MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (2/18)
 

NUBUAT LAIN YANG JELAS DARI WIASAJI

Dalam kelanjutan dari kutipan yang sama dari Bhavishya Puran yang telah kita berikan di atas, kami masih bisa menemukan suatu ramalan yang jelas dalam Shloka 10-27. Maharesi Wiyasa telah menandai Nabi Suci sebagai berikut:

“Malechhas telah merusakkan tanah Arab yang terkenal. Arya Dharma tidak diketemukan di negeri itu. Sebelumnya juga telah muncul satu setan yang sesat yang telah Aku bunuh; dia sekarang muncul lagi dikirim oleh musuh yang penuh kuasa. Untuk menunjukkan kepada para musuh ini jalan yang benar dan memberi mereka petunjuk, maka Mahammad (Muhammad) yang tenar, yang telah Aku beri kata-kata Brahma, sibuk membawa ‘Pishachas’ (mereka yang sesat) ke jalan yang benar. Wahai Raja! Engkau tak perlu pergi ke tanah jahiliyah Pishachas, engkau akan disucikan melalui kebaikanku bahkan dimanapun engkau berada. Pada waktu malam, dia yang berkekuatan malaikat, lelaki yang berselimut, dalam kostum seorang Pishacha  berkata kepada raja Bhoj: “Wahai raja! Arya Dharmamu telah dibuat mengungguli segala agama, tetapi sesuai dengan perintah Ishwar Parmatma, aku akan menekankan dengan kuat kredo pemakan daging. Pengikutku adalah lelaki yang bersunat, tanpa kuncir (di kepalanya), memelihara jenggot, menciptakan revolusi, mengalunkan Adhan (seruan untuk salat) dan akan memakan semua makanan yang halal. Dia akan makan segala jenis binatang kecuali babi. Mereka tidak mencari penyucian melalui semak yang suci, melainkan akan disucikan dengan peperangan. Dalam peperangan mereka melawan bangsa-bangsa yang tak beragama, mereka akan dikenal sebagai muslimin. Aku akan menjadi pencetus dari agama kaum pemakan-daging ini”.

Dalam nubuatan ini Wiyasaji telah mengurutkan banyak sekali tanda-tanda atas kedatangan Nabi Suci Muhammad s.a.w. Yang menonjol diantaranya adalah sebagai berikiut:

Tanah Arab telah dirusak oleh pembuat kejahatan.
Arya Dharma tidak diketemukan di tanah itu.
Musuh-musuhnya yang sekarang akan musnah seperti halnya musuhnya yang terdahulu (Abrahah) dan lain-lainnya telah binasa.
Demi membimbing para lawannya ini kepada kebenaran, Muhammad telah diberi Tuhan kata-kata
‘Brahma’, dan dia sibuk membangun bangsanya.
Raja India takut pergi ke tanah Arab. Karenanya, penyuciannya akan terjadi di sini di India, ketika kaum muslimin tiba di sini.
Nabi yang akan datang itu akan membuktikan kebenaran dari kepercayaan Arya dan akan memperbaharui umat yang sesat ini.
Para pengikut Nabi akan bersunat, memelihara jenggot, tidak memakai kuncir (di kepalanya), dan pemimpin mereka akan menciptakan revolusi besar.
Tidak ada rahasia dalam agamanya dan panggilan salat akan diserukan dari menara setiap masjid.
Daging babi diharamkan bagi mereka, sisa binatang yang lain yang bisa dimakan halal baginya.
Umat Hindu menggunakan semacam rumput untuk bersuci, tetapi umat ini akan disucikan dengan sarana pedang.
Mereka akan dikenal sebagai muslimin karena peperangan mereka melawan orang-orang yang tidak beragama.
Dan agama para pemakan daging ini akan menjadi suatu kultus Ilahi.

Dikisahkan dalam ramalan ini bahwa Nabi Suci akan membuktikan kebenaran  dari kepercayaan Arya  dan juga bahwa Aryan Dharma akan unggul di atas semua agama. Suatu pertanyaan timbul di sini bahwa bila Arya Dharma menjadi yang terbaik dari semua keyakinan dan unggul di atas agama yang lain, maka apa perlunya untuk memberi dunia ini keimanan yang baru yakni Islam? Namun jawabannya adalah bahwa agama Arya, pada saat dia diwahyukan, tentulah yang terbaik bagi bangsa Arya dan menjadi unggul di atas segala agama. Tetapi lama kelamaan dia menjadi rusak dan karenanya Islam diperlukan. Maharesi Wiyasa sendiri telah menggambarkan keadaan agama ini pada saat munculnya Nabi. Dia telah memberikan gambaran sebenarnya tentang apa yang disebut ‘malechha dharma’ (Islam) dan keimanan Arya. Katanya:

