SYEKH SITI JENAR

 
Penyusun
Buya Ima Ibnu Fachru Rozi
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PENGANTAR

 

 

 

 

             

 TENTANG SYECH SITI JENAR

          Dalam mempelajari sejarah Wali Sanga, kiranya belumlah puas rasanya, apabila tidak menyebut pula tentang diri Syekh Siti Jenar, meskipun cerita mengenai dirinya masih penuh diliputi rahasia dan tanda tanya, begitu pula keanggotaannya dalam kewalian masih juga masih menjadi perselisihan pendapat diantara para ahli sejarah. sebagian ada yang mengatkan bahwa Syekh Siti Jenar itu termasuk salah seorang wali sembilan yang terkenal di Jawa, hanya kemudian oleh karena beliau dipandang berbahaya oleh para wali lainnya karena mengajarkan ilmu mistik, yang dianggap sudah menyimpang dari dari dasar agama, karena kurang mengindahkan syariat sama sekali, maka akhirnya beliau tidak diperkenankan lagi mengajar, serta dikeluarkan pula dari keanggotaan wali. Bahkan kabarnya beliaupun dihukum mati, disebabkan oleh karena ajaran-ajarannya dianggap sesat serta menyesatkan. Disamping itu ada yang berpendapat andaikatapun benar bahwa beliau dipecat dahulu juga menjadi wali, akan tetapi bukan termasuk Wali Sembilan.

Maka sekarang sampailah kita kepada pertanyaan : Siapakah syekh siti jenar itu ? nama siti jenar sudahlah jelas, bahwa ini bukanlah nama yang sesungguhnya, melainkan nama samaran (bahasa. Jawa Julukan, Paraban). sebagaimana Sunan Kalijaga juga diberi julukan Syekh Malaya, menurut legenda yang hidup dikalangan masyarakat sampai sekarang, katanya Siti Jenar itu berarti Tanah Merah. Siti - artinya tanah (bahasa, Jawa : Lemah / Tanah) sedangkan Jenar - artinya merah (bahasa. Jawa : Abang / Merah). sehingga dalam babad kemudian terkenal dengan sebutan Syekh Lemah Bang atau Lemah Brit.
Kemudian dari mana asalnya mulanya Syekh Siti Jenar itu? Apakah beliau berasal dari tanah Arab (Persia), India ataukah asli orang Jawa ? hal itu belum diketahui dengan pasti. dalam hal ini, Oemar Amin Hoesin seorang bekas attache pers, pada kedutaan Republik Indonesia di Mesir berpendapat, bahwa Siti Jenar itu mungkin adalah ucapan salah dari perkataan : Sidi Jinnar dari bahasa Persia, yang artinya : Sidi - tuan, Jinnar adalah orang yang kekuatannya seperti api. hal ini dihubungkan pula dengan kepercayaan dan hubungan kebudayaan yang ada antara bangsa Indonesia dengan Persia. sebab didalam bahasa Persia banyak nama atau perkataan-perkataan yang berakhiran : Nar, seperti misalnya " Annar, Nar, Naynar" dan sebagainya.

Diantara lain, ucapan-ucapan Syekh Siti Jenar adalah :

"Saya inilah Allah " saya sebetulnya bernama Prabu Satmata (atau Hyang Manon) dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan".

Kemudian katanya : "Syekh Lemak Bang yektinipun, ing kene ora ana, amung Pangeran Sejati"

Artinya Syekh Siti Jenar sesungguhnya tak ada disini, yang ada hanyalah Tuhan yang Sejati.

ujarnya pula :

"Awit seh lemang bang iku, wajahing pangeran jati. nadyan sira ngaturana, ing pangeran kang sejati, lamun Syekh Lemah Bang ora, mansa kalakon yekti"

Artinya :

Oleh karena Syekh Siti Jenar itu sesungguhnya adalah wajah wujudnya Tuhan sejati, meskipun engkau menghadap kepada Tuhan yang sejati, manakala siti jenar tidak,maka tidaklah hal itu akan terlaksana. pada waktu Maulana Maghribi memberi wejangan bahwa yang disebut Tuhan Allah Sejati itu Wajibul Wujud (kang aran Allah jatine, wajibul wujud kang ana), maka Syekh Siti Jenar pun menjawablah, katanya :

"Aja ana kakehan semu, iya ingsun iki Allah, nyata ingsun kang sejati, jejuluk Prabu Satmata, tan ana liyan jatine, ingkang aran bangsa Allah"

Artinya : jangan kebanyakan semu, saya inilah Allah. saya sebetulnya bernama Prabu Satmata, dan tiadalah yang lain dengan nama Ketuhanan. Oleh karena segala ucapan-ucapan dan ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar ini dipandang sangt membahayakan kepada rakyat, maka akhirnya beliau pun dihukum mati oleh para wali. Jikalau kita ikuti segala ucapan-ucapan Siti Jenar tersebut di atas, maka hal itu mengingatkan kita kepada ajaran-ajaran dan ucapan-ucapan salah seorang misticus yang masyhur, yaitu Al Hallaj (858-992). sebagaimana diketahui, Al Hallaj pernah berkata:

"Annal haqq" artinya : "sayalah kebenaran yang sejati itu"

kemudian katanya pula :

"wa'ma fi jubbati illa-lah" artinya "dan tidak ada yang dalam jubah , melainkan Allah".

Disamping itu al hallaj juga pernah mengatakan :

"Telah bercampur rahmu dalam rohku, laksana bercampurnya chamar dengan air jernih bila menyentui akanmu sesuatu, tersentuhlah aku, sebab itu engkau adalah aku"

Dalam segala hal demikianlah pandangan hidupnya. ucapan dan ajarannya inilah yang mengakibatkan dia dihukum mati di atas tiang gantungan, karena dianggap berbahaya dan menyesatkan oleh pemerintah Bagdad. kedua ahli mistik, baik Al Hallaj maupun Syekh Siti Jenar fahamnya condong kepada ajaran pantheisme, kesatuan antara makhluk dengan khalik Maha Penciptanya. dan keduanya pun mengalami pula nasib yang sama, karena mereka harus menebus keyakinan hidupnya dengan hukuman mati.

Kemudian kita dapati pula ucapan Siti Jenar yang lain, yang tampak isinya lebih mengutamakan hakekat daripada syari'at, katanya :

"Sahadat salat puwasa kawuri, apa dene jakat lawan pitrah, ujar iku dora kabehm nora kena ginugu, Islam tetep durjaning budi, ngapusi kyehning titah, sinung swarga besuke, wong bodo kanur ulama, tur nyatane pada bae ora uning, beda syekh siti jenar."
Selanjutnya berkatalah Syekh Siti Jenar :

"Tan mituhu salat lawan dikir, jengkang-jengking neng masjid ting krembyah, nora nana ganjarane, yen wus ngapal batukmu, sejatine tanpa pinanggih, neng dunya bae pada susah amemikul, lara sangsaya tan beda, marma siti jenar mung madep wajidi, gusti dat roning kamal".

