallahu alaihi wa sallam. Dan an- Nabi Sallallahu alaihi wa sallam akan menjadi penasihat mengenaiNya, dan penjaga pintuNya.

 

4. Di dalam sebuah mimpi, seorang lelaki tua telah bertanya kepada diriku , “Apakah yang dapat membawa seorang hamba itu dekat dengan Allah Azza wa Jall?”

Maka aku telah menjawab, “Baginya satu permulaan dan satu kesudahan. Permulaannya ialah warak dan kesudahannya ialah penerimaan (ar-rida), penyerahan (at-taslim) dan persandaraan (at-tawakkal).”

 

5. Apabila seseorang itu bersikap benar dan ikhlas dengan Tuhan, dia tidak lagi mempedulikan setiap sesuatu selain dariNya, pada siang atau malam hari.

 

Wahai manusia, janganlah mengaku apa yang bukan milikmu. Esakanlah Allah dan janganlah mempersekutukanNya.

Demi Allah (dengan melakukan yang demikian), apabila sampai panah takdir kepadamu, ia hanya akan mencalar dan tidak pula membunuhmu. 

 

6. Siapa yang menginginkan kejayaan (al-falah), hendaklah dia menjadi sekeping tanah di bawah tapak kaki para masyaikh.

 

Apakah ciri-ciri para masyaikh itu? Mereka adalah orang-orang yang telah menceraikan dunia dan segala makhluk, dan telah mengucapkan selamat tinggal kepada kedua-duanya (yakni dunia dan segala makhluk). Mereka juga telah mengucapkan selamat tinggal kepada setiap sesuatu, dari bawah al-‘arsy hinggalah ke dasar bumi (ath-thara). Mereka telah meninggalkan setiap sesuatu itu di belakang mereka, dan telah mengucapkan selamat tinggal sebagai seorang yang tidak akan kembali lagi. Mereka telah mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh makhluk, termasuk diri mereka sendiri. Wujud mereka adalah bersama-sama Allah, pada setiap keadaan.

 

Siapa yang menuntut kecintaan Allah (namun masih) disertai dengan kewujudan nafsunya, maka dia sedang berkhayal dan berangan-angan.

 

Kebanyakan dari mereka dari golongan al-mutazahhidin al-muta‘abbidin (orang-orang yang coba menyerupai kaum az-zahidin dan al-‘abidin), pada hakikatnya, adalah hamba-hamba para makhluk, yang telah mereka syirikkan (yakni menjadikannya sekutu bagi Allah).

 

7. Berdirilah engkau sekalian di hadapanNya di atas tapak-tapak kaki (aqdam) yang telah muflis dari akal-akal fikiranmu dan ilmu-ilmumu, agar engkau sekalian dapat mengambil ilmu dariNya.

 

Menjadi heranlah engkau sekalian dan janganlah engkau sekalian membuat  pilihan. Menjadi heranlah engkau sekalian di dalamNya sehingga datanglah kepadamu ilmu denganNya.

Keheranan di peringkat yang awal, kemudian pengetahuan di peringkat yang kedua, kemudian ketibaan (al-wusul) kepada yang diketahui di peringkat yang ketiga. Tujuan, kemudian ketibaan kepada yang ditujukan. Kehendak, kemudian ketibaan kepada yang dikehendaki.

 

8. Janganlah merasa sangsi terhadapNya apabila Dia melambatkan jawaban. Janganlah berputus asa dalam berdoa kepadaNya. Jika engkau tidak menerima apa-apa keuntungan, maka tidak pula engkau menanggung apa-apa kerugian. Jika Dia tidak memperkenankannya dengan serta-merta, maka Dia akan memberikan engkau gantian di Hari Kemudian

 

9. Selagi kecintaan kepada dunia kekal di hatimu, tiada akan melihat engkau sesuatu dari ahwal as-Salihin. Selagi engkau meminta-minta dari makhluk dan mempersekutukan (Allah) dengan mereka, tiada akan terbuka mata hatimu. Tiadalah kata-kata itu (al-kalam) sehingga engkau berzuhud dari dunia dan makhluk. Bersungguh-sungguhlah engkau. Engkau akan melihat apa yang tidak dilihat oleh orang lain, dan akan mencarik bagimu adat.

 

Jika engkau tinggalkan apa yang di dalam hitunganmu (hisab) akan datang kepadamu apa yang bukan di dalam hitunganmu. Apabila engkau bergantung penuh kepada al-Haqq Azza wa Jall, dan bertaqwa di dalam khalwat dan di khalayak banyak, Dia akan mengaruniakanmu rizky yang tidak disangka-sangka (la yahtasib). Engkau tinggalkan, Dia berikan. Engkau berzuhud, Dia temukan hajatmu.

Di peringkat permulaan, (ialah proses) meninggalkan. Di peringkat penamat, (ialah proses) pengambilan. Di awal urusan ini, ialah pemberatan kalbu dengan meninggalkan segala syahwat dan dunia, dan di akhirnya ialah pengambilannya. Yang pertama ialah bagi al-Muttaqin, dan yang kedua ialah bagi al-Abdal, yang telah sampai (al-wasilin) kepada ketaatan (kepada) Allah Azza wa Jall. 

 

10. Kata-kata itu tidak sesuai untuk diucapkan sehingga segala tuhan-tuhanmu menjadi Tuhan yang satu, sehingga segala keinginanmu menjadi satu, dan sehingga segala tumpuan cintamu menjadi satu.

 

Hatimu hendaklah dijadikan satu. Bilakah kedekatan kepada al-Haqq dapat mendirikan khemahnya di dalam hatimu? Bilakah hatimu akan menjadi majdhub (tertarik) dan sirr-mu menjadi muqarrab (didekatkan)? Dan bilakah engkau dapat menemui Tuhanmu, setelah engkau mengucapkan selamat tinggal kepada segala makhluk?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah kitab yang mengandung beberapa amalan yang pernah diajarkan oleh asy-Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Kitab ini telah diterbitkan di Singapura, dan edisi kedua pada tahun 1957 Masehi telah tersebar luas ke seluruh dunia Islam sehingga telah sampai ke benua Afrika, dan kandungannya masih di dibaca oleh setengah pengamal toriqoh Qodiriyah pada zaman sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

                 Bagian 8

     Fatwa Syekh Abdul Qadir al-Jaelani

           Dalam Nuansa Lailatul Qadar

   

           

Firman Allah SWT: “Para malaikat pada turun dan (begitu juga) ar-Ruh (Jibril) di dalam malam itu. “ Jibril turun disertai dengan 70 ribu malaikat, dan ia bertindak sebagai pemimpinnya. Jibril terus menerus memberi salam kepada mereka yang sedang duduk (beribadah), sementara seluruh malaikat yang lain memberi salah kepada mereka yang sedang tidur. Allah sendiri yang terus memberi salam kepada mereka yang bangkit berdiri menuju kepadaNya. Sebagaimana Salam Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman yang menjadi ahli surga di surga, dengan firman-Nya:

Salaamun Qaulan min Rabbir Rahiim ( Salam yang terucap dari Tuhan Yang Maha Pengasih). Maka, berkenan pula Allah memberikan salam kepada para hamba-Nya yang senantiasa berbuat kebajikan di dunia, mendapatkan anugerah kebaikan luhur dan kebagiaan di zaman ‘azali. Yaitu para hamba-Nya yang senantiasa fana’ atau sirna dari segala makhluk, dan abadi bersama Tuhannya, senantiasa tenteram menuju kepada Allah Ta’ala Yang Maha Benar.

 

Pada malam Lailatul Qadar itu, tak ada yang tersisa dari suatu tempat melainkan ada malaikat yang sedang sujud di sana, atau berdiri mendoakan hamba-Nya yang mukmin dan mukminat. Kecuali tempat-tempat seperti gereja, biara, tempat ibadah majusi dan tempat-tempat berhala, atau sebagian tempat yang menjadi pembuangan kotoran maksiat. Di tempat-tempat itu malaikat tidak mati bersujud dan berdoa.

 

Malaikat-malaikat itu senantiasa mendoakan kaum mukminin dan mukminat. Sedangkan Jibril as, sama sekali tidak mendoakan kaum mukminin dan mukminat, melainkan hanya menyalami dan bersalaman kepada mereka.

 

Jika Anda sekalian sedang dalam keadaan beribadah, maka Jibril menyalami, “Salam kepadamu, semoga diterima dan mendapatkan kebaikan. " Jika anda ditemui sedang dalam keadaan bermaksiat, Jibril menyalami, “Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ampunan.” Jika anda ditemui dalam keadaan tidur, Jibril menyalami, “Salam bagimu, semoga engkau mendapatkan ridla- Nya.” Jika Anda sudah dalam kuburan (mati) Jibril menyalami, “Salam bagimu dengan ruh dan aroma keharuman.”

 

Itulah yang difirmankan Allah, “minKulliAmrinSalaam” (dalam segala hal, ada Salam.)

 

Ada yang menyebutkan, bahwa para malaikat itu hanya menyalami mereka yang taat, sementara tidak pada mereka yang sedang bermaksiat. Di antara ahli maksiat itu adalah mereka yang berbuat kedhaliman, mereka yang memakan makanan haram, mereka yang memutus tali sillaturrahim, mereka yang mengadu domba, mereka yang memakan harta anak yatim, mereka itu tidak mendapatkan salam dari para malaikat. Lalu manakah bencana yang lebih besar dibanding bencana seperti itu?

 

Padahal bulan Ramadlan diawali oleh rahmat, ditengahi oleh ampunan dan diakhiri dengan kebebasan dari neraka. Sementara Anda tidak memiliki bagian dari salam para malaikat itu? Bukankah itu semua gara-gara Anda jauh dari Yang Maha Pengasih? dan Anda juga tergolong para

penentang Allah dan mensakralisasi tindakan syetan? Anda berhias dengan riasan penempuh jalan neraka? Begitu pula karena Anda jauh dan mengabaikan dari para penempuh jalan surga? Anda juga hijab dari Tuhan yang memiliki kekuasaan atas bahaya dan kebajikan? Padahal bulan Ramadlan adalah bulan kejernihan, bulan keselarasan bersama Allah, bulan para pendzikir-Nya, bulan orang-orang sabar dan bulan para shadiqin. Lantas apabila tidak ada bekas dalam hati Anda, dan Anda tidak mencabut akar kemaksiatan dalam hati Anda, menjauhi para pelaku kejahatan dan kemungkaran, lalu pengaruh apa yang bisa membekas dalam hati Anda itu? Apa yang Anda harapkan dari selain kebajikan? Apa yang masih anda sisakan dalam jiwa Anda? Kebagiaan manakah yang bisa Anda raih di sana?

 

Ingatlah wahai orang yang sangat kasihan, terhadap apa yang menempel pada diri Anda. Bangkitlah dari kelelapan yang meninabobokan Anda, membuat Anda alpa. Lihatlah pada yang memberi petunjuk pada Anda, sisa-sisa bulan Anda, dengan tindakan taubat dan kembali. Nikmatilah bulan ini dengan istigfar dan kepatuhan, agar Anda meraih rahmat dan kasih sayang Allah. Anda harus membatu dengan segala hal yang mengarah pada sikap negatif Menangislah pada diri sendiri atas dorongan yang menyeret Anda pada cacat-cacat jiwa, kebinasaan dan tragedi. Betapa banyak orang berpuasa, namun hakikatnya tidak pernah berpuasa selamanya. Banyak orang yang berdiri tegak untuk ibadah, hakikatnya tak pemah ibadah selamanya. Betapa banyak orang beramal, namun tanpa pahala ketika amal itu usai dilakukan. Amboi, apakah puasa kita diterima, ibadah kita diterima, atau sebaliknya semua itu ditolak dan dilemparkan ke wajah kita sendiri? Amboi, betapa kita telah menolak ibadah yang seharusnya diterima, dan menghormati ibadah yang seharusnya ditolak?

 

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

"Betapa banyak orang berpuasa, namun tak lebih dari lapar dan dahaga. Betapa banyak orang yang tegak beribadah,melainkan hanya kelelahan belaka. "

Salam kepadamu wahai bulan puasa.

Salam kepadamu wahai bulan kebangkitan. Salam kepadamu wahai bulan iman.

Salam kepadamu wahai bulan al-Qur ‘an.

Salam kepadamu wahai bulan cahaya-cahaya Salam kepadamu wahai bulan maghfirah dan ampunan.

Salam kepadamu wahai bulan derajat dan keselamatan dari keburukan.

Salam kepadamu wahai bulan orang-orang yang bertobat, beribadat.

Salam kepadamu wahai orang-orang ma ‘rifat Salam kepadamu wahai bulan orang yang tekun beribadat.

Salam kepadamu wahai bulan yang aman Engkau telah menahan orang-orang maksiat Engkau telah bermesraan dengan ahli taqwa Salam kepada bilik dan cahaya-cahaya yang cemerlang dan mata yang terjaga air mata yang melimpah mihrab yang terang benderang ungkapan yang suci nafas-nafas yang membubung dari kalbu-kalbu yang bergelora.

 

Tuhan,jadikanlah kami tergolong mereka yang Engkau terima puasanya, shalatnya, dan Engkau ganti keburukan dengan kebajikannya, dan Engkau masukkan dengan rahmat-Mu dalam surga-Mu, dan Engkau tinggikan derajat mereka, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

 

***

(Dikutip dari karya Syekll Abdul Qadir al-Jaelani, dalam

Kitab AI-Ghunyah Lithalib Thariqil Haqq fiI Akhlaq wat Tashawwufi wal-Adab al-Islamiyab)

 

                 Bagian 9

        Ringkasan Riwayat Hidup

      Ghauts Al-Azam Muhyiddin  

        Sayid Abdul Qadir Jailani

NASAB

Sayid Abu Muhammad Abdul Qadir dilahirkan di Naif, Jailan, Iraq, pada bulan Ramadhan 470 H, bertepatan dengan th 1077 M. Ayahnya bernama Shahih, seorang yang taqwa keturunan Hadhrat Imam Hasan, r.a., cucu pertama Rasulullah saw, putra sulung Imam Ali ra dan Fatimah r.a., putri tercinta Rasul. Ibu beliau adalah putri seorang wali, Abdullah Saumai, yang juga masih keturunan Imam Husein, r.a., putera kedua Ali dan Fatimah. Dengan demikian, Sayid Abdul Qadir adalah Hasani sekaligus Huseini.

MASA MUDA

Sejak kecil, ia pendiam, nrimo, bertafakkur dan sering melakukan agar lebih baik, apa yang desebut 'pengalaman-pengalaman mistik'. Ketika berusia delapan belas tahun, kehausan akan ilmu dan kegairahan untuk bersama para saleh, telah membawanya ke Baghdad, yang kala itu merupakan pusat ilmu dan peradaban. Kemudian, beliau digelari orang Ghauts Al-Azam atau wali ghauts terbesar.

Dalam terminologi kaum sufi, seorang ghauts menduduki jenjang ruhaniah dan keistimewaan kedua dalam hal memohon ampunan dan ridha Allah bagi ummat manusia setelah para nabi. Seorang ulama' besar di masa kini, telah menggolongkannya ke dalam Shaddiqin, sebagaimana sebutan Al Qur'an bagi orang semacam itu. Ulama ini mendasarkan pandangannya pada peristiwa yang terjadi pada perjalanan pertama Sayyid Abdul Qadir ke Baghdad.

 

Diriwayatkan bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya delapan puluh keping emas yang dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya, sebagai bekal. Uang ini adalah warisan dari almarhum ayahnya, dimaksudkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Kala hendak berangkat, sang ibu diantaranya berpesan agar jangan berdusata dalam segala keadaan. Sang anak berjanji untuk senantiasa mencamkan pesan tersebut.

 

Begitu kereta yang ditumpanginya tiba di Hamadan, menghadanglah segerombolan perampok. Kala menjarahi, para perampok sama sekali tak memperhatikannya, karena ia tampak begitu sederhana dan miskin. Kebetulan salah seorang perampok menanyainya apakah ia mempunyai uang atau tidak. Ingat akan janjinya kepada sang ibu, si kecil Abdul Qadir segera menjawab: "Ya, aku punya delapan puluh keping emas yang dijahitkan di dalam baju oleh ibuku." Tentu saja para perampok terperanjat keheranan. Mereka heran, ada manusia sejujur ini.

 

Mereka membawanya kepada pemimpin mereka, lalu menanyainya, dan jawabannya pun sama. Begitu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, didapatilah delapan puluh keping emas sebagaimana dinyatakannya. Sang kepala perampok terhenyak kagum. Ia kisahkan segala yang terjadi antara dia dan ibunya pada saat berangkat, dan ditambahkannya jika ia berbohong, maka akan tak bermakna upayanya menimba ilmu agama.

 

Mendengar hal ini, menangislah sang kepala perampok, jatuh terduduk di kali Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Diriwayatkan, bahwa kepala perampok ini adalah murid pertamanya. Peristiwa ini menunjukkan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tak benar, maka keberanian kukuh semacam itu demi kebenaran, dalam saat-saat kritis, tak mungkin baginya.

BELAJAR DI BAGHDAD

Selama belajar di Baghdad, karena sedemikian jujur dan murah hati, ia terpaksa mesti tabah menderita. Berkat bakat dan kesalehannya, ia cepat menguasai semua ilmu pada masa itu. Ia membuktikan diri sebagai ahli hukum terbesar di masanya. Tetapi, kerinduan ruhaniahnya yang lebih dalam gelisah ingin mewujudkan diri. Bahkan di masa mudanya, kala tenggelam dalam belajar, ia gemar musyahadah*).

 

Ia sering berpuasa, dan tak mau meminta makanan dari seseorang, meski harus pergi berhari-hari tanpa makanan. Di Baghdad, ia sering menjumpai orang-orang yang berfikir serba ruhani, dan berintim dengan mereka. Dalam masa pencarian inilah, ia bertemu dengan Hadhrat Hammad, seorang penjual sirup, yang merupakan wali besar pada zamannya.

 

Lambat laun wali ini menjadi pembimbing ruhani Abdul Qadir. Hadhrat Hammad adalah seorang wali yang keras, karenanya diperlakukannya sedemikian keras sufi yang sedang tumbuh ini. Namun calon ghauts ini menerima semua ini sebagai koreksi bagi kecacatan ruhaninya.

LATIHAN-LATIHAN RUHANIAH

Setelah menyelesaikan studinya, ia kian keras terhadap diri. Ia mulai mematangkan diri dari semua kebutuhan dan kesenangan hidup. Waktu dan tenaganya tercurah pada shalat dan membaca Qur'an suci. Shalat sedemikian menyita waktunya, sehingga sering ia shalat shubuh tanpa berwudhu lagi, karena belum batal.

 

Diriwayatkan pula, beliau kerapkali tamat membaca Al-Qur'an dalam satu malam. Selama latihan ruhaniah ini, dihindarinya berhubungan dengan manusia, sehingga ia tak bertemu atau berbicara dengan seorang pun. Bila ingin berjalan-jalan, ia berkeliling padang pasir. Akhirnya ia tinggalkan Baghdad, dan menetap di Syustar, dua belas hari perjalanan dari Baghdad. Selama sebelas tahun, ia menutup diri dari dunia. Akhir masa ini menandai berakhirnya latihannya. Ia menerima nur yang dicarinya. Diri-hewaninya kini telah digantikan oleh wujud mulianya.

DICOBA IBLIS

Suatu peristiwa terjadi pada malam babak baru ini, yang diriwayatkan dalam bentuk sebuah kisah. Kisah-kisah serupa dinisbahkan kepada semua tokoh keagamaan yang dikenal di dalam sejarah; yakni sebuah kisah tentang penggodaan. Semua kisah semacam itu memaparkan secara perlambang, suatu peristiwa alamiah dalam kehidupan.

 

Misal, tentang bagaimana nabi Isa as digoda oleh Iblis, yang membawanya ke asalk bukit dan dari sana memperlihatkan kepadanya kerajaan-kerajaan duniawi, dan dimintanya nabi Isa a.s., menyembahnya, bila ingin menjadi raja dari kerajaan-kerajaan itu. Kita tahu jawaban beliau, sebagai pemimpin ruhaniah. Yang kita tahu, hal itu merupakan suatu peristiwa perjuangan jiwa sang pemimpin dalam hidupnya.

 

Demikian pula yang terjadi pada diri Rasulullah saw. Kala beliau kukuh berdakwah menentang praktek-praktek keberhalaan masyarakat dan musuh-musuh beliau, para pemimpin Quraisy merayunya dengan kecantikan, harta dan tahta. Dan tak seorang Muslim pun bisa melupakan jawaban beliau: "Aku sama sekali tak menginginkan harta ataupun tahta. Aku telah diutus oleh Allah sebagai seorang Nadzir**) bagi umat manusia, menyampaikan risalah-Nya kepada kalian. Jika kalian menerimanya, maka kalian akan bagia di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan jika kalian menolak, tentu Allah akan menentukan antara kalian dan aku."

 

Begitulah gambaran dari hal ini, dan merupakan fakta kuat kemaujudan duniawi. Berkenaan dengan hal ini, ada dua versi kisah tentang Syaikh Abdul Qadir Jailani. Versi pertama mengisahkan, bahwa suatu hari Iblis menghadapnya, memperkenalkan diri sebagai Jibril, dan berkata bahwa ia membawa Buraq dari Allah, yang mengundangnya untuk menghadap-Nya di langit tertinggi.

Sang Syaikh segera menjawab bahwa si pembicara tak lain adalah si Iblis, karena baik Jibril maupun Buraq takkan datang ke dunia bagi selain Nabi Suci Muhammad saw. Setan toh masih punya cara lain, katanya: "Baiklah Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu." "Enyahlah!, bentak sang wali." Jangan kau goda aku, bukan karena ilmuku, tapi karena rahmat Allahlah aku selamat dari perangkapmu".

 

*) Musyahadah : penyaksian langsung. Yang dimaksud ialah penyaksian akan segala kekuasaan dan keadilan Allah melalui mata hati.

**) Nadzir : pembawa ancaman atau pemberi peringatan. Salah satu tugas terpenting seorang Rasul adalah membawa beita, baik berita gembira maupun ancaman.

 

Versi kedua mengisahkan, ketika sang Syaikh sedang berada di rimba belantara, tanpa makanan dan minuman, untuk waktu yang lama, awan menggumpal di angkasa, dan turunlah hujan. Sang Syaikh meredakan dahaganya. Muncullah sosok terang di cakrawala dan berseru: "Akulah Tuhanmu, kini Kuhalalkan bagimu segala yang haram." Sang Syaikh berucap: "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk." Sosok itu pun segera pergi berubah menjadi awan, dan terdengar berkata: "Dengan ilmumu dan rahmat Allah, engkau selamat dari tipuanku."

 

Lalu setan bertanya tentang kesigapan sang Syaikh dalam mengenalinya. Sang Syaikh menyahut bahwa pernyataannya menghalalkan segala yang haramlah yang membuatnya tahu, sebab pernyataan semacam itu tentu bukan dari Allah.

 

Kedua versi ini benar, yang menyajikan dua peristiwa berlainan secara perlambang. Satu peristiwa dikaitkan dengan perjuangannya melawan kebanggaan akan ilmu. Yang lain dikaitkan dengan perjuangannya melawan kesulitan-kesulitan ekonomi, yang menghalangi seseorang dalam perjalanan ruhaniahnya.

 

Kesadaran aka kekuatan dan kecemasan akan kesenangan merupakan kelemahan terakhir yang mesti enyah dari benak seorang salih. Dan setelah berhasil mengatasi dua musuh abadi ruhani inilah, maka orang layak menjadi pemimpin sejati manusia.

PANUTAN MASYARAKAT

Kini sang Syaikh telah lulus dari ujian-ujian tersebut. Maka semua tutur kata atau tegurannya, tak lagi berasal dari nalar, tetapi berasal dari ruhaninya.

 

Kala ia memperoleh ilham, sebagaimana sang Syaikh sendiri ingin menyampaikannya, keyakinan Islami melemah. Sebagian muslim terlena dalam pemuasan jasmani, dan sebagian lagi puas dengan ritus-ritus dan upacara-upacara keagamaan. Semangat keagamaan tak dapat ditemui lagi.

 

Pada saat ini, ia mempunyai mimpi penting tentang masalah ini. Ia melihat dalam mimpi itu, seolah-olah sedang menelusuri sebuah jalan di Baghdad, yang di situ seorang kurus kering sedang berbaring di sisi jalan, menyalaminya.

 

Ketika sang Syaikh menjawab ucapan salamnya, orang itu memintanya untuk membantunya duduk. Begitu beliau membantunya, orang itu duduk dengan tegap, dan secara menakjubkan tubuhnya menjadi besar. Melihat sang Syaikh terperanjat, orang asing itu menentramkannya dengan kata-kata: " Akulah agama kakekmu, aku menjadi sakit dan sengsara, tetapi Allah telah menyehatkanku kembali melalui bantuanmu."

 

Ini terjadi pada malam penampilannya di depan umum di masjid, dan menunjukkan karir mendatang sang wali. Kemudian masyarakat tercerahkan, menamainya Muhyiddin, 'pembangkit keimanan', gelar yang kemudian dipandang sebagai bagian dari namanya yang termasyhur. Meski telah ia tinggalkan kesendiriannya (uzlah), ia tak jua berkhutbah di depan umum. Selama sebelas tahun berikutnya, ia mukim di sebuah sudut kota, dan meneruskan praktek-praktek peribadatan, yang kian mempercerah ruhaniyah.

 

 

 

KEHIDUPAN RUMAH TANGGA

Menarik untuk dicatat, bahwa penampilannya di depan umum selaras dengan kehidupan perkawinannya. Sampai tahun 521 H, yakni pada usia kelima puluh satu, ia tak pernah berpikir tentang perkawinannya. Bahkan ia menganggapnya sebagai penghambat upaya ruhaniyahnya. Tetapi, begitu beliau berhubungan dengan orang-orang, demi mematuhi perintah Rasul dan mengikuti Sunnahnya, ia pun menikahi empat wanita, semuanya saleh dan taat kepadanya. Ia mempunyai empat puluh sembilan anak - dua puluh putra, dan yang lainnya putri.

 

Empat putranya yang termasyhur akan kecendekian dan kepakarannya, al:

Syaikh Abdul Wahab, putera tertua adalah seorang alim besar, dan mengelola madrasah ayahnya pada tahun 543 H. Sesudah sang wali wafat, ia juga berkhutbah dan menyumbangkan buah pikirannya, berkenaan dengan masalah-masalah syariat Islam. Ia juga memimpin sebuah kantor negara, dan demikian termasyhur.

Syaikh Isa, ia adalah seorang guru hadits dan seorang hakim besar. Dikenal juga sebagai seorang penyair. Ia adalah seorang khatib yang baik, dan juga Sufi. Ia mukim di Mesir, hingga akhir hayatnya.

Syaikh Abdul Razaq. Ia adalah seorang alim, sekaligus penghafal hadits. Sebagaimana ayahnya, ia terkenal taqwa. Ia mewarisi beberapa kecenderungan spiritual ayahnya, dan sedemikian masyhur di Baghdad, sebagaimana ayahnya.

Syaikh Musa. Ia adalah seorang alim terkenal. Ia hijrah ke Damaskus, hingga wafat.

 

Tujuh puluh delapan wacana sang wali sampai kepada kita melalui Syaikh Isa. Dua wacana terakhir, yang memaparkan saat-saat terakhir sang wali, diriwayatkan oleh Syaikh Wahab. Syaikh Musa termaktub pada wacana ke tujuh puluh sembilan dan delapan puluh. Pada dua wacana terakhir nanti disebutkan, pembuatnya adalah Syaikh Abdul Razaq dan Syaikh Abdul Aziz, dua putra sang wali, dengan diimlakkan oleh sang wali pada saat-saat terakhirnya.

 

KESEHARIANNYA

Sebagaimana telah kita saksikan, sang wali bertabligh tiga kali dalam seminggu. Di samping bertabligh setiap hari, pada pagi dan malam hari, ia mengajar tentang Tafsir Al Qur'an, Hadits, Ushul Fiqih, dan mata pelajaran lain. Sesudah Dhuhur, ia memberikan fatwa atas masalah-masalah hukum, yang diajukan kepadanya dari segenap penjuru dunia. Sore hari, sebelum sholat Maghrib, ia membagi-bagikan roti kepada fakir miskin. Sesudah sholat Maghrib, ia selalu makan malam, karena ia berpuasa sepanjang tahun. Sebalum berbuka, ia menyilakan orang-orang yang butuh makanan di antara tetangga-tetangganya, untuk makan malam bersama. Sesudah sholat Isya', sebagaimana kebiasaan para wali, ia mengaso di kamarnya, dan melakukan sebagian besar waktu malamnya dengan beribadah kepada Allah - suatu amalan yang dianjurkan Qur'an Suci. Sebagai pengikut sejati Nabi, ia curahkan seluruh waktunya di siang hari, untuk mengabdi ummat manusia, dan sebagian besar waktu malam dihabiskan untuk mengabdi Penciptanya.

WAFATNYA

Ia wafat pada 11 Rabi'ul Akhir 561 H (1166 M), pada usia 91 tahun. Tanggal ini diperingati oleh para pengagumnya sampai kini, dan anak benua India (Pakistan), dikenal sebagai Giarwin Syarif.

PENINGGALANNYA

Sepeninggal sang wali, para putra dan muridnya mendirikan suatu Thariqah, untuk menyuburkan spiritualitas Islami dan ajaran-ajaran Islami di kalangan umat dunia, yakni Thariqah Qadiriyah, yang sampai kini terkenal taat kepada prinsip-prinsip syari'at. Thariqah ini telah sedemikian besar jasanya bagi kebangkitan kembali 'dunia Islam', dan sumbangannya kepada Tasawuf tak terhingga. Tiga diantara catatan-catatan nasihat dan pengajarannya mencapai reputasi dunia. Yang paling luar biasa adalah FUTUH AL-GHAIB, yang terjemahannya disajikan berikut ini.

 

Selain itu, Fath al-Rabbani, kumpulan enam puluh delapan khutbah, yang disampaikan antara tahun 545 H dan 546 H. Yang ketiga adalah sebuah QASIDAH, sebuah syair yang memaparkan peranan dan peringkat wali dalam bahasa ekstatik. Syair ini disebut Qasidah al-Ghautsiyya.

 

Sebagaimana thariqah lain, Thariqah Qadiriyah dewasa ini, tampak lebih cenderung kepada risalah terakhir ini, dari pada karya-karya lainnya, yang memuat nasihat-nasihat tentang pembangunan diri, dan sebuah pesan dari alam ghaib.

 

Terlepas dari kekeliruan-kekeliruan pada para pengagumnya dewasa ini, pengaruh sang wali dalam sejarah Islami luar biasa. Kepribadiannya gemerlapan laksana zamrud berkilauan dari spiritualitas Islami dewasa ini, sebagaimana pada sejarah masa lalu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                Bagian 10

   Toriqoh Qodiriyah

Sekilas Toriqoh Qodiriyah
Tumbuhnya toriqoh dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad saw diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad saw sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua Hira' di samping untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan. Tahhanust dan Khalwat nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks tersebut.