“Kerusakan dan penganiayaan adalah tatanan hari itu di tujuh kota suci Kashi, dan sebagainya. India dihuni oleh Raksasa, Shabar, Bhil dan orang-orang jahil lainnya. Di tanah ‘malechhas’, para pengikut ‘malechhas dharma’ (Islam) adalah orang-orang yang bijak dan berani. Semua sifat yang luhur ini terdapat pada kaum muslimin dan segala jenis kejahatan telah berkumpul di tanah Arya. Islam akan memerintah India dan kepulauannya. Mengetahui kenyataan ini, wahai Muni, terpujilah nama Tuhan”. (14)

Dalam Seloka di atas kata ‘malechha’ telah digunakan lagi dan lagi. Jelas bahwa kata ini digunakan dengan arti yang kurang baik, tetapi Maharesi Wiyasa telah menggunakannya dengan pengertian yang agaknya berbeda.Dia sendiri mendefinisikan kata itu sebagai “Seorang dengan amalan yang baik, tajam akal fikirannya, tinggi keruhaniannya, menunjukkan penghormatan kepada dewa-dewa, dikenal sebagai seorang ‘malechha’ yang bijaksana”.(15)

Jadi, ketika Arya Dharma diredusir menjadi sekedar gerombolan kejahatan dan rusak total serta carut­marut, apakah tidak perlu bahwa beberapa Brahma harus muncul di jazirah Arab untuk mereformasi bangsa Arab dan begitu pula bangsa Arya? Begitulah apa yang sebenarnya terjadi sebagaimana diramalkan oleh Maharesi Wiyasa. Karena itu, hendaklah kaum Arya menaati Resi mereka dan mengagungkan asma Tuhan atas munculnya Nabi  Muhammad Juru Selamat dunia.

NAMA SUCI MUHAMMAD DALAM ALLO ATAU ALLAH UPANISHAD

Kedua pentingnya sesudah Purana, dalam kitab-kitab suci agama Hindu, adalah Upanishad; dan seri kitab­kitab ini begitu pentingnya sehingga kitab-kitab suci ini dianggap sebagai dari ilmu Ilahi; dan atas alasan ini banyak ulama agama Hindu percaya bahwa Upanishad bahkan jauh lebih unggul dari Weda; dan bahwa klaim ini diketemukan dan ada dalam beberapa kitab Upanishad; karena, tema dari Weda itu untuk mendapatkan banyak hujan dan panenan serta melimpah-ruahnya kekayaan dan ternak, tetapi Upanishad membukakan ilmu Ilahi dan mengajarkan bagaimana jiwa manusia itu bisa lebih mendekat kepada Pencipta dan Tuannya. Maka, banyak dari Upanishad disebut Supplemen atau Appendix dari Weda, sedemikian hingga bab 40 dari Yajur Weda diakui disebut sebagai Ish Upanishad. Begitu pula, seluruh Upanishad telah dibagiakn kepada empat Weda, atau mereka disebut Upanishad mereka yang khusus, sehingga bahwa Allo Upanishad adalah Upanishad dari Atharwa Weda. Penyebutan ini telah dilakukan, dari sejak zaman kuno, tidak hanya dalam leksikon sanskrit, melainkan namanya juga ada dalam daftar Upanishad. Selanjutnya, untuk menekankan pentingnya, ini telah diterbitkan dalam bahasa Gujrati dan bahasa lain-lainnya beserta teksnya yang asli, dan penerbitnya tiada lain adalah para Pandit Hindu sendiri Di sini dalam buku ini, kita sajikan suatu reprint fotografis dari Allah Upanishad yang diterbitkan oleh para pandit ini.

