MUHAMMAD dlm 'KITAB AGAMA MAJUSI'

 

MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI AGAMA MAJUSI
(ZEND AVESTA DAN DASATIR)
(3/5)

NUBUATAN ZARATHUSTRA MENGENAI MUHAMMAD DAN PARA SAHABATNYA.

Banyak ramalan yang jelas dalam  Zend Avesta, Kitab Zarathustra, tentang al-Quran, Nabi Muhammad dan para sahabatnya yang mulia. Sebagian dari ramalan ini tak diragukan lagi adalah mitis, dan tidak dapat diambil secara harfiah. Tetapi bila kita menafsirkan mereka dengan cara rasional di terangi fakta sejarah, mereka jelas menunjuk kepada nabi Muhammad dan tak seorang pun yang lain. Bagaimanapun, bagian yang lebih besar dari nubuatan itu eksplisit dan jelas tanpa sedikitpun bayangan keraguan. Mula pertama saya ambil bagian metaforisnya. Misalnya dalam Vendidad, bagian pertama dari Zend Avesta, dan di Yasht, bagian kedua dari buku yang sama, dicatat bahwa ada keturunan Zarathustra  yang tersembunyi  yang akan muncul beberapa waktu sesudah dia. Seorang perempuan, dikatakan, akan mandi di danau Kashva dan akan mengandung. Dia akan melahirkan seorang nabi yang dijanjikan Astvat-ereta atau Saoshyant (yang terpuji) yang akan melindungi agama majusi, yang akan membunuh setan, menghapuskan penyembahan berhala dan membersihkan agama Majusi dari kekotorannya. Sekarang adalah suatu fakta yang tegak dalam al-Quran: Membetulkan sebagian besar ajaran Zoroastrian dan karenanya melindungi keimanan yang asli dari Zarathustra; Menghapus semua penyembahan berhala, dan Membunuh iblis dengan membersihkan Zoroastrian dari kekotorannya. Kini bagian mistik dari nubuatan ini adalah:

     “Seorang perempuan akan mandi di danau Kashva dan akan mengandung. Dia akan melahirkan
       seorang nabi yang dijanjikan”.

Menurut kaum Zoroastrian danau Kashva diperkirakan di Sistan, dimana Raja Parsi Xerxes telah menghilang ketika mandi. Mereka menyatakan bahwa sumber air kehidupan yang sama dimana Xerxes yang Majusi dan Khwaja Khidir yang Muslim masih hidup disana, mengajarkan kebijaksanaan kepada umat dan membimbing mereka yang tersesat jalan. Menurut tafsiran kita, ibu yang mandi di danau Kashva atau sumber air itu yakni Siti Hajar yang agung, yang sungguh seorang yang salih, malaikat dari Yang Maha­tinggi seringkali datang kepadanya seperti dinyatakan dalam Alkitab:

       “Lalu malaikat Tuhan menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun”(Kejadian 16:7).
       “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki” (Kejadian 16:11).
       “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu” (Kejadian 16:10).

Jadi ia akan mandi di suatu mata air yang secara ajaib muncul di keganasan padang pasir. Dia adalah nenek dari Nabi Suci. Mata air dimana dia mandi adalah suatu tanda bukti dari sumber air ruhani yang memancar di gurun pasir yakni al-Quran. Dan air dari sumber ini mendinginkan api yang menyala di kuil Majusi, dan juga hati segenap bangsa-bangsa di dunia serta memuaskan kehausan akan agama di muka bumi ini.

Ini di dalam Farvardin Yasht: “Kita menyampaikan pujian kepada Farfarshis yang baik, perkasa, dari kaum beriman yang berjuang di tangan kanan pangeran yang memerintah. Mereka datang beterbangan kepadanya, seolah mereka burung­burung yang bersayap baik. Mereka datang sebagai senjata dan perisai, menjaga di belakang dan di hadapannya, dari musuh yang tak terlihat, dari perempuan Varenya yang ditemuinya, dari pembuat kejahatan, cenderung kepada kerusakan dan dari musuh yang sungguh mematikan, Angra-Mainyu (Abu Lahab). Ini seolah ada seribu orang yang memusatkan perhatian kepada seorang, namun demikian tak ada pedang yang terhunjam, atau penggada yang memukulnya, atau panah yang mengenainya, atau busur yang ditusukkan, atau batu yang terlempar dari tangan yang bisa menghancurkannya”(Farvardin Yasht 63:70-72).

