MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (6/18)
 

PARA ISTERI NABI SUCI DISEBUTKAN DALAM WEDA

(Rig Weda 1:126:3)

(Rig Weda 6:27:8)

Kata-kata ‘vadhu mantah davirdarsh’ dalam mantera telah diberi dua terjemahan yang berbeda. Pertama, bahwa unta-unta itu menarik kereta dimana para isterinya juga besertanya. Dan kedua, unta-unta dengan betinanya menarik keretanya. Menurut penafsiran pertama Resi yang dijanjikan dikatakan mempunyai lebih dari satu isteri  yang adalah benar bagi Nabi Suci, dan menurut yang kedua, menunggang unta itu adalah keistimewaannya, yang juga benar sama dengan Nabi Suci. Jadi kedua terjemahan tidak bisa diterapkan kepada resi yang lain kecuali Nabi Suci Muhammad.

Dalam bahasa Sanskerta, istilah Vadhu mempunyai arti yang sangat penting. Ini berarti: seorang perempuan yang mandiri; seorang perempuan yang menikah; pembantu-perempuan; hewan betina(kuda, sapi, kerbau dan sebagainya)(28). Dalam Weda, istilah Vadhu juga telah digunakan untuk semacam perempuan  sebagai hadiah kepada seorang Brahman dari raja atau orang kaya.

Dalam istilah Weda, lelaki itu bukan monogami, dan resi-resi besar pun, mempunyai banyak isteri. Kisah cinta dari Yam Yami, Parwa Urwashi, Lopa Mudra, Indra Indrani, telah disebutkan dalam Weda; dan telah dinyatakan bahwa Raja Trasadasyu memberikan limapuluh isteri kepada seorang Brahman sebagai hadiah. (Rig Weda 8:19:36). Setelah menyatakan binatang tunggangan khusus dari Narashansah yakni, unta untuk Nabi, juga telah dinyatakan bahwa dia itu Vadhumantah yakni, yang mempunyai banyak isteri. Dengan menolak keberatan para pandit, bahwa di sini Vadhumantah itu betina dari unta, atau kelompok unta yang dimaksud, atau bahwa istilah Vadhumantah itu dibuat dengan makna penghancur para musuhnya, kita akui bahwa beliau dikatakan mempunyai isteri-isteri. Tetapi sebagaimana yang juga telah dinyatakan sebelumnya, bahwa dia itu sangat dipuja dan pujian kepadanya akan dinyanyikan. Karena itu, fakta bahwa dia mempunyai isteri-isteri, tidak bisa dijadikan keberatan; ini, sebaliknya, berharga untuk dipuji dan diperhatikan. Seorang laki-laki, bahkan meskipun dia lajang atau mungkin hanya mempunyai seorang isteri, bisa dianggap punya kekurangan  atau dipersalahkan; tetapi fakta bahwa nabi mempunyai isteri-isteri dan menjadi orang terpuji mengundang kita untuk mempelajari dan meneliti kehidupan rumahtangganya dengan cermat. Dan untunglah kehidupan rumah tangganya itu bukan rahasia tersembunyi atau affair yang ditutup­tutupi; tetapi bab ini dalam hidupnya telah disebar-luaskan melalui bibir isteri-isterinya sendiri. Umumnya, banyak orang, di luar rumah atau dalam kehidupan publik, dengan mudah menjadi populer dan dipuja-puji. Tetapi seorang laki-laki yang dipuji dalam hidup rumah-tangganya menunjukkan bahwa tak ada sudut atau lubang gelap dalam kehidupannya. Beliau, dimana-mana, di dalam maupun di luar rumahnya, berharga untuk seribu puja-puji, karena alasan yang difahami dalam tujuan perkawinan itu adalah dorongan seksual, penjagaan kemurnian dan kesucian, serta penerusan keturunan, dalam keempat dinding rumahnya selama ini adalah perawatan yang terbaik demi latihan moral dan spiritual lebih dari setengah masa hidupnya. Bab pembukaan dari kehidupannya adalah seorang perempuan pengusaha, yang melihta kejujuran dan sifat amanahnya, meminang beliau. Beliau, pada waktu itu, berusia 25 tahun, sedangkan dia berumur empat puluh. Selama 25 tahun beliau hidup dengan seorang isteri yang adalah seorang janda yang jauh lebih tua usianya. Pada saat dia wafat, usianya 65, sedangkan Nabi 53. Seorang laki-laki yang menghabiskan masa-mudanya yang panas dan malam-malam utama dalam hidupnya hanya dengan seorang isteri, yang jauh lebih tua dalam usia darinya, dan meninggalkan hari-hari tengah malamnya untuk berdoa di sebuah gua yang gelap di padang pasir untuk mengabdi kepada Tuhan Yang Maha-tinggi – adakah sesuatu yang lebih terhormat dan terpuji daripada ini?

