SAYIDINA ALI R.A

 
Penyusun
Buya Ima Ibnu Fachru Rozi
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PENGANTAR

 

 

 

 

                         Mukaddimah

Sejarah telah menjadi saksi pribadi-pribadi besar yang masing-masing punya ciri khas tersendiri. Para Nabi dan Rasul serta figur-figur besar setelah mereka, masing-masing menghiasi lembaran-lembaran sejarah dengan nilai-nilai agung. Pengaruh sebagian diantara mereka, sedemikian besar dan agungnya sampai bergulirnya zaman, sama sekali tidak mengikis pengaruh tersebut. Di antara mereka ialah Imam Ali ibn Abi Thalib. Masa demi masa, abad demi abad, tokoh demi tokoh, ilmuan demi ilmuan telah berlalu dan datang silih berganti. Akan tetapi Imam Ali tetap besar dan menjadi acuan contoh serta model teladan banyak orang. Beliau dengan segala keperkasaannya telah mendobrak pintu kota Khaibar milik Yahudi Madinah yang memusuhi Islam. Pukulan pedangnya disebut oleh Rasulullah SAWW sebagai lebih mulia dari ibadah seluruh manusia dan jin.

Pada tanggal 13 Rajab, kita bertemu dengan sebuah peristiwa besar dalam sejarah, yaitu kelahiran seorang manusia mulia, anak paman sekaligus menantu Rasulullah SAWW, bapa para Imam suci Ahlil Bait Nabi 'alaihim Salam; Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib A.S. sebuah nama yang tak asing lagi bagi seluruh umat Islam. Beliau merupakan pemuka dan pahlawan besar Islam yang lahir di dalam Ka'bah. Sejak kecil beliau hidup di sisi Rasul dan menerima langsung curahan perhatian dan didikan Rasul. Oleh sebab itu, sejak usia remaja beliau langsung beriman kepada apa yang diserukan Rasul, dan nama Ali ibn Abi Thalib langsung tercatat dalam sejarah Islam sebagai pria yang pertama kali beriman kepada Islam. Ali A.S adalah manusia utama hasil tarbiyah Rasulullah SAWW. Dialah manusia utama setelah Rasulullah SAWW. Pembuka hati manusia ke jalan kebenaran dengan ucapan-ucapannya, dan pemberi contoh tauladan dengan keadilannya. Dialah manifestasi keadilan, kejujuran, kedermawanan, kasih sayang dan jiwa heroisme.

Diantara keluarga Rasul, Imam Ali adalah pribadi besar yang keutamaannya disebut dalam beberapa ayat. Kesucian dan kemaksumannya telah ditegaskan oleh Allah dan nabi besar Muhammad SAWW. Pribadai besar dalam sejarah Islam diakui sebagai telah mencapai ketinggian makrifat, pemberani, bersosial, adil dan seorang yang sangat bertakwa. Rasulullah SAWW pernah bersabda: "Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Barangsiapa hendak menuntut ilmu ia harus melewati gerbangnya."

Imam Ali A.S sepanjang hidupnya telah banyak mengkaji rahasia-rahasia Al-Quran dan berbagai disiplin ilmu, termasuk masalah-masalah pelik dalam filsafat, sampai-sampai banyak penjelasan-penjelasan beliau yang dianggap sebagai kunci untuk mencapai kesimpulan yang tegas bagi para ilmuan Islam hingga dewasa ini.

Kehidupan para waliyullah yang dihiasi dengan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta sedemikian agungnya sehingga menjadi legenda yang begitu indah tentang iman dan akhlak. Imam Ali adalah salah satu waliyullah yang paling besar.

Imam Ali hidup di bawah sepetak atap rumah dimana seruan Islam yang pertama memancar dari situ. Rumah itu tak lain ialah rumah Rasulullah SAWW. Imam Ali adalah murid Rasul yang menjadi sahabat dekat dimanapun Rasul berada. Dalam segala kesulitan, Imam Ali tak pernah membiarkan Rasul sendirian. Kedekatan beliau dengan Rasul inilah yang membawa Imam Ali ke jenjang kesempurnaan dan menjadi abdi sejati Allah SWT.

Kehidupan Imam Ali adalah kehidupan seorang hamba yang dicoba dan diuji oleh Tuhannya. Sejarah menjadi saksi bahwa demi keselamatan Rasul, Ali tak segan-segan menantang tajamnya pedang dan anak panah. Beliaulah Singa Allah yang disegani oleh kawan dan lawan. Kendati Imam Ali merupakan pendekar Islam yang membuat gentar nyali musuh, namun di balik kewibawaan beliau terdapat kelembutan dan kasih sayang yang tak terlukiskan.

 

 

 

                Hari Raya Ghadir Khum

Nabi Besar Muhammad SAWW selama 23 tahun telah berjuang menegakkan Islam. Dalam perjuangannya, beliau berhasil menaburkan benih-benih iman kepada umat dan telah menggantikan semangat permusuhan degan semangat kasih sayang serta menggantikan kebodohan dengan ilmu. Sepanjang tahun-tahun itu, seruan Islam telah menyebar di kawasan Arab.

Ketika Rasul berusia 63 tahun dan akan pergi jauh meninggalkan alam dunia menuju alam 'Baqa' dan rahmat Ilahi untuk memenuhi panggilan Allah, sudah barang tentu bukanlah suatu yang logis bila Rasul meninggalkan umat Islam yang masih baru tanpa ada pembimbing setelahnya. Bahkan pada tahun-tahun perjuangan Rasul, beliau tak pernah meninggalkan umatnya tanpa ada orang yang ditunjuk untuk mengurusi umatnya. Setiap kali beliau pergi meninggalkan Madinah, beliau selalu menunjuk orang lain untuk memegang tanggung jawab menyelesaikan urusan umat Islam. Lantas bagaimana nasib umat Islam yang masih terhitung baru sepeninggal Rasul?

Jelas sekali bahwa untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dan menerapkannya di tengah-tengah umat, memerlukan adanya seorang yang benar-benar mengetahui Islam dan pemimpin yang arif serta bijaksana. Berkenaan dengan ini, sesuai dengan kesaksian dan pernyataan-pernyataan Rasul dalam berbagai Peristiwa yang tak seorang pun meragukan kebenarannya, Ahlul Bait Rasul adalah pihak yang paling patut dijadikan rujukan sepeninggal Rasul dan merekalah yang disejajarkan dengan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Dalam sebuah hadith yang diakui kebenarannya oleh para perawi hadith dari berbagai kalangan, Rasul bersabda: "Sesungguhnya aku telah tinggalkan dua pusaka, Al-Quran dan Ahlul Baitku. Selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selamanya setelahku, dan sesungguhnya kedua pusaka itu tidak akan terpisah satu dengan yang lain sehingga keduanya kelak menemuiku di suatu telaga"

Banyak sekali hadith-hadith Rasul yang senada dengan hadith ini. Dengan pernyataan ini Rasul telah memperkenalkan Ahlul-Baitnya sebagai pendamping Al-Quran. Merekalah yang berhak menjelaskan hakikat Al-Quran, karena merekalah yang benar-benar mewarisi ilmu-ilmu Rasul.

Wilayah atau kepemimpinan ilahiyah dalam Islam bagaikan sebuah lentera terang yang menghapus kegelapan dan menyumbangkan kebenaran dan hakikat hidup serta pembaharuan, di samping sebagai petunjuk jalan manusia. Setiap orang yang berada di bawah naungan cahaya wilayah, maka seolah-olah ia telah mengasuransikan dirinya di hadapan segala penyelewengan dan penyimpangan. Hari raya Ghadir adalah hari raya wilayah. Hari dimana Islam menjadi sempurna di bawah sinarnya dan Ali A.S diperkenalkan kepada seluruh penduduk dunia sebagai pembawa panji Islam dan Imam pengganti Rasulullah SAWW. Keagungan peristiwa bersejarah ini sedemikian membahagiakan Rasulullah dan membuat wajah beliau berseri-seri di bulan-bulan terakhir kehidupannya, yang mana dengan perasaan gembira beliau bersabda: "Ucapkan selamat kepadaku, ucapkan selamat kepadaku, Allah SWT telah mengkhususkan kenabian kepadaku dan Imamah kepada keluargaku."

Peristiwa Ghadir merupakan salah satu peristiwa terpenting dan paling menentukan dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Zulhijjah tahun 10 Hijriyah. Pada tahun itu Rasulullah SAWW telah menyelesaikan haji terakhirnya yaitu "Haji Wada" dan kembali ke Madinah bersama puluhan ribu umat Islam. Rombongan raksasa yang baru pulang dari haji ini kemudian berhenti di sebuah desa bernama Khum. Desa ini merupakan tempat dimana rombongan ini akan berpisah sesuai dengan arah negeri masing-masing. Diantara mereka ada yang dari Mesir, Hijaz dan Irak. Cerita peristiwa yang menentukan nasib ini adalah sebagai berikut:

"Selepas menunaikan Ibadah haji, Nabi beserta serombongan Muslimin dalam perjalanan kembali ke kota Madinah. Hari kedelapan belas Zulhijjah perlahan-lahan mencapai tengah hari, dan di padang pasir yang membentang hanya terlihat beberapa pohon besar padang pasir di suatu sudut. Di sana terdapat sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Suatu lokasi yang menjadi tempat perpisahan para kafilah Mesir, Irak dan penduduk Madinah. Nabi SAWW tenggelam dalam pikiran seolah menanti wahyu Ilahi. Saat itu Jibril Al-Amin turun mendatangi beliau dan membacakan kepadanya sebuah amanat dari sisi Sang Pencipta. Beberapa saat kemudian suara lembut Nabi melantunkan ayat 67 Surah Al-Maidah yang artinya:

"Wahai Rasul! Sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari sisi Tuhanmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau belum menyampaikan risalah (Misimu). Dan Allah menjagamu dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yang kafir."

Perintah Ilahi ini merupakan tugas penting yang dibebankan kepada Nabi, yaitu mengumumkan suatu perkara yang harus diketahui oleh seluruh Muslimin. Oleh karena itu tempat terbaik untuk menyampaikan amanat tersebut adalah kawasan ini. Tempat di mana para jemaah haji dari berbagai kawasan harus melewatinya. Saat itu wajah Rasul terlihat serius. Beliau beridiri di depan ribuan umatnya. Kemudian dengan suara keras beliau membacakan ayat yang baru disampaikan oleh Jibril dari Tuhan. Mendengar ayat ini, para jemaah ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Nabi mengeluarkan perintah untuk menghentikan para jemaah dan memerintahkan mereka yang telah lebih dahulu pergi untuk kembali serta bersabar menanti kedatangan orang-orang yang masih dalam perjalanan. Sejumlah besar manusia berkumpul. Diriwayatkan bahwa jumlah mereka mendekati 120 ribu orang. Nabi memerintahkan untuk menyiapkan sebuah mimbar di bawah beberapa pohon yang berusia tua sehingga beliau dapat dengan leluasa berbicara kepada khalayak Muslimin. Kemudian Nabi menaiki mimbar, dan seketika itu riuh rendah jemaah menjadi senyap. Rasulullah memulai pidatonya: "Segala puji hanya bagi Allah dan kepada-Nya kami memohon pertolongan. Kami beriman dan bertawakkal kepada-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan nafsu dan keburukan perilaku kami."

Setelah memuji Allah SWT, Nabi SAWW bersabda: "Wahai manusia, ketahuilah bahwa usiaku akan berakhir dan aku akan menemui Allah SWT. Aku dan kalian akan dimintai pertanggung-jawaban. Sudahkan aku menunaikan tugas risalah?" Muslimin dalam jawaban mereka berkata: "Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan risalahmu dan berjerih payah dalam perlaksanaannya." Kemudian Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku tinggalkan di antara kalian dua hal, yang bila kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Salah satunya adalah "Kitabullah" (Al-Quran) dan lainnya adalah Ahlul Bait (keluargaku)."

Tak lama kemudian, Nabi SAWW mencari Ali A.S di antara kerumunan manusia. Ali A.S adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAWW dalam usia remaja. Beliau adalah sahabat yang selalu menemani Rasulullah di segala arena dan pasang surut kehidupan. Nabi SAWW seringkali mengagungkan dan memuji ilmu, kesempurnaan dan kelayakan Ali. Beliaulah orang yang paling banyak mengetahui wahyu-wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Rasul. Tidak terhitung pernyataan-pernyataan dan kesaksian Rasul mengenai keutamaan yang dimiliki Ali. Nabi Muhammad SAWW memanggil Ali kehadapannya, lalu beliau meraih tangannya dan mengangkatnya. Setelah itu beliau bersabda: "Wahai manusia! Siapakah yang lebih layak terhadap Muslimin dari diri mereka sendiri?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Rasulullah SAWW bersabda: "Allah adalah Maula dan pemimpinku, dan aku adalah pemimpin orang-orang Mukmin. Bila demikian, siapa saja yang menjadikan aku sebagai Maula dan pemimpinnya, maka Ali adalah Maula dan pemimpinnya." Kalimat ini diulang-ulang sebanyak tiga kali, kemudian beliau bersabda: "Ya Allah! Cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah ornag-orang yang memusuhinya. Tolonglah orang-orang yang menolong Ali dan tinggalkan mereka yang meninggalkannya. Hendaknya mereka yang hadir menyampaikan amanat ini kepada mereka yang tidak hadir."

Tatkala khutbah Rasulullah SAWW berakhir, Jibril turun untuk kedua kalinya dan membuat Nabi Muhammad SAWW bangga dengan wahyu Ilahi yang artinya: "Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku penuhi nikmat-Ku serta Aku rela Islam sebagai agama kalian." (Surah Al-Maidah ayat 3)

Dengan demikian, Nabi Muhammad SAWW menyerahkan kepemimpinannya terhadap setiap satu persatu Muslimin atas perintah Allah SWT kepada sahabat abadinya Ali A.S dan meletakkan beban berat kepemimpinan masyarakat Muslimin ke pundaknya sepeninggal beliau. Diriwayatkan bahwa setelah menyelesaikan khutbah, Nabi turun dari mimbar dan duduk di sebuah kemah serta memerintahkan Ali A.S duduk di kemah yang lain. Saat itu beliau memerintahkan seluruh sahabat menghampiri Ali A.S untuk memberikan ucapan selamat atas kedudukan wilayah dan kepemimpinannya.

Dikemudian hari berkenaan peristiwa Ghadir Khum ini, Rasulullah SAWW bersabda: "Hari itu adalah hari dimana aku diperintahkan Allah agar aku menjadikan saudaraku, Ali ibn Abi Thalib sebagai pemimpin setelahku agar umat mentaatinya, dan pada hari itulah Allah telah menyempurnakan agama Islam."

Al-Marhum Allamah Amini, seorang pemikir Muslimin menulis sebuah kitab berjudul "Al-Ghadir" dalam beberapa jilid. Dalam kitab ini, ia menerangkan penjelasan terperinci mengenai peristiwa ini dan menyebut sekitar 60 orang ulama Ahlus Sunnah yang menyebutkan riwayat Al-Ghadir. Pada bagian ini, kami nukil pernyataan beberapa ulama Ahlus Sunnah tentang peristiwa Ghadir.

Ibnu Thalhah Syafi'i dalam kitab "Matolibus Su'ul" menulis: "Hari ini dinamakan Ghadir Khum dan menjadi sebuah hari raya, sebab Rasulullah melantik Ali A.S kepada suatu kedudukan tinggi, dan di antara seluruh Muslimin hanya beliau yang memperoleh kemuliaan ini."

Ibnu Maghazili dalam kitab Manaqib menulis: "Hadith Ghadir adalah yang shahih, di mana sekitar 100 orang sahabat Rasulullah SAWW meriwayatkannya. Tidak ada keberatan terhadap hadith ini, dan ini merupakan keutamaan yang hanya diraih oleh Ali A.S dan tidak seorang pun yang meraih keutamaan ini."