Saoshyant yang jaya, semoga Fravarshis dari kaum beriman datang secepatnya kepada kita. “Semoga dia datang membantu kita” (Farvardin yasht 29:145).

“Ini akan  memisahkan antara Saoshyant yang jaya dan para penolong (sahabatnya) di saat dia membaharui dunia ini, yang (sejak itu) tak pernah bertambah tua dan tak pernah mati, tak pernah merosot atau melapuk, senantiasa hidup dan senantiasa meningkat dan menjadi tuan dari kehendaknya. Di saat orang yang mati ruhaninya akan bangkit, di saat kehidupan dan keabadian akan datang dan dunia akan memperbarui keinginannya. Di waktu ciptaan menjadi lestari ciptaan yang makmur dari jiwa yang baik….dan obat akan lenyap, meskipun dia boleh menyerbu dari segala arah untuk membunuh beliau yang suci, dia dan ratusan barisan keturunannya (Quraisy) akan binasa, seperti itulah kehendak Tuhan. Ketika Astvat-ereta (Ahmad) akan bangkit dari danau Kashva (Ini berarti suci dari dosa) seorang sahabat dari Ahur-Mazda, putera dari (Vispataura vairi) Yang Meengetahui ilmu kejayaan”.(Zamyad yasht 89-90). “Kami menyembah Farvashi dari perawan suci yang disebut Vispataur-Vairi (yang menghancurkan semuanya) karena dia akan melahirkan beliau yang akan menghancurkan kejahatan dari daivas dan manusia, menghadapi keburukan yang dilakukan oleh gahi (setan)” (Sacred Books of the East jilid 23 Farvardin yasht I, 42 halaman 226). “Shaoshyant, akhir dari utusan di masa depan, di saat mana diperkirakan alam semesta ini akan direnovasi dan kebangkitan akan terjadi”.(Bundahish 30:4-27; 32:8. Brahman yasht 3:62. Lihat catatan kaki pada Dadistan-i-Dinik, halaman 14). “Shaoshyant yang akan menurunkan,dengan sepenuh perintah dari dunia, dengan pengagungan dari makhluk-makhluk gaib, dan dengan kepuasan dari malaikat dalam kemurtadan dan kekolotan dari segala macam yang tidak terampuni; dan penggenap dari perbaikan melalui kesinambungan agama yang murni. Dan melalui karya persaudaraan yang mulia tanpa cela, penguasa semacam itu bisa dilihat di atas matahari dengan kudanya yang sangat cepat, cahaya dari zaman dahulu, dan yang menyingkirkan semua kegelapan, kemajuan pencahayaan yang memperagakan siang dan malam dari dunia, berkaitan dengan kelengkapan yang sama dari renovasi alam semesta, dikatakan bahwa dalam wahyu Mazda (Tuhan) memuji, bahwa cahaya yang besar ini pakaian ketulusan yang disukai” (Dadistan-I-Dinik Bab 2:13-15). “Shaoshyant dilahirkan di Khavniras, yang membuat jiwa yang jahat tak berdaya dan menyebabkan kebangkitan (eksistensi spiritual dan masa depan)” (Bundahish 11:5). “Dalam tahun ke-57 dari Shaoshyant mereka mempersiapkan semua yang mati dan semua manusia berdiri; siapapun yang tulus maupun siapapun yang jahat, setiap makhluk manusia, mereka bangkit dari titik dimana hidup berpisah. Setelah itu ketika semua makhluk hidup memakai lagi jasad dan bentuk mereka. Kemudian mereka mengelompok (Bara yeha bund) menjadi satu kelas tunggal” (Bundahish Bab 30:6-27) “Kita memuja semua farvashis yang baik, heroik, dermawan dari para wali dari Gaya Maretan (yang diciptakan pertama) sampai Saoshyant yang jaya”. Tanya : “Mazda (Tuhan) membuat proklamasi; kepada siapa itu diumumkan? Jawab : Seseorang yang suci, dan orang bumi yang berhubungan dengan langit. Tanya: Bagaimana sifatnya, Dia yang membuat emansipasi suci ini? Jawab : Dia yang terbaik dari seluruh Penguasa. Tanya : Karakter yang bagaimana? (Apakah dia memproklamasikan dirinya sebagai dia yang akan datang?) Jawab : Sebagai yang suci dan terbaik, seprang penguasa, yang menjalankan kekuasaannya tanpa kekerasan dan tanpa kediktatoran” (Yashna 19:20). “Yang paling berkuasa di antara Farvarshis dari kaum beriman, wahai Spitma! adalah orang dari hukum yang primitif, atau mereka yang pada saat Saoshyant belum dilahirkan, siapakah yang memperbaiki dunia?” (Fravardin yasht 13:17). Dalam Sarosh