MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (12/18)
 

BEBERAPA FAKTA LAGI TENTANG NUBUATAN INI

Beberapa penerangan tambahan diperlukan untuk menyoroti nubuatan dalam Atharwa Weda yang telah kita diskusikan  dalam halaman yang telah lalu. Ada dua aliran pemikiran yang berbeda menyangkut ramalan ini dalam Kuntap Sukt. Beberapa mahasiswa peneliti modern seperti Pandit Bhagawat Datt, cendikiawan peneliti di Kolese D.A.V. Lahore, dan Swami Hari Prashad, muni Weda, cenderung berfikir bahwa Kuntap Sukt, atau koleksi ramalan ini, tidaklah benar-benar membentuk bagian dari Atharwa Weda tetapi dimasukkan pada hari-hari belakangan. Kedua aliran pemikiran ini, berpendapat bahwa mantera ini adalah teka-teki dan sulit masuk akal. Dan kaum modernis itu juga, sebagai akibatnya, menarik kesimpulannya setelah tidak mampu memahami apa yang diartikan oleh mantera-mantera itu.

Ide bahwa Kuntap Sukt itu dimasukkan dalam Atharwa Weda pada hari-hari belakangan, adalah tanpa dasar dari berbagai sumber. Buku yang paling kuno pun tidak lupa menyebutkan Kuntap Sukt, seperti misalnya, Aitreya Brahmana (6:32), Kaushitki Brahmana (30:5), Shankhayana Shraut Sutar (12:14), Ashvlayana Shraut Sutar (12:3:7), Vaitan Sutar (32:19) dan Gopath Brahmana (2:7:12). Kalau mantera­mantera ini ditambahkan kepada Weda pada hari-hari belakangan, tak mungkin mereka dirujuk dalam begitu banyak kitab kuno. Hanya karena mereka sulit diterima akal, janganlah mendorong orang untuk berfikir bahwa mereka itu tidak merupakan bagian dari kitabnya yang benar. Kedua, mantera-mantera ini, sebagaimana dinyatakan dalam Brahmana Granth selalu diulang-ulang setiap tahun di dalam majelis yang besar dimana soma dipersembahkan kepada dewa-dewi, dan tujuhbelas pandit biasa menyenandungkan mereka untuk jangka yang panjang. Jadi, suatu hal yang diulang-ulang setiap tahun dengan penuh pengabdian dan kekhidmatan dan yang sudah dipraktikkan berabad-abad tidak dapat dianggap sebagai apokripal atau penemuan di belakang hari. Hanya bagian dari suatu kitab keagamaan itu yang diberi peran demikian penting dan diingat-ingat dalam hati serta dibaca dengan khidmat, yang pasti berguna serta bermanfaat bagi para pengabdi dan membantu dia dalam meraih suatu ilmu yang lebih dalam dari alam semesta ini dan lebih mengenal Dzat Ilahi. Ini menunjukkan bahwa Kuntap Sukt adalah bukan suatu koleksi teka-teki tanpa makna ataupun tambahan di bagian bawah dari Weda.

Dicatat dalam Shatpath Brahmana bahwa “mantera itu dibagi 21 adalah perut. Ada 20 cairan (Kuntap) dalam usus, perut sendiri adalah yang ke-21. Jadi mantera yang dibagi 21 dikenal sebagai perut” (Shatpath Brahmana 12:2,1,126). Kesaksian dari buku kuno semacam Shatpath Brahmana sudah cukup sebagai bukti keaslian dari mantera ini. Bahkan kini jumlah seluruh mantera ini adalah 147 yang merupakan kelipatan dari 21. Morris Bloomfield dalam tafsirnya tentang Atharwa Weda menulis:

“Yang berwenang dari kaum Brahmana setuju mencantumkan apa yang disebut hymne Kuntap ke dalam kepustakaan jenis ini, dan stanza pembukaan 20:127, tidak menyisakan keraguan akan keasliannya….Jumlah seluruhnya dari stanza hymne Kuntap dikutip dalam Brahmana menunjukkan    pada essensinya kerusakan teks yang sama seperti dalam versi Atharwa. Shankhayana Shraut Sutar 12:14, memperagakan mereka seluruhnya” (halaman 689). Prof Maxmuller juga memperbincangkan   hal ini dalam ‘History of Sanskrit Literature’ halaman 493).

Sejumlah cendikiawan berpendapat bahwa mantera ini tidak mengandung makna yang jelas dan agak membingungkan. Pandit Raja Ram Bhashya misalnya, menulis:

 “Sepuluh sukta ini dikenal sebagai Kuntap Sukt. Kuntap adalah cairan di perut yang jumlahnya 20.   Sukta ini mengandung masalah yang berbeda-beda, kebanyakan darinya adalah hanya teka-teki,   Teks maupun maknanya membingungkan dan dalam beberapa kasus teks itu mutlak tidak   berarti apa-apa”.(halaman 991).
 

