MUHAMMAD dlm 'KITAB AGAMA MAJUSI'

 

MUHAMMAD DALAM KITAB SUCI AGAMA MAJUSI
(ZEND AVESTA DAN DASATIR)
(5/5)

SUATU KETEPATAN DARI SEMUA NUBUATAN ZARATHUSTRA.

Ibu yang mandi di sumber Kashva adalah Siti Hajar yang agung, yang adalah nenek-moyang Nabi kita. Mata air yang secara ajaib muncul di gurun pasir adalah lambang dari al-Quran. Air dari sumber ini mendinginkan api yang menyala di kuil bangsa Iran dan di hati segenap bangsa di dunia. Kitab suci Zoroastrian menyatakan bahwa Zarathustra menyatakan diri sebagai nabi dari Tuhan. Mazda (cahaya). Dia menyalakan api untuk menerangi kaumnya. Dia meramalkan kedatangan seorang Nabi yang Jaya. Nubuatannya bukanlah suatu kebetulan yang meragukan. Dalam penggenapan ramalan ini maka Tangan Tuhan mengejawantahkan dirinya. Sungguh mustahil untuk memecahkannya dengan kehendak manusia. Seorang lelaki yang sendirian, lahir di suatu negeri yang paling tercerai-berai, berhasil mempersatukan mereka meskipun dilawan dengan keras. Kemudian dia membangun suatu negara kecil, tetapi adalah masih diluar jangkauan angan-angan yang paling liar sekalipun; untuk membayangkan bahwa dia dan para pengikutnya akan, dalam beberapa tahun ke depan, menjalankan kerajaan yang kuat dan mapan seperti Persia. Tetapi dia melihat dalam rukyah ketika menggali parit untuk menyelamatkan komunitasnya yang kecil dari musuhnya yang penuh kebanggaan. Dia melihat rukyah itu tanpa kita ragukan lagi; tetapi ini sudah diramalkan seribu tahun sebelumnya oleh Tuhan Yang Maha-tahu kepada nabi bangsa Iran dengan kata-kata yang penuh empati “Bahwa Saoshyant akan jaya”. Lebih dari itu, adalah aneh menyaksikan, bahwa kemenangannya atas kerajaan yang paling berkuasa yakni Iran tidak dengan senjata melainkan dengan ‘salatnya yang tepat waktu dan doanya kepada Tuhan’. Dan kemenangannya ini tidak hanya untuk memerintah suatu bangsa yang sangat kuat, karena dia tidak pernah mendambakan penaklukan wilayah; dia bahkan dengan kehangatannya memenangkan hati manusia dan kemenangan agamanya. Maka ini adalah kemenangan nyata baginya bahwa dia menyaksikan manusia memasuki agama Allah dengan berduyun-duyun dan semua orang bijak dari Iran sebagaimana diramalkan oleh peramal besar dari Iran juga telah masuk Islam. Nubuat dari Zoraster dalam suatu rangkuman ada dua bagian (i) Nabi Arab itu akan membuktikan kebenaran agama Majusi yang asli dan sebaliknya kaum Majusi akan menyokong kebenaran agamanya. (ii) dia akan memperbaiki kemerosotan bangsa Iran. Dan surat, tanda-bukti, serta sifat dari dia yang akan datang. Mengenai yang sebelumnya saya telah memberikan perbandingan secara rinci dari ajaran kedua agama. Kini saya teruskan dengan memberikan ketepatan dari yang belakangan. Dalam catatan yang dikutip di atas, pertama sekali dikatakan: “Kita memuji dia dan para sahabatnya dan seterusnya”. Nubuatan ini memberikan gambaran yang kuat atas kesetiaan, tanpa pamrih pribadi dan pengorbanan dari para sahabat Nabi. Betapa mereka membangun tembok manusia di sekeliling Nabi demi melindunginya dari serangan musuh, adalah suatu fakta yang sangat dikenal dalam sejarah. Namanya kelak adalah Saoshyant yakni ‘dia yang terpuji’ terjemahan harfiah dari nama Muhammad dan terjemah ini bukan atas saran saya melainkan oleh orientalis, sebagaimana saya kutip di atas. Dalam Zend Avesta ada dua nama dari dia yang akan datang, Saoshyant dan Astvat-ereta, kedua nama itu sama saja, meski dengan sedikit sekali perbedaan., Astvat-ereta berarti ‘Dia yang suka memuji’, sebagaimana ditulis dalam Fargard:

“Namanya kelak adalah Saoshyant yang jaya dan namanya kelak Astvat-ereta. Dia adalah    Saoshyant (Dia yang terpuji) karena dia bermanfaat bagi seluruh dunia fisik. Dia kelak adalah Astvat-ereta (Dia yang suka memuji) karena sebagai ciptaan fisik dan sebagai makhluk hidup dia    akan tegak menjalankan  penghancuran terhadap makhluk fisik yang mempertahankan berhala    dan sejenisnya serta memperbaiki kesalahan dari kaum Majusi”.