Demikianlah antara lain pandangan hidup serta ajaran-ajaran dari Syekh Siti Jenar. Dalam riwayat dikatakan bahwa murid Syekh Siti Jenar adalah : Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Pengging, Pangeran Panggung, Ki Lontang.

Benarkah Cuma Cerita Berbisik?
Sejarah penyebaran Islam di Tanah Air, khususnya tanah Jawa, telah menempatkan Walisanga (sembilan wali) sebagai tokoh yang sentral. Peran mereka dianggap mampu mengintegrasikan "kesadaran lokal" orang Jawa ke dalam ranah Islam. Pendekatan yang bercorak sosiologis-kulturalis itulah yang mengilhami penduduk memeluk Islam. Galibnya "pendatang", agama baru yang membawa misi suci ini mengalami penolakan. Namun, berkat sentuhan akulturasi, warga Jawa dapat menerima Islam sebagai dirinya sendiri. Bukan liyan (bahasa Jawa, artinya yang lain), the others, atau aliens.

Prestasi fantastis itu tentu saja mengukuhkan walisanga sebagai salah satu legenda tanah Jawa. Tanpa maksud ingin tahu sekalipun, kita --terutama orang Jawa-- telah mengetahui siapa Walisanga. Namun demikian, di dalam cerita itu sendiri ada "cerita di dalam cerita" yang sering tak diketahui publik. Ini justru, yang kalau kita jujur, sering ditanggalkan oleh sejarah. Sejarah, lalu, tak ubahnya seperti manuskrip agung tentang para pemenang, di mana yang kalah, yang ganjil, yang beda, dan yang lain tidak diceritakan semestinya.

Di dalam Walisanga sendiri, kita lamat-lamat mendengar nama Syekh Siti Jenar sebagai bagian yang satu dengan sembilan wali tersebut. Namun karena ajarannya yang subversif, Syekh Siti Jenar diterima sebagai tokoh kontroversial. Kalangan yang radikal bahkan menganggap nama ini tak pernah ada di dalam sejarah penyiaran Islam di tanah Jawa. Menurut mereka Syek Siti Jenar hanya cerita bisik-bisik yang berlanjut dari satu masa ke masa lain, dari satu generasi ke genarasi lain, berkat budaya Jawa yang melanggengkan dongeng. Benarkah ia hanya cerita berbisik?

Asal Usul Syech Siti Jenar

Siapakah Syekh Siti Jenar itu? Disebut-sebut nama Siti Jenar bukanlah nama yang sesungguhnya, melainkan nama samaran (bahasa Jawa julukan, paraban). Menurut legenda yang hidup di kalangan masyarakat sampai sekarang, katanya, Siti Jenar itu berarti Tanah Merah. Siti, artinya tanah (bahasa, Jawa : Lemah/Tanah). Sedangkan Jenar, artinya merah (bahasa Jawa : Abang/Merah). Dalam babad ia dikenal dengan sebutan Syekh Lemah Bang atau Lemah Brit.

Lalu, dari mana asal mula tokoh ini? Apakah beliau berasal dari tanah Arab (Persia), India ataukah asli orang Jawa? Hal itu belum diketahui dengan pasti. Oemar Amin Hoesin seorang bekas attache pers, pada kedutaan Republik Indonesia di Mesir berpendapat bahwa Siti Jenar itu mungkin adalah ucapan salah dari perkataan: Sidi Jinnar dari bahasa Persia, yang artinya: Sidi, tuan. Dan Jinnar berarti orang yang kekuatannya seperti api. Hal ini dihubungkan pula dengan kepercayaan dan hubungan kebudayaan yang ada antara bangsa Indonesia dengan Persia. Sebab di dalam bahasa Persia banyak nama atau perkataan-perkataan yang berakhiran Nar, seperti misalnya, "Annar, Nar, Naynar" dan sebagainya. Menilik asal-usul ini Siti Jenar nampaknya merupakan sebuah nama yang belum genap dikupas oleh sejarah.

Berasal dari Cacing Tanah
Konon ceritanya, suatu waktu, Sunan Bonang ingin memberi wejangan kelas tinggi, ilmu Hakikat atau ilmu kesempurnaan, kepada Sunan Kalijaga. Begitu pentingnya ilmu ini, sehingga untuk memberikannya perlu dicari tempat yang sangat sepi. Sunan Bonang memilih di atas perahu di tengah lautan untuk mbabar kawruh (baca; bercerita detil) ini, dengan harapan agar dalam membeberkan ilmunya itu tak akan menggoncangkan dunia.
Sial perahu yang mereka tumpangi bocor, sehingga mereka berdua harus segera menambalnya. Sunan Kalijaga yang sudah terlatih dan sering mengembara tidak kehabisan akal. Diambillah tanah liat di daratan untuk menambalnya. Beruntung bahan ala kadarnya itu manjur. Perahu bisa dikayuh dan sampai ke tengah lautan.

Lalu, di tengah kesunyian yang hening itu --sesuatu yang memang diharapkan oleh mereka berdua-- Sunan Bonang memberikan ilmu hakikatnya. Tiba-tiba ada seekor cacing dari tanah liat itu yang berubah menjadi manusia, karena mendengarkan ilmu Sunan Bonang.

Manusia baru itu diberi nama Siti Jenar oleh Sunan Bonang, dan diakui sebagai muridnya. Kelak muridnya ini menjadi tokoh yang cerdas dan terkenal ilmunya. Siti Jenar kemudian mendirikan peguron (baca; perguruan). Murid-muridnya antara lain Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir, dan Pangeran Panggung. Di peguron-nya itu rupanya Syekh Siti Jenar mengembangkan ilmu aliran Wihdatul Wujud.

