MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (13/18)
 

PERANG AHZAB DIGAMBARKAN DALAM WEDA
(Atharwa Weda 20:21:6)

“Inilah minuman kami, soma yang kuat mengilhami, yang menggairahkanmu dalam berperang   dengan Vritra, Dewa pahlawan. Berapa lama engkau memotong dengan pedang demi penyanyi   dengan barisan rumput sepuluh ribu Vritra, engkau bertahan dalam keperkasaanmu”- (Griffith). 

“Pangeran dari orang-orang  tulus! minuman suci ini, tindakan keberanian ini dan nyanyian yang

terilham menyenangkan kamu di medan perang. Ketika kauberikan kemenangan tanpa bertempur atas sepuluh ribu lawan dari dia yang selalu memuji, selalu mengagungkan”. (Komentator Hindu).

Nubuatan dari Weda ini menggambarkan pertempuran yang terkenal dari Nabi Suci yang disebut dalam sejarah Islam sebagai Perang Ahzab atau Perang Gabungan. Kata-kata dalam mantera ini secara mencolok memperkuat fakta sejarah yang diberikan dalam Quran Suci.

Hal pertama yang pantas dicatat adalah bahwa Tuhan menyatakan dalam mantera ini sebagai Satpati. Sat berarti pencinta ketulusan atau orang yang penuh ketulusan, dan pati berarti tuan atau pangeran. Karena itu, Satpati berarti Pangeran ketulusan. Para sahabat Nabi Suci Muhammad terkenal akan ketulusannya. Dalam surat yang menyebut adanya Perang Ahzab ini, para sahabat Nabi dikatakan sebagai:

“Di antara kaum mukmin ada orang yang setia kepada perjanjian yang mereka buat dengan Allah”. (Q.S.33:23).

Dan kemudian,

“Agar Allah mengganjar orang-orang tulus oleh ketulusan mereka” (Q.S. 33:24).

Al-Quran menyebut mereka orang-orang tulus dan Weda juga menyebut Pangeran mereka sebagai Pangeran dari orang-orang tulus.

Hal kedua dari mantera itu adalah bahwa Tuhan sangat ridla dengan nyanyian yang gagah-berani serta terilham dari para sahabat Nabi. Mereka hanya berjumlah tigaribu dengan sember daya yang kurang mencukupi sedangkan musuh-musuhnya bersenjata lengkap serta lebih dari tiga kali jumlah mereka; namun para sahabat Nabi tidak sedikitpun menunjukkan kegelisahan, mereka malahan senang mendapati bahwa ramalan Nabi Suci telah tergenapi. Dalam kata-kata Quran Suci:

“Dan pada waktu kaum mukmin melihat pasukan gabungan, mereka berkata: Inilah apa yang di janjikan oleh Allah dan Utusan-Nya kepada kami, dan benarlah firman Allah dan Utusan-Nya. Dan ini hanya menambah iman dan keberserahan-diri mereka” (Q.S. 33:22).

Kata-kata para sahabat yang gagah-berani dan terilham ini memuaskan Tuhannya dan Dia mengaruniai mereka suatu kemenangan tanpa pertempuran fisik.

Nabi Ahmad

Kata-kata dalam mantera, ‘seorang yang selalu memuji’, menunjukkan bahwa nubuatan ini dimaksudkan untuk Nabi Ahmad, s.a.w. Kata Sanskrit Karu, yang digunakan dalam mantera, telah diterjemahkan oleh Professor Griffith sebagai ‘Penyanyi’ dan Pandit Raja Ram dari Kolese D.A.V. Lahore, menerjemahkannya sebagai ‘Stota’ yang berarti dia yang selalu memuji atau Ahmad, yakni nama kedua dari Nabi Muhammad, yang adalah pahlawan dalam Perang Ahzab.

Gelar lain dari Nabi yang diberikan dalam mantera ini, yakni Brihashmate. Kata ini berasal dari akar kata Brhi yang berarti rumput suci yang dihamparkan di kuil ibadah.37 karena itu, lelaki dengan rumput suci secara kiasan berarti ‘abid’ atau seorang yang mengagungkan Tuhannya.

Sepuluh ribu lawan

Masalah pokoknya adalah lawan yang berjumlah sepuluh ribu. Musuh Nabi dalam perang Ahzab itu berjumlah sepuluh ribu, dan kaum Muslimin hanya tiga ribu orang. Mantera ini khusus menyebutkan keberanian dari para sahabat Nabi. Dan tak ada bukti yang lebih besar atas keperkasaan dan keberanian mereka daripada kenyataan bahwa disamping kekurangan dalam jumlah maupun sumber daya yang tidak mencukupi, dalam melihat musuhnya mereka tidak kehilangan akal ataupun menunjukkan sedikitpun kecemasan kecuali berseru:

“Inilah apa yang dijanjikan oleh Allah dan Utusan-Nya kepada kami” (QS.33:22).

Ini memberi mereka kebahagiaan yang terbesar dalam menyimak tanda-bukti kebenaran yang lain dari Nabi mereka yang telah menubuatkan peperangan ini jauh sebelum ini benar-benar terjadi.

Tersebut adanya di dalam mantera ini tentang keperkasaan dan keberanian dari para pejuang, kekuatan lawan-lawannya dan jumlah mereka yang besar, tetapi kekalahan dan kemunduran mereka digambarkan hanya karena pujian Ahmad. Kata-kata terakhir dari mantera ‘aprati ni barhayah’ berarti bahwa kekalahan ditimpakan kepada musuh tanpa pertempuran fisik. Baik Pandit Khem Karan maupun Prof. Raja Ram telah menerjemahkan kata-kata ini sebagai ‘anda mengalahkannya tanpa benar-benar berkelahi’.

