MISTERI 'SWASTIKA' DIUNGKAP

 

MISTERI 'SWASTIKA' DIUNGKAP

(3/4)

Swastika dalam Kitab Suci Hindu.

‘Swastika’ memancar dari tanah Piramida dan disebarkan ke seluruh dunia termasuk di India. Ini adalah tanda ‘sehat wal afiat’, rahmat-karunia dan nasib baik. Dalam Kitab Weda inilah ‘Swasti’ tetapi dalam Ramayana, Mahabharata serta kitab-kitab lain ini dalam bentuk lengkap ‘Swastika’. Bentuknya dalam bahasa Sanskerta adalah ‘Sutasti’, sehat wal afiat dan harapan baik. Pertama dari semuanya, marilah kita periksa apa yang dikatakan pakar: Sir Monier Williams dalam Sanskrit-English Dictionary menulis: Swasti berarti sehat, bahagia, penuh sukses, boleh juga diserupakan dengan, salam, sehat, suatu istilah untuk memberi salam (Swastika-Assalamu’alaika yakni ‘damai bagi kalian’ A.Haque) terutama pada pembukaan surat atau sanksi atau pujian (seperti kita berkata sallamna). ‘Swasti-kara’ nama seorang lelaki, ’Swasti karman’ menyebabkan sejahtera dan sukses, ‘Swastikar’ penyair yang menyerukan ‘swasti’ (Ramayana). Khususnya semacam palang mistis, dengan ekstremitas empat lengan yang condong memutar ke jurusan berlawanan (jarum jam). Mayoritas pakar menganggapnya suatu simbol rembulan; yakni, mewakili bentuk pemendekan roda Dewa Wisnu, terdiri dari empat jari-jari roda yang saling  memotong pada sudut kanannya ada bagian yang pendek di pinggiran rodanya di tiap ujung jari-jari roda itu yang memutar ke satu jurusan untuk menunjukkan arah perputaran matahari. Di kalangan Jain (suatu sekte Hindu) ini adalah satu dari 24 tanda harapan kesejahteraan dan adalah emblem dari tujuh Arhant dari Avsarpini yang hadir (seorang pembaharu yang dijanjikan). Saling memotong dari tangan-tangannya atau tangan-tangan di dada (Mahabharata), adalah pertemuan dari empat jalan. Suatu cara duduk khusus telah dipraktekkan oleh Yogis (dimana jari-jemarinya ditaruh disela lututnya). Swasti Atreya adalah nama dari saga kuno pengarang Kitab Rig Weda, bab 50.51.

Swasti dalam Kitab Weda

Kitab Weda umumnya dipercaya sebagai otoritas yang tinggi dalam kebanyakan sekte Hindu. Dan  Rig Weda adalah, kata kisah itu selanjutnya, menciptakan tiga Kitab Weda lainnya. Ada banyak mantera ‘Swasti’ dalam Kitab Weda, saya pilih merujuk hanya bait-bait yang dipandang oleh teman maupun lawan, kaum Orientalis maupun pendeta Hindu, sebagai ambigu dan kabur. Dengan rahmat Allah saya akan ungkapkan misteri dan rahasianya.

Seorang Putera dari Perawan kepada siapa Tuhan memberi dia kehidupan yang baru.

Dalam Rig Weda ditulis: “Dewa dari kuda spiritual yang berwarna merah kecoklatan, Engkau telah bawakan dari bukit-semut seorang putera dari perawan yang belum menikah, kepada siapa semut makan. Orang buta melihat dengan jelas, ketika dia mencengkeram ular naga, dia bangkit dan memecahkan bejana; tempatnya digabungkan lagi (Rig Weda 4:19:9). Dewa dari kuda spiritual yang berwarna merah kecoklatan adalah Indra atau Surya sang matahari yang berpendar kemerahan, kita bisa mengatakan bahwa sepanjang Tuhan Yang Maha-kuasa mengizinkan sebagai kiasan, maka yang dibawa dari bukit-semut, dalam bahasa sanskerta  adalah rayap.

