MISTERI 'SWASTIKA' DIUNGKAP

 

MISTERI 'SWASTIKA' DIUNGKAP

(1/4)

 

Hindu, Buddha, Kristen dan Yahudi, mempunyai dalam agamanya masing-masing, beberapa tanda atau lambang yang bersifat mistis yang mewakili sejarah dan etika dari agama-agam tersebut, seperti halnya bangsa dan pemerintahan di dunia ini mempunyai lambang dan tandanya masing-masing, yang mencerminkan sejarahnya serta berfungsi sebagai petunjuk bagi generasi mendatang. Lambang ini bukannya tanpa kehormatan atau arti, tetapi maknanya telah dikenal tidak hanya bagi beberapa orang yang terdidik, manfaat dari dirancangnya lambang itu telah hilang bagi kebanyakan manusia. Karena itulah maka esei ini di tulis.
 

Betapa sedikit diketahui arti kata Sanskrit ‘OM’ dengan gambar bulan sabit dan bintang  di atasnya dan tiga ‘Ma’ di bawahnya; dan ‘OM’ dalam kitab suci Buddha, bunga teratai, terletak terbuka dengan satu permata di setiap ke tujuh ujung kelopak bunganya. Tanda-tanda ini jelas menunjuk kepada masa depan, kedatangan dari ‘Seorang Yang Mendatang’ dimana lambang agamanya adalah bulan sabit dan bintang, cahaya yang semakin bersinar, membimbing orang tulus ke jalan yang benar, dan dengan rembulan pengikutnya akan membuat kalender. Mempunyai suatu nama yang unik dan tak tertandingi di kerajaan langit, yakni, tiga ‘Ma’ dalam namanya, dia akan berjiwa suci dan salih seperti setangkai kembang teratai yang mengapung di atas air yang jernih dan tenang. Kredonya adalah tujuh permata, berdasarkan atas tujuh sifat mulia yang utama, menyajikan suatu aturan hidup yang lengkap dan langkah pasti menuju Tuhan. Apakah ‘Seorang Yang Mendatang’ ini sama dengan sumber harapan dan keinginan dari kaum Kristen awal? Ma-ranatha, (‘Ma’ yang dijanjikan segera datang) adalah kata kiasan dan ilham pada hari-hari penuh penganiayaan itu.
 

Sebelum mengungkap makna dan arti penting dari Swastika, saya hendak menyatakan bahwa para ahli agama hingga saat ini hanya sedikit sekali menaruh perhatian kepada hal yang paling penting ini, yakni bahwa lambang mistis dari zaman kuno, meskipun berbeda dalam bentuk, bahasa, agama, dan tujuan; ‘Om’ dari agama Hindu, Alpha dan Omega dari Yunani, ‘Maranatha’ dari Kristen, ‘Emet’ dari Yahudi, dan ‘metreya’ dari Buddhis – yang merupakan bentuk kebalikan dari kata Yahudi ‘Emet’.
 

Dalam ‘Emet’ juga terdapat tabir yang hangat; yakni, dalam kitab suci Ibrani nama Dia Yang  akan  Datang (Nabi Islam) adalah Muhammad M. Emet mengandung tiga huruf; alpha, ma dan tau menunjukkan yang pertama, tengah dan akhir dari alfabet Ibrani. Menurut pengaturan ini, ada tiga ma dalam ‘Emet’, karena masing-masing dari dua silabus itu tergantung pada ma yang membentuk inti dari ma ketiga. Lalu, apa arti Mahammadim (tiga M) bagi kaum Yahudi? Kami merujuk lagi kepada  Kidung Agung Sulaiman, nabi besar Bani Israil:
 

“Kata-katanya manis semata-mata, segala sesuatu padanya menarik. Demikianlah kekasihku, demikianlah temanku, hai putera-puteri Yerusalem” (Kidung Agung 5:16; yakni para ulama Yahudi dan Kristen).
 

