MUHAMMAD dalam 'KITAB ORANG MATI'

 

MUHAMMAD DALAM SILABUS MISTIK ‘KITAB ORANG MATI’, SIAPAKAH HORUS?

31. Horus dalam bentuk seekor burung.

Rajawali atau elang mewakili Horus, dan gagak adalah simbol Sut (12). (Lihat no.30).

32. ‘Horus sebagai Har-Machus’, berarti kapak dobel atau pemukul batu (Lihat no.6).

33. Horus pada usianya yang kedua belas tahun. (lihat no.2 dan 28).

34. Horus pada usianya yang ketiga puluh tahun (lihat no.28).

35. Horus sebagai seorang mumi (Lihat no.15).

36. ‘Horus sebagai satu ruh yang besar’. Ini dalam ‘Kitab Orang Mati’ bab 78.

Dia adalah ruh yang hidup dari Ra (matahari di langit). Dia adalah satu-satunya dari ruh besar yang dilahirkan dari ibi 'T‘juh ruh besar’, identik dengan tujuh nabi besar yang menubuatkan kedatangannya.

37. Saya merantai Sut (Setan) (Kitab Orang Mati, Piring no.5).

Sut atau setan dirantai di dunia bawah. Adalah kenyataan bahwa dia dirantai di Arabia, yakni seluruh negeri Arabia disucikan dari penyembahan berhala, miras, dan kejahatan lain-lainnya. Suatu fakta unik yang tidak pernah terjadi dimanapun dalam sejarah kemanusiaan.

38. Ibu besar menyusui Horus.

Kata-kata ini sangat signifikan, dalam Egyptologi nama ibu itu adalah ‘Kat’ dan dia selalu dihubungkan dengan ‘Isis’. Mekkah dalam bahasa Arab berarti susu ibu. Makkah sebagai ibu dari bangsa-bangsa juga ibu dari Nabi Suci, dia yang menyusuinya segera setelah kelahirannya. Dengan wahyu Makkiyah kita menunjukkan bahwa wahyu itu diturunkan di Mekkah. Kelahirannya ini adalah kelahiran kedua atau kelahiran spiritual menunjukkan bahwa Ruhul Qudus datang kepadanya, dengan perkataan lain suatu kelahiran dari Tuhan. Islam, atau wahyu Ilahi, diperlakukan buruk oleh Sut (musuh). Dus ini digambarkan sebagai kalajengking besar, yang menyandera Isis dan Horus, yakni ibu dan anak, sebagai tawanan di sebuah rumah, tetapi dengan pertolongan Jibril, yang dalam Egyptologi disebut Thoth, dia meloloskan diri dengan anaknya, menurut teks Egyptian. Seperti telah diterangkan, Mekkah dalam tempat pertama mewakili Islam, yang melahirkan Nabi Suci kita. Dalam permulaan Islam dan anaknya, yakni Nabi Islam, dianiaya oleh kalajengking atau musuh-musuh Islam, tetapi, setelah itu, dengan pertolongan Jibril, Islam dan Nabi Islam keduanya lolos, dalam fraseologi Mesir.

39. Horus sebagai satu dari tujuh ruh besar.

Tujuh bintang di langit menunjukkan bintang-penunjuk, dan bintang ini adalah titik tetap di langit, yang memberikan petunjuk sejati kepada pengembara. Ini diperkuat oleh Quran Suci:

“Dan tanda-tanda batas. Dan mereka menemukan jalan yang benar dengan bintang-bintang”(16:16).

Sebagaimana tujuh bintang di langit menunjukkan jalan yang benar, demikian pula tujuh Rishis atau nabi, yang membimbing setiap pencari kebenaran kepada bintang petunjuk ruhani yang abadi posisinya di langit ruhani yakni Muhammad, akhir dari para nabi. Tujuh nabi besar ini adalah Nuh, Ibrahim(Brahma), Musa, Daud, Buddha(Dzulkifli-Pent.), Sulaiman dan Yesus(Isa-Pent.). Ini semua jelas meramalkan kedatangan Nabi Suci kita.

