2 MACAM KESAKSIAN ATAS KEBENARAN

 

Sepatah kata untuk Saudara-2 penganut agama Hindu, Kristen, Yahudi dan Buddha.

Dalam hukum sejarah yang baru maka adalah suatu fakta yang diakui bahwa "Dokumen itu merupakan kesaksian yang lebih tinggi nilainya dibanding lisan dan tidak  bisa dikalahkan oleh saksi atau sumpah". Kini, pertimbangkanlah dengan diterangi oleh hal ini, komposisi Ilahi dan kesaksian tertulis yang merupakan warisan dari para nabi, rishi dan vakshur yang suci. Setiap orang percaya bahwa orang-orang suci ini tidak pernah membuat pernyataan dusta demi tujuan keduniawian atau ambisi. Mereka di atas orang-orang biasa, sedemikian, sehingga banyak dari mereka disembah sebagai dewa atau inkarnasi atau putera Tuhan. Mereka meniupkan kehidupan bagi jutaan orang mati dan para penganutnya tidak lupa menyebut namanya sebelum mensucikan dirinya sendiri. Jiwa-jiwa besar ini telah meramalkan kedatangan seorang nabi yang agung. Maka keimanan kepada nabi ini jadi adalah kepatuhan serta pasrah kepada kemauan dari nabi-nabi dan rishis mereka sendiri. Sungguh suatu kebetulan yang aneh dan harus dipertimbangkan baik-baik oleh para penganut dari semua agama dan bahkan bagi mereka yang tidak mempercayai satu pun dari agama - betapa segenap nabi yang tinggal di tempat yang jauh di pojok dunia dan sangat jauh dari Arabia, ribuan tahun sebelumnya, telah memberikan berita gembira akan datangnya seorang nabi yang agung. Dan itu bukanlah, seperti ramalan tentang Isa Almasih, yang hanya merupakan sepotong berita, tetapi ini mempunyai argumen dan bukti yang terang sebagai pendukungnya. Tangan Tuhan juga terlihat bergerak memihak itu serta kemenangan langit yang luar-biasa, yang adalah di atas kemampuan manusia, yang menyertainya. Hendaklah segenap orang bijak dan para pahlawan di dunia merenungkan hal ini. Seorang lelaki yang buta terhadap huruf serta ilmu pengetahuan duniawi, tidak mengetahui agama-agama lain, membuat suatu deklarasi yang tak seorang pun pernah melakukan sebelumnya, dan hari ini para penafsir agama mengungkap kebenaran ini dan membenarkan apa yang telah diucapkan berabad-abad sebelumnya. Hari ini telah terbukti bahwa para nabi yang muncul satu dengan yang lain adalah seperti mata rantai. Juga bisa dilihat bahwa pelbagai nabi yang muncul di negeri-negeri yang berbeda, yang ditujukan kepada pelbagai bangsa dan berbicara dengan macam-macam dialek telah membuat suatu nubuat, ribuan tahun sebelumnya, aka kedatangan seorang nabi yang merupakan dia yang dijanjikan bagi segala bangsa. Dunia mengetahui bahwa nabi yang diceriterakan itu dengan semua tanda yang menyertainya telah muncul. Dan akhirnya hendaknya juga dipertimbangkan bahwa dia membawa sebuah risalah yang unik dalam menegakkan perdamaian serta rasa senasib buat semua bagian umat manusia dan ini merupakan satu-satunya pemecahan bagi masalah dunia saat ini.

Beberapa karakteristik dari nubuat atas Nabi Suci.

