MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (10/18)
 

Parikesit Yang Dijanjikan dalam weda dan Paraclete dari Yesus Kristus adalah satu dan orang yang sama.

Prinsip dari dua agama, yakni Hindu dan Kristen, jelas pusatnya terpisah, dan saling pengaruh di pusatnya diperkirakan  mustahil. Tetapi, sebagaimana penyair dengan sangat tepatnya mengungkapkan; yakni: “Meskipun jalan yang kami pakai dan arahkan olehku dan sainganku itu berbeda, namun kami    bisa datang bersama serta bertemu di tujuan yang sama demi seorang yang paling dicinta”

Titik pusat dimana kedua agama ini bisa datang dan bertemu bersama-sama, adalah pribadi yang pemurah dan welas-asih dari Nabi Suci Muhammad, yang kedatangannya telah diramalkan tidak saja oleh para nabi Bani Israil, yang memberi kabar gembira, melainkan juga oleh Mahatma Buddha, Zend Avestha dan Dasatir, serta para resi Weda yang menyanyikan pujian dan pujaan kepadanya, suatu penyebutan yang akan anda dapati sepanjang kitab ini di sini dan di sana. Pribadi Nabi Suci adalah batu-karang yang teguh dimana dibangun dasar dari semua agama di dunia. Dan ini bukanlah suatu kejadian kebetulan, melainkan suatu rencana yang telah diputuskan oleh Pencipta Agung dari alam semesta ini.

Saudara-saudaraku Hindu dan kawan-kawan Kristiani, renungkanlah dan fikirkan, sekali lagi bercerminlah dan bernalar, bahwa baik Weda maupun Alkitab keduanya menunjukkan persaingan kepada pusat yang sama dari semua agama, yakni Parikesit Yang Dijanjikan dalam Weda dan Paraclete yang diramalkan oleh Yesus, dengan perbedaan hanyalah bahwa Weda itu berbahasa Sanskerta sedangkan Alkitab itu dalam bahasa Yunani. Dalam Weda adalah Kshi sedangkan dalam Alkitab cle; dan kalian tahu betapa bentuk kata itu diadopsi bila digunakan dalam bahasa lain. Tetapi, disamping alasan yang sederhana dan akrab ini, saya juga ingin menambahkan fakta ilmiah lain demi pertimbangan para pakar. Mereka yang telah mempelajari “Perbandingan Tata-bahasa Sanskerta, Parsi, Yunani, Latin dan Jerman, dan sebagainya” mengetahui sepenuhnya  dengan baik bahwa dalam bahasa sanskerta Ksha adalah kata yang sederhana, dan bahwa dalam bahasa Yunani tidak ada kata yang berhubungan dengan itu, dan ini berubah menjadi Cle di sana. Jadi Parikshit dalam Sanskrit menjadi Paraclete dalam bahasa Yunani. Suatu diskusi terinci atas istilah ini, Paraclete, dalam pandangan pakar Kristiani juga telah direproduksi, akan diketemukan di bawah judul “Nubuatan Yesus”. Istilah ini, Paraclete, dalam pandangan beberapa cendikiawan, bukanlah istilah Yunani, tetapi ini termasuk  dalam agama asing lainnya. Tepat seperti pandit Hindu yang menebak-nebak dan bingung dalam memberi arti sebenarnya dari Parikshit, dengan cara yang sama, para cendikiawan Kristen juga menyerah dan bingung  dalam menerjemahkan istilah ini. Tetapi kesulitan ini dengan mudah dapat dipecahkan dengan sedikit becermin bahwa gelar Paraclete Yang Dijanjikan atau pujian kepadanya seperti yang dikatakan oleh Yesus, dalam kenyataannya adalah terjemahan dari Parikesit yang sayangnya telah menjadi tersembunyi dan tertutupi dari pandangan para pandit Hindu. Kesimpulan dari apa yang dikatakan baik oleh Weda maupun Alkitab tentang  Dia Yang Dijanjikan, kita berikan di bawah ini:

Alkitab menurut Yohanes:
Dia akan mengadili semua orang dengan keadilan dan persamaan (Yohanes 14:16).
Dia akan tinggal besertamu selamanya (Yohanes 14:16).
Dia berdiam bersamamu dan akan besertamu (Yohanes 14:17)

Atharwa Weda:
Dalam kerajaan Raja (Parikesit) yang memberikan perdamaian serta perlindungan kepada semuanya…
Orang-orang makmur dalam pemerintahan Raja (Parikesit). (Atharwa Weda  20:127:9-10).
Parikesit …. tinggal di sekitar.
Kshit…..akhir atau bagian ujung dari suatu benda.