yasht mereka disebut kawan dari Saoshyant (Sarosh yasht 4:17). “Jalan ini yang telah diwahyukan oleh Ahura (Tuhan) sebagai fikiran tuhan sendiri, dibuat dari perintah yang diwahyukan dari Shaoshyant, kebijakan yang tertinggi. Seperti juga kata-kata dan perbuatan tulus dari Shaoshyant tidak hanya diumumkan dan dibuat, melainkan juga jalan itu dijadikan hukum” (Gatha yashna 34:13). “Kita memuja Saoshyant, dengan pedang, dengan kejayaan” (gatha yashna 59:28). “Saya berhasrat mendekati orang yang membaca doa; doaku, yang karenanya memelihara fikiran, fikiran yang baik, dan kata-kata yang diucapkan dengan baik, dan perbuatan yang dilakukan dengan baik, dan kesalehan yang dermawan, bahkan dia yang menjaga Mathra dari Saoshyant dengan amalnya maka kedudukannya akan selalu maju dalam tatanan yang benar” (Visparad 2:5). “Anda yang beriman keagamaan yang setiap Saoshyant (Saoshyant dan para sahabatnya) yang akan (belum datang) menyelamatkan (kita), seorang suci yang beramal dengan penuh makna yang nyata” (Yashna 12:7). “Dengan lagu ini (yang sepenuhnya) dinyanyikan dan demi Saoshyant yang suci, dermawan dan abadi” (Yashna 46:3). “Kapan datang pemberi yang agung! Mereka yang pada terangnya hari memegang teguh tatanan dunia yang benar, dan maju terus menekan? Kapankah skema Saoshyant penyelamat dengan wahyunya yang luhur (muncul)? Kepada siapa pertolongan dia (yakni pemimpin mereka) mendekat, dia yang mempunyai fikiran yang baik?”(Yashna 46:3). “Ini kutanyakan pada-Mu wahai Ahura (Tuhan) katakan sebenarnya, kapan pujian diberikan, bagaimana (saya harus melengkapi) doa dari dia yang sepertimu wahai Mazda?”. “Biarlah seorang seperti-Mu mendeklarasikannya dengan sungguh-sungguh kepada kawan yang seperti aku, jadi melalui ketulusan-Mu memberikan pertolongan yang bersahabat kepada kita, sehingga dengan demikian seorang seperti-Mu bisa menarik kita kedekat-Mu melalui fikiran baik-Mu” (Yashna 44:1). “Kemudian lelaki yang Ideal akan muncul yang rencana-rencana cerdasnya akan bergerak, sehingga mengusir skema yang tercemar dari para pendeta palsu dan para  tiran”(Yashna 48:10). “Engkau (wahai Tuhan) di dalam (kekuasaan)-Mu kuserahkan kesusahan dan keraguanku? Biarkanlah kemudian nabi yang Engkau simpan menemukan dan memperoleh haknya (demi) kebahagiaanku. Fikiran baik-Mu dengan anugerah yang bekerja dengan ajaib, wahai biarlah Saoshyant-Mu melihat betapa karunia dari ganjaran itu akan menjadi miliknya. Kapankah wahai mazda orang dengan fikiran sempurna ini akan datang? Dan kapan mereka akan mengusir dari sini, dari tanah ini (yang  tercemar) oleh kesenangan para pemabuk”(Yashna 48:9). “Kami mengundang Saoshyant yang dermawan abadi serta salih. Dia yang terpuji (Muhammad) dan para sahabatnya untuk menolong kami, yang paling tepat serta benar dalam bicaranya; yang paling berakhlak, yang paling mulia dalam pemikirannya, yang paling agung dan perkasa” (Visparad, 4:5). “Saya datang kepadamu, wahai yang abadi dan dermawan, sebagai seorang pendeta yang terpuji, dan pelindung, sebagai pengingat, mengalunkan (doamu) dan sebagai pendendang atas pengorbanan dan kehormatanmu,kemauan baikmu. Wahai engkau Saoshyant yang suci, dan demi doamu yang tepat waktu untuk rahmat, dan demi penyucianmu, dan demi kejayaan kita dalam menghantam musuh-musuh kita yang manfaat bagi jiwa kita (Shaosyant bersamamu) dan kesucian.. Wahai yang abadi penuh kedermawanan, yang memerintah dengan benar dan yang membukakan (bagi semuanya) yang benar: (Ya) saya menyerahkan kepadamu daging dari jasadku ini dan semua rahmat kehidupanku juga” (Visparad 5:21, 11:1, 11-20). “Dan kawan-kawannya akan maju ke depan, sahabat dari Avstvat-ereta, yang menebas iblis, berfikir baik, berbicara baik, berbuat baik, mengikuti syariat yang baik dan yang lidahnya tak pernah mengucapkan kata palsu sepatah pun” (Zamyad yasht).

