MUHAMMAD dlm 'KITAB AGAMA MAJUSI'

 

MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI AGAMA MAJUSI
(ZEND AVESTA DAN DASATIR)
(4/5)

WAHYU KHUSUS DALAM BAGIAN KEDUA KITAB SUCI ZOROASTRIAN KABAR BAIK KEDATANGAN NABI DALAM DASATIR

Ada dua bagian kitab suci agama Majusi, sebagaimana dinyatakan dalam awal bab ini. Pandangan berbeda-beda menyangkut keaslian kitab-kitab ini.

Beberapa pakar berpegang bahwa Zend Avesta lebih otentik, sedangkan yang lain menyatakan bahwa Dasatir itu lebih bisa dipercaya. Kita telah mendiskusikan nubuatan dalam Zend Avesta, dan kini berkaitan dengan hal tersebut yang terdapat dalam Dasatir. Kita telah mengambil dua bagian secara terpisah, supaya tak satupun dari sekte Zoroastrian bisa maju untuk mengatakan bahwa dia hanya mempercayai satu bagian dan tidak yang lainnya. ‘Dasatir’ dibagi dalam dua bagian, ‘Khurdah Dasatir’ dan ‘Kalan Dasatir’. Bermacam tafsir telah diberikan kepada istilah Dasatir. Menurut beberapa orang, ini berarti ‘sebuah kitab dengan sepuluh bagian’ – ‘das’ berarti sepuluh dan ‘tir’ berarti satu bagian atau porsi. Beberapa orientalis telah mengambil kata ‘tir’ berasal dari bahasa Sanskerta berarti tepi atau lengkungan, sedangkan yang lain berpegang bahwa Dasatir itu jamak dari ‘dastur’ yang berarti hukum atau syariat agama.

Dalam edisi terbaru dari Dasatir terdapat limabelas  Surat dimulai dengan surat Mahabad dan diakhiri dengan Sasan V. Di antara surat-surat ini maka surat Sasan I yang pantas saya catat dengan menonjol, dan rekaman tentang nubuatan dari Nabi Suci benar-benar sangat jelas kata-katanya. Kita telah memberikan suatu kolom fotografis dari kata-kata yang sebenarnya nubuat tersebut. Edisi Dasatir darimana bagian ini saya copy diterbitkan oleh Mulla Pheroze dengan bantuan beberapa pakar pendeta Majusi, pada masa pemerintahan Nasir-ud-Din Kachar, Shah dari Persia. Mulla Pheroze, yang juga adalah pengarang kitab Dabistan-I-Madhahib, adalah seorang ulama terkemuka dari Bombay yang disamping seorang master dalam Pahlvi, Zend dan Persia, juga seorang sarjana dalam bahasa Arab, dan adalah terutama melalui usahanya maka Dasatir yang sekarang ini bisa diterbitkan.

Pengarang yang sebenarnya dari nubuatan ini, sesungguhnya, adalah Zoroaster dan bukan Sasan I, karena Sasan itu hanya seorang pembaharu dari keimanan Majusi. Sebelum ramalan yang sebenarnya dimulai, perlu disebut keliaran dan kelonggaran moral dari bangsa Iran.

99. Kolom foto dari nubuat dalam Dasatir yang diambil copynya dari Perpustakaan Hyderabad Deccan    State, 1935 .Telah  dibandingkan dengan copy dalam Perpustakaan British Museum London, 1962.

Teks aslinya adalah  dalam bahasa Pahlawi tetapi terjemahan dalam bahasa Persia juga diberikan. Sedikit catatan penjelasan juga telah ditambahkan, di sini dan di sana, oleh Sasan. Kita berikan dibawah ini, terjemahannya oleh Mulla Pheroze.

(Ketika) (semacam)(perbuatan)(kaum Persia akan mengerjakan)(dari antara orang-orang Arab) (seorang laki-laki) (akan dilahirkan) (dari antara para pengikut) (dari siapa) (mahkota dan singgasana) (dan kerajaan serta agama orang Persia) (semuanya akan dimakzulkan dan tercerai-berai) (Dan akan) (kaum yang sombong itu) (dibawah perintah). (Mereka akan melihat) (sebagai ganti rumah berhala) (dan kuil api) (rumah ibadah) (dari Ibrahim) (tanpa suatupun berhala di dalamnya) (yakni Qiblah).

“Ketika mereka sedang begitu terpana, akan bangkit seorang laki-laki di antara Tewarjis (Taziz – mereka adalah bangsa Arab). Oleh siapa, pengikut, kerajaan, dan singgasana, dan pemerintahan, dan agama, akan dimakzulkan semuanya, dan sebagai ganti kuil berhala atau kuil api dari rumah Abad akan terlihat suatu tempat ke arah mana salat ditujukan, tetapi dihilangkan dari semua berhalanya. Dan disekitarnya adalah air asin. Dan sesudah itu mereka akan menaklukkan Kuil Api dari Madain serta apapun di dalamnya dan Yenfud serta Newak(Tus dan Balkh) serta tempat-tempat besar lainnya. Dan pemberi-hukum mereka adalah seorang yang elok dan kata-katanya ikut berperan”.

