MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (8/18)
 

Pemujaan Nabi kepada Tuhan. Mantra 4

(Atharwa Weda 20:127:4).

 “Pertunjukkan dirimu, wahai penyanyi, pertunjukkan dirimu, bagaikan seekor burung di pohon   penuh berbunga, lidahmu mengalir lancar di bibir seperti pisau cukur dengan kulit pengasahnya” (Bloomfield)  “Berlimpahlah engkau, wahai penyanyi, berlimpahlah engkau seperti seekor burung di pohon yang    berbuah masak” (Griffith).

“Sebar-luaskanlah kebenaran, wahai engkau yang selalu memuji (Ahmad), siarkanlah kebenaran,    bagaikan seekor burung yang menyanyi di pohon yang berbuah masak. Bibir dan lidahmu bergerak    cepat bagaikan pisau tajam di atas sepasang kulit pengasahnya”. (Penerjemah Hindu).

Nabi diminta menyiarkan agamanya dan menyebar-luaskan kebenaran. Buah-buahan di pohon telah masak, sukses Nabi sudahlah pasti. Mantera ini menyebut Nabi Suci sebagai ‘Rebh’ yang berarti astuti (31) atau “seorang yang selalu memuji atau mengagungkan”, dan ini adalah terjemahan yang tepat dari Nabi bangsa Arab yang bernama Ahmad. Sesuai dengan itu, Nabi Ahmad mengajarkan agamanya dan dunia memetik buah-buah masak yang beliau bawakan. Quran Suci telah, tepat sesuai dengan mantera ini, menggelar permisalan tentang sebatang pohon yang berbuah lebat dalam kata-kata berikut ini:

‘Kata-kata yang baik bagaikan pohon yang baik, yang akarnya kuat dan cabang-cabangnya di langit” (Q.S.14:24). Jadi, kata-kata yang baik atau Islam itu seperti pohon yang teguh berakar dan berbuah lebat.

Mantera dalam Atharwa Weda ini dibenarkan dan diperkuat oleh mantera berikut dari Rig Weda:

 “Dua ekor burung dengan sayap-sayap yang indah, diikat dengan tali persaudaraan pada pohon   pelindung yang sama, telah menemukan tempat pengungsiannya. Satu dari si kembar itu memakan   buah tin yang manis, yang satunya lagi tidak makan, hanya melihat” (Rig Weda 1:164:20).

Kriteria dari ketulusan seseorang yang diberikan Tuhan dalam mantera ini, dalam pandangan Resi Weda, adalah bahwa dari dua orang, yang diberi kebiasaan dan kekuatan yang sama, termasuk dalam bangsa yang sama, serta hidup di negeri yang sama, yang satu mau memakan buah dari pohon ruhani sedangkan yang lain hanya melihatnya dengan penuh kesedihan. Pohon yang berbuah masak ini adalah pohon Islam atau Nabi Suci Muhammad yang mendapat sukses dan  mengandung buah; serta lawan-lawannya yang memandang dengan terpukul oleh kesedihan dan duka-cita. Pohon tin, dalam kiasan Alkitab, bermakna pohon ruhani.

Di tempat lain, al-Quran bersabda:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada engkau kebaikan yang melimpah-limpah. Maka bersalatlah kepada Tuhan dikau dan berkorbanlah. Sesungguhnya musuh engkau itu terputus (dari kebaikan)” (Q.S.103:1-3).

Diterangi ayat-ayat ini, makna dari mantera ini cukup jelas. Tuhan telah memberikan kebaikan yang melimpah ruah atau buah-buah masak kepada Nabi Ahmad. Karena itu beliau diminta untuk memuji Tuhannya dan mengagungkan Dia. Beliau menggerakkan bibirnya dalam memuji Tuhannya, demikian cepat, sebagaimana digambarkan oleh mantera, bagaikan sepasang pisau tajam di atas kulit pengasahnya, memotong musuh-musuhnya dari kebaikan. Inilah apa yang sebenarnya terjadi dan kebenaran Nabi ditegakkan tepat seperti yang diramalkan oleh Resi Weda.

Salat di medan perang. Mantra 5

(Atharwa Weda 20:127:5) “Penyanyi dengan lagunya yang kudus bergegas  dengan abai seperti sapi; di rumah adalah anak­anak    mereka dan di rumah sapi-sapi pun hadir” (Bloomfield).  
“Cepat dan berhasrat seperti  kerabat datang keluar penyanyi itu dengan nyanyi-pujian mereka:

Anak dara kecil mereka di rumah, di rumah mereka menunggu-nunggu sapi-sapi”  (Griffith).

Inti-sari terjemahan yang diberikan oleh beberapa mufasir Hindu adalah:  “Dia yang bersembahyang dengan doanya yang bergegas seperti sapi jantan yang perkasa. Hanya    anak-anak mereka yang di rumah, dan di rumahlah mereka menantikan sapi-sapi itu”.

Pasukan yang berangkat dari Madinah untuk menyerbu Mekkah adalah sekelompok pejuang yang gagah­berani. Mereka adalah orang-orang yang bersembahyang yang mengucapkan doanya sambil tergesa menuju medan perang. Di Madinah, hanya perempuan dan anak-anak mereka saja yang tertinggal. Seperti juga sapi muda yang dengan gelisah menanti di rumah akan induknya, begitu pula anak-anak kaum Mulsimin menunggu di rumah demi kembali dengan selamatnya dia yang bersembahyang.

Quran Suci menyatakan: “Dan mohonlah pertolongan (Allah) dengan sabar dan salat” (Q.S.2:45).