Pernyataan Weda yang sukar dibedakan dan kabur telah diperjelas melalui mulut Yesus Kristus, yang berkata, bahwa tinggalnya di antara orang-orang akan selamanya; yakni untuk mengatakan, bahwa kenabiannya tiada akhir, dan tak ada nabi lagi setelah dia untuk memansukh-kan dan menghapuskan kenabiannya. Perkara lain yang dinyatakan oleh Weda yalah bahwa Parikesit akan menjadi penguasa dari seluruh umat manusia; Yesus Kristus telah menerangkannya dengan berkata, bahwa dia akan mengadili dunia dengan keadilan dan persamaan hak; atau dengan perkataan lain, dia tidak hanya raja atau penguasa dari seluruh umat manusia, melainkan juga, sesuai dengan hukum alam, memberikan persamaan hak kepada seluruh umat manusia. Dengan cara ini, Yesus Kristus telah memperjelas dan menerangkan pujian yang telah dinyanyikan Weda untuk Parikesit; dan komentar yang terbaik yang mengatakan bagaimana Nabi itu kelak kiranya hanyalah dari seorang  nabi yang lain.

Ada juga kepentingan lain dari Parikesit sebagaimana disebutkan dalam mantera ini (Rig Weda 4:6.11), yakni seorang yang selalu memuji. Dalam Rig Weda istilah vaishvanar telah digunakan, yang berarti “Pujian dan pengagungan dari beberapa !”(36). Yakni untuk mengatakan, bahwa Parikesit adalah Ahmad disamping juga Muhammad (Ahmad berarti seorang yang paling banyak memuji Tuhan Yang Esa dan Sejati, dan Muhammad berarti dia yang sangat terpuji). Dan siapakah yang bisa lebih besar daripada Ahmad serta Muhammad selain dia yang bisa menyingkirkan dari dunia ini kebencian dan kecemburuan akibat pembedaan warna kulit serta keyakinan, keunggulan geografis maupun nasional, dan mencampur seluruh umat manusia ini ke dalam satu Persaudaraan, dengan Tuhan Yang Benar di atasnya sebagai Pencipta dan Tuan dari seluruh alam semesta; yang telah menyampaikan ajaran luhur tentang persatuan dan persamaaan, serta menyisihkan segala perbedaan yang dibuat orang akibat kelahiran seperti Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra, atau bahkan di antara Bani Israil, para putera Yudah adalah lebih unggul, hanya karena peristiwa kelahiran, terhadap putera Benyamin; yang telah menyingkirkan ke samping serta menolak catatan tinggi dan rendah semacam ini, dan menegakkan bagi seluruh ras kemanusiaan pada kedirian yang tak terpisahkan dan sederajat. Karena itu dia adalah (Vaishvanar). Pujian dan pujaan umat manusia! Nabi Suci Muhammad s.a.w. Tujukanlah pandangan keimanan kalian kepadanya, dan raihlah kebebasan serta emansipasi dari kutukan kasta serta kelahiran.

Muhammad memeberikan perlindungan dan perdamaian kepada dunia. Mantra 8

“Parikesit telah menjamin kita bagi suatu tempat tinggal yang aman, pada waktu dia, seorang yang paling mulia, pergi, ke tempat duduknya. (Jadi) suami di tanah Kuru ketika dia mendapati keluarga­   nya, bercakap dengan isterinya” – (Bloomfield). 

“Duduk di atas tahtanya, Parikesit, yang terbaik dari semuanya memberi kita perdamaian dan   ketenangan, mengatakan suatu Kauravya kepada isterinya ketika dia menata rumahnya”- (Griffith).

“Dia, yang menyediakan perlindungan kepada semua orang, memberikan perdamaian kepada dunia, segera setelah dia duduk di singgasananya. Orang-orang di tanah Kuru membicarakan dia
yang pembuat perdamaian pada waktu membangun rumahnya” – (Komentator Hindu).

