MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (5/18)
 

RESI PENUNGGANG UNTA. Mantra 2

Mantera kedua dari Kuntap Sukt berbunyi sebagai berikut:

Prof. Grifith memberikan terjemahan berikut ini: setelah bahasa Sanskritnya (Atharwa Weda, 20; 127.2). “Unta-unta dua kali sepuluh yang menarik kendaraan, dengan perempuan di sampingnya, dia berikan.   Indah akan kereta-keretanya atasnya merunduk dari sengatan langit”.

Maurice Bloomfield menterjemahkan: “Yang dua kali sepuluh kerbau bergerak bersama-sama dengan sapi-sapi mereka, tinggi dari kereta   seperti menyundul langit, yang menarik diri dari sentuhannya”.

Pandit Khem Karan menterjemahkannya:  “Yang binatang kendaraannya yang cepat adalah duapuluh unta dengan betinanya. Orang-orang jahil    tidak mengindahkan kedudukan mulia dari lelaki itu”.

Pandit Raja Ram memberikan tafsiran lain dari mantera ini:  “Duapuluh unta menarik kendarannya, beserta dia dan juga isteri-isterinya. Pucuk kendaraan atau    keretanya merunduk menghindari sentuhan langit”.

Semua terjemahan ini menunjukkan bahwa orang yang sama yang dirujuk dalam mantera ini seperti yang diacu dalam mantra pertama. Semua terjemahan kecuali Bloomfeld, setuju pada kenyataan bahwa dia adalah seorang penunggang unta. Terjemahan ini juga menunjukkan bahwa pucuk keretanya menyundul langit.(23)

Jadi, mantera ini dengan jelas menunjukkan bahwa Resi yang dijanjikan adalah seorang Arab. Seorang resi India tidak dapat mengendarai unta. Sebab, seperti dalam hukum Dharma Shastra, daging dan susu unta itu diharamkan bagi seorang resi India (Manu 5:8, 18), sehingga adalah haram baginya untuk menunggang unta. Dalam sikap yang sama, seorang Brahman juga tidak boleh mengendarai unta. Telah ditulis dalam Manu Smriti:

 “Seorang Brahma akan tercemar kalau berniat mengendarai seekor keledai atau unta dan mandi   telanjang. Pencemaran ini hanya bisa dihilangkan dengan manahan nafas untuk waktu yang lama  (Manu 11:201). Larangan dalam Dharma Shastra ini berdasar kenyataan supaya tidak tersisa sedikitpun ambiguitas dalam menafsirkan nubuatan ini, dan hendaknya difahami dengan jelas bahwa  Resi yang dijanjikan tidak tinggal di India tetapi seorang Resi penunggang unta dari  Arabia. Tak  Seorangpun resi India yang pernah mengendarai unta tetapi seorang Nabi bangsa Arab  s.a.w. sering­  Kali menaiki unta dan minum air susunya. Tanah Arab dikenal ke seluruh dunia karena untanya dan  Bangsa Arab dkenal sebagai para penunggang unta”.

NABI YANG MENAIKI UNTA

Dalam Kitab Wahyu dimana disebutkan, dalam pengertian harfiah yang dikenal, mengenai seorang nabi atau resi atau dewata yang mengendarai seekor binatang atau lain kendaraan, maka ini ada makna kiasannya, wahana ini menunjukkan dan terdiri dari umat atau bangsanya. Wacana semacam ini sangat umum dalam kitab suci agama Hindu ini dimana para resi atau dewata dikatakan mengendarai lembu jantan, kambing, singa dan tikus; dan kendaraan mereka itu diartikan sebagai gambaran mencolok dari masing-masing pengikut mereka. Secara singkat dan padat, kita hanya akan memberi dua atau tiga contoh. Dalam Q ur’an Suci, suatu kaum atau pemimpin agama mereka disebut seperti seekor keledai yang sekedar terbebani dengan kitab-kitab, tetapi tak bisa memetik manfaat dari timbunan kitab-kitab tersebut. Firman-Nya: “Perumpamaan orang-orang yang dibebani Taurat, lalu mereka tak memperhatikan itu, adalah