Begitu pula M.Bloomfield berkata:  “Teks dari syair kedua itu adalah sangat rusak; perubahan bentuk dalam edisinya menjadi dasar    terjemahan kami”. (halaman 691). Dengan sikap yang sama, Prof. Griffith menulis tentang mantera ini sebagai berikut:
 

“Bagian dari kitab ini yang membawa nama Kuntap adalah suatu koleksi nyanyi pujian yang aneh    dan bermacam ragam, rumus-rumus pengorbanan, kantata, teka-teki dan campur-baur” (‘Hymns of the Atharva Veda’, halaman 443 dan catatan kaki).

Mantera-mantera ini dianggap sebagai teka-teki hanya karena mereka itu nubuatan dan suatu ramalan perlu harus sebagai misteri dan suatu rahasia sebab kalau tidak ini akan bisa dirusak melalui bias dan prasangka dari suatu kaum. Bila ini benar-benar telah digenapi, maka makna dari ramalan itu akan menjadi sangat jelas. Jadi, kenyataan sebenarnya adalah tafsiran yang benar dari suatu nubuatan. Ketika menerjemahkan mantera-mantera dari Kuntap Sukt ini, kita telah menunjukkan, betapa tepatnya mereka diterapkan ke dalam kehidupan Nabi Suci. Tak ada misteri dalam maknanya dan segala sesuatu menjadi jelas dan terang. Dan dari segenap pribadi keagamaan serta para Nabi, Muhammad adalah satu-satunya Nabi yang sejarah kehidupannya dengan sangat rinci adalah tepat dan terjaga tanpa  bisa dibantah lagi. Ada bukti-bukti sejarah  bagi semua fakta dalam kehidupan Nabi Suci. Dan karena itu jika seseorang mencoba untuk menerapkan nubuatan ini kedalam kehidupan beberapa pribadi suci yang lain, maka dia juga harus membuktikan dengan bukti-bukti sejarah bahwa perkara ini terjadi dalam masa hidupnya; dan ini seperti yang dilakukan penelitian modern, selanjutnya adalah mustahil.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa mantera ini disebut Kuntap? Jika Kuntap berarti cairan perut, dengan cara bagaimana nama ini bisa diterapkan ke dalam mantera-mantera ini? Tak seorangpun mufasir Weda yang telah mendiskusikan hal ini dan mencoba memecahkan teka-teki ini. Kami berikan tiga alasan untuk nama ini seperti di bawah ini:

(a). Kata Kuntap terdiri dari dua akar kata kun dan tap. Kun berarti dosa dan penderitaan, serta tap berarti mengkonsumsi. Jadi Kuntap berarti ‘pengguna dosa dan penderitaan’. Kumpulan dari semua mantera ini dimana disebutkan pengobatan atas penderitaan dunia, itu disebut Kuntap Sukt. Suatu nubuatan yang sama diketemukan dalam Farvardin Yasht, diungkapkan oleh Nabi Zarathustra. Quran Suci juga mengatakan:

“Ia (Nabi) menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka berbuat jahat, dan menghalalkan    kepada mereka barang-barang yang baik, dan mengharamkan kepada mereka barang-barang yang kotor, dan menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu yang ada pada mereka”.(7:157).

(b). Kata Kuntap menurut Brahmana Grantha yang otentik berarti cairan di dalam perut atau perut itu sendiri. Jadi, mantera ini diberi nama demikian karena mereka mengandung suatu nubuatan tentang rumah pertama untuk ibadah kepada Ilahi di Mekkah, pusar atau titik tengah dari bumi ini; sebagaimana al-Quran menyatakan:

 “Sesungguhnya rumah permulaan yang ditetapkan bagi manusia ialah Rumah yang ada di Bakkah, yang diberkahi dan pimpinan bagi sekalian bangsa” (Q.S. 3:95).

Tepat seperti manusia yang memperoleh pemeliharaannya dari perut, begitu pula, pemeliharaan spiritual yang diberikan kepada dunia ini dari Mekkah atau Bakkah, rumah pertama dari Cahaya Ilahi.

(c). Kata Qurani Bakka dan Kuntap dalam Weda itu tidak hanya sinonim, melainkan kata Kuntap itu sekedar bentuk kebalikan dari kata Arab Bakka. Ratusan kata-kata dalam bahasa Sanskerta itu dipinjam dari bahasa Arab  dan digunakan sebaliknya dari bahasa asalnya. Di bawah ini kami kutipkan beberapa :


Bahasa Arab
 

Bahasa Sanskerta

Artinya:

Ras

Shir

Kepala

Um

Ma

Ibu

Luj

Jal

Air

Dab

Pad

Kaki

Siraj

Surya

Matahari 

Nahar

Ahan

Siang hari

Qat

Tak

Potong

Qinob

Bang

Daun Bhang

Shanah

Anash

Bahu

Kitab

Pustak

Kitab

Masa

Sam, Sayam

Senja

Rumman

Anaram

Buah beri.

