MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (1/18)

PENDAHULUAN

Banyak sekali nubuatan kedatangan Nabi Suci Muhammad juga terdapat dalam kitab-kitab suci agama Hindu. Ada tiga bagian dari kitab-kitab ini – Weda, Upanishad dan Purana. Brahmana itu tiada lain adalah suatu tafsir dari Weda, tetapi ini tetap dimasukkan dalam kitab yang diwahyukan (Shruti). Ada empat bagian pokok dalam Weda, meskipun menurut jumlahnya, mereka berjumlah tak kurang dari 1311.(1) Dari situ hanya kira-kira duabelas yang bisa didapat. Rig Weda, Yajur Weda dan Sama Weda, dianggap sebagai kittab yang lebih kuno, Rig Weda adalah yang tertua. Rig Weda dikumpulkan dalam tiga masa yang panjang dan berbeda. (2) Menurut Manu, yang disebut di atas adalah tiga Weda yang tua.(3) Yang juga dikenal sebagai ‘Trai Vidya’ atau Ketiga Ilmu. Yang keempat, Atharwa Weda, adalah yang bertanggal belakangan. Besar selisih pendapat tentang masa pengumpulan atau wahyu dari empat Weda itu. Kaum Orientalis Eropa, betapapun, sedikit banyak sepakat dalam riset mereka; tetapi ada jurang perbedaan yang tak terjembatani antara macam-macam sekte dan pakar Hindu. Seorang cendikiawan memegang pendapat bahwa Weda diwahyukan seribu tigaratus dan sepuluh ribu tahun yang lalu,(4) dan menurut yang lain ini usianya tak lebih dari empat ribu tahun.(5) Begitu pula, suatu perbedaan besar terdapat dalam berbagai peristiwa tentang tempat dimana kitab ini diwahyukan dan Rishi (nabi) kepada siapa kitab suci ini diberikan. Dengan mengabaikan perbedaan ini, Weda adalah kitab suci yang paling otentik dari umat Hindu dan dasar yang sesungguhnya dari Hindu Dharma.

Susunan selanjutnya dalam keunggulan dan otentisitasnya sesudah Weda adalah Upanishad. Namun, beberapa Pandit menganggap Upanishad ini lebih unggul dari Weda.(6) Umat Hindu bangga dengan perjanjian filosofis ini; dan begitu pula dalam Upanishad, kita temukan pengakuan akan keunggulannya terhadap Weda.(7)

Kitab otentik selanjutnya sesudah Upanishad dan yang paling luas dibaca oleh semuanya yakni Purana. Kitab ini mudah diterima akal dan mudah didapat di mana-mana, sedangkan Weda adalah sulit difahami dan jarang didapati. Umat Hindu menunjukkan penghormatan yang tinggi atas kitab-kitab ini dan membacanya dengan penuh perhatian dan keyakinan. Purana terdiri dari sejarah penciptaan alam semesta ini, sejarah awal dari bangsa Arya, kisah kehidupan dari dewa dan dewi dalam agama Hindu. Maharshi Vyasa telah membagi kitab ini kedalam bagian delapan belas jilid. Mayoritas umat Hindu percaya bahwa Weda juga membuktikan kebenaran Purana, yang menunjukkan bahwa Purana itu lebih otentik dan lebih kuno. Dalam Atharwa Weda kita ketemukan: “Ayat-ayat dan lagu-lagu serta hymne magis, Purana, teks yang suci – Semuanya berhubungan dengan Tuhan Yang rumahNya di langit, yang bangkit dari sisa” (8) Lagi kita dapati: “Dia pergi ke wilayah yang besar. Itihasa dan Purana dan gatha dan Narashansi mengikutinya” (9) Begitu pula, dalam Rig Weda disebutkan tentang Purana: “Demikianlah dengan ilmu ini (dari) Puran Yajua bapak-bapak kita bangkit menjadi Rishi” (10), Suatu rujukan kepada Purana juga diketemukan dalam Chhandogya Upanishad.(11)

