MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (9/18)
 

Penjelajahan dalam kerajaan kemakmuran dan perdamaian.

Dalam mantera 7 hingga 10 dari Sukt ini, ada disebutkan seorang pribadi besar dimana pemerintahannya yang damai serta populer telah dipuja dan dipuji. Namanya adalah Parikesit; dan pemerintahannya adalah menjadi impian semua umat manusia, dan raja itu adalah kesayangan umat. Adalah suatu perkara yang sungguh disesalkan, bahwa penafsir Weda, Mahabharata, Bhagawat dan Purana telah menyingkirkan serta mengabaikannya sebagai bayangan khayal atau kilasan dari lamunan liar. Siapakah itu Parikesit, dan dimanakah pemerintahannya yang diberkahi, membaca suatu peristiwa dimana dalam Weda sendiri yang menimbulkan hingga kini suatu dambaan dalam fikiran untuk berziarah ke tempat itu? Pujian Parikesit telah dinyanyikan dalam Rig Weda, Atharwa Weda dan Brahman Grantha,(32) serta disebutkan adalah kerajaannya yang damai dan warganya yang bahagia serta makmur, dan suatu perintah telah diberikan agar selalu menjaga kesegaran ingatan kita terhadap pemerintahan yang ideal ini dalam Yagya tahunan.

Di samping pandit Hindu, kaum orientalis Eropa pun, yang menjadi musafir serta wisatawan yang tak kenal lelah ke tanah Hindu ini, sama-sekali kosong dalam memberi kita petunjuk dalam perkara ini, yakni siapakah itu Parikesit yang telah dinyanyikan dalam Weda; kapan dan dimanakah beliau hidup? Parikesit di sana, seorang yang sangat disayang dari Rumah Kurawa, yang telah disebut dalam Mahabharata, Bhagawat Puran serta legenda Hindu lainnya; Adakah dia Parikesit yang sama yang telah dinyanyikan dalam Atharwa Weda? Jika jawabannya adalah anggukan, maka Mahabharata harus dianggap lebih kuno dibanding Atharwa Weda. Dan bila tidak demikian; dan Atharwa Weda sesungguhnya adalah suatu kitab yang jauh lebih tua, maka, dengan penyebutannya apakah Parikesit telah disisipkan dalam Purana, dan belakangan, dalam Weda? Dalam kedua kasus di atas, maka ini jelas sekali, akan menimbulkan pelecehan umum terhadap Weda dan menimbulkan rasa sakit dan menderita di hati seorang yang beriman.

Tetapi bila kedua perkara itu tidak benar, dan Weda adalah kata-kata dari Tuhan Yang Maha-tinggi, maka kita harus, dalam menghormati Parikesit ini, menyelidiki dengan lebih mendalam dan memecahkan kulit untuk mengeluarkan isinya. Mengenai Weda, para ulama telah mempunyai pandangan yang bermacam­macam dan saling bertentangan:

Ada kisah binatang dan dongeng dalam Weda.
Tidak ada kisah binatang dan dongeng dalam Weda.
Fabel dan dongeng dalam Weda itu bukan fakta nyata, tetapi adalah gambaran dari wacana dan
perumpamaan.

Pandangan yang bermacam-ragam serta perbedaan semacam itu didapati baik dari pandit Hindu maupun kaum orientalis. Kelompok pertama berpendapat:

 “Dia (Parikesit) muncul dalam Atharwa Weda sebagai seorang raja dimana kerajaannya yang besar itu makmur serta damai.

Ini adalah nama dari seorang raja kuno (putera Abimanyu dan ayah Janmejaya). Karena itu ayat-ayat Dimana dia dipuja-puji belakangan disebut ‘Pariksitya’. Baik Zwimmer(33) maupun Oldenbrug(34)    Mengenal Parikesit sebagai benar-benar seorang raja, suatu pandangan yang didukung oleh fakta bahwa dalam kepustakaan Weda belakangan, raja Janmejaya membawa nama ayahnya yakni

Parikesit. Jika memang benar demikian, maka Parikesit termasuk kepada periode belakangan, karena Bait-bait Atharwa dimana namanya terdapat itu pasti dari masa belakanagan, dan tak seorangpun dari Samhita yang lain mengenal Parikesit sama-sekali. Roth(35) dan Bloomfield(35) yang kurang  Senang dalam Hymne dari Atharwa Weda, 690, 691 menganggap Parikesit itu bukanlah sebagai Raja yang berasal dari manusia sama-sekali”.

Dengan cara yang sama, beberapa pendeta Arya juga berpendapat bahwa dalam Atharwa Weda tidak disebutkan raja secara khusus, dan bahwa arti dari Parikesit adalah:

Tinggal di sekitar, tinggal atau menyebar di sekitar, sekeliling, meluas.
Raja yang tinggal bersama warganya, dan bercampur bebas dengan mereka, adalah Parikesit.

Berdasarkan pengertian ini, Brahma Grantha telah mengambilnya untuk  mengartikannya sebagai Agni, bumi dan langit yang menyebar di sekeliling umat manusia.