Apakah arti Saoshyant dan Astvat-ereta itu?

Sebagaimana Kristus dan para nabi lainnya memberi berita atas kedatangan dia yang Dijanjikan, dengan sikap yang sama, Zarathustra juga meramalkan datangnya seseorang yang mirip dia. Diramalakan oleh Zarathustra bahwa Saoshyant akan menjadi nabi terakhir (Bundahish, bab 30:6-27). Pada saat dunia direnovasi, namanya kelak adalah Saoshyant, yakni “dia yang terpuji” terjemahan harfiah dari kata Muhammad. Terjemah ini bukan atas saran saya, melainkan dari orientalis non-muslim yang besar. Dikatakannya, bahwa Saoshyant adalah future participle dari kata-kerja ‘su’ atau ‘sav’; berarti terpuji, tetapi ini digunakan sebagai nama yang pantas (yang akan dipuji) dalam Avesta yang belakangan, dan di dalam kepustakaan Pahlevi.(8)

Menurut Fargard: Namanya kelak adalah, Saoshyant yang jaya, dan namanya kelak, Astvat-ereta dan seterusnya, dua nama ini sama saja. Terjemahan biasa dari Astvat-ereta yakni bahwa ini dalam bentuk verbal, suatu aksi, suatu participle dari ‘stu’ ‘memuji’ dengan kata depan a. Jika sesungguhnya initial a itu panjang, maka nama itu harus diterjemahakan ‘dia yang memujikan ketulusan’ atau Tuhan(yakni Ahmad); yakni nama kedua dan nama samawi dari Muhammad s.a.w. Nubuatan ini juga disebut oleh pakar dari agama lain dalam karya penelitian mereka, misalnya, H.P.Blavatsky telah merujuknya dalam bukunya Isis Unveiled  jilid 2 halaman 236. Astvat-ereta kepada siapa kaum Majusi masih melihatnya  ke depan sebagaimana di katakan:

 “Terpujilah dia pangeran yang pengasih, yang mengadakan restorasi terakhir dan yang akhirnya akan mengangkat bahkan orang jahat dari neraka, dan memperbaiki seluruh ciptaan dalam kesucian”.(9)

 


8. Hastings Encyclopaedia, Art. Saoshyant.
9. Dinkart,ed. Peshotan Bombay  (1814-1917) bab II:82.