MUHAMMAD dlm 'KITAB AGAMA MAJUSI'

 

MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI AGAMA MAJUSI
(ZEND AVESTA DAN DASATIR)
(2/5)

BAGAIMANA ZOROASTER MERAMALKAN KEBENARAN DARI NABI SUCI

 “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, dan setelah api menerangi   sekelilingnya, Allah mengambil cahaya mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan –   mereka tak dapat melihat” (Q.S. 2:17).

Beberapa orang yang materialistis dan tak punya nalar, ketika menemukan kemiripan yang dekat antara ajaran dari dua kitab suci agama, cenderung untuk mengira bahwa kitab yang diwahyukan belakangan itu menyontek ajaran dari kitab yang lebih tua. Tetapi Tuhan yang telah memberikan Cahaya kepada seorang nabi dan umatnya dapat juga memberikan Cahaya dan Kebenaran yang sama kepada nabi yang lain. Selanjutnya, para nabi dan pengikutnya selalu berusaha menjaga hadiah Ilahi ini hanya ke lingkungan khusus mereka sendiri. Maka sedikitlah kemungkinan peniruan atau reproduksi ajarannya. Tuhan itu Pemelihara dunia sehingga mustahil melalaikan setiap makhluk-Nya. Dia adalah Tuhan Timur dan Barat. Seperti matahari fisik yang berjalan dari Timur ke Barat untuk memberikan sinarnya ke setiap umat dan tempat, begitu pula matahari ruhani dan Cahaya Ilahi sama-sama memancarkan sinarnya ke segenap umat dan negeri. Setiap kaum memiliki Timurnya sendiri dan melihat matahari terbit dari sana, mengira bahwa dia terbit khusus buat dirinya saja, hanya ada satu Timur dan Barat. Tetapi setiap orang yang tahu bentuk bumi akan faham bahwa setiap titik darimana matahari terbit di Timur bagi umat di belahan Timur dan titik yang sama di Barat untuk manusia di belahan lainnya. Kebenaran ilmiah yang besar ini telah diwahyukan oleh Quran Suci tigabelas abad sebelumnya ketika dinyatakan:

 “Tetapi tidak! Aku bersumpah demi Tuhan tanah Timur dan tanah Barat!” (Q.S. 70:40).

Timur dan Barat itu istilah yang nisbi. Titik yang sama bisa berlaku buat Timur atau Barat bagi umat yang berbeda. Jadi Tuhan dengan merata memberkahi para makhluk-Nya dengan cahaya baik fisik maupun material. Tuhan yang memberikan Api kepada Zarathustra dengan mana dia menerangi negeri Iran, juga memberi kepada Bani Israil, ‘Bintang Timur’ (dalam pribadi Yesus Kristus) untuk membimbing mereka (Wahyu 22:16, 2:28;2 Petrus 1:19), dan Dia bangkitkan, bagi umat di India, Krishna Chandra atau “Rembulan”, karena menunjukkan cahaya bagi orang-orang di negeri ini. Lalu masalah yang perlu dipertimbangkan bahwa semua pencahayaan ini, Api Zarathustra, Bintang Timur Kristus, dan Rembulan Krishna telah meramalkan datangnya Matahari Bercahaya yang datang paling terakhir dari antara mereka dalam pribadi Muhammad. Jika Quran Suci menunjang dengan bukti-bukti atas ajaran mereka, maka mereka juga telah meramalkan kebenaran dakwah Nabi s.a.w. Karena itu, tak seorangpun dari mereka yang meminjam sesuatu dari yang lain. Mereka semuanya minum dari mata air yang sama dan Tuhan Yang-esa telah memberi mereka cahaya dan ajaran.

Ayat yang dikutip pada judul bab ini tepat benar diterapkan kepada rakyat Persia –

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, dan setelah api menerangi sekelilingnya, Allah mengambil cahaya mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan –mereka tak dapat melihat” (Q.S. 2:17).

Umat ini dikenal sebagai penyembah api dan kuil mereka disebut “Kuil Api”. Dari umat ini Tuhan berfirman dalam ayat ini bahwa sekeliling mereka menjadi terang ketika api itu dinyalakan, tetapi pada saat cahayanya diambil oleh Tuhan, mereka mulai terantuk dalam kegelapan seperti orang buta. Setelah mereka menyimpang dari jalan yang benar dari ajaran Zarathustra mereka dikatakan oleh al-Quran:

“Tuli, bisu dan (dan) buta, maka mereka tak dapat kembali”.(Q.S.2:18).