Ajaran Wihdatul Wujud
Wihdatul Wujud merupakan ajaran yang mendorong penganutnya untuk bermigrasi ke sisi terdalam dari agama, yakni hakikat dan ma'rifat. Ajaran ini berpendapat bahwa setiap makhluk dapat menyatu dengan sang Khalik jika si makhluk telah mencapai ma'rifat. Di dalamnya disebutkan bahwa "sesuatu yang ada di alam ini pada hakikatnya adalah dari Allah, jadi selain Allah adalah tidak ada apa-apa." Maka apabila seseorang telah mencapai tingkatan hakikat kemudian ma'rifat maka menurut Siti Jenar orang tersebut telah bersatu dengan Allah atau dalam bahasa Jawa disebut "Manunggaling Kawulo Gusti".
Aliran kesatuan wujud ini, dengan ikhtiar melakukan ittihad (persatuan mutlak), membuat Siti Jenar kontroversial. Lebih dari itu, aliran yang tergolong genre ilmu tasawuf ini melesatkan namanya --karena terbilang "lebih maju" dari semangat zamannya, terutama jika dikaitkan dengan nalar masyarakat saat itu yang masih terbelakang. Maklumlah saat itu, masyarakat baru saja keluar dari tradisi lama, Hindhu dan Buddha, menuju tradisi baru yakni Islam.
Sementara sisi terdalam agama dikejar, sisi luar yang menjadi penyusun agama, yakni syari'ah dihiraukan. Situasi demikian memungkinkan segala syari'ah agama tidak berlaku lagi sebab syari'ah hanya berlaku untuk orang yang belum sampai ke tingkatan hakikat dan ma'rifat. Dengan Wihdatul Wujud Siti Jenar tampaknya berambisi menukar canon (baca; hukum) menjadi sisi dalam agama semata. Pantaslah kemudian ketika ajaran ini disebarkan ke masyarakat, ia dituduh mengganggu nalar agama masyarakat itu sendiri yang belum kuat dan utuh (kaffah) memahami Islam.

Menjadi Martir
Walisanga merisaukan ajaran Siti Jenar. Mereka berpendapat lebih baik memilih ajaran yang cenderung status quois daripada memberi tempat pada ajaran tokoh yang juga berjuluk Syekh Lemah Abang ini. Hal serupa diperlihatkan oleh penguasa politik saat itu. Akhirnya Sultan Demak menitahkan Sunan Bonang untuk melemahkan pengaruh Siti Jenar yang mulai populer tadi. Strateginya adalah dengan memutuskan hubungan Ki Kebo Kenongo (Ki Ageng Pengging), orang dalam istana pengikut ajaran Wihdatul Wujud yang berpengaruh di kalangan rakyat, dengan Siti Jenar. Taktik ini berhasil, meskipun tak dapat menjauhkan rakyat dengan Siti Jenar.

Sebaliknya Siti Jenar seperti memperoleh, meminjam istilah Mohamad Sobary, "kewibawan subversif" dengan mengajarkan Wihdatul Wujud di kalangan rakyat. Mirip kharisma yang didapat para Walisango dari rakyat (baca; umat). Seperti tak terpengaruh provokasi penguasa, Siti Jenar terus bermuhibah dari satu tempat ke tempat lain guna mengajarkan Wihdatul Wujud. Ia menikmati betul legitimasi kultural dari jamaahnya, meskipun was-was dengan legitimasi hukum dari penguasa politik dan Walisongo.

Tapi, kekesalan penguasa politik dan Walisongo makin menggunung. Hingga suatu hari konspirasi mereka berhasil memberangus Siti Jenar dan ajaran-ajarannya. Atas legitimasi dari Sultan Demak, diutuslah beberapa Wali ke tempat Siti Jenar di suatu daerah (ada yang mengatakan desa Krendhasawa), untuk membawa Siti Jenar ke Demak atau memenggal kepalanya. Akhirnya Siti Jenar wafat (ada yang mengatakan dibunuh, ada yang mengatakan bunuh diri).

Beberapa sumber menyebutkan waktu Siti Jenar dijatuhi hukuman mati oleh para wali, demi ketentraman Demak dan Raden Patah, tiba-tiba jenazah Siti Jenar darahnya berubah menjadi putih. Orang yang melihat kejadian itu menafsirkan bahwa sesungguhnya Siti Jenar tidak bersalah. Ajarannya itu benar. Hanya kesalahpahaman saja yang membuat tragedi di atas. Syekh Siti Jenar, seperti Al-Hallaj, harus menjadi martir atas keyakinannya!


Pengaruh Syech Siti Jenar
Seperti dituturkan Purwadi, pengamat kebudayaan Jawa dan kandidat doktor Filsafat Jawa dari Program Pascasarjana UGM, pengaruh Siti Jenar masih belum sirna hingga sekarang. Hal itu dapat dilacak pada beberapa aliran kebatinan dan kejawen, terutama pada konsep Manunggaling Kawula Gusti, yang menjadi pusat filsafat Jawa. Namun, belum diketahui apakah Manunggaling Kawula Gusti berasal dari Siti Jenar atau justru tokoh ini yang mengadaptasinya dari ranah Jawa.

Menurutnya, penutup perkembangan mistik Jawa sesungguhnya dipengaruhi oleh mistikus Islam yaitu: Abu Yasid al-Bastomi (875 M), Husein ibn Mansur al-Hallaj (922 M), Ibn Arabi (1240 M), Muhammad Ibn Faddilah --yang mengarang kitab al- Mursalah, Ila Ruh an-Nabi, Gujarat, India, tahun 1620 M. Para ulama besar dari Aceh pun juga mempengaruhi perkembangan mistik Jawa, yaitu Hamzah Fanshuri (1630 M), Samsuddin Pasai (1636 M), Nurruddin Ar-Raniri (1644 M), dan Abdul Rauf as-Singkeli (1690 M). Keempat ulama itu berpengaruh di Sumatra Barat dengan tokohnya Burhanuddin Ulakan, daerah Priyangan dengan tokohnya Abdul Muhyi, Kasultanan Cirebon, Kerajaan Mataram, dan di daerah Sulawesi Selatan dengan tokohnya Syekh Yusuf.

Demikianlah, sebenarnya perkembangan tasawuf di Nusantara pada umumnya masih dapat dilacak keberadaannya. Ini merupakan aset yang dapat mempererat nasionalisme --yang akhir-akhir ini banyak tercabik-cabik. Dan, Syekh Siti Jenar, karya, serta tragedi yang menimpanya, sebagaimana juga tasawuf, merupakan situs sejarah yang menawarkan banyak pelajaran bagi pelancong yang mau bertamasya ke masa lampau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

          SYEKH SITI JENAR   

          MBABAR WADINING  

       ALAM

We..lah para sedulur, muga-muga iki wiwitane longgar, ben bisa ngiseni Jawa maneh. Kaya  panyuwune Mbah Dul, saben seminggu pisan ana njebul.
Satemene wis tekan ngendi ya olehku mbabar Dewa Ruci. Ra kok wis angel nggolekane.Tapi ora apa-apa, liwat cerita sing anyar iki mengko uga bisa sambung.
Sing arep dak babar iki kawruhe “Syekh Siti Jenar” utawa Syeh Lemah-bang, utawa Syeh Lemahbrit. Miturut babad Jawa, satemene Syekh Siti Jenar asale saka Krendhasawa sacedhake Cirebon. Nanging yen niliki liwat asmane “Siti Jenar”,  tegese panjenengane iku saka Lemah Abang. Pancen antarane Krawang - Cirebon ana Desa Lemah Abang. Lha apa Krendhasawa iku padha karo Lemah Abang, aku ora weruh amarga ora ana bukti sejarah. Nanging, miturut babad, para wali tindakan saka Demak menyang Krendha-sawa iku mung sawengi. Iki yen diukur ya padha karo 60 km = 10 jam lumampah.

