MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI HINDU

 

MUHAMMAD DALAM KATA SINGKATAN
MISTIK DARI KITAB SUCI HINDU.
(3/4)
 

Kunci pemecahan ada dalam huruf 'M' dari 'Om'.

Ada banyak metode untuk memecah biji kacang, tetapi yang paling mudah dan aman, ialah menaruh buah almon itu dalam pemecah-kacang, sehingga pecah tanpa risiko apapun. Dengan cara yang sama, suatu teka-teki bisa diuraikan dan dipecahkan dengan kecerdasan dalam banyak cara tetapi harus dipilih jalan yang paling efektif. Menurut Upanishad, maka keunggulan dan keluhuran 'Om' terletak pada kenyataan bahwa ini merupakan tiga huruf atau kata; yakni, ini merupakan kombinasi dari a, o dan ma, dan bukan suatu kata benda yang berasal dari akar kata Av.

Dengan memusatkan fikirannya  kepada masing-masing tiga huruf itu secara terpisah, maka manusia akan terbebas dari kelahiran dan kematian, sama seperti seekor ular yang berganti kulit lamanya (Prashna Upanishad 5:2-5). Tetapi hal yang harus dengan hati-hati dipertimbangkan ialah bahwa pemusatan fikiran kepada huruf A dan O tidak membawa keselamatan, sehingga jiwa itu tetap mengembara kesana kemari; dan refleksi mendalam serta meditasi terhadap huruf Ma, yang menghasilkan pembebasan yang genap-lengkap.

  1. Sama sepenuhnya, 'Om' adalah suatu rahasia agung yang saya akan coba tafsir dan terangkan. Kaum Hindu dan Muslim tidak perlu merasa terganggu atau marah karenanya. Jika kaum Hindu mempunyai kebaikan dan kebenaran yang disajikan, kaum Muslim harus menerimanya dengan gembira dan membaurkannya, begitu pula sebaliknya. Sungguh suatu cara yang baik untuk membuat hidup kita di dunia ini bahagia dan menyenangkan. Saya sungguh-sungguh menyarankan agar baik kaum Hindu maupun Muslim memegang 'Om' yang suci dengan penuh kehormatan dan keluhuran. Rahasia pertama yang terkandung di dalamnya, yang telah dapat saya kumpulkan dari Upanishad, ialah bahwa 'Om' itu suatu kata dengan tiga huruf, yang pertama huruf 'a'. Dalam artikulasi huruf 'a' ini maka dada, yang menjadi sumber dan tempat duduk  bagian vokal dari percakapan manusia, terbuka lebar-lebar. Setelah 'a' menyusul kata 'o', untuk mana artikulasi dari mulut harus tetap terbuka lebar, dan seluruh udara harus digunakan dalam mengucapkannya. Tetapi segera setelah kita mencapai huruf 'Ma', maka bibir, begitu pula percakapan, harus ditutup dan dikunci. Dalam kata-kata dari Chandogya Upanishad :

    "Om, kata ini harus disembah dan dipuji. Dalam Om, percakapan dan jiwa bersatu dan bergabung. (Om adalah intisari dari semua percakapan). Tempat pertama lahirnya percakapan  dalam mulut, yakni dada, dan yang terakhir yakni bibir. Dari tiga huruf itu, 'a' timbul dari dada dan diucapkan dengan mulut terbuka; 'o' menghabiskan seluruh udara dalam mulut, dan ini digumamkan dengan menekan dada. Tetapi dalam mengucapkan 'ma', bibir harus dikunci rapat-rapat, dan ini yang menguasai seluruh tempat" (Chandogya Upanishad, 1:1; Raja ram Bhashya, Lahore).

    Renungkan saja dan fikirkan; "Om" adalah essensi dari semua percakapan; siapakah nabi itu di dunia yang menyajikan klaim semacam itu? Yang ajarannya adalah inti-sari dari seluruh Wahyu Ilahi?

    "Utusan dari Allah, yang membacakan halaman-halaman yang suci, Yang di dalamnya berisi kitab-kitab yang benar" (Quran Suci 98:2-3).