Penulis dan pemikir Mesir, Abdul Fatah Abdul Maqsud berkaitan dengan peristiwa Ghadir mengatakan: "Hadith Ghadir tidak syak lagi merupakan sebuah hakikat yang tidak tersentuh kebatilan. Amat terang dan jelas bagaikan terangnya siang hari. Dan itu merupakan salah satu hakikat yang terpancar dari dada Nabi SAWW sehingga beliau mengenalkan nilai pilihannya di antara umatnya."

Peristiwa Ghadir Khum yang amat monumental dalam sejarah Islam ini, sekali lagi merupakan peristiwa besar. Sebagian menyatakan bahwa tak kurang dari 110 orang sahabat Rasul meriwayatkan peristiwa ini. Peristiwa Al-Ghadir juga diceritakan oleh seorang ahli tafsir terkemuka yaitu penulis kitab "Tafsir Al-Kabir" bernama Fakhrurazi. Saat menjelaskan ayat 68 surah Al-Maidah, beliau menuliskan: "Ayat ini diturunkan untuk keutamaan Ali. Dan karena ayat ini turun, Rasul kemudian mengangkat tangan Imam Ali sambil berkata: "Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya."

Abul Faraj bin Jauzi Hambali juga mengatakan: "Para ulama sejarah dan kehidupan Nabi sepakat bahwa peristiwa Ghadir terja

di setelah kepulangan Nabi dari haji terakhir, dan pada hari itu para sahabat, orang-orang Arab dan penduduk sekitar Madinah dan Mekkah berjumlah sekitar 120 ribu orang bersama Nabi SAWW. Mereka adalah orang-orang yang mendengar hadith Ghadir dari Nabi SAWW.

Pesan peristiwa Ghadir adalah pengawalan ajaran Islam dan kesinambungan kepemimpinan Islam di tangan manusia yang paling layak dan paling berilmu berdasarkan petunjuk-petunjuk Nabi dan Ahlul Bait Alahim Salam. Kehendak Allah pada perkara ini berlaku bahwa peristiwa penting Ghadir tetap hidup di setiap hati manusia pada segala abad dan zaman serta tertulis di sanad-sanad dan kitab-kitab. Pada setiap masa dan zaman para ulama, khatib dan penulis membicarakannya sehingga bendera Islam senantiasa berkibar di bawah sinar wilayah dan Imamah Ahlul Bait Nabi SAWW.

 

 

 

 

 

 

 

 

                    Ilmu Imam Ali A.S

Kehidupan Rasulullah SAWW serta Ahlul Baitnya merupakan pemandu bagi manusia dalam berusaha menjadi manusia teladan. Karena dalam kehidupan mereka terlukis jelas gerakan sosok makhluk menuju kesempurnaan. Berbicara mengenai Ahlul Bait, akan jelas bagi kita satu kenyataan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh ruhaniawan yang juga aktif dan sangat berperan di bidang sosial, bahkan dengan kebesarannya sebagai tokoh Ilahi, mereka justru mewajibkan dirinya untuk berusaha menyelesaikan problema-problema sosial dan membuahkan pemikiran-pemikirannya di bidang keilmuan. Mereka juga menjelaskan berbagai pandangannya mengenai masalah-masalah politik dan sosial. Pada kondisi tertentu, mereka segera mengambil sikap.

Setelah wafatnya Rasulullah SAWW, jalan untuk meneruskan langkah-langkah Rasul mulai dirasakan sulit dan masalah ini menjadi tanggung jawab Ahlul Bait suci Rasul. Ahlul Bait Rasul menerima tugas ini dalam berbagai kondisi. Masing-masing mereka hidup dan memikul tanggung jawab di zaman yang berbeda, meski demikian langkah-langkah mereka saling berkait dan bisa dikatakan bahwa mereka saling menyempurnakan usaha yang lain dalam mewujudkan nilai-nilai Ilahi.

Keilmuan, penghayatan, kesadaran akan masalah sehari-hari, sabar, berani dan teguh dalam menempuh tujuan masing-masing adalah salah satu ciri khas dari sikap yang mereka tampakkan sesuai dengan kondisi yang menuntutnya. Karena itulah dalam berbagai kondisi, mereka telah menggunakan kebijaksanaan tersendiri dalam usaha menerapkan ajaran Islam.

Tanggung jawab pertama yang mesti terwujud pada diri Ahlul Bait adalah memiliki ilmu yang dalam. Meningkatkan kesadaran umat, menyingkirkan berbagai subhat, membantah pernyataan-pernyataan atheis dan menanggapi pelbagai persoalan adalah tujuan mereka.

Imam Ali A.S sejak masa kanak-kanaknya lagi hidup di rumah Rasulullah SAWW. Rasul telah menganggapnya sebagai anak dan mengajarinya berbagai hakikat. Setiap kali Imam Ali melontarkan pertanyaan, Rasul selalu menyimaknya dengan cermat.

Setelah Nabi besar Muhammad SAWW diangkat sebagai Rasul, siang malam beliau banyak menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan Imam Ali dan menjelaskan berbagai hakikat serta ajaran-ajaran Islam. Imam Ali A.S dalam sebuah ucapannya pernah menyinggung sekilas bagaimana beliau belajar di sisi Rasul. Beliau mengatakan: "Setiap kali aku mengajukan pertanyaan, beliau selalu menjawab. Jika aku berhenti bertanya, beliau kembali menyampaikan keterangan-keterangannya. Setiap hari, melalui akhlak beliau, kutemukan satu pengetahuan."

Jika kata-kata Imam Ali A.S kita cerna, kita akan saksikan betapa beliau telah memanfaatkan pendidikan dari Rasul semenjak beliau masih dalam usia kanak-kanak. Imam Ali A.S berkata: "Setiap tahun Rasul selalu pergi ke gua Hira' dan menyebutkan hajatnya kepada Allah dan aku menyaksikan beliau. Pada hari-hari pertama turunnya Islam, aku adalah orang ketiga pemeluk Islam di rumah wahyu setelah Rasul dan isterinya Hadzrat Khadhijah. Karena dekatnya aku dengan Rasul, aku merasakan cahaya kebenaran dan risalah, aku mencium aroma kenabian."

Kedekatan Imam Ali A.S dengan Rasul serta perhatian Rasul terhadapnya, terutama dalam masalah pengenalan terhadap hakikat-hakikat Ilahi, memberikan indikasi bahwa Imam Ali A.S kelak akan memikul tanggung jawab berat yang mana konsekuensinya adalah berbekal ilmu dan pengetahuan-pengetahuan Ilahi yang luas. Dalam hal ini, beliau mengatakan: "Dadaku telah menanggung beratnya ilmu yang kupelajari dari Rasulullah dan jika aku mengenal orang-orang yang layak menerimanya, aku akan mengajarkannya kepada mereka."

Diriwayatkan bahwa suatu hari Imam Ali A.S pergi ke Masjid. Beliau naik mimbar dan memanjatkan puji-pujian kepada Allah SWT. Setelah itu, beliau menyampaikan pesannya kepada masyarakat. Beliau mengatakan: "Wahai masyarakat! Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Bertanyalah kepadaku yang menguasai ilmu masa lalu dan yang akan datang. Demi Allah yang menghidupkan benih tanaman dan yang menciptakan alam semesta, jika ayat demi ayat kalian tanyakan kepadaku, aku jelaskan kepada kalian kapan dan berkenaan dengan apa ia turun serta hukum-hukum ayat tersebut."

Selain dikenal sangat tajam dalam masalah-masalah teoritis, Imam Ali A.S juga dikenal memiliki pandangan yang mengagumkan dalam ilmu-ilmu amali. Pidato beliau mengenai tauhid, kenabian, ma'ad atau hari kebangkitan dan lain-lain, penuh dengan berbagai hakikat yang sangat menakjubkan. Beliau menyampaikannya dengan untaian kata-kata yang langsung menyentuh jiwa seseorang.

Dalam sebuah pidatonya beliau menyebutkan bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang dan gunung-gunung, semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta dan keindahan apa yang telah diciptakan, dan keindahan ini harus disyukuri. Namun kenyataannya, banyak manusia yang tidak mensyukurinya. Banyak manusia yang menyimpang dari jalan Allah dan menyalahgunakan karunia ini.

Beliau juga pernah menyinggung kisah-kisah orang-orang terdahulu dan menganggapnya sebagai fenomena sejarah yang patut dijadikan pelajaran. Dengan ini beliau mengajak manusia merenungkan sejarah umat yang sudah terkubur dalam perut bumi. Manusia perlu mengikuti setiap jejak yang mendatangkan kebaikan dan meninggalkan jejak yang mendatangkan celaka, baik berupa murka Allah maupun hukum alam atau sunnatullah secara umum.

Melalui pesan-pesannya, kadangkala Imam Ali mengungkapkan perhatiannya kepada para sahabatnya. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti langkah Rasul serta para sahabat baginda yang setia. Sahabat yang telah memprioritaskan agama di atas segala kepentingan duniawi. Di zaman permulaan Islam, pengorbanan sudah menjadi jiwa kaum Muslimin.

 

 

 

               Zuhudnya Imam Ali A.S

Makrifat Imam Ali sedemikian kaya sehingga menyinari sleuruh nuansa hidupnya. Namun jika kita melihat makrifat Imam Ali atau kesufian beliau, kita tidak akan mendapati kesufian itu bermakna pengucilan diri dari sosial. Beliau adalah orang yang senantiasa berhubungan dengan masyarakat, mengelola urusan pemerintahan dan politik, namun dimensi kesufian beliau tetap tampak dan terjaga. Kesufian dan zuhud Imam Ali berakar pada pandangannya yang begitu dalam terhadap soal kehidupan dan filsafat alam semesta. Beliau pernah berkata: "Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tempat tinggal." Imam Ali juga memandang manusia di dunia ini terdiri dari dua macam; orang yang menjual dirinya demi hawa nafsunya dan orang yang membeli nafsunya untuk taat kepada Allah dan menyelamatkan dirinya.

Zuhud dalam Islam tak lain ialah menerapkan prinsip-prinsip khusus dalam hidup dengan cara memprioritaskan nilai dan akhlak ketimbang tamak kepada benda-benda materi. Sudah barang tentu Imam Ali adalah orang yang sangat zuhud. Zuhud adalah perilaku yang tak bisa diceraikan dari kehidupan Imam Ali, khususnya ketika beliau duduk sebagai pemimpin umat. Namun Kezuhudan Imam Ali bukan berarti uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat atau hidup layaknya seorang pertapa. Malah kezuhudan bagi beliau justru inheren dengan melaksanakan tugas sosial demi cita-cita yang besar.

Ayatullah Murtadza Mutahhari, pemikir besar Iran tentang zuhud Imam Ali berkata: "Dalam pribadi Imam Ali, antara zuhud dan tanggungjawab sosial bertemu. Imam Ali adalah seorang yang zuhud sekaligus orang yang paling peka terhadap tanggungjawab sosial. Beliau termasuk orang yang paling sukar tidur ketika menyaksikan ketidak adilan atau mendengar rintihan orang-orang kecil. Beliau tidak pernah mengenyangkan perutnya selama ada orang-orang yang lapar di sekitarnya."

George Jordac penulis Nasrani asal Libanon, dalam hal ini menuliskan: "Imam Ali jujur dalam zuhudnya. Dalam semua perbuatannya dan apa yang keluar dari hati dan lidahnya tak lain adalah kejujuran. Beliau zuhud dalam menghadapi kenikmatan dunia, beliau tidak mengharap mendapat pemberian dalam memerintah. Beliau merasa cukup hidup dengan putra-putrinya dalam rumah kecil dan memakan roti yang dibuat dari tangan istrinya sendiri. Dan sementara beliau menjabat sebagai Khalifah, beliau tidak memiliki pakaian untuk menahan hawa dingin..... hal ini merupakan derajat yang tertinggi dari kebersihan jiwa."

Imam Ali adalah orang yang paling muak terhadap kehidupan yang dikelas-kelas oleh faktor materi dan gaya hidup yang glamor. Diriwayatkan bahwa suatu saat, Imam Ali mendengar salah satu bawahannya, yaitu Usman bin Hanif yang merupakan gubernur wilayah Basrah diundang dalam sebuah pesta. Dalam pesta ini, tamu yang diundang adalah dari kalangan elit. Begitu mendengar berita ini, Imam Ali langsung menegur Usman bin Hanif. Beliau berkata: "Aku dengar engkau telah menghadiri sebuah pesta yang hanya mengundang orang-orang mampu dan tidak ada orang fakir. Disitu engkau menikmati aneka ragam jamuan. Jika engkau ingin bekerjasama denganku, maka hindarilah perbuatan seperti itu, jika tidak aku persilahkan engkau mengundurkan diri."

Hak asasi setiap individu masyarakat manusia ialah masing-masing dapat menikmati kehidupan secara manusiawi. Adapun yang dapat kita saksikan sekarang adanya sekelompok orang hidup dengan serba kenikmatan dan kemegahan, sementara sekelompok lain menderita kemiskinan, maka ini merupakan salah satu tanda bahwa orang-orang kaya tidak mau melakukan kewajiban mereka. Menurut Imam Ali tidak akan ada orang kelaparan bila hak yang lemah diindahkan oleh orang kaya. Namun demikian, diantara penyebab kesenjangan sosial juga bisa kembali kepada orang fakir yang tidak mau melaksanakan tugasnya untuk mendapat kehidupan yang layak. Dalam hal ini, Imam Ali berkata: "Apakah pantas bila kamu lebih lemah dari semut, padahal makhluk kecil ini dengan usaha penuh telah membawa makanannya ke dalam sarangnya dan setiap hari ia sibuk dengan kegiatan."

Tak terlukiskan betapa besar kasih sayang beliau terhadap fakir miskin. Perhatian beliau amat besar kepada mereka yang memerlukan pertolongan. Diriwayatkan pada suatu hari beliau berada di masjid. Ketika sedang khusyuk menunaikan solat, tiba-tiba beliau dihampiri oleh seorang pengemis. Kekhusyukan beliau ternyata tidak membuatnya lupa akan apa dan siapa saja. Ketika sedang ruku', beliau menjulurkan tangan untuk menyerahkan cincin yang melingkar dijarinya. Maka pengemis itu segera mencopot cincin itu kemudian memenuhi keperluannya dengan cincin itu.

Allah SWT kemudian mengabadikan kisah ini dalam Al-Quran. Sebagaimana pendapat banyak ahli tafsir, Surah Al-Maidah ayat 55 diturunkan berkenaan dengan kejadian ini. Ayat ini menyatakan: "Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah dan rasulnya serta orang-orang Mukmin yang mendirikan solat, dan memberikan zakat ketika dalam keadaan ruku'."

Pandangan-pandangan Imam Ali yang dicerap dari Islam mengenai hak-hak sesama manusia dikenal sebagai sangat dalam. Keputusan-keputusan Imam Ali dalam mengadili kasus-kasus yang ada, dipandang sebagai bintang dalam sejarah, sampai-sampai para hakim saat itu berkali-kali menyatakan dirinya akan celaka jika Imam Ali tidak ada.

Sebagai contoh, pada masa kekhalifahan sebelum beliau, pernah seorang wanita terbukti berbuat zina dan hendak dihukum rajam. Imam Ali tiba-tiba meminta agar hukuman itu ditangguhkan. Orang-orang disekitarnya keheranan. Namun Imam Ali segera memberi alasan. Kata Imam Ali wanita tersebut hamil, dan anak yang dikandungnya tidak semestinya menanggung beban dosa ibunya. Anak itu punya hak untuk hidup. Karena itu, hukuman harus ditangguhkan hingga wanita itu melahirkan anaknya yang tidak bersalah.