(Rig Weda 8:19:36).

Di samping ini, semua perkawinannya dihabiskan, kecuali Aisyah r.a., dengan para janda yang suaminya telah syahid di medan perang, dan tak ada yang merawat mereka, ataupun orang lain yang bersedia untuk mengawini mereka. Dengan cara ini, hadirlah dalam ikatan perkawinan dengannya lima orang janda dari kaum Muslimin yang gugur dalam peperangan, dan tiga janda dari kabilah yang sangat membencinya, dan dengan ikatan perkawinan ini, maka seluruh kebenciannya mencair.

Hidup dengan seorang isteri saja hingga usia 53 tahun, dan isterinya menerima agamanya yang paling awal dari semuanya, dan dengan dikobarkan cintanya oleh akhlaknya yang luhur, sungguh suatu contoh yang sangat mulia yang diperlihatkan Nabi di hadapan dunia. Kebutuhan terbesar dari semua perkawinan ini timbul di saat jumlah  lelaki yang merosot akibat peperangan yang tanpa henti, dengan perempuan dan anak-anak yang ditinggalkan dalam keadaan tanpa daya dan tanpa rasa aman. Perkawinan dengan janda itu tidak populer di antara kaum. Tetapi demi menjaga dan mempertahankan kehidupan suatu bangsa, poligami mutlak diperlukan. Tetapi hingga penguasa sendiri yang memberikan contoh perkawinan dengan janda, maka orang-orang akan menganggap rendah hal itu sebagai perkara yang memalukan. Tujuan ketiga dari perkawinan ini, sebagaimana dinyatakan dalam Quran Suci, adalah:

“Dan jika kamu (para isteri Nabi) mendambakan Allah dan Utusan-Nya dan tempat tinggal Akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan ganjaran yang besar bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kamu” (Q.S. 33:29).

Yakni, Kepada Allah, Nabi Suci Muhammad serta Hari Akhirat engkau berikan kesukaan melebihi kehidupan di dunia ini, maka suatu ganjaran yang besar akan menunggumu. Allah, Utusan-Nya dan Kehidupan-sesudah-mati adalah bagian dari agama Islam yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Mengkomunikasikan dan membagikannya dengan kaum Muslimin lainnya telah menjadi kewajiban utama dari para isteri Nabi.

Kenaikan Nabi atau Mi’raj.

“Puncak dari keretanya merunduk untuk menghindari sentuhan langit”. Ini adalah rujukan yang jelas tentang Kenaikan Nabi Suci atau Mi’raj. Quran Suci mengacu kepada hal itu, dengan firman-Nya: “Dan ia ada di daerah cakrawala yang paling tinggi” (Q.S. 53:7). Adanya Nabi di bagian tertinggi dari cakrawala dan kemudian merunduk sedikit atau menurun, melukiskan hubungannya dengan Tuhan Yang Maha-kuasa dan masing-masing umat. Sebagai perkara nyata, adalah merunduknya demi kasihnya kepada sesama manusia, yang menjadikan beliau sebagai seorang yang disayangi Tuhan, yeng menempatkan beliau di cakrawala tertinggi dan membawanya begitu dekat kepada Dzat Ilahi. Karena ide wahyu itu mempunyai pra-anggapan kemungkinan gerak dari langit ke bumi, maka ide mi’raj itu berpra-anggapan kemungkinan gerak dari bumi menuju langit. Dalam beberapa bentuk atau lainnya kedua konsepsi ini mendapat tempat dalam setiap sistim keagamaan.

Resi yang tersayang. Mantra 3

(Atharwa Weda 20:121:3).

M. Bloomfield menterjemahkannya: “Yang satu ini menyajikan kepada pemirsa dengan seratus permata, sepuluh kalung, tigaratus kuda   dan sepuluh ribu ternak”.