    Ini adalah esensi dari semua percakapan dan Wahyu Ilahi, dimana pada saat bibir percakapan Ilahi itu tiba saatnya untuk ditutup adalah, sebagai suatu fakta nyata, merupakan inti-sari dari seluruh percakapan.
     

  2. Pemusatan fikiran pada 'Om' pada saat kematian, mengaruniakan ilmu yang penuh serta pengetahuan akan Tuhan Yang Maha-tinggi. 'A' menganugerahkan kebajikan bagi dunia ini, 'o' adalah langit, dan tempat untuk  rembulan  diperlukan untuk mencerminkan baik 'a' dan 'o', namun meditasi atas Ma memberikan pembebasan (Prashna Upanishad 5.1.27). Rig Weda menganugerahkan kebaikan untuk dunia ini, Yajur Weda mengenai langit, tetapi "Om" dan Sam mantra (ayat-ayat) dari Sama Weda mengaruniakan persatuan dengan Dzat Ilahi.
     

  3. 'A' berarti bahwa Wahyu Ilahi dimulai dengan awal manusia, Adam; 'O' berlangsung  terus selamanya; dan itu sampai pada penutupannya pada 'M'. Seluruh rahasia ini berkaitan dengan huruf M. Dengan 'M' dari 'Om' ini berarti manusia yang namanya dimulai dengan huruf 'M'.

Rahasia kedua yang tersembunyi dalam "Om", yang menjelaskan raahasia pertama, dan memisahkan dengan cara yang sangat indah mutiara dari kerangnya, dan yang mengundang kaum Hindu dan Muslim datang bersama-sama serta bersatu, yakni adalah, sesuai dengan konvensi naskah, "Om" hanya mempunyai dua huruf, 'O' dan 'M'; dan kedua huruf ini, berdasarkan otoritas lexicon Sanskerta, adalah penuh arti. Kamus Sanskrit-Inggris yang paling otentik berkata: "(O) adalah suatu partikel untuk mengarahkan, memanggil, mengingatkan, tentang kasih-sayang.

(M) adalah nama dari pribadi yang dimulai dengan M. Rembulan, nama dari macam-macam dewa-dewi, wewenang, cahaya, ilmu, ikatan, buhul tali, bahagia sejahtera.(8)

Dalam ajaran keagamaan Sanskerta huruf 'ma' digunakan dalam sepuluh arti penting yang berbeda-beda:

 1. Pribadi yang namanya dimulai dengan huruf ma.

 2. Rembulan.

 3. Nama  dari beberapa dewa-dewi.

 4. Wewenang.

 5. Cahaya.

 6. Ilmu.

 7. Berkumpul bersama.

 8. Terikat erat seperti sebuah rantai.

 9. Kebahagiaan.

10. Mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan.

Menurut kepercayaan Hindu populer, Trinitas Hindu terdiri dari Brahma, Wisnu dan Syiwa; dan tak ada dari nama-nama ini yang dimulai dengan huruf ma. Setelah mereka menyusul dewa-dewi utama(devtas), yakni Agni, Indra, Surya, Wiswa Dewa; tetapi sekali lagi 'ma'  menarik karena ketidak-hadirannya. Selanjutnya, kita punya orang suci besar, Krishna dan Ramchandra; dan sekali lagi, huruf pertama dari nama-nama itu bukanlah ma. Maka sekarang adalah dosa bila kita menyembunyikan dan mengunci kebenaran. Nama ini adalah Muhammad, yang dimulai dengan huruf ma; dan nama suci inilah, dimana percakapan Tuhan atau wahyu kenabian telah tiba saatnya untuk ditutup (sebagaimana telah ditekankan dalam Upanishad).