Analogi Kata

Dewa dari kuda spiritual yang berwarna merah kecoklatan: Kuda dewa itu adalah kuda merah yang secara kiasan berarti pendar kemerahan, yakni bahwa: Dewa dari pendar kemerahan yakni Surya (Matahari). Ini adalah dewa merah di Egyptologi.
Dibawa dari bukit-semut: Dalam bahasa sanskrit ini adalah rayap atau rayap besar, secara alegoris adalah orang yang paling jahat disebut rayap pengkhianat .
Putera Perawan: Perawan berarti (a) (Tanah) yang belum diolah dan tidak produktif, (b) Tanpa dosa baik sudah menikah ataupun belum, (c)Para pakar yang tidak menjual ilmunya untuk memperoleh keuntungan dunia dan menjaga pengetahuan mereka tetap bersih-suci.
Orang buta: Dia yang dalam kegelap-pekatan, dipaksa oleh musuhnya untuk meraba-raba dan berkelana untuk mencari jalan keluar.
Naga : Adalah musuh, yang akhirnya dicengkeram.
Bejana dipecahkan, yakni dia menjadi bebas.
Tempatnya digabung lagi: Tempatnya ini yalah para sahabatnya.

Dikatakan dalam bait ini: Dewa merah atau Tuhan Yang Maha-kuasa datang untuk membebaskan yang tertindas yang terjebak oleh musuhnya, meraba-raba dalam kegelapan tidak tahu jalan keluarnya, ketika musuh ditangkapnya, dia menjadi bebas dan para sahabatnya bergabung kembali.

Kini bait Kitab Weda ini mempunyai tujuh titik yang paralel dengan kisah dalam Egyptologi:
Dalam Egyptologi adalah ‘Tuhan Merah’ dan dalam Weda ini adalah Tuhan dari kuda spiritual yang
berwarna merah kecoklatan atau pendar kemerahan  yakni Tuhan Yang Maha-kuasa Yang berbuat
keadilan, membawa orang yang tak berdosa dan tertindas dari jebakan musuh, dia memecahkan jebakan itu dan menjadi bebas serta para sahabatnya bergabung lagi. Suatu peringatan yang menakjubkan di sini adalah: bahwa masalah yang dibahas dalam bait Kitab Weda dan abstraksi dari gambaran Mesir Kuno ini sekali lagi dinyatakan dalam Quran Suci:

“Demi terangnya waktu siang! Dan demi malam tatkala sunyi senyap! Tuhan dikau tak meninggalkan engkau, dan tak pula Ia kecewa. Dan sesungguhnya yang belakangan itu lebih baik bagi engkau daripada yang permulaan. Dan Tuhan dikau segera akan memberikan kepada engkau, sehingga engkau menjadi puas. Bukankah Ia menemukan engkau seorang anak yatim, lalu Ia memberi perlindungan? Dan Ia menemukan engkau meraba-raba, lalu Ia menunjukkan jalan yang benar.Dan Ia menemukan engkau orang kekurangan, lalu Ia mencukupi engkau. Oleh karena itu terhadap anak yatim, janganlah engkau sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang bertanya, janganlah engkau membentak. Dan tentang kenikmatan Tuhan dikau, umumkanlah” (Q.S.S.93).

Kalajengking dan rayap menggigit dan menyengat Nabi Suci ketika ada jeda dalam turunnya wahyu. Kata-kata ini menenteramkan, Tuhan tak akan meninggalkanmu. Memang ada malam dan tetap gulita, tetapi matahari akan bersinar terang dan keadaaan mendatang pasti lebih baik dari keadaan sekarang.

Dalam Egyptologi adalah Tuhan Merah, dalam Kitab Weda adalah matahari dewa dari kuda atau kuda merah, dan dalam Quran Suci ini juga matahari ketika ini semakin bersinar. Dalam Egyptologi dalam kelopak matanya ada semak, dalam Weda ada kebutaan yang dilemparkan oleh musuh-musuhnya, sehingga dia meraba-raba dalam kegelapan. Maka Tuhan yang Maha-kuasa membawanya keluar dari bukit-semut yang penuh rayap dan kalajengking serta memberi semua yang disukainya.

Suatu nubuatan yang menakjubkan untuk masa depan.

Bait-bait Weda ini dan gambar-gambar dari Egyptologi sebagaimana ayat-ayat dalam al-Quran mengandung arti yang lebih mendalam. Ini adalah ramalan yang menakjubkan dari dunia baru atau bangsa­bangsa yang materialistis di Barat yang telah kehilangan semua perasaan tentang nilai hidup tertinggi. Kalajengking besar, ular naga sepanjang 600 kaki, dari Egyptologi, rayap yang besar-besar dan banyak, Tiamat dan Ahi, ular naga yang besar dari Weda, Behemoth, Leviathan dalam Alkitab, Tiamat dari Babylonia, Dajjal dalam kitab hadist kaum Muslim adalah serupa dalam perasaannya. Maka monster ini dari laut telah muncul. Apakah itu rayap, kalajengking, ular naga, monster, Behemoth, Leviathan, dan Keledai Dajjal adalah kejahatannya. Dan kepalanya akan diremukkan oleh Paraclete atau para pengikut sejati dari Paraclete dengan dalil yang meyakinkan dan bukti-bukti yang menentukan, yang telah dilengkapi oleh Quran Suci dengan wahyunya. Saya tak dapat mewacanakan masalah ini dengan rinci, karena hal ini akan dikaitkan dengan nubuat Nabi Ayyub.