Syekh Siti Jenar iki sejatine kalebu walisanga, ya iku para ulama negara Demak Bintara kang cacahe 9. Umume para wali mau keturunane wong Tanah Arab, kajaba Sunan Kali Jaga putrane Adipati Tuban.

Syekh Siti Jenar ngangsu kawruh nganti Baghdad, ing rikala samono isih dadi telenging kaweruh Islam lan Kebatinan. Yen niliki kawruhe Kanjeng Siti Jenar, panjenengane iki jero temen olehe ngangsu kawruh Al Quran. Nganti panjenengane nampa gelar “Syekh” kang tegese professor utawa mahaguru.
Ing sajroning mbabar kawruh, Syekh nyatane beda karo para wali sing ngugemi pangerten lahire Al Quran. Syekh mambar “rahasia” kang dikandhut ambek Al Quran. Wusanane, para wali nuduh Syekh murtad saka agama Islam.

Nanging yen dhewek iki mangerteni jerohane Islam, sejatine kawruh kang dibabar karo Syekh mau ora sulaya ambek Al Quran. Kawruh mau satemene sing paling cocog kanggone wong Tanah Jawa, ning ora cocog kanggone para wali. Para wali rumongsa kawruh kang dibabar karo Syekh iku ubrak-ubrak [ngrusak] tatanan lan ajaran kang wus dibabar para wali ing tlatah Demak Bintara.

Conto sing paling nyata:
Miturut Syekh Siti Jenar uripe manungsa ing alam donya iki amarga anane kawruh budi utawa “pendapat”. Manungsa seje [beda] karo bangsane kewan. Kabeh mau urip ing alam donya amarga sipat utawa tabiat kang ana ndhuk kewan mau. Kanggone sapi, panganane ya suket utawa tetuwuhan sabangsa suket. Ning manungsa kudu nampa piwulang saka wong liyane sing wis luwih dhisik ngerteni. Misale, mangan duduh rawon. Merga awak dhewe iki urip ndhuk Jawa, wiwit cilik dikandhani, iki lho rawon penak. Akhire arep dhahar rawon.

Pokoke manungsa iku ora bisa urip karepe dhewe kaya kewan. Bebek nembe netes langsung bisa ngelangi. Manungsa ora bisa. Kudu belajar saka pendhapate wong liya piye bisa nglangi sing bener. Nganti, nuwun sewu, arepe e-ek wae kudu takon nang wong liya ndhuk ngendi pernahe.

Seje karo para walisanga, panjenengane kabeh mulang kawruh yen uripe manungsa kuwi amarga saka ciptaning Allah.

Para wali padha krungu yen Siti Jenar mbabar rahasianing alam. Mulane para wali sowan marang ngarsane Siti Jenar.

Siti Jenar katuduh mbalela marang piwulange Kanjeng Nabi Muhammad.
Panjenengane dianggep murtad, metu saka agama Islam. Ing ngisor iki adu pendapate Pangeran Tembayat [Utusan Walisanga] marang Siti Jenar:

E.... Siti Jenar, ana apa sira kumawani mulangi wong-wong anom ing tlatah Demak. Sira wani nerjang katentremane negara. Apa kang dadi  landhesane piwulang sira, nganti sira wani anduweni piwulang singgeseh karo kandhutane Quran lan Hadis?

"We..lah dalah, nyatane sira iku isih ana buncitan ing babagan ilmu, Pangeran! Urip kok tuna tenan, lha wong wis dadi wali kok isih ora ngerteni tafsir. Luwih becik sira aja dadi wali, dadiya budhak wae. Panjenengan tansah aweh pitutur, yen Panjenengan iku lila mati kapan
wae yen pancene wis dipundhut karo Gusti. Hananging yen Panjenengan disuwun pejah saiki, lha kok mboten kersa, malah nolak? Apa bedane yen ngono wali karo wong gelandhangan?
Ing adu pandengan mau ana isarat yen para wali iku nganggep padha ana ing dalan seng bener lan pener. Lha dalan kang diliwati Siti Jenar dianggep salah dening para wali. Wusanane Siti Jenar ngece, lha yen pancen kabeneran iku kaduweni para wali, nyapa Pangeran Tembayat malah wedi pejah yen disuwun karo Siti Jenar.
Satemene, Siti Jenar nyentil para wali mau ana ing kawruh Al Quran, QS 2:94, "Yen kampung akerat sing pernahe ana ing ngarsaning Gusti iku mung kanggo awakmu, lan dudu kanggone wong liya, hayoo nyuwunna seda yen sira iku pancen wong sing bener!"

Lha, mulane ndhuk kene iki kudu dimangerteni. Yen pancane surga iku mung kanggone wong agama tartamtu, lha mbok enggal-enggal mati ben cepet weruh rasane surga. Laopo gelem ngenteni sampek pejah dhewe. Lha yen wis ngerti yen surga iku kanggone kabeh manungsa sing gelem tumindak becik, ya ayo padha urip sing rukun, hamemayu hayuning bawana langgeng.

Para sedulur, sarehne awak kawula iki arep anjang sana milang kori,  kawruh Syekh sing mesthine dak tulis peken ngarep, tak babar saiki wae.

 “Mungguhing Siti Jenar, wong urip ing alam donya iki padha kahanane. Ana dhuka lan nestapa. Ana seneng lan bahagiya. Ora ana bedane antara-ne wong siji lan liyane. Kandhane Siti Jenar, agama kang arane beda-beda, Hindu, Buddha lan Islam, ning kandhutan lan tujune ora beda.