Komentar kita terhadap penafsiran ini.

Bahwa tidak ada dongeng atau ceritera dalam Weda, adalah sekedar ciptaan kaum Arya Samaj. Bahkan di antara kaum Arya Samaj sendiri ada beberapa pandit yang percaya bahwa Weda itu mengandung kisah dan anekdot. Selanjutnya, pengarang leksikon yang paling otentik dari Weda, Nirukt, telah menyebutkan kisah tentang para raja, kota, dinasti dan resi yang ditemukan di sini dan di sana dalam Weda. Menerjemahkan nama-nama ini akan mengalihkan mantera menjadi tak bermakna dan naif. Ceritera ini tidak saja terdapat dalam Atharwa Weda, melainkan juga dalam seluruh Weda. Akankan anda, menyanyikan sedikit lalu mengakui bahwa Weda itu bukannya Kitab Wahyu, atau bahwa ini Kitab yang dirusak dan tercemar, atau bahwa semua pandit non-Arya itu bodoh dan buta huruf?

Dalam tingkat pertama, pengumuman ini seharusnya dibuat oleh Weda sendiri, bahwa: Akulah Kitab pertama sejak dunia ini ada; maka tak ada kisah maupun dongeng di dalamnya. Tetapi adalah klaim kita bahwa tak ada mantera semacam itu dalam seluruh keempat Weda. Karena topik ini tak bisa kita perbincangkan dengan rinci di tempat ini, maka kita memuaskan diri dengan menulis sesuatu tentang pribadi Parikesit. Dari terjemahan mantera yang kita diskusikan, kelihatannya itu muncul sebagai kisah atau bukan, kita tinggalkan kepada para pembaca untuk menentukan dengan segenap keadilannya. Terjemah harfiah dari mantera itu adalah:

“Raja dari seluruh umat manusia, yang adalah suci serta murni di antara manusia; Pemimpin dari semua orang, Parikesit; dengarkanlah atas pujian yang tinggi kepadanya”.

Jelaslah bahwa dalam mantera ini, Parikesit, adalah seorang yang terpuji, dan bahwa seluruh umat
manusia itu hadir karena dia adalah raja; pada sisi lain, dia itu suci dan murni (devta) doi antara laki-laki, dan pemimpin seluruh dunia, serta patut dipuji dan dihormati; dan Weda telah memerintahkan untuk memasang telinga dan mendengarkan pujian yang tinggi kepadanya. Dengan memandang terjemah harfiah ini di hadapan mata kita, maka kita harus melihat:

Apakah ini sekedar ceritera?
Apakah ini suatu nubuatan?

Jika Parikesit hidup sebelumnya dan Weda datang belakangan, maka kemudian akan jelas bahwa ini sebuah ceritera, suatu dongeng atau  kisah binatang; dan pertanyaan sewajarnya akan timbul: Kapankah Parikesit ini hidup? Jika dia sama dengan Parikesit yang disebut dalam Mahabharata dan Bhagwat Purana, dan adalah putera Kuru, dalam kasus ini, maka mantera dan Weda ini kitab pada masa Mahabharata.

Tetapi Parikesit ini bukan seorang raja dari seluruh umat manusia, tidak lebih unggul dan mengatasi semua makhluk manusia. Karena itu, demi alasan ini, maka Parikesit di sini bukanlah Parikesit dalam Mahabharata, karena Weda itu sudah ada sebelumnya, dan Parikesit hidup belakangan. Dan bila beralasan bahwa tak diragukan, Weda itu ada sebelumnya tetapi kisah ini dirubah dan disisipkan dalam Weda di belakang hari, maka dalam kasus ini, anda harus mengakui bahwa Weda itu tidak terjaga dan bukan kitab yang terlindungi.

Sekarang kita mengambil dan mempertimbangkan aspek lain dari pertanyaan, yakni bahwa Weda itu ada sebelumnya dan Parikesit datang belakangan. Ini bukanlah dongeng atau cerita, namun suatu nubuatan; dan dalam hal ini, anda tidak akan menganggap Weda sebagai kitab yang datang belakangan sesudah Mahabharata, ataupun mengakui suatu kerusakan atau perubahan di dalamnya. Namun, anda harus menjawab satu pertanyaan: Siapakah itu Parikesit, atau pada siapa nubuatan ini digenapi?

Dalam pujian kepada Parikesit ini dinyatakan bahwa dia akan menjadi raja dari seluruh umat manusia, serta yang paling suci dan murni (devta) dari seluruh makhluk manusia. Putera Kuru bukanlah raja dari seluruh umat manusia. Dan mengapa pujian ini harus diingat-ingat selamanya dengan sarana yagya? Karena itu, teranglah bahwa Parikesit ini adalah orang lain, yang diberkahi dengan sifat yang utama dan mulia, serta yang akan datang pada suatu waktu mendatang.

