MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (3/18)
 

NUBUATAN DALAM ATHARWA WEDA

Atharwa Weda memiliki kedudukan yang menonjol dari keempat Weda karena dikenal sebagai Brahma Weda atau Ilmu Ilahi. Ini adalah kumpulan dari segala jenis mantera. Ini berisi Richas (syair pujian) dari jenis Rig Weda, komposisi literer dari jenis Sama Weda dan juga rincian sembahyang sebagaimana diketemukan dalam Yajur Weda. Jadi ini terdiri dari segala macam mantera yang terdapat dalam Weda yang berbeda-beda. Di samping itu, ini berisi mantera yang memberi rincian bagaimana seseorang itu bisa mengatasi sakit parah, bagaimana kemenangan bisa dicapai dalam peperangan dan gambaran tentang surga dan neraka. Inilah sebabnya mengapa ini digambarkan secara khusus dalam Mundak Upanishad, sebagai Brahma Widya atau Ilmu Ilahi.

Penggalian modern di Mesir dan Babylonia tidak saja membuktikan bahwa sumber sejati dari Alkitab, adalah Tabut Babylonia, melainkan juga membuktikan, sesuai dengan peristiwa internal dalam Weda, bahwa Kitab Weda itu terutama juga meminjam masalah yang menjadi bahasannya dari kitab suci Babylonia. Dr. Pran Nath, seorang guru besar dari Universitas Hindu Benares, menyumbangkan suatu makalah berharga dalam kaitannya dengan Alkitab, Weda dan Mesir, dalam Times of India bulan Juli dan Agustus 1935. Dia telah menunjukkan dalam artikelnya bahwa telah disebutkan dalam Rig Weda tentang Raja-raja Mesir dan Babylonia serta peperangan mereka. Dia juga telah memperlihatkan bahwa seperlima dari Rig Weda itu berasal dari kitab suci Babylonia. Diterangi cahaya penelitian ini, adalah sulit, mungkin juga salah, menyatakan bahwa Atharwa Weda adalah salinan yang persis sama dengan Kitab Nabi Ibrahim atau Brahma sebagai yang dipercayai oleh beberapa pandit.

Kuntap Sukt dalam Atharwa Weda

Dalam kitab ke duapuluh dari Atharwa Weda, beberapa Sukta (bab 127-136) dikenal sebagai Kuntap Sukt. Ini diulang-ulang setiap tahun dalam majelis besar dimana sembahyang diucapkan dan pengorbanan diserahkan. Tujuhbelas pandit ulama besar duduk setiap tahun mengulang mantera ini dengan pengabdian besar. Ini menunjukkan bahwa umat Hindu dianjurkan dengan kuat agar mengingat mantera ini (Aitreya Brahmana 6:32).

Menurut penggelaran dari para mufasir, Kuntap Sukt pertama itu terdiri dari empat subyek yang berbeda yang dikenal sebagai Narashansi, Raibhi, Parikshiti dan Karavya. Betapa pun, pembagian ini hanya dibuat berdasarkan beberapa kata yang ada di dalamnya, jika tidak, ini adalah asma dari satu atau individu yang sama, seperti yang akan kita perjelas dalam terjemah dari mantera ini.

Kata Kuntap berarti ‘konsumer dari kesusahan dan kesulitan’. Suatu kumpulan dari semua mantera ini dimana disebutkan seseorang yang mengobati kesusahan dunia ini disebut Kuntap Sukt. Risalah Islamiyah dan ajaran Nabi Suci Muhammad adalah rahmat bagi kemanusiaan dan satu-satunya obat bagi kejahatan serta kebrengsekan dunia. Karena itu, Kuntap Sukt secara mudah dapat ditafsirkan sebagai ‘Islam’ atau ‘risalah perdamaian dan keamanan’.