40. Horus sebagai bintang-penunjuk.

Dalam mitologi, bintang-penunjuk adalah emblem yang menunjukkan stabilitas, suatu pengaturan singgasana kekuasaan. Ini disebut Anup atau Horus dalam Mesir Kuno, Sydek di Phunisia, ‘An’ di Babylonia, Ame-No-Foko-Tachi-Kami pada bangsa Jepang. Agak paralel dengan mitologi Mesir ini; tertulis dalam Rig Weda bahwa “vishai karman berdiam di Utara tertinggi dibawah tujuh Rishi”(Rig Weda 10:82:2). Horus dari Mesir dan vishai karman yakni Aditya(matahari) adalah persamaan nama. Vishay karman adalah Aditya, yakni matahari (Nirukt.10:26). Vishai karman ini dinyatakan dalam Rig Weda mengabdikan dirinya semata-mata kepada Tuhan Yang Maha-kuasa, dan ini dinyatakan dalam Quran Suci:

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam.Ia tak mempunyai sekutu. Dan ini diperintahkan kepadaku, dan aku permulaan orang yang berserah diri” (Q.S. 6:163-164).

‘Aku permulaan orang yang berserah diri’ paralel dalam Rig Weda sebagai “prathmach-had vram”, “Yang pertama menyembah atau memuja atau yang pertama berserah diri” (Rig Weda 10:81:1). Setiap orang dari kita mengetahui bahwa bintang-penunjuk ada di langit tertinggi di Utara. Tujuh Rishis atau Pembawa yang Besar menunjuk kepada bintang-penunjuk. Dalam seluruh dewa mistis bintang-penunjuk adalah simbol dari stabilitas, (namanya dalam Sanskrit adalah Dhruv yakni tetap dan stabil) suatu tempat kedudukan dan singgasana kekuasaan, yakni dewa tertinggi (tuhan/dewa  sebagai istilah kewibawaan dan kehormatan). Ini berarti ‘Horus’ dan Horus adalah prototype dari matahari atau, lebih tepatnya, “matahari yang akan tiba”, yakni Nabi Suci Islam, sebagaimana saya telah sebutkan sebelumnya. Tetapi bintang-penunjuk ini adalah emblem dari stabilitas, seperti bintang yang tak pernah tenggelam. Bintang-bintang lain berubah posisi dan tenggelam, tetapi bintang-penunjuk selalu dalam kedudukan yang tetap atau di atas cakrawala Utara. Aspek ini adalah tanda-bukti dari kenabian nabi Suci kita, yang tak pernah berubah, tak pernah hilang sedikitpun, selama dan selama-lamanya stabil dan teguh laksana bintang-penunjuk. Nama lainnya dalam Egyptologi yakni Anup suatu kata biasa dalam Sanskrit dan Egyptologi yang berarti sebatang pohon dekat air; anda boleh menyebutnya senantiasa hijau. Ini adalah suatu subyek yang sangat luas sehingga satu buku bisa ditulis untuk perkara itu saja. Seluruh surat 53 dari al-Quran berisi subyek perkara ini atau suatu ringkasan darinya. Di sini saya akan tunjukkan hanya satu ayat saja dari surat itu: “Demi bintang tatkala terbenam” dari bukit menurut Egyptology, atau sesudah pendakiannya menurut beberapa muslim dan tafsir dari Imam Jafar. Dengan bintang yang dimaksudkan adalah Nabi Suci, yang turun dari bukit serta membawa pesan bagi seluruh kemanusiaan.(Dalam fraseologi Freemason, bintang-penunjuk adalah semacam keabadian, karena, jelas, dia tak pernah berubah dengan berjalannya waktu. Ini adalah simbol yang paling awal dari keunggulan kecerdasan, yang memberi hukum di langit, suatu titik patokan di langit bagi fikiran manusia untuk menggantungkan dirinya dari titik pusatnya ke pinggiran, satu titik dalam lingkaran dari mana kita tak bisa meleset lagi.(13). Mata di puncak bukit atau titik di tengah lingkaran adalah sejenis ‘Anup’, dan hukum yang paling awal di langit itu diberikan di puncak bukit, karena puncak bukit itu bayangan dari penunjuk, dan ‘Anup’ menata hukum sebagai hakim). Kata-kata dalam Quran Suci adalah sebagai berikut:

“Kawan kamu tidaklah sesat, dan tidak pula menyimpang. Dan ia tak berbicara atas kemauan (sendiri). Itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan” (Q.S. 53:2-4).

Dan ayat berikutnya. Bintang-penunjuk adalah semacam keabadian (atau Nabi Suci pada peristiwa itu sedang dalam tekanan).

“Lalu ia mendekat, dan bertambah dekat lagi,    Maka ia berjarak dua busur atau lebih dekat lagi”(Q.S. 53:8-9).

Dan dia mewahyukan:”Dan Dia di cakrawala yang tertinggi, yakni serupa dengan bintang-penunjuk, dan ukuran dari busur, menunjukkan kedekatannya”.

Ringkasan dari semua ini adalah:

Bintang penunjuk adalah lambang dari ‘Horus’ atau Nabi Suci kita, dia menjadi pelayan Tuhan atau terbebas dari pelayanan kepada semua yang lain. Pendakiannya atau ditariknya dia ke dekat Tuhan berarti menerima wahyu atau hukum. Dan ini terjadi di bukit Hira, dimana dia menerima wahyu pertamanya.

41. Horus menjadi penguasa tanah.

Pewarisan dari bumi sekarang diberikan kepada ‘Horus’. Dia memakai dua mahkota yakni sebagai penguasa dari dua bumi; dia sekarang berayun pegangannya bagi dua bumi atau sebagai pemersatu dari dua cakrawala. Rumahnya adalah gabungan dari dua bumi (14). Tidak perlu berkomentar atas hal ini. Sebelum Nabi Suci, ada dua bumi, Utara dan Selatan, atau Timur dan Barat. Nabi-nabi dibangkitkan di setiap bangsa, baik di Timur maupun di Barat. Tetapi Nabi Suci kita adalah penguasa dari kedua dunia, rumahnya adalah bagi yang di Timur maupun di Barat atau bagi yang di Barat dan di Timur, karena dia adalah pusat, pemersatu dari kedua cakrawala.

42. Pertempuran di antara ‘Horus’ dan Sut (Setan).

Ada peperangan di antara Horus dan Sut(Setan). Sut merubah dirinya dalam bentuk ular naga, Horus mengangkat tongkatnya untuk membunuhnya. Sut masuk ke sebuah lubang. Maka Horus dengan tongkatnya mengawasi lubang itu. Ini adalah suatu kenyataan sejarah bahwa, sebelum dibangkitkannya Nabi Suci kita dalam kenabiannya, Sut adalah penguasa jazirah Arab. Ketika Nabi Suci dibangkitkan, ular naga  masuk ke lubang. Maka kini tongkat (al-Quran) mengawasi lubang itu, dimana kalau ada al-Quran, maka Setan tetap di lubangnya.

43. Horus mempunyai dua ibu.

Satu Isis perawan tanpa dosa, yakni dalam arti harfiah adalah Aminah, ibu dari Nabi Suci kita. Ibu kedua dari Nabi kita adalah Halimah, yang menyusui Nabi Suci kita. Secara kiasan, Nabi Muhammad pertama adalah putera Aminah, yang suci dari dosa, disusui oleh Halimah, yakni Yang-penyayang.

44. Para pengikut ‘Horus’.

Ada tertulis bahwa pengikut Horus menyerbu negeri, menaklukkan pribuminya, menetap di sana, dan membangun dinasti kebudayaan besar yang kita sebut Egypt (Primordial Man, hal.63). Sekali lagi, nubuat ini digenapi kata demi kata dalam pribadi para pengikut Muhammad. Ini adalah mukjizat kehidupan Muhammad dan para pengikutnya yang menakjubkan. Saya berdoa semoga Egypt sekali lagi akan bangun sebagai suatu peradaban yang besar.