Dalam riwayat lain, juga dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali datang kepada seorang Qadhi untuk menyelesaikan suatu urusan dengan orang lain. Qadhi atau hakim ini lebih menghormati Imam Ali. Melihat sikap ini, Imam Ali kecewa dan menegur sang Qadhi. Maksud Imam Ali ialah, dalam sebuah pemerintahan yang berlandaskan jiwa pengabdian kepada Allah, pemerintah dan rakyat sejajar di depan hukum. Pemerintahan dalam konsep Imam Ali yang diserap dari ajaran Islam bukanlah menjauhi rakyat dan tidak memperhatikan kondisi umum serta keperluan setiap orang, melainkan pemerintahan adalah sarana untuk mendekatkan pemimpin dengan rakyat. Pemerintahan adalah media untuk mencurahkan kasih sayang terhadap seluruh lapisan masyarakat. Imam Ali berkata: "Hati rakyat adalah gudang yang menyimpan gerak-gerik penguasa. Jika di gudang ini tersimpan keadilan, maka keadilanlah yang akan terpantul darinya. Jika kedzaliman yang tersimpan, maka kedzalimanlah yang akan terpantul darinya."

Jika dalam sebuah pemerintahan, kasih sayang dan kecintaan menjadi darah daging seluruh lapisan masyarakat, maka keharmonisan akan mengikat rakyat dan pemimpin. Keharmonisan ini telah dipersembahkan oleh Imam Ali di masa kekhalifahannya. Dalam wilayah pemerintahan beliau, jangankan seorang Muslim, minoritas pemeluk agama-agama lainpun bisa hidup dengan tenteram di sisi umat Muslim. Kepada gubernur dan semua bawahannya, Imam Ali selalu berpesan agar memperhatikan hak seluruh lapisan masyarakat.

Imam Ali pernah berkata: "Demi Allah, aku bersumpah, andaikan aku dipaksa tidur di atas duri-duri padang pasir, atau aku dibelenggu kemudian dipendam hidup-hidup dalam tanah, sungguh ini semua lebih baik daripada aku berjumpa Allah dan Rasulnya di hari Kiamat sementara aku pernah berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah."

Suatu hari Imam Ali A.S berpidato di tengah sekelompok masyarakat. Orang-orang yang mengerti akan makna dari pidato beliau dengan cermat mencerna ucapan-ucapan beliau. Imam Ali A.S berbicara mengenai Akhlak. Di pertengahan Khutbah itu, beliau berkata: "Waspadalah, jangan kalian sambut gunjingan terhadap seseorang. Banyak sekali ucapan yang batil, tapi ia akan musnah, yang tinggal hanyalah amalan manusia karena Allah menyaksikan dan mendengar. Ketahuilah bahwa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari lebar empat jari."

Saat itu tiba-tiba seseorang bertanya: "Bagaimana bisa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari empat jari?

Untuk menjawab pertanyaan ini Imam Ali menunjukkan empat jarinya kemudian beliau letakkan di tempat antara mata dan telinga, kemudian beliau mengucapkan: "Kebathilan adalah ucapan yang aku dengar dan hak adalah ucapan yang aku saksikan."

Maksud Imam Ali dari ucapan ini adalah jangan sekali-kali kita terima apa yang kita dengar sebelum kita yakin akan kebenarannya.

Tersebut satu kisah, ketika kota Kufah waktu itu diselimuti kelam, manakala matahari sudah lama tenggelam. Rumah-rumah sudah tertutup rapat dan penghuninya pun hanyut dalam tidurnya. Pertengahan malam sudah berlalu. Di tengah kesunyian itu tampak bayang-bayang seseorang bergerak perlahan di halaman darul Imarah Kufah. Dua orang yang tidur di halaman itu kemudian terbangun. Dua orang itu mengenal bayangan itu. Bayangan itu adalah bayang-bayang Imam Ali A.S. Tubuhnya gementar. Dari mulutnya terdengar sayup-sayup bunyi beberapa ayat-ayat terakhir surah Ali Imran. Arti ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah, baik dalam keadan berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan mereka itu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka."

Imam Ali A.S mengulang-ulang bacaan ayat itu, dan terlihat tubuhnya semakin bergetar karena tangisannya. Menyaksikan pemandangan seperti ini, dua orang yang tak lain adalah sahabat Imam Ali itu tiba-tiba turut menitikkan air mata. Kemudian Imam Ali menghampiri mereka.

"Wahai Amirul Mukminin!" kata salah seorang dari mereka. "Engkau terguncang sedemikian rupa di depan keagungan Ilahi, lantas bagaimana dengan kami?"

Imam Ali melemparkan pandangannya ke tanah. Sejenak kemudian beliau berkata: "Suatu hari nanti, kita semua akan dihadapkan kepada Allah, dan tak sedikitpun amalan-amalan kita tersembunyi baginya. Jika sekarang engkau mengingat Allah, niscaya kelak pandanganmu akan terang benderang. Kesempurnaan iman terletak pada kecintaan kepada Allah. Jika engkau mencintai sesuatu, pasti ingatanmu akan tertambat padanya, dan engkau tidak akan mencintai yang lain melebihi kecintaanmu kepadanya."

Setelah itu perlahan-lahan Imam Ali meninggalkan dua orang sahabatnya kemudian menghanyutkan dirinya dalam rintihan doa.

Suatu hari, sekelompok masyarakat tampak berkumpul disebuah jalan utama kota Anbar. Wajah mereka tampak tengah menanti-nanti tibanya seseorang dari arah jauh. Para pemimpin kota itu berada di barisan terdepan di atas kuda.

Tak lama kemudian tampaklah bayangan dari jauh. Bayangan itu semakin mendekat dan masyarakatpun semakin tidak sabar untuk menatap wajah pemimpin besarnya, Imam Ali A.S. Ternyata bayangan seseorang yang mengendarai kuda itu ialah Imam Ali A.S. Beliau tiba di gerbang kota. Untuk menyambut beliau, para pemimpin kota itupun segera turun dari hewan yang dikendarainya kemudian menghampiri Imam Ali dan melakukan sembah takzim di atas tanah.

Melihat itu, Imam Ali tampak kecewa. "Apa maksud dari yang kalian lakukan ini?" tanya Imam Ali A.S. "Ini adalah tradisi resmi kami untuk menyambut dan menghormati seorang tokoh besar", jawab mereka.

Namun dengan nada kecewa Imam Ali A.S. berkata: "Demi Allah, apa yang kalian lakukan itu sama sekali tidak akan menguntungkan kalian. Apa yang kalian lakukan itu sia-sia, malah mendatangkan azab akhirat. Betapa ruginya menyibukkan diri sementara kesibukan itu malah mendatangkan azab."

 

 

 

 

 

 

 

                                Keadilan

Agama-agama Ilahi senantiasa memerintahkan manusia agar berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela. Banyak sekali nilai-nilai yang dianut manusia sekarang ini, jauh sebelumnya telah diajarkan oleh agama-agama Ilahi.

Hujjatul Islam Bahman Pur seorang ulama yang banyak mengkaji kitab Nahjul Balaghah, mengatakan: "Keadilan adalah salah satu prinsip agama Ilahi. Allah SWT banyak mengungkapkan masalah ini dalam Al-Quran, termasuk dalam ayat yang artinya: "Sesungguhknya Allah memerintahkan kalian agar berlaku adil, baik dan dermawan kepada kaum kerabat, dan melarang kalian dari kekejian, mungkar dan pelanggaran.

Imam Ali A.S seringkali berbicara mengenai keadilan, dan ada baiknya disampaikan bagaimana jawaban Imam Ali terhadap seseorang yang bertanya kepadanya mengenai manakah yang lebih utama antara keadilan dan Al-Juud atau murah tangan. Pertanyaan ini menyangkut dua watak manusia. Yakni manusia tidak akan bersedia menjadi obyek ketidak adilan atau kezaliman, dan dia akan berterima kasih manakala diberi sesuatu oleh seorang dermawan, terlebih ketika Sang dermawan itu tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau balas budi.

Sepintas lalu, pertanyaan ini akan terjawab dengan mudah; yaitu murah tanganlah yang lebih utama ketimbang keadilan. Karena keadilan disini tidak lain adalah menghargai hak orang lain dan tidak melanggarnya, sementara murah tangan atau "Al-Juud" adalah membagikan hak yang dimilikinya kepada orang lain.

Memang inilah jawabannya bila yang dijadikan kriteria adalah moralitas individu. Namun Imam Ali menjawab sebaliknya. Beliau lebih mengutamakan keadilan daripada murah tangan dengan dua alasan:

Pertama, karena definisi keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sementara murah tangan tidak demikian. Dengan kata lain, keadilan adalah memperhatikan hak-hak yang ada secara kongkrit, baru kemudian memberikan orang lain sesuai dengan amal dan kapasitas penerima.

Dengan pendekatan ini, orang akan bisa mengetahui tempatnya dalam bermasyarakat, dan selanjutnya masyarakat akan menjadi mekanisme yang teratur. Adapun murah tangan, wlaupun ia berarti memberikan hak yang dimilikinya kepada orang lain, perbuatan ini menjadi cacat dalam kehidupan bermasyarakat. Karena perbuatan ini tidak akan terjadi kecuali, jika masyarakat pada saat itu menjadi ibarah sebuah tubuh yang bagian anggotanya terdapat cacat atau sakit yang akibatnya akan memerlukan bantuan seluruh anggota tubuh yang lain untuk melakukan sesuatu, padahal idealnya dalam sebuah masyarakat hendaknya tidak ada anggota yang cacat, sehingga yang lain harus turut membantu tugasnya.

Alasan kedua, keadilan adalah sebuah kendali yang bersifat umum, sementara Al-Juud atau murah tangan itu bersifat spesifik. Yakni keadilan bisa dijadikan undang-undang umum yang mengatur seluruh urusan masyarakat dimana seseorang harus komitmen kepadanya, sementara Al-Juud adalah kondisi yang bersifat eksklusif dan tidak bisa dijadikan undang-undag umum.

Imam Ali ibn Abi Thalib menganggap keadilan sebagai kewajiban dari Allah SWT, karena itu beliau tidak membenarkan seorang Muslim berpanggku tangan menyaksikan norma-norma keadilan ditinggalkan masyarakat, sehingga terbentuk pengkotakan dan kelas-kelas dalam masyarakat.

Beliau sendiri sangat komitmen dengan masalah ini. Kita bisa menyaksikannya melalui khutbah beliau yang sangat terkenal, yaitu khutbah Syiqsyiqiah. Dalam khubah yang dimuat dalam kitab Nahjul Balaghah ini, beliau terlebih dahulu menjelaskan berbagai kemelut dan pergolakan politik yang menimpa uamt Islam sebelum beliau menjabat sebagai khalifah, dan tepat setelah khalifah Usman bin Affan terbunuh akibat pergolakan itu, orang ramai berbondong-bondong mendatangi Imam Ali dan mendesaknya agar menjabat sebagai khalifah. Setelah beliau menjelaskan semua itu, beliau berkata dengan tegas:

"Demi Zat yang membelah biji tanaman, dan Yang menciptakan makhluk hidup, seandainya orang-orang tidak berdatangan kepadaku, dan hujjahpun belum ada bahwa disitu ada yang bersedia menolongku dan Allahpun tidak mengazab ulama yang berpaku tangan dengan kezaliman dan kelaparan orang-orang tertindas, maka kendali kekhalifahan akan kulemparkan."

Memang umat Islam saat itu berbondong-bondong menghadap Imam Ali dan mendesak keras agar beliau memegang kendali urusan kaum Muslimin. Karena beliau tahu betul betapa menyakitkan tragedi yang terjadi sebelumnya dan terus mengakses dan merusak kondisi umat.

Namun Imam Ali menyadari bahwa jika tampuk kekhalifan tidak beliau terima, maka kebenaran akan sirna. Karena itu, akhirnya beliau menerima permintaan umat agar beliau menjadi khalifah, kendati risikionya sangat besar.

Dalam penegasan Imam Ali, pemerintah dan pembela hak-hak maysarakat, haruslah berpegang teguh kepada konsep-konsep keadilan, jika tidak maka hendaknya tampuk pemerintahan harus diserahkan kepada orang lain. Logika ini dipetik dari ajaran-ajaran Al-Quran yang tersurat dalam beberapa ayat, antara lain dalam surah An-Nisa' ayat 58 yang artinya:

"Allah telah memerintahkan agar amanat diserahkan kepada orang-orang yang berhak dan jika kamu hendak memutuskan hukum ditengah-tengah manusia, maka putuskanlah dengan adil."

Ada beberapa pendapat dalam penafsiran ayat ini. Antara lain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang berhak ialah orang-orang yang memutuskan hukum dengan adil. Dan Allah memerintahkan mereka agar menjadi pengayom dan pelindung umat, sebagaimana yang telah ditempuh para pengikut Rasulullah SAWW, terlebih Imam Ali A.S.

Dalam hal ini kita bisa melihat surat-surat Imam Ali yang sebagian dirangkum dalam kitab Nahjul Balaghah. Dalam surat yang ditujukan kepada para pejabat bawahannya itu, Imam Ali menulis:

"Jangan sekali-kali kau kira bahwa kekuasaan yang telah diserahkan kepadamu itu adalah hasil buruan yang jatuh ke tanganmu. Itu adalah amanat yang diletakkan ke pundakmu. Pihak yang diatasmu mengharapkan engkau dapat menjaga dan melindungi hak-hak rakyat. Maka janganlah engkau berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat."

Pemerintahan adalah amanat yang diserahkan kepada seseorang. Oleh karena itu, untuk menjalankan roda pemerintahan ini memerlukan pribadi-pribadi yang dikenal sebagai orang yang komitmen terhadap amanat. Sudah barang tentu masyarakat tidak akan mendukung para pemimpin jika mereka tidak dikenal sebagai pengemban amanat, dan akibatnya dasar-dasar kepemerintahan akan rapuh.

Imam Ali sangat menekankan perlunya orang-orang yang sesuai untuk menangani segala urusan kepemerintahan . Sebuah pemerintahan akan kacau, sekalipun memiliki undang-undang yang jelas dan tepat, jika pelaksananya adalah orang-orang yang tidak kompeten dan suka memburu kesempatan.

Jika urusan-urusan penting ditangani oleh orang-orang yang tidak semestinya, dan tenaga-tenaga yang piawai diisolir, maka akibatnya berbagai potensi yang ada akan sirna. Imam Ali ketika menjabat sebagai khalifah pernah berpesan kepada gubernur Malik Al-Asytar: "Pikirlah baik-baik terlebih dahulu untuk memilih seseorang sebagai penanggungjawab. Angkatlah dia setelah dia siap untuk bekerja dan janganlah kau angkat mereka hanya dengan kemauanmu sendiri tanpa bermusyawarah dengannya, karena ini adalah perbuatan khianat.

Ibnu Abil Hadid, seorang ulama tenar yang panjang lebar mengomentari Kitab Nahjul Balaghah dalam mengomentari pesan Imam Ali tersebut mengatakan:

"Maksud dari kalimat Imam Ali ini ialah memilih seseorang tanpa berdasarkan seleksi yang semestinya adalah perbuatan khianat dan zalim. Kezaliman disini terjadi karena seorang pemimpin tidak menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang berhak dan malah menyerahkannya kepada orang yang tidak patut. Kezaliman ini menimpa orang yang layak menerima tanggung jawab.

"Adapun khianat disini, terjadi karena amanat menuntut penyerahan tugas kepada orang yang layak dan siapapun yang berbuat sebaliknya, berarti dia telah berkhianat kepada Allah dan umat."

Suatu hari tampak seorang wanita tua sedang tertatih berjalan sambil membawa timba air. Seorang pria tak dikenal tiba-tiba berpapasan dengannya, dan segera meminta timba yang tampak memberatkan wanita itu. Pria itu membawa timba tersebut ke arah rumah yang dituju wanita tua itu.

Dirumah tampak beberapa anak kecil menanti yang ternyata adalah anak-anak wanita itu. Sesampainya dirumah, pria itu berkata: "Tentunya suamimu sudah tiada, dan bagaimana engkau hidup seorang diri?"

Dengan nada mengeluh, wanita tua menjawab: "Suamiku dulu terkena wajib perang. Ali ibn Abi Thalib telah mengirimkannya ke perbatasan dan disitu dia terbunuh. Sekarang aku hidup sendiri bersama anak-anak."