Semua referensi ini, menunjukkan bahwa Purana adalah juga kitab wahyu seperti Weda, dan dipandang dalam masa pewahyuannya, entah mereka diwahyukan bersamaan waktunya dengan Weda ataukah beberapa masa sebelumnya. Dengan sepatah kata, kesucian dan penghormatan kepada Purana diakui dan dikenal dalam semua kitab otentik dari agama Hindu. Tetapi di samping semuanya ini, kini beberapa Pandit mulai menolak kumpulan ini hanya karena mereka menemukan di dalamnya banyak sekali ramalan dan tanda bukti yang kuat atas kebenaran dari Nabi Muhammad. Bukannya beriman kepada Nabi dan dengan demikian menaati para Rishi mereka yang agung dan suci, dan menyadari kebenaran akan apa yang mereka katakan, para pandit ini berfikir yang terbaik adalah menolak seluruhnya kepercayaan apa yang terkandung dalam Purana. Tetapi Weda dengan jelas telah membuktikan kebenaran Purana dan dicatat bahwa karena Weda itu diwahyukan dari Tuhan, dengan cara yang sama, Purana juga telah diwahyukan oleh-Nya. Betapa pun, terkadang mereka berkilah bahwa Purana kini tidak sama dengan koleksi yang disebutkan Weda, kitab-kitabnya yang asli telah hilang. Namun keberatan ini tidak tepat. Adalah mustahil dan jauh dari kebenaran bila seluruh Purana itu yang begitu luas dibaca dan dipelajari dengan cermat, bisa jatuh dalam pengabaian dan terhapus total dari muka bumi, dan Weda, yang hanya bisa dibaca serta difahami oleh sedikit orang malah tetap tak tersentuh hingga saat ini. Dikatakan selanjutnya bahwa nubuatan ini ditambahkan ke dalam Purana pada hari belakangan. Namun inipun satu argumen yang tak berdasar. Kitab termasyhur semacam itu, yang mempunyai peredaran sangat luas, dan juga dibaca pada saat-saat tertentu dalam sembahyang, (12) mustahil dikacaukan. Melihat ramalan yang jelas mengenai Nabi bangsa Arab dalam kitab-kitab mereka, para Pandit mulai berteriak bahwa Purana itu dirusak. Selanjutnya, adalah omong kosong untuk mengira bahwa semua Pandit serta wali cerdas dari umat Hindu bisa berkumpul di suatu tempat lalu menambahkan nubuatan ini dalam Purana. Pada saat yang sama, terdapat begitu banyak sekte di kalangan Brahman dan masing-masing sekte sangat menentang sekte lainnya, maka adalah mustahil buat mereka untuk bersetuju trhadap perubahan semacam itu. Setiap copy Purana bisa diketemukan nyaris di setiap rumah seorang Brahman, dan adalah sungguh aneh  bahwa selama ini dunia belum pernah menemukan suatu koleksi yang tanpa ramalan ini. Dan hal yang paling menggelikan adalah bahwa perusakan ini demi keuntungan Nabi Muhammad dan untuk melawan agama mereka. Mungkin saja menambahkan sesuatu terhadap nubuatan ini atau merubah teksnya, tetapi adalah naif untuk beranggapan bahwa para Pandit Hindu menambahkan sesuatu yang bertentangan dengan agama dan keyakinan mereka sendiri. Jadi, kita menghimbau saudara-saudara kita umat Hindu untuk memberikan pertimbangan serius terhadap pertanyaan ini. Setiap kata Nubuatan dalam Purana adalah asli dan diwahyukan oleh Tuhan seperti yang di Weda; dengan membacanya akan membawa keselamatan dan rahmat baik di dunia maupun di akhirat. Karena itu, biarkanlah mereka, mengkaji dengan cermat, dalam kitab suci mereka sendiri, keagungan Nabi Muhammad dan semoga mereka mengumumkan keimanannya kepada beliau.