‘Kavi’ dan ‘Karapon’ adalah dua istilah khusus yang diterapkan dalam agama Majusi kepada mereka yang tidak dapat melihat atau mendengar sesuatu pun dari Tuhan (Ormazd Yasht,10; Bahram Yasht, 1:4). Ketika Raja Gard III (abad 5 s.M.) mendeklarasikan Zoroastrianisme sebagai Agama Negara Armenia, dia memproklamasikan dekrit berikut ini:

 “Kalian harus tahu bahwa setiap orang yang tidak mengikuti Mazda maka duia adalah tuli, buta, dan ditipu oleh setan Ahriman” (7).

Api yang dinyalakan oleh Zoroastrian sesungguhnya adalah lambang penyembahan kepada Tuhan. Dengan menyalakan api diharapkan mereka membuat ikrar bahwa mereka akan selalu mengikuti Cahaya Ilahi dan teguh dalam syariat agama mereka. Nabi Zarathustra sendiri menerangkan hal ini sebagai berikut:

 “Saya jelaskan kepadamu, mereka yang sedang berkumpul di sini, kebijaksanaan dari Tuhan Yang   Maha-bijaksana. Saya terangkan kepadamu pujian dan pengagungan kepada-Nya serta melodi dari   Jiwa yang saleh yang adalah suatu Kebenaran yang perkasa dan yang kulihat terbit dari Api Suci ini.   Dengarkan dengan cermat kenyataan dari fenomena ini, dan renungkanlah, dengan fikiran yang   jernih serta berbakti, terhadap nyala Api ini” (Gatha Yasht.30:1-2).

Jadi jelaslah dari dari kata-kata bijak dari Zoroaster ini bahwa Api dalam Kuil adalah tanda biasa dari janji untuk teguh dalam syariat agama dan memberi mereka suatu pemikiran yang mendalam.

Quran Suci juga telah membicarakan Api dan membuat hal ini semakin jelas untuk kaum Majusi.
Sesungguhnya, al-Quran menyatakan empat macam api.

Api yang bercahaya maupun membakar  seperti halnya api material.
Api yang tidak  bercahaya maupun punya kualitas untuk membakar, seperti api yang ada di dalam pohon.
Api yang tidak bercahaya, tetapi yang membakar, seperti misalnya api neraka.
Api yang bercahaya tetapi tidak membakar. Dan ini adalah petunjuk utama. Seperti dikatakan Musa:

“Tatkala ia melihat api, ia berkata kepada keluarganya: Tinggallah (sebentar), aku melihat api; boleh jadi aku akan membawa kepada kamu api yang menyala di sana, atau aku mendapat petunjuk pada api itu” (Q.S.20:10).

Pada tempat lain kita menemukan kata-kata: “Diberkahilah orang yang mencari api dan orang-orang di sekelilingnya”(Q.S.27:8).
Sejarah kini dari agama parsi menunjukkan bahwa beberapa lama setelah Zoroaster, kaum Parsi
meninggalkan syariat agama mereka dan bahwa “Ikrar Api” kemudian diredusir menjadi cuma sekedar menyembah api, sehingga agama itu benar-benar ditinggalkan seluruhnya oleh mereka (Epistles dari Sasan I dan Sasan V dalam Dasatir). Kitab suci mereka telah dilempar kebalik layar atau ada juga dimusnahkan oleh penaklukan bangsa Parsi oleh Yunani atau tercampur-aduk sehingga kini mereka dianggap hanya sebagai puing-puing suatu agama.

 “Sebagaimana Persia sebagai kaum yang runtuh maka demikian pula kitab sucinya menjadi suatu puing-puing agama” (Sacred Books of the East, jilid IV, Introduction halaman 11-12).

Jika suatu bangsa atau agama dikatakan hidup karena kekuatan petunjuknya dan tak tercemarnya kitab sucinya, maka sungguh agama Parsi langka dari kehidupan seperti itu. Tidak ada kitab suci Parsi yang diketemukan hari ini dalam bentuk aslinya, dan bahasa mereka pun bukan bahasa yang hidup. Bagaimanapun, beberapa relik masih di dapati di puing-puing ini berisi beberapa petunjuk dan nubuatan Zarathustra akan kemerosotan mereka hari-hari ini. Dan di antara relik ini adalah ramalan tentang mendinginnya api di kuilnya, pencerahan dari bangsa Persia, ikutnya mereka pada kepemimpinan nabi bangsa Arab, membalikkan mukanya untuk beribadah menghadap Kakbah, dan masuk Islamnya para pemimpin Persia.

Seperti halnya Zarathustra yang menyalakan Api Ruhani di Persia, dengan sikap serupa, Nabi Muhammad, atas padamnya api itu, beliau nyalakan lagi api yang sama di tanah Arab. Nabi, sesuai dengan ayat Quran Suci: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api”(QS.2:17), diriwayatkan telah bersabda:

 “Perumpamaanku adalah perumpamaan dari lelaki itu (Zarathustra) yang menyalakan api” (Bukhari 81:26). Kata-kata ini, sesungguhnya, mengacu kepada nubuatan besar dari Zoroaster. Persis seeperti Musa yang memberi kesaksian atas seseorang yang seperti dia:

“Dan seorang saksi dari kalangan kaum Bani Israil telah menyaksikan orang yang seperti dia”  (Q.S. 46:10)

Demikian pula, Zarathustra berdiri saksi akan adanya seorang nabi yang seperti dia.