Rahasia ketiga dari kata singkatan mistik "Om" yakni bahwa seluruh arti yang diberikan olehnya menurut lexicon, menunjuk kepada nama suci Muhammad ini. Misalnya, arti kedua adalah, rembulan. Kini seluruh dunia tahu bahwa bulan dan bintang membentuk lambang keagamaan dari kaum Muslim, yang kalendernya, selanjutnya, adalah qomariah berlawanan dengan penanggalan Kristen dan Hindu. Masi ada argumen ketiga ini yakni bahwa dalam menulis lambang "Om", bulan dan bintang menunjukkannya dan ini sedemikian jelas serta mudah diingat sehingga para cendekia Hindu dan Pundit hendaknya merenungkannya. Sesungguhnya agama Hindu adalah dharma, mendekap ke dadanya bahkan musunya yang paling keras. Mahatma Buddha telah menolak Weda dan Brahmana, tetapi agama Hindu telah menerima dan mengakui dia sebagai Inkarnasi dari Dzat Ilahi.

Muhammad s.a.w. tidak pernah berkata sepatahpun yang menolak atau tidak hormat menyangkut Weda ataupun setiap Rishi dan Muni dari agama Hindu. Sebaliknya, beliau telah mewajibkan para pengikutnya untuk beriman kepada semua nabi serta rishi yang benar dari seluruh dunia. Tanda-tanda ini, yang penyebutannya telah dicantumkan di sini, tidaklah kebetulan atau tiba-tiba, tetapi mereka telah sampai ke tangan kita, melintasi abad-abad, dari waktu yang sangat jauh jaraknya. Para pencinta Kebenaran dan Keimanan harus, demi suatu kebutuhan, mengabdikan perhatiannya yang sebaik-baiknya serta pertimbangan yang penuh kehati-hatian atas fakta besar ini. Dan kebenaran itu, tak usah dikatakan lagi, pasti akan menang dalam jangka panjang. Dengan cara yang begini jelas dan bahasa yang tak salah lagi, arti 'M' telah disajikan, yakni, bahwa 'M' adalah nama seseorang yang dimulai dengan huruf 'M'. Terjemahan ini bukan dari saya, melainkan diberikan oleh seorang guru-besar Inggris yang adalah sarjana yang sangat dalam keahliannya untuk bahasa Sanskerta, dan telah mereproduksi kembali pengertian ini dari buku-buku Sanskerta. Dia pun bukan seorang Muslim. Tetapi pendeta Hindu tidak akan menerima suatu rujukan yang diberikan hanya oleh seorang Inggris. Karena itu, beberapa acuan sekarang kami kutipkan dari buku-buku Sanskerta untuk mendukung pengertian Monier William:

1. Makarah puniah pragpam.

2. Tritiah dyau sah makarah.

3. Makaroh maha vibhuti ti artah.

4. Param ev brahm makaren janiyat.

5. Makaren parman brahm anuichhat.

6. Sarvat avasthan ma pyan chakre.

yakni Pembebasan dicapai melalui M. Renungkan M sebagai langit tinggi ketiga. M adalah kehadiran Yang Agung. Ilmu tentang Dzat Ilahi dicapai melalui M. M adalah semacam pusar pusat di mana semuanya berkumpul bersama dan mengeratkan semua buhul tali. Dapat dengan mudah dimengerti bahwa semua sifat ini bisa dimiliki oleh seorang yang namanya dimulai dengan M, atau M adalah huruf pertama dari namanya. Bukankah hanya dengan sarana mengucapkan M, atau meditasi atasnya, bahwa kedudukan yang luhur serta anugerah yang besar dari ilmu Ilahi itu bisa didapat dan dicapai.

Tafsir ketiga yang disajikan oleh Monier Williams adalah "nama dari pelbagai dewa-dewi", yang berarti bahwa dia akan dikaruniai sifat ketuhanan. Pernyataan Rig Weda yang menyatakan, bahwa 'semua dewa-dewi bersidang di sana', menunjang dan membenarkan pengertian ini; dan demikian pula penafsiran yang diberikan Upanishad. Beliau yang mengukuhkan dan membenarkan semua nabi di dunia, dan segenap nabi membenarkan dan mengukuhkan beliau.

Arti keempat dari M adalah otoritas, yakni argumen dan otoritasnya terhadap kebenaran agama-agama; seorang yang menjadi saksi dan membenarkan seluruh agama yang muncul sebelumnya, baik di Timur maupun di Barat, dan yang mewajibkan untuk beriman kepada mereka.

