MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (7/18)

Koin Emas.

Tuhan mengaruniakan kepada Mamah Rishi atau Nabi Suci Muhammad, seratus koin emas. Seratus koin emas ini adalah kaum mukminin dan para sahabat Nabi di masa awalnya yang diberikan kepadanya dalam kehidupannya di Mekkah yang penuh guncangan, yang menahan segala jenis kesulitan hidup serta penderitaan dan akibatnya menjadi demikian suci dan berharga seperti emas murni. Mereka adalah ‘Orang yang paling depan, yang paling pertama’ (Q.S.9:100) yang setelah menjalani masa penganiayaan yang panjang di tangan orang-orang Mekkah, meninggalkan rumah mereka dengan sanak keluarganya dan bahkan Nabi yang disayanginya serta dipaksa lari ke Abesinia. Mereka meninggalkan semua yang paling disayanginya dan segenap harta miliknya, tetapi tidak meninggalkan Islam dan karenanya menjadi mereka yang terpilih di hadapan Tuhan sebagaimana al-Quran berkata: “Allah berkenan kepada mereka” (Q.S. 98:8). Mereka dihadang oleh cobaan berat dan mereka lulus dengan penuh keberhasilan melintasi setiap ujian. Dalam kata-kata Quran Suci: “Dan sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sesuatu dari ketakutan dan kelaparan dan kehilangan harta dan jiwa dan buah-buahan”.(Q.S. 2:155). Daln lagi Kitab Suci berfirman: “Dan Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan” (Q.S.21:35). Kata fitnah dalam ayat ini diterangkan bagaikan meletakkan emas dalam api untuk memisahkan yang tidak murni itu dari emasnya. Begitu pula, kaum muslimin yang masuk Islam paling awal dan para sahabat Nabi Suci dicoba dengan keburukan, teraniaya dan tercebur dalam api kesukaran hidup serta penderitaan dan akibatnya mereka menjadi suci bak emas murni.

Dinyatakan dalam ‘Shatpath Brahmana’, yang dipandang sebagai sebuah tafsir terilham dari Yajur Weda, bahwa emas itu secara kiasan digunakan untuk menunjukkan kekuatan spiritual dari seseorang. Daya ruhani seseorang yang bisa mengatasi segala kesulitan dan ujian dibandingkan dengan emas murni. Jadi, para sahabat Nabi yang menghadapi segala macam kesulitan dan memikul kesukaran hidup yang berat itu adalah koin emas murni yang dianugerahkan kepada Nabi. Seratus adalah jumlah sahabat yang mengungsi ke Abesinia, menggenapi ramalan bahwa Mamah Rishi akan diberi seratus koin emas.

Sepuluh kalung

Hadiah kedua yang dikaruniakan kepada Nabi Suci yakni sepuluh kalung yang indah tak ternilai harganya. Ini adalah sepuluh sahabat terbaik dari Nabi Suci yang dikenal sebagai ‘Ashra-i-Mubashshara’. Mereka adalah yang paling sukses dalam missi kehidupan mereka dari antara segenap kaum Muslimin, dan telah menerima kabar baik tentang peningkatan mereka baik di dunia maupun di akhirat dari bibir Nabi sendiri yang menamakan masing-masing dari mereka itu ‘di surga’. Mereka adalah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Usman, ‘Ali, Talhah, Zubair, ‘Abdur Rahman bin ‘Auf,  Sa’ad  bin Abi Waqqas, Sa’ad bin Zaid dan Abu ‘Ubaidah (semoga Allah sangat meridhoi mereka). Besar dan tak terhitung pengorbanan yang telah mereka lakukan demi Islam sehingga tak tertandingi pahala bagi mereka itu. Mereka adalah pribadi mencolok tentang mana Weda menamakannya sebagai Dash asrija – ‘sepuluh buket dari Surga’.

(Rig Weda 10:184:2).

Kata asrijah digunakan dalam bahasa Sanskerta baik dalam pengertian ‘serangkaian’ atau ‘seikat bunga­bungaan’ dan ‘seorang pemimpin’. Dalam Rig Weda kita dapati: “Wahai kalian yang menginginkan seorang anak, semoga Aswani Kumar Dewata menghadiahkan anak-anak kepadamu dengan serangkaian bunga­bungaan di kepalanya” (Rig Weda 10:184.2; Atharwa Weda 1:14.1).