Geam

Megh

Awan

Tallah

Latta

Terbaring

Mubashra 

Shambra

Hujan pertama

Dalam cahaya penerang di atas, kami bisa katakan dengan pasti bahwa kata Kuntap juga suatu perubahan bentuk dari Bakkatun. Kata bakkatun mengandung tiga abjad. K, B, T dan huruf ini sama dengan yang terdapat dalam kata Kuntap yang punya K, T, P dan B Arab berubah menjadi P dalam sanskerta.

Adalah suatu kenyataan yang aneh bahwa dalam semua nubuatan kata Bakka digunakan sebagai ganti Mekkah. Quran Suci menempatkan Bakka rumah pertama dan terakhir dari ibadah kepada Ilahi. Di samping Weda, Nabi Daud juga merujuk Rumah Tuhan dengan nama yang sama. Dalam Mazmur kita dapati:

”Ya Rajaku dan Allahku!
Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu,
Yang terus-menerus memuji-muji engkau, Sela.
Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
Apabila melintasi lembah Bakka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air;
Bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat.
Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion”(Mazmur 84:5-8).

Kesimpulan berikut ini bisa ditarik dari Mazmur: Rumah Tuhan dimana Daud merujuknya tiada lain adalah satu yang di Bakka, karena kanisah suci di Yerusalem  belum dibangun pada saat itu dan Tuhan tinggal di Sion (satu tenda). Nabi Daud sedang menunggu perintah Ilahi untuk menyerbu Palestina, dan dalam rangka mencari rahmat dari rumah Tuhan yang dibangun oleh Bapa Ibrahim, dia datang ke lembah Baca. Nama lembah Baca, yang dalam bahasa Ibrani ditulis dan diucapkan sebagai Bacah, akhir huruf h menunjukkan bahwa itu adalah tempat terkenal. Penghuni lembah ini akan selalu memuji Tuhan mereka. Dan dunia mengetahui betapa kaum Muslimin berdoa dan mengagungkan Tuhannya. Setiap Muslim sujud di hadapan Tuhannya dan memuji-Nya paling tidak lima kali sehari. Kata-kata ini juga bisa berarti bahwa rumah Tuhan di Bakka tidak akan pernah musnah dan Tuhan akan selalu dipuji di dalamnya, sedangkan Yerusalem lebih dari sekali telah
dihancurkan.

‘Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau’, jelas merujuk kepada Nabi, yang, meskipun seorang anak yatim, lemah dan tak berkawan, bisa mengalahkan musuh-musuhnya dengan berkah Tuhan dan mengambil kekuatan dari-Nya.

Di padang pasir Mekkah sumur (Zamzam) adalah tanda-bukti lain dari rahmat Tuhan di tanah ini.
Seorang yang diberkahi dan ‘yang semakin dan semakin kuat’, adalah terjemah dari kata-kata al-Quran (Q.S. 3:95). ‘Hendak menghadap Allah di Sion’, merujuk kepada ibadah haji tahunan di Mekkah. Kita telah mebicarakan panjang lebar apa yang dimaksudkan dengan Sion ini, dalam nubuat keenam dari Isaiah.

Jadi baik Weda maupun Mazmur membenarkan fakta bahwa Nabi Muhammad, pembimbing dunia dan juru selamat umat manusia akan muncul di Bakkah.

Weda menyanyikan pujian Nabi dalam istilah berikut:

Dia adalah narashansah atau seorang yang terpuji (Muhammad). Dia adalah pangeran perdamaian atau imigran, yang diselamatkan meskipun di tengah kepungan musuh-musuhnya (Mantra 1).
Dia adalah Resi yang mengendarai unta, dimana keretanya menyentuh langit (Mantra 2).
Dia adalah Mamah Rishi yang dianugerahi seratus koin emas, sepuluh kalung, tigaratus kuda pacu yang baik dan sepuluh ribu sapi (Mantra3).
Dia dan para pengikutnya selalu khusu’ dalam salatnya, bahkan di medan pertempuran mereka sujud di hadapan Tuhannya (Mantra 4).
Dia dikaruniai pejuang yang tangguh yang bertempur dengan gagah-berani di medan perang dan hidup penuh kedamaian dengan umatnya (Mantra 5).
Dia memberi kebijaksanaan kepada dunia yakni Quran Suci (Mantra 6).
Dia adalah Raja dunia, sebaik-baik manusia dan pembimbing bagi seluruh umat manusia (Mantra 7).
Dia menjamin tempat tinggal yang aman bagi umatnya, memberikan perlindungan kepada semua orang serta menyebar-luaskan perdamaian di dunia (Mantra 8).
Rakyat berkembang dengan bahagia dan makmur di bawah pemerintahannya, dan dari kedalaman
degradasi mereka meningkat ke ketinggian kejayaan (Mantra 9-10).
Dia diminta bangun dan memperingatkan dunia (Mantra 11).
Dia luar-biasa pemurah dan sangat dermawan (Mantra 12).
Para pengikutnya diselamatkan dari kebencian dan perampokan oleh setan (Mantra 13).

Dalam mantera terakhir, Resi telah memohonkan dia agar menerima doanya (Resi) dan telah mohon perlindungan dari segala cedera dan kejahatan.