Mukjizat dan nubuatan seperti risalah para nabi, berlangsung hanya untuk suatu masa, dan hanya terbatas kepada masing­masing Kitab Suci dari suatu kaum. Jadi ramalan tentang Isa Almasih dan Ilyas didapati dalam kitab-kitab nabi Israil dan tak terdapat dalam Kitab Suci agama lain. Jika secara kebetulan suatu rujukan tentangnya didapati dalam agama lain, maka itu tidak bernilai, karena, sesuai dengan keyakinan Kristiani maka wahyu Ilahi itu hanya dikaruniakan kepada para nabi Bani Israil. Inilah sebabnya mengapa kita dapati dalam Alkitab, nubuatan tentang Kristus yang hanya dibuat oleh para nabi Israil dan tiada yang lain. Dari semua nabi, hanya Nabi Muhammad sendiri, yang ramalannya dibuat dalam semua Kitab Ilahi oleh segenap nabi.

Ciri lain dari nubuatan yang diadakan tentang Nabi Suci yalah bahwa kita menemukan di dalamnya seringnya disebutkan kekuatan Ilahi, kemenangan langit dan kesaksian dari ilmu serta pendidikan; sedangkan dalam hal nabi-nabi lainnya hanya menyebutkan sedikit fakta menyangkut kehidupan sehari-hari. Namun, dalam hal Muhammad, ini dicatat sehingga bahkan hal-hal yang mustahil pun menjadi mungkin baginya dan dalam banyak peristiwa kedatangannya malah dianggap sebagai kehadiran Tuhan itu Sendiri. Perkara yang mustahil bagi manusia adalah lebih dari mungkin bagi Tuhan, dan karena Nabi Suci itu diberi pertolongan Ilahi di setiap langkahnya dan Tangan Tuhan bekerja di fihaknya, maka kemunculannya secara kiasan disebut sebagai munculnya Tuhan.

Beberapa Konvensi penting tentang Nubuatan.

Siswa dari setiap cabang ilmu dan kesenian harus mengingat konvensi tertentu dan perkara yang disepakati menyangkut disiplin ilmu yang ingin dipelajari atau dicapai. Seorang artis bebas menggambar suatu perjalanan yang panjangnya berkilometer dengan hanya secarik kertas; untuk menggambarkan permukaan yang mulus tidak hanya panjang dan lebarnya melainkan juga tinggi dan dalamnya. Seorang pematung bisa membuat suatu patung  tanpa warna atau gerak. Umumnya kita terbiasa dengan konvensi semacam itu sehingga kita tidak berkebaratan atasnya, bila tidak maka nasib kita seperti kisah orang Amerika yang keberatan kenapa fotonya hanya menampilkan satu bagian saja dari wajahnya. Ada juga beberapa konvensi yang kebetulan, seperti halnya seorang pematung dalam menaikkan patungnya, dengan memberi penyangga. Begitu pula, ada konvensi tertentu mengenai nubuat. Kita hitung beberapa di antaranya:

1. Nubuat: istilah yang digunakan dalam teologi adalah dalam pengertian yang ketat. Ini berarti ilmu-masa depan dan ramalan atas peristiwa di masa mendatang meskipun hal itu seringkali diterapkan kepada perkara tersembunyi baik  di masa lalu maupun di masa yang akan datang yang tidak dapat diketahui dengan cahaya akal yang alami. Pengetahuan ini haruslah supernatural dan dihembuskan oleh Tuhan. Ini adalah cahaya Ilahi dimana Tuhan mengungkapkan perkara yang di atas daya nalar ciptaan alami. Nubuat ini diberikan terutama untuk kebaikan sesamanya. Tak pelak lagi naskahnya tidak selalu jelas dan eksplisit. Nubuatan yang dijumpai dalam Alkitab, baik itu untuk `Isa atau pribadi yang lain, adalah tanpa rincian. Beberapa darinya penuh dengan ambiguitas dan membutuhkan penafsiran dan komentar. Akibatnya ialah bahwa  pengertiannya tetap tersembunyi dari orang awam, dan para cendekiawan pun juga tak dapat memahaminya kecuali dengan konteks khusus atau setelah kenyataan yang sebenarnya muncul dan tafsiran pribadi dari nabi yang dijanjikan, siapa yang sesungguhnya yang dimaksud. Dan sesuai dengan pandangan Kristiani, seringkali bahkan orang yang dimaksudkan oleh ramalan itu tidak dimenegrti oleh mereka. Demikianlah maka Yahya menolak bahwa dia adalah Ilyas, padahal Isa dengan jelas menyatakan bahwa tiada lain Yahya adalah Ilyas yang dijanjikan (Lukas 1:17, Mattesu 11:14, 17:12).