Dalam kitan suci Buddha Dia Yang akan Datang itu bernama Metreya tetapi artinya sama saja; treya berarti tiga, maka kata itu sendiri, secara harfiah diterjemahkan, berarti ‘dia yang namanya mengandung tiga M’. Perdebatan di antara para ulama, merujuk kepada kedudukan dari M ini dalam nama nabi ini, hanya berbeda bunyi akibat bahasa dari mana lambang ini berasal. Bahasa itu memiliki bentuk strukturnya masing-masing dan sarana untuk mengucapkannya dan, selanjutnya tanda-tanda ini diwahyukan pada manusia yang kapasitas spiritual dan mentalnya berbeda-beda tingkatannya. Jadi, adalah suatu akibat yang wajar bila terdapat variasi dalam pembentukan dan pengucapan dari tanda-tanda ini. Misalnya, silabus im dalam bahasa Ibrani adalah dia yang mendapatkan penghormatan dan kehormatan bila diikuti dengan nama tertentu misalnya, Elohim, Mahamadim.  Posisi M di sini menunjukkan tiga tingkat yang besar dalam kehidupan nabi yang dijanjikan ini. Kita rujuk lagi kepada kata-kata Nabi Sulaiman: ‘Mulutnya paling manis; ya, segala sesuatu padanya sangat menarik’. Dalam bahasa kiasan ini berarti bahwa Alpha-nya (permulaannya) begitu manis, dan Omega-nya (akhirnya) juga yang paling manis dan kehidupan di antara keduanya sangat menarik hati. Im dari Mahamadim juga meramalkan sukses serta kejayaan yang tak ada tandingannya yang akan menjadi mahkota penggenapan dakwahnya ini. Dalam menunjang argumen kita, maka kitab suci Yahudi memberi kita gambaran yang lebih rinci dari Nabi kita serta begitu kedekatannya dengan pemberian namanya yang sejati. Karena itu, diterangi dengan akal sehat, fakta sejarah yang konsisten, satu-datunya kunci atas misteri yang terkunci di dalamnya adalah tanda yang menjadi acuan umum bagi semuanya – yakni bahwa Nabi Yang Dijanjikan itu memiliki tiga M dalam namanya dan beliau adalah yang paling berhasil dalam dakwahnya.
 

Lalu siapakah, kecuali Nabi Suci Muhammad dapat dikatakan bisa menggenapi dan membuat jelas arti dari tanda-tanda ini? Adalah suatu perkara nyata bahwa namanya mengandung tiga M dan beliau adalah yang paling berhasil dalam mencapai semua tujuannya. Para musuhnya tidak bisa menghalangi dakwahnya, melemahkan keyakinannya atau  menghilangkan nyawanya; tidak, bahkan musuhnya yang paling keras pun berubah menjadi pengikutnya yang setia. Kredonya berkembang sepenuhnya, Kitabnya diwahyukan dan dicatat, bahkan sejak beliau sendiri masih hidup. Tak ada sukses yang lebih besar daripada yang dianugerahkan kepada Nabiullah s.a.w.
 

Tetapi mungkin kita bertanya, mengapa Sulaiman yang memuji dan meramalkan kedatangan Muhammad dan bukannya Yesus Kristus yang adalah saudaranya sebapak? Alasannya jelas. Kitab suci Yahudi melemparkan fitnah kepada Nabi Sulaiman, menudingnya penuh kemesuman dan menyembah berhala. Yesus jelas berdiam diri atas tuduhan ini, tetapi Muhammad bersabda, dengan rahmat Ilahi:
 

“Dan mereka mengikuti apa yang dibuat-buat oleh setan terhadap kerajaan Sulaiman, dan Sulaiman tak kafir, tetapi setanlah yang kafir” (Quran Suci 2:102).
 

Para ulama berpendapat bahwa Sulaiman mempunyai banyak isteri, baik Bani Israil maupun bukan, yang kemungkinan besar ada benarnya, tetapi dia tidak membuat altar untuk mereka maupun menyembah berhala isteri-isterinya yang non-Israil yang disukainya melebihi Yahweh (1). Muhammad sendirilah yang membersihkan Sulaiman serta para Nabi lain-lainnya, dari rekayasa setan ini, maka karenanya penting bahwa Sulaiman itu harus meramalkan kedatangan Nabi Muhammad.

 

‘Swastika’ – Emblem dari Matahari Yang Besar.

 

Sekarang setelah saya menyingkap rahasia yang mendalam dan sulit dari empat agama besar dunia, dan pada saat yang sama menyajikan pembuka telaah mendalam atas ilmu perlambang; sekarang saya hendak mengungkapkan rahasia mistis dari Swastika, Emblem dari Matahari yang Besar. Saya bertaruh, dengan rahmat Allah, bahwa ini adalah penafsiran yang tepat. Swastika, yang barangkali digunakan secara geografis jauh lebih luas dan lebih universal dibanding lambang lain yang berkembang dari zaman kuno. Dan di dapati baik di dunia lama maupun baru. Meskipun penggunaannya dan maksud artinya berbeda, namun secara konsisten itu menjadi lambang kemakmuran, perlindungan dan kedermawanan bagi banyak kaum, baik yang kuno maupun kontemporer, yang kehidupannya diberkahi. Swastila ini digunakan di Inggris oleh bangsa Gaul dan Celt, pada  koin, altar serta benda-benda sakral lainnya; di India, pada buku-buku di toko dan pada pot-pot hitam di ladang serta dangau penjaga kebun sebagai perlindungan terhadap tanaman; di Cina dan Jepang, pada tapak-tilas Buddha serta orang-orang suci lainnya (versi Swastika dalam Buddha ini tangan-tangannya bengkok ke kiri); di Athena, di dada dewa Apollo; serta penghormatan yang sama di Yunani, Kepulauan, Cyprus, Rhodes, Irlandia, Amerika Utara, Selatan dan Tengah.
 

