MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (4/18)
 

DIA AKAN DISELAMATKAN DARI ANTARA MUSUH-MUSUHNYA

Tanda lain dari orang yang terpuji, pangeran perdamaian dan benteng keamanan ini adalah, bahwa dia sendiri akan benar-benar sendirian ditengah enampuluh ribu musuhnya yang kejam dan brutal, (19) tetapi tak seorangpun bisa melukainya. Dia akan mengambil bagian dalam pertempuran yang seru dan peperangan yang berdarah-darah, dan selalu berjuang di garis depan, tidak pernah absen dari setiap situasi yang berbahaya; dan meski demikian dia tetap selamat dan sehat serta tak seorangpun mampu membunuhnya. Pronoun dalam mantera itu jelas menunjukkan bahwa adalah Tuhan Sendiri Yang akan melindungi dia di tengah musuh-musuhnya dan akan menjaganya terhadap lawan-lawannya. ‘Kami akan melindunginya dari rombongan musuhnya’. Perlindungan dan kehadiran Tuhan selalu menjadikan dia unggul di atas lawannya yang tak terhitung. Betapa jelas tanda yang diberikan kepada umat Weda untuk mempertimbangkan kebenaran dari Narashansa yang dijanjikan (Muhammad) dan betapa nubuatan ini digenapi secara tertulis maupun dalam ketepatan!

Penjelasan lebih lanjut

Penjelasan dari mantra dalam Atharwa Weda yang kita berikan ini, selanjutnya didukung dan dibenarkan oleh mantera lain dalam Weda ini sendiri; dan penjelasan dalam sebuah pernyataan yang dikerjakan oleh pengarangnya sendiri, akan selalu lebih baik dan lebih otentik dibanding  peragaan oleh mufasir yang lain, betapapun besarnya dia. Jika teks kedua ayat itu berbeda, tetapi maksud pentingnya sama, dan fakta yang disebutkan juga sama, maka, selanjutnya, harus dipandang sebagai saling menerangkan; dan hendaknya fakta juga mendukung dan membenarkannya. Adalah suatu penyimpangan dari maksud dan keinginan untuk dikoreksi bila berkilah untuk mengakuinya.

Meskipun demikian tuntutan dari pandit Hindu dalam pendiriannya, patut dipertimbangkan. Mereka beralasan bahwa karena teks Kuntap Sukt telah rusak dan berubah, adalah salah bila seorang Muslim berargumentasi dari sana atau mengambil sebagai contoh ramalan tentang kedatangan Nabi Suci Muhammad s.a.w. Namun, ajaibnya, hal ini diketahui oleh Tuhan Yang Maha-tinggi, Yang Maha-besar Maha-tahu atas Yang Ghaib, Yang telah mengucapkan nubuatan ini dalam Kuntap Sukt, bahwa para pandit Hindu akan berusaha mengelak tentang perkara ini dengan menyatakan bahwa mantera ini sudah dirubah­rubah. Maka Tuhan mengucapkan lagi, ramalan ini di samping dalam Kuntap Sukt, di temapt lain dengan istilah yang sama. Meskipun hal itu adalah membodohi diri sendiri bila untuk mengelak menyatakan percaya kepada nubuatan dalam Weda, lalu dia malah mengutuk kitab sucinya sendiri dengan menyatakannya sudah tercemar, toh, sebagaimana Shakespeare dengan tepatnya menyatakan: “Dia yang berdiri di tempat yang licin, merasa nyaman karena tidak berdiri di atas lubang”. Dengan pembicaraan yang jelas dan terbuka telah dibuktikan tanda-tanda kebenaran Nabi Suci dan missi Ilahi dalam mantera Weda; dan tanda­tanda ini, kecuali dan khusus oleh Nabi Suci Muhammad, tidak terpenuhi oleh seorang pembaharu yang lain di dunia ini.