45. ‘Horus’ adalah kebangkitan dan hidup.

Dalam Egyptologi ‘Ptah-saker-Ausar’, yakni, ‘Tuhan sejati dari kebangkitan’. Penderita yang diam, seorang yang berselubung, adalah dewa, yang membuka dunia bawah untuk kebangkiatn dalam mitos matahari yang permulaan (Ibid. hal.404). Dalam kutipan ini seringkali kata tuhan dan dewa digunakan, tetapi harus dicatat bahwa kata-kata ini hanya digunakan sebagai kewibawaan dan keagungan. Tak diragukan lagi bahwa di belakang hari bangsa Mesir menjadi penyembah berhala, tetapi pada permulaannya kebudayaan ini adalah monoteis. Albert Churchward menulis: “Bangsa kuno ini, pada masa Eskatologi mereka, tidak pernah menyembah binatang atau burung atau ular naga sama-sekali, dan adalah kesalahan besar kalau menganggapnya demikian” (hal.401). Maka ‘Horus’ adalah kebangkitan atau dewa kebangkitan, dan ini menunjukkan bahwa bangsa Arab dan Mesir sebelum Nabi Suci itu mati. Mereka tidak mempunyai kehidupan. Nabi Suci memberi mereka hidup, atau dalam istilah Alkitab dan al-Quran: Dia membangkitkan yang mati atas perintah Tuhan, dengan membacakan wahyu Ilahi kepada mereka. Mereka itu secara ruhani sudah mati, karenanya dia membangkitkan mereka secara ruhani.

46. ‘Horus’ sebagai ‘Pangeran perdamaian’.

Suatu terjemah harfiah dari kata ‘Muslim’.

47. ‘Horus’ sebagai singa.

Singa adalah simbol keadilan dan keberanian. Makna keadilan yang dimanifestasikan oleh Islam dan Nabi Islam tidak bisa diketemukan dalam suatu agama, bangsa atau negara  yang lain di dunia. Keadilan itu membutuhkan persatuan dari seluruh ras manusia. Ada bermacam-ragam hukum di seluruh dunia, dan hukum itu, selalu bisa berubah. Sedangkan keadilan itu stabil dan permanen selamanya. Hukum Amerika Serikat untuk bangsa Amerika, Inggris untuk bangsa Inggris, sedangkan hukum Islam itu universal dan manusiawi, mengatasi segala batasan ras, warna kulit, atau tapal batas wilayah. Suatu contoh dari hukum Kristen bisa disajikan di sini:

“Tetapi aku berkata kepadamu…siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Matius 5:22). Di sini hakim melebih-lebihkan kejahatan. Seorang kawan tertentu menyebut orang lainnya jahil di depan umum. Yang belakangan mendakwa yang pertama. Hakim mendendanya USD.10. Orang itu membayar dendanya dan kemudian minta salinan dari hakim atas vonisnya itu. Hakim bertanya:”Buat apa? Engkau toh telah mengaku”. Dia menjawab:”Saya menginginkan itu untuk minta banding kepengadilan tinggi sehingga majelis tinggi juga bisa mengetahui bahwa dia jahil”.

Dalam Perjanjian Lama tak ada keadilan diantara orang Israil dan non-Israil. Dalam Hukum Hindu tak ada keadilan dari kasta Brahma dengan orang non-Brahma. Tetapi di dunia ini anda akan dapati keadilan dalam Islam dan dalam dekrit dari Nabi Islam. Arti kedua dari kata singa adalah keberanian. Dan hal ini dinyatakan dalam Quran Suci berkaitan dengan para musuh Nabi Suci:

“Seakan-akan mereka itu keledai yang ketakutan. Yang lari dari singa” (Q.S.  74:50-51).

