MISTERI 'SWASTIKA' DIUNGKAP

 

MISTERI 'SWASTIKA' DIUNGKAP
(4/4)

NUBUATAN  YANG UNIK DAN MENAKJUBKAN :  MATAHARI DI TENGAH MALAM.

Dinyatakan dalam Quran Suci:

“Salam! hingga terbitnya fajar” (Q.S. 97:5).

 Dan di dalam Kebijaksanaan Kitab Weda:

“Paling bijak adalah dia, membuka paksa pintu-pintu Panis, membawa matahari yang benderang kepada kita, dia yang memberi makan banyak orang, pendeta yang ceria, sahabat sesama dan kawan serumah melalui kegelapan malam yang masih ada, dia membuatnya nyata”(Rig Weda 7:9:2).

Dalam kelanjutan perbincangan sebelumnya dari baris-baris Weda, bacalah yang satu ini. Hanya ada satu bundel yang mesti diurai yakni: “Siapakah yang mebuka-paksa pintu Panis dan membawa matahari yang benderang? Siapakah Panis itu? Panis, seperti Dasyus, adalah musuh bangsa Arya, seperti dinyatakan berulang kali dalam Rig Weda. Ini juga sering kali dikisahkan bahwa mereka mencuri sapi dan menyembunyikannya di pegunungan, dan Indra dengan bantuan matahari menemukannya serta membawanya kembali. Nirukta, komentar singkat Kitab Weda, berkata: Panis adalah rentenir tetapi Weda mendekritkan bahwa mereka harus dibakar (Nirukta 6:26). Bait-bait ini jelas kabur, kata komentator. Sekarang, dengarkanlah tafsiran yang masuk akal dari saya: Panis adalah Bani’s (Bani Israil) dan mereka itu suku bangsa yahudi. Mereka tak pelak lagi adalah pelepas uang dan mereka juga percaya bahwa wahyu Ilahi itu hanya monopoli bani Israil. Sekarang terjemahan yang benar dari bait-bait ini adalah pada kebijakan ini:: Sungguh bijak dia yang membuka paksa dan memecahkan pintu-pintu Bani Israil serta membawa matahari ini kepada kita (yakni Nabi Suci), yang membawa roti ruhani kepada semua orang; dia itu pendeta ceria atau Pembimbing spiritual yang baik, sahabat sesama dan pemberi harapan baik kepada umat manusia, yang masih dalam kegelapan diberi cahaya yang nyata".

Sekarang tiba pada pertanyaan ‘Panis mencuri sapi’. Sapi dalam Weda mempunyai macam-macam arti; satu di antaranya adalah pembicaraan atau wahyu Ilahi. Karenanya, Panis mencuri sapi berarti: Mereka menyembunyikan kebenaran dan petunjuk Tuhan, sebagaimana yang dinyatakan berulang-kali dalam Quran Suci. Maka penalaran dari baris-baris ini adalah bahwa ini suatu nubuatan bahwa Panis atau banis telah mengunci dan menyembunyikan kebenaran, tetapi Tuhan yang paling bijaksana memecah pintu-pintu mereka dan membawakan matahari ketulusan bagi pedoman umat manusia. Tepat seperti matahari fisik menyiapkan bagi kita makanan dan buah-buahan, seperti itu pula matahari ruhani membawakan roti spiritual bagi semuanya. Dia adalah harapan baik bagi seluruh umat manusia. Hal yang pantas dicatat dari sini adalah bahwa matahari ini pemunculannya pada waktu malam masih sunyi dan gelap. Ini diungkap dalam bait Weda (Rig Weda 7:9:2) begitu pula dalam Quran Suci: “Demi langit yang datang pada waktu malam!”(86:1).

Bandingkanlah ini dengan bait-bait Weda. Langit disebut sebagai sebagai saksi. Pendatang pada waktu malam tiba dan mendapati pintu tertutup, dia mengetuk, kemudian membuka-paksa pintu. Dia datang pada saat gelap pekat melingkupi seluruh dunia. Bait-bait Weda menunjukkan bahwa dia membawa terangnya matahari kepada kita, sebagaimana diterangkan oleh ayat Quran Suci:

 “Dan apakah yang membuat engkau tahu apakah yang datang pada waktu malam itu? (Yaitu) bintang yang mempunyai sinar tembus” (86: 2-3).