Dari kejayaan begitu banyak kerajaan kuno ini, melalui takhayul serta kebrutalan abad kegelapan di Eropa, Swastika bertahan hingga abad pencerahan dan  pengetahuan, lalu bangkit sebagai simbol dari filsafat dan doktrin yang carut-marut dari Adolf Hitler. Swastika yang tetap dan tahan uji, dilucuti dari kewibawaannya yang abadi, menjadi sinonim dengan superioritas bangsa Arya, kemenangan Arya, serta anti-semit dan anti segala sesuatu selain Arya. Dengan penghinaan yang berlebihan, dia nampak di tank, pesawat tempur, meriam, uniform, stempel dan bendera dari mesin perang Jerman, menjadi saksi kekerasan terhadap kemanusiaan oleh manusia. Terpujilah Tuhan bahwa Naziisme dengan ancamannya yang luar-biasa kepada umat manusia telah bisa dimusnahkan, namun marilah kita membersihkan Swastika dari segala fitnah berupa segala dosa yang dilekatkan oleh banyaknya kejahatan yang berkembang pada waktu bangkitnya pembantaian oleh Hitler, dan marilah kita sajikan kepada umat manusia ilmu dan hikmah yang terkunci dalam keempat tangannya.

 

Swastika di Mesir Kuno.

 

Kita telusuri Swastika ke orang-orang Afrika kuno yang mendirikan peradaban Mesir dan yang menggunakan Swastika sebagai lambang serta membangun Piramida Besar sebagai monumen agama mereka, dan sebagai suatu simbol nubuatan dari seorang guru agung yang akan membawakan agama sempurna. Betapa pun, sejarah memberi kita sedikit sekali pengetahuan tentang asal-usul Swastika dan itupun, tidak konsisten serta kabur. Tetapi saya percaya ada suatu kunci untuk setiap misteri, yang dengan rahmat Ilahi serta kerja tekun akan bisa diketemukan; dihubungkan dengan sejarah agama, Egyptology, Great Pyramid dari Ghizeh serta tradisi yang berhubungan dengan Swastika, maka pembimbing dan yang berwenang haruslah Quran Suci, yang merupakan wahyu terakhir serta satu-satunya yang masih murni dari Yang Maha-mengetahui Segala Yang Ghaib, ‘Buku Sempurna’ yang dirujuk oleh semua agama sebelumnya. Banyak rahasia dunia ini diwahyukan melalui al-Quran 1400 tahun yang lalu, dan telah diterima oleh sebagian besar cendekiawan serta ilmiawan hanya dalam abad yang lalu atau sekitar itu. Marilah kita tidak membuang waktu yang sangat berharga dengan membaca pinggir-pinggirnya, pintu telah terbuka kini, kita boleh langsung masuk ke dalam rumah itu sendiri.
 

Saya kaaitkan bahwa Swastika itu adalah kontraksi dari lima cita ideal dari Mesir Kuno – satu Pencipta dengan empat sifat utama – padanan atasnya banyak kita jumpai di tempat-tempat lain di dunia. Di sini kita menghubungi otoritas kita, al-Quran:
 

“Dan mereka berkata: Janganlah kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu, dan jangan (pula  meninggalkan) Wad, dan Suwa, dan Yaghuts, dan Ya’uq, dan Nasr” (HQ.71:23). 
   
“Dan sungguh mereka telah menyesatkan banyak orang. Dan tiada Engkau menambah kaum lalim kecuali kerusakan”(HQ.71:24).
 
“Karena kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan, lalu dimasukkan ke Neraka, maka mereka tak menemukan penolong bagi mereka selain Allah”(HQ.71:25).
 