Mulane para wali disuwun supaya beda ing pamandengan iku ora ndandek-ake padu lan cengkreh. Ing jamane Siti Jenar, agama sing ana ing tanah Jawa mung telung macem yaiku Hindu-Buddha-Islam. Mungguhing Syekh, beda ing agama, beda ing pamandengan, ora perlu nganti kadadean anane raja pati utawa korban. Amarga saben wong duwe rasa suka lan lara, mula wong urip milih pamandengan lan agama iku kanggo kabagyan uripe. Sing rumangsa begja ngugemi agama mau, tamtu wae bakal ngugemi sing tenanan. Lha sapa wonge sing ora bisa rumongsa bahagiya ing sajroning ngugemi agama mau, tamtu wae bakal ngugemi sarana kapeksa utawa alon-alon agama mau bakal ditinggalna.”

Pancen bener koq. Agama iku sejatine dalane urip. Lha wong urip iki bebas olehe milih dalan, yen miturut pinemune dalan mau cocok lan aman kanggone sing ngliwati. Misale, yen kanggoku dalan A luwih krasa cocok, ning kanggone wong liya mungkin ora cocok. masiya tah dalan mau padha tujune. Dununge padha ning slerane ora padha! lha mulane ora perlu rebutan lan ceker-cekeran.

Kaya sing wis kasebut ing ngarep, manungsa iki sejatine urip lelandhesan pandengan, opini. Beda karo kewan. Manungsa bisa duweni panganggep yen duwe mas 1 kg iku kena kanggo urip pirang-pirang tahun kanggone wong tani kluthuk. Nanging yen emas mau diseleh ndhuk tengah-tengahe wong Papua sing isih primitip, ya ora ana gunane. Mulane uripe menungsa iki pancen lelandhesan opini, pandengan, utawa pendapat. Kanggone Siti Jenar, agama uga pandengan kanggone wong urip miturut adat lan budayane agama mau.

Dhawuhe kanjeng Siti Jenar: “Donya sing dak panggoni saiki karan alam kuburan. Ing donya iki ingsun nemokna wadhag, kang asipat jasad. Lha jasad iki asipat bathang. Nanging, yen pancene ingsun iki wis ketemu urip, ingsun ora bakal ketemu marang wadhag sing asipat bathang. Yen arepe ketemu wadhag bathang maneh, dina iki wis katon kahanane.” [Iki jarwane dhawuhe Siti Jenar marang Modang, utusane wali.]

Yen, digamblangna nganggo basaku, miturut Syekh Siti Jenar, wong lahir ing alam donya iki sejatine lahir kanggo antri mati. Mulane pati ora kena ditolak. Paling banter, mung nundha mati. Tapi, mesthi matine. Mulane piye bisane mati sing pener, iku sejatine sing dibabar karo Siti Jenar.

Iki jarwa bebase Pupuh 8 [Asmaradana 1-2], naliko Syekh dawuh marang utusane wali.

“Kauningono yen donya sing dak panggoni saiki iki satemene dak arani alam kubur. Ing alam donya iki ingsun nemokna awak kang arupa jasad, miturut dalil kang lapale “al-alamu kulumujudin”. Tegese, ing saben-saben alam manungsa tansah nemokna awak kang asipat bangke [bathang].

Nanging, yen pancene ingsun iki wis urip sejati, ingsun ora bakalketemu awak kang asipat bangke mau. Saupamane ingsun iki entuk awak, saiki ya tamtune wis katon.”

“Ingsun ora bakal kesasar yen wis wancine urip ing tembe buri. Ora bakal mrawak rambang [mung andhuga, ngira-ira] yen ingsun kandha yen saiki iki satemene ingsun ing sajroning pati. Urip ing alam donya iki awujud jisim, balung, sungsum, otot lan daging. Saiki iki ingsun

rumongsa kesasar ing alam pati. Ya ing donya iki ingsun ketemu ambek iblis, setan, lan macem-macem neraka. Ya ing donya iki jisim kajiret rante lan banyu panas.”

We...lah, dhawuhe Syekh marang Modang iki kok saya dhuwur. Sing  dibakas ora urip, ning pati. Wong ngarani “urip” pancen gampang kok, katimbang ngarani wong mati. Lha jaman biyen, yen astane wong sing arep mati dicekeli, terus rasa ‘dhut-dhu-dhute” ora ana, wong mau diarani mati. Maringono manungsa maju, krenteging jantung dipriksani.

Yen wis leren, diarani mati. Lha saiki, kudu dipriksani liwat kebere alat, yen krentege uteg wis rata,ora ana benjolane, kasebut “garis datar, flat line”, nembe karan mati. Lho, angelkan, njenegi wong mati kuwi. Mengko yen ana piranti sing luwih ‘top’, garis datar mungkin durung kena diarani mati.

Mati pancen wis pepesten. Saben uwong ngrumansani yen bakale mati. Arep ninggalna gumeyaring bumi. Yen ana sing takon, sapa sing arep ninggalna bumi? Saben agama menehi piwulang yen “diri” utawa “jiwa” sing manggon ndhuk badan wadhag iki sing ninggalna donya. Kasebut “tilar donya”. Ana sing ngarani sing bakal ninggalna bumi iku nyawa utawa sukma. Wong-wong Islam padha ngarani “roh”.

Wis ora perlu dilebokna nang pikiran. Diri, jiwa, nyawa, sukma, utawa roh iku mung istilah. Sing penting, ing sajroning sarira, badan, iki ana dat kang ora katon sing bakale lunga, oncat saka raga minongka garbane urip.

Satemene, wong urip tamtune pengin weruh. Apa ta sejatine kahanan sak wise mati kuwi. Saben agama duwe pimandengan dhewe-dhewe. Supaya gak gampang lali, semene dhisik.

      Iki jarwa bebase Pupuh 8 [Asmaradana 1-2], naliko Syekh dawuh marang utusane wali. "Kauningono yen donya sing dak panggoni saiki iki satemene dak arani alam kubur. Ing alam donya iki ingsun nemokna awak kang arupa jasad, miturut dalil kang lapale "al-alamu kulumujudin". Tegese, ing saben-saben alam manungsa tansah nemokna awak kang asipat  bangke [bathang]. Nanging, yen pancene ingsun iki wis urip sejati, ingsun ora bakal  ketemu awak kang asipat bangke mau. Saupamane ingsun iki entuk awak, saiki ya tamtune wis katon."