Hasrat yang teguh dari seorang bijak dalam Weda.

Tertulis dalam Rig Weda: Surya(matahari) sang bijak, seperti bila tidak menikah, dengan pasangannya, dalam pertempuran dengan semangat penuh cinta bergerak menuju musuh-musuhnya. Semoga dia,  yang mulia sendirinya, memberi kita satu rumah perlindungan, suatu rumah yang menjaga dari teriknya panas dari segala penjuru (Rig Weda 5:44,7).

Benar-benar bait yang membingungkan, kata para mufasir. Kesulitannya adalah: ‘Matahari sang bijak’.
Pertanyaannya adalah apakah ini dewa matahari atau  seorang yang bijaksana?
Dikatakan lagi: Dia itu ‘tak menikah’ tetapi mempunyai ‘pasangannya’.
Dalam pertempuran yang penuh cinta, nampak bertentangan dengan semangat sang bijak.
Bergerak mengatasi musuh, demi maksud apa, matahari atau orang bijak?
Semoga dia, yang mulia sendirinya, tak menikah dengan seorang pasangan, pertempuran dengan
semangat kecintaan, bergerak menuju musuh tanpa suatupun  tujuan yang positif, dalam pemaparan ini tak nampak kebajikan sama-sekali.
‘Berilah kita satu rumah perlindungan’. Bila ini matahari jelas tak bisa memberi anda rumah perlindungan.
Bila dia seorang bijak, maka dia akan menasehati anda. Saya bukanlah pejabat pemberi tempat tinggal, maka berdoalah kepadanya.
‘Suatu rumah yang menjaga dari teriknya panas dari segala penjuru’. Suatu permohonan yang tidak cocok ke kantor matahari. Pejabatnya akan membalikkan kepadamu dengan catatan ini: hanya panas terik yang bisa kami hadiahkan kepadamu. Kami tidak punya rumah beralat pendingin.
Anda bisa minta kepada dewa matahari, agar dia memberi anda rumah yang mencegah dari dingin yang mencekam, tetapi anda tak bisa berharap dari Agni (dewa api) menghadiahi anda dengan es krim.
Anda bisa mengatakan bahwa bait-bait ini adalah kiasan yakni Matahari adalah nama Tuhan yang Maha-kuasa, dan kita bisa berdoa mohon perlindungan, keputusan yang bijak, tetapi ini tak bersangkut-paut dengan masalah yang dipersoalkan dalam bait ini: ada matahari sang bijak, tidak menikah tetapi punya pasangan, bergerak menuju musuhnya, dan seterusnya.
Namun, bila seseorang mendesak terus untuk perkara ini, maka jawaban dari sekretaris Yang Kuasa akan menjadi: Kami telah mengaruniaimu dengan otak dan kecerdasan, maka pergilah dan bangun rumahmu sendiri.