Tigaratus kuda pacu yang baik

Hadiah ke tiga merujuk kepada mantera di atas adalah tiga ratus ekor kuda pacu yang baik. Kuda-kuda ini digambarkan termasuk keturunan Arab. Kata Sanskrit Arwah berarti seekor kuda pacu Arab terutama digunakan oleh Asura (bukan-Arya) (Rig Weda 5:54:14). Kendaraan Agni dan Indra (dewa ilmu dan kekuatan) juga dinamakan sebagai ‘Arwah’ (Rig Weda 8:42.2; 8:62.3).

Karena itu, dalam cahaya mufasir Weda, tiga ratus ekor kuda pacu yang bagus (30) dari Muhammad adalah para sahabat Nabi Suci yang berjihad di perang ‘Badar’ dan disamping berjumlah tigaratus juga adalah cerdas dan perkasa. Mereka itu, di waktu malam, adalah pengabdi yang salih dari Tuhan mereka dan sepanjang siang hari menjadi pejuang besar dan perkasa. Tak seorang panglima pun yang sanggup mengumpulkan kekuatan pemukul semacam itu seperti yang telah dilakukan Muhammad. Mereka juga ilahiah di samping pasukan tempur, dan dengan mengabaikan sejumlah hambatan yang berupa kekurangan senjata, amunisi dan sebagainya, telah bisa menaklukkan kekuatan yang jumlahnya tiga kali lebih banyak.

Sepuluh ribu sapi.

Hadiah terakhir yang dianugerahkan kepada Nabi Suci, sesuai dengan mantera ini, yakni serombongan sepuluh ribu wali yang menemani Nabi ketika beliau menaklukkan Mekkah. Mereka digambarkan dalam mantera Weda sebagai ‘sapi’. Kata Sanskrit go itu berasal dari gaw yang berarti pergi ke medan perang. Seekor sapi disebut go karena bangsa Arya mengobarkan peperangan terutama untuk  menangkap lembu musuh-musuhnya. Inilah sebabnya mengapa lembu jantan dipakai sebagai lambang kemenangan. Dan sangat sering kata yang sama go digunakan baik untuk lembu jantan maupun seekor sapi.

Seekor sapi atau lembu jantan digambarkan dalam Weda sebagai simbol perang maupun damai dan aman. Dalam Rig Weda, kami dapati, seorang serdadu perkasa yang mengalahkan musuh-musuhnya, digambarkan sebagai lembu jantan. ‘Gaw iva shaktah’(Rig Weda 8:33.6). Begitu pula, dalam Shatpath Brahmana (5:2.4.13) dan Taitreya Brahman: 2.5.2, seekor sapi digambarkan sebagai simbol keganasan dan kehancuran. Di tempat lain dalam Rig Weda, dikatakan, Gaw iva bhimyoh, ‘dia itu ganas dan kejam seperti seekor sapi’ (Rig Weda 5:56.3). Namun, dalam Rig Weda yang sama, seekor sapi juga disebutkan sebagai tanda perdamaian dan keamanan.

(Rig Weda 9:112.3)

‘Manusia dengan bermacam kecerdasan, pencari kekayaan kita hidup (bersama) seperti sapi” (Rig Weda 9:112.3). Begitu pula, dalam Rig Weda, kita dapati:

(Rig Weda 10:145.6)

“Biarlah hatimu beralih terhadapku sama seperti seekor sapi beralih kepada anaknya” (10:145.6). Seperti seekor sapi yang memberikan kasih-sayangnya kepada anaknya yang muda, wahai suamiku, hendaknya engkau menaruh kasih kepadaku”. Dalam Shatpath Brahmana, sapi-sapi itu dikatakan seperti orang-orang. Sekali lagi, seekor sapi digambarkan sebagai lambang peribadatan, ketegaran (aditi) dan ilmu (saraswati) (12:9.1.7).