     "Ingsun ora bakal kesasar yen wis wancine urip ing tembe buri. Ora bakal mrawak rambang [mung andhuga, ngira-ira] yen ingsun kandha yen saiki iki satemene ingsun ing sajroning  pati. Urip ing alam donya iki awujud jisim, balung, sungsum, otot lan daging. Saiki iki ingsun  rumongsa kesasar ing alam pati. Ya ing donya iki ingsun ketemu ambek iblis, setan, lan macem-macem neraka. Ya ing donya iki jisim kajiret rante lan banyu panas." We...lah, dhawuhe Syekh marang Modang iki kok saya dhuwur. Sing dibakas ora urip, ning pati. Wong ngarani "urip" pancen gampang kok, katimbang ngarani wong mati. Lha jaman  biyen, yen astane wong sing arep mati dicekeli, terus rasa 'dhut-dhu-dhute" ora ana, wong mau diarani mati. Maringono manungsa maju, krenteging jantung dipriksani. Yen wis leren, diarani mati. Lha saiki, kudu dipriksani liwat kebere alat, yen krentege uteg wis rata,ora ana benjolane, kasebut "garis datar, flat line", nembe karan mati. Lho, angelkan, njenegi wong     mati kuwi. Mengko yen ana piranti sing luwih 'top', garis datar mungkin durung kena diarani mati. Mati pancen wis pepesten. Saben uwong ngrumansani yen bakale mati. Arep ninggalna gumeyaring bumi. Yen ana sing takon, sapa sing arep ninggalna bumi? Saben agama menehi piwulang yen "diri" utawa "jiwa" sing manggon ndhuk badan wadhag iki sing ninggalna donya. Kasebut  "tilar donya". Ana sing ngarani sing bakal ninggalna bumi iku nyawa utawa sukma. Wong-wong Islam padha ngarani "roh". Wis ora perlu dilebokna nang pikiran. Diri, jiwa, nyawa, sukma, utawa roh iku mung istilah. Sing penting, ing sajroning sarira, badan, iki ana dat kang ora katon sing bakale lunga, oncat saka raga minongka garbane urip.

      Satemene, wong urip tamtune pengin weruh. Apa ta sejatine kahanan sak wise mati kuwi. Saben agama duwe pimandengan dhewe-dhewe. Supaya gak gampang lali, semene dhisik. Muga-muga pepanggihan malih minggu ngarep.

Kaya sing wis diaturna, yen Siti Jenar paring pepandeng-an menyang para siswa yen donya iki asipat “kuburan” atawa alam pepati[alam kematian]. Para wali Jawa padha kaget. Amarga miturut kawruh kang wis ditampa, donya iki kasebut ngalam fana, lan akherat iku ngalam baka. Ngalam fana miturut keyakinan kang wis lumrah ateges alam kang bakal lebur, sirna, yen wis ketekan kiyamat. Ing sawise kiyamat mau, Pangeran arep nggawekke alam kang anyar kang kasebut akherat kang langgeng.

Munguhe Siti Jenar, kawruh kang mangkono mau malah andadekake urip kesasar [tersesat]. Siti Jenar dhawuh menyang siswa-siswane kang agama ne Hindu, Buddha, Islam lan Jawa. Ngendikane: Wruhana para siswa, yen sejatine alam kang kita panggoni iki sejatine alam kubur. Ing alam kubur manungsa padha seneng nyimpen apa-apa kang ora kena di-gawa menyang alam kelanggengan. Yaiku alam sawise kita mati. MUlane  wis dadi ciri wantine ndonya yen anduwe sipat kang ora transparan. Ndonya seneng ngaling-aling dununge wong urip sejati. Miturut Siti Jenar, kita kang dilahirake ing donya iki asipat “bathang”. Kita durung dadi manungsa jati. Lha, nyatane pancen bener.Kita kabeh iki sejatine lair kanggo antri mati. Apa ana wong sing lair terus kepengin urip terus?

Yen ana wong sing duwe pepengin urip kang suwe [atusan tahun], wong mau kudu ngupaya nganggo ilmu kamoksan. Lha kasile apa? Dawa umur nanging ora bisa semrambah urip bebarengan kanthi nglegena. Ora bisa dideleng kasatmata. Ora bisa dipotret. Lha, badan wadge wis oran kaya lumrahe manungsa biasa.

Lha, yen miturut Siti Jenar, wong urip iku kudu wani mati. Dudu kepek-sa mati sing kaya umume wong urip iki. Wong urip kudu golek kawruh supaya bisa mati miturat karsane dhewe. Dudu mati amarga dijalari sabab-sabab sing andadekake pati. [Wah...., iki angele ram]. Mati amarga karsane dhewe. Sahingga wong mau bisa ngulihake apa-apa kang disilih ing sajroning urip iki, yaiku badan wadag lan nyawa.

Yen manungsa wis bisa ngulihna [nglunasi] utange, jasad bali menyang tanah [marga kersane dhewe], sing asale saka banyu bali dadi banyu, angin bali dadi angin, geni bali dadi gene, lan nyawane bali menyang alam akasa [eter lan astral], sing kari “pribadi”-ne dhewe. Wujud pribadi, iki satemene wujude manungsa sejati, wujud kang nunggal siji karo Gusti. Wujud kang mengkene iki satemene wujud kang langgeng, lan tansah bungah uripe. Ora luwe, ora lara, ora kena pati lsp.

Miturut Siti Jenar “swarga” lan “naraka” iku asipat kawadis, tegese barang anyar. Apa wae sing asipat anyar ora bisa langgeng, bakal sirna. Mulane Siti Jenar ora bisa nampa kapercayan yen surga lan naraka iku langgeng. Apa kang cinipta, barang dumida, wusane niscaya sirna. Mulane wong urip ora perlu golek swarga, sing diperlokake iku ya dalane urip kang bisa nemoni urip “pribadi sejati”.

Yen diumpamakna, urip saiki iki kaya winih. Ora ana wong sing bisamesthekna yen winih iku urip. Lha supaya winih mau bisa urip yen ditandur, winih mau kudu disimpen sing bener lan pener, diruwat saka sakabehing penyakit, lan dipiara sing bener. Supaya ora dadi bathang terus. Supaya urip! Yen wis urip tamtune dudu “winih” maneh.

diaturna yen Raja Demak Bintara ngutus Sunan Tembayat kanggo nemoni Syekh Siti Jenar. Maksude, supaya Syekh gelem leren olehe mbabar kawruh, kang miturut panemune Raja ngrusak tatanan Demak. Syekh Dumba lan Sunan wis ora kontal ngadhepi ngelmune Syekh Siti Jenar. Mulane Raja ngutus para wali lan muride. Antarane, Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Giri, lan Sunan Geseng.