Proses khalwat nabi yang kemudian disebut toriqoh tersebut sekaligus diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai kepada Syeikh Abdul Qodir Jaelani, sehingga toriqohnya dinamai Qodiriyah. Sebagaimana dalam silsilah toriqoh Qadiriyah yang merujuk pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya adalah dari Nabi Muhammad saw, dari Malaikat Jibril dan dari Allah Swt.

Toriqoh Qodiryah didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M) yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. Lahir di di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi, al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang bernama Abu Yusuf al-Hamadany (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama itu sampai mendapatkan ijazah.

Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baggdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpinan anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M.

Sejak itu toriqoh Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13, toriqoh ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku keturunan Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631 M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, toriqoh Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.

Toriqoh Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat syeikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti toriqoh gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi toriqoh yang lain ke dalam toriqohnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri,"Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya."

Mungkin karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan toriqoh yang masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Seperti yang berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M), Kamaliyah (1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat al-Mir, semuanya di India. Di Turki terdapat toriqoh Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nabulsiyah, Waslatiyyah. Dan di Yaman ada toriqoh Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, 'Urabiyyah, Yafi'iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla'iyah. Sedangkan di Afrika terdapat toriqoh Ammariyah, Bakka'iyah, Bu' Aliyya, Manzaliyah dan toriqoh Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Abdul Qodir Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol dan diduga setelah keturunannya pindah dari Granada, sebelum kota itu jatuh ke tangan Kristen pada tahun 1492 M dan makam mereka disebut "Syurafa Jilala".

Dari ketaudanan nabi dan sabahat Ali ra dalam mendekatkan diri kepada Allah swt tersebut, yang kemudian disebut toriqoh, maka toriqoh Qodiriyah menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk mendekat dan mendapat ridho dari Allah swt. Oleh sebab itu dengan toriqoh manusia harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus ditinggalkannya.

Misalnya dengan mengucapkan kalimat tauhid, dzikir "Laa ilaha Illa Allah" dengan suara nyaring, keras (dhahir) yang disebut (nafi istbat) adalah contoh ucapan Dzikir dari Syiekh Abdul Qadir Jaelani dari Sayidina Ali bin Abi Thalib ra, hingga disebut toriqoh Qodiriyah. Selain itu dalam setiap selesai melaksanakan shalat lima waktu (Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya' dan Subuh), diwajibkan membaca istighfar tiga kali atau lebih , lalu membaca salawat tiga kali, Laailaha illa Allah 165 (seratus enam puluh lima) kali. Sedangkan di luar shalat agar berdzikir semampunya.

Dalam mengucapkan lafadz Laa pada kalimat "Laa Ilaha Illa Allah" kita harus konsentrasi dengan menarik nafas dari perut sampai ke otak.

Kemudian disusul dengan bacaan Ilaha dari arah kanan dan diteruskan dengan membaca Illa Allah ke arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan merenungi arti yang sedalam-dalamnya, dan hanya Allah swt-lah tempat manusia kembali. Sehingga akan menjadikan diri dan jiwanya tentram dan terhindar dari sifat dan perilaku yang tercela.

Menurut ulama sufi (al-Futuhat al-Rubbaniyah), melalui toriqoh mu'tabarah tersebut, setiap muslim dalam mengamalkannya akan memiliki keistimewaan, kelebihan dan karomah masing-masing. Ada yang terkenal sebagai ahli ilmu agama seperti sahabat Umar bin Khattab, ahli syiddatil haya' sahabat Usman bin Affan, ahli jihad fisabilillah sahabat Hamzah dan Khalid bin Walid, ahli falak Zaid al-Farisi, ahli syiir Hasan bin Tsabit, ahli lagu Alquran sahabat Abdillah bin Mas'ud dan Ubay bin Ka'ab, ahli hadis Abi Hurairah, ahli adzan sahabat Bilal dan Ibni Ummi Maktum, ahli mencatat wahyu dari Nabi Muhammad saw adalah sahabat Zaid bin Tsabit, ahli zuhud Abi Dzarr, ahli fiqh Mu'ad bin Jabal, ahli politik peperangan sahabat Salman al-Farisi, ahli berdagang adalah Abdurrahman bin A'uf dan sebagainya.

Bai'at
Untuk mengamalkan toriqoh tersebut melalui tahapan-tahan seperti pertama, adanya pertemuan guru (syeikh) dan murid, murid mengerjakan salat dua rakaat (sunnah muthalaq) lebih dahulu, diteruskan dengan membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian murid duduk bersila di depan guru dan mengucapkan istighfar, lalu guru mengajarkan lafadz Laailaha Illa Allah, dan guru mengucapkan "infahna binafhihi minka" dan dilanjutkan dengan ayat mubaya'ah (QS Al-Fath 10). Kemudian guru mendengarkan kalimat tauhid (Laa Ilaha Illallah) sebanyak tiga kali sampai ucapan sang murid tersebut benar dan itu dianggap selesai. Kemudian guru berwasiat, membaiat sebagai murid, berdoa dan minum.

Kedua, tahap perjalanan. Tahapan kedua ini memerlukan proses panjang dan bertahun-tahun. Karena murid akan menerima hakikat pengajaran, ia harus selalu berbakti, menjunjung segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, berjuang keras melawan hawa nafsunya dan melatih dirinya (mujahadah-riyadhah) hingga memperoleh dari Allah seperti yang diberikan pada para nabi dan wali.
Toriqoh (thariqah) secara harfiah berarti "jalan" sama seperti syariah, sabil, shirath dan manhaj. Yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan ridho-Nya dengan mentaati ajaran-ajaran-Nya. Semua perkataan yang berarti jalan itu terdapat dalam Alquran, seperti QS Al-Jin:16," Kalau saja mereka berjalan dengan teguh di atas thariqah, maka Kami (Allah) pasti akan melimpahkan kepada mereka air (kehidupan sejati) yang melimpah ruah".

Istilah thariqah dalam perbendaharaan kesufian, merupakan hasil makna semantik perkataan itu, semua yang terjadi pada syariah untuk ilmu hukum Islam. Setiap ajaran esoterik/bathini mengandung segi-segi eksklusif. Jadi, tak bisa dibuat untuk orang umum (awam). Segi-segi eksklusif tersebut misalnya menyangkut hal-hal yang bersifat "rahasia" yang bobot kerohaniannya berat, sehingga membuatnya sukar dimengerti. Oleh sebab itu mengamalkan toriqoh itu harus melalui guru (mursyid) dengan bai'at dan guru yang mengajarkannya harus mendapat ijazah, talqin dan wewenang dari guru toriqoh sebelumnya. Seperti terlihat pada silsilah ulama sufi dari Rasulullah saw, sahabat, ulama sufi di dunia Islam sampai ke ulama sufi di Indonesia.

Qodiriyah di Indonesia
Seperti halnya toriqoh di Timur Tengah. Sejarah toriqoh Qodiriyah di Indonesia juga berasal dari Makkah al-Musyarrafah. Toriqoh Qodiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syeikh Abdul Karim dari Banten adalah murid kesayangan Syeikh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran toriqoh Qodiriyah. Murid-murid Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia menjadi penyebar Toriqoh Qodiriyah tersebut.

Toriqoh ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19, terutama ketika menghadapi penjajahan Belanda. Sebagaimana diakui oleh Annemerie Schimmel dalam bukunya "Mystical Dimensions of Islam" hal.236 yang menyebutkan bahwa toriqoh bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lain. Juga di Indonesia, pada Juli 1888, wilayah Anyer di Banten Jawa Barat dilanda pemberontakan. Pemberontakan petani yang seringkali disertai harapan yang mesianistik, memang sudah biasa terjadi di Jawa, terutama dalam abad ke-19 dan Banten merupakan salah satu daerah yang sering berontak.

Tapi, pemberontakan kali ini benar-benar mengguncang Belanda, karena pemberontakan itu dipimpin oleh para ulama dan kiai. Dari hasil penyelidikan (Belanda, Martin van Bruneissen) menunjukkan mereka itu pengikut toriqoh Qodiriyah, Syeikh Abdul Karim bersama khalifahnya yaitu KH Marzuki, adalah pemimpin pemberontakan tersebut hingga Belanda kewalahan. Pada tahun 1891 pemberontakan yang sama terjadi di Praya, Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pada tahun 1903 KH Khasan Mukmin dari Sidoarjo Jatim serta KH Khasan Tafsir dari Krapyak Yogyakarta, juga melakukan pemberontakan yang sama.

Sementara itu organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari toriqoh Qodiriyah adalah organisasi tebrbesar Islam Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada tahun 1926. Bahkan toriqoh yang dikenal sebagai Qadariyah Naqsabandiyah sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia.

Juga pada organisasi Islam Al-Washliyah dan lain-lainnya. Dalam kitab Miftahus Shudur yang ditulis KH Ahmad Shohibulwafa Tadjul Arifin (Mbah Anom) di Pimpinan Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya Jabar dalam silsilah toriqohnya menempati urutan ke-37, sampai merujuk pada Nabi Muhammad saw, Sayyidina Ali ra, Abdul Qadir Jilani dan Syeikh Khatib Sambas ke-34.

Sama halnya dengan silsilah toriqoh almrhum KH Mustain Romli, Pengasuh Pesantren Rejoso Jombang Jatim, yang menduduki urutan ke-41 dan Khatib Sambas ke-35. Bahwa beliau mendapat talqin dan baiat dari KH Moh Kholil Rejoso Jombang, KH Moh Kholil dari Syeikh Khatib Sambas ibn Abdul Ghaffar yang alim dan arifillah (telah mempunyai ma'rifat kepada Allah) yang berdiam di Makkah di Kampung Suqul Lail.

Silsilah Toriqoh.
1. M Mustain Romli, 2, Usman Ishaq, 3. Moh Romli Tamim, 4. Moh Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syeikh Abdul Qadir Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma'ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja'far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Nabi Muhammad saw, 40. Sayyiduna Jibril dan 41. Allah Swt.

Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain, karena ada yang disebut seecara keseluruhan dan sebaliknya. Di samping berbeda pula guru di antara para kiai itu sendiri.

Eksistensi Seorang Mursyid

Dalam setiap aktivitas rintangan itu akan selalu ada. Hal ini dikarenakan Tuhan menciptakan syetan tidak lain hanya untuk menggoda dan menghalangi setiap aktivitas manusia. Tidak hanya terhadap aktivitas yang mengarah kepada kebaikan, bahkan terhadap aktivitas yang sudah jelas mengarah menuju kejahatan pun, syetan masih juga ingin lebih menyesatkan.

 

Pada dasarnya kita diciptakan oleh Tuhan hanya untuk beribadah dan mencari ridla dari-Nya. Karena itu kita harus berusaha untuk berjalan sesuai dengan kehendak atau syari’at yang telah ditentukan. Hanya saja keberadaan syetan yang selalu memusuhi kita, membuat pengertian dan pelaksanaan kita terkadang tidak sesuai dengan kebenaran.

 

Dengan demikian, kebutuhan kita untuk mencari seorang pembimbing merupakan hal yang essensial. Karena dengan bimbingan orang tersebut, kita harapkan akan bisa menetralisir setiap perbuatan yang mengarah kepada kesesatan sehingga bisa mengantar kita pada tujuan.

Thariqah

Thariqah adalah jalan. Maksudnya, salah satu jalan menuju ridla Allah atau salah satu jalan menuju wushul (sampai pada Tuhan). Dalam istilah lain orang sering juga menyebutnya dengan ilmu haqiqat. Jadi, thariqah merupakan sebuah aliran ajaran dalam pendekatan terhadap Tuhan. Rutinitas yang ditekankan dalam ajaran ini adalah memperbanyak dzikir terhadap Allah.

 

Dalam thariqat, kebanyakan orang yang terjun ke sana adalah orang-orang yang bisa dibilang sudah mencapai usia tua. Itu dikarenakan tuntutan atau pelajaran yang disampaikan adalah pengetahuan pokok atau inti yang berkaitan langsung dengan Tuhan dan aktifitas hati yang tidak banyak membutuhkan pengembangan analisa. Hal ini sesuai dengan keadaan seorang yang sudah berusia tua yang biasanya kurang ada respon dalam pengembangan analisa. Meskipun demikian, tidak berarti thariqah hanya boleh dijalankan oleh orang-orang tua saja.

Lewat thariqah ini orang berharap bisa selalu mendapat ridla dari Allah, atau bahkan bisa sampai derajat wushul. Meskipun sebenarnya thariqah bukanlah jalan satu-satunya.

Wushul

Wushul adalah derajat tertinggi atau tujuan utama dalam ber-thariqah. Untuk mencapai derajat wushul (sampai pada Tuhan), orang bisa mencoba lewat bermacam-macam jalan. Jadi, orang bisa sampai ke derajat tersebut tidak hanya lewat satu jalan. Hanya saja kebanyakan orang menganggap thariqah adalah satu-satunya jalan atau bahkan jalan pintas menuju wushul.

 

Seperti halnya thariqah, ibadah lain juga bisa mengantar sampai ke derajat wushul. Ada dua ibadah yang syetan sangat sungguh-sungguh dalam usaha menggagalkan atau menggoda, yaitu shalat dan dzikir. Hal ini dikarenakan shalat dan dzikir merupkan dua ibadah yang besar kemungkinannya bisa diharapkan akan membawa keselamatan atau bahkan mencapai derajat wushul. Sehingga didalam shalat dan dzikir orang akan merasakan kesulitan untuk dapat selalu mengingat Tuhan.

 

Dalam sebuah cerita, Imam Hanafi didatangi seorang yang sedang kehilangan barang. Oleh Imam Hanafi orang tersebut disuruh shalat sepanjang malam sehingga akan menemukan barangnya. Namun ketika baru setengah malam menjalankan shalat, syetan mengingatkan/mengembalikan barangnya yang hilang sambil membisikkan agar tidak melanjutkan shalatnya. Namun oleh Imam Hanafi orang tersebut tetap disuruh untuk melanjutkan shalatnya.

 

Seperti halnya shalat, dzikir adalah salah satu ibadah yang untuk mencapai hasil maksimal harus melewati jalur yang penuh godaan syetan. Dzikir dalam ilmu haqiqat atau thariqat, adalah mengingat atau menghadirkan Tuhan dalam hati. Sementara Tuhan adalah dzat yang tidak bisa diindera dan juga tiak ada yang menyerupai. Sehingga tidak boleh bagi kita untuk membayangkan keberadaan Tuhan dengan disamakan sesuatu. Maka dalam hal ini besar kemungkinan kita terpengaruh dan tergoda oleh syetan, mengingat kita adalah orang yang awam dalam bidang ini (ilmu haqiqat) dan masih jauh dari standar.

 

Karena itu, untuk selalu bisa berjalan sesuai ajaran agama, menjaga kebenaran maupun terhindar dari kesalahan pengertian, kita harus mempunyai seorang guru. Karena tanpa seorang guru, syetanlah yang akan membimbing kita. Yang paling dikhawatirkan adalah kesalahan yang berdampak pada aqidah.

 

 

Mursyid

Mursyid adalah seorang guru pembimbing dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat. Mengingat pembahasan dalam ilmu haqiqat atau ilmu thariqat adalah tentang Tuhan yang merupakan dzat yang tidak bisa diindera, dan rutinitas thariqah adalah dzikir yang sangat dibenci syetan. Maka untuk menjaga kebenaran, kita perlu bimbingan seorang mursyid untuk mengarahkannya. Sebab penerapan Asma’ Allah atau pelaksanaan dzikir yang tidak sesuai bisa membahayakan secara ruhani maupun mental, baik terhadap pribadi yang bersangkutan maupun terhadap masyarakat sekitar. Bahkan bisa dikhawatirkan salah dalam beraqidah.

 

Seorang mursyid inilah yang akan membimbing kita untuk mengarahkannya pada bentuk pelaksanaan yang benar. Hanya saja bentuk ajaran dari masing-masing mursyid yang disampaikan pada kita berbeda-beda, tergantung aliran thariqah-nya. Namun pada dasarnya pelajaran dan tujuan yang diajarkannya adalah sama, yaitu al-wushul ila-Allah.

 

Melihat begitu pentingnya peranan mursyid, maka tidak diragukan lagi tinggi derajat maupun kemampuan dan pengetahuan yang telah dicapai oleh mursyid tersebut. Karena ketika seorang mursyid memberi jalan keluar kepada muridnya dalam menghadapi kemungkinan godaan syetan, berarti beliau telah lolos dari perangkap syetan. Dan ketika beliau membina muridnya untuk mencapai derajat wushul, berarti beliau telah mencapai derajat tersebut.

Tentang Hizib Syaikh Abdul Qodir Al Jailani

Ketika itu, nun jauh di Banten sana, pernah ada suatu kejadian..dimana masyarakat sekitar dikejutkan dengan penampakan aneh yakni pecahnya bola api secara berturut-turut pada salah satu rumah di kampung tersebut..

 

ketika beberapa orang yg penasaran mencoba untuk mencari tahu

dan si pemilik rumah merasa heran dia tak pernah merasa punya musuh

dan tak pernah merasa mengamalkan ilmu kebatinan

 

sehingga suatu saat kemudian kejadian tersebut berulang kembali

bola api yg berputar-putar diatas kampung tersebut seolah tersedot menuju ke rumah tadi dan pecah berhamburan diatas atap rumah tersebut

 

demikianlah peristiwa ini selalu berulang terjadinya..dan yg aneh

setiap kali bola api datang akan menghantam salah satu rumah warga kemudian berbalik tanpa daya tersedot ke arah rumah tsb dan kemudian pecah berantakan diatas atap rumah tsb.

 

sehingga menjadi buah bibir warga..dan akhirnya oleh beberapa orang yg mengerti

atas kesepakatan warga dan diijinkan tuan rumah diperiksalah ada apa gerangan suatu kelebihan di rumah tersebut

 

ternyata..ditemukanlah satu2nya tulisan yang ditempelkan pada pintu lemari

dan setelah ditelaah.. ternyata tulisan tersebut ialah..

 

Hizib Syaikh Abdul Qodir Al Jailani

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                Bagian 11

                 Sirrul Assrar dari

         Syeikh Abdul Qadir Jailani

UCAPAN UNTUK PARA PEMBACA Sahabat-sahabatku yang dikasihi. Hati kamu adalah seumpama cermin yang berkilat. Kamu mesti membersihkannya daripada debu dan kekotoran yang menutupinya. Cermin hati kamu itu telah ditakdirkan untuk memancarkan cahaya rahasia-rahasia Ilahi. Bila cahaya dari "Allah adalah cahaya bagi semua langit dan bumi." mula menyinari ruang hati kamu, lampu hati kamu akan menyala. Lampu hati itu "berada di dalam kaca, kaca itu sifatnya seumpama bintang berkilau-kilauan terang benderang." Kemudian kepada hati itu anak panah penemuan-penemuan suci akan hinggap. Anak panah kilat akan mengeluarkan daripada awan petir maksud "bukan dari timur atau barat, dinyalakan dari pohon zaitun yang diberkati." dan memancarkan cahaya ke atas pokok penemuan, sangat tulen, sangat lutsinar sehingga ia "memancarkan cahaya walaupun tidak disentuh oleh api". Kemudian lampu makrifat (hikmah kebijaksanaan) akan menyala sendiri. Mana mungkin ia tidak menyala sedangkan cahaya rahasia Allah menyinarinya? Sekiranya cahaya rahasia Ilahi bersinar ke atasnya, langit malam kepada rahasia-rahasia akan menjadi terang oleh ribuan bintang-bintang ".dan berpandukan bintang-bintang (kamu) temui jalan (kamu).". Bukanlah bintang yang memandu kita tetapi cahaya Ilahi. Lantaran Allah ".menghiaskan langit rendah dengan keindahan bintang-bintang". Sekiranya lampu rahasia-rahasia Ilahi dinyalakan di dalam diri batin kamu yang lain akan datang secara sekaligus atau beransur-ansur. Sebagiannya kamu telah ketahui sebagian yang lain akan kami beritahu di sini. Baca, dengar, cuba fahamkan. Langit ketidaksedaran (kelalaian) yang gelap akan dinyalakan oleh kehadiran Ilahi dan kedamaian serta keindahan bulan purnama yang akan naik dari ufuk langit memancarkan "cahaya di atas cahaya" berterusan meninggi di langit, melepasi peringkat yang ditentukan sebagaimana yang Allah telah tentukan bagi kerajaan-Nya, sehingga ia bersinar penuh kemuliaan di tengah-tengah langit, menghambat kegelapan kelalaian. "(Aku bersumpah) demi malam apabila ia senyap sepi.dengan cuaca pagi yang cemerlang." malam ketidaksedaran kamu akan melihat terangnya hari siang. Kemudian kamu akan menghirup air wangi kenangan dan "bertaubat di awal pagi" terhadap ketidaksedaran (kelalaian) dan menyesali umur kamu yang dihabiskan di dalam lena. Kamu akan mendengar nyanyian burung bulbul di pagi hari dan kamu akan mendengarnya berkata: Mereka tidur sedikit sahaja di malam hari dan pada awal pagi mereka memohon keampunan Allah Allah bimbangkan kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Kemudian kamu akan melihat di ufuk langit peraturan Ilahi akan matahari ilmu batin mula terbit. Ia adalah matahari kamu sendiri, Lantaran kamu adalah "yang Allah beri petunjuk" dan kamu "berada pada jalan yang benar" dan bukan "mereka yang Dia tinggalkan di dalam kesesatan". Dan kamu akan memahami rahasia: Tidak diizinkan matahari mengejar bulan dan tidak pula malam mendahului siang. Tiap sesuatu berjalan pada landasan (masing-masing). Akhirnya ikatan akan terurai selaras dengan "perumpamaan yang Allah adakan untuk insan dan Allah mengetahui tiap sesuatu", dan tabir-tabir akan terangkat dan kulit akan pecah, mendedahkan yang seni di bawah pada yang kasar. Kebenaran akan membuka tutupan mukanya. Semua ini akan bermula bila cermin hati kamu dipersucikan. Cahaya rahasia-rahasia Ilahi akan memancar Padanya jika kamu berhajat dan bermohon kepada-Nya, daripada-Nya, dengan-Nya.

 

 

 

 

Pengenalan

Segala puji dan puja untuk Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia yang mengumpul segala pengetahuan di dalam Zat-Nya dan Dia jualah Pencipta segala pengetahuan dengan keabadian. Segala kewujudan bersumberkan Wujud-Nya. Segala puji bagi Allah lantaran Dia menghantarkan Quran yang mulia yang mengandungi di dalamnya sebab-sebab ia diturunkan yaitu untuk memperingatkan manusia tentang Allah. Dihantarkan-Nya kepada pembimbing yang memandu manusia pada jalan yang benar dengan yang paling Perkasa di antara agama-agama. Selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad s.a.w yang tidak diajar oleh makhluk tetapi diajar oleh-Nya sendiri. Baginda s.a.w adalah nabi-Nya yang terakhir, penyambung terakhir pada rantaian kenabian yang diutus kepada dunia yang sedang hanyut di dalam huru hara, yang paling mulia di kalangan nabi-nabi-Nya, dimuliakan dengan kitab suci yang paling suci dan paling mulia. Keturunan baginda s.a.w adalah pembimbing bagi orang-orang yang mencari. Sahabat-sahabat baginda s.a.w adalah pilihan dari kalangan orang yang baik-baik dan murah hati. Semoga kesejahteraan dan keberkatan yang melimpah-limpah dikaruniakan kepada ruh-ruh mereka. Tentu sekali yang paling berharga di antara yang berharga, paling tinggi, permata yang tidak ternilai, barang perniagaan yang paling menguntungkan manusia, adalah ilmu pengetahuan. Hanya dengan hikmah kebijaksanaan kita bisa mencapai keesaan Allah, Tuhan sekalian alam. Hanya dengan hikmah kebijaksanaan kita bisa mengikuti rasul-rasul-Nya dan nabi-nabi-Nya. Orang yang berpengetahuan, yang bijaksana, adalah hamba-hamba Allah yang tulen yang Dia pilih untuk menerima perutusan Ilahi. Dia lebihkan mereka daripada yang lain semata-mata dengan kebaikan rahmat-Nya yang Dia curahkan kepada mereka. Mereka adalah pewaris nabi-nabi, pembantu-pembantu mereka, yang dipilih oleh rasul-rasul-Nya untuk menjadi khalifah kepada sekalian manusia. Mereka berhubungan dengan nabi-nabi dengan perasaan yang amat seni dan kebijaksanaan yang sangat tinggi. Allah Yang Maha Tinggi memuji orang-orang yang memiliki hikmah kebijaksanaan: "Kemudian Kami wariskan Kitab itu kepada mereka yang Kami pilih daripada hamba-hamba Kami, tetapi sebagian daripada mereka menganiayai diri mereka sendiri, dan sebagian daripada mereka cermat, dan sebagian daripada mereka ke hadapan dalam kebajikan-kebajikan dengan izin Allah, yang demikian adalah kurniaan yang besar". (Surah Fatir, ayat 32). Nabi Muhammad s.a.w bersabda, "Pemegang hikmah kebijaksanaan adalah pewaris nabi-nabi. Penduduk langit mengasihi mereka dan di atas muka bumi ini ikan-ikan di laut bertasbih untuk mereka hingga kepada hari kiamat". Dalam ayat lain Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Tidak takut kepada Allah daripada hamba-hamba-Nya melainkan orang-orang yang berilmu Pengetahuan" (Surah Fatir, ayat 28). Nabi Muhammad s.a.w bersabda, "Pada hari pembalasan, Allah akan mengumpulkan sekalian manusia, kemudian mengasingkan yang berilmu di antara mereka dan berkata kepada mereka: 'Wahai orang-orang yang berilmu. Aku karuniakan kepada kamu ilmu-Ku karena Aku mengenali kamu. Tidak aku karuniakan hikmah kebijaksanaan kepada kamu untuk Aku hukumkan kamu pada hari ini. Masuklah ke dalam syurga-syurga-Ku. Aku telah ampunkan kamu' ". Segala puji milik Allah, Tuhan sekalian alam lantaran Dia karuniakan makam yang tinggi kepada hamba-hamba-Nya yang taat dan memelihara mereka daripada dosa dan menyelamatkan mereka daripada diseksa. Dia berkati ahlul hikmah dengan menghampiri mereka. Sebagian daripada murid-murid kami meminta supaya kami sediakan sebuah buku yang memadai buat mereka. Sesuai dengan permintaan dan keperluan mereka kami siapkan buku yang ringkas ini Semoga ia dapat mengubati dan memuaskan mereka serta yang lain juga. Kami namakan buku ini "Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar" atau "rahasia dalam rahasia-rahasia yang Kebenarannya sangat diperlukan". Dalam pekerjaan ini kenyataan di dalam kepercayaan dan perjalanan kami dibukakan. Setiap orang memerlukannya. Dalam menyampaikan hasil kerja ini kami bagikannya kepada 24 bab karena terdapat 24 huruf di dalam pengakuan scui "La ilaha illah Llah, Muhammadun rasulu Llah" dan juga terdapat 24 jam dalam satu hari.