Ibarat keledai yang mengangkut kitab. Buruk sekali perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim” (Q.S.62:5)

Dalam kiasan ini, Tuhan Yang Maha-tinggi telah mengumpamakan para ulama Yahudi yang di beri amanat Kitab Taurat, tetapi tidak memperhatikannya, bak seekor keledai yang dibebani dengan kitab-kitab, tetapi tidak mendapat manfaat apa-apa dari situ. Bahkan yang jauh lebih buruk adalah permisalan seekor keledai muda yang menolak ab initio Kitab-kitab Suci dan tidak mau dibebani dengan kitab-kitab. Jelas sekali bahwa setidak-tidaknya orang yang menerima dan menyetujui dibebani dengan Hukum, boleh jadi bisa hidup menurutinya. Tetapi yang dari awal sudah menolak untuk  menerima dan memperhatikan Taurat atau Hukum, adalah jelas  dari jenis yang lebih rendah dibanding golongan sebelumnya.

Dalam Kitab Suci dinyatakan, bahwa Yesus Kristus telah digambarkan mengendarai seekor keledai; dan ini juga terkenal dengan perumpamaan: “Bahkan bila keledai Isa Almasih telah sampai ke Mekkah, dia akan tetap di atas keledainya pada saat dia kembali”. Tetapi perkaranya tidak berakhir sampai di sini. Tidak saja seekor keledai yang dipakai berkendaraan oleh Yesus, melainkan juga keledai muda; dan mengendarai keduanya pada satu dan saat yang sama telah dinyatakan dan disorot. Jelas naif untuk menyatakan bahwa seseorang berkendaraan seekor keledai dan keledai muda secara bersamaan; dan tak ada pemecahan lain atas dilema ini kecuali menganggapnya sebagai nubuatan yang diucapkan dengan bahasa kiasan serta diterjemahkan  langsung  agar masuk akal (Zakharia 9:9).

Bila nabi Zakaria telah meramalkan kedatangan seorang penunggang keledai, bukanlah suatu tugas yang sulit ataupun penemuan besar untuk membuka ikatan dan melepas  keledai seseorang atau keledai muda dan mengendarainya sehingga nubuatan itu bisa tergenapi. Sudah jelas sekali bahwa kaum yahudi itu disebut pembawa taurat; dan juga sudah diakui bahwa Yesus dikirim kepada domba-domba Bani Israil; dan juga suatu perkara yang benar bahwa kaum Yahudi, yang tidak bisa memetik manfaat dari taurat, menolak beriman kepada Yesus. Jadi jelas sekali bahwa kaum Yahudi, yang telah disebut sebagai pengemban Taurat berubah menjadi tak lebih dari keledai yang membawa kitab-kitab. Bangsa lain yang nasibnya jauh lebih buruk, diumpamakan sebagai anak keledai. Dengan mengingat hal itu, ditulis dalam Alkitab menurut Matius 21:5, bahwa Yesus mengendarai keduanya, keledai dan anak keledai. Tetapi dalam Lukas 19:35, Markus 11:7, Yohanes 12:14; dinyatakan bahwa dia hanya menunggang anak keledai, yang berdasarkan kenyataan, akan lebih tepat. Betapapun, keledai adalah menunjukkan dan lambang dari kaum Yahudi untuk siapa tuntunan Yesus dimunculkan, tetapi mereka tidak menerimanya. Namun contoh dari mereka yang beriman kepadanya, adalah seperti keledai muda; dan mengenai anak keledai ini, penulis Injil dengan khusus berkata, dimana tak seorangpun laki-laki  pernah menungganginya; yakni untuk menyatakan, bahwa tak seorangpun nabi Bani Israil maupun non-Israil yang bisa menjadikannya  umat pengikutnya. Jadi, keledai muda dalam perumpamaan ini adalah ibarat orang-orang, yang ab initio, tidak mampu dan tidak cocok untuk membawa amanah Hukum, bahkan tidak bisa membawa beban amanah Yesus Kristus. Dan karena itu, bahwa dalam gambar Yesus ditunjukkan mengendarai anak keledai sedemikian rupa sehingga kaki dan lututnya menyentuh tanah; yakni, bahwa anak keledai itu mutlak tidak mampu membawa bebannya. Dengan cara yang sama, Dajjal dinyatakan dalam hadist mengendarai seekor keledai.