Pada waktu pembangunan kembali Ka’bah (rumah Tuhan), para kabilah Arab nyaris saling memotong leher; dan ketika masalah itu dibawa ke hadapan nabi Suci, maka beliau menyelesaikan pertikaian itu dengan cara yang demikian indah sehingga seluruh kabilah sangat puas tanpa setetes darahpun yang keluar. Karena itu Nabi memberikan perdamaian ke dunia dan menjaga Rumah Tuhan dari darah manusia yang menetes di dalamnya. Begitu pula, pada saat penaklukan Mekkah, ketika pemerintahan Nabi ditegakkan, beliau memberikan perdamaian dan perlindungan bahkan kepada musuhnya yang paling keras dan menyuruh mereka pergi hanya dengan kata-kata:

“Dia berkata: Pada hari ini tak ada celaan bagi kamu” (Q.S. 12:92).

Kata Kauravya yang digunakan dalam mantera ini meminta beberapa komentar. Pertempuran di antara Pendawa dan Kurawa itu sangat dikenal dalam kepustakaan agama Hindu, suatu sebutan yang juga ada dalam Mahabharata. Padang dimana pertempuran ini dilangsungkan dikenal hingga hari ini sebagai Kurusetra. Kuru adalah suatu kaum yang sangat kuno, di mana Rig Weda menyebutnya sebagai Puru. Aslinya orang-orang ini adalah penduduk  Babylonia, dan mereka datang ke India beberapa saat sesudah perpindahan kaum Arya dari tanah itu. Alkitab juga menyebutkan suatu bangsa yang disebut Kora yang berselisih dengan Bani Harun menyangkut hubungannya dengan sajian mereka di Kuil Suci Yerusalem. Seseorang yang termasuk kaum ini, karenanya dikenal sebagai Kaurawa. Kata ini juga telah diterjemahkan sebagai seorang ‘pekerja’, dan ini tepat sesuai dengan rasa dimana kata ini digunakan dalam mantera ini yakni, seorang ‘mason’ atau pembangun rumah. Dalam bahasa Ibrani, kata Kuru berarti ‘dia yang melindungi rumah’, Kore berarti suatu rumah, dalam bahasa Ibrani maupun Pashto. Jadi, ini juga mungkin bahwa kata ini menjadi bentuk lain dalam kata Koreish.

KERAJAAN PENUH PERDAMAIAN. Mantra ke-9.
(Atharwa Weda 20:127.9)

“Apa yang saya bawakan kepadamu, kepala susu, minuman yang diaduk, ataukah miras?  (Demikianlah) sang isteri menanyakan kepada suaminya dlm kerajaan Raja Parikesit” (Bloomfield).

 “Apakah yang akan aku sajikan kepadamu, kepala susu, susu tipis, atau ragi gandum? Demikianlah  sang isteri menanyai suaminya dalam kerajaan dimana Raja Parikesit memerintah”- (Griffith).

“Dalam kerajaan sang Raja, yang memberikan perdamaian dan perlindungan kepada semuanya, seorang isteri menanyakan kepada suaminya apakah yang harus dihidangkan kepadanya kepala susu ataukah beberapa minuman ringan” – (Para mufassir Hindu).

Mantera ini juga mengacu kepada kerajaan penuh damai dimana Dia Yang Dijanjikan, yakni Parikesit, membawakan pemerintahannya . Ini diriwayatkan sebagai suatu nubuatan dalam masa awal Hadist Nabi, bahwa suatu saat akan tiba di Arabia dimana seorang perempuan bisa melakukan perjalanan sendirian dari Medinah ke Mekkah tanpa takut akan sesuatupun di jalan. Dan dunia telah melihat betapa setelah kedatangan Nabi itu perdamaian serta keamanan telah menyebar luas di seluruh tanah Arab, dimana sebelum munculnya Islam baik kesucian seorang perempuan maupun perlindungan atas hidup dan hak milik itu tak dijamin aman. Sepanjang pemerintahan nabi yang penuh damai maka para perempuan dengan mudah bisa melakukan perjalanan sendirian maupun pergi ke pasar untuk berjual beli barang dagangan.