Dasatir atau tulisan Suci dari Nabi-nabi Persia kuno diterjemahkan oleh Mullah Pheroze Courtier press Bombay 1818. Di-copy dari British Museum Library London.

Sasan selanjutnya menambahkan bahwa berhala bintang serta planet yang lain akan ditempatkan di rumah ibadah yang dibangun oleh Ibrahim di gurun pasir Arabia; tetapi setelah munculnya nabi itu, kaum Zoroastrian akan membersihkan tempat ibadah itu dari semua berhala dan akan menghadapkan wajahnya ke sana dalam sembahyang mereka.

“(Dan mereka akan menjadi) (suatu rahmat bagi seluruh alam) (dan kemudian) (mereka akan menguasai) (tempat-tempat) (dari kuil api) (Madain atau Cresiphon) (dan wilayah sekitarnya) (dari itu) (dan Tus) (dan Balkh) (dan tempat-tempat lainnya) (yang mulia dan suci) (dan) (pemimpin agama) (mereka) (kelak adalah seorang lelaki) (elok) (dan risalahnya atau apa yang akan dikatakannya) (akan berkaitan dengan baik).

Kesimpulan dan intisari ramalan ini adalah, bahwa ketika kaum Majusi meninggalkan agamanya dan menjadi umat yang bercerai-berai maka seorang laki-laki akan bangkit di Arabia yang para pengikutnya akan menaklukkan Persia dan mengalahkan bangsa Persia yang sombong. Sebagai ganti menyembah api di kuilnya sendiri, mereka akan menghadapkan wajahnya dalam salat ke Kakbah Ibrahim yang akan dibersihkan dari semua berhala. Mereka (para pengikut nabi Arab itu)m akan menjadi rahmat bagi dunia.(10) Mereka akan menjadi tuan dari Persia, Madain, Tus, Balkh, tempat-tempat suci kaum Zoroastrian serta wilayah sekitarnya. Nabi mereka adalah lelaki yang elok dan mengungkapkan hal-hal yang ajaib.