Bagusnya, menunggang keledai, berdasarkan teks di atas, diutamakan untuk Yesus; dan Nabi Isaiah melihat dalam rukyah dua pengendara, satu di punggung keledai dan satu lagi menunggang unta. Kisah penunggang keledai berhenti di sini, tetapi perihal dia menaiki keledai muda perlu dtafsirkan lebih lanjut. Ini menunjukkan suatu bangsa yang menolak mengemban amanat Hukum. Pernyataan lain yang diberikan oleh Yesus menunjang hal ini. Misalnya, Yesus mengatakan, bahwa para muridnya adalah kain lama yang tidak dapat dipotong-potong lagi menjadi baju yang baru; atau mereka adalah botol lama yang tidak dapat diisi dengan anggur yang baru. (24) Pada tempat lain, Yesus bahkan berkata dengan istilah yang lebih keras: “Sekali lagi aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk kedalam Kerajaan Allah” (25).

Ayat ini diambil untuk diartikan, bahwa adalah mudah bagi seekor unta, binatang yang sangat besar dan bentuknya tidak mulus, bisa melewati mata jarum, meskipun ini benar-benar mustahil. Tetapi di sini istilah unta itu digunakan sebagai lawan kata dari orang kaya; dan orang kaya berarti suka hidup enak-enakan, bermewah-mewah dan cinta-dunia, sedangkan unta itu melambangkan sosok yang selalu bekerja keras, makanannya sederhana, sabar dan tenang, serta melintas dengan selamat melalui jalan Hukum dan perintah Ilahi yang paling rumit, atau secara kiasan, melintasi jalan Lurus yang lebih tajam dan mengiris melebihi mata pedang; tetapi buat orang yang mencari kesenangan pribadi, foya-foya, dan menolak membawa beban amanahnya, serta menggantungkan pengorbanannya kepada kambing hitam, dan menolak Hukum Ilahi, maka jelas baginya sangat sulit untuk memasuki kerajaan Tuhan. Adakah muridnya, betapa pun besarnya dia, dimana Tuannya sendiri menyatakan bahwa (muridnya) itu tidak memahami kata­katanya? (26) Jadi, unta adalah motto dan tanda dari seorang muslim sempurna, menyusuri jalan Hukum Ilahi yang paling rumit untuk memasuki kerajaan Tuhan. Hendaknya juga diingat bahwa kerajaan Tuhan itu bukanlah suatu kerajaan tanpa hukum yang penuh pemberontakan, dan karena itu, orang-orang tersebut, yang menyebut dan menghujat hukum itu sebagai kutukan, tidak akan diizinkan untuk memasukinya.(27) Sesungguhnya itu adalah pintu yang rendah lewat mana seorang yang gemuk berlemak takkan bisa melaluinya. Karena itu, nubuatan ini adalah suatu ramalan yang penuh kebijaksanaan, diucapkan untuk dipertimbangkan dengan hati-hati dan pemikiran mendalam tentang pamrih pribadi dari negeri-negeri Kristen dalam abad ini.

Jika dalam Kitab Weda, pada satu sisi, Dia Yang Dijanjikan, Narashans, telah dikatakan sebagai penunggang unta, sebaliknya, dalam Alkitab juga dikatakan, dengan menyebutkan sepasang pengendara, seorang menunggang keledai muda dan seorang lagi dengan unta.

Unta dan mengendarai unta merujuk kepada negeri Arabia. Ditulis dalam Encyclopaedia of Religion and Ethics: “Unta adalah binatang yang sangat penting dalam kehidupan suku Badui. Mengingat makannya sedikit, daya tahan dan kecepatannya, ini adalah wahana umum untuk berjalan lama melintasi gurun pasir”.