 

 1: Permulaan Kejadian Makhluk

Semoga Allah s.w.t memberikan kamu kejayaan di dalam amalan-amalan kamu yang disukai-Nya dan Semoga kamu memperoleh keredaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiran kamu dan fahamkan apa yang aku katakan. Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman: "Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku". Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya: "Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaannya diciptakan-Nya sebagai ruh suci". "Mula-mula Allah ciptakan qalam". "Mula-mula Allah ciptakan akal". Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, karena dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan". (Al-Maaidah, ayat 15) Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam karena dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf. Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan sabdanya, "Aku daripada Allah dan sekalian yang lain daripadaku". Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian roh-roh daripada roh baginda s.a.w di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. 'Muhammad' adalah nama kepada sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya. Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan arasy daripada cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain daripada arasy. Kemudian Dia hantarkan roh-roh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan badan. "Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah". (Surah Tin, ayat 15) Dia hantarkan cahaya itu daripada tempat ia diciptakan, dari alam lahut, yaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab kepunyaan roh yang meliputi (roh universal). Di sana Dia pakaikan roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Roh-roh ini dinamakan 'roh pemerintah'. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan 'roh rohani'. Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi 'roh manusia'. Kemudian daripada dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah. "Kemudian Kami jadikan kamu dan kepadanya kamu akan dikembalikan dan daripadanya kamu akan dibangkitkan sekali lagi". (Surah Ta Ha, ayat 55) Selepas peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan roh-roh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk. "Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya roh-Ku.". (Surah Shad, ayat 72) Sampai masanya roh-roh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka: "Adakah aku Tuhan kamu? Mereka telah menjawab:Iya, bahkan!." Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka. "Dan Sesungguhnya Kami telah utuskan Musa (membawa) ayat-ayat Kami (sambil Kami mengatakan): hendaklah kamu keluarkan kaum kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan ingatkan mereka kepada hari-hari Allah". (Surah Ibrahim, ayat 5) Yaitu 'ingatkan roh-roh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Allah'. Banyak rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa kepada manusia perutusan, peringatan serta menyedarkan manusia dari kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi sibuin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman. Nabi-nabi terus diutuskan dan perutusan suci berterusan sehingga muncul roh Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia daripada kehancuran dan kelalaian. Allah Yang Maha Tinggi mengutuskannya untuk membuka mata manusia yaitu membuka mata hati yang ketiduran. Tujuannya ialah mengejutkan manusia dari kelalaian dan ketidaksedaran dan untuk menyatukan mereka dengan keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah berfirman: "Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (basirah)". (Surah Yusuf, ayat 108). Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda, "Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Siapa daripada mereka yang kamu ikuti kamu akan temui jalan yang benar". Pandangan yang jelas (basirah) datangnya daripada mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang hampir dengan Allah, yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan dalam (basirah). Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya daripada alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir daripada kesadaran Ilahi. "Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu laduni)". (Surah Kahfi, ayat 65). Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan dalam (basirah) yang mata hatinya celik, dan cetusan serta perangsang daripada orang yang separti ini adalah perlu. Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, mestilah seorang yang hampir dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam mutlak. Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah karena melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan agar dikaruniakan-Nya kepada kamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Allah memerintahkan: "Dan berlumba-lumbalah kepada keampunan Tuhan kamu dan syurga yang lebarnya (seluas) langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang berbakti. Yang menderma di waktu senang dan susah, dan menahan marah, dan memaafkan manusia, dan Allah kasih kepada mereka yang berbuat kebajikan". (Surah Imraan, ayat 133 & 134). Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian untuk kembali kepada Tuhan kamu. Pada satu masa nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi. Kita tidak datang ke bumi ini untuk merusakkan dunia ini. Kita dihantar ke mari bukan untuk makan, minum dan berak. Roh penghulu kita menyaksikan kita. Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaan kamu. Baginda s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari apabila baginda s.a.w bersabda, "Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian". Apa sahaja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu bentuk, secara nyata atau tersembunyi; nyata dalam bentuk peraturan syariat dan tersembunyi dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya mensejahterakan dhohir kita dengan mematuhi peraturan syariat dan meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan memperoleh hikmah kebijaksanaan atau makrifat. Bila dhohir dan batin kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau makrifat dengan peraturan agama (syariat) bersatu, seseorang itu sampai kepada makam yang sebenarnya (hakikat). "Dia alirkan dua laut, padahal kedua-duanya bertemu. Antara dua itu ada dinding yang kedua-duanya tidak mampu melewatinya". (Surah Imraan, ayat 19 & 20). Kedua-duanya mesti menjadi satu. Kebenaran atau hakikat tidak akan diperoleh dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera dan deria-deria tentang alam kebendaan. Dengan cara tersebut tidak mungkin mencapai matlamat, sumber, yaitu Zat. Ibadat dan penyembahan memerlukan kedua-duanya yaitu peraturan syariat dan makrifat. Allah berfirman tentang ibadat: "Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku". (Surah Dzaariyat, ayat 56). Dalam lain perkataan, 'mereka diciptakan supaya mengenali Daku'. Jika seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia bisa memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan berkhidmat kepada-Nya? Makrifat yang diperlukan bagi mengenali-Nya bisa dicapai dengan menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang, menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga bercahaya. Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi akan memancar pada rahasia cermin hati. Allah Yang Maha Tinggi telah berfirman melalui rasul-Nya: "Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali". Tujuan suci diciptakan manusia ialah supaya mereka mengenali Allah, memperoleh makrifat. Ada dua peringkat makrifat yang suci. Seseorang itu perlu mengenali sifat-sifat Allah dan dalil-dalil yang menjadi kenyataan atau pendhohiran bagi sifat-sifat tersebut. Satu lagi ialah mengenali Zat Allah. Di dalam mengenali sifat-sifat Allah manusia secara dhohirnya dapat menikmati kedua-duanya yaitu dunia dan akhirat. Makrifat yang memimpin kepada Zat Allah tidak diperoleh dengan diri dhohir manusia. Ia terjadi di dalam jiwa atau roh suci manusia yang berada di dalam dirinya yang dhohir ini. "Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan roh kudus". (Surah Baqarah, ayat 87). Orang yang mengenali Zat Allah menemui kuasa ini melalui roh kudus (suci) yang dikaruniakan kepada mereka. Kedua-dua makrifat tersebut diperoleh dengan hikmah kebijaksanaan yang mempunyai dua aspek; hikmah kebijaksanaan kerohanian yang di dalam dan pengetahuan dhohir tentang benda-benda nyata. Kedua-duanya diperlukan untuk mendapatkaan kebaikan. Nabi s.a.w bersabda, "Pengetahuan ada dua bagian. Satu pada lidah yang menjadi dalil tentang kewujudan Allah, satu lagi di dalam hati manusia. Inilah yang diperlukan bagi melaksanakan harapan kita". Pada peringkat permulaannya seseorang itu memerlukan pengetahuan syariat. Ini memerlukan pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil luar tentang Zat Allah yang menyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama ini. Apabila bidang ini telah sempurna sampailah giliran pendidikan kerohanian tentang rahasia-rahasia, di mana seseorang itu masuk ke dalam bidang makrifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat). Pada peringkat yang pertama seseorang itu mestilah meninggalkan segala-galanya yang tidak dipersetujui oleh syariat malah, kesilapan di dalam melakukan perbuatan yang baik mestilah dihapuskan. Perbuatan yang baik mestilah dilakukan dengan cara yang betul, sebagaimana keperluan pada jalan sufi. Keadaan ini bisa dicapai dengan melatihkan diri dengan melakukan perkara-perkara yang tidak dipersetujui oleh ego diri sendiri dan melakukan amalan yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain. Semuanya mestilah dilakukan semata-mata karena Allah, demi mencari keredaan-Nya. Allah berfirman: "Barangsiapa berharap menemui Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal salih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam ibadatnya kepada Tuhannya". (Surah Kahfi, ayat 110). Apa yang dihuraikan sebagai daerah makrifat itu adalah tahap penghabisan bagi daerah kejadian yang pertama. Ia adalah permulaan dan merupakan rumah yang setiap orang kembali ke sana. Di samalah roh suci dijadikan. Apa yang dimaksudkan dengan roh suci adalah roh insan. Ia dijadikan dalam bentuk yang paling baik. Kebenaran atau hakikat tersebut telah ditanam di tengah-tengah hati sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan dengan selamat. Ia bangkit dan menyata melalui taubat yang sungguh-sungguh dan usaha sebenar mempelajari agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan apabila seseorang itu mengingati Allah terus menerus, mengulangi kalimah "La ilaha illah Llah". Pada mulanya kalimah ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam, dengan hati. Sufi menggambarkan keadaan kerohanian yang demikian dengan menganggapnya sebagai bayi, yaitu bayi yang lahir di dalam hati, dibela dan dibesarkan di sana. Hati memainkan peranan separti ibu, melahirkannya, menyusun, memberi makan dan memeliharanya. Jika anak-anak diajarkan kepakaran keduniaan untuk kebaikannya, bayi hati pula diajarkan makrifat rohani. Sebagaimana kanak-kanak bersih daripada dosa, bayi hati adalah tulen, bebas daripada kelalaian, ego dan ragu-ragu. Kesucian bayi biasanya menyata dalam bentuk dhohir yang cantik. Dalam mimpi, kesucian dan ketulenan bayi hati muncul dalam rupa malaikat. Manusia berharap mendapat ganjaran syurga sebagai balasan kepada perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang didatangi dari syurga didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati. "Dalam kebun-kebun kenikmatan.melayani mereka anak-anak muda yang tidak berubah keadaan mereka". (Surah Waqi'ah, ayat 12 - 17 ). "Melayani mereka adalah anak-anak muda laksana mutiara yang tersimpan". (Surah Tur, ayat 24). Mereka adalah anak-anak kepada hati, menurut yang diilhamkan kepada sufi, dipanggil anak-anak karena keelokan dan ketulenan mereka. Keindahan dan ketulenan mereka menyata dalam kewujudan dhohir, dalam darah daging, dalam bentuk manusia. Oleh karena keelokan dan kelembutan sifatnya ia dinamakan anak-anak hati, tetapi dia adalah manusia sejati yang mampu mengubah bentuk kejadian atau ciptaan karena dia berhubung erat dengan Pencipta sendiri. Dia adalah wakil sebenar kemanusiaan. Di dalam kesadarannya tidak ada sesuatu malah dia tidak melihat dirinya sebagai sesuatu. Tidak hijab, tidak halangan di antara kewujudannya dengan Zat Allah. Nabi Muhammad s.a.w menggambarkan suasana demikian sebagaimana sabda baginda s.a.w, "Ada masa aku dengan Allah di mana tidak malaikat yang hampir dan tidak juga nabi yang diutus". Maksud 'nabi' di sini ialah kewujudan lahiriah yang sementara bagi Rasulullah s.a.w sendiri. Malaikat yang paling hampir dengan Allah ialah cahaya suci Muhammad s.a.w, kejadian pertama. Dalam suasana kerohanian itu baginda s.a.w sangat hampir dengan Allah sehingga wujud dhohirnya dan rohnya tidak berkesempatan menghijabkannya dengan Allah. Baginda s.a.w menggambarkan lagi suasana demikian, "Ada syurga Allah yang tidak ada mahligai dan taman-taman atau sungai madu dan susu, syurga yang di dalamnya seseorang hanya menyaksikan Wajah Allah Yang Maha Suci". Allah s.w.t berfirman: "Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya dia memandang". (Surah Qiamat, ayat 22 & 23). Pada suasana atau makam tersebut jika seseorang makhluk termasuk malaikat mendekatinya kewujudan badannya akan terbakar menjadi abu. Allah s.w.t berfirman melalui rasul-Nya: "Jika Aku bukakan penutup sifat keperkasaan-Ku dengan bukaan yang sangat sedikit sahaja, semua akan terbakar sejauh yang dilihat oleh pandangan-Ku". Jibrail yang menemani Nabi Muhamamd s.a.w pada malam mikraj, apabila sampai di Sidratul Muntaha, telah mengatakan jika dia melangkah satu langkah sahaja lagi dia akan terbakar menjadi abu

 

2: Manusia

Kembali Kepada Asal Usul Manusia dipandang daripada dua sudut; wujud lahiriah dan wujud rohani. Dalam segi kewujudan lahiriah keadaan kebanyakan manusia adalah berlebih kurang sahaja di antara satu sama lain. Oleh yang demikian peraturan kemanusiaan yang umum bisa digunakan untuk sekalian manusia bagi urusan lahiriah mereka. Dalam sudut kewujudan rohani yang tersembunyi di sebalik wujud lahiriah, setiap manusia adalah ber beda. Jadi, peraturan yang khusus mengenai diri masing-masing diperlukan. Manusia bisa kembali kepada asalnya dengan mengikuti peraturan umum, dengan mengambil langkah-langkah tertentu. Dia mestilah mengambil peraturan agama yang jelas dan mematuhinya. Dengan demikian dia bisa maju ke hadapan. Dia bisa meningkat dari satu peringkat kepada peringkat yang lebih tinggi sehingga dia sampai dan memasuki jalan atau peringkat kerohanian, masuk ke daerah makrifat. Peringkat ini sangat tinggi dan dipuji oleh Rasulullah s.a.w, "Ada suasana yang semua dan segala-galanya berkumpul di sana dan ia adalah makrifat yang murni". Untuk sampai ke peringkat tersebut Perlulah dibuang kepura-puraan dan kepalsuan yang melakukan kebaikan karena menunjuk-nunjuk. Kemudian dia perlu menetapkan tiga matlamat. Tiga matlamat tersebut sebenarnya adalah tiga jenis syurga. Yang pertama dinamakan Ma'wa - syurga tempat kediaman yang aman. Ia adalah syurga duniawi. Kedua, Na'im - taman keredaan Allah dan kurniaan-Nya kepada makhluk-Nya. Ia adalah syurga di dalam alam malaikat. Ketiga dinamakan Firdaus - syurga alam tinggi. Ia adalah syurga pada alam kesatuan akal asbab, rumah kediaman bagi roh-roh, medan bagi nama-nama dan sifat-sifat. Kesemua ini adalah balasan yang baik, keelokan Allah yang manusia berjasad akan nikmati dalam usahanya sepanjang tiga peringkat ilmu pengetahuan yang berturut-turut; usaha mematuhi peraturan syariat; usaha menghapuskan yang berbilang-bilang pada dirinya, melawan penyebab yang menimbulkan suasana berbilang-bilang itu, yaitu ego diri sendiri, bagi mencapai peringkat penyatuan dan kehampiran dengan Pencipta; akhirnya usaha untuk mencapai makrifat, di mana dia mengenali Tuhannya. Peringkat pertama dinamakan syariat, kedua toriqoh dan ketiga makrifat. Nabi Muhammad s.a.w menyimpulkan keadaan-keadaan tersebut dengan sabda baginda s.a.w, "Ada suasana di mana semua dan segala-galanya dikumpulkan dan ia adalah hikmah kebijaksanaan (makrifat)". Baginda s.a.w juga bersabda, "Dengannya seseorang mengetahui kebenaran (hakikat), yang berkumpul di dalamnya sebab-sebab dan semua kebaikan. Kemudian seseorang itu mesti bartindak atas kebenaran (hakikat) tersebut. Dia juga perlu mengenali kepalsuan dan bartindak ke atasnya dengan meninggalkan segala yang demikian". Baginda s.a.w mendoakan, "Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang benar dan jadikan pilihan kami mengikuti yang benar itu. Dan juga tunjukkan kepada kami yang tidak benar dan permudahkan kami meninggalkannya". Orang yang kenal dirinya dan menentang keinginannya yang salah dengan segala kekuatannya akan sampai kepada mengenali Tuhannya dan akan menjadi taat kepada kehendak-Nya. Semua ini adalah peraturan umum yang mengenai diri dhohir manusia. Kemudian ada pula aspek diri rohani atau diri batin manusia yang merupakan insan yang tulen, suci bersih dan murni. Maksud dan tujuan diri ini hanya satu yaitu kehampiran secara keseluruhan kepada Allah s.w.t. Satu cara sahaja untuk mencapai suasana yang demikian, yaitu pengetahuan tentang yang sebenarnya (hakikat). Di dalam daerah wujud penyatuan mutlak, pengetahuan ini dinamakan kesatuan atau keesaan. Matlamat pada jalan tersebut harus diperoleh di dalam kehidupan ini. Di dalam suasana itu tidak  beda di antara tidur dengan jaga karena di dalam tidur roh berkesempatan membebaskan dirinya untuk kembali kepada asalnya, alam arwah, dan dari sana kembali semula ke sini dengan membawa berita-berita dari alam ghaib. Fenomena ini dinamakan mimpi. Dalam keadaan mimpi ia berlaku secara sebagian-bagian. Ia juga bisa berlaku secara menyeluruh separti israk dan mikraj Rasulullah s.a.w. Allah berfirman: "Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan yang tidak mati, dalam tidurnya, lalu Dia tahan yang dihukumkan mati atasnya dan Dia lepaskan yang lain". (Surah Zumaar, ayat 42).

 

Orang alim adalah orang yang telah memperoleh pengetahuan tentang hakikat atau yang sebenar, yang tidak berhuruf, tidak bersuara. Pengetahuan demikian diperoleh dengan terus menerus berDzikir nama keesaan Yang Maha Suci dengan lidah rahasia. Orang alim adalah orang yang zat dirinya ditukarkan kepada cahaya suci oleh cahaya keesaan. Allah berfirman melalui rasul-Nya: "Insan adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya. Pengetahuan batin tentang hakikat roh adalah rahasia kepada rahasia-rahasia-Ku. Aku campakkan ke dalam hati hamba-hamba-Ku yang baik-baik dan tidak siapa tahu Keadaannya melainkan Aku." "Aku adalah sebagaimana hamba-Ku mengenali Daku. Bila dia mencari-Ku dan ingat kepada-Ku, Aku besertanya. Jika dia mencari-Ku di dalam, Aku mendapatkannya dengan Zat-Ku. Jika dia ingat dan menyebut-Ku di dalam jemaah yang baik, Aku ingat dan menyebutnya di dalam jemaah yang lebih baik". Segala yang dikatakan di sini jika berhasrat mencapainya perlulah melakukan tafakur - cara mendapatkaan pengetahuan yang demikian jarang digunakan oleh orang banyak. Nabi s.a.w bersabda, "Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada satu tahun beribadat". "Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada tujuh puluh tahun beribadat". "Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada seribu tahun beribadat". Nilai sesuatu amalan itu tersembunyi di dalam hakikat kepada yang sebenarnya. Perbuatan bertafakur di sini nampaknya mempunyai nilai yang ber beda. Siapa merenungi sesuatu perkara dan mencari penyebabnya dia akan mendapati setiap bagian mempunyai bagian-bagian sendiri dan dia juga mendapati setiap satu itu menjadi penyebab kepada berbagai-bagai perkara lain. Renungan begini bernilai satu tahun ibadat. Siapa merenungi kepada pengabdiannya dan mencari penyebab dan alasan dan dia dapat mengetahui yang demikian, renungannya bernilai lebih daripada tujuh puluh tahun ibadat. Siapa merenungkan hikmah kebijaksanaan Ilahi dan bidang makrifat dengan segala kesungguhannya untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi, renungannya bernilai lebih daripada seribu tahun ibadat karena ini adalah ilmu pengetahuan yang sebenarnya. Pengetahuan yang sebenarnya adalah suasana keesaan. Orang arif yang menyintai menyatu dengan yang dicintainya. Daripada alam kebendaan terbang dengan sayap kerohanian meninggi hingga kepada asalk pencapaian. Bagi ahli ibadat berjalan di dalam syurga, sementara orang arif terbang kepada kedudukan berhampiran dengan Tuhannya. Para pencinta mempunyai mata pada hati mereka mereka memandang sementara yang lain terpejam sayap yang mereka miliki tanpa daging tanpa darah mereka terbang ke arah malaikat Tuhan jualah yang dicari! Penerbangan ini terjadi di dalam alam kerohanian orang arif. Para arifbillah mendapat penghormatan dipanggil insan sejati, menjadi kekasih Allah, sahabat-Nya yang akrab, pengantin-Nya. Bayazid al-Bustami berkata, "Para Pemegang makrifat adalah pengantin Allah Yang Maha Tinggi". Hanya pemilik-pemilik 'pengantin yang pengasih' mengenali mereka dengan dekat dan secara mesra.. Orang-orang arif yang menjadi sahabat akrab Allah, walaupun sangat cantik, tetapi ditutupi oleh keadaan luaran yang sangat sederhana, separti manusia biasa. Allah berfirman melalui rasul-Nya: "Para sahabat-Ku tersembunyi di bawah kubah-Ku. Tidak yang mengenali mereka kecuali Aku". Kubah yang di bawahnya Allah sembunyikan sahabat-sahabat akrab-Nya adalah keadaan mereka yang tidak terkenal, rupa yang biasa sahaja, sederhana dalam segala hal. Bila melihat kepada pengantin yang ditutupi oleh tabir perkahwinan, apakah yang dapat dilihat kecuali tabir itu? Yahya bin Muadh al-Razi berkata, "Para kekasih Allah adalah air wangi Allah di dalam dunia. Tetapi hanya orang-orang yang beriman yang benar dan jujur sahaja dapat menciumnya". Mereka mencium keharuman baunya lalu mereka mengikuti bau itu. Keharuman itu mengwujudkan kerinduan terhadap Allah dalam hati mereka. Masing-masing dengan cara tersendiri mempercepatkan langkahnya, menambahkan usaha dan ketaatannya. Darjah kerinduannya, keinginannya dan kelajuan perjalanannya bergantung kepada berapa ringan beban yang dibawanya, sejauh mana dia telah melepaskan diri kebendaan dan keduniaannya. Sibuin banyak seseorang itu menanggalkan pakaian dunia yang kasar ini sibuin dia merasakan kehangatan. Penciptanya dan sibuin hampirlah kepada permukaan akan muncul diri rohaninya. Kehampiran dengan yang sebenar (hakikat) bergantung kepada sejauh mana seseorang itu melepaskan kebendaan dan keduniaan yang menipu daya. Penanggalan aspek yang berbilang-bilang pada diri membawa seseorang hampir dengan satu-satunya kebenaran. Orang yang akrab dengan Allah adalah orang yang telah membawa dirinya kepada keadaan kekosongan. Hanya selepas itu baharulah dia dapat melihat kewujudan yang sebenarnya (hakikat). Tidak ada lagi kehendak pada dirinya untuk dia membuat  pilihan. Tidak lagi 'aku' yang tinggal, kecuali kewujudan satu-satunya yaitu yang sebenarnya (hakikat). Walaupun berbagai-bagai kekeramatan yang muncul melalui dirinya sebagai membuktikan kedudukannya, dia tidak ada kena mengena dengan semua itu. Di dalam suasananya tidak ada pembukaan terhadap rahasia-rahasia karena membuka rahasia Ilahi adalah kekufuran. Di dalam buku yang bertajuk "Mirsad" ada dituliskan, 'Semua orang yang kekeramatan dhohir melalui mereka adalah ditutup daripadanya dan tidak memperdulikan keadaan tersebut. Bagi mereka masa kekeramatan muncul melalui mereka dianggap sebagai masa perempuan keluar darah haid. Wali-wali yang hampir dengan Allah perlu mengembara sekurang-kurangnya seribu peringkat, yang pertamanya ialah pintu kekeramatan. Hanya mereka yang dapat melepasi pintu ini tanpa dicederakan akan meningkat kepada peringkat-peringkat lain yang lebih tinggi. Jika mereka leka mereka tidak akan sampai ke mana-mana.

 

3: Penurunan Manusia Ke Peringkat Paling Bawah

Allah Yang Maha Tinggi menciptakan roh suci sebagai ciptaan yang paling sempurna, yang pertama diciptakan, di dalam alam kewujudan mutlak bagi Zat-Nya. Kemudian Dia berkehendak menghantarkannya kepada alam rendah. Tujuan Dia berbuat demikian ialah bagi mengajar roh suci mencari jalan kembali kepada yang sebenar di tahap Maha Kuasa, mencari kedudukannya yang dahulu yang hampir dan akrab dengan Allah. Dihantarkan-Nya roh suci kepada perhentian utusan-utusan-Nya, wali-wali-Nya, kekasih-kekasih dan sahabat-sahabat-Nya. Dalam perjalanannya, Allah menghantarkannya mula-mula kepada kedudukan akal asbab bagi keesaan, bagi roh universal, alam nama-nama dan sifat-sifat Ilahi, alam hakikat kepada Muhammad s.a.w. Roh suci memiliki dan membawa bersama-samanya benih kesatuan. Apabila melalui alam ini ia dipakaikan cahaya suci dan dinamakan 'roh sultan'. Apaabila melalui alam malaikat yang menjadi perantaraan kepada mimpi-mimpi, ia mendapat nama 'roh perpindahan'. Bila akhirnya ia turun kepada dunia kebendaan ini ia dibaluti dengan daging yang Allah ciptakan untuk kesesuaian makhluk-Nya. Ia dibaluti oleh jirim yang kasar bagi menyelamatkan dunia ini karena dunia kebendaan jika berhubung secara langsung dengan roh suci maka dunia kebendaan akan terbakar menjadi abu. Dalam hubungannya dengan dunia ini ia dikenali sebagai kehidupan, roh manusia. Tujuan roh suci dihantar ke tempat ciptaan yang paling rendah ini ialah supaya ia mencari jalan kembali kepada kedudukannya yang asal, makam kehampiran, ketika ia masih di dalam bentuk berdaging dan bertulang ini. Ia sepatutnya datang ke alam benda yang kasar ini, dan dengan melalui hatinya yang berada di dalam mayat ini, menanamkan benih kesatuan dan menunbuhkan pokok keesaan di dalam dunia ini. Akar pokok masih berada pada tempat asalnya. Dahannya memenuhi ruang kebagiaan, dan di sana demi keredaan Allah, mengeluarkan buah kesatuan. Kemudian di dalam bumi hati roh itu menanamkan benih agama dan bercita-cita menumbuhkan pokok agama agar diperoleh buahnya, tiap satunya akan menaikkannya kepada peringkat yang lebih hampir dengan Allah. Allah membuatkan jasad-jasad atau tubuh-tubuh untuk dimasuki oleh roh-roh dan bagi roh-roh ini masing-masing mempunyai nama yang ber beda- beda. Dia bena ruang penyesuaian di dalam tubuh. Diletakkan-Nya roh manusia, roh kehidupan di antara daging dan darah. Diletakkan-Nya roh suci di tengah-tengah hati, di mana dibena ruang bagi jirim yang sangat seni untuk menyimpan rahasia di antara Allah dengan hamba-Nya. Roh-roh ini berada pada tempat yang ber beda- beda dalam tubuh, dengan tugas yang ber beda, urusan yang ber beda, masing-masing umpama membeli dan menjual barang yang berlainan, mendapat faedah yang ber beda. Perniagaan mereka sentiasa membawakan kepada mereka banyak manfaat dalam bentuk nikmati dan rahmat Allah. "Daripada apa yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terang, (mereka) mengharapkan perniagaan yang tidak akan rugi". (Surah Fatir, ayat 29). Layaklah bagi setiap manusia mengetahui urusannya di dalam alam kewujudan dirinya sendiri dan memahami tujuannya. Dia mestilah faham bahwa dia tidak bisa meminda apa yang telah dihukumkan sebagai benar untuknya dan digantungkan dilehernya. Bagi orang yang mahu meminda apa yang telah dihukumkan untuknya, yang terikat dengan cita-cita dan dunia ini Allah berkata: "Tidaklah (mahu) dia ketahui (bagaimana keadaan) apabila dibongkarkan apa-apa yang di dalam kubur? Dan didhohirkan apa-apa yang di dalam dada?" (Surah 'Aadiyat, ayat 9). "Dan tiap-tiap manusia Kami gantungkan (catatan) amalannya pada tengkuknya." (Surah Bani Israil, ayat 13).

 

4: Tempat Roh Di Dalam Jasad

Tempat roh manusia, roh kehidupan, di dalam badan ialah dada. Tempat ini berhubung dengan pancaindera dan deria-deria. Urusan atau bidangnya ialah agama. Pekerjaannya ialah mentaati perintah Allah. Dengan peraturan-peraturan yang ditentukan-Nya, Allah memelihara dunia nyata ini dengan teratur dan harmoni. Roh itu bartindak menurut kewajipan yang ditentukan oleh Allah, tidak menganggap perbuatannya sebagai perbuatannya sendiri karena dia tidak berpisah dengan Allah. Perbuatannya daripada Allah; tidak ada perpisahan di antara 'aku' dengan Allah di dalam tindakan dan ketaatannya. "Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya hendaklah mengerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan sesuatu dalam ibadat kepada Tuhannya". (Surah Kahfi, ayat 110). Allah adalah esa dan Dia mencintai yang bersatu dan satu. Dia mahu semua penyembahan dan semua amal kebaikan, yang Dia anggap sebagai pengabdian kepada-Nya, menjadi milik-Nya semata-mata, tidak dikongsikan dengan apa sahaja. Jadi, seseorang tidak memerlukan kelulusan atau halangan daripada siapa pun di dalam pengabdiannya kepada Tuhannya, juga amalannya bukan untuk kepentingan duniawi. Semuanya semata-mata karena Allah. Suasana yang dihasilkan oleh petunjuk Ilahi separti menyaksikan bukit-bukti kewujudan Allah di dalam alam nyata ini; kenyataan sifat-sifat-Nya, kesatuan di dalam yang banyak, hakikat di sebalik yang nyata, kehampiran dengan Pencipta, semuanya adalah ganjaran bagi amalan kebaikan yang benar dan ketaatan tanpa mementingkan diri sendiri. Namun, semuanya itu di dalam taklukan alam benda, daripada bumi yang di bawah tapak kaki kita sehinggalah kepada langit-langit. Termasuk juga di dalam taklukan alam dunia ialah kekeramatan yang muncul melalui seseorang, misalnya berjalan di atas air, terbang di udara, berjalan dengan pantas, mendengar suara dan melihat gambaran dari tempat yang jauh atau bisa membaca fikiran yang tersembunyi. Sebagai ganjaran terhadap amalan yang baik manusia juga diberikan nikmati di akhirat separti syurga, khadam-khadam, bidadari, susu, madu, arak dan lain-lain. Semuanya itu merupakan nikmati syurga tingkat pertama, syurga dunia. Tempat 'roh perpindahan atau roh peralihan' ialah di dalam hati. Urusannya ialah pengetahuan tentang jalan kerohanian. Kerjanya berkait dengan empat nama-nama pertama bagi nama-nama Allah yang indah. Sebagaimana dua belas nama-nama yang lain empat nama tersebut tidak termasuk di dalam sempadan suara dan huruf. Jadi, ia tidak bisa disebut. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Dan bagi Allah jualah nama-nama yang baik, jadi serulah Dia dengan nama-nama tersebut". (Surah A'raaf, ayat 180). Firman Allah di atas menunjukkan tugas utama manusia adalah mengetahui nama-nama Tuhan. Ini adalah pengetahuan batin seseorang. Jika mampu memperoleh pengetahuan yang demikian dia akan sampai kepada makam makrifat. Di samalah pengetahuan tentang nama keesaan sempurna. Nabi s.a.w bersabda, "Allah Yang Maha Tinggi mempunyai sembilan puluh sembilan nama, siapa mempelajarinya akan masuk syurga". Baginda s.a.w juga bersabda, "Pengetahuan adalah satu. Kemudian orang arif jadikannya seribu". Ini bermakna nama kepunyaan Zat hanyalah satu. Ia memancar sebagai seribu sifat kepada orang yang menerimanya. Dua belas nama-nama Ilahi berada di dalam lengkungan sumber pengakuan tauhid "La ilaha illa Llah". Tiap satunya adalah satu daripada dua belas huruf dalam kalimah tersebut. Allah Yang Maha Tinggi mengurniakan nama masing-masing bagi setiap huruf di dalam perkembangan hati. Setiap satu daripada empat alam yang dilalui oleh roh terdapat tiga nama yang berlainan. Allah Yang Maha Tinggi dengan cara ini memegang erat hati para pencinta-Nya, dalam kasih sayang-Nya. Firman-Nya: "Allah tetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap di Penghidupan dunia dan akhirat". (Surah Ibrahim, ayat 27). Kemudian dikaruniakan kepada mereka kehampiran-Nya. Dia sediakan pokok keesaan di dalam hati mereka, pokok yang akarnya turun kepada tujuh lapis bumi dan Dahannya meninggi kepada tujuh lapis langit, bahkan meninggi lagi hingga ke arasy dan mungkin lebih tinggi lagi. Allah berfirman: "Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah adakan misal, satu kalimah yang baik separti pohon yang baik, pangkalnya tetap dan cabangnya ke langit. (Surah Ibrahim, ayat 24). Tempat 'roh perpindahan atau roh peralihan' adalah di dalam nyawa kepada hati. Alam malaikat berterusan di dalam penyaksiannya. Ia bisa melihat syurga alam tersebut, penghuninya, cahayanya dan semua malaikat di dalamnya. Kalam 'roh peralihan' adalah bahasa alam batin, tanpa huruf tanpa suara. Perhatiannya berterusan menyentuh soal-soal rahasia-rahasia maksud yang tersembunyi. Tempatnya di akhirat apabila kembali ialah syurga Na'im, taman kegembiraan kurniaan Allah. Tempat 'roh sultan' di mana ia memerintah, adalah di tengah-tengah hati, jantung kepada hati. Urusan roh ini ialah makrifat. Kerjanya ialah mengetahui semua pengetahuan ketuhanan yang menjadi perantaraan bagi semua ibadat yang sebenar-benarnya diucapkan dalam bahasa hati. Nabi s.a.w bersabda, "Ilmu ada dua bagian. Satu pada lidah, yang membuktikan kewujudan Allah. Satu lagi di dalam hati. Inilah yang perlu bagi menyedarkan tujuan seseorang". Ilmu yang sebenar-benarnya bermanfaat berada di dalam sempadan kegiatan hati. Nabi s.a.w bersabda, "Quran yang mulia mempunyai makna dhohir dan makna batin". Allah Yang Maha Tinggi membukakan Quran kepada sepuluh lapis makna yang tersembunyi. Setiap makna yang berikutnya lebih bermanfaat daripada yang sebelumnya karena ia sibuin hampir dengan sumber yang sebenarnya. Dua belas nama kepunyaan Zat Allah adalah umpama dua belas mata air yang memancar dari batu apabila Nabi Musa a.s menghentamkan batu itu dengan tongkatnya. "Dan (ingatlah) tatkala Musa mintakan air bagi kaumnya, maka Kami berkata, 'Pukullah batu itu dengan tingkat kamu'. Lantas terpancar daripadanya dua belas mata air yang sesungguhnya setiap golongan itu mengetahui tempat minumnya". (Surah Baqarah, ayat 60). Pengetahuan dhohir adalah umpama air hujan yang datang dan pergi sementara pengetahuan batin umpama mata air yang tidak pernah kering. "Dan satu tanda untuk mereka, ialah bumi yang mati (lalu) Kami hidupkannya dan Kami keluarkan daripadanya biji-bijian, lalu mereka mibuannya". (Surah Yaa Sin, ayat 33). Allah jadikan satu bijian, sebiji benih di langit. Benih itu menjadi kekuatan kepada kehaiwanan di dalam diri manusia. Dijadikan-Nya juga sebiji benih di dalam alam roh-roh (alam al-anfus); menjadi sumber kekuatan, makanan roh. Bijian itu dijiruskan dengan air dari sumber hikmah. Nabi s.a.w bersabda, "Jika seseorang menghabiskan empat puluh hari dalam keikhlasan dan kesucian sumber hikmah akan memancar dari hatinya kepada lidahnya". Nikmat bagi 'roh sultan ialah kelezatan dan kecintaan yang dinikmatinya dengan menyaksikan kenyataan keelokan, kesempurnaan dan kemurahan Allah Yang Maha Tinggi. Firman Allah: "Dia telah diajar oleh yang bersangatan kekuatannya, yang berupa bagus, lalu ia menjelma dengan sempurnanya padahal ia di pehak atas yang paling tinggi. Kemudian ia mendekati rapat (kepadanya), maka adalah (rapatnya) itu kadar dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu Ia wahyukan kepada hamba-Nya apa yang Ia mahu wahyukan. Hatinya tidak mendusta apa yang dia lihat". (Surah Najmi, ayat 5 - 11). Nabi s.a.w menggambarkan suasana demikian dengan cara lain, "Yang beriman (yang sejahtera) adalah cermin kepada yang beriman (yang sejahtera)". Dalam ayat ini yang sejahtera yang pertama ialah hati orang yang beriman yang sempurna, sementara yang sejahtera kedua itu ialah yang memancar kepada hati orang yang beriman itu, tidak lain daripada Allah Yang Maha Tinggi sendiri. Allah menamakan Diri-Nya di dalam Quran sebagai Yang Mensejahterakan. "Dia jualah Allah yang tidak Tuhan melainkan Dia.Yang Mensejahterakan (Pemelihara iman), Pemelihara segala-galanya". (Surah Hasyr, ayat 23). Kediaman 'roh sultan' di akhirat ialah syurga Firdaus, syurga yang tinggi. Setesen di mana roh-roh berhenti adalah tempat rahasia yang Allah buatkan untuk Diri-Nya di tengah-tengah hati, di mana Dia simpankan rahasia-Nya (Sirr) untuk disimpan dengan selamat. Keadaan roh ini diceritakan oleh Allah melalui pesuruh-Nya: "Insan adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya". Urusannya ialah kebenaran (hakikat) yang diperoleh dengan mencapai keesaan; mencapai keesaan itulah tuagsnya. Ia membawa yang banyak kepada kesatuan dengan cara terus menerus menyebut nama-nama keesaan di dalam bahasa rahasia yang suci. Ia bukan bahasa yang berbunyi di luar. "Dan jika engkau nyaringkan perkataan, maka Sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi". (Surah Ta Ha, ayat 7) Hanya Allah mendengar bahasa roh suci dan hanya Allah mengetahui keadaannya. Nikmat bagi roh ini ialah penyaksian terhadap ciptaan Allah yang pertama. Apa yang dilihatnya ialah keindahan Allah. Padanya terdapat penyaksian rahasia. Pandangan dan pendengaran menjadi satu. Tidak ada perbandingan dan tidak ada persamaan tentang apa yang disaksikanya. Dia menyaksikan sifat Allah, keperkasaan dan kekerasan-Nya sebagai esa dengan keindahan, kelembutan dan kemurahan-Nya. Bila manusia temui matlamatnya, tempat kediamannya, bila dia temui akal asbab, partimbangan keduniaannya yang memandunya selama ini akan tunduk kepada Perintahnya; hatinya akan rasa gentar bercampur hormat, lidahnya terkunci. Dia tidak berupaya menceritakan keadaan tersebut karena Allah tidak menyerupai sesuatu. Bila apa yang diperkatakan di sini sampai ke telinga orang yang berilmu, mula-mula cubalah memahami tahap pengetahuan sendiri. Tumpukan perhatian kepada kebenaran (hakikat) mengenai perkara-perkara yang sudah diketahui sebelum mendongak ke ufuk yang lebih tinggi, sebelum mencari peringkat baharu, semoga mereka memperoleh pengetahuan tentang kehalusan perlaksanaan Ilahi. Semoga mereka tidak menafikan apa yang sudah diperkatakan, tetapi sebaliknya mereka mencari makrifat, kebijaksanaan untuk mencapai keesaan. Itulah yang sangat diperlukan.