48. ‘Horus’ sebagai dewa penyembuh.

“Obat bagi apa yang ada dalam hati” (Q.S.10:57).
“Katakanlah: Itu bagi orang-orang yang beriman adalah petunjuk dan obat” (Q.S. 41:44)

Di sini al-Quran disebut penyembuh karena ini adalah obat bagi penyakit ruhani yang meraja-lela di dunia.
Ini Kitab yang membuktikan dirinya sebagai penyembuh, karena dia mendapati suatu negeri yang
dipengaruhi oleh penyakit spiritual dan moral yang paling buruk dan kurang dari seperempat abad seluruh bangsa dan negara bisa dibersihkan dari seluruh penyakit ini. Betapa pun, pengaruh penyembuhannya, tidak saja terbatas di jazirah Arab, dan kini tak ada satu bangsa di permukaan bumi yang tidak berdiri saksi atas besarnya kekuatan penyembuh dari al-Quran, yang begitu sangat jauh jangkauannya sehingga bahkan kaum non-muslim bisa sama-sama memetik manfaatnya.

49. ‘Horus’ sebagai ‘Pembaptis’.

‘Horus’ sebagai Pembaptis dengan api (di dalam tanki yang menyala-nyala). Jelas bahwa baptis dalam agama Kristen itu dengan air, tetapi Nabi Suci membaptis dengan peperangan, yakni api. Ini adalah menyalanya pengurbanan hidup yang diberikan oleh para sahabat Nabi Suci.

50. ‘Horus’ dengan ‘Tat’.

Adalah salah menyatakan bahwa ‘Tat’ itu berarti salib; ini adalah akhir huruf dari alfabet. Di sini menunjukkan nabi yang terakhir.

51. ‘Horus’ bersama Ibunya selama duabelas tahun.

Ibu pertama Nabi Suci adalah Mekkah atau setelah diangkat dalam kenabiannya belaiu tinggal di Mekkah selama duabelas tahun.

52. ‘Horus’ sebagai anak seorang perawan.

Tidak seorangpun dapat membuktikan dengan akalnya bahwa seorang anak tertentu itu dari perawan dan tak seorangpun bisa yakin bahwa anak itu dari seorang perawan kecuali ibunya sendiri. Tetapi setiap orang bisa menyadari bahwa jazirah Arab adalah suatu tanah perawan, sebelum Nabi Suci tak ada nabi yang dibangkitkan di Arabia. Karenanya inilah satu tanah perawan yang mengeluarkan manusia yang sangat luhur itu.

53. ‘Horus’ dibawa oleh Setan.

Ini adalah interpolasi atau rekaan misionaris Kristen bahwa ‘Horus’ dibawa oleh Setan ke gunung. Telah disebut diatas bahwa ‘Horus’ meremukkan kepala ‘Sut’(Setan). Itulah yang dilakukan Muhammad.

54. Horus meluhurkan Tuhannya di segala tempat.

Pastilah ini yang diamalkan oleh Muhammad. Yesus bahkan tidak tahu nama Tuhannya (lihat perbincanagan kita pada nama Yehovah).

55. Horus sebagai Bunga teratai.

Inilah ramalan Buddha mengenai Nabi Suci kita. Teratai adalah lambang kesucian dari dosa. Demikianlah Nabi Suci kita adalah murni dan suci seperti teratai (lihat catatan komprehensif mengenai hal ini dalam silabus mistik dari Buddhisme).

56. Horus datang menggenapi hukum.

Adalah Islam dan Nabi Islam yang menggenapi hukum. Kaum Kristen menghapus dan merusak hukum, dan menjadi ‘Antinomian’.

57. Horus masuk ke gunung.

“Horus masuk ke gunung pada waktu matahari terbenam untuk berwawan-sabda dengan Tuhannya”. Ingatlah Muhammad di gunung Hira.