Memperagakan kekuatan dan pada saat yang sama dengan rendah hati berdoa kepada Tuhan mereka adalah suatu tanda kakateristik yang tidak didapatkan pada kaum yang lain di dunia kecuali para sahabat Nabi Suci Muhammad. Mengenai Nabi, kata Quran Suci:

 “Dan apabila engkau berada ditengah-tengah mereka dan memimpin salat untuk mereka, hendaklah   segolongan dari mereka berdiri bersama-sama engkau, dan hendaklah mereka memegang senjata   mereka. Lalu setelah mereka menyelesaikan sujud, hendaklah mereka pergi ke belakang kamu,    dan golongan lain yang belum salat hendaklah maju ke depan dan bersalat bersama-sama engkau,   dan hendaklah mereka siap dan memegang senjata mereka” (Q.S. 4:102).

Sungguh pantas dicatat, gambaran para pejuang Muslim, yang diberikan dalam mantera ini. Seperti sapi jantan yang perkasa, pada satu sisi, mereka bergegas ke medan perang dan bertempur dengan gagah­berani, dan seperti sapi yang rendah hati, di lain fihak, mereka hidup penuh kedamaian dengan umatnya sendiri dan mereka berdoa kepada Tuhannya dimanapun mereka berada baik di medan perang ataupun diluarnya.

Penyiaran Kitab. Mantra 6

(Atharwa Weda 20:127.6).

‘Bawalah kemari, wahai penyanyi sajak-sajakmu, yang akan menghasilkan ternak dan menghasilkan   barang-barang yang baik! Di antara Dewa-dewa, tempatknlah suaramu seperti seorang  pemanah   dengan panahnya” – (Bloomfield). 

“Wahai penyanyi, bawalah ke depan hymne yang menemukan ternak, temukanlah kekayaan. Bahkan   seperti seorang pemanah yang menujukan panahnya, yang menujukan doanya kepada Dewa-dewa”.  Griffith.

“Wahai engkau yang memuji (Tuhan), peganglah erat-erat kebijaksanaan, yang menghasilkan sapi
serta barang-barang yang baik. . Sebar-luaskanlah ini diantara orang-orang suci, tepat seperti
seorang pemanah yang menempatkan anak panahnya di jalan yang lurus” Para penafsir Hindu.

Kebijaksanaan, yang dibicarakan dalam mantera ini, tiada lain adalah Quran Suci. Melalui al-Quran,
seseorang dapat menghasilkan kebaikan di dunia ini maupun di akhirat. Nabi diminta menyiarkan ajaran dari kitab ini di antara orang-orang suci, yakni, para sahabatnya, seperti seorang pemanah dengan anak panahnya. Dan Nabi Suci sungguh telah melakukannya. Beliau satu-satunya Nabi yang wahyunya disimpan dalam ingatan para pengikut dan sahabatnya dan yang kitabnya benar-benar ditulis sejak masa hidupnya. Beliau menyiarkan Kitabnya di kalangan para pengikutnya yang suci dan mereka menghafalkan di hatinya. Karena itu tak ada kitab wahyu lain yang ditulis serta dijaga keasliannya.

Quran Suci juga memperkuat mantera ini dengan berkata:

 

“Wahai Utusan, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada engkau dari Tuhan dikau” (Q.S.5:67).


 “Tidak, sesungguhnya itu Peringatan. Maka barangsiapa suka, hendaklah ia memperhatikan itu. Dalam Kitab yang dimuliakan, Yang diluhurkan, yang disucikan,Di tangan para penulis, Yang mulia, berbudi baik” (Q.S. 80:11-16).

NABI SEBAGAI LAKI-LAKI TERBAIK DAN SEORANG PEMBIMBING BAGI DUNIA. Mantra 7

(Atharwa Weda 20:127.7)

“Dengarkanlah engkau kepada pujian tinggi Raja yang memerintah semua orang, Tuhan yang di atas manusia biasa, dari Vaishvanara Parikesit” – (Bloomfield)

“Dengarkanlah pujian Parikesit, pemerintahan yang disayangi semua orang, raja yang memerintah semuanya, menaikkan manusia seperti Tuhan” – (Griffith).

Mufasir Hindu telah menrejemahkan mantera ini sebagai berikut: “Nyanyikanlah pujian yang tinggi kepada raja dunia atau Cahaya Alam Semesta, yang adalah tuhan serta yang terbaik dari antara manusia. Dia adalah pembimbing seluruh umat manusia dan yang memberikan perlindungan kepada semua orang”.

Semua gelar yang diungkapkan dalam mantera ini khususnya cocok kepada Nabi Suci Muhammad. Dia adalah nabi pertama dan terakhir yang menjadi pembimbing bagi seluruh bangsa di dunia. Begitu pula, beliau adalah nabi yang digambarkan sebagai sebaik-baik manusia. Tak seorangpun dari resi Weda bisa memperoleh kedudukan yang demikian tinggi, tidak, bahkan nama merekapun tidak dikenal di dunia. Para pengikut Weda sendiri berbeda pandangan mengenai keunggulan resi satu dengan yang lain. Karena itu, tiap kata dari mantera ini, diterapkan hanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. “Penguasa dunia”, “Cahaya Alam Semesta”, sebaik-baik manusia, ‘seorang pembimbing seluruh umat manusia’, dan ‘satu perlindungan bagi semua orang’ – betapa besar pujian kepada Nabi Suci yang dinyanyikan oleh Resi Weda?

 


 31

Rig Veda 1:126.3, 6:27.8.
Nighantu, III:16, Rigveda, 1:127.10, 6:3.6, 7:63.3, 8:97.11, 9:7.6.
Rig Veda i:123.7, iii:7.1, X:65.8, Athar xx.127.7-10, Aita Br. Vi:32.1.
Altindisches Leban, 131.