Pria tak dikenal diam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk kemudian pamit pergi. Namun, tak lama kemudian dia membawa keranjang penuh makanan. Melihat itu, wanita tersebut berkata: "Mudah-mudahan Allah meridhaimu, dan Dialah yang menghakimi antara kami dengan Ali ibn Abi Thalib."

Pria itu berkata: "Aku mengharapkan pahala Allah, izinkanlah aku membuat roti dan menjaga anak-anakmu."

Wanita itu bersedia dan akhirnya pria itu menjaga anak-anaknya sekaligus sibuk membuat roti. Pria itu juga memanggang daging dan dengan tangannya sendiri menyuapi anak-anak wanita itu. Sambil menyuapi mulut mereka, pria itu berkata: "Wahai anakku! Maafkanlah Ali ibn Abi Thalib, jika dia telah mengganggu kebahagianmu."

Kemudian seorang wanita tetangga masuk ke rumah itu. Rupanya dia mengenal siapa pria itu. Dia kaget dan segera menghampiri wanita tua itu kemudian berkata: "Kamu tahu siapa pria yang membantumu itu? Dia adalah Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib.

Dengan wajah memelas, wanita tua itu mendekati Imam Ali dan berkata berkali-kali: "Aku sangat malu, maafkan aku, maafkan aku."

Imam Ali menjawab: "Tidak, akulah yang harus meminta maaf kepadamu, karena akulah yang menyusahkan hidupmu."

Setelah kejadian itu, secara rutin Imam Ali menziarahi rumah wanita tua itu. Makanan dan pakaian penghuni rumah itu beliau tanggung.

Saat menjabat sebagai khalifah di Kufah, Imam Ali pernah kehilangan baju perang. Setelah beberapa lama, beliau menjumpainya ada pada pria penganut Masehi. Imam Ali membawa pria tersebut ke Qadhi atau hakim dan mengaku bahwa baju perang itu milik beliau. Beliau merasa bahwa baju itu belum diberikan atau dijual pada seseorang tapi mengapa ada di tangan pria Masehi itu. Beliau menuntut agar baju itu dikembalikan kepadanya.

Mendengar pengaduan itu, hakim meminta penjelasan duduk persoalannya menurut pandangan pria Masehi tersebut. Pria itu bersiteguh bahwa barang itu miliknya. Maka tak ada jalan lain bagi hakim kecuali meminta Imam Ali agar mendatangkan saksi. Namun Imam Ali ternyata tidak punya saksi untuk menguatkan dakwaannya. Akhirnya Imam Ali dengan senang hati rela membiarkan barang itu tetap berada ditangan pria Masehi tersebut.

Maka pria itu beranjak pergi. Namun tiba-tiba dia termenung. Dia sebenarnya tahu betul bahwa pemilik baju perang itu adalah Imam Ali , dan dia ingin mempertahankan baju perang itu berada ditangannya. Namun menyaksikan sikap Imam Ali yang tampak begitu mengalah tersebut, dia merasa Imam Ali bukan orang biasa. Akhlaknya adalah akhlak para Nabi. Karena itu, akhirnya pria Masehi tersebut menyerahkan baju perang tersebut kepada Imam Ali. Tak lama waktu berselang, pria itu mengucapkan syahadah dan masuk Islam setelah hatinya tersentuh untuk mengkaji Islam dari peristiwa itu. Dia menjadi pejuang setia Islam di bawah bendera Imam Ali ibn Abi Thalib.

Apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah sebenarnya merupakan hal yang diterima oleh setiap naluri atau fitrah manusia. Namun yang menarik dari ayat di atas ialah konteksnya yang berkisar pada masalah menjauhi kezaliman dan penindasan yang mana keduanya sangat dikutuk oleh Islam.

Imam Ali yang hidup dan besar dalam tarbiyah Rasul dan wahyu telah menempatkan soal menentang kezaliman dalam program-program utamanya. Dalam hal ini sekali lagi dinukilkan penuturan Hujjatul Islam Bahman Pur, seorang ulama yang telah banyak mentelaah kitab Nahjul Balaghah. Mengenai pandangan Imam Ali tentang kezaliman beliau menuturkan:

"Imam Ali ibn Abi Thalib, sebagai murid utama ajaran Islam, punya perspektif tersendiri dalam hal ini. Beliau begitu sensitif terhadap kezaliman. Di banyak bagian dalam kitab Nahjul Balaghah, masalah ini sangat jelas. Antara lain beliau berkata: "Andaikan aku ditidurkan di atas duri padang pasir tanpa pakaian, atau seandainya aku dibelenggu rantai dan diseret di atas tanah, demi Allah aku bersumpah bahwa itu lebih baik daripada seandainya aku berjumpa Allah dan Rasul di hari kiamat sementara aku pernah menzalimi makhluk Allah atau aku merampas urusan-urusan duniawi."

Imam Ali, walaupun dalam seluruh medan pertempuran dikenal sangat keras, namun ketika tampil sebagai khalifah, kelembutanlah yang tampak dari beliau.

Ketika Beliau mengirim Malik Asytar ke Mesir sebagai gubernur, beliau menyampaikan berbagai pesan kepadanya agar jangan sampai dia berbuat sewenang-wenang sekecil apapun kepada makhluk Allah.

Imam Ali juga pernah berkata kepada anak-anak dan generasinya: "Jadilah kamu musuh orang zalim dan sahabat orang mazlum atau tertindas."

Menurut Imam Ali, seorang Muslim bukan saja harus menjauhi kezaliman, tapi juga harus menjadi kawan dan merasa senasib dengan seorang yang mazlum atau tertindas. Jadi menurutnya, Islam tidak membenarkan umatnya diam tak bergeming menyaksikan seseorang menjadi obyek kezaliman.

Kezaliman sangat dicela oleh Islam. Berkenaan berbagai kezaliman, Hujjatul Islam Bahman Pur mengatakan:

"Menurut Imam Ali, kezaliman ada tiga jenis; yang pertama ialah perbuatan syirik kepada Allah SWT. Kezaliman ini sama sekali tidak akan mendapat pintu ampunan Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Quran.

Jenis kedua ialah kezaliman yang dapat diampuni oleh Allah SWT dan itu ialah berbuat dosa atau ada kekurangan dalam mengerjakan perintah Allah. Dan yang ketiga ialah kezaliman yang harus dibalas atau diqisas, baik di dunia maupun di akhirat. Kezaliman dalam kategori ini tak lain adalah tindak aniaya yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Imam Ali pernah menuturkan bahwa balasan Allah sangat keras kepada orang yang berbuat zalim. Manusia yang paling sempurna dan guru kepada Imam Ali, yaitu nabi besar Muhammad SAWW, juga pernah menegaskan: "Hari dimana seorang yang mazlum atau teraniaya membalas si zalim, jauh lebih pedih ketimbang hari dimana si zalim menganiaya si mazlum."

Hujjatul Islam Bahman Pur, dalam mengomentari hal ini mengatakan:

"Kezaliman yang dilakukan kepada sesamanya sangat dikutuk oleh naluri manusia sendiri. Kezaliman semacam ini contohnya ialah tragedi besar yang menimpa warga Bosnia Herzegovina dengan dalih masalah etnis. Semua orang tahu bahwa sama sekali tak ada alasan untuk membenarkan kezaliman yang dilakukan kepada warga Bosnia. Mudah-mudahan warga dunia menaruh perhatian terhadap apa yang dituturkan oleh Imam Ali kepada putra-putri dan generasinya. Beliau berkata: "Jadilah kalian sahabat orang mazlum dan musuh orang zalim."

Wasiat Imam Ali ini bukan hanya datang dari seseorang yang berstatus pemimpin umat, tapi juga dari orang yang berhasil meraih kesempurnaan insani yang tak lupa berusaha menyirami naluri atau fitrah manusia dengan pesan ini. Kita berharap masyarakat penghuni dunia ini benar-benar meresapi dan kembali kepada fitrah mereka demi menjauhi fanatisme agama, golongan, bangsa dan etnis untuk kembali kemudian menyadari apa tugas mereka terhadap orang-orang tertindas yang dilanggar haknya tanpa ada salah dan dosa.

 

 

                  Kesabaran dan kritik

Menurut Imam Ali, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin ialah kesabaran dan ketangguhan dalam menghadapi segala kesulitan, baik kesulitan individu maupun sosial. Kesabaran, kata beliau, ibarat kedudukan kepala pada tubuh. Tanpa kesabaran, urusan akan kacau.

Dalam masyarakat Islam, seorang pemimpin tentunya memiliki tanggung jawab yang berat, harus memiliki karakter ini lebih dari yang lain. Dan orang yang kemauannya lemah dan tidak punya semangat beristiqomah, sudah pasti tidak memiliki kekuatan untuk menanggung beban perjuangan dan menghadapi segala kesulitan sosial. Karena itu orang yang sedemikian tidak layak untuk menerima tanggung jawab memimpin.

Imam Ali pernah menjelaskan masalah ini dalam khutbahnya ketika umat mendesaknya agar memegang kendali kepemimpinan. Dalam khutbah yang termuat dalam kitab Nahjul Balaghah ini, Imam Ali menuturkan: "Tak seorangpun layak memegang bendera kepemimpinan kecuali orang yang mengerti kepemimpinan, sabar, teguh dan tahu letak-letak kebenaran."

Tak dapat dimungkiri, istiqamah atau keteguhan sangat determinan dalam memenuhi kelayakan sebagai pemimpin. Karena sudah merupakan keharusan bagi seorang pemimpin untuk bersedia menghadapi problema-problema politik, ekonomi dan militer, akan tetapi perlu diingat bahwa motivasi istiqamah seorang pemimpin umat Islam tidak sebagaimana halnya sejumlah pemerintahan yang semata-mata demi tujuan materialis.

Tujuan dari hidup insan dan masyarakat manusia ialah melangkah menuju kesempurnaan insani. Untuk menempuh tujuan ini seorang pemimpin harus terlebih dahulu menjadi teladan seorang manusia yang sempurna, dan selanjutnya membawa masyarakat ke jalan Allah. Masalah ini tentunya sangat menuntut kesabaran dan keteguhan seorang pemimpin.

Satu lagi hal yang juga diamalkan Imam Ali dalam memimpin dan kemudian dipesankan kepada bawahannya ialah bersedia menerima kritik yang membangun. Dan syarat kritik yang membangun ialah didukung dengan pengetahuan dan argumen yang benar dari si pengkritik. Tanpa syarat ini, Islam tidak membenarkan melontarkan kritik kepada siapapun. Imam Ali sendiri dalam mengkritik pejabat-pejabat dibawahnya sangat konsekwen dengan syarat ini.

Selain itu, beliau juga meminta mereka agar memberikan kebebasan kepada rakyat untuk melontarkan pendapat yang sekiranya rakyat tidak segan untuk menjelaskannya.

Imam Ali dalam sebuah kalimatnya yang disampaikan kepada gubernur Malik Al Asy-tar berkata: "Ikut sertalah kamu dalam majlis-jmajlis umum. Hindarilah kesenjangan antara kamu dengan rakyat agar rakyat dapat berbicara dengan senang hati."

Sudah barang tentu, cara mengkritik juga merupakan salah satu masalah yang punya peran penting untuk menyampaikan kritik yang membangun. Jadi hak-hak untuk mengkritik semata-mata tidak cukup dalam usaha membangun segala kekurangan, melainkan juga perlu melihat situasi dan kondisi. Mengkritik dengan cara tidak benar, bukan hanya tidak membangun, malah akan menambah kesulitan. Sebagai contoh, tidak dibenarkan mengkritik seseorang di depan khalayak umum kecuali dalam kasus-kasus tertentu. Imam Ali berkata: "Nasehatmu kepada seseorang di muka umum sebenarnya adalah mencoreng harga diri seseorang."

 

 

 

 

           Imam Ali dan Nahjul Balaghah

Sementara itu, sebagai seorang ilmuan besar, muwahhid dan arif, banyak sekali pidato dan kata-kata beliau tentang ketuhanan, tauhid, ilmu-ilmu Al-Quran, kenabian, akhlak dan metode mengelola negara yang berlandaskan Al-Quran serta negara yang adil. Imam Ali A.S memilik metode tersendiri dalam mengungkapkan masalah-masalah akidah. Beliau telah menyampaikanya dalam bentuk khutbah, risalah, wejangan dan diskusi. Namun dikarenakan beliau tidak sempat menyusunya, sebagian apa yang beliau sampaikan itu hilang akibat beberapa peristiwa dan sebagian pendapat serta pemikiran beliau telah dikumpulkan dan disusun setelah beliau wafat sejak beberapa waktu yang cukup panjang. Sebagian pidato dan ucapan-ucapan beliau tentang itu semua sampai sekarang masih dapat kita baca dan kita kaji dalam kitab Nahjul Balaghah yang disusun oleh pemikir besar Islam bernama Sayyid Syarif Ridha. Begitu menakjubkan kata-kata Imam Ali dalam kitab itu, sampai-sampai ratusan ulama tertarik menyempatkan diri mengkaji dan memberikan syarah atau komentar.

Tidak ada orang yang membantah kedalaman dan keluasan ilmu beliau yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun kecuali Rasulullah SAWW. Setelah Al-Quran dan hadith Rasul, balaghah dan kefasihan beliau tidak dapat ditandingi siapa saja. Kenyataan ini diakui oleh para ulama dan para ilmuan, termasuk non-Muslim setelah menyaksikan pesona kata-kata Imam Ali dalam Nahjul Balaghah, sebuah kitab kebanggaan umat Islam khazanah warisan peninggalan manusia besar ini. Dalam kitab ini, kita bisa menyaksikan sebagian diantara sekian banyak tanda-tanda yang membuktikan betapa Imam Ali telah menghabiskan usianya dalam renungan, pengkajian dan pembahasan.

Nahjul Balaghah yang terdiri dari pidato dan ucapan-ucapan Imam Ali tersebut, meliputi berbagai macam persoalan, termasuk akidah, pengenalan terhadap Allah,alam semesta dan hukum kuasalitas, keistimewaan manusia serta kondisi berbagai umat, moral, sistem pemerintahan, sosial dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Namun dalam pidato-pidato itu, maksud utama Imam Ali bukan sekedar mengajarkan ilmu-ilmu alam atau teori-teori filsafat. Tujuan utama beliau adalah untuk mengantar manusia ke hakikat yang tinggi melalui ketajaman indera dan logika. Yaitu hakikat yang akan menggiring manusia menuju Sang Khaliq yang Maha Esa. Kitab ini dari segi kesusasteraan dan seni yang memanfaatkan lafaz-lafaz Arab, tiada tara dan tandingnya.

Beliau mengesankan seorang failasuf Ilahi terkemuka manakala beliau menerangkan masalah-masalah Tauhid dan sifat-sifat Allah. Dalam menerangkan masalah Jihad, beliau akan tampak sebagai panglima perang yang pemberani yang sekaligus sangat tajam dan terperinci dalam menjelaskan strategi perang kepada para komandan pasukan bawahannya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah ketajaman pemikiran-pemikiran beliau dalam menjelaskan dasar-dasar pemerintahan. Sehingga praktis ahli-ahli sejarah menyebutnya sebagai negarawan. Beliau juga dikenal sangat fasih berbicara mengenai rumus-rumus keterbelakangan dan kemajuan berbagai peradaban serta jalan menuju ketenteraman sosial, politik dan militer.

Syaikh Muhammad Abduh salah seorang komentator Kitab Nahjul Balaghah mengatakan: "Dalam kalimat-kalimat Imam Ali terlihat hakikat mukjizat. Tokoh besar ini, dengan kalimat-kalimatnya ada kalanya mengantar manusia ke alam supernatural dan ada kalanya pula ia menggiring perhatian manusia kepada suasana alam dunia. Keberanian dan keteguhan telah beliau kristalkan, dan ketika beliau mensifatinya, seorang yang pemberani pun akan bergetar, dan jika ia menjelaskan mengenai cinta dan kasih sayang, orang yang keras hati pun akan tersentuh."