API DI KUIL PERTAMA AKAN MENDINGIN DENGAN DATANGNYA SEORANG YANG DIJANJIKAN 

Nubuatan berikut ini sangat kuat dan penting diperhatikan serta difikirkan mendalam oleh setiap pakar peneliti. Nabi itu meminta perhatian :

“Semoga engkau menyala di rumah ini! Semoga engkau selalu menyala di rumah ini! .     Semoga engkau berkobar di rumah ini! Semoga engkau meningkat di rumah ini!
Bahkan sampai jangka-waktu yang lama, hingga restorasi yang penuh kekuatan di dunia ini,
hingga saat, dari kebaikan, restorasi yang penuh daya dari dunia ini”(Atash Nyayish, 9).

Ayat ini sungguh jelas dan sulit diperlukan komentar lagi. Diramalkan bahwa api itu akan berhenti menyala bila restorasi dunia ini akan terjadi. Ada dua pilihan yang disebut dalam nubuat yang dicatat di atas. Api akan menyala, berkobar, tambah meningkat di kuil api Iran dan tak pernah padam, bahkan untuk jangka­waktu yang lama. Tetapi bila saat pembaharu kebaikan yang penuh kekuatan tiba, maka api itu akan padam. Sekarang, bagian pertama dari nubuatan itu telah digenapi sepenuhnya seperti misalnya bahwa api itu menyala, berkobar dan meningkat di kuil yang dibangun oleh Zarathustra. Bagian kedua dari ramalan juga telah terpenuhi, karena api itu telah mendingin empatbelas abad yang lalu. Demikian pula hasil akhir juga telah keluar, yakni, bahwa saat restorasi dan pembaharuan demi kebaikan yang penuh kekuatan juga telah benar-benar tiba dengan datangnya nabi yang dijanjikan.

REFORMASI YANG DILAKUKAN NABI

Kita telah melihat dalam nubuat Zarathustra bahwa pembaharu yang dijanjikan akan memperbaiki kejahatan dari kaum Majusi sebagaimana terhadap kaum penyembah berhala. Adalah suatu fakta bahwa tak ada penyembahan berhala dalam agama Majusi, tetapi semacam penyembahan benda alam, tentunya, ada. Untuk memulainya, mereka percaya kepadadua Pencipta. Yang satu adalah Pencipta cahaya dan lainnya adalah Pencipta kegelapan. Yazdan dan Ahriman masing-masing namanya. Semua yang bermanfaat dan hal-hal yang baik adalah ciptaan Yazdan atau Hormudz dan perkara yang  buruk diciptakan oleh Ahriman. Kehidupan, cahaya, kesehatan dan semua hal yang suci itu diciptakan oleh Hormudz, sedangkan kematian, kegelapan, penyakit, serta hal-hal yang kotor adalah ciptaan Ahriman (Vendidad Fargard, I). Idea dua Tuhan dalam penciptaan alam semesta ini tidak cocok dan hanya berdasar kebodohan terhadap sifat-sifat benda yang diciptakan. Segala sesuatu, meskipun itu jelas nampak seolah-olah merugikan atau melukai, itu memiliki beberapa manfaat dan kegunaan yang tersembunyi dan bila digunakan dengan tepat akan memperagakan kebijakan yang luar-biasa dari Tuhan Yang Maha-bijaksana. Siang hari seolah lebih bermanfaat untuk manusia, tetapi malam hari juga sama-sama penting dan bergunanya. Quran Suci menyatakan:

“Dan Kami membuat tidur kamu untuk istirahat. Dan Kami membuat malam sebagai penutup. Dan Kami membuat siang untuk mencari mata penghidupan” (Q.S. 78:9-11).

Betapapun menakutkan kematian itu kelihatannya, namun kematian adalah jalan kemajuan dan perkembangan di masa depan. Betapa tepatnya al-Quran me’gingatkan:

“Yang menciptakan mati dan hidup” (Q.S. 67:2).

Bila ada perbedaan antara sang pencipta dari hal-hal ini, pasti akan terjadi benturan besar serta pertentangan di antara mereka dan kehidupan di dunia ini akan menjadi mustahil.