Bait-bait dalam Weda adalah saksi dari langit yang memberi kebijakan kepada pakar dunia dari setiap agama bahwa Tuhan yang paling bijaksana telah mengirim utusan-Nya pada waktu malam ketika pintu­pintu Panis (atau mereka yang hanya melihat hari ini dan bukan esok) ditutup. Dia mengetuk dan mengetuk, kemudian membuka-paksa pintu. Dia juga datang dengan sarapan ruhani bagi seluruh dunia. Dia ceria dan harapan baik bagi seluruh kemanusiaan. Lebih dari itu, dia tak pernah mengatakan bahwa dia itu Tuhan atau putera Tuhan. Dia berkata: Saya kawanmu, saya sahabatmu. Dia datang tepat pada saat yang diramalkan dalam Weda, diperkirakan oleh Yesus dalam perumpamaan sepuluh perawan (mateus 25:1). Temanku yang baik, pengikut agama apapun di dunia, renungkanlah ini dan bercerminlah atasnya. Nabi Suci itu utusan yang buta-aksara dari Tuhan, dia tak pernah membaca Weda, atau mempunyainya, atau mengenalnya. Tetapi seluruh bait-bait Weda ini seperti pintu yang terkunci, mustahil dibuka tanpa seorang juru-kunci yang cerdas dan murni dan kunci ini ada di Quran Suci dan tak ada juru-kuncinya kecuali Nabi Suci. Bacalah setiap terjemahan dari Weda yang anda sukai, anda akan tiba pada kesimpulan bahwa bait-bait ini kabur dan membingungkan. Dengan diterangi al-Quran anda akan temukan kebijaksanaan di dalamnya, ketika kegelap-pekatan meliputi seluruh bangsa-bangsa di dunia, satu matahari pemberi cahaya datang dan mengetuk pintu dunia yang sedang nyenyak. Adalah suatu tanggung-jawab yang dibebankan kepadanya untuk mereformasi kemanusiaan, dan dia mencari pertolongan Tuhan melalui doa kepadaNya, doa yang paling efektif adalah salat di waktu malam, ketika dunia sedang tidur.

Bait-bait Swasti di Rig Weda.

Di dalam Rig Weda banyak bait-bait tentang Swasti. Dari sini, beberapa telah saya sentuh. Bab  64 dari Kitab ke sepuluh  Rig Weda memiliki 17 bait dimana sifat Nabi Suci kita disebut; tetapi saya begitu terbatasi oleh singkatnya waktu sehingga adalah tidak adil untuk memetiknnya dan kemudian menghela nafas atas tema dan tesis yang indah ini. Namun, di sini saya sajikan beberapa petikan dari obat pemberi kehidupan ini.

Kata-kata penutup tentang Swastika.

Di sini beberapa kata penutup tentang Swastika:

Swastika adalah semacam salam atau doa untuk perdamaian.Ini di dalam pilihan kata agama Islam yakni
‘Assalamu’alaika’ sebagaimana dikutip di atas, yang berarti ‘Semoga damai bagimu’ (5).
‘Swastikar’ adalah seorang yang mengucapkan perdamaian, dan ini adalah seorang  muslim sempurna.
Swastika adalah lambang dari perputaran matahari, (rancangan Islam) damai bagi seluruh penjuru bumi. Ini bukanlah suatu agama dari bangsa atau negeri tertentu.
Ini adalah suatu nubuatan simbolis akan datangnya matahari atau matahari besar dalam suasana spiritual.
Ketika seorang muslim melaksanakan salatnya, dia membuat gambaran Swastika (damai) di dada atau hatinya, yakni, saya adalah sumber perdamaian bagi seluruh kemanusiaan.
Ketika dia menyelesaikan salatnya, dia berkata Assalamu-alaikum wa rahmat-Allah wa barakatuhu,
Swastika (damai dan rahmat serta berkah Tuhan) bagi dunia sebelah kanan; lalu damai dan  rahmat serta berkah Tuhan bagi dunia sebelah kiri.