58. Horus dari segitiga.

Adalah dalam wahyu kepada Nabi Suci kita bahwa Tuhan Yang Maha-kuasa itu mempunyai tiga asma yang menonjol. Pembimbing dan Pemelihara (Rabb), Maha-pemurah (Al-Rahman), Maha-pengasih (Al-Rahim). Ketiga asma inilah yang menjadi penyebab tunggal dari penciptaan.

59. Horus sebagai seorang gembala yang baik dengan lengkungan di bahunya.

Yesus tak pernah menjadi gembala. Dia seorang tukang kayu. Sesungguhnya adalah Muhammad yang menjadi penggembala itu.Dalam bahasa kiasan beliau sangat mencintai para sahabatnya. Beliau tak pernah bersabda kepada salah-seorang pun dari mereka:

“Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiku”(Matius 16:23, Yoh.13:2, 27, Mat.14:25,26). Hanya dari duabelas murid terpilihnya saja ada dua yang terpengaruh Setan, karena Petrus mengingkari Kristus tiga kali, dan Yudas menjual tuannya hanya untuk 30 keping (Lukas 22:3, Yoh.13:2,27. Mat.14:25,26). Para sahabat Muhammad lebih menyayangi Tuannya daripada jiwanya sendiri.

60. Horus berjalan di atas air.

Nabi Suci kita tidak pernah mengklaim seni magis semacam itu. Dia berjalan bersama Tuhan sepanjang hidupnya dan tak pernah tergelincir. Air itu berarti rencana Ilahi dan inilah arti sebenarnya dari berjalan di atas air; dan beliau  membuat para muridnya mengikutinya dengan sikap yang sama.

Kesimpulan

Ringkasan dari seluruh ideografi Mesir kuno ini ialah: Piramida besar dibangun di Mesir sebagai monumen dan memorial yang awet dari agama awal yang berkembang 6000 – 7000 tahun yang lalu oleh ilham Ilahi berdasarkan ilmu hukum dan pengetahuan sejati dari hukum alam semesta. Sungguh sekarang kita bisa melihat Piramida besar yang mengungguli segala yang lain yang pernah dibangun. Rahasia kuno telah digambarkan secara simbolis di batu-batu, dan bisa dibaca oleh mereka yang memperkenalkan rahasia misteri agama. Dalam ‘Kitab Orang Mati’ dan dalam tanda-tanda di Piramida ada secara singkat namun suatu fakta yang mencerahkan mengenai datangnya kehidupan seorang Guru Dunia. Tanda-tanda ini tak perlu menyebutkan namanya; dialah ‘Horus’ matahari yang besar, matahari yang bercahaya, dan tidak perlu dibuktikan dengan logika. Symbol yang diam initelah memancarakan keindahan dari pribadinya. Swastika, Gemmadion, empat gamma dan fylfot, itu synonim, yang berarti:

Hari-hari yang penuh kegelap-pekatan akan segera berlalu.

Suatu matahari yang memberi cahaya akan menerangi jalan.