Mengenai keagungan kitab Nahjul Balagah serta kefasihan dan kebalighan Imam Ali A.S yang tiada taranya, telah banyak dikemukakan oleh para pemikir termasuk ilmuan dan pemikir non-Muslim. Narse Sean seorang politikus Inggris ketika berbicara tentang Nahjul Balaghah mengenai Imam Ali mengatakan: "Jika sang pembicara (kalimat-kalimat di Nahjul Balaghah ini sekarang berdiri di mimbar Kufah, maka kalian akan menyaksikan wahai kaum Muslimin bahwa masjid Kufah dengan segala keluasannya akan diterjang gelombang rakyat Maroko untuk menimba lautan ilmu Ali ibn Abi Thalib."

Pesan-pesan Imam Ali A.S mengandung berbagai konsep yang sangat bermakna. Ia membukakan pintu bagi manusia menuju Allah. Seorang pengkaji beragama Kristen bernama Amin Nakhlah dalam ucapan yang disampaikannya kepada seseorang yang meminta agar memilihkan kalimat-kalimat indah Imam Ali ibn Abi Thalib yang termuat dalam kitab Nahjul Balaghah menulis dalam bukunya: "Berbinar-binar rasanya manakala ku baca lembaran-lembaran kitab Nahjul Balaghah. Namun aku tidak tahu bagaimana aku harus memilih kalimat-kalimat yang termuat dalam kitab itu. Pekerjaan ini benar-benar ibarat memilih mutiara di antara mutiara-mutiara lain. Namun akhirnya pekerjaan ini selesai juga. Tapi sebenarnya tanganku telah meninggalkan mutiara-mutiara yang lain, karena pandanganku telah dibingungkan oleh cahaya kalimat-kalimat itu. Sejumlah kalimat itu telah kupilih, dan ingatlah bahwa sinar kalimat-kalimat itu adalah cahaya dari kefasihan dan kebalighan (mudah ditangkap dan difahami serta indah) kata-kata Ali ibn Abi Thalib.

Memang mempelajarai pandangan-pandangan Imam Ali dalam berbagai masalah akan menggiring hati manusia kepada suasana alam yang sangat menakjubkan. Khotbah-khotbah beliau diakui sangat dalam dan penuh makna. Masalah akhlak dan penyucian jiwa dalam khotbah-khotbah beliau juga termasuk masalah yang paling diutamakan. Karena penataran moral sangat berperan dalam usaha membangun masyarakat yang sehat.

Menurut beliau, kejujuran adalah fokus penting dalam masalah-masalah akhlak. Bahkan beliau memandangnya sebagai salah satu tanda keimanan dan mengatakan bahwa seseorang yang jujur selalu mendapat kemuliaan dan pendusta akan jatuh ke jurang kemusnahan.

Dalam pidato Imam Ali dapat kita saksikan bahwa kejujuran adalah salah satu hal yang esensial dalam sebuah kehidupan yang sederhana dan sehat. Imam Ali A.S dalam sebuah pidatonya mengenai kehiduapan yang bahagia menjelaskan sebagai berikut:

"Betapa hinanya seseorang yang bersikap merendah di saat memerlukan dan bersikap angkuh pada saat tidak memerlukan. Memuji seseorang secara berlebihan adalah menjilat dan sebaliknya, memuji seseorang tidak dengan pujian yang semestinya adalah hasud. Seseorang yang mencari-cari kekurangan dan aib masyarakat dan menilainya sebagai keburukan, kemudian aib itu ia terima, maka orang ini tak punya harga diri. Apa yang tidak kau lakukan, janganlah kau ucapkan. Janganlah kau lakukan kebaikan hanya untuk riya' dan janganlah kau tinggalkan kebaikan hanya karena malu."

Imam Ali A.S dalam pidato-pidatonya tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap masalah-masalah manusia dan kehidupan. Setiap poin mengenai itu semua telah beliau sampaikan dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang sangat menarik.

Imam Ali pernah berpesan bahwa seseorang tidak perlu mempersoalkan kekhilafan orang lain selama tidak menggangu kemaslahatan masyarakat. Beliau juga sangat mencela "ghibah" atau mempergunjing orang lain. Imam Ali A.S. berpesan bahwa seseorang demi menjaga akhlaknya dari dosa dan noda hendaknya menyesalinya dengan segala keikhlasan kepada diri sendiri.

Dalam hal ini beliau mengatakan: "Sesalilah segala sesuatu yang menuntut penyesalanmu jika kau lakukan, karena (orang lain) tidak akan menuntut penyesalan atas perbuatan baik."

Maksud Imam Ali A.S ialah seseorang hendaknya tidak keberatan menyatakan penyesalannya jika berbuat hal yang tercela dan membuatnya malu di depan orang lain, begitu pula di depan diri sendiri. Karena ini adalah perbuatan baik, dan perbuatan baik bukan hanya tidak membuat malu seseorang, malah justru memuliakan seseorang.

Diantara masalah penting dalam Nahjul Balaghah adalah masalah hak-hak manusia dan kewajiban setiap individu dalam bermasyarakat. Imam Ali telah membahas masalah ini dalam berbagai kesempatan. Antaranya adalah mengenai hubungan timbal balik antara hak seorang pemimpin dengan rakyat.

Imam Ali A.S tidak menilai hubungan itu sebagaimana layaknya hubungan penguasa dan rakyat, sehingga seorang pemimpin punya hak mutlak untuk dipatuhi dalam arti tidak ada celah sama sekali bagi rakyatnya untuk mengkritiknya. Hubungan ini, menurut Imam Ali harus didasari rasa tanggungjawab rakyat dan para pemimpin untuk menciptakan keadilan sosial dan maslahat umum. Karena masing-masing memiliki hak dan tugas-tugas tersendiri.

Imam Ali dalam khutbahnya yang ke 34 dalam kitab Nahjul Balaghah mengatakan:

"Wahai masyarakat! Aku selaku pemimpin kalian, memiliki hak atas kalian dan kalianpun punya hak atas diriku. Adapun hak kalian atasku adalah aku harus berkhidmat demi keinginan-keinginan baik kalian. Aku harus menjalankan hak-hak kalian atas baitul-mal, aku harus mendidik kalian agar tingkat pengetahuan kalian bertambah. Dan dengan demikian kalian akan mengerti hak yang kumiliki atas kalian, yaitu kalian harus menepati janji yang pernah kalian berikan kepadaku, baik didepanku atau tidak, jadilah kalian orang yang baik. Berilah respon yang positif jika aku menyeru kalian untuk mengerjakan sesuatu, dan janganlah kalian berusaha untuk berkelit."

Dalam pidatonya yang lain, Imam Ali pernah mengingatkan bahwa seorang pemimpin hendaknya tidak menanti pujian dan penghargaan dari masyarakat atas tugas-tugas yang telah ia laksanakan. Imam Ali juga berpendapat bahwa rakyat hendaknya bisa meletakkan posisinya sebagai penasehat pemimpinnya dan tidak perlu takut atau segan menyampaikan kritik bila kebijaksanaannya perlu dikritik. Dalam hal ini, beliau berkata:

"Janganlah kalian berkata kepadaku seperti kata-kata yang biasa disampaikan kepada orang yang zalim. Janganlah kalian keberatan menjelaskan kebenaran sebagaimana kebenaran disembunyikan di depan masyarakat yang murka. Janganlah kalian menjilat dan berlagak didepanku. Yakinlah bahwa perkataan yang hak bagiku adalah sangat berharga."

 

 

 

 

   Pandangan-pandangan Imam Ali A.S.

Musyawarah dalam kebudayaan Islam termasuk satu di antara masalah yang diutamakan. Karena dengan sistem musyawarah dalam masyarakat, kemungkinan berlakunya sistem diktator dapat dibendung. Pada dasarnya, salah satu hal yang harus menjadi ciri-ciri masyarakat Islam ialah adanya tukar pikiran atau musyawarah dalam menangani berbagai urusannya. Namun perlu diketahui bahwa anjuran-anjuran Islam agar umat membiasakan musyawarah bukanlah pada hukum-hukum yang sudah jelas ketentuannya.

Nabi besar Muhammad SAWW tidak pernah bermusyawarah mengenai hukum atau taklif yang sudah ditentukan oleh wahyu. Karena tugas Rasul saat itu bukan bermusyawarah, melainkan menjelaskan dan memerintah agar umat melaksanakannya.

Adapun hal yang ditekankan Al-Quran dan Islam agar umat membiasakan bermusyawarah ialah musyawarah dalam hal pelaksanaan serta urusan-urusan kemasyarakatan. Dalam surah Ali-Imran ayat 159 Allah SWT berfirman:

Artinya: "Bermusyawarahlah kamu dengan masyarakat dalam urusan itu."

Kata-kata suruhan atau perintah dalam ayat tersebut tidak benar jika dianggap mencakup masalah hukum yang sudah jelas dalam Islam. Karena hukum atau taklif yang sudah jelas, bukan lagi disebut suruhan yang berarti urusan, melainkan disebut ketentuan atau kewajiban.

Dalam Islam, seorang Waliyul Amr atau pemimpin urusan umat, selain harus menjauhi kediktatoran dan menghargai pendapat orang lain, juga harus independen dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini telah diajarkan kepada kita dalam kitab Nahjul Balaghah yang terdiri dari pidato dan mutiara hikmah Imam Ali ibn Abi Thalib.

Abdullah ibnu Abbas, salah seorang alim dan pemikir Islam yang sangat dekat dengan Imam Ali suatu hari berdiskusi mengenai suatu masalah yang bersifat teoritis. Sebagaimana kebanyakan paka pemikir, dia mengharap Imam Ali mengambil kesimpulan sesuai dengan pendapatnya. Namun Imam Ali menjawab: "Kamu berhak mengutarakan pendapatmu kepadaku. Namun penalaranku ternyata tidak dapat menerimanya. Karena itu lebih baik kamu menerima pendapatku dan mentaatinya."

Maksud kata-kata beliau ialah: "Aku menyambut pandangan dan pendapatmu dan aku telah mencernanya secermat mungkin. Namun jika pendapatmu tidak logis, maka kamu jangan mengharap aku akan menerimanya. Dan sebaliknya kamu harus patuh kepada pendapat seorang pemimpin umat yang sesuai dengan logika dan syari'at. Dengan demikian, sekalipun kita harus menghargai pendapat orang lain, namun kita hanya bisa menerimanya jika pendapatnya didasari argumentasi yang logis. Karena itulah Imam Ali pada kesempatan lain berkata kepada Muhammad ibn Hanafiah: "Sejajarkanlah pendapat-pendapat rakyat dan pertimbangkan satu dengan yang lain. Lalu pilihlah mana yang mendekati kebenaran dan jauh dari keraguan."

Perlu diketahui, sebagian musyawarah merugikan pemimpin, dan itu ialah bermusyawarah dengan orang yang sengaja menjadikan musyawarah sebagai kedok untuk melicinkan tujuan-tujuan politik kotornya. Karena itulah Imam Ali dari satu sisi menekankan agar masyarakat berani mengemukakan penilaiannya mengenai kepemimpinan beliau. namun dari sisi lain beliau menolak tegas jika ada tokoh masyarakat yang dengan niat buruk mencoba membujuk beliau agar mengangkatnya sebagai penasehat, dan dalam menjawab hal ini beliau berkata:

"Demi Allah, sebelumnya aku tidak berminat dan tidak merasa perlu untuk menjabat sebagai khalifah. Kalianlah yang mendesakku agar aku bersedia menjabatnya. Aku mentelaah Al-Quran manakala aku menjabat sebagai Khalifah. Aku melaksanakan setiap apa yang telah ia perintahkan. Sunnah Nabi juga aku perhatikan dan aku taati. Karena itu aku tidak memerlukan pendapatmu atau orang lain. Aku tidak merasa terbentur oleh satu persoalan yang tidak kuketahui hukumnya sehingga aku harus bermusyawarah dengan kalian. Jika aku terbentur oleh itu, ketahuilah aku tidak akan keberatan."

Satu poin lagi yang perlu diperhatikan dalam soal musyawarah ialah usaha menghindari pendapat-pendapat yang tidak berdasar. Dalam hal ini kami ingin sampaikan satu kisah mengenai Imam Ali ibn Abi Thalib.

Suatu hari Imam Ali bersama pasukannya sedang menunggang kuda menuju Nahrawan. Tiba-tiba salah seorang sahabatnya menghampiri beliau sambil membawa seorang pria. Kemudian dia berkata kepada beliau: "Wahai Amirul Mukminin, pria ini adalah ahli nujum dan dia ingin berbicara dengan anda. Kemudian pria itu berkata: "Wahai Amirul Mukminin! saat ini anda jangan bergerak. Pikirkanlah sejenak. Berhentilah dahulu, dan setelah satu atau dua jam berlalu baru anda bergerak."

Imam Ali takjub mendengar ucapan pria itu, karena itu beliau segera bertanya sebabnya. Ahli Nujum itu menjawab: "Posisi bintang memberi tanda bahwa siapapun yang bergerak menghadapi musuh saat ini akan mengalami kekalahan serta kerugian yang berat. Tapi jika anda bergerak pada saat seperti yang saya sebutkan tadi anda akan beruntung dan mencapai tujuan."

Imam Ali menjawab: "Apakah anda mengaku sebagai orang yang mengetahui setiap peristiwa pada alam semesta ini dalam setiap saatnya. Tidak, tak seorangpun tahu hal ini. Hanya Allah yang mengetahuinya."

Sejurus kemudian, beliau berkata kepada pasukannya: "Janganlah sekali-kali kalian terbawa oleh khurafat semacam ini." Kemudian beliau menatap langit dan berdoa serta bertawakkal kepada Allah. Setelah itu, beliau berkata kepada Ahli Nujum: "Kami akan mengerjakan tidak seperti yang anda katakan. Kami akan segera bergerak." Maka bergeraklah beliau untuk berperang melawan musuh dan sejarah mencatatnya hari itu beliau meraih kemenangan.

 

 

 

                     Moralitas Perang

Islam memandang usaha memperbaiki masyarakat sebagai masalah yang primer. Pada tahap pertama Islam menyerukan kebenaran melalui nasehat. Namun jika cara ini ternyata membentur jalan buntu, dengan kala lain, nilai-nilai Ilahi tidak dapat diwujudkan ditengah-tengah masyarakat, sementara benturan itu akan menimbulkan bahaya besar bagi Islam, maka tidak bisa tidak perjuangan senjata harus dilakukan.

Islam adalah agama yang berlandaskan akidah dan iman, dan hanya menyerukan perang terhadap pihak-pihak yang zalim, menolak argumentasi yang kongkrit serta memerangi umat Islam. Karena itulah perang dalam Islam sama sekali tidak dimaksudkan untuk memamerkan kekuatan atau memapankan posisi Taghut. Dalam hal ini Islam sangat menekankan perlunya memperhatikan prinsip-prinsip kecintaan sesama manusia. Untuk itu, jihad harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan khusus yang telah diajarkan oleh Allah SWT.

Dalam Islam Jihad merupakan satu ibadah yang sangat menuntut kesediaan untuk berkorban segalanya. Dalam hal ini tentunya niat seseorang memainkan peranan penting. Dengan kata lain, amal baik manusia hanya harus dimaksudkan untuk menyatakan keikhlasan dan kejujuran di depan Allah SWT.

Mengenai Jihad Imam Ali pernah berkata: "Jihad adalah salah satu pintu dari pintu sorga, yang mana Allah hanya membukanya untuk para kekasih tertentuNya. Jihad adalah pakaian takwa dan benteng kuat Allah. Allah SWT mencela orang yang meninggalkan masalah penting ini. Allah berfirman: "Maka bagi orang yang menjauhi dan meninggalkan jihad, Allah menimpakan kepadanya kehinaan dan bencana. Dan karena Allah mencabut rahmatnya dari orang itu, maka orang itu akan tertimpa bencana, dan karena ia tidak bersedia pergi untuk berjihad dan mementingkannya, maka ia akan jauh dari jalan Allah, ia akan berjalan menuju kebatilan dan tidak akan mendapat keadilan."