Saudaraku yang terkasih, bila anda dengan baik-baik mau mendengar dengan kecerdasan penuh, anda akan menyadari bahwa di setiap bibir seorang muslim bila bertemu dengan orang lain dia selalu mengucapkan Swastika (damai atas kalian!). Bila mereka mendekat, mereka berangkulan satu sama lain yakni membuat Swastika (damai) dengan ada dan hatinya sambil berkata salaman salama (Saya menyampaikan damai kepada anda dan saya dalam damai dengan anda. Islam adalah semantik yang bersinar dari Swastika (damai), agama seorang muslim yakni Islam atau damai; dia adalah seorang muslim (pencinta damai); Tuhannya bernama Al-salam (sumber perdamaian). Betapa dia seorang Pangeran Perdamaian, karena agamanya summum bonum adalah “Damai dengan Tuhan dan damai dengan sesama”. Inilah swastika yang  murni, Matahari Bersinar yang akan tiba, dinubuatkan oleh semua nabi di dunia, yang mengumumkan, bahwa “Seluruh Nabi-nabi dari bangsa yang berlain-lainan adalah bersaudara”. “Wahai Nabi, Sesungguhnya umat kamu ini, umat satu”(Q.S. 21:92). Apakah ini emblem dari matahari, yang bersinar ke seluruh dunia, atau salam atau ucapan salam di bibir atau ditulis sebagai pembukaaan surat, seperti yang ditulis Sir Monier Williams dalam kamusnya. Ini adalah simbol dengan empat tangan, yang menunjukkan damai ke seluruh dunia, sesungguhnya inilah Islam dan Nabi Islam, sebagaimana telah dibuktikan dengan dalil-dalil. Keempat tangan dari Swastika bertemu di pusat atau titik sentral dalam segitiga di puncak piramida (satu keajaiban dunia yang unik) yang menunjukkan ‘Horus’ mempunyai 60 asma dalam dirinya. Tanpa sedikitpun keraguan ini pasti Nabi Islam. Islam adalah suatu antologi antar-agama, suatu benang merah yang menghubungkan agama-agama, suatu jembatan panjang tempat bertemu segenap orang-orang bijaksana di dunia, suatu kamus lengkap dari segenap kitab-kitab suci, suatu stasiun yang berlimpah dimana kereta-api datang dari Timur, Barat, Utara dan Selatan serta para penumpang dari keempat penjuru dunia berkumpul bersama.Ada gedung rumah makan raksasa di dalamnya dan di mejanya, tergelar makanan yang penuh gizi dan lezat dari langit atas pesanan para penganut serta doa Yesus sendiri. Di sini ada menu, piring-pring India penuh dengan Dal Bhat Weda, dibumbui dengan Swastika yoghurt, panggang ayam Buddhi Cina di Dhammapada yang berminyak, Daging murni bagi Yahudi, dibumbui dengan brambang dan bawang  dalam minyak zaitun, bagi kaum Majusi ada podeng beras dengan susu sapi. Ada juga berpiring-piring Mush yang dibumbui dari Buku Kematian Mesir Kuno.(6).”Di sana mereka akan memperoleh apa yang mereka inginkan, dan di hadapan Kami ada tambahan lagi”(Q.S. 50:35). Masuklah dalam Gedung Swastika ini atau Balai Perdamaian (yakni Islam) pada pertemuan luar biasa bagi segenap pengembara dunia ini. taK ada pembatasan bagi kasta Brahma, Ksatrya, Waisya, Sudra. Israil, non-Israil, hitam atau putih, kasta tinggi atau rendah. Tak akan pernah ada perkataan kepada seorangpun jua: “Kamu anjing, tak ada roti bagimu”(Matius 7:6, 15:27, Markus 7:27, Isaiah 56:10, Phil.3:2).

Semua dengan senang hati diundang dan dilayani dengan sangat memuaskan,
Dan di sana Swastika, damai dan berkah Tuhan bagi semuanya,
Dan salam damai bagi semuanya (Assalamu’alaikum).

Damai dengan Tuhan Yang Maha-kuasa, dan damai dengan umat manusia, agama dari seluruh orang bijak di dunia dan agama bagi kemanusiaan seluruhnya.

 


5. Monier Williams, Sanskrit English Dictionary.
6. Matt.7:6, 15:27, Mar.7:28, Isai.56:10, Phil.3:2.