Dengan memperluas dan memperbincangkan keajaiban serta keingin-tahuan kita terhadap alam penciptaan dari seekor unta akan memakan waktu yang panjang. Namun, Quran Suci telah menujukan perhatian kepada hal itu dengan mengatakan; Apakah mereka tidak melihat unta itu, betapa mereka diciptakan dan peragaannya telah dilakukan oleh Reader’s Digest bulan November 1964 dengan kata-kata berikut ini:

“Alam, yang adalah arsitek perancang yang besar, tidak pernah mencapai sesuatu yang lebih baik dibanding camelus-dromedarious, bangsa  Arab atau seekor unta yang kuat, untuk melintasi padang pasir di dunia ini. Sesungguhnya ini memang fakta yang lengkap”.

Kemudian, setelah menyebutkan keajaiban dan keheranannya atas penciptaan kaki, lehernya yang jenjang, mata, hidung, mulut serta organ “dalam”nya, majalah tersebut selanjutnya berkata:

“Ada banyak rahasia tentang unta yang komplit itu yang belum terpecahkan”.

Kesederhanaan dari kehidupan seekor unta, hidupnya yang sekedar memakan semak dan tanaman berduri lainnya selama berhari-hari, kesabaran dan ketenangannya menghadapi kelaparan dan kehausan, serta melintas dengan cepat dan aman melalui gurun pasir telanjang dan membakar, sambil memikul di punggungnya baik pengendara maupun bebanyang lain, adalah gambaran seorang muslim dan yang beriman sempurna. Mengacu atas hal itu, para penyair telah bersenandung dengan benar, yakni “Jika anda ingin hidup penuh kehormatan di dunia ini, anda harus membiasakan diri dengan kebiasaan hidup terantuk semak berduri”.

Jadi, baik Weda maupun Nabi Isaiah, telah menyebut Nabi Suci seorang penunggang unta, telah menunjukkan dengan jelas atribut eksternal maupun internal beliau, yakni, di samping beliau adalah Nabi dari Arabia, neliau juga sebagai suatu model yang sangat mulia bagi pemerintahan raja-raja maupun penguasa dunia. Meskipun kenyataannya beliau adalah seorang  panglima yang berani dan seorang raja, beliau melakukan segala jenis pekerjaan dengan tangannya sendiri. Beliau memerah susu kambingnya sendiri, menyapu lantai rumahnya, memelihara unta-untanya, bekerja sebagai tukang bersama yang lain dalam membangun mesjid, dan menggali parit pertahanan. Dengan mengingat kedudukan raja yang dijalankan oleh Nabi dengan perintahnya sendiri, seseorang dengan tepatnya telah mencermati: “Bisakah kautunjukkan satu saja penguasa dalam sejarah dunia ini yang kehidupan sosialnya semacam ini dimana pada kemejanya ada sepuluh tambalan perbaikan; yang dengan kantung kulit tersandang   di bahunya, menimba air untuk para perempuan; yang  biasa berbaring di tanah tanpa alas, berjalan   di jalan raya dan semuanya serba sendiri tanpa dikawal kemanapun beliau suka; yang   menggosokkan minyak dengan tangannya sendiri pada untanya, yang tidak punya balairung untuk   audiensi kerajaan, tidak punya  pengawal pintu gerbang ataupun sekretaris, tidak pernah melatih   pembantu; namun dia bisa memerintah dengan menggentarkan dan penuh wibawa sehingga baik   orang Arab maupun non-Arab gemetar kaki-kaki mereka dengan hanya menyebut namanya. Dalam   perjalanannya ke Syria Umar Faruk tidak membawa apa-apa kecuali seekor unta yang dikendarainya   namun pusat dunia itu gemetar, maka kedudukannya sebagai penunggang kuda itu tepat bagi kedua-nya, baik secara harfiah maupun arti pentingnya”.