Tetapi orang-orang ini yang tidak percaya adanya kisah atau nubuatan dalam Weda, mengambil arti harfiah untuk istilah Parikesit dan menyebutnya sebagai nama gelar. Maka, dikatakan, berdasarkan kamus, dengan mengambil arti: tinggal di sekitar, tinggal atau menyebar ke sekitar, sekitar, meluas. Dan karena itu, Pandit Arya Samaj, memberi kita untuk memahami bahwa istilah Parikesit itu terdiri dari dan menunjukkan bahwa itu adalah raja yang dalam kehidupannya bercampur dengan rakyatnya. Bahkan bila kita menerima penafsiran ini, tidak akan menimbulkan hambatan di jalan bahwa itu suatu ramalan. Sudah ada, dalam kronik sejarah manusia, hanya ada satu raja, kepada siapa dibuktikan oleh sejarah serta kejadian yang dialami oleh musuh-musuhnya, bahwa dia bangkit dari keadaan yatim yang sederhana dan tanpa daya lalu mencapai puncak tertinggi dari kekuasaan dan kerajaan. Tetapi dia tidak pernah memakai mahkota di kepalanya, bahkan tidak pernah duduk di tahta kerajaan, atau membangun istana buat dirinya. Dia duduk dalam lingkaran bersama rakyatnya sedemikian rupa, sehingga seorang pendatang baru tidak bisa tahu, siapakah di antara mereka itu yang menjadi rajanya, dan siapa yang muslim awam. Lututnya menyentuh begitu dekat dengan lutut para sahabatnya sehingga, seorang yang baru datang harus bertanya: "Siapa diantara kalian, yang bernama Muhammad?" Dalam masalah berbusana beliau benar-benar seperti oarng biasa. Tetapi Weda berkata, bahwa dari semua anak Adam, dia-lah yang paling suci dan murni, dan terbebas dari segala dosa dan kejahatan. Dan ini adalah argumen atas adanya dia sebagai Pemimpin dan Kepala dari dunia ini.

Karena itu, Parikesit, menyangkut sifatnya, ucapannya dan amal perbuatannya, tiada lain adalah Nabi Suci Muhammad. Dengan menerima kebenaran ini, maka kehormatan dan keagungan Weda pasti akan berlipat dan membesar; bahwa ribuan tahun yang lalu, suatu nubuatan telah ada di dalamnya, dan setelah berlalunya waktu yang begitu panjang, datang untuk digenapi kata demi kata oleh Nabi Suci Muhammad dari Arabia, dan bahwa di dalamnya telah dinyatakan suatu model yang luhur dari pemerintahan untuk seluruh umat manusia; dan model pemerintahan ideal serta kerajaan dunia ini bahkan sampai sekarang sangat dibutuhkan.

Weda telah memerintahkan: Pasanglah telinga dan dengarkanlah pujiannya. Dan umat Weda, dengan memperhatikan kata-kata ini, telah menjaga dalam kesegaran ingatannya kerajaan yang aneh ini dalam yagya tahunan mereka, sehingga ketika Dia Yang Dijanjikan muncul, mereka tidak akan melakukan kesalahan sedikitpun dalam mengenalinya, serta menujukan keimanan mereka kepadanya, dan melagukan pujian kepadanya. Mungkin anda akan mengira, bahwa saya telah, berdasarkan mantera ini,  menyatakan dengan jelas kepada pandit Hindu realitas dari Parikesit Yang  Dijanjikan, dan melengkapi argumen saya demi keyakinan agama. Tetapi, wahai para pencari kebenaran, Hindu maupun Kristiani, pinjamkanlah telinga anda dan dengarkanlah alasan saya pula.

 


 32, 33, 34, 35

Rig Veda 1:126.3, 6:27.8.
Nighantu, III:16, Rigveda, 1:127.10, 6:3.6, 7:63.3, 8:97.11, 9:7.6.
Rig Veda i:123.7, iii:7.1, X:65.8, Athar xx.127.7-10, Aita Br. Vi:32.1.
Altindisches Leban, 131.
Zeitschrift der Deutschen Morgenlandischen Gesellschaff, 42, 237; Buddha, 396.
St. Petersburg Dictionary.
‘Sanskrit Bhashya’ dari Khem Karan memberi dua arti dari kata Parikesit. ‘Sarvat Aishvary Yuktasya’
(memiliki segala jenis atribut dan kekuasaan), dan kedua ‘seorang yang memberikan perlindungan lengkap kepada umat’; Quran Suci juga berkata tentang Nabi Suci sebagai  ‘lemah-lembut terhadap kaum mukmin’
 

(Q.S. 15:88).

Atharva Veda, 20:21.6, Rig Veda, 1:53.6.
Ibid. 2:15.6, 4:30.11, 8:91.7, 10:75.6, 10:38.5.
Yajur Veda 3:35.36:3, Rig Veda, mandal 3, Sukt 62, mantra 10.
Rig Veda 8:4.16. Sam nah shishihi bhurijoriv Khahsvram.
Matius 26:34,75. Lukas 22:24.61, Markus 14:30.72.
Quran Suci 22:47,24. Manu 1:66.73; Farvardin 3:40:2.