MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI HINDU

 

MUHAMMAD DALAM KATA SINGKATAN
MISTIK DARI KITAB SUCI HINDU.
(2/4)
 

Pengucapan dan inti-sari dari 'Om'.

Telah dinyatakan bahwa 'Om' adalah sari-pati dan inti dari Weda. Pembacaan Weda dimuali dengan intonasi kata singkatan 'Om', dan ditutup dengan 'Om shanti', yakni Om-damai dan aman tenteram (atau: Islam). Tetapi 'Om' menjadi suatu kata rahasia lagi untuk alasan lain - yakni, pengucapannya yang tepat dan benar. Bagaimana itu bisa digumamkan dengan mulut, ditulis di atas kertas atau dibaca? Dan apakah nalarnya serta pentingnya?

Ada lima cara berbeda dalam menulis serta empat dalam membacanya. 'Om' memiliki banyak arti yang berbeda, dari mana tak satu pun yang bisa dirinci dan didefinisikan. Sebagaimana dinyatakan di atas, 'Om' diucapkan dalam empat macam cara; (1) a-o-ma (2) oma (3) a va ma (karena akarnya adalah av dan bukan o) (4) Ong. Dari titik pandang Literascripta 'Om' juga ditulis dalam lima bentuk yang berbeda. Dari ini, bentuk pertama dan kelima adalah yang paling kuno dan otentik. Bentuk ketiga dimana disispkan bilangan 3 sebelum M, adalah asli penemuan dari Arya Samaj. Dalam bentuk kelima, suatu diagram matahari digambarkan, dan 'Om' seperti dalam (1) dituliskan di dalamnya. Bentuk ini bisa ditelusuri sebagai yang paling tua antik-nya, dan yang paling penting serta otentik.

Dalam menghormati pentingnya dan nasehatnya 'Om' mempunyai banyak arti yang tidak bisa dihubungkan satu sama lain.(7). Akar  dari mana 'Om' , dikatakan berasal dari av, yang berarti memberikan keselamatan dan perlindungan. Karenanya, arti 'Om' adalah dia yang melindungi. Tetapi dari penelitian atas Upanishad itu kelihatannya bahwa 'Om' tidak ada kaitannya dengan tata bahasa serta lexicon. Ini adalah suatu gabungan dari tiga huruf yang berbeda, masing-masing mempunyai arti khusus sendiri. Dimanapun Upanishad tidak menerimanya  dalam kaitan aturan grammar dan lexicon, tetapi, dengan menggambarkan satu arti fiktif dari setiap huruf , telah menekankan berulang-ulang dalam fikiran artinya ini serta bermeditasi dengannya, atau telah mengatakan bahwa pembacaan tiap huruf berkali-kali membawa rahmat anugerah kebaikan. Tetapi metode semacam ini dalam menafsirkan suatu kata, tidak dapat diterima oleh lexicografer.

Pandit Dayanand, pendiri Arya Samaj, telah menggunakan kedua metode itu dalam memberikan penafsiran kepada kita tentang 'Om'. (1).'Om' adalah pelindung; (2) Bahwa huruf 'O' berarti 'itu' dan arti dari 'Ma' adalah 'ini'. Tetapi ini hanyalah metode yang dimasak sendiri yang mengabaikan akal sehat, karena alasan apapun dari tatanan huruf 'Om' itu, pengertiannya akan sama, tidak berubah. Misalnya, moa, aom, mao, amo, semua bentuk yang berbeda itu mempunyai arti yang sama dengan 'Om', karena setiap huruf yang mempunyai arti sendiri-sendiri, bila semuanya digabung, dengan mengabaikan susunannya, tetap mempunyai arti yang sama.

Metode ketiga dalam menafsir adalah dari Brahman Granthas; tetapi ini tidak mendapatkan cap pembenaran dari sudut lexicon, ataupun dari aturan grammar, ataupun dari Upanishad. Dalam Shatpath Brahmana, arti 'Om' pada beberapa tempat Shatpath I.(4.1.30); x(6.1.4); xi(6.3.6) telah disajikan sebagai; ya atau tidak, atu semoga-demikian-hendaknya (amien), yang menunjukkan bahwa hal itu tak mengandung hal yang penting di sini. Bagaimana pun, dalam Chandogya Upanishad suatu arti keempat dilekatkan pada 'Om' yakni memberi tatanan dan perintah. Bila suatu tatanan diberikan, maka dikatakan 'Om'. Upanishad ini, sejak awal mula, telah memasuki wacana ini.

Untuk memberi contoh dan membuat suatu saran atas semua pengertian ini: Bila seorang mengatakan bahwa huruf B itu menunjukkan  Baik, orang lain bisa saja menyatakan bahwa B itu berarti Buruk. Kedua tafsiran ini hanyalah omong-kosong dan tidak bisa diduga arahnya serta tidak ada otoritas yang dapat mendukungnya. Sama juga dalam kasus 'Om'. Jika metode penafsiran, seperti yang disajikan untuk dipertimbangkan oleh Upanishad, dianggap benar, 'Om' akan merupakan suatu kata yang bisa ditafsirkan semaunya, sehingga arti yang ditekankan baginya bisa semu dan fiktif. Betapa pun, kebenaran dari masalah itu ialah, bahwa bahasa rahasia dan mistis itu tidak dapat diikat dengan dibatasi oleh lexicon. Menyebut kata singkatan itu sebagai suatu rahasia dari Weda dan Upanishad, baik dalam keindahan maupun kehangatannya; dan lalu meletakkannya dalam mesin lexicon untuk memecahkan gabungan itu dan memisahkan dalam komponen masing-masing, sama saja menghancurkannya dan merusak keindahan serta daya-tariknya. Karena itu, kita, mengakui dan menerima bahwa 'Om' itu sesungguhnya adalah suatu kata singkatan mistik. Tetapi bahkan suatu rahasia yang terkunci pada suatu hari akan dibukakan kuncinya untuk menyaksikan terangnya hari.

Jika 'Om' itu sungguh nama dari Dzat Ilahi kiranya tidak perlu tetap disembunyikan dan terkunci. Dapat dinyatakan dengan jelas bahwa ini adalah nama suci dari Parmatma, Tuhan yang Maha-tinggi, dan begini atau begitulah asma-Nya. Dalam Weda Dia telah digambarkan sebagai pemilik dari segala sifat yang paling luhur atau Esa, sebagaimana kini hal itu dinyatakan, yang sangat dipuja-puji oleh dewa-dewi. Dengan cara ini, umat setidaknya akan selamat dari jatuh kedalam kesesatan pemikiran bahwa Weda tidak mengajarkan doktrin Keesaan Ilahi, tetapi menekankan suatu kepercayaan kepada banyak tuhan.
 


7.  Satyarth Prakash, bab "Names of God".