Di pusat dari Swastika di sana bersinar nama ‘Horus’ yang berarti matahari besar. Horus dikhitan dan tetesan darah jatuh. Tetapi apakah sunat ini? Secara kiasan ini berarti menyucikan secara spiritual. Seperti yang anda lihat, matahari tidak pernah meninggalkan hukum tetapi selalu mentaati hukum dari Tuhannya dengan berserah diri, maka begitu pula dia yang akan datang akan dikhitan baik fisik maupun spiritual. Kata ‘bersunat’ seringkali digunakan untuk membedakan monoteis dengan politeis. Duabelas tahun (setelah kenabiannya) akan dilewati di tengah kalajengking. Dia adalah tangkai muda jagung yang selalu bertumbuh di tengah semak lebat yang berduri tajam. Dia menangis, dan air matanya mebuat langit menangis, maka hasilnya adalah kegembiraan, seperti pepatah: Siapa yang menanam tangis akan panen kegembiraan. Ini akan menjadi pedoman bagi seluruh kemanusiaan yang berdiri di kegelapan selama ratusan tahun. Dia adalah ‘pemimpin besar dari pemukul batu’ yang akan memecah semua hambatan dan batu, dan meratakan gunung-gunung yang membagi kerajaan Tuhan. ‘Dia adalah yang menderita dengan diam’. Dia tak pernah mengutuk musuhnya (bahkan kepada pohon yang tak berdosa). Tidak, lebih dari itu, dia selalu mendoakan mereka. ‘Pangeran keabadian’. Seperti halnya matahari yang selalu menyinari bumi, begitulah tak ada akhir dari kenabiannya. ‘Dia adalah permata emerald’, yakni penghapus dosa. Seorang pemberi semangat keberanian dengan akhlak yang luhur. ‘Pangeran dari hati nurani’. Dia adalah seorang pemaaf yang agung. Tidak, lebih dari itu, dia adalah satu kabel penarik untuk mengangkat bangsa yang jatuh. ‘Dia mempunyai dua ibu’. Banyak orang mempunyai dua ibu. Tetapi dia mempunyai satu ibu bernama Aminah (yang tak berdosa) dan Halimah (penyayang) yang menyusuinya dengan kasih-sayang dengan perilaku yang luhur. Karena dua ibu ini juga merupakan ibu dalam arti kiasan. Satu dewa-air. Pemilik Al-Kauthar (kemurahan yang berlimpah-ruah). Al-Quran adalah persediaan yang berlimpah-ruah dari air samawi yang diwahyukan di manapun di bumi ini.

‘Tuhan-merah dari keadilan’. Dia adalah singa bukan kambing dari Nazareth. Dia adalah elang  rajawali dan bukannya merpati dari Bethlehem, tetapi dia yang perkasa, yang bijaksana.
Dia merantai setan di dunia bawah.
Dia adalah kehendak tujuh nabi besar, yang meramalkan dia.
Dia adalah bintang-penunjuk dari stabilitas.
Dia akan memakai dua mahkota. Sebagai seorang anak yatim di tengah musuhnya yang kuat dia
menegakkan kerajaan dan dimahkotai sebagai seorang nabi besar.
Penganutnya menaklukkan dan menjadi pendiri suatu peradaban baru.
Pangeran kebangkitan. Seorang yang membangkitkan seluruh bangsa (tidak hanya beberapa orang seperti Yesus).
Pangeran perdamaian. Dia membangun dan meletakkan landasan bagi agama perdamaian (Islam) di bumi ini.
Pembaptis dengan api (dengan peperangan) dan bukan dengan air.
Ia berjalan di atas air. Air berarti hukum. Maka ini adalah hukum Tuhan bahwa Nabi Suci itu berjalan di atasnya tanpa takut dan para sahabatnya juga berjalan di atas air dan mengikuti dia.
Dia adalah pangeran dari dua cakrawala. Bukan hanya seorang gembala dari bani Israil yang hilang.
Wahyunya (al-Quran) adalah aliran air yang kuat dan mengaum. Tak seorangpun yang bisa menyentuhnya dengan tangan yang kotor (Q.S.56:79). Ini bukanlah aliran sungai Yordan yang masuk ke Laut Mati dan menjadi bahan yang ditambahi atau di kurangi; dia adalah untuk jangka lama dan selama-lamanya.
Pembawa kesejahteraan (Swastika) untuk dunia. Agamanya bernama Islam (perdamaian sempurna).
Dia adalah tukang ikan. Sebagaimana Yunus yang muncul dari ikan setelah tiga hari, begitu pula
Muhammad keluar dari gua Tsur setelah tiga hari.
Ikatan rambutnya mencapai daun telinganya dan untaiannya hitam seperti burung gagak yang dibenarkan oleh Sulaiman (Kidung Agung 5:11). Untuk gambaran tertulis dari Nabi Suci kita, dari Sulaiman yang kita sayangi, silahkan menampilkan semua atribut dari ‘Horus’ dan anda akan menyadari bahwa ini semua adalah kehangatan serta keelokan dari Nabi Suci Muhammad s.a.w.