Para wali uluk salam marang Siti Jenar kang lagi tumungkul mulangi para siswa. Banjur para wali rada kasar malebu langgar pamulangane Siti Jenar, tanpa diestokake dening Syekh Siti Jenar. Yen basa saiki, para wali padha “kula nuwun” ning ora ditampa karo Syekh. Emosine para wali dadi muntab. Sakjane ngono..., para wali kudu bisa ngrumeksa sing becik “emosi” ne. Dhawuhe Siti Jenar marang para wali: “He.., para wali, sira sejatine wis duwe kawruh, lan wis ngerteni tata-cara kanggo golek dalane urip sing bener. Hananging sira iku ora bisa nglakoni. Sira wis kebacut olehe klelep ing dalan kang nyasar. Amarga sira tansah kapincut marang gumebyare mas lan perak, kaiket karo donya-brana, lan kuwasa.”

Lha..., intine dhawuhe Siti Jenar kaping pitu, ya ndhuk kene iki. Tegese, yen manungsa [pangkat lan jabatane apa wae] isih kapincut ma-rang donya emas picis raja brana, isih seneng rebut kuwasa, duwe pa-mrih kanggo awake lan balane [golongane], ora bakal bisa nemu dalane urip sing bener. Masiya tah rek, awak dhewe iki wis ngerti teorine lan tata-cara olehe mraktekake, yen isih kabotan donya lan kuwasa, isih seneng sirik, dengki lan srei marang liyan, wah tangeh lamun yen bisa nemu pepadhanging urip.

Siti Jenar tetep ngagem agama Islam. Ning Islam kang wis kajarwake ing tanah Jawa. Apa sing diaturna marang para wali mau sejatine ya ana ing sajroning Al Quran. Coba dipirsani QS 56: 77-79. Ing kono kasebut-ake yen “ora ana wong kang bisa ndumuk [paham, ngerteni] isine Al Quran kajaba golongane wong-wong sing disucekna batine.”

Lha, yen miturut kawruh sarengate Kanjeng Imam Sapii, ayat Al Quran mau ora kena didumuk karo wong sing durung suci. Mulane, yen arep ndumuk kudu sesucen dhisik alias wudu. Iki yen miturut pamanggihe Imam Sapii. Nanging, miturut Siti Jenar ora mengkono. Lha asline Al Quran iku rak ndhuk jerone dhadha, ora ing dluwang. Yen Al Quran sing wis katulis ing dluwang, ya di dol ndhuk ngendi wae, lan kadumuk lan kedumuk karo wong saparan-paran.

Miturut Siti Jenar: ora bakal ngerteni isine [kandhutane] Al Quran kang kanggo ngerteni dalane urip sing bener, yen uripe durung resik [durung disucekna]. Nyuceknane ora nganggo banyu. Ning kudu wani angresiki rereget kang ana ing jerone batin utawa ati. Apa wae kang

aran regeting ati kaya iri, sirik, sombong, dengki, golek menange  dhewe, golek benere dhewe, rumongsa kuwase marang liyan lan kabeh sipat kang ala kudu diresiki, dibersihna saka jroning ati. Uga kasebut ing Al Quran surat Al Hijr [15]:39-40. Iblis sambat marang Pengeran: “Duh, Penegran, sarehne Panjenengan sampun mutusaken bilih kawula punika urip nyasar, mila kula badhe sasaraken tiyang sak donya punika. Kajawi para abdi panjenengan sing iklas.”

Lho, coba dipriksani sing titi. Yen ing ati iki ana sak cuwil wae sipat sing ora iklas, wah...., iki bageyane iblis. Apa salah iblise?Temene ya ora! Wong iblis bisane nyasarna wong sing uripe ora iklas. Lha iklas iku apa? Ya, ati kang bersih saka sipat kang ala mau.

Kacarita para kanca milis Jawa padha pirsa cerita Siti Jenar ing GATRA. We...lah, dalange ketinggalan sepur. Sukur bage ana sing gelem nge-fax menyang 525 5169, ben bisa melu maca, ora wuta wacan ha..ha. Ing pasamon salah sijine siswane Siti Jenar matur marang utusan Demak: “Dhuh rakanda Dumba, cobi ta dipun penggalih saestu. Sejatosipun ing salebeting jaja sliranipun wonten Al Quran. Lha cobi dipenggalih malih, leres punapa boten atur kawula. Menawi panjenengan saged maos Al Quran ing telenging jaja, panjenengan saged tanggap ing sasmitaning gaib. Panjenengan badhe mangertosi “punapa” sejatosipun gesang punika!”

Para sedulur.... Durung nganti Syekh mangsuli pitakone Syekh Dumba utusan Demak, siswane wis nyela atur. We..lah jawabane koq ya ndadekna utusan ora bisa wicara. Amarga apa sing diaturna keng siswa mau bener anane. Para wali ngerti yen wangsulan mau wis dadi kasunyatan, ora kena dibantah maneh. Iki wis dadi pangertene wong Jawa wektu iku, yen sejatine kitab suci iku ana loro wernane.  Kaping siji, apa sing diarani kitab garing. Yaiku kitab suci kayata Al Quran, Injil, Taurat, Weda lll. Kitab suci iki tumurun ana ing bangsa-bangsa sing nampa utusan Ilahi, utawa para nabi lan awatara.

Kitab suci mau yen digawa menyang bangsa-bangsa sing ora nampa nabine [sing ngasta kitab], dadine ya wis garing. Tegese wis ora bisa diprak-tekna maneh yen ora dijarwakake. Amarga kitab suci mau wis digawe pas karo Gusti Kang Maha Agung kanggo bangsa sing nampa langsung. Misale, Kitab Suci Al Quran diwahyokake ing Arab, dadi ya nganggo basa Arab lan pangerten, sanepa, kreta basa lll sing uga bisa dipahami ambek wong Arab. Surasane ukara uga pas karo wong Arab.

Lha, kitab-kitab mau diwulangna nang Jawa, tamtune ya ora pas karo surasane wong Jawa. Mulane kasebut “kitab garing”. Lha, kitab sing ana ndhuk tengahing manah, iki karan “kitab teles”. Yen kitab teles iki diolah surasane, njur kena kanggo mbukak kandhutane kitab-kitab garing mau. Mulane wong Jawa biyen bisa nggawe serat-serat macem-macem. Kawruh Weda Mahabarata diolah karo Mpu Kanwa, bisa nglairake “Arjuna Wiwaha”. Buddha Jawa ngolah graita kitab Tipi-taka bisa mujudake “Candi Borobudur”. Lsp.

Lha Siti Jenar karepe uga mengkono. Kitab Al Quran kudu diwaca nganggo surasane wong Jawa, dudu surasane wong Arab. Supaya kitab suci mau kena dinggo dalane uripe wong Jawa. Siti Jenar ora kleru, amarga ing Al Quran dhewe, ing Surat Al Ishraa’ [17]:72 ana dhawuhe Pangeran kang jarwane: “Sapa wae kang wuta batine ing alam donya iki, bakal luwih wuta ing akherate, lan bakal luwih nyasar uripe.”