Kuntap Sukt adalah bagian yang terkenal dari Atharwa Weda (20:127-136). Kata Kuntap juga berarti ‘cairan yang tersembunyi dalam lambung’. (Shatpath Brahman 12:3-4-12). Dan mantera ini diberi nama itu, mungkin karena, makna yang sebenarnya itu tersembunyi dan akan diungkapkan pada suatu abad mendatang. Arti yang sebenarnya itu berhubungan dengan pusar yang menunjukkan titik tengah dari bumi ini. Mekkah disebut Ummul Qura (ibu dari kota-kota) atau pusar bumi, dalam banyak kitab wahyu. Rumah pertama dari ibadah kepada Ilahi, dimana Tuhan Yang-esa dipuja dan dari mana pemeliharaan ruhani diberikan kepada dunia ini hanyalah di Mekkah; sebagaimana Quran Suci berkata:

 “Sesungguhnya rumah permulaan yang ditetapkan bagi manusia ialah Rumah yang ada di Bakkah, yang diberkahi dan pimpinan bagi sekalian bangsa” (Q.S. 3:95).

Al-Quran memberikan dua nama kepada Mekkah yakni Bakkah dan yang satunya lagi adalah Mekkah. Bakkah berarti perut dan ‘Mekkah’ berarti payudara. Organ yang sama yang memberi makan anak di dalam perut, merubahnya menjadi susu dan datang ke payudara ibu, ketika anak itu dilahirkan. Sepanjang pemeliharaan anak itu di dalam perut maka ada beberapa cairan tersembunyi dan suatu rahasia bagi dunia, tetapi seketika cairan itu masuk ke payudara, maka itu menjadi “susu murni, yang sedap bagi orang yang minum” (Q.S. 16:66). Jadi Kuntap (cairan yang tersembunyi dalam perut) berarti Bakka – tempat pertama yang memberikan pemeliharaan pertama kepada umat manusia dan ketika manusia bisa melewati tingkat perkembangan yang diperlukan ini, cairan tersembunyi yang sama berubah menjadi susu segar di dalam payudara, dan sekarang untuk selamanya umat manusia akan memperoleh pemeliharaannya dari nutrisi yang sama yakni Mekka.

Kuntap Sukt ini sejak lama sudah menjadi rahasia dan tebak-terka. Betapapun, kita akan berusaha menjelaskannya. Pandit Raja Ram, seorang guru besar di Kolese Lahore D.A.V., Professor Griffith, Professor Max Muller, Dr. Whitney, M. Bloomfield dan beberapa sarjana lain menganggap mantera ini sebagai teka-teki. Suatu teka teki, sepanjang itu belum dipecahkan, tentulah tetap sebagai teka-teki. Tetapi setelah kedatangan Nabi Suci Muhammad, Kuntap ini tidak menjadi rahasia lagi. Sekarang dunia dengan mudah faham akan maknanya. Cairan yang tersembunyi itu sekarang telah menjadi susu yang murni dan sedap untuk memelihara seluruh umat manusia, tetapi hanya dia yang mau mencicipi susu murni ini yang akan mengenal ibunya dan lari ke dadanya untuk menerima santunannya.

Mantera pertama dari Kuntap Sukt: (Atharwa Weda 20:127.1)

M. Bloomfield telah menerjemahkan mantera ini sebagai berikut:
“Dengarkanlah wahai rakyat, kepada ini (suatu nyanyian) pujian seorang pahlawan akan dilagukan! Enam ribu dan sembilanpuluh (sapi) kita akan dapatkan, ketika Kami dengan Kaurama di antara Rushamas”.

Dalam terjemahan Prof. Griffith kita temukan:
“Dengarkanlah ke sini wahai manusia; suatu pujian atas kedermawanan yang jaya akan dinyanyikan. Seribu enampuluh dan sembilanpuluh, kami, wahai Kurama, di antara Rushamas telah menerima”.

Versi Inggris dari terjemahan Pandit Raja Ram (dalam bahasa Hindi) adalah sebagai berikut:
“Dengarkan kepada ini, wahai umat! Seorang yang terpuji akan dipuji,. Wahai raja yang mudah mencinta, kami temukan enampuluh ribu dan sembilanpuluh orang-orang berani menjebol musuh-musuh mereka”.