 

5: Ilmu Pengetahuan Dan Perkembangan Kerohanian

 Ilmu pengetahuan dhohir mengenai benda-benda yang nyata dibagikan kepada dua belas bagian dan ilmu pengetahuan batin juga dibagikan kepada dua belas bagian. Bagian-bagian tersebut dibagikan di kalangan orang awam dan orang khusus, hamba-hamba Allah yang sejati, menurut kadar keupayaan dan kebisaan mereka. Bagi tujuan yang berkaitan dengan kita pembicaraan ilmiah mengenai ini dibuat dalam empat bagian. Bagian pertama melibatkan peraturan agama, mengenai kewajipan dan larangan berhubung dengan perkara-perkara dan peraturan-peraturan di dalam dunia ini. Kedua menyentuh soal pengartian atau maksud dalaman serta tujuan kepada peraturan-peraturan tersebut dan bagian ini dinamakan bidang kerohanian yaitu pengetahuan mengenai perkara-perkara yang tidak nyata. Ketiga mengenai hakikat kerohanian yang tersembunyi yang dinamakan kearifan. Keempat mengenai hakikat dalaman kepada hakikat yaitu mengenai kebenaran yang sebenar-benarnya. Manusia yang sempurna perlu mempelajari semua bidang atau bagian tersebut dan mencari jalan ke arahnya. Nabi s.a.w bersabda, "Agama ialah pokok, kerohanian adalah Dahannya, kearifan (makrifat) adalah daunnya, kebenaran (hakikat) adalah buahnya. Quran dengan ulasannya, keterangannya, terjemahannya dan ibarat-ibaratnya mengandungi semuanya itu". Di dalam buku al-Najma perkataan-perkataan tafsir, ulasan dan takwil serta terjemahan melalui ibarat dimengartikan sebagai: ulasan terhadap Quran adalah keterangan dan perincian bagi faedah kefahaman orang awam, sementara terjemahan melalui ibarat adalah keterangan tentang maksud yang tersirat yang bisa diselami melalui tafakur yang mendalam serta memperoleh ilham sebagaimana yang dialami oleh orang-orang beriman yang sejati. Terjemahan yang demikian adalah untuk hamba-hamba Allah yang khusus lagi teguh, berterusan di dalam suasana kerohanian mereka dan teguh dengan pengetahuan yang membisakan mereka membuat partimbangan yang benar. Kaki mereka teguh berpijak di atas bumi sementara hati dan fikiran mereka menjulang kepada ilmu ketuhanan. Dengan rahmat Allah keadaan berterusan begini yang tidak bercampur dengan keraguan di tempatkan di tengah-tengah hati mereka. Hati yang teguh dalam suasana ini bersesuaian dengan bagian kalimah tauhid "La ilaha illa Llah", pengakuan terakhir keesaan. "Dia jualah yang menurunkan Kitab kepada kamu. Sebagiannya adalah ayat-ayat yang menghukum, yaitu ibu-ibu bagi Kitab, dan (sebagian) yang lain adalah ayat-ayat yang perlukan takwil. Adapun orang-orang yang di hati mereka ada kesesatan mencari-cari apa yang ditakwil daripadanya karena hendak membuat fitnah dan karena hendak membuat takwilnya sendiri padahal tidak mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang teguh kuat di dalam ilmu berkata, 'Kami beriman kepadanya (karena) semua itu daripada Tuhan kami', dan tidak mengarti melainkan orang-orang yang mempunyai fikiran". (Surah Imraan, ayat 7) Jika pintu kepada ayat ini terbuka akan terbuka juga semua pintu-pintu kepada alam rahasia batin. Hamba Allah yang sejati berkewajipan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan diri daripada larangan-Nya. Dia juga perlu menentang ego dirinya dan membendung kecenderungan jasad yang tidak sehat. Asas penentangan ego terhadap agama adalah dalam bentuk khayalan dan gambaran yang bercanggah dengan kenyataan. Pada peringkat kerohanian ego yang khianat itu menggalakkan seseorang supaya memperakui dan mengikuti sebab-sebab dan rangsangan yang hanya hampir dengan kebenaran (bukan kebenaran yang sejati), walaupun ianya risalat nabi dan fatwa wali yang telah diubah, juga mengikuti guru yang pendapatnya salah. Pada peringkat makrifat ego cuba menggalakkan seseorang supaya memperakui kewalian dirinya sendiri malah ego juga mengheret seseorang kepada mengakui ketuhanannya - dosa paling besar menganggapkan diri sendiri sebagai bersekutu dengan Allah. Allah berfirman: "Tidakkah engkau perhatikan orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan.." (Surah Furqaan, ayat 43). Tetapi peringkat kebenaran sejati adalah ber beda. Ego dan iblis tidak bisa sampai ke sana. Malah malaikat juga tidak sampai ke sana. Siapa sahaja kecuali Allah jika sampai ke sana pasti terbakar. Jibrail berkata kepada Nabi Muhamamd s.a.w pada sempadan peringkat ini, "Jika aku mara satu langkah lagi aku akan terbakar menjadi abu". Hamba Allah yang sejati bebas daripada perlawanan egonya dan iblis karena dia dilindungi oleh perisai keikhlasan dan kesucian. "Ia (iblis) berkata: Oleh itu demi kemuliaan-Mu, aku akan sesatkan mereka semuanya, kecuali di antara mereka hamba-hamba-Mu yang dibersihkan". (Surah Shad, ayat 82 & 83). Manusia tidak dapat mencapai hakikat kecuali dia suci murni karena sifat-sifat keduniaannya tidak akan meninggalkannya sehinggalah hakikat menyata dalam dirinya. Ini adalah keikhlasan sejati. Kejahilannya hanya akan meninggalkannya bila dia menerima pengetahuan tentang Zat Allah. Ini tidak dapat dicapai dengan pelajaran; hanya Allah tanpa pengantaraan bisa mengajarnya. Bila Allah Yang Maha Tinggi sendiri yang menjadi Guru, Dia karuniakan ilmu yang daripada-Nya sebagaimana Dia lakukan kepada Khaidhir. Kemudian manusia dengan kesadaran yang diperolehnya sampai kepada peringkat makrifat di mana dia mengenali Tuhannya dan menyembah-Nya yang dia kenal. Orang yang sampai kepada suasana ini memiliki penyaksian roh suci dan dapat melihat kekasih Allah, Nabi Muhamamd s.a.w. Dia bisa berbicara dengan baginda s.a.w mengenai segala perkara daripada awal hingga ke akhirnya dan semua nabi-nabi yang lain memberikannya khabar gembira tentang janji penyatuan dengan yang dikasihi. Allah menggambarkan suasana ini: "Karena Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka beserta orang-orang yang diberi nikmat daripada nabi-nabi, siddiqin, syuhada dan salihin dan Alangkah baiknya mereka ini sebagai sahabat rapat". (Surah Nisaa' ,ayat 69). Orang yang tidak bisa menemui pengetahuan ini di dalam dirinya tidak akan menjadi arif walaupun dia membaca seribu buah buku. Nikmat yang bisa diharapkan oleh orang yang mempelajari ilmu dhohir ialah syurga; di sana semua yang dapat dilihat adalah kenyataan sifat-sifat Ilahi dalam bentuk cahaya. Tidak kira bagaimana sempurna pengetahuannya tentang perkara nyata yang bisa dilihat dan dipercaya, ia tidak membantu seseorang untuk masuk kepada suasana kesucian dan mulia, yaitu kehampiran dengan Allah, karena seseorang itu perlu terbang ke tempat tersebut dan untuk terbang perlu kepada dua sayap. Hamba Allah yang sejati adalah yang terbang ke sana dengan menggunakan dua sayap, yaitu pengetahuan dhohir dan pengetahuan batin, tidak pernah berhenti di tengah jalan, tidak tertarik dengan apa sahaja yang ditemui dalam perjalanannya. Allah berfirman melalui rasul-Nya: "Hamba-Ku, jika kamu ingin masuk kepada kesucian berhampiran dengan-Ku jangan pedulikan dunia ini ataupun alam tinggi para malaikat, tidak juga yang lebih tinggi di mana kamu bisa menerima sifat-sifat-Ku yang suci". Dunia kebendaan ini menjadi godaan dan tipu daya syaitan kepada orang yang berilmu. Alam malaikat menjadi rangsangan kepada orang yang bermakrifat dan suasana sifat-sifat Ilahi menjadi godaan kepada orang yang memiliki kesadaran terhadap hakikat. Siapa yang berpuas hati dengan salah satu daripada yang demikian akan terhalang daripada kurniaan Allah yang membawanya hampir dengan Zat-Nya. Jika mereka tertarik dengan godaan dan rangsangan tersebut mereka akan berhenti, mereka tidak bisa maju ke hadapan, mereka tidak bisa terbang lebih tinggi. Walaupun matlamat mereka adalah kehampiran dengan Pencipta mereka tidak lagi bisa sampai ke sana. Mereka telah terpedaya, mereka hanya memiliki satu sayap. Orang yang mencapai kesadaran tentang hakikat yang sebenar, menerima rahmat dan kurniaan dari Allah yang tidak pernah mata melihatnya dan tidak pernah telinga mendengarnya dan tidak pernah hati mengetahui namanya. Inilah syurga kehampiran dan keakraban dengan Allah. Di sana tidak ada mahligai permata juga tidak ada bidadari yang cantik sebagai pasangan. Semoga manusia mengetahui nilai dirinya dan tidak berkehendak, tidak menuntut apa yang tidak layak baginya. Saidina Ali r.a berkata, "Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui harga dirinya, yang tahu menjaga diri agar berada di dalam sempadannya, yang memelihara lidahnya, yang tidak menghabiskan masanya dan umurnya di dalam sia-sia". Orang yang berilmu mestilah menyedari bahwa bayi roh yang lahir dalam hatinya adalah pengenalan mengenai kemanusiaan yang sebenar, yaitu insan yang sejati. Dia patut mendidik bayi hati, ajarkan keesaan melalui berterusan menyedari tentang keesaan - tinggalkan keduniaan kebendaan ini yang berbilang-bilang, cari alam kerohanian, alam rahasia di mana tidak yang lain kecuali Zat Allah. Dalam kenyataannya di sana bukan tempat, ia tidak ada permulaan dan tidak ada penghujung. Bayi hati terbang melepasi padang yang tidak berkesudahan itu, menyaksikan perkara-perkara yang tidak pernah dilihat mata sebelumnya, tidak siapa bercerita mengenainya, tidak siapa bisa menggambarkannya.

Tempat yang menjadi rumah kediaman bagi mereka yang meninggalkan diri mereka dan menemui keesaan dengan Tuhan mereka, mereka yang memandang dengan pandangan yang sama dengan Tuhan mereka, pandangan keesaan. Bila mereka menyaksikan keindahan dan kemuliaan Tuhan mereka tidak ada apa lagi yang tinggal dengan mereka. Bila dia melihat matahari dia tidak dapat melihat yang lain, dia juga tidak dapat melihat dirinya sendiri. Bila keindahan dan kemurahan Allah menjadi nyata apa lagi yang tinggal dengan seseorang? Tidak ada apa-apa! Nabi s.a.w bersabda, "Seseorang perlu dilahirkan dua kali untuk sampai kepada alam malaikat". Ia adalah kelahiran maksud daripada perbuatan dan kelahiran rohani daripada jasad. Kemungkinan yang demikian ada dengan manusia. Ini adalah keanehan rahasia manusia. Ia lahir daripada percampuran pengetahuan tentang agama dan kesadaran terhadap hakikat, sebagaimana bayi lahir hasil daripada percampuran dua titik air. "Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia daripada setitik (mani) yang bergiliran, yang Kami berikan percubaan kepada mereka, yaitu Kami jadikan dia mendengar dan melihat". (Surah Insaan, ayat 2). Bila maksud menjadi nyata dalam kewujudan ia menjadi mudah untuk melepasi bagian yang cetek dan masuk ke dalam laut penciptaan dan membenamkan dirinya ke dasar hukum-hukum peraturan Allah. Sekalian alam kebendaan ini hanyalah satu titik jika dibandingkan dengan alam kerohanian. Hanya bila semua ini difahamkan maka kuasa kerohanian dan cahaya keajaiban yang bersifat ketuhanan, hakikat yang sebenar-benarnya, memancar ke dalam dunia tanpa perkataan tanpa suara.

 

6: Taubat Dan Pengajaran Melalui Perkataan

Tahap-tahap dan peringkat-peringkat perubahan kerohanian telah pun disebut. Perlu ditegaskan bahwa setiap peringkat dicapai terutamanya dengan taubat. Bisalah dipelajari cara bertaubat dengan orang yang mengetahui cara berbuat demikian dan yang telah sendirinya bertaubat. Taubat yang sebenar dan menyeluruh merupakan langkah pertama di dalam perjalanan. "(Ingatlah) tatkala orang-orang kafir itu adakan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliah. Lalu Allah turunkan ketenteraman atas rasul-Nya dan atas mukmin. Dan Dia wajibkan mereka (ucapkan) perkataan menjaga keselamatan (taubat) karena mereka lebih berhak dengan itu, dan memang (mereka) ahlinya, dan adalah Allah mengetahui tiap sesuatu". (Surah Fath, ayat 26). Keadaan takutkan Allah mempunyai maksud yang sama dengan kalimah "La ilaha illa Llah" - tidak Tuhan, tidak apa-apa, kecuali Allah. Bagi orang yang mengetahui ini akan ada perasaan takut kehilangan-Nya, kehilangan perhatian-Nya, cinta-Nya, keampunan-Nya; dia takut dan malu melakukan kesalahan sedangkan Dia melihat, dan takutkan azab-Nya. Jika seseorang itu tidak berkeadaan demikian dia perlu mendapatkaan orang yang takutkan Allah dan menerima keadaan takutkan Allah itu daripada orang berkenaan. Sumber dari mana perkataan itu diterima mestilah bersih dan suci daripada segala-galanya kecuali Allah, dan siapa yang menerimanya mestilah ada kebisaan untuk mem bedakan antara perkataan orang yang suci hatinya dengan perkataan orang awam. Penerimanya mestilah sedar cara perkataan itu diucapkan, karena perkataan yang bunyinya sama mungkin mempunyai maksud yang jauh ber beda. Tidak mungkin perkataan yang datangnya daripada sumber yang asli sama dengan perkataan yang datangnya daripada sumber lain. Hatinya menjadi hidup bila dia menerima benih tauhid daripada hati yang hidup karena benih yang demikian sangat subur, itulah benih kehidupan. Tidak ada yang tumbuh daripada benih yang kering lagi tidak kehidupan. Kalimah suci "La ilaha illa Llah" disebut dua kali di dalam Quran menjadi bukti. "(Karena) apabila dikata kepada mereka "Tidak Tuhan melainkan Allah" mereka menyombong. Dan mereka berkata, 'Apakah kami mesti tinggalkan tuhan-tuhan kami buat (mengikut) seorang ahli syair dan gila?" (Surah Shaaffaat. Ayat 35 & 36). Ini adalah keadaan orang awam yang baginya rupa luar termasuk kewujudan dhohirnya adalah tuhan-tuhan. "Oleh itu Ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan mintalah perlindungan bagi buah amal kamu, dan bagi mukmin dan mukminat, dan Allah mengetahui tempat usaha kamu (di siang hari) dan tempat kembali kamu (pada malam hari)". (Surah Muhammad, ayat 19). Firman Allah ini menjadi panduan kepada orang-orang beriman yang tulen yang takutkan Allah. Saidina Ali r.a meminta Rasulullah s.a.w mengajarkan kepadanya cara yang mudah, paling bernilai, paling cepat kepada keselamatan. Baginda s.a.w menanti Jibrail memberikan jawapannya daripada sumber Ilahi. Jibrail datang dan mengajarkan baginda s.a.w mengucapkan "La ilaha" sambil memusingkan mukanya yang diberkati ke kanan, dan mengucapkan "illa Llah" sambil memusingkan mukanya ke kiri, ke arah hati sucinya yang diberkati. Jibrail mengulanginya tiga kali; Nabi s.a.w mengulanginya tiga kali dan mengajarkan yang demikian kepada Saidina Ali r.a dengan mengulanginya tiga kali juga. Kemudian baginda s.a.w mengajarkan yang demikian kepada sahabat-sahabat baginda. Saidina Ali r.a merupakan orang yang pertama bertanya dan menjadi orang yang pertama diajarkan. Kemudian satu hari selepas kembali daripada peperangan, Nabi s.a.w berkata kepada pengikut-pengikut baginda, "Kita baharu kembali daripada peperangan yang kecil untuk menghadapi peperangan yang besar". Baginda s.a.w merujukkan kepada perjuangan dengan ego diri sendiri, keinginan yang rendah yang menjadi musuh kepada penyaksian kalimah tauhid. Baginda s.a.w bersabda, "Musuh kamu yang paling besar ada di bawah rusuk kamu". Cinta Ilahi tidak akan hidup sehinggalah musuhnya, hawa nafsu badaniah kamu, mati dan meninggalkan kamu. Mula-mulanya kamu mesti bebas daripada ego kamu yang mengheret kamu kepada kejahatan. Kemudian kamu akan mula memiliki suara hati yang belum penuh, walaupun kamu masih belum bebas sepenuhnya daripada dosa. Kamu akan memiliki perasaan mengkritik diri sendiri - tetapi ia belum mencukupi. Kamu mesti melepasi tahap tersebut kepada peringkat di mana hakikat yang sebenarnya dibukakan kepada kamu, kebenaran tentang benar dan salah. Kemudian kamu akan berhenti melakukan kesalahan dan akan hanya melakukan kebaikan. Dengan demikian diri kamu akan menjadi bersih. Di dalam menentang hawa nafsu dan tarikan badan kamu, kamu mestilah melawan nafsu kehaiwanan - kerakusan, terlalu banyak tidur, pekerjaan yang sia-sia - dan menentang sifat-sifat haiwan liar di dalam diri kamu - kekejian, marah, kasar dan berkelahi. Kemudian kamu mesti usahakan membuang perangai-perangai ego yang jahat, takabur, sombong, dengki, dendam, tamak dan lain-lain penyakit tubuh dan hati kamu. Cuma orang yang berbuat demikian yang benar-benar bertaubat dan menjadi bersih, suci murni dan tulen. "Sesungguhnya Allah kasih kepada orang yang bertaubat dan memelihara kesuciannya". (Surah Baqarah, ayat 222). Dalam melakukan taubat seseorang itu mestilah mengambil perhatian supaya penyesalannya tidak samar-samar dan tidak juga secara umum agar dia tidak jatuh ke dalam ancaman Allah: "Tidak kira berapa banyak mereka bertaubat mereka tidak sebenarnya menyesal. Taubat mereka tidak diterima". Ini ditujukan kepada mereka yang hanya mengucapkan kata-kata taubat tetapi tidak tahu sejauh mana dosa mereka, malah tidak mengambil tindakan pembaikan dan pencegahan. Itulah taubat yang biasa, taubat dhohir yang tidak menusuk kepada asal dosa. Ia adalah umpama orang yang cuba menghapuskan rumput dengan memotong bagian di atas tanah tetapi tidak mencabut akarnya yang di dalam bumi. Tindakan yang demikian membantu rumput untuk tumbuh dengan lebih segar. Orang yang bertaubat dengan mengetahui kesalahannya dan asal kesalahan itu berazam tidak mengulanginya dan membebaskan dirinya daripada kesalahan itu, mencabut akar pokok yang merusakkan itu. Cangkul yang digunakan untuk menggali akarnya, asal kepada dosa-dosa, ialah pengajaran kerohanian daripada guru yang benar. Tanah mestilah dibersihkan sebelum ditanam pokok orkid. "Dan Kami bawakan perumpamaan kepada manusia supaya mereka memikirkannya". (Surah Hasyr, ayat 21). "Dia jualah Penerima taubat hamba-hamba-Nya dan mengampunkan dosa, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Surah Syura, ayat 25). "Kecuali orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan amal salih, maka mereka itu Allah tukarkan kejahatan mereka dengan kebaikan karena adalah Allah itu Pengampun, Penyayang". (Surah Furqaan, ayat 70). Ketahuilah taubat yang diterima tandanya ialah seseorang itu tidak lagi jatuh ke dalam dosa tersebut. Ada dua jenis taubat, taubat orang dan taubat mukmin sejati. Orang awam berharap meninggalkan kejahatan dan masuk kepada kebaikan dengan cara mengingati Allah dan mengambil langkah usaha bersungguh-sungguh, meninggalkan hawa nafsunya dan kesenangan badannya dan menekankan egonya. Dia mesti meninggalkan keegoannya yang ingkar terhadap peraturan Allah dan masuk kepada taat. Itulah taubatnya yang menyelamatkannya dari neraka dan memasukkannya ke dalam syurga. Orang mukmin sejati, hamba Allah yang tulen, berada di dalam suasana yang jauh ber beda. Mereka berada pada makam makrifat yang jauh lebih tinggi daripada makam orang awam yang paling baik. Sebenarnya bagi mereka tidak ada lagi anak tangga untuk dipanjat; mereka telah sampai kepada kehampiran dengan Allah. Mereka telah meninggalkan kesenangan dan nikmat dunia ini dan menikmati kelezatan alam kerohanian - rasa kehampiran dengan Allah, nikmat menyaksikan Zat-Nya dengan mata keyakinan. Perhatian orang awam tertuju kepada dunia ini dan kesenangan mereka adalah merasai nikmat kebendaan dan kewujudan kebendaannya. Malah, jika kewujudan kebendaan manusia dan dunia merupakan satu kesilapan begitu jugalah nikmat dan kecacatan yang paling baik daripadanya. Kata-kata yang diucapkan oleh orang arif, "Kewujduan dirimu merupakan dosa, menyebabkan segala dosa menjadi kecil jika dibandingkan dengannya". Orang arif selalu mengatakan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh orang baik-baik tidak mencapai kehampiran dengan Allah tidak lebih daripada kesalahan orang yang hampir dengan-Nya. Jadi, bagi mengajar kita memohon keampunan terhadap kesalahan yang tersembunyi yang kita sangkakan kebaikan, Nabi s.a.w yang tidak pernah berdosa memohon keampunan daripada Allah sebanyak seratus kali sehari. Allah Yang Maha Tinggi mengajarkan kepada rasul-Nya: "Pintalah perlindungan bagi buah amal kamu dan bagi mukmin dan mukminat". (Surah Muhamamd, ayat 19). Dia jadikan rasul-Nya yang suci murni sebagai teladan tentang cara bertaubat - dengan merayu kepada Allah supaya menghilangkan ego seseorang, sifat-sifatnya dan dirinya, semuanya pada diri seseorang, mencabut kewujudan diri seseorang. Inilah taubat yang sebenarnya. Taubat yang demikian meninggalkan segala-galanya kecuali Zat Allah, dan berazam untuk kembali kepada-Nya, kembali kepada kehampiran-Nya untuk melihat Wajah Ilahi. Nabi s.a.w menjelaskan taubat yang demikian dengan sabda baginda s.a.w, "Ada sebagian hamba-hamba Allah yang tulen yang tubuh mereka berada di sini tetapi hati mereka berada di sana, di bawah arasy". Hati mereka berada pada langit kesembilan, di bawah arasy Allah karena penyaksian suci terhadap Zat-Nya tidak mungkin berlaku pada alam bawah. Di sini hanya kenyataan atau pendhohiran sifat-sifat suci-Nya yang dapat disaksikan, memancar ke atas cermin yang bersih kepunyaan hati yang suci. Saidina Umar r.a berkata, "Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku". Hati yang suci adalah cermin di mana keindahan, kemuliaan dan kesempurnaan Allah memancar. Nama lain yang diberi kepada suasana ini ialah pembukaan (kasyaf), menyaksikan sifat-sifat Ilahi yang suci. Bagi memperoleh suasana tersebut, untuk membersihkan dan menyinarkan hati, perlulah kepada guru yang matang, yang di dalam keesaan dengan Allah, yang disanjung dan dimuliakan oleh semua, dahulu dan sekarang. Guru berkenaan mestilah telah sampai kepada makam kehampiran dengan Allah dan dihantar balik ke alam rendah oleh Allah untuk membimbing dan menyempurnakan mereka yang layak tetapi masih mempunyai kecacatan. Di dalam penurunan mereka untuk melakukan tugas tersebut wali-wali Allah mestilah berjalan Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w dengan mengikuti teladan baginda s.a.w, tetapi tugas mereka berlainan dengan tugas rasul. Rasul diutuskan untuk menyelamatkan orang banyak dan juga orang-orang yang beriman. Guru-guru tadi pula tidak dihantar untuk mengajar semua orang tetapi hanyalah sebilangan yang dipilih sahaja. Rasul-rasul diberi kebebasan dalam menjalankan tugas mereka, sementara wali-wali yang mengambil tugas sebagai guru mesti mengikuti jalan rasul-rasul dan nabi-nabi. Guru kerohanian yang mengaku diri mereka merdeka, menyamakan dirinya dengan nabi, jatuh kepada kesesatan dan kekufuran. Bila Nabi s.a.w mengatakan sahabat-sahabat baginda yang arif adalah umpama nabi-nabi Bani Israil, baginda mibusudkan lain daripada ini - karena nabi-nabi yang datang selepas Musa a.s semuanya mengikuti prinsip agama yang dibawa oleh Musa a.s. Mereka tidak membawa peraturan baharu. Mereka mengikuti undang-undang yang sama. Separti mereka juga orang-orang arif dari kalangan umat Nabi Muhammad s.a.w yang bertugas membimbing sebagian daripada orang-orang suci yang dipilih, mengikuti kebijaksanaan Nabi s.a.w, tetapi menyampaikan perintah dan larangan dengan cara baharu yang ber beda, terbuka dan jelas, menunjukkan kepada murid-murid mereka dengan perbuatan yang mereka kerjakan pada masa dan keadaan yang berlainan. Mereka memberi dorongan kepada murid-murid mereka dengan menunjukkan kelebihan dan keindahan prinsip-prinsip agama. Tujuan mereka ialah membantu pengikut-pengikut mereka menyucikan hati yang menjadi tapak untuk membena tugu makrifat. Dalam semua itu mereka mengikut teladan daripada pengikut-pengikut Rasulullah s.a.w yang terkenal sebagai 'golongan yang mibuai baju bulu' yang telah meninggalkan semua aktiviti keduniaan untuk berdiri di pintu Rasulullah s.a.w dan berada hampir dengan baginda. Mereka menyampaikan khabar sebagaimana mereka menerimanya secara langsung daripada mulut Rasulullah s.a.w. Dalam kehampiran mereka dengan Rasulullah s.a.w mereka telah sampai kepada peringkat di mana mereka bisa berbicara tentang rahasia israk dan mikraj Rasulullah s.a.w sebelum baginda membuka rahasia tersebut kepada sahabat-sahabat baginda. Wali-wali yang menjadi guru memiliki kehampiran yang serupa dengan Nabi s.a.w dengan Tuhannya. Amanah dan penjagaan terhadap ilmu ketuhanan yang serupa dianugerahkan kepada mereka. Mereka merupakan Pemegang sebagian daripada kenabian, dan diri batin mereka selamat di bawah penjagaan Rasulullah s.a.w. Tidak semua orang yang memiliki ilmu berada di dalam keadaan tersebut. Mereka yang sampai ke situ adalah yang lebih hampir kepada Rasulullah s.a.w daripada anak-anak dan keluarga mereka sendiri dan mereka adalah umpama anak-anak kerohanian Rasulullah s.a.w yang hubungannya lebih erat daripada hubungan darah. Mereka adalah pewaris sebenar kepada Nabi s.a.w. Anak yang sejati memiliki zat dan rahasia bapaknya pada rupa dhohirnya dan juga pada batinnya. Nabi s.a.w menjelaskan rahasia ini, "Ilmu khusus adalah umpama khazanah rahasia yang hanya mereka yang mengenali Zat Allah bisa mendapatkannya. Namun bila rahasia itu dibukakan orang yang mempunyai kesadaran dan ikhlas tidak menafikannya". Ilmu tersebut dimasukkan kepada Nabi s.a.w pada malam baginda s.a.w mikraj kepada Tuhannya. Rahasia itu tersembunyi di dalam diri baginda di sebalik tiga ribu tabir hijab. Baginda s.a.w tidak membuka rahasianya melainkan kepada sebagian pengikut baginda yang sangat hampir dengan baginda. Melalui penyebaran dan keberkatan rahasia inilah Islam akan terus memerintah sehingga ke hari kiamat. Pengetahuan batin tentang yang tersembunyi membawa seseorang kepada rahasia tersebut. Sains, kesenian dan kemahiran keduniaan adalah umpama kerangka kepada pengetahuan batin. Mereka yang memiliki pengetahuan kerangka itu bisalah mengharapkan satu hari nanti mereka diberi kesempatan untuk memiliki apa yang di dalam kerangka. Sebagian daripada mereka yang berilmu memiliki apa yang patut dimiliki oleh seorang manusia secara umumnya sementara sebagian yang lain menjadi ahli dan memelihara ilmu tersebut daripada hilang. Ada golongan yang menyeru kepada Allah dengan nasihat yang baik. Sebagian daripada mereka mengikuti sunnah Nabi s.a.w dan dipimpin oleh Saidina Ali r.a. yang menjadi pintu kepada gedung ilmu yang melaluinya masuklah mereka yang menerima undangan dari Allah. "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik". (Surah Nahl, ayat 125). Maksud dan perkataan mereka adalah sama. Per bedaan pada dhohirnya hanyalah pada perkara-perkara terperinci dan cara pelaksanaannya. Sebenarnya ada tiga makna yang kelihatan sebagai tiga jenis ilmu yang ber beda - dilakukan secara ber beda, tetapi menjurus kepada yang satu Sesuai dengan sunnah Rasulullah s.a.w. Ilmu dibagikan kepada tiga yang tidak ada seorang manusia bisa menanggung keseluruhan beban ilmu itu juga tidak berupaya mengamalkan dengan sekaliannya. Bagian pertama ayat di atas "Serulah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana (hikmah)", Sesuai dengan makrifat, zat dan permulaan kepada segala sesuatu, pemiliknya mestilah sebagaimana Nabi s.a.w beramal Sesuai dengannya. Ia hanya dikaruniakan kepada lelaki sejati yang berani, tentera kerohanian yang akan mempertahankan kedudukannya dan menyelamatkan ilmu tersebut. Nabi s.a.w bersabda, "Kekuatan semangat lelaki sejati mampu menggoncang gunung". Gunung di sini menunjukkan keberatan hati sesetengah manusia. Doa lelaki sejati yang menjadi tentera kerohanian dimakbulkan. Bila mereka menciptakan sesuatu ia berlaku, bila mereka mahukan sesuatu hilang maka ia pun hilang. "Dia karuniakan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Barangsiapa dikaruniakan hikmah maka sesungguhnya dia telah diberi kebajikan yang banyak". (Surah Baqarah, ayat 269). Jenis kedua ialah ilmu dhohir yang disebut Quran sebagai "seruan yang baik". Ia menjadi kulit kepada hikmah kebijaksanaan rohani. Mereka yang memilikinya menyeru kepada kebaikan, mengajar manusia berbuat baik dan meninggalkan larangan-Nya. Nabi s.a.w memuji mereka. Orang yang berilmu menyeru dengan lemah lembut dan baik hati, sementara yang jahil menyeru dengan kasar dan kemarahan. Jenis ketiga ialah ilmu yang menyentuh kehidupan manusia di dalam dunia. Ia disebut sebagai ilmu agama (syariat) yang menjadi sarang kepada hikmah kebijaksanaan (makrifat). Ia adalah ilmu yang diperuntukkan kepada mereka yang menjadi pemerintah manusia; menjalankan keadilan ke atas sesama manusia; pentadbiran manusia ke atas sesama manusia. Bagian terakhir ayat Quran yang di atas tadi menceritakan tugas mereka "dan berbincanglah dengan mereka dengan cara yang lebih baik". Mereka ini menjadi kenyataan kepada sifat Allah "al-Qahhar" Yang Maha Keras. Mereka berkewajipan menjaga peraturan di kalangan manusia selaras dengan hukum Tuhan, seumpama sabut melindungi tempurung dan tempurung melindungi isi. Nabi s.a.w menasihatkan, "Biasakan dirimu berada di dalam majlis orang-orang arif, taatlah kepada pemimpin kamu yang adil. Allah Yang Maha Tinggi menghidupkan hati dengan hikmah separti Dia jadikan bumi yang mati hidup dengan tumbuh-tumbuhan dengan menurunkan hujan". Baginda s.a.w juga bersabda, "Hikmah adalah harta yang hilang bagi orang yang beriman, dikutipnya di mana sahaja ditemuinya". Malah perkataan yang diucapkan oleh manusia biasa datangnya daripada Loh Terpelihara menurut hukum Allah terhadap segala perkara daripada awal hingga akhir. Loh itu disimpan pada alam tinggi pada akal asbab tetapi perkataan diucapkan menurut makam seseorang. Perkataan mereka yang telah mencapai makam makrifat adalah secara langsung daripada alam tersebut, makam kehampiran dengan Allah. Di sana tidak ada perantaraan. Ketahuilah bahwa semua akan kembali kepada asal mereka. Hati, zat, mesti dikejutkan; jadikan ianya hidup untuk mencari jalan kembali kepada asalnya yang suci murni. Ia mesti mendengar seruan. Seseorang mesti mencari orang yang orang yang daripadanya seruan itu muncul, melaluinya dhohir seruan. Itulah guru yang sebenar. Ini merupakan kewajipan bagi kita. Nabi s.a.w bersabda, "Menuntut ilmu wajib bagi setiap orang Islam lelaki dan perempuan". Ilmu tersebut merupakan peringkat terakhir semua ilmu, itulah ilmu makrifat, ilmu yang akan membimbing seseorang kepada asalnya, yang sebenar (hakikat). Ilmu yang lain perlu menurut sekadar mana keperluannya. Allah menyukai mereka yang meninggalkan cita-cita dan angan-angan kepada dunia, kemuliaan dan kebesarannya, karena kepentingan duniawi ini menghalang seseorang kepada Allah. "Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu upah atas (menyampaikan)nya, kecuali percintaan (kepadaku) lantaran kerabat". (Surah Syura, ayat 23). Ditafsirkan maksud perkataan "apa yang hampir dengan kamu" ialah datang hampir dengan kebenaran.