Arti kelima dari M yakni cahaya. Dengan mengacu hal ini, al-Quran telah berfirman:

"Sesungguhnya telah datang dari Allah kepada kamu, cahaya dan Kitab yang terang"(5:15).

Dalam ayat ini, dua perkara telah dibicarakan sebagai yang datang dari Allah, yakni suatu Cahaya dan satu Kitab yang terang. Cahaya adalah nabi dan kitab adalah al-Quran. Nabi ini adalah cahaya ruhani terbesar yang pernah bersinar di muka bumi ini.

Arti keenam yakni 'ikatan'. Beliau, setelah menyingkirkan semua perbedaan dan perpecahan dari segala agama, mengajak mereka datang bersama ke satu landasan yang sama, serta bersatu, dan melalui hubungan yang sama dengan Tuhan Yang­esa, menegakkan suatu Persaudaraan universal di antara mereka.

Arti ke tujuh dari M yakni 'menguntai', suatu tali atau rantai yang diikat menjadi satu. Nabi Suci Muhammad menguntai pertalian dari semua umat di dunia bersama-sama dengan doktrin Keesaan Ilahi. Sebelum kedatangannya, segala bangsa di dunia ini terpisah dan tidak bersatu. Nabi-nabi dan agama-agama semua berlingkup kebangsaan. Tetapi Nabi telah mengikat mereka bersama dalam rantai kasih-sayang persaudaraan dan keselarasan.
Al-Quran berfirman:
"Dan peganglah erat-erat tali perjanjian Allah semuanya, dan janganlah kamu berpecah-belah"(3:102)

Mengenai seluruh nabi, al-Quran berfirman:
"Sesungguhnya umat kamu ini, umat satu, dan Aku Tuhan kamu, maka mengabdilah kepada-Ku" (21:92).

Semua agama di dunia, sebelum kedatangan Muhammad, berdiri di tepi jurang kehancuran. Nabi menariknya kembali, dan mengikat mereka bersama-sama dengan kekuatan saling simpati dan persatuan.

Arti ke delapan dari M yakni 'ilmu'. Ilmu dan kebijaksanaan Nabi adalah puncak dari ilmu serta kebijaksanaan segenap nabi. Sesungguhnya, beliau adalah pewaris ilmu dan kebijaksanaan baik yang kuno mapun modern. Dan padanya adalah suatu ilmu yang bahkan tak menimbulkan sedikitpun keraguan atau kesalahan.
Firman al-Quran:
"Kepalsuan tak akan datang kepadanya, baik dari depan maupun dari belakangnya, Wahyu dari Tuhan Yang Maha-bijaksana, Yang Maha-terpuji" (41:42).

Arti ke sembilan dari M adalah 'kebahagiaan', yakni penyerahan diri dan ketaatan pada-Nya mendatangkan kedamaian fikiran dan hidup penuh kebahagiaan. Dari M yang penuh ceria serta sifatnya yang indah ini yang menyingkirkan dan membuyarkan semua kesakitan dan kesukaran, meninggalkan di belakang segala perpecahan di antara bangsa-bangsa ataupun suatu ketakutan akan Akhirat. Ini, seperti yang dengan indahnya dinyatakan dalam al-Quran:
"Obat bagi apa yang ada di dalam hati"(10:57).

Yang ke sepuluh dan arti yang terakhir dari M adalah 'kesejahteraan'. Yakni dengan menyatakan  bahwa M adalah huruf pertama dari nama seorang yang besar dan mulia itu yang pasti merupakan penjaga dari kesejahteraan serta keselamatan dari ras manusia; dan tak akan ada sesudahnya, kecuali dia, tak ada pelabuhan lain bagi keselamatan dan sukses; karena fikirannya senantiasa gelisah dan berduka tidak hanya demi pembebasan dari satu kaum khusus, tetapi beliau memperbaiki, dalam gelapnya malam jauh dari rumahnya, ke suatu gua terpencil dimana beliau menangis dan mengaduh atas dosa dan kesesatan manusia, sehingga Param Pita, Tuhan sarwa sekalian alam, mendengar tangisan dan aduhannya lalu berfirman:
"Boleh jadi engkau akan membunuh dirimu karena duka-cita, karena mereka tak mau beriman" (26:3).