NUBUATAN TENTANG NABI SUCI MUHAMMAD DALAM KITAB-KITAB SUCI HINDU

PENGHORMATAN MAHARESI WIYASA KEPADA NABI

Umat Hindu telah sangat terkenal dalam pemujaan terhadap pahlawan. Karakter mereka yang mencolok ini, sebagai suatu fakta nyata, membentuk bagian dari agama mereka. Maharesi Wiyasa sangat dihormati di kalangan Hindu sebagai seorang resi yang agung dan seorang suci yang cerdas. Dia sangat salih, takwa dan orang yang berhati bersih. Dialah orang yang mengatur Weda di bawah bermacam-macam judul. Dia juga menulis suatu buku berharga tentang kesufian. Gita dan Mahabharata adalah juga hasil dari penanya yang piawai. Tetapi kompilasinya yang terbesar adalah delapan belas jilid Purana. Induk dari Purana adalah suatu kitab yang dikenal sebagai ‘Bhavishya Purana’, dimana Maharesi membuat suatu penelitian yang menakjubkan tentang peristiwa yang akan datang. Ini disebut Bhavishya Purana karena ini memberikan pencatatan secara kronologis kejadian mendatang. Kaum Hindu menganggapnya sebagai Karya Ilahi seperti halnya Weda. Maharesi Wiyasa hanya sekedar mengumpulkan kitab itu, pengarang sebenarnya adalah Tuhan Sendiri. Copy dari Bhavishya Purana, dari mana kami mengutip ramalan berikut, dicetak oleh Venkteshwar Press di Bombay.

Berikut ini adalah terjemahan bahasa Inggris dari kata-kata nubuatan itu.

“Seorang malechha (orang dari negeri asing dan berbicara bahasa asing), seorang guru ruhani akan muncul bersama para sahabatnya. Namanya adalah Muhammad Raja (Bhoj) setelah memberikan ini Mahadewi Arab (yang berkedudukan malaikat) suatu permandian di “Panchgavya” dan sungai Gangga, (yakni menyucikan dia dari segala dosa) setelah memberikan dia kehadirannya yang sepenuh pengabdian dan menunjukkan segenap penghormatan, berkata ‘Saya taat kepadamu’.’Wahai engkau! kebanggaan kemanusiaan, penghuni gurun Arabia, engkau telah mengumpulkan kekuatan yang besar untuk membunuh Iblis dan engkau sendiri telah dilindungi dari musuh-musuh Malechha’ ‘Wahai engkau! bayangan dari Tuhan Yang Maha-suci, Tuhan Yang Maha-besar, akulah budakmu, ambillah aku sebagai orang yang bersimpuh di kakimu” (13).

Dalam tulisan pujaan kepada Nabi Suci, Maharesi Wiyasa telah mengurutkan hal-hal berikut ini:

Nama Nabi itu jelas dinyatakan sebagai Muhammad.
Dia dikatakan termasuk bangsa Arab. Kata Sanskrit marusthal digunakan dalam ramalan berarti suatu bidang tanah berpasir atau suatu gurun pasir.
Penyebutan khusus diadakan bagi para sahabat Nabi. Sulit diketemukan satu Nabi lain di dunia yang mempunyai sejumlah besar sahabat yang semuanya mirip beliau.
Dia akan kebal dari dosa, mempunyai kekuatan malaikat.
Raja India akan menunjukkan penghormatan kepadanya dengan sepenuh hatinya.
Nabi akan mendapatkan perlindungan terhadap musuh-musuhnya.
Dia akan membunuh iblis, mencabut sampai akar-akarnya penyembahan berhala dan akan menyingkirkan segala jenis kejahatan.
Dia akan menjadi bayangan dari Tuhan Yang Maha-kuasa.
Maharesi menyatakan akan bersimpuh di kakinya.
Beliau dipandang sebagai kebanggaan umat manusia (Parbatis Nath).