Dalam semua terjemahan ini, empat hal berikut adalah begitu kurang pasti dan kalau tidak ditambah beberapa teks, maka maknanya akan tidak jelas.

a. Pertanyaan pertama adalah, siapakah yang dipuji?
b. Kedua, apakah enamapuluhribu dan sembilanpuluh ini?
c. Ketiga, mengapa orang-orang harus mendengarkan dia dengan penuh hormat?
d. dan keempat, siapakah Rushamas dan Kaurama ini?

Sejarah kuno India tidak menyiratkan cahaya atas mantera ini dan mereka tetap kabur sebagaimana adanya. Namun, sejarah Islam permulaan dan berlangsungnya peristiwa dan kejadian di jazirah Arab, telah menerangi dengan sinar berlimpah atas mantera yang remang-remang ini dan menjadikannya benderang seperti yang lain.

  1. ”Dia yang akan dipuji” adalah terjemahan harfiah dari kata ‘Muhammad’.

  2. Enampuluh ribu atau tujuhpuluh ribu adalah populasi kota Mekkah, semua melawan Nabi (Al Mathal­ul-Kamil).

  3. Karena mantera ini mengandung suatu nubuatan yang besar, maka orang-orang diberitahu agar mendengarkan hal itu dengan penuh penghormatan. Rushamas adalah para musuh Nabi dan kaurama adalah atribut Nabi, yang berarti seorang ‘imigran’ Dan ‘seorang yang mempromosikan perdamaian’.

Teks dari mantera itu menunjukkan bahwa ini sesungguhnya adalah suatu ramalan besar. Tak ada di semua Kitab Weda ke-empat-empatnya bahwa orang-orang secara khusus diseru dan ditekankan. Umat Hindu diminta untuk mendengarkan kata-kata ini dengan penuh perhatian dan penghormatan. Mereka tidak dapat mengabaikan kata-kata ini hanya berdasarkan menganggapnya sebagai teka-teki. Kata Sanskrit Astvishyate, yang digunakan dalam mantera ini, dalam future tense berarti ‘dia akan dipuji’. Ini tanda pertama bahwa ini adalah suatu ramalan. Peristiwa ini akan terjadi pada masa yang akan datang, ketika nabi akan sangat dipuji. Dan nabi yang paling banyak dipuji dan dihormati di antara seluruh nabi di dunia adalah Muhammad s.a.w. Semua nabi memujinya dan telah meramalkan kedatangannya. Baik kawan maupun lawan memujinya. Encyclopaedia Brittanica (edisi ke-11 hal.898) menganggap dia “yang paling sukses dari semua nabi dan pribadi keagamaan”.

Nama yang diberkahi dari Nabi

Adalah perlu bahwa nama seseorang yang dijanjikan harus diberikan untuk siapa nubuatan  ini dimaksudkan. Karenanya, sesuai dengan itu, Resi Weda menyebut namanya, Narashansah astrrshyate – “Muhammad akan dipuji yang adalah sangat terpuji”.(16) Dia akan dipuji, Tuhan memujinya dan umatpun demikian pula. Kata narashansah telah diterjemahkan sebagai “dia yang terpuji di antara orang-orang”, yang adalah terjemahan yang tepat dari kata Muhammad. ‘Dia terpuji dan akan senantiasa dipuji’. Dia adalah Muhammad baik bagi Tuhan maupun manusia, dan patut dipuji oleh keduanya.