Baik ramchandra maupun Parsurama adalah inkarnasi Tuhan sebagaimana yang dipercayai kaum Hindu tetapi karena tidak dikenal satu sama lain, mereka bertengkar.

2. Nama yang digunakan dalam nubuat itu biasanya bukan namanya yang asli tetapi gelarnya. Ini karena di mata Tuhan, nilai seseorang itu sesuai dengan kualitasnya, jasa pribadinya dan gelarnya serta tidak berkaitan dengan nama dirinya. Tuhan memperbanyak sarana untuk mengalirkan wahyu-wahyu ini, suatu saat Dia menggunakan kata-kata, pada lain tempat dengan lambang, bayangan, persamaan, dan kadang-kadang kata-kata serta lambang bersama-sama. Kita temukan nama asli Kristus adalah Yesus, tetapi tak ada satu nubuat pun dalam Kitab-kitab Suci sebelumnya yang menyebut nama Yesus. Tak diragukan lagi bahwa ada ramalan yang menyebut Almasih dan ini disebabkan Almasih itu adalah nama kualitas dari Yesus, nabi agama Kristen.

3. Bahasa dalam nubuatan  itu sering-kali satu hari berarti satu tahun (Yehezkiel 4:6):
 "Aku menentukan bagimu satu hari untuk satu tahun".

Dan terkadang seribu tahun dalam perhitungan kita manusia:

"Dan sesungguhnya satu hari menurut Tuhan dikau seperti seribu tahun menurut  perhitungan kamu" (Quran Suci 22:47). Di antara agama Hindu, begitu pula, tahun dari Brahma dan Pitrees adalah berbeda lamanya dibanding perhitungan manusia biasa (Manu 1:66-73). Dan satu tahun serasa hanya sehari dalam Kitab Suci agama Majusi.(Fargard 3:40.2).

4. Suatu nubuat ditafsirkan seperti sebuah mimpi. Dalam istilah Weda itu adalah rahasya atau rahasia. Kata-kata mempunyai arti mereka yang biasa, tetapi mereka juga bisa digunakan sebagai kalam ibarat. Seperti halnya kepala yang arti harfiahnya adalah suatu bagian dari tubuh, namun  itu bisa digunakan dalam arti kepala sekolah, angkatan perang, daya aliran air, sehamparan gandum, palu, perkumpulan, dan seterusnya. Seseorang bisa dikatakan sebagai ujung tombak atau langit-langit secara kiasan.(6).

5. Tidak hanya nama perseorangan tetapi juga nama negeri dan tempat yang disebut dalam nubuat juga adalah gelarnya. Misalnya "Yerusalem" bisa berarti Mekkah dan bahkan untuk Islam itu sendiri.

Begitu pula 'Ayodhya' (Yang tak terkalahkan) dalam Kitab Weda berarti Mekkah, dimana perang duharamkan dan bukan berarti 'Ayodhya' India yang selalu berganti-ganti penguasanya. Cabang buah almond yang ditunjukkan kepada Yeremiah tidaklah menunjuk pada buah itu sendiri, melainkan itu khususnya dimaksudkan untuk mewakili namanya yakni 'Shaqed' (penuh kewaspadaan). Kewaspadaan yang penuh dari Ilahi, yang tidak memungkinkan kalimah Ilahi itu tidak tergenapi (Yeremiah 1:11).

Adalah salah bila mengatakan bahwa Isaiah percaya bahwa pada akhir zaman bukit Sion secara fisik akan mengatasi semua bukit di dunia ini (Isaiah 2:2).