TANDA BUKTI SUATU AGAMA SEJATI. Mantra ke-10
(Atharwa Weda 29:127:10).

 “Seperti cahaya gandum yang masak  tercurah di bawah mulut (bejana). Orang-orang berkembang dengan suka-cita dalam kerajaan Raja Parikesit” – (Bloomfield).

 “Menanjak seperti itu kepada cahaya langit , bersemi gandum yang masak di atas rekahan. Gembiralah orang-orang yang menjadi makmur di tanah dimana Parikesit memerintah” - (Griffith).

 “Gandum yang masak bersemi dari rekahan dan berkembang sampai ke langit. Orang-orang   berkembang makmur dalam pemerintahan raja yang memberikan perlindungan kepada semuanya” Para komentator Hindu.

Satu dari tanda bukti utama atas kebenaran sejati agama dan Kerajaan Ilahi yakni bahwa orang-orang berkembang kebahagiaan dan kemakmurannya di bawah pemerintahannya, persis seperti gandum yang bersemi di padang yang baik. Sebelum kedatangan Nabi Suci, bangsa Arab itu tenggelam dalam segala jenis kejahatan dan telah jatuh mendalam di kemerosotan. Tetapi dengan kekuatan ruhani Nabi dan berkah dari agamanya, kaum yang sama itu bangkit kepada ketinggian yang agung dan mulia. Taurat, Injil, Weda, dan Kitab-kitab Ilahi lainnya juga telah berdiri saksi atas kenyataan ini, sebagaimana Quran Suci menyatakan:

“Itulah gambaran mereka dalam Taurat, dan gambaran mereka dalam Injil; bagaikan benih yang  mengeluarkan tunasnya, lalu menguatkan itu, maka jadilah itu kuat dan berdiri dengan teguh di atas batangnya” (Q.S. 48:29).

Kata-kata Weda abhivsvah prajihite yavah (biji-bijian yang berkembang dan menjulang) mengandung ide yang sama sebagaimana diungkapkan dalam ayat yang dikutip di atas dari Quran Suci. Kitab Suci itu sekali lagi bersabda di tempat lain:

“Apakah engkau tak melihat bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang kata-kata yang baik bagaikan pohon yang baik, yang akarnya kuat dan cabang-cabangnya di langit, Yang menghasilkan buahnya pada tiap tiap musim dengan seizin Tuhannya? Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia agar mereka ingat” (Q.S. 14:24-25).

Baik Weda maupun al-Quran telah menggelar perumpamaan ini sebagai kalam ibarat dari agama yang benar. Al-Quran menyebutnya sebagai pohon yang baik, dan Weda menamakannya bhadram, yang berarti kebajikan dan kemakmuran yang berlimpah.

Menurut al-Quran maka akar dari pohon kebaikan itu menghunjam teguh di tanah, dan menurut Weda akar dari Yavah (atau pohon dari biji-bijian) mendalam di rengkahan. Al-Quran menyatakan bahwa cabang­cabangnya di langit, sedangkan Weda juga menyatakan bahwa pohon itu berkembang mencakar langit. Kemudian al-Quran menyatakan:

“Allah mengukuhkan orang-orang yang beriman dengan sabda yang mantap dalam kehidupan dunia dan di Akhirat” (Q.S. 14:27).

Weda, dengan cara yang sama, menyatakan bahwa manusia akan berkembang makmur dan bahagia di bawah pemerintahan agama yang benar.

Al-Quran menggambarkannya sebagai pohon yang berbuah lebat : “Yang menghasilkan buahnya pada setiap musim” (Q.S. 14:25). Dan Weda juga menggambarkannya sebagai pohon yang berbuah masak.

Quran Suci memberikan perumpamaan ini untuk mendukung kebenaran Nabi Suci Muhammad, dan kita telah melihat betapa mantera Weda memperkuatnya kata demi kata. Dalam kata-kata Quran Suci:

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia agar mereka ingat” (Q.S. 14:25).

Karena itu, silahkan para pengikut Weda merenungkan fakta-fakta ini sebagaimana al-Quran telah memperkuat mantera-mantera Weda; mereka hendaknya juga beriman dan membuktikan kebenaran Nabi Suci Muhammad dalam mendukung apa yang telah dikatakan oleh ayat dan mantera di atas.