Dia adalah Pangeran Perdamaian

Tanda lain dari Muhammad ini (seorang yang terpuji) adalah, bahwa dia kelak adalah Kaurama (17) atau seorang yang menyebar-luaskan dan mempromosikan perdamaian. Dari segenap nabi di dunia hanya Nabi Suci Muhammad sendiri yang memiliki ciri yang menonjol ini yang telah dibuktikan kebenarannya oleh semua guru dunia dan karenanya telah menyingkirkan kebencian di antara beragam agama. Tak seorang nabi lainpun yang memiliki sifat khusus ini. Lagi pula, Nabi Suci adalah pangeran perdamaian karena dia mengajarkan persamaan di antara manusia dan persaudaraan antar manusia. Menurut ajaran Nabi, tak seorangpun dapat menyatakan dirinya mengungguli yang lain dalam hal kasta, warna kulit atau agamanya. “Semua manusia adalah putera Adam dan Adam diciptakan dari tanah,” (18) adalah suatu sabda dari Nabi. Karena diciptakan dari zat yang sama, maka kalian semua juga serupa. Tak seorangpun dari kalian yang hidup sebelum kalian bisa mengklaim bahwa dia lebih unggul. Ide tumimbal lahir, pembedaan kasta dan warna kulit, dan ciri darah serta kebangsaan bertanggung-jawab atas pertengkaran dan perkelahian antara seseorang dengan orang yang lain. Pada saat yang sama ide ini terutama diajarkan oleh umat Hindu dan membentuk gambaran khusus dalam ajaran Weda. Tetapi pangeran perdamaian memecahkan rantai perbudakan ini dan membebaskan dunia.Kata Kaurama juga berarti seorang imigran, dan dalam pengertian ini juga, cocok diterapkan kepada Nabi Suci Muhammad, karena hijrahnya Nabi (dari Mekkah ke Madinah) adalah begitu menonjol dalam sejarah sehingga zaman baru dimulai dari sana. Hijrah dalam Islam ini (imigrasi) adalah akhir dari kesulitan Nabi dan perjuangan melawan lawan-lawannya serta menandai awal kemakmuran dan keberhasilannya

 


16, 17, 18

The Atharvaveda, XI:7.24.
Atharva Veda, XV:6.12.
Rig Veda, X:130,6.
Chhan, VII: 1-2.
Dicatat dalam Shatpath Br. Suatu tafsir yang sangat tua dan otentik dari Yajur Weda, bahwa Purana wajib
dibaca pada hari kesembilan dari Yagnya. XIII:4.3.13. XI:5.6.8. Shankhayana S.16. Lihat catatan pada
Shatpath Br. XIII:4.3.13.
Bhavishya Purana Prati Sarg Prev iii:3.3.5-6.
Bhavishya Puran Parv.III:1,4,21-23.
Ibid, hh.256,257.
Nareshu Ashansah Narashansah astvishyate yashya sah Munashuesh’u Parshansnih. Pt.Khem Karan
Bhasjy, hal.4, 451.
Dalam ketiga terjemah di atas, kata ini di ambil sebagai proper noun, seolah dia adalah nama beberapa
Raja atau otoritas penguasa. Tentang ini Prof.Griffith menulis: ‘Suatu hymne dalam pujian terhadap
kebebasan dan pemerintahan yang baik dari Kaurama, raja Rushamas’.
Tirmidhi dan Abu Dawud, Mishkat, bab ‘Mafakhira fa-la-Assabiyah’.
Mekkah pada saat itu adalah pusat niaga dari Arabia, karena itu penduduknya bisa meningkat menjadi
seratus ribu (Al-Mathal-al-kamil). Ini berarti bahwa penduduk tetapnya adalah enampuluh hingga tujuhpuluh
ribu orang.
Taitriya Brahmn 1:1.3.11; 1.2.1.6.
Sam Veda bag.II, 1.12.2; Rig Veda, 8:13.2; Yajur Weda, 34.20.
Suatu penyebutan tentang Kuts ada di beberapa tempat dalam Weda. Tetapi dalam pandangan para
cendikiawan, istilah ini menunjukkan pribadi yang berbeda-beda, dan tidak hanya seorang saja. Ini berarti
bahwa Kuts telah diberikan dalam Nirukt 3:11. Suatu sebutan tentang Kuts bersamaan dengan Atithigva
dan qyu, telah di adakan di beberapa tempat 1 53/10, 2 14/7, 8 53/2, 4 26/1. Dia juga disebut sebagai
teman Indra, Rigveda 1 51/6, 6 26/3 qtithigva, juga, telah disebutkan pada beberapa tempat dalam Weda;
tetapi ini bukan nama satu orang, melainkan nama dari pribadi yang berbeda-beda.
Kata Sanskrit rath digunakan bagi segala macam kereta dan kendaraan. Dalam Rig Weda, dikatakan
bahwa Matahari berjalan di atas sebuah rath emas.1:35.2.