Penafsiran rasional atas bait-bait ini

Dengarkanlah dariku penerjemahan yang masuk akal dari bait-bait ini: Matahari yang bijak bukanlah benda langit yang penuh gas. Dia seolah tidak menikah tetapai mempunyai pasangan. Seorang Muslim yang sempurna pada waktu berpuasa. Dia dalam pertempuran dengan semangat kecintaan. Pertempuran ini adalah melawan dirinya sendiri terhadap nafsu rendah, melawan pasukan kejahatan, kemesuman, ketidak-adilan dan kerusakan moral. Pertempuran ini membutuhkan barisan yang tangguh, latihan untuk menciptakan kemauan yang keras, disiplin, pengendalian, pemeriksaan ketat, karenanya, dia melewatkan sepanjang hari dalam panas terik dari segala penjuru, tanpa makan dan minum, dia memiliki pasangan cantik di sampingnya, tetapi sepanjang hari seolah dia tidak menikah, segala macam minuman pelepas dahaga dia punya, dan tak ada kelangkaan makanan yang lezat cita rasanya, tetapi dia tidak makan dan minum, karena Tuhannya telah melarangnya dan dia memiliki keyakinan teguh bahwa Dia melihatnya dan dia itu di hadapan Tuhannya sepanjang hari. Dia menyusun perispan untuk memerangi pasukan iblis, dan dia bergerak menuju musuh-musuhnya. Hadiahilah kami suatu rumah perlindungan! Dia mohon perlindungan, suatu tempat suci, suatu pengamanan terhadap Setan dan perbuatan jahatnya. Suatu rumah yang menjaga dari teriknya matahari dari segala penjuru? Rumah itu bukanlah bangunan dari batu atau bata, tetapi rumah itu adalah agama sempurna yakni Islam, barangsiapa yang masuk ke dalamnya pasti akan selamat. Yakni al-Quran yang penganugerahannya terjadi pertama pada bulan ramadhan, bulan panas terik dari segala penjuru (terjemahan kata asli dari Ramadhan). Dalam Egyptologi, ‘Horus’ (matahari yang dijanjikan) dalam bulan ini mengikat dan menelikung Sut dan Sab (Setan) dengan rantai. Dan ini adalah tempat berlindung serta rumah berpendingin yang mengusir panas teriknya neraka baik di dunia maupun di akhirat. Maka, para saudaraku yang beragama Hindu, masuklah dalam rumah yang ditandai Swastika ini dan anda akan selamat. Jangan salahkan atau takut kalau seorang muslim mengundang anda, karena ini adalah orang suci yang bijaksana milikmu sendiri dalam Weda yang menghimbau anda agar masuk dalam suaka perlindungan Islam ini.

Suatu cahaya yang luas untuk menerangi bangsa Arya.

“Di dalammu, O terang benderang seperti Mitra (matahari), Vasus (pendar cahayanya), duduklah  kekuatan dari Asura (orang bijak) karena mereka cinta kepada semangatmu. Engkau telah mengusir  Dasyus (putera kegelapan) dari rumah mereka, O Agni (pribadi yang memberi cahaya) dan membawa  cahaya yang luas untuk menerangi bangsa Arya” (Rig Weda 7:5:6).

Baik kawan maupun lawan mengakui, bahwa bangsa Arya mengusir penduduk asli India dari tanah-airnya. Mereka menamainya Dasyus, sebagai perampok, pencuri, dan putera kegelapan dan sebagainya serta memperlakukan mereka sebagai kriminal. Tetapi bait-bait ini memberi kita suatu penerangan yang luas atas pertanyaan kritis ini. Jelas bahwa putera kegelapan tidak menyukai cahaya. Sewajarnya, mereka adalah musuh cahaya dan ingin memadamkan cahaya. Karenanya tak bisa dipersalahkan atau tidak adil kalau dewa cahaya itu mengusirnya dari rumahnya. Tidak, mereka sendiri lari dari rumahnya yang gelap untuk memadamkan cahaya dan melenyapkannya. Untuk memahami terjemahan yang benar dari bait-bait yang membingungkan ini bacalah ayat berikut dari Quran Suci:

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, dan setelah api menerangi sekelilingnya, Allah mengambil cahaya mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan –
mereka tak dapat melihat” (Q.S. 2:17).

Bait dari Weda menunjukkan: Di dalammu, O terang benderang seperti Mitra atau matahari, pendar-pendar cahayanya (yakni para pengikutmu), duduk melingkar, seperti orang-orang bijak yang belajar darimu karena mereka mencintai semangatmu. O Agni, yang menyalakan api, engkau telah mengusir Dasyus (putera kegelapan) dari rumahnya. Orang yang menyalakan api ini adalah dewa Agni yang terpuji, Nabi Suci s.a.w.(Bukhari 81:26). Ada kegelapan di sekitar. Ketika dia menyalakan api, ini bersinar di sekelilingnya, karenanya, putera kegelapan, bingung dan buta, keluar dari rumah mereka seperti laron, dan menyerbu api, serta membakar dirinya sendiri. Sebaliknya ada orang-orang baik yang memetik manfaat dari cahaya itu. Sesungguhnya, cahaya yang luas ini adalah untuk menerangi bangsa Arya. Kata-kata bijak dalam Weda itu telah digenapi dengan segala cara. Kami kaum muslim di sub-benua India, 30 hingga 35 juta, telah menyaksikan kebenaran dari nubuatan yang menakjubkan ini, dan penulis buku ini adalah satu diantaranya, mengajak saudara-saudaranya yang masih meraba-raba dalam kegelapan. Alhamdulillah! diberkahilah mereka yang berjalan dalam cahaya.