Terjemahan Prof. Griffith adalah: “Seratus rantai emas, sepuluh lingkar kalung yang dianugerahkan-Nya kepada Resi. Dan tiga kali seratus kuda gaib dan sepuluh ribu sapi”.

Pandit Raja Ram menerjemahkannya sebagai berikut: “Dia memberikan kepada Mamah Resi seratus koin emas, sepuluh kalung, tigaratus kuda dan sepuluh ribu sapi”

Ketiga terjemahan ini bersetuju atas fakta bahwa Resi yang bernama ‘Mamah’ akan diberi seratus koin emas, sepuluh kalung atau tasbih, tiga ratus kuda pacu yang baik dan sepuluh ribu ekor sapi.

Mantera ini memberi nama Resi tersebut sebagai Mamah. Tak ada Resi di India atau seorang nabi lain yang pernah mempunyai nama seperti ini. Akar kata dari ini adalah Mah yang berarti ‘menghargai tinggi, menghormati, memuliakan, membesarkan, meninggikan, dan seterusnya’ (Sanskrit English Dictionary oleh Sir Monier Williams).

Beberapa buku Sanskerta seperti Allo Upanishad dan Bhavishya Puran memberikan nama Nabi itu sebagai Mahamad, tetapi kata ini, menurut tata-bahasa Sanskerta, juga digunakan dalam arti yang buruk. Meski adalah salah untuk menerapkan grammar Sanskrit ke dalam kata bahasa Arab, namun untuk membuat nubuatan itu menjadi jelas, kata Mamah, yang lebih mendekati pengucapan yang sama dengan kata Muhammad dan memiliki arti yang sama, telah digunakan dalam Atharwa Weda. Jadi, Mamah itu sama dengan Muhammad, tidak peduli bila pengucapannya tidak tepat sama. Banyak nama Muslim yang baik­baik digunakan dalam kitab-kitab Sanskerta dengan sedikit perubahan. Mahmud al Ghazni, misalnya, diucapkan sebagai ‘Mahmud Gajnawi’ oleh Kshitiz dalam Vanshavli Charit.

Karena itu, Resi dalam Atharwa Weda, membuat sedikit perubahan dalam kata Arab dan digunakan kata Sanskerta Mamah, meskipun hakekatnya tetap sama. Dia melakukannya untuk membimbing Pandit Hindu kepada yang benar dan memungkinkan mereka mendapatkan gambaran hakekat yang sebenarnya dari nubuatan ini, agar mereka betul-betul memperhatikan dalam berbuat demikian.

 


28


Rig Veda 1:126.3, 6:27.8.
Beberapa copy dari Atharva Veda berisi kata davirdarsh yang berisi duapuluh ekor unta yang indah atau
unta betina, tetapi di tempat lain kita dapati kata davirdash berarti duapuluh unta dengan betinanya. Kami memeriksa kedua copy tersebut di Kolese Deccan, Poona, dan lebih menyukai bacaan davirdash yang berarti dua unta betina yang indah. Pada saat hijrahnya ke Madinah, Nabi mempunyai dua unta betina, satu dikendarainya dan satu lagi ditunggangi Abu Bakar. Nabi memiliki dua unta betina yang dikenal sebagai Qaswa dan Asba.
Jumlah yang tepat dari para sahabat yang ikut ambil bagian dalam perang Badar adalah 313, tetapi
pecahan di bawah 100 biasanya dihilangkan.
Nighantu, III:16, Rigveda, 1:127.10, 6:3.6, 7:63.3, 8:97.11, 9:7.6.
Rig Veda i:123.7, iii:7.1, X:65.8, Athar xx.127.7-10, Aita Br. Vi:32.1.
Altindisches Leban, 131.
Zeitschrift der Deutschen Morgenlandischen Gesellschaff, 42, 237; Buddha, 396.
St. Petersburg Dictionary.
‘Sanskrit Bhashya’ dari Khem Karan memberi dua arti dari kata Parikesit. ‘Sarvat Aishvary Yuktasya’
(memiliki segala jenis atribut dan kekuasaan), dan kedua ‘seorang yang memberikan perlindungan lengkap kepada umat’; Quran Suci juga berkata tentang Nabi Suci sebagai  ‘lemah-lembut terhadap kaum mukmin’