6. Bila dalam beberapa kitab yang diwahyukan kita menemukan suatu nubuatan yang dua-wajah mengenai pribadi yang sama kita hendaknya hanya mengambil satu dari dua aspek itu. Karena Kitab-kitab ini ada di tangan non-Muslim, adalah sangat mungkin bahwa mereka telah  mencampurinya agar supaya ramalan itu menjadi kurang jelas maknanya. Selanjutnya adalah melawan kebenaran dari buku itu sendiri bila dia memberikan dua fakta yang bertentangan tentang pribadi yang satu dan sama orangnya.

7. Setiap bagian dari nubuat yang bertentangan dengan nalar dan pengetahuan yang nyata tidak layak dipertimbangkan.

8.  Bagian-bagian dari nubuatan yang penuh dengan mitos akan diterima hanya sepanjang mereka ditunjang dengan fakta-fakta nyata.

9. Nubuatan atas kedatangan yang kedua kalinya dari seorang nabi akan berarti munculnya pribadi yang lain tetapi dengan semangat dan kekuatan nabi yang bersangkutan. Inilah bagaimana Isa menerangkan kedatangan kedua-kalinya dari Ilyas. (Lukas 1:17).

Seperti itu juga Krishna berkata:

 "Kami membuat diri kami sendiri muncul melalui pribadi yang lain sepanjang diperlukan"(Gita 4:7).

10. Dalam nubuat, maka nama, tempat dan tahun kedatangan dari orang itu tentang siapa suatu nubuat diadakan tidaklah secara gamblang dinyatakan, karena, keimanan kepada para nabi itu lebih atau kurangnya bersifat seperti 'beriman kepada yang gaib'. Bila kenabian dari setiap nabi itu begitu jelas dan tergelar, maka tak ada pahalanya bagi mereka yang menerimanya, sebagaimana tak ada ganjaran bagi yang percaya kepada matahari yang setiap mata bisa melihatnya dengan jelas. Kedua, berfikir mendalam dalam keagamaan dan penyelidikan atas rahasia yang tersembunyi, mempertajam kecerdasan manusia, dan inilah tepatnya apa yang diinginkan Tuhan agar dilakukan oleh makhluk yang rasional. Ketiga, selalu ada kiasan, perumpamaan, dan pembicaraan dengan gambaran dalam bahasa-bahasa yang berbeda, dan hal itu telah menambah ambiguitas dari nubuatan. Selanjutnya, tidak ada catatan mengenai keadaan geografis dan historis dari macam-macam negeri, inilah kesulitannya, di samping kerja penelitian, untuk menemukan orang yang dimaksudkan oleh nubuatan itu. Akhirnya, juga terdapat hal lain yang bertanggung-jawab besar atas ambiguitas dari ramalan -- yakni, kebencian dari penganut suatu kitab yang disandangnya terhadap agama dan suku lain. Suatu kaum yang menganggap dirinya bangsa yang terpilih dan anak-anak Tuhan tidak akan pernah mentolerir, di samping begitu jelasnya ramalan dalam kitab mereka, untuk meyakini kebenaran dari nabi yang lain. Dus Bani Israil menolak beriman kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w. karena beliau adalah non-Israili. Malahan mereka berusaha sebisa mungkin untuk mencampur-aduk nubuat tentang kedatangan Nabi Suci dan membuatnya menjadi temaram.

Jadi, seperti halnya Alam yang mendekap keindahannya secara tersembunyi hingga dia melepaskan harum dan kemilaunya, dengan cara yang sama, permata nubuatan ini juga tetap tersembunyi dalam cangkang kerang mutiara yang mengamankannya dari melapuknya waktu sama seperti cangkang yang mengamankannya dari gelombang yang bertubi­tubi dari samudera.

 


 

6. Psalms 118:22, Ephesians 2:20, Psalms 144:2.

7. Bandingkan Surat Paulus kepada Jemaat di Galatia 4:25, dengan Hagai 2:9.