Di tempat pertama, kata suci membawa tekanan yang kuat serta menyeru mereka yang memperbaiki keimanan dan keyakinannya kepada Weda yang Suci, untuk mendengarkan mantera ini dengan penuh penghormatan dan kemuliaan. Para Resi dari zaman dahulu, telah menjaga penekanan ini dalam pandangannya, dan telah mengarahkan bahwa mantera ini harus selalu dibaca di dalam Yagya dan upacara agama lainnya, sehingga mereka yang beriman kepada Weda tidak melupakannya, dan selalu menjaga selalu kesegarannya dalam ingatan mereka. Alasan untuk mendengarkan mantera ini dengan takzim dan mengingat dalam hatinya, ialah bahwa orang yang penuh penghormatan yang disebut di sini, adalah seorang yang berbudi luhur dan sangat terpuji. Bahwa umat Hindu mungkin tidak mau menghormati dan meujinya, tidak mau memahami arti penting istilah Arab Muhammad; mereka telah diberi-tahu dalam bahasa Sanskrit mereka sendiri nama yang manis dan hangat, Narashansa: “Bahwa apa yang kita sebut mawar dengan nama lainpun akan tetap harum baunya”. Setelah mendengar namanya dan kata pujian kepadanya, bila seseorang tetap menolak memberikan penghormatan dan kehormatan kepadanya, ini adalah pengingkaran terhadap perintah Weda dan suatu tindak  penghujatan. Bila sudah diperintahkan oleh Parmatma (Tuhan Yang Maha-tinggi), bahwa namanya layak dihormati dan dipuji, dan penghormatan yang tinggi kepadanya harus dilakukan, maka bagi mereka yang tidak menghormati dan memujinya, untuk berfikir serius tentang neraka apa yang menantikan mereka. Kenyataan bahwa dia adalah terpercaya dan sangat terpuji membuktikan bahwa dia bukanlah seorang yang tak dikenal atau awam, melainkan seorang pribadi penting dalam sejarah. Namanya maupun karyanya layak dihormati dan dikagumi; dan dalam kitab suci dari setiap agama bisa didapati namanya yang suci begitu pula pemberian penghormatan atas karyanya; maka tak perlu kiranya sedikitpun alasan yang lain. Tidak hanya dalam kitab-kitab suci dan kitab wahyu dari semua agama bahwa nubuatan atas kedatangannya bersama dengan pujian kepadanya itu hadir, tetapi dalam pandangan para sarjana besar dunia juga, dia adalah yang patut dipuji dan dihormati secara istimewa. Dalam menghormat Nabi Suci Muhammad, ditulis dalam Encyclopaedia Brittanica yang adalah suatu kompilasi dari para pakar yang paling utama dan terkemuka di dunia:

Yang paling sukses dari semua Nabi-nabi serta pribadi keagamaan (Edisi ke-11 hal.898). Pemberi pandangan dalam Encyclopaedia Britannica ini bukanlah seorang Muslim melainkan seorang pakar Kristen dengan kecerdasan dan reputasi tinggi. Mahatma Gandhi dan para pemimpin Hindu lainnya, Bernard Shaw, Bertrand Russell dan orang-orang Inggris yang masuk Islam telah menyanyikan pujian kepadanya, merengkuhnya dengan penghormatan yang tinggi. Bukankah kata-kata Weda itu dijamin dan diperkuat oleh kata-kata pujian dan tepuk-tangan yang diucapkan oleh para pakar dan cendikiawan dari abad modern bahwa Muhammad itu tak diragukan lagi adalah orangnya,  yang patut mendapatkan semua kehormatan dan pujian, kepada siapa Weda telah berkata bahwa dia akan dihormati dan dipuji setinggi-tingginya? Jika seseorang telah merusak teks Weda, bagaimana itu terjadi bahwa setelah masa ribuan tahun berlalu, para pakar abad modern telah menetapkan atasnya cap pembenaran mereka, yang merupakan alasan yang tak bisa dialihkan atas fakta bahwa yang merubah Weda itu tiada lain adalah Paramatma atau Tuhan Sendiri sehingga kata-kata-Nya telah digenapi. Juga telah diwahyukan dalam mantera Weda bahwa dia akan sendirian sepenuhnya dan bahwa enampuluh atau tujuhpuluh ribu musuh akan menjebaknya. Tetapi meski jumlah mereka begitu besar, para musuh itu tak mampu mengalahkannya. Pangeran perdamaian dan keamanan akan terpaksa pindah dari tanah kelahirannya. Tuhan Yang Maha-tinggi akan menjaganya dalam perlindungan istimewa-Nya sendiri; yakni bisa dikatakan, perlindungannya bukanlah suatu perkara biasa atau kebetulan, melainkan itu akan penuh daya guna dan dilengkapi dengan tangan yang penuh kekuatan dari Tuhan. Setelah menyebutkan semua tanda-tanda yang tergelar ini, pembuktian dari mantera ini dilakukan di tempat lain dari Weda ini sendiri sehingga ini bisa menjadi argumen terhadap mereka yang menyodorkan kilah bahwa telah terjadi kerusakan dan perubahan dalam Weda. Mantera yang lain ini bukanlah suatu mantera dari Kuntap Sukt yang boleh dihapus danb ditolak dengan alasan sudah dirubah. Ini ada dalam Atharwa Eda 20:21.9. Mantera ini terbaca:

“Wahai Indra! Dengan cakramu yang tak terkalahkan dan kuat engkau telah menimpakan kekalahan atas duapuluh pemimpin bangsa dan enampuluhribu serta sembilanpuluh sembilan     pengikut yang telah mengobarkan peperangan terhadap Sushravah yang tak berdaya dan tak berkawan”.

Penyebutan enampuluh ribu musuh juga didapati dalam Kuntap Sukt. Fakta bahwa Narashansah sendirian dan tak berkawan juga disebutkan di sana. Tetapi di sini dikatakan bahwa dia adalah Sushravah, yang tak berdaya dan tak berteman. Jadi Sushravah adalah nama dari pribadi yang terkenal dan terpuji. Jelaslah bahwa Narashansah dan Sushravah adalah nama yang sama. Dalam leksikon arti nama Sushravah adalah terkenal dan tenar; terpuji dan terhormat; seorang nabi; seorang yang terilham, seorang yang sempurna dalam ilmu pengetahuan Ilahi.(20) Tetapi ini bukan suatu kata benda biasa, melainkan nama dari seorang pribadi tertentu yang mempunyai kedudukan tinggi yang berperingkat di atas malaikat di langit tinggi.(21)

Semua atribut ini, yang terdapat dalam makna istilah Sushravah, adalah atribut dari Nabi Suci Muhammad, dan suatu terjemahan dari namanya yang suci. Nama gelar dari orang besar ini sesungguhnya adalah terjemahan dari namanya pribadi. Dalam mantera ini suatu hal baru telah dinyatakan bahwa duapuluh pemimpin bangsa adalah musuhnya. Dukungan dan kekuatan dari duapuluh pemimpin ini melebihi enampuluh ribu orang-oarng tempur. Pasukan besar musuh semacam itu maju ke medan perang menghadapi orang yang sendirian ini. Tetapi cakra Indra yang tak terkalahkan yakni mukjizat Ilahi membantu dalam mengusir dan mengalahkan duapuluh pemimpin berikut enampuluh hingga tujuhpuluhribu pasukan tempur ini. Membolak-balik dan mencari dengan teliti dari halaman sejarah dunia untuk menemukan siapakah orang tunggal ini, yang disebut tak berkawan dan tak berdaya dalam Weda, terhadap siapa duapuluh pemimpin bangsa berikut sepasukan besar terdiri dari enampuluh hingga tujuhpuluhribu pasukan dengan kuat menyerangnya, dimana akhirnya orang-orang ini saling berkelahi sendiri, dan orang sendirian ini dimana Tuhan Yang Maha-tinggi ada di belakangnya, dia mendapat kemenangan, serta gerombolan besar yang terdiri dari enampuluh hingga tujuhpuluh ribu orang ini menderita kekalahan yang meremukkan; lalu siapakah orang itu? Orang yang sendirian dan menang ini, di dalam sejarah dunia, tiada lain adalah Nabi Suci Muhammad, yang termasyhur dan terkenal di dunia (Sushravah) serta pantas mendapatkan segala pujian dan pujaan. Wahai para pandit Hindu dan mereka yang melihat Weda sebagai kata-kata Tuhan, beriman bahwa Parmatma itu hadir dan melihat serta takut keada Dia saja, renungkan dan fikirkan yang manakah cakra dari Tuhan (Indra) itu yang bisa mengusir dan mengalahkan enampuluh hingga tujuhpuluhribu musuh. Sesungguhnya ini adalah cakra dari kebijaksanaan dan kekuasaan Tuhan, dan bahkan kini cakra ini di tangan kaum muslimin yakni Quran Suci, terhadap mana, apa yang dikatakan dengan enampuluh hingga tujuhpuluh ribu orang yang gemar berperang, bahkan bila seluruh pendeta dan padri di dunia, begitu pula pandit dari Bharat, atau dengan perkataan lain, seluruh gerombolan Dajjal dan para penyokongnya, Hindu, Yahudi dan Kristen bergabung dan berkonfederasi, maka tidak saja kekuatan Dajjal ini akan menderita kekalahan dan kebingungan, melainkan, sebagaimana telah diramalkan dalam Weda, semua pandit akan berbalik dan lari tunggang-langgang, menarik selendang sucinya dari lehernya dan melemparkan ke bahunya. (Nubuatan ini yang terdapat dalam Rig Weda, akan dikaitkan dan diperbincangkan di lain kesempatan). Setelah menegakkan korelasi antara ketepatan ayat-ayat Weda dengan fakta nyata, jika tetap ada keraguan menyelinap dalam fikiran seorang pandit yang skeptis bahwa tidak hanya dalam Kuntap Sukt dalam Atharwa Weda tetapi juga di Kitab Weda secara keseluruhan, seseorang telah menyisipkan nubuatan dari Nabi Suci Muhammad, maka kami akan, untuk menunjukkan jalan yang lurus baginya yang membimbing dia ke rumahnya, kami serahkan bukti pembenaran mantera ini juga dari Rig Weda, dari mana bahkan suatu terjemahan harfiah akan menunjukkan bahwa dalam mantera ini telah disebutkan nama seseorang yang tiada lain kecuali Nabi Suci Muhammad serta para Sahabatnya yang mulia. Terjemahan harfiah dari mantera dalam Rig Weda ini adalah sebagaimana di bawah ini: (Rig Weda 1:53.9)