 


23, 24, 25, 26, 27


Nareshu Ashansah Narashansah astvishyate yashya sah Munashuesh’u Parshansnih. Pt.Khem Karan
Bhasjy, hal.4, 451.
Dalam ketiga terjemah di atas, kata ini di ambil sebagai proper noun, seolah dia adalah nama beberapa
Raja atau otoritas penguasa. Tentang ini Prof.Griffith menulis: ‘Suatu hymne dalam pujian terhadap
kebebasan dan pemerintahan yang baik dari Kaurama, raja Rushamas’.
Tirmidhi dan Abu Dawud, Mishkat, bab ‘Mafakhira fa-la-Assabiyah’.
Mekkah pada saat itu adalah pusat niaga dari Arabia, karena itu penduduknya bisa meningkat menjadi
seratus ribu (Al-Mathal-al-kamil). Ini berarti bahwa penduduk tetapnya adalah enampuluh hingga tujuhpuluh ribu orang.
Taitriya Brahmn 1:1.3.11; 1.2.1.6.
Sam Veda bag.II, 1.12.2; Rig Veda, 8:13.2; Yajur Weda, 34.20.
Suatu penyebutan tentang Kuts ada di beberapa tempat dalam Weda. Tetapi dalam pandangan para
cendikiawan, istilah ini menunjukkan pribadi yang berbeda-beda, dan tidak hanya seorang saja. Ini berarti
bahwa Kuts telah diberikan dalam Nirukt 3:11. Suatu sebutan tentang Kuts bersamaan dengan Atithigva
dan qyu, telah di adakan di beberapa tempat 1 53/10, 2 14/7, 8 53/2, 4 26/1. Dia juga disebut sebagai
teman Indra, Rigveda 1 51/6, 6 26/3 qtithigva, juga, telah disebutkan pada beberapa tempat dalam Weda;
tetapi ini bukan nama satu orang, melainkan nama dari pribadi yang berbeda-beda.
Kata Sanskrit rath digunakan bagi segala macam kereta dan kendaraan. Dalam Rig Weda, dikatakan
bahwa Matahari berjalan di atas sebuah rath emas.1:35.2.
Matius 9:16.17; Markus 2:22, Lukas 5:37.38.
Matius 19:24, Markus 10:25, Lukas 18:25.
Matius 16:23, Markus 8:33, Yohanes 14:9.
Lukas 13:24, Matius 7:13.
Rig Veda 1:126.3, 6:27.8.
Beberapa copy dari Atharva Veda berisi kata davirdarsh yang berisi duapuluh ekor unta yang indah atau
unta betina, tetapi di tempat lain kita dapati kata davirdash berarti duapuluh unta dengan betinanya. Kami memeriksa kedua copy tersebut di Kolese Deccan, Poona, dan lebih menyukai bacaan davirdash yang berarti dua unta betina yang indah. Pada saat hijrahnya ke Madinah, Nabi mempunyai dua unta betina, satu dikendarainya dan satu lagi ditunggangi Abu Bakar. Nabi memiliki dua unta betina yang dikenal sebagai Qaswa dan Asba.
Jumlah yang tepat dari para sahabat yang ikut ambil bagian dalam perang Badar adalah 313, tetapi
pecahan di bawah 100 biasanya dihilangkan.
Nighantu, III:16, Rigveda, 1:127.10, 6:3.6, 7:63.3, 8:97.11, 9:7.6.
Rig Veda i:123.7, iii:7.1, X:65.8, Athar xx.127.7-10, Aita Br. Vi:32.1.
Altindisches Leban, 131.
Zeitschrift der Deutschen Morgenlandischen Gesellschaff, 42, 237; Buddha, 396.
St. Petersburg Dictionary.
‘Sanskrit Bhashya’ dari Khem Karan memberi dua arti dari kata Parikesit. ‘Sarvat Aishvary Yuktasya’
(memiliki segala jenis atribut dan kekuasaan), dan kedua ‘seorang yang memberikan perlindungan lengkap kepada umat’; Quran Suci juga berkata tentang Nabi Suci sebagai  ‘lemah-lembut terhadap kaum mukmin’