Berbicara tentang sejarah Imam Ali dalam peperangan merupakan kesempatan bagi kita untuk mengingat tujuan-tujuan suci Islam berkenaan dengan perang beserta tatakramanya. Namun, sebelumnya kita perlu mengingat bahwa Islam menyeru agar peperangan dicegah jika itu bisa dilakukan dengan segenap upaya. Akan tetapi karena cita-cita dan tujuan Ilahi dan kemanusiaan dalam Islam selalu bertolak belakang dengan fenomena syirik, kufur dan nifak, maka tidak bisa tidak masalah peperangan harus dibicarakan. Dari peninjauan ini, falsafah dari peperangan para eksploitir masyarakat manusia dengan para nabi dan ajaran-ajaran Ilahi yang memperjuangkan keagungan manusia dan keadilan akan menjadi jelas.

Rasulullah SAWW selama 23 tahun masa kenabiannya, telah banyak menanggung berbagai beban dan derita. Gangguan dan penentangan musuh terhadap Rasul dikenal sangat keras, sampai-sampai Rasul dengan tegas mengeluarkan perintah perang kepada umat Islam. Sebagaimana diketahui, Islam membawa pesan perdamaian, persahabatan dan membangun akidah tentang keesaan Allah dan keagungan manusia. Atas dasar inilah, Rasul tak henti-hentinya berusaha menghindari perang. Namun karena ternyata nasehat yang muncul dari lidah beliau tidak mempan untuk sebagian umat manusia, maka beliau terpaksa angkat senjata membela kebenaran. Karena itulah tujuan terakhir dari jihad dalam Islam haruslah berlandaskan perjuangan untuk menjunjung tinggi martabat manusia, membawanya ke arah pembentukan masyarakat yang bertauhid, menegakkan keadilan dan membasmi syirik dari ruang kehidupan.

Disebutkan bahwa Rasulullah pernah berkata kepada para pengikutnya: "Aku sangat senang apabila kalian datang kepadaku bersama-sama masyarakat yang simpati terhadap Islam jika kalian hendak berkonsultasi tentang perang." Dari ucapan Rasul ini kita bisa melihat bahwa Islam tidaklah membenarkan peperangan kecuali untuk memperjuangkan akidah keesaan Zat yang patut disembah dan menciptakan tatanan umat yang benar-benar Islami. Dengan tujuan itu, maka perang melawan musuh merupakan tugas yang suci dan dapat mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Imam Ali dalam hal ini pernah menuturkan: "Wahai umat Islam! Bersiap-siaplah bergerak ke arah musuh, karena jihad melawan mereka akan mempermudah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para musuh yang berupaya memusnahkan kebenaran telah menginjak-injak kitab dan agama Allah.... Karena itulah dengan segala kemampuan yang kalian miliki, siapkanlah tentara untuk berperang, dan bertawakkallah kepada Allah karena Dialah sebaik-baik penolong."

Dalam kitab Nahjul Balaghah, topik perang mendapat perhatian tersendiri. Tentunya perspektif Imam Ali tentang perang tak lepas dari perspektif Islam yang beliau pelajari dari gurunya, Nabi Besar Muhammad SAWW. Selama 12 tahun, berkali-kali beliau mengangkat pedangnya yang terkenal yaitu Zulfikar di sisi Rasulullah SAWW. Beliau tampil di medan laga bersama Rasul.

Peperangan di zaman Rasul adalah peperangan melawan kaum Musyrikin dan Kuffar yang jelas-jelas mengingkari Al-Quran dan Islam. Namun, perang Imam Ali paska era Rasul adalah perang melawan kaum Munafikin atau orang-orang yang lihiriyahnya saja Islam, namun batinnya melecehkan Islam. Kaum Munafikin jauh lebih berbahaya ketimbang kaum Musyrikin dan Kuffar, karena mereka ibarat duri dalam daging.

Berbagai peperangan yang mana Imam Ali terlibat di dalamnya merupakan peperangan yang sangat mulia. Dalam peperangan itu terlihat jelas perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dalam ucapan dan tindakan Imam Ali tergambar jelas hakikat bahwa manusia Muslim bertanggungjawab atas kondisi seluruh umat manusia. Seorang Muslim harus memberantas kebodohan, menggantikan kekacauan dengan ketertiban, kezaliman dengan keadilan. Rakyat harus dibebaskan dari beban penindasan. Semua ini harus direalisasikan kendati harus dilakukan dengan jalan perang.

Tujuan Imam Ali dalam berbagai peperangan itu, tak lebih dari usaha melindungi orang-orang yang teraniaya, serta membasmi kezaliman, menyebarkan keadilan, kemerdekaan dan singkatnya demi menampilkan Hak.

Imam Ali sama sekali tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang. Sebelum perang berkobar, beliau senantiasa mengadakan negosiasi yang beliau hadir sendiri atau melalui wakilnya. Jika pihak lawan tidak bersedia menghadiri negosiasi, beliau mengirim surat untuk membuka dialog. Dalam dialog melalui surat itu, adakalanya beliau sampaikan berbagai nasehat. Beliau ingatkan akan keberadaan Tuhan, hari Qiamat serta akibat dan risiko pahit dari peperangan, baik fisik maupun mental.

Semua itu beliau lakukan untuk mendapat bukti-bukti yang konkrit sejauh mana perang bisa dihindari atau sebaliknya harus dilakukan. Beliau selalu dalam posisi menanti selama pihak musuh belum mengangkat pedang. Beliau juga tak lupa menasehati pasukannya agar tenang dan mampu menguasai emosi.

Namun jika musuh mulai menyerang atau menginjak-injak kehormatan Islam dan kaum Muslimin, maka toleransi bagi beliau sudah tak layak lagi untuk dipertahankan. Beliau turun langsung dikancah perang dan menjelaskan kepada tentaranya segala taktik perang. Beliau juga berpesan kepada mereka agar jangan sampai menyerang kaum wanita, kanak-kanak dan orang-orang tua dari pihak musuh. Menurut beliau, tak perlu memburu musuh yang lari dari perang. Jangan sampai mencemari sumber-sumber air dengan racun dan segala yang dapat merusaknya. Tanaman juga jangan dibakar. Jika musuh menjatuhkan pedangnya ke tanah dan siap melakukan damai, maka hentikan perang, dan yang paling penting adalah mengingat bahwa Allah tak henti-hentinya memperhatikan kita dalam segala kondisi.

Dalam salah satu peperangan, musuh pernah membendung aliran air agar tidak mengalir ke arah pasukan Imam Ali. Namun setelah beberapa lama perang berlangsung, pasukan Imam Ali berhasil mendesak musuh dan menguasai aliran air tersebut. Sudah barang tentu musuh membayangkan bahwa Imam Ali akan membalas perbuatan mereka yaitu membendung air. Namun bayangan itu ternyata meleset. Beliau mencegah musuh dalam bentuk apapun untuk menggunakan air. Beberapa sahabat beliau meminta agar perbuatan musuh itu dibalas, namun Imam Ali malah berkata: "Jangan ...! Biarkan mereka dengan bebas mengambil air. KIita tidak akan melakukan perbuatan orang-orang jahil. Tugas kalian hanya menyampaikan Islam dan Al-Quran kepada musuh dan membimbing mereka ke arah jalan yang benar. Jika mereka menerima maka perang akan berakhir, jika tidak, maka sesuai dengan ketentuan Allah, kami akan mengganjar mereka dengan pedang."

Dalam kitab Nahjul Balaghah, khutbah ke 27, beliau menjelaskan tujuan dari perangnya sebagai berikut:

"Ya Allah ya Tuhan kami! Engkau tahu bahwa kami berperang bukan untuk memburu kekuasaan dunia, melainkan untuk mengembalikan agamaMu yang sirna dari permukaan. Kami ingin melakukan perbaikan di permukaan bumiMu, agar hamba-hambaMu yang teraniaya dapat meraih kedamaian dan agar hukum-hukum Islam yang terlalaikan dapat dilaksanakan kembali."

Sementara itu, dalam ucapan Imam Ali nomor 253 di Kitab Nahjul Balaghah, beliau juga memohon pertolongan kepada Allah sebagai berikut:

"Ya Allah! kepada Engkaulah kalbu-kalbu ini berpacu, leher-leher menjulur, mata-mata terbuka, kaki-kaki melangkah, tubuh-tubuh lelah karena taat kepadaMu."

Maksud Imam Ali dari ucapan ini ialah bahwa sesungguhnya kami datang menghadapMu dengan segala wujud kami.

Kemudian beliau melanjutkan: "Ya Allah! Tampak sudah rasa permusuhan, mendidih sudah kebencian dalam dada-dada. Ya Allah!..... kami mengadu kepadaMu atas ketiadaan Rasul, banyaknya musuh kami dan pecah belahnya pendapat kami. Ya Rabbi!.... Hakimilah kami dengan kebenaran, dan Engkau adalah sebaik-baik Hakim."

Semua ucapan tadi menunjukkan bahwa motivasi gerakan beliau tidak lain adalah memberlakukan hukum-hukum Ilahi dan mencari keridhaan Allah SWT. Imam Ali sangat memperhatikan nilai-nilai Ilahi dalam peperangan. Sampai-sampai masalah yang terkecilpun tak luput dari perhatian beliau agar tujuan-tujuan agungnya jangan sampai terusik.

Dalam sejarah Islam, dicatat sebuah kisah terkenal tentang pertarungan sengit beliau dengan Amr ibn Abdi Wud, seorang gembong kuffar yang dikenal sangat handal dalam peperangan. Setelah sekian lama bertarung dengan Imam Ali, dia tampak sangat terdesak dan bahkan untuk memenangkan duel yang disaksikan Rasul dan para sahabatnya. Imam Ali hanya tinggal mengayunkan pedangnya ke arah Amr ibn Abdi Wud. Namun dalam keadaan yang sedemikian rupa itu, Amr ibn Abdi Wud ini masih tidak segan-segan mengeluarkan perkataan yang menghina Imam Ali, dan bahkan sempat meludah ke wajah Imam Ali. Mendapati itu perasaan Imam terbakar, namun beliau membiarkannya dan tetap bersabar untuk tidak membunuhnya. Setelah beberapa lama kemudian baru Imam Ali menghabisi nyawa orang yang terkutuk itu.

Peristiwa ini sangat mengesankan orang-orang yang menyaksikannya. Beliau ditanya mengapa beliau sedemikian sabar, padahal musuh telah berlebihan menghina beliau. Imam Ali menjawab: "Pedang kuhujamkan hanya demi kebenaran dan mencari keridhaan Allah SWT. Aku marah ketika dia menghinaku sedemikian rupa, karena itu seandainya saat itu juga aku membunuhnya, maka tindakanku tidak memiliki nilai-nilai Ilahi. Karena itu akhirnya aku berputar-putar untuk beberapa waktu di medan pertempuran agar amarahku reda, baru setelah itu aku menyerang dan menghabisi nyawanya."

Tentara-tentara Islam harus lebih komitmen dengan prinsip dan nilai-nilai moral, karena tujuan mereka tak lain adalah menegakkan nilai-nilai yang patut diagungkan. Tahzibunnafs atau penyucian jiwa dan menghindari berbagai jenis penyimpangan adalah satu diantara pesan yang harus dipatuhi oleh tentara Islam sebelum memasuki medan pertempuran. Disebutkan bahwa perang melawan hawa nafsu merupakan jihad yang lebih besar daripada jihad melawan musuh di medan perang.

Jika mereka komitmen dengan prinsip-prinsip moral, maka akan tercipta hubungan batin yang kuat di tengah-tengah tentara Islam. Dengan itu, maka hubungan antara komandan perang dengan anak buahnya tak lain adalah hubungan batin dan kemanusiaan. Karena mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu kebaikan dan kebahagiaan manusia serta memerangi musuh.

 

 

 

 

 

 

              Pandangan cedekiawan tentang

                            Imam Ali A.S

Ibnu Abil Hadid, salah seorang ulama besar yang amat terkenal, mengenai Imam Ali dalam mukaddimahnya untuk mengomentari kitab Nahjul Balaghah yang berisi khutbah-khutbah dan kata-kata mutiara Imam Ali menuliskan: "Apa yang bisa aku katakan mengenai figur Imam Ali yang sebenarnya, sementara musuh-musuh beliau sekalipun tidak bisa mengingkari keutamaan dan keistimewaan beliau. Mereka semua mengakui bahwa Imam Ali adalah figur yang paling istimewa. Apa yang bisa aku katakan tentang beliau yang semua jenis keutamaan wujud pada diri beliau. Para pemeluk agama non-Islam yang mentelaah kepribadian beliau menaruh kecintaan kepada beliau, dan bahkan para filsuf non-Muslimpun menjujung tinggi beliau. Nama Ali dan kenangan-kenangan beliau ibarat haruman kesturi yang tetap akan menebarkan aroma wangi kendati ditutupi bagaimanapun juga. Dia ibarat cerahnya hari yang jika seseorang tidak melihatnya, orang lain pasti akan menyaksikannya. Dalam keutamaan dan kesempurnaan, tak satupun sampai pada derajat kaki beliau. Dan siapa saja yang mencapai suatu derajat keilmuan dan fadilah yang tinggi setelah beliau, pasti ilmu dan fadilah itu berasal dari beliau. Jejak beliaulah yang diikuti oleh orang-orang itu. Cara beliaulah yang dicontoh."

Syaikh Muhammad Abduh seorang ulama terkenal Mesir dan pernah menjabat sebagai Rektor di Universitas Al-Azhar. Beliau juga punya syarah atau komentar terhadap kitab Nahjul Balaghah. Tentang bagaimana beliau mengenal Nahjul Balaghah beliau menuturkan:

"Karena takdir dan secara tidak sengaja, saya mengenal kitab Nahjul Balaghah. Saya dapati kitab ini sebagai santapan ruhani dan jalnan untuk mengatasi berbagai kesedihan saya. Karena itu berbagai bagian dari kitab ini telah saya renungkan dengan cermat. Setiap kali satu bagian saya lewati, saya benar-benar merasakan adanya perubahan topik dan masalah-masalah baru. Dari topik-topik yang begitu tinggi dan dikemas dengan ungkapan-ungkapan yang sangat indah, adakalanya saya merasa berada di alam yang besar. Ungkapan-ungkapan itu ditujukan kepada hati dan batin-batin yang cerah agar jalan yang benar dapat direntangkan kepadanya. Ungkapan-ungkapan itu sangat berharga, sampai-sampai sanggup membawa ruh seolah-olah terpisah dari alam materi menuju alam malakut."

Antara lain dia pernah menuliskan: "Setiap kali saya mentelaah kitab Nahjul Balaghah bab demi bab, saya merasa tabir pembicaraan datang silih berganti dan arena-arena nasihat dan hikmatpun berubah. Diantara para ilmuan, ahli bahasa dan sastera Arab, tak seorangpun yang menyangkal kebesaran Imam Ali. Setelah Kalamullah dan hadith Rasul, kata-kata Imam Ali-lah yang paling agung, punya metode terbaik dan paling mengandung arti dan makna."

Faktor yang terpenting dari kebesaran pribadi Imam Ali selain dari kefasihan dan kebalighan (memilih kata yang tepat dan mudah), ialah kedekatannya dengan Rasul. Terutama karena sejak hari-hari pertama pengutusan nabi, Imam Ali termasuk pengikut setia Rasul. Dimasa itu, beliau banyak mengenal ajaran-ajaran wahyu. Karena itu, wujud beliau sarat dengan ajaran-ajaran Ilahi.

Ahmad Zaini, sejarawan masyhur Mesir dalam bukunya yang berjudul Imam Ali ibn Abi Thalib menulis: "Khutbah-khutbah Imam Ali yang penuh hikmah itu ibarat curahan air dari jalur yang paling dekat dan seiring dengan jiwa manusia serta dengan mudah dapat menyerap ke hati insan. Imam Ali sejak masa kanak-kanak di pelihara di rumah Rasul. Beliau besar di rumah Nubuwwah, ayunan hikmah dan sumber keutamaan. Beliau selalu bersama Rasul hingga detik-detik Rasul menutup mata meninggalkan dunia. Imam Ali temasuk penulis besar dan juru tulis wahyu yang diterima Rasul. Dia menghafal Al-Quran dengan baik."