“Dan yang penolongnya tak seorangpun; dan duapuluh pemimpin bangsa serta enampuluh ribu   dan sembilanpuluh sembilan ahli tempur datang untuk berperang dengan dia. Wahai Indra;   terhadap mereka semua engkau telah menimpakan kekalahan dengan cakramu yang tak   terkalahkan. Dengan pertolonganmu kaulindungi Sushravah dan Turvyan. Demi Sushravah yang   berani dan penuh kekuatan, engkau kalahkan Kuts, Atithigva dan Ayum”.

Dalam mantera dari Rig Weda ini juga disebutkan kenyataan bahwa Sushrava (yakni Muhammad, yang terpuji) tidak berkawan dan sendirian, serta kekalahan dari lawan-lawannya, duapuluh pemimpin dari kabilah Arab dan enampuluh ribu pasukan tempurnya. Dan dunyatakan pula bahwa kemenangan dan keunggulan dari Sushravah terhadap lawan yang begitu berat semata-mata adalah karena bantuan dan daya kekuatan Tuhan Yang Maha-tinggi. Dalam ayat selanjutnya dinyatakan bahwa bersama Sushravah (Muhammad), Tuhan Yang Maha-tinggi memberikan perlindungan-Nya kepada orang lain yang dipanggil Turvayan. Saynacharya, mufasir kuno Weda, telah menerjemahkan istilah ini berarti cepat dan kencang. Ini adalah nama Hazrat Abu Bakar, baik karena kenyataan bahwa dia yang paling pertama dan cepat dalam beriman kepada Nabi Suci, dan karenanya menjadi pemimpin “Orang yang paling depan, yang paling pertama”(Q.S.9:100) atau bahwa dia adalah sahabat Nabi yang menyertai hijrahnya yakni, “Dia adalah yang kedua dari (orang) dua” (Q.S. 9:40) atau bahwa dia melebihi dan paling luhur dibanding semuanya dalam amal salih dan kedermawanan, atau bahwa dia begitu cepat dan kencang dalam kebenaran dan kesucian. Dengan suatu cara, bila Sushravah itu melebihi semua umat manusia dalam kenabian dan ilmu Ilahi, maka Turvyan adalah cepat dan kencang dalam ketaatan serta penyerahan diri kepadanya. Dalam mantera, disebutkan bahwa perlindungan istimewa telah diberikan kepada keduanya, yang telah dilakukan Tuhan Yang Maha-tinggi dengan cara yang sangat ajaib. Selanjutnya, dinyatakan bahwa Kuts dan Atithigva serta Ayum telah dibikin tunduk di bawah perintah Sushravah. Kuts berarti seorang yang bisa membedakan kebenaran dengan kepalsuan; seorang yang bisa merobek berkeping-keping penggempur dan pegulat yang paling besar. (22) Dan nama ini cocok tepat dengan Singa Tuhan, Hazrat Ali r.a. Atithigva berarti keramah-tamahan, menghibur si miskin dan dermawan. Jadi, karena itu ini sama dengan Usman Ghani. Ayu adalah kata yang biasa ditempatkan, yang berarti umar (umur) yakni Hazrat Umar r.a. Adalah sungguh suatu yang kurang menguntungkan, bagi yang main tipu-tipu dengan menuduh bahwa Kuntap Sukt itu tambahan dalam Atharwa Weda, dan telah mengutuk  kitab ini sebagai telah rusak; karena mantera ini tidak saja terdapat dalam Kuntap Sukt, namun sebagiannya juga ada di Kand 20, Sukt 21 dan mantera 9. Dan apakah mantera ini juga ditolak dan dianggap sebagai disisipkan, dan seluruh Atharwa Weda disingkirkan ke samping sebagai kitab yang tercemar, bahkan kemudian, mantera yang sama itu juga terdapat dalam Rig Weda, mandal 1, Sukt 53, mantra 9; dan dalam mantera yang berikutnya lebih lanjut ada penjelasan tentang itu, dan bersama dengan Sushravah yang terpuji, juga disebutkan telah melindungi Turvyan; dan adalah suatu kenyataan bahwa Tuhan Yang Maha-tinggi menghubungkan dengan dua pribadu besar: Sushravah dan sahabatnya di gua, Turvyan atau Hazrat Abu Bakar. Tetapi nubuatan ini tak berakhir di sini. Di sana ada juga, dalam mantera ini, disebutkan tiga sahabat yang besar dari Nabi, dan tunduk melayaninya: Singa Tuhan Hazrat Ali, Usman dan Umar, suatu catatn atas akhlak dan kemuliaannya yang luhur juga telah dinyatakan dalam ayat ini. Sifat baik dan keluhuran budi mereka adalah kenyataan sejarah, dan bukan sekedar ceritera fiktif dari para mufasir Weda.