 

7: Kerohanian Islam Dan Ahli Sufi

Sufi adalah perkataan Arab - saf, yang berarti tulen. Alam batin sufi dipersucikan, menjadi tulen dan diterangi oleh cahaya makrifat, penyatuan dan keesaan. Istilah sufi dikaitkan juga dengan bidang kerohanian mereka yang sentiasa berhubung dengan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w yang dikenali sebagai 'puak yang mibuai baju bulu'. Saf, pakaian bulu yang kasar menggambarkan keadaan mereka yang miskin lagi hina. Kehidupan dunia di dalam kesempatan. Mereka berjimat cermat di dalam makanan, minuman dan lain-lain. Dalam buku 'al-Majm' ada dikatakan, "Apa yang terjadi kepada ahli suluk yang suci ialah pakaian dan kehidupan mereka sangat sederhana dan hina". Walaupun mereka kelihatan tidak menarik secara keduniaan tetapi hikmah kebijaksanaan (makrifat) mereka ternyata pada sifat mereka yang lemah lembut dan halus, yang menjadikan mereka menarik kepada siapa yang mengenali mereka. Mereka menjadi contoh kepada alam manusia. Mereka berpandukan ilmu Ilahi. Pada pandangan Tuhan mereka berada pada martabat pertama kemanusiaan. Dalam pandangan mereka yang mencari Tuhan puak sufi ini kelihatan cantik walaupun pada dhohirnya buruk. Mereka mesti dikenali dan berupaya mengenali, dan mereka dengan mesti dengan cara itu yaitu satu dan semua, karena mereka semua berada pada makam keesaan dan mesti nyata sebagai satu. Dalam bahasa Arab perkataan tasawwuf, kerohanian Islam, terdiri daripada empat huruf - 'ta', 'sin', 'wau' dan 'pa' (t,s,w,f). Huruf pertama, t, bermaksud taubat. Ini adalah langkah pertama perlu diambil pada jalan ini. Ia adalah seolah-olah dua langkah, satu dhohir dan satu batin. Taubat dhohir dalam perkataan, perbuatan dan perasaan, menjaga kehidupan agar bebas daripada dosa dan kesalahan dan cenderung untuk berbuat kebaikan dan ketaatan; meninggalkan keingkaran dan penentangan, mencari kesejahteraan dan kedamaian. Taubat batin dilakukan oleh hati. Penyucian hati daripada hawa nafsu duniawi yang huru hara dan hati bulat berazam mahu mencapai alam ketuhanan. Taubat - mengawasi kesalahan dan meninggalkannya, menyedari kebenaran dan berjuang ke arahnya - membawa seseorang kepada langkah kedua. Langkah kedua ialah keadaan aman dan sejahtera, safa. Huruf 's' adalah simbolnya. Dalam peringkat ini juga ada dua langkah perlu diambil. Pertama ialah ke arah kesucian di dalam hati dan kedua pula ke arah pusat hati. Hati yang tenang datang daripada hati yang bebas daripada kesusahan, keresahan yang disebabkan oleh masalah semua kebendaan ini, masalah makan, minum, tidur, perkataan yang sia-sia. Dunia ini seumpama tenaga tarikan bumi, menarik hati ke bawah, dan untuk membebaskan hati daripada masalah tersebut menyebabkan berlaku tekankan kepada hati. Di sana ada pula ikatan-ikatan - hawa nafsu dan kehendak, pemilikan, kasihkan keluarga dan anak-anak - yang mengikat hati seni kepada bumi dan menghalangnya terbang tinggi. Cara membebaskan hati, bagi menyucikannya, adalah dengan mengingati Allah. Pada permulaan ingatkan ini berlaku secara luaran, dengan mengulangi nama-nama Tuhan, menyebutnya kuat-kuat sehingga kamu dan orang lain bisa mendengarnya. Apabila ingatkan kepada-Nya sudah berterusan ingatkan tersebut masuk ke dalam hati dan berlaku di dalam senyap. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang mukmin itu ialah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, takutlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah menambahkan lagi keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka kembali". (Surah Anfaal, ayat 2). Takutkan Allah dalam ayat tersebut bermaksud takut dan harap, hormat dan kasihkan Allah. Dengan ingatan dan ucapan nama-nama Allah hati menjadi jaga dari ketiduran dan kelalaian, menjadi suci bersih dan bersinar. Kemudian bentuk dan rupa dari alam ghaib menyata di dalam hati. Nabi s.a.w bersabda, "Ahli ilmu dhohir mendatangi dan menerkam sesuatu dengan akal fikirannya sementara ahli ilmu batin sibuk membersihkan dan menggilap hati mereka". Kesejahteraan pada pusat rahasia bagi hati diperoleh dengan membersihkan hati daripada segala sesuatu dan menyediakannya untuk menerima Zat Allah semata-mata yang memenuhi ruang hati apabila hati sudah diperindahkan dengan kecintaan Allah. Alat pembersihannya ialah berterusan mengingati dan menyebut di dalam hati, dengan lidah rahasia akan kalimah tauhid "La ilaha illa Llah". Bila hati dan pusat hati berada dalam suasana tenang dan damai maka peringkat kedua yang disimbolkan sebagai huruf 's' selesai. Huruf ketiga 'w' bermaksud wilayah, suasana kesucian dan keaslian pencinta-pencinta Allah dan sahabat-sahabat-Nya. Keadaan ini bergantung kepada kesucian batin. Allah menggambarkan sahabat-sahabat-Nya dengan firman-Nya: "Ketahuilah, sesungguhnya pembantu-pembantu Allah tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak mereka berdukacita. Bagi merekalah kegembiraan di penghidupan dunia dan akhirat.". (Surah Yunus, ayat 62 - 64). Seseorang yang di dalam kesucian menyedari sepenuhnya tentang Allah, mencintai-Nya fan berhubungan dengan-Nya. Hasilnya dia diperelokkan dengan peribadi, akhlak dan perangai yang terbaik. Ini merupakan hadiah suci yang dikaruniakan kepada mereka. Nabi s.a.w bersabda, "Perhatikanlah akhlak yang mulia dan berbuatlah sesuai dengannya". Dalam peringkat ini orang yang di dalam kesadaran tersebut meninggalkan sifat-sifat keduniaannya yang sementara dan kelihatanlah dia diliputi oleh sifat-sifat Ilahi yang suci. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman: "Bila Aku kasihkan hamba-Ku, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, perbicaraannya, pemegangnya dan perjalanannya". Keluarkan segala-galanya dari hati kamu dan biarkan Allah sahaja yang berada di sana. "Dan katakanlah telah datang kebenaran dan telah lenyap kepalsuan karena sesungguhnya kepalsuan itu akan lenyap". (Surah Bani Israil, ayat 81). Bila kebenaran telah datang dan kepalsuan telah lenyap maka selesailah peringkat wilayah. Huruf keempat 'f' bermakna fana, lenyap diri sendiri ke dalam ketidakan. Diri yang palsu akan hancur dan hilang apabila sifat-sifat yang suci memasuki seseorang, dan apabila sifat-sifat serta keperibadian yang banyak menghalang tempatnya akan diganti oleh satu sahaja sifat keesaan. Dalam kenyataan hakikat sentiasa hadir. Ia tidak hilang dan tidak juga berkurangan. Apa yang berlaku adalah orang yang beriman menyedari dan menjadi satu dengan yang menciptakannya. Dalam suasana berada dengan-Nya orang yang beriman memperoleh kurniaan-Nya; manusia yang sementara menemui kewujudan yang sebenar dengan menyedari rahasia abadi. "Semua akan binasa kecuali Wajah-Nya". (Surah Qasas, ayat 88). Cara untuk menyedari hakikat ini ialah melalui anugerah-Nya, dengan kehendak-Nya. Bila kamu berbuat kebaikan semata-mata karena-Nya dan bersesuaian dengan kehendak-Nya kamu akan menjadi hampir dengan hakikat-Nya, Zat-Nya. Kemudian semua akan lenyap kecuali Yang Esa yang meridho dan yang Dia diridho, bersatu. Perbuatan baik adalah ibu yang melahirkan bayi kebenaran; kehidupan dalam kesadaran bagi manusia yang sebenar-benarnya. "Perkataan yang baik dan perbuatan yang baik naik kepada Allah". (Surah Fatir, ayat 10). Jika seseorang berbuat sesuatu dan jika kewujudannya bukan untuk Allah sahaja maka dia mengadakan sekutu bagi Allah, dia meletakkan yang lain pada tempat Allah - dosa yang tidak diampunkan yang akan memusnahkannya, lambat atau cepat. Tetapi bila diri dan kepentingan diri fana seseorang itu mencapai peringkat bersatu dengan Allah. Allah menggambarkan makam tersebut: "Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (adalah) dalam kebun-kebun dan (dekat) sungai-sungai. Di tempat duduk kebenaran, di sisi Raja Agung yang sangat berkuasa". (Surah Qamar, ayat 54 & 55). Tempat itu ialah tempat bagi hakikat yang penting, hakikat kepada hakikat-hakikat, tempat penyatuan dan keesaan. Ia adalah tempat yang disediakan untuk nabi-nabi, untuk mereka yang dikasihi oleh Allah, untuk para sahabat-Nya. Allah beserta orang-orang yang benar.

Bila kewujudan bersatu dengan wujud yang abadi ia tidak bisa dipandang sebagai kewujudan yang terpisah. Bila semua ikatan keduniaan ditanggalkan dan seseorang itu dalam suasana kesatuan dengan Allah, dengan kebenaran (hakikat) Ilahi, dia menerima kesucian yang abadi, tidak akan tercemar lagi, dan masuk ke dalam golongan: "Mereka itu ahli syurga yang kekal di dalamnya". (Surah A'raaf, ayat 42). Mereka adalah: "Orang-orang yang beriman dan beramal salih". (Surah A'raaf, ayat 42). Bagaimanapun: "Kami tidak memberatkan satu diri melainkan sekadar kuasanya". (Surah A'raaf, ayat 42). Tetapi seseorang memerlukan kesabaran yang kuat: "Dan Allah beserta orang yang sabar". (Surah Anfaal, ayat 66).

 

8: Dzikir

Allah Yang Maha Tinggi menunjukkan jalan kepada para pencari supaya mengingati-Nya: "Dan hendaklah kamu sebut Dia sebagaimana Dia pimpin kamu. (Surah Baqaraah, ayat 198). Ini bermakna Pencipta kamu telah membawa kamu ke peringkat kesadaran dan keyakinan yang tertentu dan kamu hanya bisa mengingati-Nya menurut kadar keupayaan tersebut. Nabi s.a.w bersabda, "Ucapan Dzikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa, itulah kalimah "La ilaha illa Llah". Terdapat berbagai-bagai peringkat Dzikir dan masing-masing ada cara yang berlainan. Ada yang diucap dengan lidah secara kuat dan ada pula yang diucapkan secara senyap, dari lubuk hati. Pada peringkat permulaan seseorang perlu menyebutkan ucapan Dzikirnya dengan lidahnya secara berbunyi. Kemudian peringkat demi peringkat Dzikir mengalir ke dalam diri, turun kepada hati, naik kepada roh dan seterusnya pergi sibuin jauh yaitu kepada bagian rahasia-rahasia, pergi lagi kepada yang lebih jauh yaitu bagian yang tersembunyi sehinggalah kepada yang paling tersembunyi daripada yang tersembunyi. Sejauh mana Dzikir masuk ke dalam, peringkat yang dicapainya, bergantung kepada sejauh mana Allah dengan kemurahan-Nya membimbing seseorang. Dzikir yang diucapkan dengan perkataan menjadi kenyataan bahwa hati tidak lupa kepada Allah. Dzikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Dzikir hati adalah dengan cara merasakan di dalam hati tentang kenyataan tentang keperkasaan dan keelokan Allah. Dzikir adalah melalui pancaran cahaya suci yang dipancarkan oleh keperkasaan dan keelokan Allah. Dzikir pada tahap rahasia ialah melalui keghairahan (zauk) yang diterima daripada pemerhatian rahasia suci itu. Dzikir pada bagian tersembunyi membawa seseorang kepada: "Di tempat duduk yang hak, di sisi Raja Agung yang sangat berkuasa". (Surah Qamar, ayat 55). Dzikir peringkat terakhir yang dipanggil khafi al-khafi - yang paling tersembunyi daripada yang tersembunyi - membawa seseorang kepada suasana fana diri sendiri dan penyatuan dengana yang hak. Dalam kenyataannya tidak siapa kecuali Allah yang mengetahui keadaan orang yang telah masuk ke dalam alam yang mengandungi semua pengetahuan, kesudahan kepada semua dan segala perkara. "Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi". (Surah Ta Ha, ayat 7). Bila seseorang telah melepasi tahap Dzikir-Dzikir tersebut suasana jiwa yang berlainan seolah-olah roh lain lahir dalam diri seseorang. Roh ini lebih tulen dan seni daripada roh-roh yang lain. Ia adalah bayi kepada hati, bayi kepada hakikat. Ketika dalam bentuk benih bayi ini mengajak dan menarik orang lain untuk mencari dan menemui yang hak. Setelah ia lahir bayi ini menggesa orang lain supaya mendapatkaan Zat Allah Yang Maha Tinggi. Roh baharu ini yang dinamakan bayi kepada hati dan juga benih serta keupayaannya tidak terdapat pada semua orang. Ia hanya terdapat pada orang mukmin yang tulen. "Dia jualah yang tinggi darjat-Nya, yang memiliki arasy. Dia kirim roh dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki:. (Surah Mukmin, ayat 15). Roh khusus ini dihantar daripada makam Yang Maha Perkasa dan diletakkan di dalam alam maya yang nyata di mana sifat-sifat Pencipta menyata pada penciptaan, tetapi roh ini adalah kepunyaan alam yang hak. Ia tidak berminat dan tidak memperdulikan apa sahaja melainkan Zat Allah. Nabi s.a.w bersabda, "Dunia ini tidak disukai dan tidak dihajati oleh orang yang inginkan akhirat. Akhirat pula tidak dihajati oleh orang yang inginkan dunia, dan ia tidak akan diberi kepada mereka. Tetapi bagi roh yang mencari Zat Allah dunia dan akhirat tidak menarik Perhatiannya". Roh untuk yang hak. Orang yang memilikinya akan mencari, menemui dan bersama Tuhannya. Apa sahaja yang kamu buat di sini dhohir kamu mestilah menurut jalan yang lurus. Ia hanya mungkin dengan mengikuti dan mematuhi serta memelihara peraturan dan hukum agama. Untuk berbuat demikian seseorang haruslah menyedari, mengingati Allah malam dan siang, dhohir dan batin, berterusan. Bagi mereka yang menyaksikan yang hak mengingati Allah adalah wajib sebagaimana perintah-Nya: "Maka hendaklah kamu ingat kepada Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu". (Surah Nisaa', ayat 103). "Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata), 'Wahai Tuhan kami, Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau'". (Surah Imraan, ayat 191).

 

9: Syarat-syarat Yang Diperlukan Bagi Melakukan Dzikir

Salah satu syarat menyediakan seseorang untuk berDzikir ialah berada di dalam keadaan berwuduk; basuh dan bersihkan tubuh badan dan sucikan hati. Pada peringkat permulaan, supaya Dzikir itu berkesan, perlulah disebut kuat-kuat akan perkataan dan ayat yang dijadikan Dzikir - kalimah tauhid, sifat-sifat Allah. Bila perkataan tersebut diucapkan usahakan agar kamu berada di dalam kesadaran (tidak lalai). Dengan cara ini hati mendengar ucapan Dzikir dan diterangi oleh apa yang diDzikirkan. Ia menerima tenaga dan menjadi hidup - bukan sahaja hidup di dunia ini bahkan juga hidup abadi di akhirat. "Mereka tidak akan merasa padanya kematian, hanya kematian pertama, dan Dia pelihara mereka daripada azab jahanam". (Surah Dukhaan, ayat 56). Nabi s.a.w menceritakan bahwa keadaan orang mukmin yang mencapai yang hak melalui Dzikir, "Orang mukmin tidak mati. Mereka hanya meninggalkan hidup yang sementara ini dan pergi kepada kehidupan abadi". Dan mereka lakukan di sana apa yang mereka lakukan dalam dunia. Nabi s.a.w bersabda, "Nabi-nabi dan orang-orang yang hampir dengan Allah terus beribadat di dalam kubur separti yang mereka lakukan di dalam rumah mereka". Ibadat yang dimaksudkan itu adalah penyerahan dan merendahkan diri rohani kepada Allah bukan sembahyang yang lima waktu sehari. Tawaduk yang di dalam diri, dengan diam, adalah nilai utama yang menunjukkan iman yang sejati. Makrifat tidak dicapai oleh manusia dengan usaha tetapi ia adalah anugerah dari Allah. Setelah dinaikkan kepada makam tersebut orang arif menjadi akrab dengan rahasia-rahasia Allah. Allah membawa seseorang kepada rahasia-rahasia-Nya apabila hati orang itu hidup dan sedar dengan Dzikir atau ingatan kepada-Nya dan jika hati yang sedar itu bersedia menerima yang hak. Nabi s.a.w bersabda, "Mataku tidur tetapi hatiku jaga". Pentingnya memperoleh makrifat dan hakikat diterangkan oleh Nabi s.a.w, "Jika seseorang berniat mempelajari dan beramal menurut keinginannya itu tetapi mati sebelum mencapai tujuannya, Allah melantik dua orang malaikat sebagai guru yang mengajarnya ilmu dan makrifat sampai ke hari kiamat. Orang itu dibangkitkan dari kuburnya sebagai orang arif yang telah memperoleh hakikat". Dua orang malaikat di sini menunjukkan roh Nabi Muhammad s.a.w dan cahaya cinta yang menghubungkan insan dengan Allah. Pentingnya niat dan hajat selanjutnya diceritakan oleh Nabi s.a.w, "Banyak yang berniat belajar tetapi mati ketika masih di dalam kejahilam tetapi mereka bangkit daripada kubur pada hari pembalasan sebagai orang arif. Banyak ahli ilmu dibangkitkan pada hari itu dalam keadaan rusak akhlak hilang segalanya dan jahil keseluruhannya". Mereka adalah orang-orang yang bermegah dengan ilmu mereka, yang menuntut ilmu karena muslihat duniawi dan berbuat dosa. Mereka diberi amaran: "Dan (ingatkanlah mereka) hari yang akan dibawa orang-orang kafir ke neraka (dan dikata), 'Kami telah habiskan bagian kamu yang baik di dalam penghidupan dunia. Dan kamu telah bersuka-sukaan dengannya. Maka pada hari ini kamu akan dibalas dengan azab yang keji lantaran kamu pernah berlaku sombong di dunia secara tidak benar dan lantaran kamu telah melewati batas". (Surah Ahqaaf, ayat 20). Nabi s.a.w bersabda, "Setiap amal bergantung pada niat. Niat dan tujuan orang beriman lebih baik dan bernilai pada pandangan Allah daripada amalannya. Niat orang yang tidak beriman lebih buruk daripada apa yang nyata dengan amalannya". Niat adalah asas amalan. Nabi s.a.w, "Adalah baik membena kerja kebajikan di atas tapak yang baik, dan dosa adalah perbuatan yang dibina di atas tapak yang jahat". "Barangsiapa hendak ke taman akhirat Kami tambah untuknya pada ke tamannya, dan barangsiapa mahu ke taman dunia Kami akan beri kepadanya sebagian daripadanya, tetapi tidak ada baginya bagian akhirat". (Surah Syura, ayat 20). Cara terbaik ialah mencari guru kerohanian yang akan membawa hati kamu hidup. Ini akan menyelamatkan kamu di akhirat. Ini adalah penting; ia mesti dilakukan segera ketika masih hidup. Dunia ini kebun akhirat. Orang yang tidak menanam di sini tidak bisa menuai di sana. Jadi, bercucuk tanamlah di dalam dunia ini dengan benih yang diperlukan untuk kesejahteraan hidup di sini dan juga di akhirat.