Dia adalah Astvat-ereta, karena kejahatan yang dilakukan oleh penyembah berhala maupun kaum Majusi terhadapnya tak bisa melukainya, karena doa-doanya. (Yasht 28:29).
Para sahabat dari Saoshyant yang suci diajak untuk datang.
Fikiran, semanagat dan iman para sahabat tidak pernah bertambah tua atau mati.
Pada kedatangannya secara spiritual bangsa-bangsa yang mati akan bangkit kembali.
Para musuhnya akan jatuh.
Usaha dan perangnya adalah untuk segala kejahatan.
Dia akan menjadi sumber mata air evolusi serta perkembangan dari bangsa-bangsa.
Dia akan menjadi akhir dari para nabi.
Di masanya dunia akan di renovasi.
Dia akan menaklukkan dan memerintah setan.
Dia akan menegakkan agama yang murni.
Akan menyingkirkan kegelapan dari dunia.
Cahayanya yang besar adalah busana ketulusan.
Para sahabat Saoshyant tidak akan disebut pelayan melainkan kawan-kawannya.
Agamanya adalah jalan tertinggi kepada kebijaksanaan.
Mereka akan mengalunkan doa dengan pujian kepada Tuhan Yang-esa semata.
Fikiran mereka adalah fikiran yang baik, kata-katanya baik, dan amal perbuatannya juga baik.
Kedudukan mereka akan maju menurut tatanan yang tulus.
Dia yang suci akan segera tiba.
Saoshyant adalah pemberi atau dermawan yang besar.
Dan penyelamat dengan wahyu yang luhur.
Saoshyant itu seperti Engkau wahai Tuhan Mazda (dicelup dalam warna Tuhan).
Dia kelak adalah lelaki ideal yang akan mengusir rancangan para pendeta palsu.
Bagaimana saya akan melengkapi pujian kepadanya?
Dia akan mengusir dari tanah ini para pemburu kesenangan yang bermabuk-mabukan.
Kami (bangsa Iran) mengundang Saoshyant yang dermawan, abadi, dan salih untuk menolong kami.
Mereka yang paling tepat dan benar dalam pembicaraan mereka.
Dia yang paling tekun, yang paling mulia dalam pemikirannya, yang paling agung dan perkasa.
Engkau (wahai Tuhan) yang dalam kekuasaan-Mu kuletakkan kesusahan dan keraguanku. Semoga kelak nabi yang Engkau simpan menemukan dan memperoleh haknya demi kebahagiaanku. Pemikirmu yang baik dan yang Kau anugerahi rahmat mukjizat, semoga Saoshyant-Mu (Muhammad) menyaksikan betapa hadiah ganjaran-Mu kelak bagi dirinya.
Kapan, wahai Mazda! Datang lelaki dengan pemikiran sempurna?…
Saya datang kepadamu, wahai engkau dermawan abadi, sebagai seorang pendeta yang memuji, dan mohon pertolongan, sebagai seorang pengingat, membacakan doamu, dan sebagai yang bersenandung demi pengorbanan dan kehormatanmu.
Kehendak baikmu, dan doamu.
Wahai, engkau Saoshyant yang suci (Muhammad dan para sahabatnya) dan demi salatmu yang tepat waktu demi rahmat dan pembebasan dosa darimu.
Wahai engkau dermawan abadi, yang memerintah dengan benar dan yang mengungkap (semuanya) dengan benar!
Saya serahkan kepadamu daging jasadku ini sendiri, dan begitu pula semua rahmat kehidupanku.
Dalam Dasatir dikatakan: Ketika kaum Zoroastrian meninggalkan agama mereka, seorang laki-laki akan muncul di Arabia, yang para pengikutnya akan menaklukkan Persia.
Sebagai ganti menyembah api mereka akan menghadapkan wajahnya ke rumah Tuhan yang dibangun oleh Mahabad (Ibrahim) dalam doanya, yang akan dibersihkan dari semua berhala.
Mereka (para pengikut Nabi itu) akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Mereka akan menjadi tuan dari Persia, Madain, Tus dan Balkh, tempat-tempat suci dari kaum Majusi.
Nabi mereka kelak adalah seorang lelaki elok yang mengungkapkan perkara-perkara yang ajaib.
Orang-orang bijak dari Iran dan lain-lain akan bergabung dengan mereka.

Silahkan teman-teman Persia kita serta orang-orang lain yang bijak di dunia merenungkan perkara ini:

Bagaimana nubuatan ini yang telah diramalkan ribuan tahun sebelumnya, kata demi kata, telah digenapi dalam pribadi Muhammad dan agamanya? Jadi, bijaksanalah mereka, hanya mereka yang percaya kepada nubuatan ini, dan memeluk Islam serta bergabung dengan Persaudaraan dari segenap Nabi di dunia.