 


19, 20, 21, 22

The Atharvaveda, XI:7.24.
Atharva Veda, XV:6.12.
Rig Veda, X:130,6.
Chhan, VII: 1-2.
Dicatat dalam Shatpath Br. Suatu tafsir yang sangat tua dan otentik dari Yajur Weda, bahwa Purana wajib
dibaca pada hari kesembilan dari Yagnya. XIII:4.3.13. XI:5.6.8. Shankhayana S.16. Lihat catatan pada
Shatpath Br. XIII:4.3.13.
Bhavishya Purana Prati Sarg Prev iii:3.3.5-6.
Bhavishya Puran Parv.III:1,4,21-23.
Ibid, hh.256,257.
Nareshu Ashansah Narashansah astvishyate yashya sah Munashuesh’u Parshansnih. Pt.Khem Karan
Bhasjy, hal.4, 451.
Dalam ketiga terjemah di atas, kata ini di ambil sebagai proper noun, seolah dia adalah nama beberapa
Raja atau otoritas penguasa. Tentang ini Prof.Griffith menulis: ‘Suatu hymne dalam pujian terhadap
kebebasan dan pemerintahan yang baik dari Kaurama, raja Rushamas’.
Tirmidhi dan Abu Dawud, Mishkat, bab ‘Mafakhira fa-la-Assabiyah’.
Mekkah pada saat itu adalah pusat niaga dari Arabia, karena itu penduduknya bisa meningkat menjadi
seratus ribu (Al-Mathal-al-kamil). Ini berarti bahwa penduduk tetapnya adalah enampuluh hingga tujuhpuluh
ribu orang.
Taitriya Brahmn 1:1.3.11; 1.2.1.6.
Sam Veda bag.II, 1.12.2; Rig Veda, 8:13.2; Yajur Weda, 34.20.
Suatu penyebutan tentang Kuts ada di beberapa tempat dalam Weda. Tetapi dalam pandangan para
cendikiawan, istilah ini menunjukkan pribadi yang berbeda-beda, dan tidak hanya seorang saja. Ini berarti
bahwa Kuts telah diberikan dalam Nirukt 3:11. Suatu sebutan tentang Kuts bersamaan dengan Atithigva
dan qyu, telah di adakan di beberapa tempat 1 53/10, 2 14/7, 8 53/2, 4 26/1. Dia juga disebut sebagai
teman Indra, Rigveda 1 51/6, 6 26/3 qtithigva, juga, telah disebutkan pada beberapa tempat dalam Weda;
tetapi ini bukan nama satu orang, melainkan nama dari pribadi yang berbeda-beda.
Kata Sanskrit rath digunakan bagi segala macam kereta dan kendaraan. Dalam Rig Weda, dikatakan
bahwa Matahari berjalan di atas sebuah rath emas.1:35.2.