 

 

 

 

10: Makam Melihat Kenyataan Zat Yang Maha Suci

Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang sempurna secara langsung di akhirat' dan satu lagi melihat sifat-sifat ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih kepunyaan hati yang tulen di dalam kehidupan ini. Dalam hal tersebut penyaksian kelihatan sebagai pendhohiran cahaya keluar daripada keindahan Allah yang sempurna dan dilihat oleh mata hati yang hakiki. "Hati tidak menafikan apa yang dia lihat". (Surah Najmi, ayat 11). Mengenai melihat kenyataan Allah melalui perantaraan, Nabi s.a.w bersabda, "Yang beriman adalah cermin kepada yang beriman". Yang beriman yang pertama, cermin dalam ayat ini, adalah hati yang beriman yang suci murni, sementara yang beriman kedua adalah Yang Melihat bayangan-Nya di dalam cermin itu, Allah Yang Maha Tinggi. Siapa yang sampai kepada makam melihat kenyataan sifat Allah di dalam dunia ini akan melihat Zat Allah di akhirat, tanpa rupa tanpa bentuk. Kenyataan ini disahkan oleh Saidina Umar r.a dengan katanya, "Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku". Saidina Ali r.a berkata, "Aku tidak menyembah Allah kecuali aku melihat-Nya". Mereka berdua tentu telah melihat sifat-sifat Allah dalam kenyataan. Jika seseorang melihat cahaya matahari masuk melalui jendela dan dia berkata, "Aku melihat matahari", dia berbicara benar. Allah memberi gambaran yang jelas tentang kenyataan sifat-sifat-Nya: "Allah itu nur bagi langit-langit dan bumi. Bandingan nur-Nya (adalah) separti satu kurungan pelita yang di dalamnya ada pelita (sedang) pelita itu dalam satu kaca, (dan) kaca itu sebagai bintang yang separti mutiara, yang dinyalakan (dengan minyak) dari pohon yang banyak faedah (yaitu) zaitun yang bukan bangsa timur dan bukan bangsa barat, yang minyaknya (sahaja) hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, nur atas nur, Allah pimpin kepada nur-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah mengadakan perumpamaan bagi manusia, dan Allah mengetahui tiap sesuatu". (Surah Nuur, ayat 35). Perumpamaan dalam ayat ini adalah hati yang yakin penuh di kalangan orang yang beriman. Lampu yang menerangi bekas hati itu ialah hakikat atau intipati kepada hati, sementara cahaya yang dipancarkan ialah rahasia Tuhan, 'roh sultan'. Kaca adalah lutsinar dan tidak memerangkap cahaya di dalamnya tetapi ia melindunginya sambil menyebarkannya karena ia umpama bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah makam atau suasana keesaan, menjalar dengan dahan dan akarnya, memupuk prinsip-prinsip iman, berhubung tanpa perantaraan dengan bahasa yang asli. Secara langsung, melalui bahasa yang asli itulah Nabi s.a.w menerima pembukaan al-Quran. Dalam kenyataan Jibrail membawa firman Tuhan hanya setelah firman tersebut diterima - ini adalah untuk faedah kita supaya kita bisa mendengarnya dalam bahasa manusia. Ini juga memperjelaskan siapakah yang tidak percaya dan munafik dengan memberi mereka peluang untuk menafikannya separti mereka tidak percaya kepada malaikat. "Dan sesungguhnya diwahyukan kepada kamu Quran (ini) dari sisi (Tuhan) yang bijaksana, yang mengetahui". (Surah Naml, ayat 6). Oleh karena Nabi s.a.w menerima pembukaan sebelum Jibrail membawanya kepada baginda, setiap kali Jibrail membawa ayat-ayat suci itu Nabi s.a.w mendapatinya di dalam hatinya dan membacanya sebelum ayat itu diberikan. Inilah alasan bagi ayat: "Dan janganlah engkau terburu-buru dengan Quran sebelum habis diwahyukan kepada kamu". (Surah Ta Ha, ayat 114). Keadaan ini menjadi jelas sewaktu Jibrail menemani Nabi s.a.w pada malam mikraj, Jibrail tidak terdaya untuk pergi lebih jauh daripada Sidratul Muntaha. Dia berkata, "Jika aku ambil satu langkah lagi aku akan terbakar". Jibrail membiarkan Nabi s.a.w meneruskan perjalanan seorang diri. Allah menggambarkan pokok zaitun yang diberkati, pokok keesaan, bukan dari timur dan bukan dari barat. Dalam lain perkataan ia tidak ada permulaan dan tidak ada kesudahan, dan cahayanya yang menjadi sumber tidak terbit dan tidak terbenam. Ia kekal pada masa lalu dan tidak kesudahan pada masa akan datang. Kedua-dua Zat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kekal abadi. Kedua-dua kenyataan Zat-Nya dan kenyataan sifat-Nya bergantung kepada Zat-Nya. Penyembahan yang sebenar hanya bisa dilakukan apabila hijab yang menutup hati tersingkap agar cahaya abadi menyinarinya. Hanya selepas itu hati menjadi terang dengan cahaya Ilahi. Hanya selepas itu roh menyaksikan perumpamaan Ilahi itu. Tujuan diciptakan alam maya adalah untuk ditemui khazanah rahasia itu. Allah berfirman melalui rasul-Nya: "Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Aku suka dikenali lalu Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenali". Ini bermakna Dia bisa dikenali di dalam dunia ini melalui sifat-sifat-Nya. Tetapi untuk melihat dan mengenali Zat-Nya sendiri hanyalah bisa terjadi di akhirat. Di sana melihat Allah adalah secara langsung sebagaimana yang Dia kehendaki dan yang melihatnya adalah mata bayi hati. "Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat". (Surah Qiamat, ayat 22 & 23). Nabi s.a.w bersabda, "Aku melihat Tuhanku di dalam rupa jejaka tampan". Mungkin ini adalah bayangan bayi hati. Bayangan adalah cermin. Ia menjadi alat untuk mendhohirkan yang ghaib. Hakikat Allah Yang Maha Tinggi tidak menyerupai sesuatu samada bayangan atau bentuk. Bayangan adalah cermin, walaupun yang kelihatan bukanlah cermin dan bukan juga orang yang melihat ke dalam cermin. Fikirkan tentang itu dan cubalah memahaminya karena ia adalah hakikat kepada alam rahasia-rahasia. Tetapi semuanya berlaku pada makam sifat. Pada makam Zat semua kenyataan hilang, lenyap. Orang yang di dalam makam Zat itu sendiri lenyap tetapi mereka merasai zat itu dan tidak yang lain. Betapa jelas Nabi s.a.w menggambarkannya, "Aku daripada Allah dan yang beriman daripadaku". Dan Allah berfirman melalui rasul-Nya: "Aku ciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya Wujud-Ku sendiri". Maksud Wujud Allah adalah Zat-Nya Yang Maha Suci, menyata di dalam sifat-sifat-Nya Yang Maha Mengasihani. Ini dinyatakan-Nya melalui rasul-Nya: "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku". Rasul yang dikasihi Allah adalah cahaya kebenaran sebagaimana Allah berfirman: "Tidak Kami utuskan engkau melainkan menjadi rahmat kepada seluruh alam". (Surah Anbiyaa', ayat 107). "Sesungguhnya telah datang kepada kamu rasul Kami, menerangkan kepada kamu beberapa banyak dari (isi Kitab) yang kamu sembunyikan, dan ia tidak ambil tahu berapa banyak. Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya dari Allah dan Kitab yang menerangkan". (Surah Maaidah, ayat 15). Pentingnya utusan Allah yang dikasihi-Nya itu jelas dengan firman-Nya kepada baginda, "Jika tidak karena engkau Aku tidak ciptakan makhluk".

 

11: Tabir Cahaya Dan Kegelapan

Allah berfirman: "Siapa yang buta di dunia buta juga di akhirat". (Surah Bani Israil, ayat 72). Bukan buta mata yang di kepala tetapi buta mata yang di hati yang menghalang seseorang daripada melihat cahaya hari akhirat. Firman Allah: "Bukan matanya yang buta tetapi hatinya yang di dalam dada". (Surah Hajj, ayat 46). Hati menjadi buta disebabkan oleh kelalaian, yang membuat seseorang lupa kepada Allah dan lupa kepada kewajipan mereka, tujuan mereka, ikrar mereka dengan Allah, ketika mereka masih berada di dalam dunia. Sebab utama kelalaian adalah kejahilam terhadap hakikat (kebenaran) undang-undang dan peraturan Tuhan. Apa yang menyebabkan seseorang itu berterusan di dalam kejahilam ialah kegelapan yang menyeluruh menutupi seseorang dari luar dan sepenuhnya menguasai batinnya. Sebagian daripada nilai-nilai itu yang mendatangkan kegelapan ialah sifat-sifat angkuh, sombong, megah, dengki, bakhil, dendam, bohong, mengumpat, fitnah dan lain-lain sifat keji. Sifat-sifat yang keji itulah yang merendahkan ciptaan Tuhan yang sangat baik sehingga jatuh kepada tahap yang paling rendah. Untuk membebaskan seseorang daripada kejahatan itu dia perlu menyucikan dan menyinarkan cermin hatinya. Penyucian ini dilakukan dengan mendapatkan pengetahuan, dengan beramal menurut pengetahuan itu, dengan usaha dan keberanian, melawan ego diri, menghapuskan yang banyak pada diri, mencapai keesaan. Perjuangan ini berterusan sehingga hati menjadi hidup dengan cahaya keesaan - dan dengan cahaya keesaan itu mata bagi hati yang suci akan melihat hakikat sifat-sifat Allah di sekeliling dan pada dirinya. Hanya selepas itu baharu kamu ingat akan kediaman kamu yang sebenar yang darinya kamu datang. Kemudian kamu akan ada rasa kerinduan dan keinginan untuk kembali kepada rumah kediaman yang sebenar, dengan pertolongan Yang Maha Mengasihani roh suci pada diri kamu akan menyatu dengan-Nya. Bila sifat-sifat kegelapan terangkat cahaya mengambil alih tempatnya dan orang yang memiliki mata rohani akan melihat. Dia mengenali apa yang dia lihat dengan cahaya nama-nama sifat Ilahiah. Kemudian dirinya dibanjiri oleh cahaya dan bertukar menjadi cahaya. Cahaya ini masih lagi hijab menutupi cahaya suci Zat, tetapi masanya akan sampai bila ini juga akan terangkat, yang tinggal hanya cahaya suci Zat itu sendiri. Hati mempunyai dua mata, satu yang sempat dan satu lagi yang luas. Dengan mata yang sempat seseorang bisa melihat kenyataan sifat-sifat dan nama-nama Allah. Penglihatan ini berterusan sepanjang perkembangan kerohaniannya. Mata yang luas melihat hanya kepada apa yang dijadikan kelihatan oleh cahaya keesaan dan yang esa. Hanya bila seseorang sampai kepada daerah kehampiran dengan Allah dia akan melihat, di dalam alam penghabisan bagi kenyataan Zat Allah, Yang Esa dan Mutlak. Bagi mencapai makam-makam ini ketika masih di dalam dunia, di dalam kehidupan ini kamu mestilah membersihkan diri kamu daripada sifat-sifat keduniaan, yang ego dan keegoan. Jarak yang kamu mengembara di dalam kenaikan kamu ke arah makam-makam tersebut bergantung kepada sejauh mana kamu mengasingkan diri daripada hawa nafsu yang rendah dan ego diri kamu. Pencapaian kamu kepada matlamat yang kamu inginkan bukanlah separti barang kebendaan sampai ke tempat kebendaan. Ia juga bukan ilmu yang membawa seseorang kepada sesuatu yang menjadi diketahui (daripada tidak tahu), juga bukan partimbangan yang memperoleh apa yang difikirkan, bukan juga khayalan yang menyatu dengan apa yang dikhayalkan. Matlamat yang kamu ingin capai ialah kesadaran tentang ketidakan (kekosongan) kamu daripada segala sesuatu kecuali Zat Allah. Pencapaian ini adalah perubahan suasana yang terjadi, bukan perubahan pada sesuatu yang nyata. Di sana tidak jarak, tidak dekat atau jauh, tidak kesampaian, tidak ukuran, tidak arah, tidak ruang. Dia Maha Besar, segala puji untuk-Nya. Dia Maha Pengampun. Dia menjadi nyata dalam apa yang Dia sembunyikan daripada kamu. Dia menyatakan Diri-Nya sebagaimana Dia melabuhkan tirai di antara Dia dengan kamu. Pengenalan tentang Diri-Nya tersembunyi di dalam ketidakupayaan mengenali-Nya. Jika ada di antara kamu yang sampai kepada cahaya yang diterangkan dalam buku ini ketika kamu masih lagi berada di dalam dunia, buatlah muhasabah (hisab) terhadap diri kamu, buku catatan kamu tentang amalan kamu. Hanya di bawah cahaya kamu bisa melihat apa yang kamu sudah buat dan sedang buat; buat kiraan kamu, seimbangkannya. Kamu akan membaca buku catatan kamu di hadapan Tuhan kamu pada hari pembalasan. Itu adalah muktamad. Kamu tidak ada peluang mengimbanginya di sana. Jika kamu lakukan di sini ketika kamu masih ada masa, kamu akan termasuk ke dalam golongan yang diselamatkan. Jika tidak azab dan seksa menjadi bagian kamu di akhirat. Hidup ini akan berakhir. Di sana ada azab di dalam kubur, ada hari pembalasan, ada neraka yang menimbang sehingga kepada dosa yang paling kecil dan kebaikan yang paling kecil. Kemudian ada jambatan yang lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada mata pedang, penghujungnya ialah taman, sementara di bawahnya ialah neraka yang penuh dengan kecelakaan, penderitaan, semuanya adalah berkekalan apabila kehidupan yang singkat ini berakhir.

 

 

12: Bagia Karena Beramal Salih Dan Sengsara Karena Ingkar

Kamu patut tahu bahwa manusia akan termasuk kepada salah satu daripada dua golongan, golongan pertama ialah yang berada dalam kedamaian, keimanan, bagia dalam melakukan ketaatan kepada Allah, sementara golongan kedua berada dalam keadaan tidak selamat, keraguan dan kerisauan dalam keingkaran terhadap peraturan Tuhan. Kedua-dua nilai, ketaatan dan keingkaran, ada di dalam diri seseorang. Jika kesucian, kebaikan dan keikhlasan lebih menguasai, sifat-sifat mementingkan diri akan bertukar menjadi suasana kerohanian dan bagian diri yang ingkar akan dikalahkan oleh bagian diri yang baik. Sebaliknya jika seseorang mengikuti hawa nafsu yang rendah dan kesenangan ego dirinya, sifat-sifat ingkar akan menguasai bagian diri yang satu lagi untuk menjadikannya ingkar dan jahat. Jika kedua-dua sifat yang berlawanan itu sama-sama kuat diharapkan yang baik itu bisa menang, sebagaimana yang dijanjikan: "Barangsiapa kerjakan kebaikan maka baginya (ganjaran) sepuluh kali ganda, dan barangsiapa kerjakan kejahatan maka Tidaklah dibalas dia melainkan sebanyak (kejahatannya) itu, dan mereka tidak akan diniayai. (Surah An'aam, ayat 160). Dan jika Allah kehendaki ditambah-Nya lagi ganjaran atas kebaikan. Namun orang yang kebajikan dan kejahatannya sama banyak mesti lulus perbicaraan pada hari pembalasan. Orang yang berjaya mengubah sifat mementingkan diri kepada tidak mementingkan diri, hawa nafsu yang rendah kepada cita-cita kerohanian, baginya tidak hisab, tidak catatan akan diberikan kepadanya. Dia akan memasuki syurga tanpa melalui huru hara hari kiamat. "Oleh sebab itu barangsiapa berat (timbangan) kebaikannya maka dia di dalam kehidupan (akhirat) yang sentosa". (Surah Qari'ah, ayat 6 & 7). Orang yang kejahatannya lebih berat daripada kebaikannya akan dihukum menurut kadar kejahatannya. Kemudian dia dikeluarkan daripada neraka, jika dia beriman, dan akan masuk syurga. Taat dan ingkar bermakna baik dan jahat. Kedua-dua ini ada dalam diri seseorang manusia. Yang baik bisa berubah menjadi jahat dan yang jahat bisa berubah menjadi baik. Nabi s.a.w bersabda, "Orang yang kebaikan menguasainya menemui keselamatan, keimanan dan kegembiraan dan menjadi baik. Orang yang kejahatan lebih menguasai kebaikan, dia menjadi ingkar dan jahat. Orang yang menyedari kesalahannya dan bertaubat dan mengubah haluannya akan mendapati suasana ingkar akan bertukar menjadi taat dan beribadat". Telah menjadi ketentuan bahwa baik dan jahat, kehidupan yang diberkati bagi orang yang taat dan kesengsaraan bagi yang ingkar, adalah keadaan yang setiap orang dilahirkan dengannya. Kedua-duanya tersembunyi di dalam bakat atau keupayaan seseorang. Nabi s.a.w bersabda, "Orang yang bertuah menjadi baik adalah baik ketika di dalam kandungan ibunya, dan orang berdosa yang jahat adalah pendosa di dalam kandungan ibunya". Begitulah keadaannya dan tidak siapa yang berhak berbincang mengenainya. Urusan takdir bukan untuk dibincangkan. Jika dibiarkan perbincangan demikian ia akan membawa kepada bidaah dan kekufuran. Lagipun tidak siapa bisa menjadikan takdir sebagai alasan untuk membuang segala ikhtiar, semua perbuatan baik. Seseorang itu tidak bisa mengatakan, 'Jika aku ditakdirkan menjadi baik maka aku bersusah payah membuat kebaikan sedangkan aku sudahpun diberkati'. Atau berkata, 'Jika aku sudah ditakdirkan menjadi jahat apa gunanya aku berbuat kebaikan'. Jelas sekali pendirian demikian tidak benar. Tidak wajar mengatakan, 'Jika keadaan aku sudah ditakdirkan pada azali apa untung atau rugi yang aku harapkan dengan usahaku sekarang'. Contoh yang baik diberikan kepada kita adalah perbandingan di antara Adam a.s dengan iblis yang dilaknat. Iblis meletakkan kesalahan kepada takdir, yang menyebabkan dia menjadi derhaka, maka dia menjadi kafir dan dibuang jauh daripada keampunan dan kehampiran Tuhan. Adam a.s mengakui kesilapannya dan memohon keampunan, menerima keampunan dari Allah dan diselamatkan. Menjadi kewajipan bagi orang Islam yang beriman untuk tidak cuba memahami sebab-sebab yang tersimpan di dalam takdir. Orang cuba berbuat demikian akan menjadi keliru dan tidak mendapat apa-apa melainkan keraguan. Bahkan dia mungkin kehilangan keyakinan. Orang yang beriman mestilah mempercayai kepada kebijaksanaan Allah yang mutlak. Segala yang manusia lihat terjadi pada dirinya di dalam dunia ini mesti ada alasan tetapi alasan itu bukan untuk difahami melalui lojik manusia karena ia berdasarkan kebijaksanaan Tuhan. Di dalam kehidupan ini bila kamu temui pencacian terhadap Tuhan, kemunafikan, keingkaran, penipuan dan lain-lain yang jahat, jangan biarkan perkara-perkara tersebut menggoncangkan iman kamu. Ketahuilah Allah Yang Maha Tinggi dengan kebijaksanaan mutlak bertanggungjawab kepada semua perkara dan Dia lakukan apa yang kelihatan sebagai tidak baik sebagai menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak. Pendhohiran kekuasaan yang demikian mungkin menyebabkan ada orang yang tidak tertahan dan menganggapnya sebagai tidak baik tetapi ada rahasia besar di sebaliknya yang tidak makhluk yang tahu melainkan Rasulullah s.a.w. Ada kisah orang arif berdoa kepada Tuhannya, "Wahai Yang Maha Suci, semua telah diatur oleh Engkau. Takdirku adalah kepunyaan-Mu. Ilmu yang Engkau letakkan padaku adalah milik-Mu". Ketika itu dia mendengar jawapan tanpa suara tanpa sepatah perkataan, keluar dari dalam dirinya mengatakan, "Wahai hamba-Ku. Segala yang engkau katakan adalah kepunyaan Yang Maha Esa dan dalam keesaan. Ia bukan milik hamba-hamba". Hamba yang beriman itu berkata, "Wahai Tuhanku, aku telah mendholimi diriku, aku bersalah, aku berdosa". Selepas pengakuan itu sekali lagi dia mendengar dari dalam dirinya, "Dan Aku mempunyai keampunan terhadap dirimu. Aku telah hapuskan kesalahan-kesalahan kamu, Aku telah ampun kamu". Biar mereka yang beriman tahu dan bersyukur yang segala kebaikan yang mereka lakukan bukanlah dari mereka tetapi melalui mereka, kejayaan datangnya dari Pencipta. Bila mereka bersalah biar mereka tahu bahwa kesalahan mereka datangnya dari diri mereka sendiri, kepunyaan mereka dan mereka bisa bertaubat. Kesalahan datangnya dari keegoan mereka yang batil. Jika kamu memahami ini dan mengingatinya kamu termasuk ke dalam golongan yang disebut Allah: "Dan yang apabila telah berbuat kejelikan atau menganiayai diri-diri mereka maka mereka ingat kepada Allah dan mereka minta diampunkan dosa-dosa mereka - bukankah tidak ada yang mengampunkan dosa-dosa melainkan Allah? Dan mereka tidak berkekalan di atas dosa yang mereka kerjakan, dan mereka tahu. Mereka itu balasannya ialah keampunan dari Tuhan mereka, syurga-syurga yang mengalir padanya sungai-sungai, mereka akan kekal padanya, dan alangkah baiknya balasan bagi orang-orang yang beramal". (Surah Imraan, ayat 135 & 136). Adalah baik bagi orang yang beriman mengakui yang dirinya sendirilah asal semua kesalahan dan dosanya. Itulah yang akan menyelamatkannya. Itu lebih baik dan lebih benar daripada meletakkan kesalahan dirinya kepada Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Pencipta semua perkara.

 

Bila Nabi s.a.w bersabda, "Telah diketahui bila seseorang itu berada di dalam kandungan ibunya sabda dia akan menjadi baik atau pendosa" baginda maksudkan 'dalam kandungan ibu' itu adalah empat anasir yang melahirkan semua kekuatan atau tenaga dan kebisaan lahiriah. Dua daripada anasir tersebut adalah tanah dan air yang bertanggungjawab kepada pertumbuhan keyakinan dan pengetahuan, melahirkan kehidupan dan lahir dalam hati sebagai tawaduk (kerendahan diri). Dua anasir lain ialah api dan angin yang bertentangan dengan tanah dan air - membakar, membinasa, membunuh. Kudrat Tuhan yang menyatukan anasir-anasir yang berlawanan dan ber beda menjadi satu. Bagaimana air dan api bisa wujud bersama? Bagaimana cahaya dan kegelapan bisa terkandung di dalam awan? "Dia yang mengunjukkan kepada kamu kilat untuk menakutkankan dan karena harapan, dan Dia jadikan mega yang berat. Dan petir itu beribadat dengan memuji Tuhannya, dan malaikat juga, lantaran takut kepada-Nya, dan Dia kirim halilintar dan Dia kenakannya kepada siapa yang Dia kehendaki.". (Surah ar-Ra'd, ayat 12 & 13). Satu hari wali Allah Yahya bin Mua'adh ar-Razi ditanya, "Bagaimana mengenali Allah?' Dia menjawab, "Melalui gabungan yang bertentangan". Pertentangan termasuk pada, dan sebenarnya keperluan bagi, memahami sifat-sifat Allah. Dengan menghadapkan diri kepada hakikat Ilahi seseorang menjadi cermin yang membalikkan kebenaran itu, juga sifat Yang Maha Perkasa dibalikkan. Dalam diri manusia terkandung seluruh alam maya. Sebab itu dia dipanggil penggabung yang banyak. Allah menciptakan manusia dengan dua tangan-Nya, tangan kemurahan-Nya dan tangan keperkasaan-Nya, keperkasaan dan kekuasaan. Jadi, manusia adalah cermin yang menunjukkan kedua-dua belah, yang kasar serta tebal dan yang halus serta indah. Semua nama-nama Ilahi menyata pada manusia. Semua makhluk yang lain hanya sebelah sahaja. Allah menciptakan iblis dan keturunannya dengan sifat kekerasan-Nya. Dia ciptakan malaikat dengan sifat kemurahan-Nya. Nilai-nilai kesucian dan kebaktian yang berterusan terkandung dalam kejadian malaikat, sementara iblis dan keturunannya yang diciptakan dengan sifat kekerasan-Nya, mempunyai nilai kejahatan, karena itu iblis menjadi takabur, dan bila Allah perintahkan sujud kepada Adam dia ingkar. Oleh karena manusia mempunyai kedua-dua ciri alam tinggi dan rendah, dan Allah telah memilih utusan-utusan dan wali-wali-Nya dari kalangan manusia, mereka tidak bebas daripada kesilapan. Nabi-nabi dipelihara dari dosa-dosa besar tetapi kesilapan kecil harus berlaku pada mereka. Wali-wali pula tidak terjamin dipelihara daripada dosa tetapi adalah dikatakan wali-wali itu hampir dengan Tuhan, mencapai makam kesempurnaan, mereka masuk ke bawah perlindungan Tuhan daripada dosa-dosa besar. Syaqiq al-Baqi berkata, "Terdapat lima tanda kebenaran: perangai yang lemah lembut dan lembut hati, menangis karena menyesal, mengasingkan diri dan tidak peduli tentang dunia, tidak bercita-cita tinggi, dan memiliki rasa hati (gerak hati atau intuisi). Tanda-tanda pendosa juga lima; keras hati, mempunyai mata yang tidak pernah menangis, mencintai dunia dan kesenangannya, bercita-cita tinggi, tidak bermalu dan tidak ada rasa atau gerak hati". Nabi s.a.w meletakkan empat nilai pada orang yang baik-baik, "Bisa dipercaya dan menjaga apa yang diamanahkan kepadanya dan mengembalikannya. Menepati janji. Berbicara benar, tidak berbohong. Tidak kasar dalam perbincangan dan tidak menyakitkan hati orang lain". Baginda s.a.w juga memberitahu empat tanda pendosa, "Tidak bisa dipercaya dan merusakkan amanah yang diberikan kepadanya, mungkir janji, menipu, suka bertengkar, mibui apabila berbincang dan menyakitkan hati orang lain". Seterusnya pendosa tidak dapat memaafkan kawan-kawannya. Ini tanda tidak iman karena kemaafan menjadi tanda utama orang beriman. Allah memerintahkan rasul-Nya: "Berilah maaf, dan suruhlah mereka (manusia) berbuat kebaikan, dan berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh". (Surah A'raaf, ayat 199). Perintah 'maafkanlah' bukan hanya tertuju kepada Rasulullah s.a.w seorang sahaja. Ia mengenai semua orang dan tentu sahaja termasuk mereka yang beriman dengan Rasulullah s.a.w. Perkataan 'maafkanlah' bermakna jadikan tabiat memafkan, jadikan sifat atau peribadi. Siapa yang ada sifat pemaaf menerima satu daripada nama-nama Allah - ar-Rauf - Yang Memaafkan. "Barangsiapa memaafkan dan membereskan maka ganjarannya (adalah) atas (tanggungan) Allah". (Surah Syura, ayat 40). Ketahuilah ketaatan kepada Allah bertukar menjadi ingkar, kejahatan dan dosa menjadi kebaikan, tidak berlaku dengan sendiri, tetapi dengan rangsangan, pengaruh, tindakan serta usaha diri sendiri. Nabi s.a.w bersabda, "Semua anak dilahirkan muslim. Ibu bapaknya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi". Setiap orang ada bakat untuk menjadi baik atau jahat, bisa memiliki sifat-sifat baik dan buruk dalam masa yang sama. Jadi, adalah salah menghukum seseorang atau sesuatu sebagai sepenuhnya baik atau buruk. Tetapi benar jika dikatakan seseorang itu lebih banyak kebaikannya daripada kejahatannya ataupun sebaliknya. Ini bukan bermakna manusia masuk syurga tanpa amalan baik, juga bukan dia dihantar ke neraka tanpa amalan buruk. Berfikir cara demikian bertentangan dengan prinsip Islam. Allah menjanjikan syurga kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal salih dan diancam-Nya orang-orang yang berdosa dengan azab neraka. "Barangsiapa berbuat baik maka (adalah) untuk kebaikan dirinya dan barangsiapa berbuat jahat maka untuk dirinya. Kemudian kepada Tuhan kamulah kamu akan dikembalikan". (Surah Jaasiaah, ayat 15). Di hari ini dibalas setiap jiwa dengan apa yang dia telah usahakan. Tidak ada kedholiman pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat menghitung". (Surah Mukmin, ayat 17). Karena apa juga amal yang baik yang kamu sediakan untuk diri kamu nanti kamu dapati (ganjaran)nya di sisi Allah". (Surah Baqaraah, ayat 110).