Menurut ibarat Khatib Khawarizmi, seorang sasterawan dan ilmuwan Muslim terkenal: "Ali ialah seorang yang tenggelam di dalam ibadah di mihrabnya ketika malam hari, dengan khusyu disertai deraian air mata; akan tetapi, berdiri tegak bagai singa padang pasir, membela Islam dan Muslimin ketika siang hari. Beliau menjauhkan diri dari harta baitul maal sekecil apapun. Ali adalah penghancur berhala-berhala di atas Ka'bah; dimana beliau memanjatnya dengan naik ke atas bahu Rasulullah SAWW."

Ustadz Muhammad Taqi Ja'fari, seorang ulama dan failasuf besar Islam, ketika berbicara tentang pengaruh pribadi-pribadi besar seperti Imam Ali A.S di dalam masyarakat menulis: "Masalah pengaruh seseorang di dalam masyarakat, baik Islam ataupun bukan Islam, bukan masalah kekuasaan. Oleh karena itu, di dunia ini, walaupun secara fisik, kekuasaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam masyarakat, akan tetapi orang-orang yang memiliki kekuasaan tersebut, tidak bisa tampil sebagai panutan dan tauladan, apalagi sebagai pemimpin dimana petunjuk-petunjuknya akan ditaati dengan sepenuh hati. Orang-orang seperti Jengis Khan atau Hitler, ketka mereka telah menciptakan kehancuran di dalam masyarakat, tanpa membuat suatu ide atau langkah-langkah yang bermanfaat bagi masyarakat tersebut, maka mereka itu tak lain bagaikan banjir bandang yang merusak segala apa yang diterjahnya. Di samping orang-orang yang demikian itu, ada pula orang-orang yang telah tercatat di dalam sejarah bahwa di dalam masyarakat, mereka telah melakukan hal-hal yang manusiawi; sehingga kadang-kadang bisa juga dikatakan bahwa mereka itu merupakan penentu atau subyek sejarah kehidupan manusia pada zaman mereka dan setelah mereka. Mereka ini adalah orang-orang yang telah mengumpulkan sifat-sifat utama di dalam diri mereka; bahkan mereka telah mengorbankan kehidupan mereka demi kebahagian; dan setiap manusia dapat menikmati manfaat dari ilmu pengetahuan mereka. Ali A.S berada di antara orang-orang yang demikian itu."

Pada kesempatan lain Ustadz Muhammad Taqi mengatakan: "Rasa cinta adalah sebuah watak manusiawi yang tinggi, yang bisa dilihat pada setiap manusia. Pada manusia-manusia biasa, rasa cinta akan berubah seketika menjadi rasa benci, hanya karena pihak yang ia cintai itu berbuat suatu kesalahan yang kadang kecil-kecil saja. Akan tetapi bagi manusia besar dan mulia yang menjadi obyek cintanya ialah esensi atau Dzat manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, apa pun yang dilakukan oleh seseorang, maka cinta orang ini kepada seseorang itu tidak akan berubah menjadi kebencian kepada pribadi. Hal ini bisa dilihat di dalam diri Imam Ali A.S. Ketika perang Siffin, pasukan Muawiyah yang menguasai bagian atas atau arah hulu sungai Furat, telah berbuat sedemikian rupa sehingga menghalangi pasukan Imam Ali untuk menggunakan air sungai itu. Akan tetapi ketika posisi berubah dan pasukan Imam Ali A.S berhasil menempati bagian atas sungai dan pasukan Muawiyah berada di bagian bawah sungai, Imam Ali A.S memerintahkan pasukannya untuk membiarkan pasukan Muawiyah untuk menggunakan air sungai.

Demikian pula ketika pembunuh Imam Ali A.S berhasil memukulkan pedang beracunnya kepada beliau. Maka beliau mengatakan kepada putranya, yaitu Imam Hassan A.S dengan mewasiatkan bahwa jika beliau meninggal, maka bunuhlah orang itu, tetapi tanpa menyiksanya.

Demikianlah, bahkan terhadap musuh-musuh beliau. Beliau tidak memperlakukan mereka berdasarkan kebencian pribadi. Tetapi semuanya beliau lakukan demi menjalankan ajaran-ajaran Islam.

Syibli Syamil, seorang pemikir non-Muslim mengatakan: "Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin, pembesarnya para pembesar, adalah seorang tokoh yang abadi, dimana tidak barat dan tidak timur, tidak masa lalu dan tidak masa kini, semuanya tidak akan mampu melahirkan manusia yang setara dengannya. Beliau adalah manusia langka yang telah menggabungkan kekuatan dan keadilan sebagai sifat-sifat beliau yang menonjol."

Pribadi-pribadi semacam ini, walau semua orang berusaha menghapus keagungan nama mereka dari lembaran sejarah, maka usaha tersebut akan mengalami kegagalan. Sebab, manusia-manusia semacam ini, wujud mulia mereka merupakan jembatan bagi manusia lain untuk menyeberang menuju kepada kemuliaan. Ucapan-ucapan Amirul mukminin Ali ibn Abi Thalib A.S sesuai dengan keperluan-keperluan manusia, dan merupakan penyembuh berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan manusia di dunia saat ini.

Doktor Qasim Habib, seorang penulis Muslim terkenal dalam sebuah pendahuluan untuk salah satu bukunya mengatakan: "Aku persembahkan buku ini kepada mereka yang hidup ditengah-tengah kaum fakir miskin, namun tetap bersemangat memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Aku sajikan buku ini untuk pemimpin yang pandai mempertemukan sikap-sikap lemah lembuh dengan ketegasan dan kasih sayang dengan disiplin. Aku suguhkan buku ini kepada si pengabdi zuhud yang menghabiskan malamnya utnuk ibadah dan siangnya untuk puasa, dan akhirnya aku persembahkan buku ini kepada Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib yang selalu teguh terhadap nilai-nilai kebenaran, keadilan, kebajikan dan kasih sayang."

Demikianlah pernyataan Doktor Qasim Habib. Pernyataannya ini mengingatkan kita bahwa Imam Ali adalah pribadi yang kaya dengan nilai-nilai yang amat mempesona. Tokoh legendaris Islam ini memiliki keperibadian yang amat sulit untuk ditiru orang lain, yaitu pribadi yang mempertemukan sifat-sifat terpuji, namun secara lahiriyah tampak saling bertentangan, seperti contoh-contoh yang disebutkan oleh Qasim Habib. Ibadah beliau penuh dengan ratapan dan rintihan, namun di medan laga beliau umpama singa kelaparan menyaksikan musuh-musuh Islam. Tak satupun musuh yang tidak tumbang menghadapi beliau. Sekalipun beliau sebagai Khalifah Islam, namun beliau mempunyai pekerjaan yang amat bersahaya seperti buruh dan tani.

Thomas Carlael, filsuf Inggris pernah berkata mengenai Imam Ali demikian: "Mahu tidak mahu, kita telah dibuat cinta kepada Imam Ali. Betapa dia adalah seorang kesatria besar dan punya karakteristik yang tinggi. Hati nuraninya telah menjadi sumber yang mengalirkan kasih sayang dan kebajikan. Dia seorang yang pemberani, namun keberaniannya larut dengan kasih sayang dan kelembutan hati."

Dibagian lain ia menulis: "Kami tidak sanggup menahan kata-kata kami untuk memuji dan menyanjung Ali. Dia adalah kesatri besar dan agung. Dia adalah sumber rahmat, ihsan serta manifestasi sebuah kebesaran, keberanian dan kelembutan. Slogan kesatria religius ini tak lain adalah keadilan."

Fuad Jordac seorang penulis beragama Kristen mengatakan: "Setiap kali kesulitan datang di dalam kehidupan saya, maka saya berlindung dengan Ali A.S, sebab beliau adalah penolong setiap orang yang terkena musibah. Beliau adalah sumber makrifat dan hikmah. Bagi orang-orang dzalim beliau bagaikan petir yang menyambar, sedangkan bagi kaum tertindas, beliau adalah pelindung yang sangat penyayang."

George Jordac seorang cendikiawan Nasrani Libanon. Ia telah banyak mengkaji sejarah hidup Imam Ali bin Abi Thalib. Antara lain ia pernah mengungkapkan perasaannya sebagai berikut:

"Wahai zaman, andaikan dengan segala kekuatanmu..... Wahai jagat raya, andaikan dengan segala kesanggupanmu engkau bisa menciptakan sosok pahlawan besar, maka sekali lagi ciptakan manusia seperti Ali, sebab zaman memerlukan orang seperti Ali."

Dalam bukunya yang berjudul "Imam Ali: Gema keadilan Insani" antara lain ia menuliskan: "Setelah Al-Quran, kata-kata Ali adalah contoh balaghah yang paling tinggi. Dan balaghah Ali senantiasa berguna bagi peradaban manusia. Dan sungguh bukan suatu yang berlebih-lebihan bila di dunia sekarang, mereka yang menyulut api peperangan dan menajdi faktor kesengsaraan bangsa-bangsa perlu menyimak kata-kata Ali ibn Abi Thalib. Mereka perlu menghapalnya."

Dibagian lain buku ini ia menulis: "Menjauhi kezaliman adalah salah satu prinsip ruh dan karakter Imam Ali. Prinsip ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Imam Ali secara keseluruhan... Ali bukanlah jenis orang yang bicara kemudian mengamalkan, melainkan apa yang beliau katakan berpangkal dari apa yang selalu beliau perbuat....."

Dalam buku ini, George Jordac tidak menjelaskan sejarah seorang individu atau abad tertentu, dan dia menghindari fanatisme golongan untuk menentang golongan lain. Dia adalah seorang budayawan yang rajin meneliti berbagai persoalan dan pandangan. Ketika itulah dia melihat pemikiran Imam Ali sebagai sangat berharga. Dia mencoba memperkenalkan Imam Ali kepada kita untuk mengajarkan nilai-nilai baru manusia. Buku yang diterbitkan pada tahun 1958 ini sempat menarik perhatian tokoh-tokoh Islam baik dari kalangan Ahlussunah maupun Syiah. Selain bukan itu, ia juga menulis buku lain tentang Imam Ali berjudul "Keajaiban Nahjul Balaghah".

George Jordac lahir di Libanon Selatan dari keluarga Nasrani. Keluarganya sangat tertarik dengan masalah-masalah kebudayaan, sastera dan berbagai masalah-masalah ilmiyah. Menariknya, walaupun menganut agama Nasrani, mereka sangat menaruh perhatian terhadap Imam Ali ibn Abi Thalib. Tentang ini Jordac menulis:

"Ayah dan ibuku sangat mecintai Imam Ali. Selain itu kakakku yang berstatus insinyur besar dan ahli sastera telah membiasakan aku sejak kecil dengan syair-syairnya yang menyanjung tinggi Imam Ali. Dia berkali-kali memberiku motivasi untuk membaca Al-Quran dan kitab Nahjul Balaghah."

"Ketika aku keluar dari sekolah, atau lebih tepatnya kabur dari sekolah, di bawah pohon aku sering menghapal surah Al-Quran dan berbagai khutbah serta pesan-pesan Imam Ali. Karena itu, bagaimana mungkin aku tidak menulis sesuatu mengenai Nahjul balaghah. Mentelaah karya-karya para penulis terkemuka mengenai Imam Ali juga telah memicu semangatku untuk menulis buku tentang Nahjul Balaghah dalam hal-hal yang belum sempat ditulis oleh orang lain."

Henry Corbin, filsuf Perancis mengungkapkan pernyataan sebagai berikut setelah mentelaah kitab Nahjul Balaghah: "Setelah Al-Quran dan hadith Rasul, Nahjul Balaghah adalah kitab yang paling penting."

Seorang pakar Timur Tengah asal Belgia bernama Lamens juga pernah mengkaji kehidupan Imam Ali. Dia mengatakan: "Untuk keutamaan Ali, cukup kiranya bilamana berita dan sejarah keilmuan Islam bersumber dari Imam Ali. Dia adalah memori yang menakjubkan. Ulama-ulama Islam bangga bila perkataannya bersanad kepada Imam Ali. Sebab kata-kata beliau merupakan argumen yang mematikan dan dialah pintu kota ilmu."

Jubran Khalil Jubran, seorang penulis beragama Nasrani mengatakan: "Ali adalah jiwa universal yang telah menggemakan senandung keabadian di cakrawala Jazirah Arab. Namun karena figur yang lebih besar dari masanya, maka masyarakat saat itu tidak tahu siapa dia dan tidak bisa mencerna kata-katanya.... Ali telah meninggalkan dunia, sementara dunia menyaksikan keagungannya..."

Seorang penulis Nasrani bernama Michael Naimah menyampaikan kekagumannya terhadap Imam Ali ketika memberi kata pengantar untuk buku George Jordac demikian:

"Kehidupan tokoh-tokoh besar bagi kami merupakan sumber kehidupan yang tak akan kering dari pesan, pengalaman, iman dan harapan.... Kami tidak pernah mengenal putus asa walaupun untuk satu hari karena kemenangan terakhir orang seperti Ali ibn Abi Thalib dan orang-orang yang menelusuri jalan mereka dalam kehidupan selalu menyertai semangat kami pada setiap waktu, walaupun jarak ruang waktu dan tempat memisahkan kami dengan mereka. Saksi yang terbaik dari pernyataan ini ialah buku yang tengah anda pegang ini. Karena kitab ini telah menjelaskan kehidupan salah seorang pribadi besar yang lahir di tanah Arab. Namun ke-Araban tidak bisa dikatakan sebagai telah mempengaruhinya, dan walupun Islam telah mendidihkan sumber keutamaannya, namun dia bukan hanya untuk Islam. Kalau hanya untuk Islam, bagaimana mungkin kehidupannya yang membanggakan itu bisa membangkitkan ruh seorang penulis Nasrani di Libanon pada tahun 1956."

Sulaiman Kattani, juga seorang penulis beragama Nasrani banyak mengkaji sejarah hidup Imam Ali. Dalam menyifati kepribadian Imam Ali, antara lain ia menulis:

"Iman dan takwa adalah dua mata air jernih yang pernah bergolak di hati beliau dan mengalir dari lisan beliau. Kebenaran dan keadilan adalah dua tanda keindahan yang peranannya berhasil beliau goreskan dalam wujud beliau. Beliau selalu memperindahkan kata-kata penjelasannya kepada orang-orang, namun pada saat yang sama beliau juga sanggup mengasah pedang untuk mereka."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                  Surat Amirul Mukminin

                   kepada Malik Al-Asytar

Antara yang sempat terekam dalam sejarah sebagai realita yang menyingkap keagungan Imam Ali A.S adalah surat-suratnya yang kebanyakan berupa instruksi kepada para gubernurnya. Imam Ali selalu mengingatkan bagaimana mereka harus bersikap di depan masyarakat dan bagaimana mereka harus memelihara kekayaan dan kehormatan bangsa Islam.

Dalam surat-surat itu, pesan-pesan Imam Ali sama sekali tidak mengesankan gaya seorang atasan terhadap bawahannya. Beliau lebih suka memilih etika seorang ayah dalam menasehati anak-anaknya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan kegetiran. Segalanya beliau sampaikan dengan ungkapan yang diwarnai kasih sayang dan kecintaan.

Dalam sejarah kita membaca bahwa pada masa pemerintahan Imam Ali A.S, beliau pernah mengangkat seorang sahabat setia beliau yang bernama Malik Al-Asytar untuk menjadi gubernur di Mesir. Bersamaan dengan pengangkatan tersebut, Imam mengirimkan pula sepucuk surat kepada Malik Al-Asytar yang berisi pesan-pesan dan petunjuk yang sangat bersejarah, mengandung banyak sekali hal yang patut diperhatikan terutama oleh para pemegang kekuasaan di dalam masyarakat.