Kita telah menyatakan sebelumnya bahwa Zend Avesta dan dasatir adalah dua kitab suci yang terpisah dan sekte yang berbeda meyakini kitab sucinya masing-masing sebagai yang otentik. Dengan mengabaikan perbedaan pandangan mereka, kedua kitab itu bersetuju mengenai ramalan tentang Nabi Suci. Kedua kitab suci dengan jelas mendeklarasikan bahwa seorang laki-laki akan dibangkitkan di Arabia yang namanya adalah Muhammad (dia yang terpuji), yang akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, yang akan mengukuhkan kebenaran dan agama dari Zarathustra dan yang para sahabatnya adalah orang-orang yang saleh serta suci. Api di kuil akan mendingin dengan kedatangannya, berhala kan disingkirkan dari Kakbah Ibrahim, para pemimpin Persia akan menghadapkan wajahnya ke Kakbah, dan bahwa beliau akan mengkoreksi kesalahan baik para penyembah berhala maupun kaum Majusi. Adalah sangat sulit kemungkinannya seorang Zoroastrian mengingkari nubuatan yang sangat jelas, tajam, dan bergambar seperti itu.  Betapapun, mungkin saja seorang yang berpandangan sempit, mau merendahkan kitab mereka untuk menghindari berita tersebut, atau bisa jadi dia menyarankan bahwa pembaharu yang dijanjikan itu perlu mesti dari kalangan agama Majusi, atau bahwa nubuatan ini hanyalah siasat agar kaum Zoroastrian secara formal memeluk Islam dan kemudian mencabut agamanya demi berpakaian muslimin; tetapi tak seorangpun yang berakal sehat bisa percaya bahwa siasat dan tipuan semacam itu berharga bagi seorang nabi atau orang suci. Kebenaran yang nyata adalah bahwa setiap kata dalam ramalan ini telah digenapi dalam pribadi Nabi Muhammad. Tidak ada pilihan lain bagi bangsa Persia; apakah mereka harus beriman kepada Nabi dan mengambilnya sebagai ‘Astvat-ereta’ (seorang yang terpuji atau Muhammad), atau harus menunjuk orang lain dimana gambaran ini bisa diterapkan; dia yang memusnahkan penyembahan berhala, menghasilkan para pengikut yang sidik dan suci, dan menurut Avesta, membetulkan kaum Majusi begitu pula penyembah berhala, dan yang akan menjadi tuan dari agama, mahkota dan kerajaan Persia. Suatu kecurigaan yang sangat kuat umumnya merata di setiap kredo dan komunitas mengenai perkara agama. Tidak seorangpun dengan mudah akan menerima bahkan suatu fakta yang terang dan jelas bila hal itu disajikan oleh seorang pembujuk yang berbeda, meskipun beberapa alasan yang kurang menguntungkan telah disajikan. Kami telah menghitung ulang beberapa nubuatan yang sangat jelas dari Zoroaster, tetapi meski demikian, untuk menangkis kemungkinan keberatan yakni bahwa pembaharu yang dijanjikan itu wajib dari kaum Majusi, kami akan menyediakan bukti sejarah yang lain. Ketika ada pertikaian di antara dua komunitas menyangkut satu hal, maka suatu jalan yang mudah untuk mendapatkan pemecahan adalah menunjuk seorang wasit, yang keputusannya harus mengikat kedua golongan sepanjang itu tidak diwarnai oleh bias pribadi atau prasangka di fihak penengah itu. Sebelum kedatangan Nabi Suci, kaum Majusi telah kehilangan sebagian besar dari kitab sucinya. Mereka telah merosot baik dalam moral maupun agama, dan semua kenyataan ini telah jelas dicatat dalam surat dari Sasan. Ini adalah tanda pertama munculnya pembaharu. Nubuatan dari kedatangannya begitu dikenal di kalangan bangsa Parsi dan Magian dan mereka begitu berharap atas kemunculan pembebas mereka, sehingga mereka berduyun ke tempat kehadiran dimana reformer itu telah muncul. Pengarang Injil Matius juga mendengar kabar ini dan untuk menerapkan nubuat yang tenar ini kepada Yesus Kristus dia men-stempel suatu dongeng khayalan dan mencatatnya dalam Alkitab. Pengarang dari Alkitab ini sungguh terkenal akan tipuannya yang aneh. Apapun kabar baik yang didengarnya, dia seketika menterapkannya kepada Yesus, dan dia tak pernah peduli bagaimana penafsirannya kepada teks dari kitab kuno itu, tetapi dia berbuat sebaik-baiknya untuk membuktikan kalau-kalau atau yang lainnya lagi bahwa teks itu mengacu kepada Yesus Kristus. Suatu ramalan akan munculnya ‘dia yang terpuji’ itu biasa di Persia, dan penulis Alkitab tahu akan hal itu dan seketika mengarang suatu ceritera, tanpa merenungkan bahwa dia telah mencatat banyak perkara yang tak bisa dipercaya dan peristiwa yang berlawanan dengan fakta yang sesungguhnya. Dan kenyataan utama bahwa tak ada penulis Alkitab yang lain yang membenarkan ceritera ini cukup sebagai penolakan atasnya. Pengarang Injil Matius menulis bahwa ketika Yesus dilahirkan, beberapa orang Majusi dan orang-orang bijak dari Timur telah mencari dia dengan petunjuk sebuah bintang; bintang ini berjalan di depan mereka hingga sampai dan tegak di atas Kristus dilahirkan, dan karena itu mereka datang menyembahnya dan memberikan persembahan mereka (Matius 2:1-11). Sebaliknya, Lukas yang mengaku ‘mendapatkan pemahaman sempurna dari tangan pertama’ (Lukas 1:2-3), tetapi dia tidak menyebut sama­sekali orang-orang Majusi yang datang mengunjungi Kristus atau bintang yang menuntun mereka ke arahnya, meskipun dia membuat suatu ceritera lucu bahwa para gembala datang mengunjungi Kristus. Tak ada bintang yang memberi petunjuk mereka, satu-satunya tanda yang diberikan oleh malaikat adalah:

“Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Lukas 2:12). Tidak ada di tempat lain kecuali dalam Injil Matius ada disebutkan orang Majusi yang datang jauh-jauh dari Persia untuk menyampaikan persembahannya kepada Kristus atau tentang bintang yang berjalan di depannya.

Dr. Ferrar, dalam bukunya ‘Life of Jesus Christ’, menulis tentang kontradiksi ini dalam istilah berikut:

“Tiada lain kecuali sekumpulan tradisi yang kacau dan kontradiktif yang tidak dapat memberikan    penerangan baik dalam peringkat mereka, negeri mereka, jumlah mereka ataupun nama-nama    mereka” (Dr. Ferrar ‘Life of Jesus Christ’ halaman 30).

Tradisi dalam kitab suci Kristen ini, betapapun, membuktikan bahwa suatu nubuat tentang kedatangan Nabi Suci itu umum di kalangan kaum Majusi dan mereka benar-benar sangat berharap dalam menatikan Nabi Yang Dijanjikan yang bahkan keinginan mereka yang besar itu dikenal di wilayah dekat maupun jauh.

Pengarang Injil Matius mereka-yasa publisitas yang tersebar luas ini dan seketika dinisbahkan kepada Yesus Kristus.

 


10. Beberapa mufasir mengira bahwa Sasan I tidak dapat memahami apa arti kata Hoshshe nshor. Tetapi suatu kajian terhadap Zend-Avesta menunjukkan bahwa kata ini sama dengan ‘Soeshyant’ yang menurut Avesta berarti dia yang terpuji (atau Muhammad). Hastings Encyclopaedia, Art.”Soashyant” atau ‘Rahmat bagi segala bangsa’.