Dengan bercermin kepada semua arti M atau Ma ini, sebagaimana digelar oleh Kitab-kitab Suci Sanskerta, jelaslah bahwa pengertian itu hanya cocok diterapkan kepada seorang lelaki di dunia ini dan setiap pencinta kebenaran serta ilmu harus menempatkan keimanannya kepadanya. Laki-laki itu adalah Nabi Suci Muhammad s.a.w. Om. Ringkasnya, "M" dalam Om melambangkan:

  1. Seorang yang akan datang dengan nama yang huruf pertamanya M atau Ma.

  2. Simbul agamanya adalah bulan dan bintang.

  3. Penanggalannya adalah sesuai dengan perhitungan rembulan.

  4. Beliau akan diberkahi dengan seluruh sifat ketuhanan dan kekuatan malaikat.

  5. Beliau akan menjadi otoritas dari semua agama; yakni dengan beriman kepadanya, adalah penting untuk juga beriman kepada segenap aagama wahyu.

  6. Beliau sendiri akan menjadi suatu cahaya, dan akan bersinarlah dengan benderang Kitabnya yang akan menyajikan argumen yang terang dan brilyan untuk mendukung kebenarannya itu, dan akan meniup dan menyingkirkan semua kegelapan keragu-raguan serta kekafiran:

    "Kitab ini, tak ada keragu-raguan di dalamnya, adalah petunjuk bagi orang yang memenuhi kewajiban dan menjaga diri dari kejahatan"(2:2).
     

  7. Dia akan, menyatakan seluruh nabi di dunia sebagai satu kaum, tidak peduli apakah mereka itu Rishi agama Hindu, Parsi atau Buddha, para nabi Bani Israil ataukah Guru-guru Mesir kuno, adalah wajib untuk beriman kepada mereka semuanya:

    "Dan yang beriman kepada yang diturunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau" (2:4).
     

  8. Kitab itu selanjutnya akan menggelar pengakuannya bahwa dia berisi seluruh Kitab-kitab suci sebelumnya, dan menjaga serta menyajikan ajaran dari seluruh nabi-nabi setelah menyatakan mereka suci dan membersihkan mereka semua dari segala hal yang kurang suci.(Quran Suci 98:2-3).

  9. Di hadapan Kitab ini mustahil menolak dan mengingkari pengakuan setiap Rishi atau nabi yang benar didunia dan hal ini saja sudah bisa menciptakan kebahagiaan serta kenikmatan sejati dalam fikiran manusia.

  10. Beliau gelisah dan berduka, tidak saja demi keselamatan suatu bangsa, Bani Israil, atau Arya, bangsa Semit atau Mongol, melainkan beliau menangis dan mengaduh bagi persamaan dari seluruh umat manusia, dan karena alasan inilah maka beliau dijadikan utusan yang merupakan "Rahmat bagi sekalian bangsa" (Quran Suci 21:107).

Sekali lagi dengarkan apa yang telah dikatakan oleh Upanishad:

"Seorang yang memusatkan fikirannya pada huruf aa akan dilahirkan kembali ke dunia dan yang bermeditasi atas huruf O kembali dari bulan, tetapi seorang yang meletakkan fikirannya pada Ma akan dibebaskan dari neraka kelahiran dan kematian, seperti seekor ular yang segar dan bersih setelah membuang kulit lamanya".

Dengan perkataan lain, seorang yang beriman kepada Muhammad akan meningkat diatas tahap-tahap tumimbal-lahir, segera setelah seseorang itu memeluk Islam atau menjadi seorang pengikut Muhammad, dia membuang jauh-jauh tumimbal-lahirnya dan menjadi bebas dari lahir dan lahir kembali serta keberangkan dia dari dunia ini, langsung menuju ke Brahma Loka, tempat tinggal Ibrahim di Surga. Betapa tajam dan jelasnya tanda-tanda yang telah dinyatakan Upanishad dan Weda dalam penghormayan kepada seorang yang namanya dimulai dengan huruf M atau Ma.
 


8. Monier Williams, Sanskrit-English Dictionary (New Edition 1899, Oxford).