Nagendra Nath Vasu, seorang ulama Hindu, telah meng-copy ini dalam bukunya yang berjilid-jilid, Vishwa kosh (Encyclopaedia Indica), jilid II, diterbitkan di Calcutta, dan menyatakan bahwa, dalam Allah Upanishad suatu puji-pujian telah dinyanyikan dan didoakan oleh Parmeshwar; dan Allah adalah nama Parmeshwar atau Brahma. Tetapi dalam Jilid III dari kitab yang sama suatu usaha telah dilakukan untuk menunjukkan bahwa itu tidak otentik; dan alasan yang diberikan untuk menyokong klaim ini adalah karena setelah membaca Upanishad ini banyak umat Hindu menjadi Muslim, dan bahwa seorang Pandit yang msuk Islam kemudian menyusunnya. Sekarang hal yang perlu dipertimbangkan ialah bahwa bila itu dikompilasi oleh seorang pandit yang menjadi muslim, bagaimana itu bisa masuk ke rumah Hindu di bawah judul Upanishad; dan bagaimana dia bisa berjalan dari Calcutta ke Bengal, ke Aurangabad di Deccan dimana para pendeta Hindu menerbitkannya di bawah judul Upanishad; dan mengapa di Bombay para pandit Hindu menerjemahkannya ke dalam bahasa Gujarati, mencetak dan menerbitkannya? Dan lagi, bagaimana bisa bahwa leksikografer bahasa Sanskrit mempertimbangkan dan menerima kitab yang disusun oleh seorang Muslim menjadi Allah Upanishad dan suatu sukt dari Atharwa Weda? Tetapi argumen yang paling lucu dari semuanya adalah yang disajikan oleh kaum Arya Samaj bahwa sukt ini telah ditambahkan dalam Atharwa Weda, tetapi apakah mereka tidak berfikir bahwa dengan cara ini posisi Weda menjadi meragukan dan tak bisa dipercaya. Bila kompilasi seorang Muslim bisa mendapat tempat di Weda, apa lagi yang bisa diselipkan ke dalamnya oleh para pandit Hindu; dan kehadiran Weda sebagai kitab suci, dengan banyaknya campuran beracun seperti ini, akan menjadi teracuni dan mati.

Tetapi pertanyaannya adalah; Apakah semua MSS dari Weda dalam pengawasan seorang pandit yang memeluk Islam secara diam-diam, dan tidak menyatakan diri bahwa dia telah menjadi Muslim, dan merusak Weda; dan kemudian semua pandit yang lain, mengambil seluruh MSS dalam Weda darinya, membagikannya ke seluruh India, dan kemudian karenanya tipuan dan kejahatan mistis dari seorang pandit-mualaf ini, dengan cara demikian, tersebar kemana-mana dan menyihir seluruh negeri? Dan bila tidak demikian, maka tak diragukan lagi ini adalah mukjizat yang unik bahwa tak ada MS dari Atharwa Weda yang muncul dari rumah seorang pandit-pun yang tanpa Allah Sukt, dan bahwa seorang yang baru masuk Islam, berkeliling negeri dan masuk ke rumah pandit di Bengal, Aurangabad (Deccan) dan Bombay, untuk menyelipkan Allah Upanishad dalam kitab suci mereka, dan tak seorangpun tahu bahwa Weda yang tersimpan di rumahnya, telah dirusak dan dicemari dalam semalam, dan bahwa interpolasi itu, sedemikian berbahayanya sehingga mengandung di dalamnya Kalimah Syahadah kaum Muslimin, serta nama Muhammad, dan penyebutan asma-asma Allah; dan ada lagi keajaiban yang mengherankan terjadi atas mukjizat ini bahwa semua orang Hindu mulai melihat dan mempertimbangkan kompilasi dari seorang Muslim ini sebagai benar-benar Upanishad ; yakni, ilmu Ilahi dan suatu kitab yang jauh lebih unggul daripada Weda, dan para leksikografer dari bahasa Sanskrit, karena percaya bahwa ini adalah benar-benar Upanishad, telah memperbanyak dalam kepustakaan mereka, dan menggambarkan bahwa di dalamnya berisi asma Allah dan penyebutan sifat-sifat-Nya, dan bahwa pujian serta pujaan dari Parmeshwar dilagukan di dalamnya, adalah begitu berbeda dengan Weda, sangat masuk akal dan cocok. Mengulas dari mulut seorang pandit Hindu, demi kompilasi seorang Muslim, kebanggaan dan penonjolan bahwa itu adalah kata-kata Ishwar, sungguh sebuah keajaiban di atas keajaiban. Dan masih ada lagi keanehan besar yaitu dimana pengarang Muslim dari Allah Upanishad yang telah menjadi Muslim, setelah menyusun sendiri kitab ini, tidak memberikan pengetahuannya kepada seorang Muslim lainnya, bahkan tidak menyatakan namanya; bahwa disamping kepada Pandit Hindu, suatu manuskrip atau terjemahnya pasti muncul dari rumah seorang Muslim.