13: Darwis (Sufi)

Ada satu golongan yang dikenali sebagai sufi. Empat tafsiran diberikan kepada istilah sufi. Ada yang melihatnya pada keadaan dhohir mereka mibuai baju bulu yang kasar. Bulu dalam bahasa Arab ialah suf. Dari perkataan ini mereka dipanggil sufi. Yang lain melihat kepada kehidupan mereka yang bebas daripada kekacauan dunia ini serta kedamaian dan ketenteraman mereka, keadaan yang sesuai dengan bahasa Arab safa. Daripada perkataan safa itu timbul istilah sufi. Yang lain pula memandang lebih mendalam, kepada hati mereka yang suci murni dan bebas daripada apa sahaja kecuali Zat Allah. Dalam bahasa Arab safi berarti kesucian hati dan dari perkataan itu dikatakan timbul istilah sufi. Yang lain memanggil mereka sufi karena mereka hampir dengan Allah dan akan berdiri di barisan pertama di hadapan Allah pada hari kiamat. Safi dalam bahasa Arab bermakna barisan. Terdapat empat alam, empat dunia. Pertama ialah alam atau dunia jirim - tanah, air, api dan angin merupakan jirim dalam alam ini. Kedua ialah alam makhluk rohani - malaikat, jin, mimpi dan kematian, ganjaran Allah - lapan syurga dan keadilan Allah - tujuh neraka. Ketiga ialah alam huruf, nama-nama indah bagi sifat-sifat Allah, dan Loh Tersembunyi (Loh Mahfuz) yang menjadi sumber kepada perintah-perintah Allah. Keempat ialah alam Zat Allah Yang Maha Suci, alam yang tidak bisa digambarkan atau dihuraikan karena pada alam ini atau tahap ini tidak ada perkataan, nama-nama, sifat-sifat atau persamaan. Tidak siapa kecuali Allah mengetahuinya. Terdapat pula empat jenis ilmu. Pertama ilmu tentang peraturan-peraturan Allah, dan berhubung dengan aspek lahir kehidupan dunia ini. Kedua ialah ilmu kerohanian, pengetahuan batin tentang sebab dan akibat. Ketiga ialah ilmu tentang jiwa, roh, mengenal diri dan melaluinya pengetahuan tentang ketuhanan diperoleh. Akhirnya ilmu tentang kebenaran atau hakikat. Roh juga ada empat jenis, roh kebendaan, roh yang arif, roh yang memerintah (roh sultan) dan roh kudus (roh suci). Yang dhohir, kenyataan bagi Pencipta, juga ada empat jenis. Pertama ialah kenyataan di dalam rupa, bentuk, warna, seumpama gubahan-Nya. Kedua ialah kenyataan perbuatan dan tindak balas dalam perkara yang berlaku. Ketiga ialah kenyataan dalam sifat-sifat, bakat-bakat, perangai-perangai sesuatu. Akhirnya kenyataan bagi zat-Nya. Akal atau daya menimbang juga ada empat jenis: akal yang menguruskan soal-soal kehidupan duniawi, akal yang menimbang dan memikirkan soal-soal akhirat, akal bagi roh yang bertugas dalam bidang makrifat dan akhirnya akal yang meliputi. Perkara yang dibincangkan juga ada empat jenis. Empat jenis ilmu, empat jenis roh, empat jenis pendhohiran (kenyataan) dan empat jenis akal. Ada orang yang berada pada tahap pertama ilmu, roh, kenyataan dan akal. Mereka adalah penghuni syurga pertama yang dipanggil syurga yang menjadi tempat kembali yang mensejahterakan, yaitu syurga keduniaan. Mereka yang berada pada tahap kedua ilmu, roh, kenyataan dan akal tergolong ke dalam syurga yang lebih tinggi, taman kesukaan dan kesenangan kurniaan Allah kepada makhluk-Nya, syurga di dalam alam malaikat.. Sebagian manusia yang mencapai tahap ketiga ilmu, roh, kenyataan dan akal (makrifat) berada di dalam syurga peringkat ketiga, syurga langit-langit, syurga nama-nama dan sifat-sifat Ilahi dalam alam keesaan. Namun, mereka yang mencari dan terikat dengan ganjaran Allah, walaupun syurga, tidak dapat melihat hakikat sebenar dalam diri mereka dan dalam benda-benda di sekeliling mereka. Mereka yang arif, yang mencari hakikat, mereka yang mencapai suasana sebenar sufi, suasana keinginan menyeluruh - tidak inginkan sesuatu apa pun kecuali Allah, berhajat kepada Allah sahaja - meninggalkan segala-galanya dan tidak mencari apa-apa kecuali yang hak. Mereka temui apa yang mereka cari dan masuk ke dalam alam yang hak, dan kehampiran dengan Allah, dan hidup semata-mata karena Zat Allah, tidak karena yang lain. Ini sesuai dengan perintah Allah, "Carilah keselamatan dengan Allah" dan ikut nasihat Nabi s.a.w, "Kedua-dua dunia dan akhirat terlarang bagi orang yang mencintai Allah". Nabi s.a.w tidak mibusudkan kedua-dua dunia dan akhirat dihukumkan haram. Apa yang baginda maksudkan ialah orang yang berkehendak menemui Allah menyekat keinginan hawa nafsunya, egonya, kasih sayang dan cita-citanya kepada dunia dan akhirat. Pencari yang hak memberi alasan: Dunia ini adalah ciptaan dan kita juga ciptaan. Semua yang dicipta berhajat kepada Pencipta. Bagaimana mungkin yang berhajat meminta kepada yang berhajat juga. Apa lagi jalan bagi yang diciptakan kecuali mencari Pencipta. Allah berfirman melalui Rasul-Nya, "Kecintaan-Ku, Wujud-Ku, adalah kecintaan mereka kepada-Ku". Nabi s.a.w bersabda, "Keadaanku yang sangat berhajat, kemiskinanku, adalah kemegahanku". Keadaan yang sangat berhajat dan kecintaan kepada Allah menjadi asas kepada pencarian sufi. Keadaan kemiskinan yang menjadi kebanggaan Nabi s.a.w bukanlah kekurangan sesuatu berbentuk keduniaan atau kebendaan. Ia adalah pelepasan segala-galanya kecuali keinginan kepada Zat Allah. Ia adalah segala sesuatu- bukan sahaja yang di dalam dunia ini, malah yang dijanjikan di akhirat juga - dan lantaran itu suasana berhajat sepenuhnya untuk dipersembahkan kepada Allah. Inilah keadaan yang membawa seseorang kepada kekosongan atau ketidakan diri, lenyap di dalam zat Allah. Ia adalah mengosongkan diri seseorang daripada apa sahaja kecuali cinta Allah. Kemudian hati menjadi bernilai atau layak untuk menerima janji Allah, "Aku tidak dapat ditanggung oleh langit dan bumi tetapi layak ditanggung oleh hati hamba-hamba-Ku yang beriman". Hamba yang beriman adalah yang melepaskan apa sahaja kecuali Yang Esa dari hatinya. Bila hati sudah disucikan, Allah melapangkannya dan memuatkan Diri-Nya ke dalamnya. Bayazid Bustami menggambarkan keluasan hatinya dengan katanya, "Jika segala yang maujud di dalam dan di sekeliling arasy, keluasan semua ciptaan Allah, diletakkan di penjuru hati manusia sempurna dia tidak akan merasai beratnya". Begitulah keadaan kekasih Allah. Kasihilah mereka dan sentiasalah bersama mereka karena yang mencintai akan bersama-sama yang dicintai pada hari akhirat nanti. Tanda kecintaan itu ialah mencari kehadiran bersama-sama mereka, berkehendak mendengar perkataan mereka, dan dengan pandangan serta perkataan mereka, dapat merasakan kerinduan terhadap Allah Yang Maha Tinggi. Allah berfirman melalui Nabi-Nya, "Aku merasai kerinduan para hamba-Ku yang beriman, yang baik-baik, hamba yang sejati, terhadap Diri-Ku dan Aku juga merindui mereka". Kekasih Allah kelihatan ber beda daripada orang lain, kelakuan dan tindakan mereka juga ber beda. Pada peringkat permulaan, ketika masih baharu, tindakan mereka kelihatan seimbang antara baik dengan buruk. Bila mereka maju lagi dan sampai kepada peringkat pertengahan, perbuatan mereka penuh dengan manfaat. Dalam semua hal kebaikan yang keluar melalui mereka bukan sahaja dalam ketaatan mereka mematuhi perintah Allah dan peraturan agama, tetapi juga dalam perbuatan yang mengandungi asalk kebagiaan dan bersinar dengan cahaya kepada maksud bagi yang dhohir. Mereka seolah-olah dipakaikan dengan pakaian daripada cahaya yang berwarna warni yang memancar daripada mereka menurut makam mereka. Apabila mereka dapat mengalahkan ego mereka dan kejahatan nafsu yang rendah dengan berkat kalimah tauhid "La ilaha illa Llah" dan sampai kepada kewujudan yang bisa mem bedakan antara yang hak dengan yang batil, yang benar dengan yang salah, cahaya biru langit memancar keluar daripada mereka. Bila dalam peringkat tersebut, dengan pertolongan dan ilham dari Allah, mereka berpindah sepenuhnya ke dalam kebaikan dan meninggalkan kejahatan keseluruhannya, cahaya merah membungkus atau membaluti mereka. Dengan berkata nama Allah - HU - nama itu tidak yang lain kecuali yang hak dapat menceritakannya, mereka sampai kepada peringkat dipersucikan daripada segala sifat-sifat keji dan perbuatan jahat dan menemui suasana tenang dan aman, kemudian cahaya hijau keluar daripada mereka. Bila semua ego dan keinginan, bila semua kehendak diri sendiri dihapuskan melalui berkat HAQ, yang sebenarnya, dan bila mereka menyerahkan kehendak mereka kepada kehendak Allah dan reda dengan apa juga yang datang daripada-Nya, warna mereka berubah menjadi cahaya putih. Inilah gambaran orang-orang sufi daripada peringkat permulaan mereka di dalam perjalanan sampailah kepada peringkat pertengahan. Tetapi seseorang yang sampai kepada perbatasan peringkat ini tidak mempunyai bentuk atau warna. Dia menjadi seolah-olah sinaran cahaya matahari. Cahaya matahari tidak berwarna. Sufi yang sampai kepada makam yang paling tinggi tidak mempunyai kewujudan untuk membalikkan cahaya atau warna. Jika ada, warnanya ialah hitam, yang menyerap semua warna. Inilah tanda keadaan fana Orang banyak yang melihat kepadanya, keadaan yang tidak warna ini, kelihatan gelap, menjadi tabir menutupi cahaya makrifat yang dia miliki, separti malam menutupi sinaran matahari. Allah berfirman: "Dan Kami jadikan malam itu (sebagai) pakaian. Dan Kami jadikan siang itu tempat penghidupan". (Surah Nabaa, ayat 10 & 11). Bagi mereka yang sampai kepada hakikat atau intipati akal dan ilmu, ada tanda dalam ayat di atas. Mereka yang sampai kepada kebenaran (hakikat) ketika di dalam dunia ini merasakan seolah-olah di penjarakan di sini di dalam bilik kurungan di bawah tanah yang gelap. Mereka menghabiskan hayat mereka di dalam kesusahan dan kesengsaraan. Mereka menanggung kesusahan yang besar, tekanan-tekanan keadaan, di dalam dunia yang gelap sepenuhnya. Nabi s.a.w bersabda, "Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman". Separti yang baginda s.a.w khabarkan percubaan yang paling besar menimpa para nabi, kemudian yang hampir dengan Allah, kemudian dengan kadar menurun mengikut kadar seseorang itu mahu menghampiri Allah. Jadi, adalah sesuai bagi sufi mibuai pakaian hitam dan mengikat serban hitam di kepalanya, karena ia adalah pakaian orang yang bersedia menempuh kesusahan dan kesakitan di dalam perjalanan ini. Di dalam kenyataan, hitam adalah pakaian paling sesuai bagi mereka yang berkabung karena kehilangan kemanusiaan dan kewujudan diri mereka. Banyak manusia yang kehilangan anugerah yang berharga karena kecuaian, sesuai hanya untuk kemanusiaan, bagi mereka yang sedar, bagi yang bisa melihat kebenaran, enggan itu membunuh kehidupan abadi dengan tangan mereka sendiri. Membuang kasih Ilahi yang kerinduan di dalam hati mereka, memisahkan diri mereka enggan roh suci, mereka hilang kesempatan untuk kembali kepada asal mereka, kepada penyebab. Walaupun mereka tidak mengetahuinya, merekalah yang menderita bala yang paling besar. Jika mereka sedar yang mereka sudah kehilangan segala nikmat akhirat, kehidupan abadi, mereka tentunya mibuai pakaian hitam, pakaian berkabung. Janda yang kematian suami berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Ini adalah berkabung karena kehilangan sesuatu di dalam dunia. Orang yang kehilangan kebaikan hidup yang abadi seharusnya berkabung secara abadi juga. Nabi s.a.w bersabda, "Mereka yang ikhlas sentiasa berada di tepi bahaya besar". Betapa tepat gambaran ini mengenai orang yang terpaksa berjalan berjingkit-jingkit dengan penuh kewaspadaan! Tetapi inilah suasana sufi yang meninggalkan kewujudan dirinya dan berada di dalam alam fana. Kefakirannya terhadap dunia ini yang ditinggalkannya dan hajatnya yang penuh kepada Allah sangat besar, dan dia melepasi kemanusiaan sebagai keindahan yang bersangatan. Mereka yang memperoleh penyaksian kepada yang hak, setelah menyaksikan keindahan kebenaran itu, tidak ingin melihat yang lain lagi. Mereka tidak bisa melihat kecintaan dan kerinduan kepada apa sahaja. Bagi mereka, Allah jualah yang menjadi yang dikasihi, hanya Dia yang wujud. Begitulah keadaan mereka di dalam kedua-dua alam. Itulah satu-satunya matlamat mereka. Akhirnya mereka menjadi insan, dan Allah ciptakan insan supaya mengenali-Nya, supaya mencapai Zat-Nya. Menjadi kewajipan bagi setiap orang untuk mencari dan mengenali atau mengetahui tujuan dia diciptakan dan menghayati maksud tujuan tersebut, kewajipan yang mereka tanggung di dalam dunia ini dan di akhirat, supaya mereka tidak habiskan usia mereka di dalam kerugian, agar mereka tidak menyesal selama-lamanya di akhirat - dibungkus, lemas di dalam kerinduan yang akan mereka sedari akhirnya di dalam penyesalan yang abadi.

 

14: Penyucian Diri

Dua jenis penyucian: Pertama dhohir, ditentukan oleh peraturan agama dan dilakukan dengan membasuh tubuh badan dengan air yang bersih. Keduanya ialah penyucian batin, diperoleh dengan menyedari kekotoran di dalam diri, menyedari dosanya dan bertaubat dengan ikhlas. Penyucian batin memerlukan perjalanan kerohanian dan dibimbing oleh guru kerohanian. Menurut hukum dan peraturan agama, seseorang menjadi tidak suci dan wuduk menjadi batal jika keluar sesuatu dari rongga badan. Ini perlu diperbaharui dengan wuduk. Dalam hal keluar mani dan darah haid mandi wajib diperlukan. Dalam hal lain, bagian tubuh yang terdedah - tangan, lengan, muka dan kaki - mesti dibasuh. Mengenai pembaharuan wuduk Nabi s.a.w bersabda, "Pada setiap pembaharuan wuduk Allah perbaharui kepercayaan hamba-Nya yang cahaya iman digilap dan memancar dengan lebih bercahaya". Dan, "Mengulangi bersuci dengan wuduk adalah cahaya di atas cahaya". Kesucian batin juga bisa hilang, mungkin lebih kerap daripada kesucian dhohir, dengan sifat buruk, buruk perangai, perbuatan dan sifat yang merusakkan separti sombong, takabur, menipu, mengumpat, fitnah, dengki dan marah. Perbuatan secara sedar dan tidak sedar memberi kesan kepada roh: mulut yang mibuan makanan haram, bibir yang berdusta, telinga yang mendengar umpatan dan fitnah, tangan yang memukul, kaki yang membawa kepada kejahatan. Zina, yang juga satu dosa, bukan sahaja dilakukan di atas katil. Nabi s.a.w bersabda, "Mata juga berzina". Bila kesucian batin ditanamkan demikian dan wuduk kerohanian batal, membaharui wuduk demikian adalah dengan taubat yang ikhlas, yang dilakukan dengan menyedari kesalahan sendiri, dengan penyesalan yang mendalam disertai oleh tangisan (yang menjadi air yang membasuh kekotoran jiwa), dengan berazam tidak akan mengulangi kesalahan tersebut, berhasrat meninggalkan semua kesalahan, dengan memohon keampunan Allah, dan dengan berdoa agar Dia mencegahnya daripada melakukan dosa lagi. Sembahyang adalah menghadap Tuhan. Berwuduk, berada di dalam keadaan suci, menjadi syarat untuk bersembahyang. Orang arif tahu penyucian dhohir sahaja tidak memadai, karena Allah melihat jauh ke dalam lubuk hati, yang perlu diberi wuduk dengan cara bertaubat. Firman Allah: "Inilah apa yang dijanjikan untuk kamu, untuk tiap-tiap orang yang bertaubat, yang menjaga (batas-batas)". (Surah Qaaf, ayat 32). Penyucian tubuh dan wuduk dhohir terikat dengan masa karena tidur membatalkan wuduk. Penyucian ini terikat dengan siang dan malam bagi kehidupan di dalam dunia. Penyucian alam batin, wuduk bagi diri yang tidak kelihatan, tidak ditentukan oleh masa. Ia untuk seluruh kehidupan - bukan sahaja kehidupan sementara di dunia tetapi juga kehidupan abadi di akhirat.

 

15: Ibadat Dhohir Dan Ibadat Batin

Lima kali sehari semalam, pada masa yang telah ditentukan, sembahyang diwajibkan kepada sekalian Muslim yang baligh dan berkuasa. Ini diperintahkan oleh Allah: "Kerjakan sembahyang dengan tetap dan akan sembahyang yang terlebih penting". (Surah al-Baqaraah, ayat 238). Sembahyang menurut peraturan agama (rukun sembahyang) terdiri daripada berdiri, membaca Quran, rukuk, sujud, duduk, membaca dengan kedengaran beberapa doa. Pergerakan dan perbuatan ini melibatkan bagian-bagian tubuh, pembacaan diucap dan didengar melibatkan pancaindera dan deria, adalah sembahyang diri dhohir. Karena tindakan diri dhohir ini dilakukan berulang-ulang, acapkali, di dalam setiap lima waktu sehari, bagian pertama menurut perintah Allah "Dirikan sembahyang", adalah lebih dari satu. Bagian kedua perintah Allah "terutamanya sembahyang pertengahan" merujuk kepada sembahyang hati, karena hati berada di tengah-tengah pada kejadian manusia. Tujuan sembahyang ini adalah mendapatkan kesejahteraan pada hati. Hati berada di tengah-tengah, antara kanan dengan kiri, antara hadapan dengan belakang, antara atas dengan bawah, antara kebaikan dengan keburukan. Hati adalah pusat, titik pengimbang, penengah. Nabi s.a.w bersabda, "Hati anak Adam berada di antara dua jari Yang Maha Penyayang. Dia balikkan ke arah mana yang Dia kehendaki". Dua jari Allah adalah sifat kekerasan-Nya yang berkuasa menghukum dan sifat keindahan-Nya dan pengasih-Nya yang memberi rahmat dan nikmat. Sembahyang sebenar adalah sembahyang hati. Jika hati lalai daripada sembahyang, sembahyang dhohir tidak akan teratur. Bila ini terjadi kesejahteraan dan kedamaian diri dhohir yang diharapkan diperoleh daripada sembahyang dhohir itu tidak diperoleh. Sebab itu Nabi s.a.w bersabda, "Amalan sembahyang mungkin dengan hati yang diam". Sembahyang adalah penyerahan yang dicipta kepada Pencipta. Ia adalah pertemuan di antara hamba dengan Tuannya. Tempat pertemuan itu ialah hati. Jika hati tertutup, lalai dan mati, begitu juga maksud sembahyang itu, tidak ada kebaikan yang sampai kepada diri dhohir daripada sembahyang yang demikian, karena hati adalah intipati atau hakikat atau zat bagi jasad, semua yang lain bergantung kepadanya. Nabi s.a.w bersabda, "Ada sekeping daging di dalam tubuh manusia, jika ia baik maka baiklah semua anggota tetapi jika ia jahat maka jahat pula anggota. Ketahuilah, itulah hati". Sembahyang yang diperintahkan oleh agama (syariat) dilakukan pada waktu tertentu, lima kali sehari semalam. Sebaiknya dilakukan di dalam masjid secara berhemah, menghadap ka'abah, mengikut imam yang tidak munafik dan tidak ria'. Masa untuk bersembahyang batin tidak mengira masa dan tidak berkesudahan, bagi kehidupan ini dan juga akhirat. Masjid bagi sembahyang ini ialah hati. Jemaahnya ialah bakat-bakat kerohanian, yang mengingat dan mengucapkan nama-nama Allah Yang Esa di dalam bahasa alam batin. Imam sembahyang ini ialah kehendak yang tidak dapat disekat, arah kiblatnya ialah keesaan Allah, yang di mana-mana, dan keabadian-Nya dan keindahan-Nya. Hati yang sejati adalah yang bisa melakukan sembahyang yang demikian. Hati yang separti ini tidak tidur dan tidak mati. Hati dan roh yang demikian berada di dalam sembahyang yang berterusan, dan manusia yang memiliki hati yang demikian, samada dia dalam jaga atau tidur, sentiasa berbuat kebaktian. Sembahyang batin yang dilakukan oleh hati adalah keseluruhan kehidupannya. Tidak lagi bunyi bacaan, berdiri, rukuk, sujud atau duduk. Pembimbingnya, imam sembahyang itu adalah Rasulullah s.a.w sendiri. Baginda berkata-kata dengan Allah Yang Maha Tinggi, "Engkau yang kami sembah dan Engkau jualah yang kami minta pertolongan". (Surah Fatihaah, ayat 4). Ayat suci ini ditafsirkan sebagai tanda manusia sempurna, yang melewati atau melepasi dari menjadi kosong, hilang kepada segala kebendaan, kepada suasana keesaan. Hati yang sempurna demikian menerima rahmat yang besar daripada Ilahi. Satu daripada rahmat itu dinyatakan oleh Nabi s.a.w, "Nabi-nabi dan yang dikasihi Allah meneruskan ibadat mereka di dalam kubur separti yang mereka lakukan di dalam rumah mereka ketika mereka hidup di dalam dunia". Dalam lain perkataan kehidupan abadi hati meneruskan penyerahan kepada Allah Yang Maha Tinggi. Bila sembahyang tubuh badan dan sembahyang diri batin berpadu, sembahyang itu lengkap, sempurna. Ganjarannya besar. Ia membawa seseorang secara kerohanian kepada kehampiran dengan Allah, dan secara dhohir kepada peringkat yang paling tinggi mampu dicapai. Dalam alam kenyataan mereka menjadi hamba Allah yang taat. Suasana dalaman pula mereka adalah orang arif yang memperoleh makrifat sebenar tentang Allah. Jika sembahyang dhohir tidak bersatu dengan sembahyang batin, ia adalah kekurangan. Ganjarannya hanyalah pada pangkat atau kedudukan, tidak membawa seseorang hampir dengan Allah.

16: Penyucian Insan Sempurna Yang Fana Dari Segala-galanya

Tujuan penyucian itu ada dua jenis: Pertama untuk membisakannya masuk kepada alam sifat-sifat Ilahi dan kedua untuk mencapai makam Zat. Penyucian untuk memasuki alam sifat-sifat Ilahi memerlukan pelajaran yang membimbing seseorang di dalam proses penyucian cermin hati daripada gambaran haiwan manusia dengan cara rayuan, ucapan atau memikirkan dan mendoakan pada nama-nama Ilahi. Ucapan itu menjadi kunci, perkataan rahasia yang membuka hati. Hanya bila mata itu terbuka baharulah bisa dia melihat sifat-sifat Allah yang sebenar. Kemudian mata itu melihat gambaran kemurahan Allah, nikmat, rahmat dan kebaikan-Nya di atas cermin hati yang murni itu. Nabi s.a.w bersabda, "Mukmin adalah cermin bagi samanya mukmin". Juga sabda baginda, "Orang berilmu membuat gambaran sementara orang arif menggilap. Juga sabda baginda, "Orang berilmu membuat gambaran sementara orang arif menggilap cermin hati yang menangkap kebenaran. Bila cermin hati sudah dicuci sepenuhnya dengan digilap terus menerus secara menDzikirkan nama-nama Allah, seseorang itu mendapat jalan kepada pengetahuan dan sifat Ilahi. Penyaksian terhadap pemandangan ini hanya mungkin berlaku di dalam hati. Penyucian yang bertujuan mencapai Zat Ilahi adalah melalui terus menerus mentafakurkan kalimah tauhid. Ada tiga nama keesaan, tiga yang akhir daripada dua belas nama-nama Ilahi. Nama-nama tersebut ialah: LA ILAHA ILLA LLAH : Tidak yang ada kecuali Allah ALLAH : Nama khusus bagi Tuhan HU : Allah yang bersifat melampaui sesuatu HAQ : Yang sebenarnya (Hakikat) HAYYUN : Hidup Ilahi yang kekal abadi QAYYUM : Berdiri dengan sendiri yang segala kewujudan bergantung kepada-Nya QAHHAR : Yang Maha Mibusa, meliputi segala sesuatu WAHHAB : Pemberi tanpa batas WAHID : Yang Esa AHAD : Esa SAMAD : Sumber kepada segala sesuatu Nama-nama ini mestilah diseru bukan dengan lidah biasa tetapi dengan lidah rahasia bagi hati. Hanya dengan itu mata hati melihat cahaya keesaan. Bila cahaya suci Zat menjadi nyata semua nilai-nilai kebendaan lenyap, semua menjadi tidak apa-apa. Ini adalah suasana menghabiskan sepenuhnya segala perkara, kekosongan yang melampaui semua kekosongan. Kenyataan cahaya Ilahi memadamkan semua cahaya: "Tiap-tiap sesuatu akan binasa kecuali Zat-Nya". (Surah Qasas, ayat 88). "Allah hapuskan apa yang Dia kehendaki dan Dia tetapkan apa yang Dia kehendaki, karena pada sisi-Nya ibu kitab". (Surah ar-Ra'd, ayat 39). Bila semuanya lenyap apa yang tinggal selamanya adalah roh suci. Ia melihat dengan cahaya Allah. Ia melihat-Nya, Dia melihatnya. Di sana tidak gambaran, tidak persamaan di dalam melihat-Nya: "Tidak sesuatu yang serupa dengan-Nya. Dia mendengar dan melihat". (Surah asy-Syura, ayat 11).

 

Apa yang ada hanyalah cahaya murni yang mutlak. Tidak ada apa untuk diketahui lebih dari itu. Itu adalah alam fana diri. Tidak lagi fikiran untuk memberi khabar berita. Tidak lagi siapa melainkan Allah yang memberi khabar berita. Nabi s.a.w bersabda, "Ada ketika aku sangat hampir dengan Allah, tidak siapa, malaikat yang hampir atau nabi yang diutus, bisa masuk antara aku dengan-Nya". Ini adalah suasana pemisahan di mana seseorang itu telah membuang semua perkara kecuali Zat Allah. Itu adalah suasana keesaan. Allah memerintahkan melalui Rasul-Nya, "Pisahkan diri kamu dari segala perkara dan carilah keesaan". Pemisahan itu bergerak daripada semua yang keduniaan kepada kekosongan dan ketidakan. Hanya dengan itu kamu memperoleh sifat-sifat Ilahi. Itulah yang dimaksudkan oleh Nabi s.a.w apabila bersabda, "Sucikan diri kamu, benamkan diri kamu dalam sifat-sifat yang suci (sifat Ilahi)".

 

17: Zakat

Ada dua jenis zakat: zakat yang diajarkan oleh syariat dan zakat kerohanian yang berlainan sifatnya. Zakat yang diajarkan oleh syariat ialah mengeluarkan daripada barang-barang dalam dunia ini. Setelah ditolak jumlah tertentu yang diperuntukkan sebagai kegunaan keluarga, satu bagian dibagikan kepada orang miskin. Zakat rohani Bagaimanapun diambil daripada perolehan barangan akhirat. Ia juga diberikan kepada orang miskin, yaitu miskin kerohanian. Zakat adalah memberi bantuan kepada orang miskin. Allah perintahkan: "Sedekah-sedekah itu untuk faqir-faqir dan miskin". (Surah at-Taubah, ayat 60). Apa juga yang diberi untuk tujuan ini sampai kepada tangan Allah Yang Maha Tinggi sebelum dihantar kepada yang memerlukannya. Jadi, tujuan zakat dan sedekah ini bukanlah terutamanya untuk membantu yang memerlukan, karena Allah adalah Pemberi kepada semua yang memerlukan, tetapi supaya niat baik pemberi zakat dan sedekah itu diterima oleh Allah. Mereka yang hampir dengan Allah menjadikan ganjaran rohani daripada perbuatan baiknya sebagai kebaktian kepada orang yang berdosa. Allah Yang Maha Tinggi menyatakan keampunan-Nya mengampunkan orang-orang yang berdosa mengikut kadar doa, permohonan, pujian, puasa, sedekah, Haji dan lain-lain kebaikan para hamba-Nya yang berhasrat mengorbankan ganjaran kerohanian yang mereka harapkan sebagai hasil daripada ibadat dan ketaatan mereka, Allah dengan kemurahan-Nya menutup dan menyembunyikan dosa para pendosa sebagai balasan terhadap kebaktian para hamba-Nya yang baik-baik. Kemurahan hati hamba-hamba-Nya yang beriman hingga kepada peringkat mereka tidak memiliki apa-apa lagi, tidak menyimpan sesuatu apa pun untuk diri mereka, hinggakan tidak ada nama baik dari kebaikan mereka juga tidak ada harapan untuk balasan akhirat. Orang yang memasuki jalan ini kehilangan segala-galanya termasuk kewujudan dirinya sendiri. Dia menjadi muflis sepenuhnya karena dia benar-benar murah hati. Allah mengasihi orang yang murah hati sampai kepada peringkat muflis seluruhnya pada dunia ini. Nabi s.a.w bersabda, "Orang yang membelanjakan semua yang dimilikinya dan tidak berharap untuk memiliki apa-apa berada di dalam penjagaan Allah di dunia dan akhirat". Rabiatul Adawiyah berdoa, "Wahai Tuhan. Berikan semua bagianku daripada dunia ini kepada orang-orang kafir dan jika ada bagianku di akhirat bagikannya kepada hamba-hamba-Mu yang beriman. Apa yang aku inginkan dalam dunia ini ialah merindui-Mu dan yang aku inginkan di akhirat ialah bersama-Mu, karena manusia dan apa sahaja yang diperolehnya adalah milik-Mu". Allah membalas sehingga sepuluh kali ganda kepada orang yang bersedekah. "Barangsiapa kerjakan kebaikan maka baginya (ganjaran) sepuluh kali ganda". (Surah al-An'aam, ayat 160). Faedah lain daripada sedekah ialah kesan penyuciannya. Ia menyucikan harta dan diri seseorang. Jika diri dibersihkan daripada sifat-sifat ego maka tujuan sedekah atau zakat batin (kerohanian) tercapai. Memisahkan seseorang dengan apa yang dia anggap sebagai miliknya mendatangkan balasan yang berganda di akhirat: "Siapakah yang hendak meminjamkan kepada Allah satu pinjaman yang baik lalu Dia gandakan (ganjaran) baginya, padahal (adalah) baginya ganjaran yang mulia?" (Surah al-Hadiid, ayat 11). "Berbagialah orang yang membersihkannya (jiwanya)". (Surah asy-Syams, ayat 9). Zakat, 'sedekah yang indah' adalah perbuatan yang baik, sebagian daripada yang kamu terima, kebendaan dan kerohanian. Belanjakanlah karena Allah, kepada Allah. Walaupun balasan berganda dijanjikan jangan pula melakukannya karena balasan tersebut. Berikan zakat dan sedekah secara mengambil berat, dengan kasih sayang dan kasihan belas bukan sebagai budi, mengharapkan pujian, membuat penerima merasa terhutang budi dan terikat. "Wahai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu batalkan (pahala) sedekah kamu dengan bangkitan dan gangguan". (Surah al-Baqarah, ayat 264). Jangan meminta dan mengharapkan faedah keduniaan bagi perbuatan baik kamu. Lakukannya karena Allah semata-mata. Firman Allah: "Kamu tidak akan dapat (balasan) kebaikan kecuali kamu mendermakan sebagian daripada apa yang kamu sayangi, dan sesuatu apa yang kamu dermakan itu Allah mengetahui akan dia". (Surah al-'Imraan, ayat 92).

 

18: Puasa Syariat Dan Puasa Kerohanian

Puasa syariat adalah menahan diri daripada makan, minum dan bersetubuh daripada terbit fajar hinggalah terbenam matahari. Puasa kerohanian selain yang demikian ditambah lagi memelihara pancaindera dan fikiran daripada perkara-perkara yang keji. Ia adalah melepaskan segala yang tidak sesuai, dhohir dan batin. Rusak sedikit sahaja niat mengenainya rusaklah puasa rohani. Puasa syariat terikat dengan masa sementara puasa rohani pula berkekalan di dalam kehidupan sementara ini dan kehidupan abadi di akhirat. Inilah puasa yang sebenar. Nabi s.a.w bersabda, "Banyak orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa daripada puasanya kecuali lapar dan dahaga". Puasa syariat ada waktu berbuka tetapi puasa rohani berjalan terus walaupun matahari sudah terbenam, walaupun mulut sudah merasakan makanan. Mereka adalah yang menjaga pancaindera dan pemikiran bebas daripada kejahatan dan yang menyakitkan orang lain. Untuk itu Allah telah berjanji, "Puasa adalah amalan untuk-Ku dan Aku yang membalasnya". Mengenai dua jenis puasa itu Nabi s.a.w bersabda, "Orang yang berpuasa mendapat dua kesukaan. Pertama bila dia berbuka dan kedua bila dia melihat". Orang yang mengenali dhohir agama mengatakan kesukaan yang pertama itu ialah kesukaan ketika berbuka puasa dan 'kesukaan apabila mereka melihat' itu ialah melihat anak bulan Syawal menandakan hari raya. Orang yang mengetahui makna batin bagi puasa mengatakan kesukaan berbuka puasa ialah apabila seseorang yang beriman itu masuk syurga dan menikmati balasan di dalamnya, dan kesukaan yang lebih lagi ialah 'apabila melihat', yang bermaksud apabila orang yang beriman melihat Allah dengan mata rahasia bagi hati. Lebih berharga daripada dua jenis puasa itu ialah puasa yang sebenarnya (puasa hakikat), yaitu mengelakkan hati daripada menyembah sesuatu yang lain dari Zat Allah. Ia dilakukan dengan mata hati buta terhadap semua kewujudan, walaupun di dalam alam rahasia di luar daripada alam dunia ini, melainkan kecintaan kepada Allah, karena walaupun Allah menjadikan segala-galanya untuk manusia, Dia jadikan manusia untuk-Nya, dan Dia berfirman: "Insan adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya". Rahasia itu ialah cahaya daripada cahaya Allah Yang Maha Suci. Ia adalah pusat atau jantung hati, dijadikan daripada sejenis jisim yang amat seni. Ia adalah roh yang mengetahui segala rahasia-rahasia yang hak. Ia adalah hubungan rahasia di antara yang dicipta dengan Pencipta. Rahasia itu tidak cenderung dan tidak mencintai sesuatu yang lain daripada Allah. Tidak ada yang berharga untuk diingini, tidak yang dikasihi di dalam dunia ini dan di akhirat, melainkan Allah. Jika satu zarah sahaja daripada sesuatu memasuki hati selain kecintaan kepada Allah, maka batallah puasa hakikat. Seseorang perlu memperbaharuinya, menghadapkan segala kehendak dan niat kembali kepada kecintaan-Nya, di sini dan di akhirat. Firman Allah, "Puasa adalah untuk-Ku dan hanya Aku yang membalasnya".