Nubuatan ini sungguh terang benderang bak di tengah hari, tak ada sedikitpun bayangan keraguan bahwa yang dimaksud adalah Nabi Muhammad. Namun, beberapa orang menyatakan keberatan bahwa Raja yang disebutkan dalam ramalan ini bernama Bhoj yang hidup pada abad 11M dan adalah keturunan dalam generasi kesepuluh dari raja Shaliwahin. Jadi, raja Bhoj datang ke dunia limaratus tahun sesudah kedatangan Nabi . Tetapi nama dalam nubuat, seperti telah kita nyatakan sebelumnya, tidak berarti banyak.
Nama juga diberikan sebagai ramalan dan seringkali nama ini harus diberi tafsiran. Selanjutnya, tidak hanya satu Raja yang bernama Bhoj, sebagaimana dalam kerajaan Mesir dikenal nama Fir’aun dan raja-raja Roma disebut Caesar. Begitu pula, Raja India diberi gelar Bhoj. Beberapa raja yang hidup sebelum Raja Bhoj mempunyai nama raja yang sama. Kita temukan sebutan Raja Bhoj di kitab Sanskrit kuno “Aitreya Brahmana”. Begitu pula, Panini, yang adalah ahli tata-bahasa sanskrit terkenal dan hidup lama sebelum Islam, juga merujuk nama Bhoj, kota-kotanya dan keturunannya. – Disamping itu, nubuatan ini jelas memberi nama nabi itu sebagai Muhammad yang menunjukkan bahwa ini tak bisa diterapkan kepada orang lain kecuali Nabi Islam.

Hal lain yang perlu penjelasan, adalah, bahwa Nabi mandi di ‘Panchgavya’ dan air sungai Gangga. Jelas ini tidak benar-benar terjadi, karena ini hanyalah rukyah; maka kita beri tafsiran bahwa Nabi akan disucikan dan dibuat kebal terhadap segala macam dosa. Air ini dianggap sangat suci dan murni dan mereka membasuh manusia hingga bebas dari dosa, seperti halnya sungai Yordan dianggap suci oleh umat Kristiani dan Zamzam bagi kaum Muslim.

Jadi, kita telah menyaksikan apa yang Brahmaji (Tuhan) wahyukan dan apa yang dikatakan Wiyasaji kepada dunia. Maharesi telah menganggap Nabi Suci itu mutlak saleh dan tanpa dosa serta menunjukkan kesetiaan dan penghormatan yang tulus kepadanya dan ingin bersimpuh di kakinya. Tidakkah selayaknya kita menghimbau, dalam cahaya fakta-fakta di atas, kepada saudara-saudara kita umat Hindu, yang percaya kepada Kitab-kitab Suci Ilahi dan mendewakan pemimpin agama mereka, untuk merenungkan apa yang dikatakan oleh Maharesi Wiyasa tentang Nabi dan beriman kepada Nabi untuk menaati perintah Brahma dan memenuhi hasrat yang menyala di hati Maharesi!

 


 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13

Ek shatam adhvaryo shakha, shasr vertama Sam Veda, ek vinshti dhava Richyam, navdha Atharvano
Veda. Ada 101 cabang dari Yajur Weda, 1000 dari samweda, 21 Rigweda, dan sembilan jenis
AtharwaWeda, yakni 1131. MahaBhashya dari Patanjli.
Abhinash Chnadra’s Rigvedic, India. Intro. h.VIII.
Trayam Brahm sanatnam. Manu 1:23, 2:76, 77, 118. 3:2.9:188.
Dyanand’s Satyarh Parkasha.
Mahatma Tilak’s “Arctic Home in the Vedas”.
Pt. Radha Krishnan’s Philosophy of the Upanishads, hal.16. Sacred Books of the East, jil.I. Introduction to
Upanishads, hal.xiii, Lectures by Raja Ram Mohan Roy.
Manduk Upanishad, 1.1.4-6. Chhandogya vii.1-2. Shatpath Br. X.3.5-12.
 

The Atharvaveda, XI:7.24.
Atharva Veda, XV:6.12.
Rig Veda, X:130,6.
Chhan, VII: 1-2.