Mendengar pernyataan bodoh dari orang-orang yang kurang akal semacam ini tentulah saya terkejut dengan heran dan sedih; tetapi suatu pemikiran, pada waktu yang sama, melintas di kepala yang barangkali, beberapa pandit yang sedang didera kemiskinan atau tak punya uang, untuk mendapatkan penghormatan dan kehormatan di kalangan kaum Muslimin, telah melakukan hal semacam ini. Tetapi apa yang telah menarik dan memikat Raja Radha Kant Bahadur, penyusun kitab Shabd Kalpadram yang kaya dan makmur, untuk menulis dalam kamusnya bahwa Upanishad ini adalah Upanishad daro Atharwa Weda? Dan bagaimana bisa pengarang Wachasptya, suatu leksikon yang sangat kuno dalam bahasa sanskrit, telah menyebutkan Allah Sukt di dalam kitab ini lama sebelum kaum Muslimin datang ke India? Dan Pandit Bhagwat Dutta, ulama peneliti dari Arya Samaj, kepada siapa mereka menaruh kebanggaan yang besar, terpaksa harus mengakui, mengenai Allah Sukt ini, bahwa teks Atharwa Weda telah tercampur dan rusak; yang berarti bahwa hidung mereka boleh ada atau boleh tiada di wajahnya, tetapi mereka tak akan mengizinkan seekor lalat duduk di sana; mengakui adanya interpolasi dalam Atharwa Weda itu sungguh suatu hal yang jauh lebih berbahaya dan mematikan daripada menerima kehadiran Allah Upanishad di dalamnya. Musuh-musuh Weda Dharma ini tidak menyadari, bahwa bila Weda itu kitab yang begitu tidak aman dan tidak cermat dimana seseorang bisa mengolah teksnya sesuai dengan yang dia mau, maka klaim mereka bahwa itu wahyu dan ilmu Ilahi akan menjadi meragukan dan tak bisa diterima.

Manuskrip dari Allo Upanishad, yang diterbitkan di Aurangabad (Deccan), dalam Shabd Kalpadramnya Raja Radha Kant Bahadur dan di Bombay bersamaan dengan terjemah Gujarati, tidaklah diambil keluar dari rumah seorang  Muslim, tetapi tulisan tangan MSS yang kuno itu menghias lemari buku perpustakaan para pandit Hindu yang memperlakukan kitab-kitab suci ini lebih berharga daripada jiwa mereka sendiri, di jaga dengan sepenuh hati dan dirawat selama ribuan tahun , dan yang mengabaikannya bahkan disentuhnya kitab-kitab suci ini oleh seorang Muslim adalah suatu dosa besar. Bagi seseorang yang memutuskan untuk tidak menerima kebenaran betapa besar dan jayanya hal itu, maka tak akan ada obatnya, tak akan ada penyembuhannya. Tetapi seorang yang sehat akalnya dapat menerima kemungkinan bahwa para pendeta Hindu, ketika menerbitkan kitab-kitab ini, boleh jadi, akibat bias keagamaan mereka, telah merubah teks, atau membuat suatu ikhtiar, dengan cara yang kacau, yang membuat kitab ini tidak masuk akal dan kabur; tetapi ide bahwa mereka telah menyelipkan sesuatu yang diluar keyakinan mereka, adalah jelas naif dan bodoh.

Tepat seperti disebutkan dalam Bhavishya Purana mengenai nama Nabi Suci, negeri dan umatnya, dan suatu pujian telah dinyanyikan bagi para pengikutnya,….. …dan agamanya telah disebut sebagai agama yang didirikan oleh Tuhan Yang Maha-tinggi, dengan cara yang sama, dalam kitab suci kecil ini, yakni Allo Upanishad, Kalimah suci Islam telah disebutkan dua kali, dan juga nama Nabi Suci, dan suatu tekanan telah diletakkan dalam membaca rumus Keesaan Ilahi ini. Kita telah menerbitkan dalam buku ini suatu copy fotografis dari Upanishad ini, bersama dengan terjemahnya secara harfiah bagi para pencinta kebenaran, dan para pencari kebenaran, serta kepada saudara-saudaraku umat Hindu, argumennya mungkin telah final dan lengkap, dan mereka silahkan mereposisi keyakinannya dan beriman kepada Nabi Suci Muhammad s.a.w.,sesuai dengan perintah langsung dari para Resi mereka; karena ajaran Nabi yang luhur telah membebaskan dan melepaskan dari segala kejahatan kasta yang tak boleh disentuh dalam agama Hindu dan perbedaan kasta yang menimbulkan kebencian dan sebagainya; sehingga mereka bisa, setelah diperkaya dengan khazanah Keesaan Ilahi yang murni dan sempurna, yakni beriman hanya kepada Tuhan Yang Sejati saja, dan dengan asma-asma-Nya sebagaimana dinyatakan dalam Allo Upanishad, dan menempatkan dirinya bebas dari menyekutukannya dengan meneyembah pepohonan dan bebatuan, hewan dan makhluk manusia, serta menapakkan kakinya di Jalan Kebenaran, jalan keselamatan dan kebebasan di dunia maupun di Akhirat.