Mulane Siti Jenar olah rasa kanggo mangerteni kandhutane Al Quran mau, lan nyipta lakune sarengat kang bisa dilakoni ambek wong Jawa. Ning ya ngono, sarengat Al Quran kang cinipta dening Siti Jenar iki wujude dadi beda ambek sarengat kang diwulangake para wali.

Mulane para wali nesu, amarga Siti Jenar kanggep ngrusak tatanan  sarengat sing wis ana. Yaiku sarengat kang dibabar para wali. Wali nesu marang Siti Jenar lan ndangu: “Heh Siti Jenar, tafsiran saka ngendhi kang slirane gawe? Apa sarengat slirane iku ana ing Al Quran?” Wangsulane Siti Jenar: “Dhuh..., para wali, slirane iku koq ya bodho nemen, ora bisa mangerteni kandhutane Al Quran. Ya, pantes, lha uripe isih kesengsem marang donya-brana. Klilip, ora katon apa kang didha- wuhake Gusti, Hyang Manon.”

Dadi, yen ing suasana saiki para wali lagi eker-ekeran ertine Quran. Para wali karepe ngepleg karo sing wis ditapsirna ambek ngulama-ngulama Arab. Lha Siti Jenar ora gelem. Amarga piyambake rumaos nampi sasmita saking Dzat Maulana, Gusti Kang Paring Pangayomane urip. Siti Jenar ora nyalahi Al Quran. Amarga miturut Al Quran dhewe, sejatine wong sing bisa mahami kandhutane Al Quran iku yen wis batinekasucekake, QS 56:79 “Ora ana sing bisa mangerteni kandhutane Al Quran kajaba wong kang wis disucekake batine karo kang Maha Kuwasa.”

Miturut Siti Jenar, para wali batine isih kotor, amarga kasengsem donya brana saka Raja Demak. Mulane ora bakal ngerti isine kitab suci.

Siti Jenar paring kawruh marang para wali: “Heh, para kadang wali, ka-wruhana apa kang karan ‘jatining urip’ kuwi. Nora nana urip yen tan ana hak, mandiri lan kodrat.”

Weleh, weleh, iki arane diplokotho dening Siti Jenar. Lha isine manungsa diudani blejet. Ature Siti Jenar, jatining wong urip iku yen wus duwe hak, mandiri, klawan kodrat. Yen siji wae ora ana, kita ora kena disebut wong kang urip sejati.

Hak. Iki pancen tembung saka Arab kang tegese “sunyata”. Anane urip pancen wujude kasunyatan. Urip ora marga dijalari saka polahe wong tuwa loro. Sanajan sanggamaning jalu lan setri bisa nuwuhke “urip”. Yen ora ana wong kang yakin yen jalarane mau bisa ndadekna “urip”. Mulane ing dhawuhe kitab suci Al Quran kasebutake yen “al-haqq iku saka Pengeran”, kasunyatan iku pawewehe Pangeran. Lha, mulane ing dinane iki akeh wong kang padha nuntut anane HAM, alias Hak Azasi Manusia. Menungsa rumongsa ora duwe martabate urip yen hak-hake dilanggar ambek wong liya. Hake wong nembe dibukak-bukak ing jaman modern. Lhah, limang atus tahun kepungkur Siti Jenar wus ngeling ake para wali, yen hake wong urip iku kudu diajeni.

Wong gesang tanpa hak iku padha karo ora urip kadi manungsa, ning kaya  uripe dumadi sak ngisore manungsa. Siti Jenar nyenggol perkara “hak”, amarga hake para wali mau wus kalindhes karo panyuwune raja, yaiku ndhukung adege Demak Bintara Jaya Binangun, kang pangwasane ajejuluk Pangeran Jimbun Abdur Rahman Panatagama alias Raden Fatah. Kang seja-tine saka anak turune wong Mongol, Cek Ko-Po.

Sakliyane hak, wong urip kudu anduweni jiwa mandiri. Wani ngadeg dhewe tanpa nggantungake marang liyan. Urip bebrayan pancen urip tulung-tinulung ing kabecikan. Nanging ora urip nggantung marang liyan sahengga dadi abot lan ewuhe liyan.

Siti Jenar rumongsa urip ing sajroning naraka, amarga wong Jawa wis padha kelangan kamandirene sawise Nagara Majapahit sirna. Kaya-kaya wong Jawa wus ora nemokna dalane urip. Mulane nggantungna nasibe ma-rang para priyayi manca, embuh saka Cina, Mongol, India, utawa Arab. Candra sengkalaning ambruke Majapahit, “Sirna Ilang Kertaning Bhumi”, kang ateges 0041, utawa tahun saka 1400 [1478 M], minongko ilange karaharjane bumi Jawa. Wong Jawa wus ora katon maneh sumringahe pasur-yane. Padha golek cantholan mrana-mrene. Nganti-nganti hak lan kaman-direne wis ora kapitung maneh. Yen carane saiki, mlayu mrana-mrene golek utangan, sing penting bisa urip. We...lah, 500 tahun koq isih kaya jamane Siti Jenar ngene....

Lha kaping telune, wong urip kudu duwe kodrat. Tegese kodrat iku kuwasa dhewe tanpa piranti. Nalika manungsa isih rupa jabang bayi ing gua garbaning ibu, manungsa sanggup urip nganggo kodrate. Ananging sawise lahir jebrot, manungsa rumongsa kelangan dayane kanggo urip. Ngemik dimiki. Maem dimaemi. Dipopoki. Diturokke. Lsp.

Sejatine menungsa ora kelangan kodrate. Ngemik lan sapanunggalne iku mung kanggo sinau ing tlathah uripe menungsa. Mulane, para wali die-lingake Siti Jenar. Supaya para wali gelem ngawujudake kodrate kanggo kertaning Nusa Jawa. Pramila Siti jenar ngelingake supaya para wali mau ora dijajah karo wong liya. Kayata, Sunan Kalijaga dhewe iku putrane Adipati Arya Teja saka Tuban. Mestine, Sunan gelem mbangun wutuhe krajan Majapahit, ora malah angrewangi anak turun manca dadi raja ing Nusa Jawa.

We..lah, sega wus dadi bubur, limang atus tahun panggah gumantung marang liyan, amarga hak, kamandiren, lan kodrate para elite Jawa wus ora tuwuh maneh kaya sadurunge

 

 

 

 

                     BUYA IMA IBNU FACHRU ROZI