Lagi, ide bahwa api itu diciptakan oleh Hormudz dan kegelapan oleh Ahriman juga tidak mendalam. Fakta nyata adalah bahwa api tidak selamanya baik dan kegelapan tidak selamanya buruk seluruhnya. Penggunaannya yang tepat atau salah-guna menjadikan barang itu baik atau buruk. Bila api itu selamanya baik, dan benar-benar merupakan benda yang suci dan murni, lalu mengapa dia begitu sering membakar orang berikut harta-bendanya? Begitu pula, bukankah kegelapan, yang dipandang sebagai ciptaan yang buruk, sangat penting guna mengembangkan kemampuan kita dan demi kehidupan serta pemeliharaan dari tanaman dan binatang? Penyakit, tentunya, adalah perkara yang jelek dan menyakitkan, tetapi ini tidak diciptakan Tuhan. Betapa benarnya ketika Ibrahim berkata:

 “Dan jika aku sakit, Ia menyembuhkan aku” (Q.S. 26:80).

Penyakit itu adalah akibat perbuatan manusia sendiri dan kebanyakan karena perkosaan terhadap hukum kesehatan. Dengan sepatah kata, segala perkara itu yang telah dipandang jahat dan dinisbahkan kepada Ahriman, bukanlah tanpa guna dan manfaat. Segala sesuatu bila digunakan dengan tepat adalah baik dan hal yang sama bila disalah-gunakan akan menjadi buruk. Jadi, keputusan dalam Quran Suci:

 “Dan Dia menciptakan segala sesuatu” (Q.S. 6:102), menunjang hal ini.

Al-Quran dan nabi Suci Muhammad telah mengkoreksi banyak kesalahan dan kekurangan dalam agama Majusi. Abad kita adalah era ilmu dan penalaran sehingga tidak mungkin kenaifan yang mengatas-namakan agama bisa menarik seseorang di zaman ini. Para cendikiawan dari setiap masyarakat telah menjadi kehilangan selera terhadap agama, karena begitu banyak perkara yang tidak masuk akal dan menertawakan yang diatas namakan agama. Dan semua kelemahan ini yang memukul para pemuda Persia hari ini, telah dikoreksi oleh Nabi Suci Muhammad seribu tigaratus tahun yang lalu. Di bawah ini kami berikan suatu catatan singkat dari beberapa hal di atas :

Dinyatakan bahwa Hormudz memberikan kenabian kepada Yim (Nuh), tetapi dia menolak tanggung-jawab tersebut. Tindakan pembangkangan kepada Tuhan juga dinisbahkan kepada Vakhshur (Nabi-nabi), yang mana bertentangan dengan logika dan akal sehat. Apakah Tuhan tidak tahu sebelumnya bahwa si anu dan si polan tidak cocok untuk diberi amanat sebagai seorang nabi? Vakhshur atau para nabi datang di dunia sebagai model dan contoh-teladan, dan bila mereka sendiri mulai mengabaikan perintah Tuhan, lalu petunjuk apa yang bisa diberikannya kepada orang-orang lain? Dipercaya bahwa jasad orang mati itu mengotori bumi, udara dan orang yang mengusungnya dan penjaga neraka merasuk dalam tubuh si mati dan ketika melihat seekor anjing dia meninggalkan jasad itu lalu terbang menyingkir (Vendidad 8:14-21). Ini tiada lain adalah takhayul kuno. Perempuan itu dipandang begitu cemar dan kotor, selama masa datang bulan mereka dan bahkan makanannya pun tak boleh diberikan dengan layak. Makanan tidak boleh diserahkan kepada wanita yang kotor ini, sehingga harus dilempar dari jarak jauh dalam suatu penggorengan  atau panci. Mereka tidak dapat makan atau minum barang yang suci seperti air sampai mereka nyaris mati kehausan (Fargard, 5:45, 7:70). Membunuh seekor anjing dianggap lebih berat dosanya daripada membunuh seorang lelaki. Bahkan memberi makanan yang buruk kepada seekor anjing diancam hukuman yang lebih berat daripada membunuh seorang laki-laki. Sembilanpuluh kali hukuman cambuk bagi seorang pembunuh dan dua ratus kali cambuk bagi yang memberi makan anjing secara tidak layak. Bila seorang perempuan minum air setelah melahirkan anak, dia dihukum dengan duaratus kali cambukan; dan penalti buat seorang yang kotor menyentuh air atau sebatang pohon itu empatratus kali cambukan. Mengubur jasad orang mati atau membakarnya adalah suatu kejahatan yang tidak dapat diampuni atau dimaafkan sama-sekali. (Fargard, 4:49, 7:20, 6:5,5:39-44, 6:47 dan 8:22-29).

Banyak bumbu dan perkara mesum tentang perempuan dimasukkan oleh Mazda dalam kepercayaan Zoroastrian. Tetapi Anusyirwan yang Adil, terpengaruh oleh ajaran Islam, menyingkirkan pelecehan ini.

 



7. Elisacus, The war of Yartan.