Berikut ini adalah terjemahan sederhana dan harfiah dari Allo Upanishad.

Nama Dzat itu ialah Allah. Dia adalah Esa. Mitra, Baruna dan sebagainya adalah asma-asma-Nya; dan Allah sesungguhnya adalah Baruna yang menjadi raja segenap dunia. Wahai teman, lihatlah dan anggaplah Allah seperti itu sebagai Dewamu. Dia adalah Baruna dan menyukai teman-teman, meletakkan kebenaran amal semua orang.
Dia adalah Indra. Indra yang perkasa. Allah adalah yang terbesar dari segalanya, yang terbaik, yang paling sempurna, dan yang paling suci dari semuanya.
Muhammad, Utusan Allah adalah Utusan terbesar dari Allah. Allah adalah Alfa, dan Allah adalah Omega, dan Allah adalah Pemelihara dari seluruh dunia.
Bagi Allah adalah semua perbuatan mulia. Allah, sesungguhnya, telah menciptakan matahari, rembulan dan bintang-gemintang.
Allah telah mengirim semua Resi, dan menciptakan matahari, rembulan dan bintang. Allah mengirim
seluruh Resi, dan menciptakan langit.
Allah adalah Yang Menampakkan bumi dan langit. Allah adalah Yang Maha-besar, dan tiada Tuhan kecuali Dia. Katakan, engkau menyembah (Atharwa Resi) ‘La-ilaha-illa-Allah’.
Allah adalah yang awal. Dia adalah Pemelihara dari semua burung dan binatang buas serta binatang yang hidup di laut, dan mereka yang tidak kelihatan di mata. Dia adalah Yang Menyingkirkan semua kejahatan dan bencana.
Muhammad adalah Rasulullah, pangeran dari ciptaan ini. Karena itu, mendeklarasikan: “Allah adalah Esa, dan tak ada tuhan lain kecuali Dia”.

Jelas dari teks Allah Upanishad ini bahwa, seperti telah ditulis oleh Nagendra Nath Vasu dalam Encyclopaedia India, “bahwa dalam Upanishad ini ada disebutkan Keesaan Allah (Parmeshwar) dan asma­asma Ilahi, dan fakta bahwa keindahan dan kemurahan-Nya dimana tak ada seorang beragama yang sehat akalnya dapat menaruh keberatan sedikitpun. “Dan kerasulan Muhammad itu disebutkan dua kali”.

 


14, 15

The Atharvaveda, XI:7.24.
Atharva Veda, XV:6.12.
Rig Veda, X:130,6.
Chhan, VII: 1-2.
Dicatat dalam Shatpath Br. Suatu tafsir yang sangat tua dan otentik dari Yajur Weda, bahwa Purana wajib
dibaca pada hari kesembilan dari Yagnya. XIII:4.3.13. XI:5.6.8. Shankhayana S.16. Lihat catatan pada
Shatpath Br. XIII:4.3.13.
Bhavishya Purana Prati Sarg Prev iii:3.3.5-6.
Bhavishya Puran Parv.III:1,4,21-23.
Ibid, hh.256,257.
Nareshu Ashansah Narashansah astvishyate yashya sah Munashuesh’u Parshansnih. Pt.Khem Karan
Bhasjy, hal.4, 451.
Dalam ketiga terjemah di atas, kata ini di ambil sebagai proper noun, seolah dia adalah nama beberapa
Raja atau otoritas penguasa. Tentang ini Prof.Griffith menulis: ‘Suatu hymne dalam pujian terhadap
kebebasan dan pemerintahan yang baik dari Kaurama, raja Rushamas’.
Tirmidhi dan Abu Dawud, Mishkat, bab ‘Mafakhira fa-la-Assabiyah’.
Mekkah pada saat itu adalah pusat niaga dari Arabia, karena itu penduduknya bisa meningkat menjadi
seratus ribu (Al-Mathal-al-kamil). Ini berarti bahwa penduduk tetapnya adalah enampuluh hingga tujuhpuluh ribu orang.