 

19: Haji Ke Makkah Dan Haji Kerohanian Ke Yang Hak

Pekerjaan Haji menurut syariat ialah mengunjungi ka'abah di Makkah. Ada beberapa syarat berhubung dengan ibadat haji: mibuai ihram - dua helai kain yang tidak berjahit menandakan pelepasan semua ikatan duniawi; memasuki Makkah dalam keadaan berwuduk; tawaf keliling ka'abah sebanyak tujuh kali tanda penyerahan sepenuhnya; lari-lari anak dari Safa ke Marwah sebanyak tujuh kali; pergi ke Padang Arafah dan tinggal di sana sehingga matahari terbenam; bermalam di Musdalifah; melakukan korban di Mina; meminum air zamzam; melakukan sembahyang dua rakaat berhampiran dengan tempat Nabi Ibrahim a.s pernah berdiri. Bila semua ini dilakukan pekerjaan Haji pun sempurna dan balasannya diperakui. Jika terdapat kecacatan pada pekerjaan tersebut balasannya dibatalkan. Allah Yang Maha Tinggi berfirman: "Sempurnakan Haji dan umrah karena Allah". (Surah al-Baqarah, ayat 196). Bila semua itu telah selesai banyak daripada hubungan keduniaan yang ditegah semasa pekerjaan Haji dibisakan semula. Sebagai tanda selesainya pekerjaan Haji seseorang itu melakukan tawaf terakhir sekali sebelum kembali kepada kehidupan harian. Ganjaran untuk orang yang mengerjakan Haji dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya: "Dan barangsiapa masuk ke dalamnya amanlah ia, dan karena Allah (wajib) atas manusia pergi ke rumah itu bagi yang berkuasa ke sana". (Surah al-'Imraan, ayat 97). Orang yang sempurna ibadat Hajinya selamat daripada azab neraka. Itulah balasannya. Pekerjaan Haji kerohanian memerlukan persiapan yang besar dan mengumpulkan keperluan-keperluan sebelum memulakan perjalanan. Langkah pertama ialah mencari juru pandu, pembimbing, guru, seorang yang dikasihi, dihormati, diharapkan dan ditaati oleh orang yang mahu menjadi murid itu. Pembimbing itulah yang akan membekalkan murid itu bagi mengerjakan Haji kerohanian, dengan segala keperluannya. Kemudian dia mesti menyediakan hatinya. Untuk menjadikannya jaga seseorang itu perlu mengucapkan kalimah tauhid "La ilaha illa Llah" dan mengingati Allah dengan menghayati kalimah tersebut. Dengan ini hati menjadi jaga, menjadi hidup. Ia hendaklah mengingati Allah dan berterusan mengingati Allah sehingga seluruh diri batin menjadi suci bersih daripada selain Allah. Selepas penyucian batin seseorang perlu menyebutkan nama-nama bagi sifat-sifat Allah yang akan menyalakan cahaya keindahan dan kemuliaan-Nya. Di dalam cahaya itulah seseorang itu diharapkan dapat melihat ka'abah bagi hakikat rahasia. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s dan anaknya Nabi Ismail a.s melakukan penyucian ini: "Janganlah engkau sekutukan Aku dengan sesuatu apa pun dan bersihkan rumah-Ku untuk orang-orang tawaf, dan yang berdiri, dan yang rukuk, dan yang sujud". (Surah al-Hajj, ayat 26). Sesungguhnya ka'abah dhohir yang ada di Makkah dijaga dengan bersih untuk para pekerja Haji. Betapa lebih lagi kesucian yang perlu dijaga terhadap ka'abah batin yang ke atasnya hakikat akan memancar. Selepas persediaan itu pekerja Haji batin menyelimutkan dirinya dengan roh suci, mengubah bentuk kebendaannya menjadi hakikat batin, dan melakukan tawaf ka'abah hati, mengucap di dalam hati nama Tuhan yang kedua- "ALLAH", nama yang khusus bagi-Nya. Ia bergerak dalam bulatan karena laluan rohani bukan lurus tetapi dalam bentuk bulatan. Akhirnya adalah permulaannya. Kemudian ia pergi ke Padang Arafah hati, tempat batin yang merendahkan diri dan merayu kepada Tuhannya, tempat yang diharapkan seseorang dapat mengetahui rahasia "La ilaha illa Llah", "Yang Maha Esa, tidak sekutu". Di sana ia berdiri mengucapkan nama ketiga "HU" - bukan sendirian tetapi bersama-Nya karena Allah berfirman: "Dia beserta kamu walau di mana kamu berada". (Surah al-Hadiid, ayat 4). Kemudian dia mengucapkan nama keempat "HAQ", nama bagi cahaya Zat Allah - dan kemudian nama kelima "HAYYUN" - hidup Ilahi tang darinya hidup yang sementara muncul. Kemudian dia menyatukan nama Ilahi Yang Hidup Kekal Abadi dengan nama keenam "QAYYUM" - Yang Wujud Sendiri, yang bergantung kepada-Nya segala kewujudan. Ini membawanya kepada Musdalifah yang di tengah-tengah hati. Kemudian dia di bawa ke Mina, rahasia suci, intipati atau hakikat, di mana dia ucapkan nama yang ke tujuh "QAHHAR" - Yang Meliputi Semua, Maha Keras. Dengan kekuasaan nama tersebut dirinya dan kepentingan dirinya dikorbankan. Tabir keingkaran ditiupkan dan pintu kebatilan diterbangkan. Mengenai tabir yang memisahkan yang dicipta dengan Pencipta, Nabi s.a.w bersabda, "Iman dan kufur wujud pada tempat di sebalik arasy Allah. Keduanya adalah hijab memisahkan Tuhan daripada pemandangan hamba-hamba-Nya. Satu adalah hitam dan satu lagi putih". Kemudian kepada roh suci dicukurkan daripada segala sifat kebendaan. Dengan membaca nama Ilahi ke lapan "WAHHAB" - Pemberi kepada semua, tanpa batas, tanpa syarat - dia memasuki daerah suci bagi Zat. Kemudian dia mengucapkan nama kesembilan "FATTAH" - Pembuka segala yang tertutup. Memasuki ke tempat menyerah diri di mana dia tinggal mengasingkan diri, hampir dengan Allah, dalam keakraban dengan-Nya dan jauh daripada segala yang lain, dia mengucapkan nama yang ke sepuluh "WAHID" - Yang Esa, yang tidak tara, tidak sesuatu menyamai-Nya. Di sana dia mula menyaksikan sifat Allah "SAMAD" - Yang menjadi sumber kepada segala sesuatu. Ia adalah pemandangan tanpa rupa, tanpa bentuk, tidak menyerupai sesuatu. Kemudian tawaf terakhir bermula, tujuh pusingan yang dalam tempoh tersebut dia mengucapkan enam nama-nama yang terakhir dan ditambah dengan nama ke sebelas "AHAD" - Yang Esa. Kemudian dia minum daripada tangan keakraban Allah. "Dan Tuhan mereka membuat mereka meminum minuman asli". (Surah Insaan, ayat 21). Cawan yang di dalamnya minuman ini disediakan ialah nama yang kedua belas "SAMAD" - Sumber, yang menunaikan segala hajat, satu-satunya tempat meminta tolong. Dengan meminum dari sumber ini dia melihat semua tabir tersingkap daripada wajah keabadian. Dia mendongak melihat kepada-Nya dengan cahaya yang datang daripada-Nya. Alam ini tidak persamaan, tidak bentuk, tidak rupa. Ia tidak mampu diterangkan, diibaratkan, alam yang tidak ada mata pernah melihatnya, tidak telinga pernah mendengarnya dan tidak hati manusia yang ingat. Kalam Allah tidak didengar dengan bunyi atau dilihat dengan tulisan. Kesukaan yang tidak hati manusia bisa merasai ialah kelezatan menyaksikan hakikat Allah dan mendengar perbicaraan-Nya: "Kecuali orang yang bertaubat dan beriman serta mengerjakan amal salih, maka mereka itu Allah akan tukarkan kejahatan-kejahatan mereka kepada kebaikan-kebaikan". (Surah al-Furqaan, ayat 70). Kemudian pekerja Haji itu dibebaskan daripada semua perbuatan yang daripada dirinya dan bebas daripada ketakutan dan dukacita. "Ketahuilah sesungguhnya pembantu-pembantu Allah, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak akan mereka berdukacita". (Surah Yunus, ayat 62). Akhirnya tawaf selamat tinggal dilakukan dengan mengucapkan semua nama-nama Ilahi. Kemudian pekerja Haji kembali ke rumahnya, ke tempat asalnya, bumi suci di mana Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik dan paling indah. Ketika kembalinya itu dia mengucapkan nama kedua belas "SAMAD", perbendaharaan yang daripadanya semua keperluan makhluk dibekalkan. Itu adalah alam kehampiran Allah. Itulah tempat kediaman pekerja Haji batin, dan ke sanalah mereka kembali. Hanya itulah yang dapat diceritakan sekadar lidah mampu ucapkan dan akal mampu terima. Selepas itu tidak berita yang bisa diberi karena selebih daripada itu tidak bisa disaksikan, tidak dimengarti, tidak mampu difikir atau diterangkan. Nabi s.a.w bersabda, "Ada ilmu yang tinggal tetap seumpama khazanah yang tertanam. Tidak siapa yang bisa mengetahuinya dan tidak siapa bisa mendapatkannya melainkan mereka yang menerima ilmu Ilahi", tetapi bila diperdengarkan kewujudan ilmu demikian, yang ikhlas tidak menafikannya. Manusia yang memiliki pengetahuan biasa mengumpulkan apa yang bisa dikumpulkan di permukaan. Orang yang memiliki ilmu ketuhanan mengeluarkan dasarnya. Hikmah kebijaksanaan orang arif adalah sebenar-benar rahasia bagi Allah Yang Maha Tinggi. Tidak siapa yang tahu apa yang Dia tahu kecuali Dia sendiri. "Sedang mereka tidak meliputi (sedikit pun) daripada ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan-Nya meliputi langit-langit dan bumi, dan memelihara keduanya tidaklah berat bagi-Nya". (Surah al-Baqarah, ayat 255). Mereka yang dirahmati, yang dikaruniakan sebagian ilmu-Nya adalah nabi-nabi dan kekasih-Nya yang berjuang untuk datang hampir kepada-Nya. Firman-Nya: "Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi". (Surah Ta Ha, ayat 7). "Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Kepunyaan-Nya nama-nama yang sangat baik". (Surah Ta Ha, ayat 8). Dan Allah paling mengetahui.

 

20: Mengalami Yang Hak Melalui Zauk

Nabi s.a.w bersabda, "Satu ilham Ilahi yang memutuskan seseorang daripada dunia ini dan kurniaan atas seseorang akan kenyataan atau cermin sifat-sifat Tuhan, menampakkan kepada seseorang keesaan Ilahi, lebih baik daripada pengalaman dunia dan akhirat". Dan, "Orang yang tidak mengalami zauk (keghairahan) yang daripadanya menerima kenyataan makrifat Ilahi dan yang hak adalah tidak hidup". Banyak ayat-ayat dan hadis-hadis serta perkhabaran daripada wali-wali menceritakan suasana ini. "Dan apakah orang yang Allah luaskan dadanya kepada Islam, yaitu ia berjalan atas nur dari Tuhannya (sama dengan yang beku hatinya?). Maka kecelakaan (adalah) bagi mereka yang beku hatinya dari mengingat Allah. Mereka itu (adalah) dalam kesesatan yang nyata. Allah telah turunkan sebaik-baik perkataan, kitab yang Sebagiannya menyerupai Sebagiannya, yang diulang-ulangkan, yang seram lantarannya kulit-kulit badan orang yang takut kepada Tuhannya. Kemudian jadi lemas kulit-kulit mereka dan hati-hati mereka kepada mengingat Allah. Yang demikian itu pimpiman Tuhan, yang Ia pimpin dengannya siapa yang Ia kehendaki, dan barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidaklah ada baginya  pimpinan". (Surah az-Zummar, ayat 22 & 23). Junaid al-Baghdadi berkata, "Bila zauk (keghairahan) bertemu dengan kenyataan Ilahi di dalam diri seseorang, dia itu berada di dalam keadaan samada kelezatan yang amat sangat atau keharuman yang mendalam". Ada dua jenis zauk: zauk lahiriah dan zauk rohaniah. Zauk lahiriah adalah hasil daripada ego diri. Ia tidak memberi kepuasan secara rohaniah. Ia dipengaruhi oleh pancaindera. Sering kali ianya kepura-puraan, berlaku agar dilihat atau diketahui oleh orang lain. Zauk jenis ini tidak berharga sedikit pun karena ianya disengajakan, dengan kehendak atau niat: orang yang mengalaminya masih merasakan yang dia bisa berbuat dan memilih (tidak ada fana padanya). Tidak guna menganggap penting pengalaman yang demikian. Zauk kerohanian, Bagaimanapun, keseluruhannya ber beda, suasana yang dihasilkan oleh pengaliran tenaga kerohanian yang melimpah ruah. Secara biasa, pengaruh luar - separti puisi yang indah yang dibaca, atau Quran dibaca dengan suara yang merdu, atau keghairahan yang dicetuskan oleh upacara Dzikir sufi - bisa mengakibatkan peningkatan kerohanian. Ini berlaku karena pada ketika itu penentangan lahiriah seseorang dihapuskan, kehendak dan kekuatan akal untuk memilih diatasi. Bila kekuatan badan dan fikiran sudah dilemahkan suasana zauk adalah semata-mata bersifat kerohanian. Meneruskan perjalanan dengan pengalaman yang demikian sangat besar gunanya bagi seseorang. "Dan orang yang menjauhi berhala-hala daripada menyembahnya dan kembali kepada Allah adalah bagi mereka khabar yang menggirangkan. Oleh itu girangkanlah hamba-hamba-Ku. Yang mendengar perkataan lalu menurut yang sebaik-baiknya. Merekalah orang-orang yang dipimpin oleh Allah dan mereka itu ialah orang-orang yang mempunyai fikiran". (Surah az-Zumar, ayat 17 & 18). Nyanyian merdu burung-burung, keluhan pencinta, adalah sebagian daripada penyebab luar yang menggerakkan tenaga kerohanian. Dalam suasana tenaga kerohanian yang demikian syaitan dan ego tidak bisa campur tangan; iblis bartindak di dalam alam kegelapan perbuatan-perbuatan yang muncul daripada ego diri dan tidak bisa berbuat apa-apa di dalam alam kemurahan dan keampunan yang bercahaya. Dalam alam kemurahan dan keampunan Allah, syaitan menjadi cair laksana garam di dalam air, sama separti ia hilang apabila dibaca: "La haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'azim" - Tidak daya dan upaya melainkan dengan Allah Yang Maha Tinggi, Maha Mulia. Pengaruh-pengaruh yang merangsangkan zauk kerohanian diterangkan oleh hadis, "Ayat-ayat Quran, puisi yang berhikmah dan ajaib mengenai cinta dan bunyi serta suara kerinduan menyalakan wajah roh". Zauk sebenar adalah hubungan cahaya dengan cahaya bila roh insan bertemu dengan cahaya Ilahi. Allah berfirman: "Yang suci untuk yang suci pula". (Surah an-Nuur, ayat 26). Jika zauk datang dari rangsangan ego dan syaitan tidak cahaya di sana. Di sana hanya ada kegelapan tanpa cahaya, ragu-ragu, penafian dan kekeliruan. Kegelapan menjadi bapak kepada kegelapan. Dalam bagian roh dan jiwa, ego tidak ada bagian. Firman Tuhan: "Yang tidak suci untuk yang tidak suci pula". (Surah an-Nuur, ayat 26). Pendhohiran suasana zauk ada dua jenis: pendhohiran zauk lahiriah yang bergantung kepada kehendak diri sendiri dan pendhohiran zauk kerohanian yang di luar pilihan dan kehendak seseorang. Dalam kes pertama yang nyata ialah disengajakan. Jika seseorang menggeletar, bergoyang dan meraung walaupun bukan di bawah pengaruh kesakitan atau gangguan dalam tubuh, ia tidak dianggap sah. Apa yang sah ialah perubahan yang nyata pada keadaan lahiriah yang tidak disengajakan dan disebabkan oleh keadaan batin seseorang. Pendhohiran yang tidak disengajakan adalah akibat tenaga kerohanian yang tidak dapat dikawal oleh seseorang. Rohnya yang di dalam zauk mengatasi pancaindera. Ia adalah umpama keadaan meracau orang yang demam panas, agak tidak mungkin mencegah orang yang demikian daripada terketar-ketar, bergoyang dan menjadi kaku di dalam meracau itu karena dia tidak ada kuasa terhadap pendhohiran yang keluar atau berlaku kepadanya itu. Begitu juga bila tenaga kerohanian membesar sehingga mengalahkan kehendak, fikiran dan tubuh badan, zauk yang lahir daripada yang demikian adalah benar, jujur dan bersifat kerohanian. Keadaan zauk kerohanian yang demikian, yang di masuki oleh para sahabat akrab Allah di dalam melakukan pergerakan dan pusingan pada upacara mereka, adalah cara untuk menimbulkan keghairahan dan dorongan pada hati mereka. Ini adalah makanan bagi mereka yang mengasihi Allah; ia memberikan tenaga di dalam perjalanan mereka yang sukar dalam mencari yang hak. Nabi s.a.w bersabda, "Upacara keghairahan yang dilakukan oleh para pencinta Allah, tarian dan nyanyian mereka, merupakan kewajipan bagi sebagian, dan bagi sebagian yang lain adalah harus sementara bagi yang lain pula adalah bidaah. Ia adalah kewajipan bagi manusia yang sempurna, harus bagi kekasih Allah dan bagi yang lalai adalah bidaah". Dan, "Adalah sifat yang tidak sihat bagi orang yang tidak merasa kelezatan berada bersama kekasih Allah: puisi orang arif yang mereka nyanyikan, musim bunga, warna dan keharuman bunga, burung dan nyanyiannya". Orang yang lalai, yang menganggapkan mencari zauk kerohanian sebagai bidaah, orang yang tidak sihat sifatnya yang tidak dapat menikmati kelezatan yang indah, adalah sakit dan tidak ada penawar untuk penyakit ini. Mereka lebih rendah daripada burung dan haiwan, lebih rendah daripada keldai, karena haiwan juga menikmati irama. Bila Nabi Daud a.s melagukan suaranya burung-burung terbang di sekelilingnya untuk menikmati kemerduan suaranya. Nabi Daud a.s berkata, "Orang yang tidak mengalami keghairahan tidak dapat merasai agamanya". Terdapat sepuluh suasana zauk. Sebagiannya kentara dan tanda-tandanya kelihatan kepada orang lain, separti kesadaran rohani dan berDzikir mengingati Allah dan membaca Quran dengan senyap. Menangis, merasai penyesalan yang mendalam, takutkan azab Allah, kerinduan dan kesayuan, malu terhadap kelalaian diri; apabila seseorang menjadi pucat atau mukanya berseri-seri karena keghairahan daripada suasana dalaman dan kejadian di sekelilingnya, membara dengan kerinduan terhadap Allah - semua ini dan semua keganjilan pada lahiriah dan rohaniah yang dihasilkan oleh perkara-perkara tersebut adalah tanda-tanda zauk atau keghairahan

 

21: Khalwat Dan Suluk

Khalwat dan suluk harus dilihat secara dhohir dan batin. Khalwat dhohir ialah apabila seseorang mengambil keputusan untuk memisahkan dirinya daripada dunia, memencilkan dirinya di dalam satu ruang yang terpisah daripada orang banyak supaya manusia dan makhluk di dalam dunia selamat daripada kelakuan dan kewujudannya yang tidak diingini. Dia juga berharap agar dengan berbuat demikian sumber kepada kewujudan yang tidak diingini, egonya dan hawa nafsu badannya akan terpisah daripada bekalan hariannya dan terhenti juga segala yang memuaskan dan mengenyangkannya. Seterusnya dia berharap pengasingan itu akan mendidik egonya dan seleranya, memberi peluang kepada perkembangan diri rohaninya. Bila seseorang memutuskan demikian niatnya mestilah ikhlas. Dalam satu segi dia seumpama meletakkan dirinya di dalam kubur, dalam keadaan mati, mengharapkan semata-mata keredaan Allah, berhasrat dalam hatinya melahirkan yang asli dan beriman, yang bisa lahir daripada kewujudannya yang hina ini. Nabi s.a.w bersabda, "Yang beriman adalah yang orang lain selamat daripada tangan dan lidahnya". Dia mengikat lidahnya dari berkata yang sia-sia karena Nabi s.a.w bersabda, "Keselamatan manusia datang dari lidah dan kebinasaannya juga dari lidah". Dia menutupkan matanya daripada yang diharamkan agar pandangannya yang khianat dan menipu daya tidak jatuh ke atas apa yang dimiliki oleh orang lain. Dia menutup telinganya dari mendengar pembohongan dan kejahatan, dan mengikat kakinya, membelenggunya dari pergi kepada dosa. Nabi s.a.w bersabda menceritakan setiap anggota badan bisa melakukan dosa sendirian, "Mata bisa berzina". Bila salah satu daripada pancaindera berdosa satu makhluk hitam yang hodoh diciptakan daripadanya dan pada hari pembalasan ia menjadi saksi terhadap dosa yang kamu lakukan. Kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka. Tuhan memuji orang yang menghindarkan dirinya daripada kesalahan karena yang demikian merupakan penyesalan yang sebenar, taubat yang kuat. "Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya, dan menegah diri daripada hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurga itu tempat kembalinya". (Surah an-Naazi'aat, ayat 40 & 41). Orang yang takutkan Tuhannya dan bertaubat, mengeluarkan kewujudannya yang hina daripada yang beriman dan mengeluarkan keburukannya daripada imannya, ditukarkan di dalam khalwatnya, sehingga jadilah ia jejaka tampan. Kewujudan yang elok ini menjadi khadam kepada penghuni syurga. Mengasingkan diri adalah benteng menghalang musuh bagi dosa diri sendiri dan kesalahan. Di dalamnya, sendirian, seseorang terpelihara di dalam kesucian. Firman Allah: "Barangsiapa percaya akan pertemuan Tuhannya hendaklah ia kerjakan amal salih dan janganlah ia sekutukan seseorang jua dalam ibadat kepada Tuhannya". (Surah al-Kahfi, ayat 110). Semua yang diceritakan hingga kini adalah maksud bagi suasana khalwat dhohir. Maksud khalwat batin pula ialah mengeluarkan dari hati walaupun hanya memikirkan hal keduniaan, kejahatan dan ego, meninggalkan makan, minum. Harta, keluarga, isteri, anak-anak dan perhatian serta kasih sayang semuanya. Anggapan orang lain melihat atau mendengar tentangnya jangan masuk kepada khalwat ini. Nabi s.a.w bersabda, "Kebesaran dan apa yang diburunya adalah bala, dan melarikan diri daripada kebesaran dan mengharapkan pujian orang dan apa yang dibawanya adalah keselamatan.". Orang yang bercadang memasuki khalwat batin mestilah menutupi hatinya daripada kemegahan, sombong, takabur, marah, dengki, khianat dan yang seumpamanya. Jika  perasaan yang demikian masuk kepadanya di dalam khalwatnya hatinya menjadi terikat. Ia tidak lagi terlepas daripada dunia dan khalwat demikian tidak berguna. Sekali kekotoran memasuki hati ia kehilangan kesuciannya dan semua kebaikan terbatal. "Apa yang kamu bawa itu sihir, sesungguhnya Allah akan membatalkannya (karena) Allah itu tidak membaguskan amal orang-orang yang berbuat bencana". (Surah Yunus, ayat 81). Walaupun perbuatan seseorang itu kelihatan bagus pada pandangan orang lain, bila sifat-sifat buruk memasukinya, orang itu dianggap berlaku khianat dan menipu dirinya sendiri dan juga orang lain. Nabi s.a.w bersabda, "Sombong dan takabur mencemarkan iman.

                Bagian 12

                  JENIS MANUSIA

          Menurut Futuhul Ghaib

Pertama ialah mereka yang tidak punya lidah dan tidak punya hati. Mereka ini ialah orang-orang yang bertaraf biasa, berotak tumpul dan berjiwa kerdil yang tidak mengenang Allah dan tidak ada kebaikan pada mereka. Mereka ini ibarat penyakit yang ringan, kecuali mereka dilimpahi dengan kasih sayang Allah dan membimbing hati mereka supaya beriman serta menggerakkan angota-anggota mereka supaya patuh kepada Allah.

 

Berhati-hatilah supaya kamu jangan termasuk dalam golongan mereka. Janganlah kamu layani mereka dan janganlah kamu bergaul dengan mereka. Merekalah orang-orang yang dimurkai Allah dan penghuni neraka. Kita minta perlindungan Allah dari pengaruh mereka. Sebaliknya kamu hendaklah mencoba menjadikan diri kamu sebagai orang yang dilengkapi dengan Ilmu Ketuhanan, Guru bagi hal hal yang baik, Pembimbing bagi agama Allah, Penyampai dan pengajak kepada manusia kepada jalan Allah.

 

Berjaga-jagalah jika kamu hendak mempengaruhi mereka supaya mereka patuh kepada Allah dan beri ajakan kepada mereka terhadap apa-apa yang memusuhi Allah. Jika kamu berjuang di jalan Allah untuk mengajak mereka menuju Allah, maka kamu akan jadi pejuang dan pahlawan di jalan Allah dan akan diberi ganjaran seperti yang diberi kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul.

Kedua ialah manusia yang punya lidah tetapi tidak punya hati. Yaitu :

Mereka pandai bercakap tetapi tidak melakukan seperti yang diucakapkannya. Mereka mengajak manusia menuju Allah tetepi mereka sendiri lari dari Allah. Mereka benci kepada maksiat yang dilakukan oleh orang lain, tetapi mereka sendiri bergelimang dalam maksiat itu. Mereka mengaku sholeh kepada orang lain tetapi mereka melakukan dosa-dosa yang besar. Bila mereka sendirian, mereka bertindak bagaikan harimau yang berpakaian.

Inilah orang yang dikatakan kepada Nabi SAW. dengan sabda: "Yang paling aku takuti dan aku pun takut di kalangan umatku ialah orang 'Alim yang jahat".

Kita berlindung dengan Allah daripada orang 'Alim seperti itu. Oleh karena itu, larilah dan jauhkan diri kamu dari orang-orang seperti itu. Jika tidak, kamu akan terpengaruh oleh kata-kata manis yang bijak itu dan api dosanya itu akan membakar kamu dan kekotoran hatinya akan membunuh kamu.

 

Ketiga ialah golongan orang yang mempunyai hati tetapi tidak punya lidah. Yaitu : Dia adalah orang yang beriman. Allah telah melindungi mereka dari makhluk lain dan menggantungkan di keliling mereka dengan tabirNya dan memberi mereka kesadaran tentang kekurangan diri mereka. Allah menyinari hati mereka dan menyadarkan mereka tentang kejahatan yang timbul oleh karena mencampuri urusan orang banyak dan kejahatan yang timbul oleh karena mencampuri orang banyak dan kejahatan karena bercakap banyak.

Mereka ini tahu bahwa keselamatan itu terletak dalam "DIAM" dan berkhalwat. Nabi SAW. bersabda: "Barangsiapa yang diam akan mencapai keselamatan".

Sabda baginda lagi: "Sesungguhnya berkhidmat kepada Allah itu terdiri dari sepuluh bagian, sembilan darinya terletak dalam diam".

mereka dalam golongan jenis ini adalah Wali Allah dalam rahasiaNya, dilindungi dan diberi keselamatan, bijaksana, dan diberkati dengan keridhoan dan segala yang baik akan diberikan kepada mereka.

Oleh karena itu, kamu hendaklah berkawan dengan mereka dan bergaul dengan orang-orang ini dan beri pertolongan kepada mereka. Jika kamu berbuat demikian, kamu akan dikasihi Allah dan kamu akan dipilih dan dimasukkan dalam golongan mereka yang menjadi Wali Allah dan hamba-hambanya yang Sholeh.

Manusia yang keempat ialah mereka yang dijak ke dunia tidak nampak (Alam Ghaib), diberi pakaian kemuliaan seperti dalam sabda Nabi SAW; 'Barangsiapa yang belajar dan mengamalkan pelajarannya dan mengajarkan kpd orang lain, maka akan diajak ke dunia ghaib dan permuliakan".

Orang dalam golongan ini mempunyai ilmu-ilmu Ketuhanan dan tanda-tanda Allah. Hati mereka menjadi gedung ilmu Allah yang amat berharga dan orang itu akan diberi Allah rahasia-rahasia yang tidak diberi kepada orang lain. Allah telah memilih mereka dan membawa mereka dekat kepadaNya. Allah akan membimbing mereka dan membawa mereka ke sisiNya. Hati mereka akan dilapangkan untuk menerima rahasia-rahasia ini dan ilmu-ilmu yang tinggi. Allah jadikan mereka itu pelaku dan kelakuanNya dan pengajak manusia kepada jalan Allah dan melarang membuat dosa dan maksiat. Jadilah mereka itu "Orang-orang Allah". Mereka mendapat bimbingan yang benar dan yang mengesahkan kebenaran orang lain.

Oleh karena itu hati-hatilah kamu supaya jangan memusuhi dan membantah orang-orang seperti ini dan dengarlah cakap atau nasehat mereka.sebab keselamatan terletak dalam apa yang dicakapkan oleh mereka dan dalam berdamping dengan mereka, kecuali mereka yang Allah beri kuasa dan pertolongan terhadap hak dan keampunanNya.

Demikian Syekh Abdul Qadir Al-Jailani telah membagi manusia itu kepada empat golongan. Sekarang terpulang kepada Anda untuk memeriksa diri sendiri jika anda mempunyai fikiran. Dan selamatkanlah diri anda jika ingin keselamatan. Mudah-mudahan Allah membimbing kita menuju kepada apa yang dikasihiNya dan diridhoiNya, dalam dunia ini dan di akhirat kelak.

 

                 BUYA IMA IBNU FACHRU ROZI