Di sini kita dapati nama lima berhala yang ‘disembah pula oleh orang Arab’ pada zaman Nabi Nuh: Wadd tuhan lelaki, Su’wa tuhan perempuan, Yaghuts tuhan-singa, Ya’uq tuhan-kuda dan Nasr tuhan-rajawali.. Ahli Mesir Kuno, dalam menggali tulisan hiroglip dari Piramida Besar, dan menterjemahkan tradisi kaum Mesir Kuno, menemukan lima indikasi kuat bahwa lima tuhan yang sama ini, atau sekutunya, telah disembah juga di Mesir – Horus beserta empat anak lelakinya, yakni, Amsta dewa-lelaki, Hapi dewa-singa, Taumutf dewa ox atau sapi, Kablsenuf dewa-rajawali. Sekarang marilah kita bangun persamaan universal dari dewa-dewi ini (cita-ideal yang asli):
 

 

Arab

Mesir

Yahudi

Chaldean

Wadd – lelaki

Horus

Adam – lelaki

Ustur – lelaki

Suwa – perempuan

Amsta – lelaki

 

 

Yaghuts – singa

Hapi – singa

Aryih – singa

Nirjul – singa

Ya’uq – kuda

Taumutf – sapi

Shor – sapi

Sed-Alap – banteng

Nasr – rajawali
 

Kablsenuf – elang
 

Neher-rajawali (Ezek.1:10)
 

Nattij – rajawali.
 

 

Cina

Meksiko

Afrika Barat

Tai-Tsong – dewa timur

Acattal

Ibara

Sigan-fo – dewa barat

Tecpate

Edi

How-Kwang – dewa selatan

Colli

Oyekum

Chenusi – dewa utara
 

Tochtti
 

Oz-be
 

Kemiripan yang umum, dari simbol ini, didukung oleh munculnya Swastika yang berkaitan dengan mereka, dengan pasti menegakkan asal-usul yang murni dan sama, yakni agama ilahi monoteistik yang diwahyukan. Mengenai paganisme, ini agaknya menjadi nasib alamiah dari agama sebelum Islam, yang dekrit Ilahinya tidak awet sepanjang masa. Seperti dalam agama Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi dan sebagainya, para pemeluknya merubah nabi-nabinya (lelaki dalam bentuk berhala) sambil meninggalkan Tuhan yang diajarkan oleh nabi tersebut. Meskipun ada perubahan ini tetapi kebenaran aslinya tidak hilang, berkurang atau hancur, mereka tersaji sebagai tantangan dan petunjuk pasif bagi manusia yang ingin mencari kebenaran sejati.

Albert Churchward, ahli sejarah dan batu purba terkemuka menulis:

“Kita menganggap bahwa Piramida Besar dari Gizeh itu diabngun di Mesir sebagai sebuah monumen dan memorial abadi bagi agama awal ini, dengan hukum ilmiah yang benar, dengan ilham ilahi dan ilmu tentang hukum-hukum alam semesta. Sungguh kita bisa melihat Piramida Besar ini sebagai kuil sejati dari batu yang pertama di dunia, mengungguli yang lain yang telah dibangun, dengan rahasianya yang digambarkan di batu itu, secara simbolis, untuk dibaca oleh mereka yang mendalami rahasia misteri dari agama mereka” (2).

Sebelum kita mulai memecahkan rahasia Swastika, marilah pertama-tama kita mengakrabkan diri kita dengan ilmu menarik tentang perlambang (simbolisme) dengan menelusuri dua lambang umum ke sumber mereka, dan mencatat betapa mereka itu (simbul pada umumnya) bisa dalam rentang waktu berbalik dari baik ke buruk atau sebaliknya. Misalnya, sekarang ini cincin kawin melambangkan persatuan dari seseorang, pengabdian serta kehendak antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang berikrar dalam ikatan perkawinan; bulan madu itu melambangkan kegembiraan, kemandirian mereka serta ‘meninggalkan semuanya yang lain-lain’. Namun, bila kita telusuri, kita dapati bahwa cincin itu melambangkan ikatan atau rantai yang diperuntukkan seorang budak. “Sekarang engkau dalam ikatanku, kehendak bebasmu berakhir hari ini” – bulan madu kita telusuri sebagai perkosaan terhadap seorang perawan muda dari orang tuanya oleh seorang muda yang keras hati, melarikannya ke tempat yang jauh dan sunyi untuk menikmatinya.

Jadi kita bisa melihat betapa banyak lambang telah mengalami perubahan di tangan masyarakat dan budaya yang berbeda, meninggalkan hanya bayangan dari maknanya yang asli.

 


1. T.K. Cheyne: Encyclopaedia Biblica, Col. 4689.
2. Signs and Symbols of Primordial Man; hal.9