Dengan membawa semua kutipan ini dalam ingatan, lagi kita menengok kepada mantera itu dan melihat apa yang diartikan dengan sepuluh ribu sapi dari Muhammad. Kutipan ini membuat dua perkara menjadi jelas; pertama, bahwa para sahabat Nabi Suci itu adalah orang-orang suci, salih dan penyayang seperti seekor sapi, dan kedua, mereka keras dan kuat seperti Indra. Jelaslah, sifat-sifat mulia ini bertolak belakang satu sama lain, tetapi Quran Suci dengan mudahnya memecahkan kesulitan ini. Berbicara mengenai Nabi Suci dan para sahabatnya al-Quran bersabda:

“Muhammad Utusan Allah; dan orang-orang yang menyertai dia berhati teguh melawan kaum kafir, bercinta-kasih antara mereka. Engkau melihat mereka berruku’, bersujud, memohon anugerah dan perkenan Allah”. (Q.S.48:29).

Lagi dia berkata:

“Rendah hati terhadap kaum Mukmin, dan gagah berani terhadap kaum kafir”(Q.S.5:54).

Pada perang Uhud Nabi Suci melihat dalam kasyaf bahwa sapi-sapi disembelih. Beliau sendiri memberikan penafsiran bahwa dalam pertempuran itu sejumlah sahabatnya akan terbunuh. Ini juga menunjukkan, bahwa para sahabat Nabi Suci itu benar disebut sapi-sapi karena kehangatan dan kasih-sayang sesamanya. Jadi, mantera Weda memberikan gambaran yang tajam tentang sepuluh ribu wali para sahabat Nabi Suci yang menemani beliau pada saat kejatuhan Mekkah.

Berbicara mengenai para sahabat ini, Quran Suci juga menyatakan:

“Itulah gambaran mereka dalam Taurat, dan gambaran mereka dalam Injil” (Q.S. 48:29).

Jadi, al-Quran juga meng-klaim bahwa suatu gambaran tentang Nabi Muhammad dan para sahabatnya akan didapati dan suatu rujukan atas mereka akan diketemukan dalam kitab suci pelbagai agama dan dalam nubuatan sejumlah nabi-nabi.

Mantera dari Kuntap Sukt ini, seperti yang kita lihat, dengan jelas memberi nama Nabi Suci sebagai Mamah yang disamping mengandung hakikat yang sama dengan kata Muhammad, juga kemiripan dalam bentuk maupun pengucapannya. Mantera ini juga menunjukkan bahwa Muhammad adalah seorang resi yang besar yang diberi hadiah Ilahi para sahabat yang teruji dan suci, yang murni dan berharga bagaikan emas murni, dan yang terangkat serta sempurna sedemikian sehingga mereka diumpamakan dengan bunga­bunga Surga. Beliau telah diberi para sahabat semacam itu yang baik pengabdi yang wali di sisi Tuhan dan juga pejuang yang gagah-berani di medan perang. Sejarah telah menyatakan kepada kita bahwa tanda­tanda ini hanya digenapi dalam pribadi Nabi Muhammad dan para sahabatnya serta tiada lagi yang lain. Nabi memperoleh hal-hal ini dengan urutan yang sama seperti yang digambarkan oleh mantera tersebut. Pertama beliau memperoleh seratus koin emas, kemudian ‘ashra-i-mubashshara kemudian tigaratus sahabat yang bertempur di medan Badar dan akhirnya sepuluh ribu wali yang menemani Nabi pada penaklukan Mekkah. Sejarah dunia tidak dapat menunjukkan satu pribadi lain yang memiliki atribut ini dan memenuhi yang digambarkan ini kecuali Nabi dari Arabia yang diberkahi (s.a.w.) Seseorang boleh mengingkari kebenaran ini karena mau benar sendiri dan kepala batu, tetapi seseorang tak dapat membuktikan dua fakta yang bertolak-belakang itu memang benar pada suatu kali dan suatu waktu yang sama; karena kebenaran itu tak mungkin bermuka dua.

 


 30


Jumlah yang tepat dari para sahabat yang ikut ambil bagian dalam perang Badar adalah 313, tetapi
pecahan di bawah 100 biasanya dihilangkan.