Dalam pesan tertulis ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib A.S sangat menekankan pendidikan dan pembinaan mental dan akhlak para penguasa; karena tidak diragukan lagi, bahwa kelayakan para pelaksana undang-undang lebih penting dari pada undang-undang itu sendiri. Pengalaman menunjukkan bahwa adanya undang-undang yang terbaik sekalipun, tidak dengan sendirinya dapat menjamin kebahagian masyarakat. Harus ada pula para pelaku yang baik bagi undang-undang tersebut. Kitapun yakin bahwa jika undang-undang Ilahi dilaksanakan oleh para pelaksana yang Ilahi pula, maka umat manusia akan mampu mencapai kebahagiaan yang sebenarnya.

Pada kalimat-kalimat pembuka pesan tertulis ini, Imam Ali A.S menyebut diri beliau sebagai hamba Allah. Beliau berkata: "Ini adalah pesan seorang hamba Allah, Ali bin Abi Talib, kepada Malik Al-Asytar ...........

Dengan menyatakan diri sebagai hamba Allah, Imam Ali A.S mengingatkan bahwa penulis pesan ini adalah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang selalu mentaati perintah-perintahNYA dan yang telah menjadikan penghambaan diri kepada Dzat yang Haq sebagai jalan hidupnya. Program dan perintah-perintah yang telah sampai ke tangan Malik Al-Asytar, berkenaan dengan pengaturan negeri Mesir, bukan hasil pemikiran dan keinginan-keinginan pribadi Ali ibn Abi Talib.

Dalam pengertian Imam A.S, seorang hamba Allah ialah orang yang tidak pernah terpengaruh oleh faktor-faktor penyimpang dari jalan kemanusiaannya. Hamba Allah ialah orang yang menyakini bahwa Allah-lah yang menguasai kehidupan dan kematian manusia, dan hanya perintah dan larangan-Nyalah yang ia jalankan, dan tak ada kekuatan lain baginya di atas kekuasaan Allah SWT.

Dengan kalimat pembuka yang demikian itu, Imam Ali A.S mengingatkan Malik Al-Asytar bahwa jika engkau seorang hamba Allah, tentulah pangkat dan kekuasaanmu ini tak akan membuatmu lali. Sedangkan jika engkau tidak merasa sebagai hamba-Nya, dan tidak peduli bahwa Allah selalu melihatmu dimanapun engkau berada dan akan menghitung setiap perbuatanmu; maka engaku pasti akan tersesat. Imam Ali A.S adalah seorang yang selalu meletakkan seluruh kekuasaan dan kemuliaan beliau di dalam penghambaan diri kepada Allah SWT. Dan dengan kalimat yang demikian itu, secara tidak langsung beliau menasehati Malik Al-Asytar agar demikian pula hendaknya.

Pada kalimat-kalimat pertama di dalam pesannya untuk Malik Al-Asytar, Imam Ali A.S mengatakan: "Hendaklah Ia (Malik Al-Asytar) bertaqwa kepada Allah dan mendahulukan ketaatan kepada-Nya, serta mengikuti apa yang Ia perintahkah di dalam kitab-Nya, baik yang wajib atau yang sunnah; dimana tak ada kebahagiaan bagi seseorang kecuali dengan mengikutinya; dan tidak akan celaka seseorang kecuali dengan mengingkari dan meninggalkannya. Dan hendaklah ia membela Allah dengan hati, tangan, dan lidahnya. Sesungguhnya, Ia yang Maha Agung Nama-Nya telah berjanji akan membela orang yang membela-Nya dan memuliakan orang yang memuliakan-Nya."

Di dalam pesan beliau ini, beberapa kali Imam Ali A.S menasehati Malik Al-Asytar untuk bertakwa, menjaga akhlak mulia dan mengendalikan hawa nafsu. Kita semua tahu bahwa jika masyarakat suatu negeri merasakan bahwa para pemimpin mereka adalah orang-orang yang bertakwa, maka mereka akan menjalani hidup di dalam masyarakat tersebut dengan perasaan aman dan tenteram sehingga dapat melangkah dengan cepat ke arah tujuan-tujuan yang tinggi dan mulia. Sebaliknya jika para pemegang kendali pemerintahan adalah orang-orang yang tidak bertakwa dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, maka hal itu akan mengakibatkan masyarakat menjadi berpecah-belah, dan perasaan aman serta tenteram pun akan hilang dari kehidupan masyarakat.

Dalam pesannya yang lain, Imam Ali menuturkan: "Janganlah sekali-kali engkau terpisah dari rakyat dalam jangka waktu yang lama. Karena hal itu akan menyebabkan semacam keterbatasan dan kekurangan informasi dalam berbagai urusan. Jauhnya seorang pemimpin dari rakyat akan menyebabkan masalah yang besar dipandang kecil dan masalah yang kecil dipandang besar oleh masyarakat. Persoalan yang baik, dipandang buruk dan persoalan yang buruk dipandang baik. Maka terjadilah kerancuan antara batil dengan hak."

"Seorang pemimpin juga tak lebih dari seorang manusia. Setiap masalah yang ditutup-tutupi oleh rakyat, jelas seorang pemimpin tidak akan mengetahuinya."

Sudah barang tentu, pertemuan langsung antara seorang pemimpin dengan rakyat jika dilakukan dengan sangat terbatas, maka keterbatasan informasi dan jarak antara dia dengan rakyat akan semakin meningkat, atau dia akan mudah percaya dengan informasi-informasi yang terbatas. Dan tentunya pula informasi semacam ini tidaklah mencukupi untuk mengelola urusan masyarakat. Karena itulah seorang pemimpin atau orang yang dibebani tanggung jawab, harus menjalin hubungan yang dekat dengan masyarakat semaksimal mungkin dan menyusun pentadbiran setertib mungkin.

Seorang pemimpin atau seorang yang dibebani tanggung jawab, haruslah seorang yang memiliki personalitas yang bersih. Semua ini ditujukan agar rakyat dapat memperoleh semangat rohani ketika mereka berjumpa dengan pemimpinnya.

Pertemuan langsung antara pemimpin dengan rakyat, khususnya mereka yang memerlukan, selain akan membuat sang pemimpin mengetahui problematika masyarakat, juga akan membuatnya turut merasakan, dan pada gilirannya, ia tidak akan melalaikan masyarakat. Memang, di abad moderen ini, kegiatan dan tugas seorang pemimpin semakin menumpuk dan tampak merebut kesempatan seorang pemimpin untuk mengadakan pertemuan yang sepenuhnya bersifat bermasyarakat. Namun inipun tak dapat dijadikan alasan untuk memutus hubungan dengan rakyat.

Seseorang yang menduduki jabatan, dapat menerima banyak informasi penting dengan cara memilih orang-orang dikenal jujur dan memiliki kredibilitas yang tidak diragukan. Untuk ini, dia harus mempertahankan hubungannya dengan masyarakat.

Disamping itu, agar rakyat benar-benar dapat menyampaikan pendapatnya dengan gamblang, jelas dan wajar, seorang pemimpin hendaknya menciptakan situasi yang sekiranya rakyat dapat dengan mudah menyuarakan tuntutan-tuntutannya. Dan jika seorang pemimpin berhasil mengatasi atau memenuhi permintaan mereka, tidak semestinya dia menuntut balas budi, dan hendaknya apa yang telah dia berikan disertai dengan hati lapang dan niat yang tulus. Jika ternyata dia tidak sanggup memenuhi apa yang diperlukan mereka, maka hendaknya dia menyatakan dengan cara yang terbaik agar tidak terjadi pikiran-pikiran buruk pada orang yang membetulkannya.

Imam Ali A.S dalam pesannya mengenai pentingnya hubungan dengan masyarakat juga mengatakan:

"Sisihkan waktumu untuk orang-orang yang memerlukanmu. Adakan kontak dengan mereka secara pribadi. Berikanlah mereka izin secara umum untuk duduk bersama denganmu. Dalam majlis dimana engkau duduk bersama dengan rakyat ini, bisa kau jadikan tanda kerendahan dirimu di depan Allah yang menciptakanmu. Selain itu, ketika majlis ini dibentuk, hendaknya engkau menghindarkan para penjagamu dari bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat, agar mereka dapat bertutur kata dengan bahasa dan ucapan leluasa tanpa sedikitpun rasa takut.

Din Parwar seorang guru dan pengkaji Islam, berkenaan keistimewaan pesan Imam Ali kepada Malik Al-Asytar menuturkan:

"Pesan Imam Ali ini sangat penting. Seluruh undang-undang pemerintahan yang diperlukan masyarakat tertera disitu. Antara lain ialah masalah pajak yang harus diambil dari masyarakat. Juga masalah kelembagaan yang harus dibentuk untuk menghadapi musuh. Rakyat kata beliau merupakan tonggak dalam masyarakat dan sebelum segala sesuatunya, yang harus diperbuat untuk rakyat ialah mendidik dan membina mereka. Masyarakat Islam haruslah merupakan masyarakat yang makmur dan jangan hanya dipupuk dengan persoalan-persoalan spiritual, melainkan harus disertai pula dengan pemupukan semangat untuk memenuhi keperluan-keperluan materi yang pada gilirannya akan memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan mereka."

"Imam Ali dalam beberapa kalimatnya itu telah menjelaskan secara padat program-program pemerintahan. Kemudian beliau terangkan secara rinci. Menarik sekali saat Imam Ali menyusun program-program tersebut. Beliau membagi masyarakat menjadi beberapa kelompok. Sebagian pegusaha, sebagian lain aktif dalam urusan militer. Ada yang menangani urusan administrasi dan lain sebagainya. Masing-masing mereka berhak menerima gaji dan ini menurut beliau perlu diperhatikan."

 

 

 

 

 

 

 

          Kesyahidan Amirul Mukminin

              Imam Ali ibn Abi Thalib

Pada tanggal 21 Ramadhan, Imam Ali ibn Abi Talib, manusia suci yang memiliki keperkasaan batin dan jasmani menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah dua hari sebelumnya, pedang manusia Munafik dari kaum Khawariz menghujamnya saat menunaikan solat Subuh. Pada malam 19 Ramadhan, Imam Ali yang masih belum terlepas dari tanggung jawabnya ditengah-tengah masyarakat sebagai Amirul Mukminin, membawa kantung kurma dan roti terakhirnya ke rumah yatim piatu, lalu beliau kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan dirinya larut dalam munajat kepada Allah SWT. Kisah ini dilanjutkan Allamah Al-Qunduzi dalam kitabnya Yanabi'ul Mawaddah sebagai berikut:

"Di malam kesyahidannya, Imam Ali seringkali keluar rumah, menatap langit dan berkata: "Demi Allah aku tidak berkata bohong, dan mereka (Rasul dan Malaikat) tidak pernah berdusta kepadaku. Sesungguhnya malam ini adalah malam yang pernah mereka janjikan."

Sampai satu saat, adzan subuhpun menggugah kesenyapan malam. Imam Ali dengan langkah perlahan menuju masjid. Sesampainya di masjid, tatapan Imam Ali sempat tertuju pada Ibnu Muljam yang terlelap dalam tidurnya. Beliau membangunkannya, kemudian melangkah memasuki mihrab dan memulai solat subuhnya. Di belakang beliau tampak barisan-barisan jemaah yang begitu teratur, dan kali ini kewibawaan wajah Imam Ali menyeret perhatian dan perasaan orang-orang yang hadir disekitarnya.

Sesuai dengan ketentuan solat jemaah, para makmun mengikuti segala gerakan solat Imam Ali. Para makmum melakukan ruku' ketika beliau ruku' dan bersujud ketika beliau sujud. Namun ketika sampai pada sujud itu, seseorang yang berada di belakang Imam Ali tampak belum menjatuhkan kepalanya untuk sujud. Tangannya disembunyikan di balik pakaiannya. Seketika kemudian, tampak kilauan cahaya berkelebat di dinding. Imam Ali masih tenggelam dalam suasana ubudiyah. Cahaya itu adalah kilauan pedang yang kemudian terangkat dan tanpa di duga pedang itu menghujam ke arah kepala Imam Ali. Imam Ali tersungkur. Dahinya pecah bersimbah darah. Pedang itu dihujamkan oleh Ibnu Muljam, lelaki yang dibangunkan Imam Ali di masjid dari tidurnya.

Ibnu Muljam di tengah hiruk pikuk masyarakat segera ditangkap. Ketika itu suara Imam Ali terdengar dari mihrab. Dari mulutnya terdengar suara ayat suci Al-Quran yang artinya: "Kamu telah kami ciptakan dari tanah dan akan kami kembalikan ke tanah dan akan kami bangkitkan kembali dari tanah."

Tiga hari kemudian, Imam Ali manusia yang paling berhasil menarik pelajaran dari Rasulullah ini menghembuskan nafasnya yang terakhir Beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan beribadah.

Setelah peristiwa syahidnya Imam Ali A.S, dikisahkan bahwa suatu hari Saudah putri Ammar bin Yasir, sahabat Rasul, mendatangai Muawiyah, penguasa pertama dari Bani Umaiyah. Karena wanita ini dikenal sebagai pendukung Imam Ali sepenuhnya, maka Muawiyah langsung menyambut kedatangannya dengan makian dan amarah. Kemudian Muawiyah bertanya apa maksud kedatangan Saudah. Namun Saudah malah menjawab: "Allah SWT pasti akan mengazab penguasa yang tidak memperhatikan hak-hak hamba Allah. Memilih gubernur yang berbuat aniaya kepada rakyat pasti akan mendapat murka Allah. Sekarang engkau telah menetapkan gubernur yang berkuasa atas kami, dimana laki-laki kami dibunuh dan harta kami mereka rampas, karena itu turunkan dia dari jabatannya. Jika tidak kami akan bangkit. Mendengar ucapan ini, Muawiyah marah dan berkata: "Kamu menakut-nakuti aku dengan kabilahmu, sekarang aku kirim kamu ke gubernur itu dan terserah dia mau melakukan apa saja yang dia suka kepadamu."

Saudah terdiam seketika. Dia teringat sebuah peristiwa yang sangat membekas dalam batinnya. Dan secara spotan dia mengucapkan kata-kata: "Sungguh, karunia Allah tercucur kepada jiwa suci yang sekarang berbaring dalam kubur dan dengan ketiadaannya, keadilan turut terkubur dalam bumi. dia adalah penegak kebenaran dan hak, kebenaran olehnya tidak digantikan dengan apa saja. Hak dan iman telah dipadukan dalam satu tempat."

Mendengar ucapan ini, Muawiyah kebingungan. "Kamu berbicara tentang siapa?" tanya Muawiyah. "Tentang Imam Ali" jawab Saudah. "Aku teringat suatu saat dimana aku pergi mengadap kepadanya untuk mengadukan tentang ulah para amil zakat. Ketika aku tiba, beliau dalam keadaan siap untuk memulai solat. Akan tetapi beliau mengurungkannya saat beliau melihat kedatanganku, dan dengan ramahnya beliau bertanya maksud kedatanganku. Ketika aku jelaskan pengaduanku, air mata menggenang di kelopak matanya. Beliau berkata: "Ya Allah engkau tahu dan menyaksikan bahwa sama sekali aku tidak pernah memberi perintah kepada para petugasku agar mereka berlaku aniaya kepada hamba-hambaMu." Setelah itu Imam Ali langsung menangani pengaduanku dan memecat para petugas pengumpul zakat yang terbukti berlaku aniaya.

Dari kisah ini, kita bisa lihat betapa pekanya Imam Ali terhadap tindak sewenang-wenang. Karena itulah, tujuan utama dari pemerintahan Imam Ali ialah menegakkan keadilan dan membela hak manusia. Bagi beliau, pemerintahan dalam Islam merupakan sebuah media yang harus diolah demi mewujudkan nilai-nilai Ilahi dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, orang yang duduk sebagai pejabat pemerintahan Islam, haurs mengerahkan segenap upayanya dalam melayani masyarakat. Inilah Imam Ali. Beliau hanya akan puas menyaksikan sebuah masyarakat bila disitu harta, jiwa, citra dan kewibawaan setiap individu benar-benar dilindungi agar setiap orang bisa menikmati ketenangan dan ketenteraman serta segala tugas individu dan sosial dapat ditunaikan sepenuhnya.