Adalah suatu kenyataan yang umum diketahui, bahwa dibanding dengan musuhnya, mereka itu sangat kecil dalam jumlah dan terkendala oleh pelbagai jalan yang memungkinkan, dan karena keadaan inilah maka mereka lebih senang bertahan dengan membentengi diri mereka di Madinah. Sebaliknya, musuhnya telah mengumpulkan kekuatan yang luar biasa besar, dan  bahkan penduduk non-Muslim di Madinah sendiri telah memihak mereka. Dengan mengabaikan semua keuntungan ini musuh berbalik lari tanpa perlawanan dan kemenangan bagi kaum Muslimin. Semua ini dipenuhi melalui pertolongan Ilahi, karena adalah diluar kekuatan manusia untuk membawakan kemenangan semacam itu. Begitu pula, Weda telah menubuatkan jauh hari sebelum pertempuran ini terjadi.

Dewa yang dirujuk dalam amntera ini dinamai Indra. Dia juga dituju dalam mantera 1 hingga 8 dari Sukta yang sama. Indra ini dalam Rig Weda digambarkan sebagai ‘Pemegang senjata petir’ dan Dewa dari petir serta angin badai. Betapa terang dan jelas kata-kata dari mantera ini, ‘Wahai Indra, engkau telah menyebabkan sepuluh ribu lawan kalah tanpa benar-benar berkelahi’. Kata-kata ramalan dari Resi Weda ini tidak bisa diterapkan kepada peristiwa lain dengan demikian tepat seperti perang al-Ahzab. Musuh tiba dengan membusungkan dada serta pamer, sadar akan kekuatannya dan yakin akan keberhasilannya.

Kaum Muslimin juga cukup sadar atas kedudukan mereka yang lemah; mereka memutuskan untuk tinggal di kota, dan suatu parit digali sebagai sarana perlindungan terhadap serbuan dari musuh yang begitu kuat. Tetapi Tangan Tuhan bergerak dan Indra yang perkasa menyebabkan musuh beterbangan takut mati akibat petir dan angin badai.

Dengan sepatah kata, nubuatan dalam Weda ini terinci dalam sepuluh fakta berikut :

  1. Ini berkaitan dengan suatu pertempuran.

  2. Tuhan akan memberikan kemenangan kepada orang-orang yang benar-benar beriman.

  3. Orang yang benar-benar beriman akan bergembira dan mengucapkan kata-kata keberanian serta kekuatan yang terilham.

  4. Tuhan akan meridlai mereka atas keberaniannya.

  5. Panglima dari pertempuran ini kelak adalah seorang yang selalu memuji Tuhan (Ahmad).

  6. Musuh akan berjumlah sepuluh ribu orang.

  7. Tidak terjadi pertempuran fisik.

  8. Musuh akan lari karena pertolongan Ilahi, sebagaimana al-Quran telah berkata:

    “Dan Allah mencukupi kaum mukmin dalam pertempuran. Dan Allah senantiasa Yang Maha-kuat, Yang Maha-perkasa” (Q.S. 33:25).
     

  9. Kata-kata al-Quran Kuat, Perkasa berarti tepat seperti arti dari Indra.

  10. Tangan Tuhan telah menampakkan Diri-Nya melalui angin badai yang besar. Dalam kata-kata al-Quran:

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu, tatkala pasukan  gabungan besar mendekati kamu, maka Kami turunkan kepada mereka angin puyuh dan pasukan  yang kamu tak melihatnya. Dan Allah senantiasa Yang Maha-melihat apa yang kamu lakukan” (Q.S. 33:9).

Angin dan hujan menerpa tenda musuh tanpa ampun. Angin puyuh meningkat menjadi badai. Api padam, tenda tertiup rubuh, bejana makanan dan perlengkapan lain porak-poranda. Jadi, musuh lari lintang-pukang meninggalkan padang itu untuk kaum Muslimin dan meneguhkan kebenaran dakwah Ilahi Nabi Muhammad s.a.w.

Nabi bertempur dalam peperangan yang lain.

Mantera 7 hingga 11 dalam Atharwa Weda, mengikuti satu yang berkaitan dengan perang Ahzab, juga perlu dipertimbangkan. Selama perang ini seluruh lawan-lawan  Islam telah bergabung bersama. Kaum Yahudi bersekutu dengan Nabi Suci, dan ketika musuh siap siaga ke Medinah mereka terikat untuk melawan serbuan itu. Bukannya demikian mereka malahan berfihak kepada pasukan penyerbu dan diam­diam mengadakan perjanjian dengan kaum Quraisy untuk menyerang kaum Muslimin dari dalam. Jadi, dari sekutu mereka berbalik menjadi musuh. Karena itu ketika pasukan yang bersiaga itu melarikan diri dan kaum Yahudi kembali ke bentengnya, maka mereka dikepung oleh Nabi Suci, dan tetap dikepung selama duapuluh lima hari. Tidak disebutkan benteng dalam mantera yang menyangkut perang Ahzab ini, tetapi di sini kita dapati: (Atharwa Weda 20:21:6).

“Engkau pergi dari pertempuran ke pertempuran tanpa gentar menghancurkan kastil ke kastil di sini     dengan kekuatan. Engkau Indra, dengan temanmu yang membuat musuh tunduk menebas dari jauh Namuchi yang licik dan penuh tipu daya” – (Griffith).

“Engkau berangkat dari satu pertempuran ke peperangan yang lain dengan gagah-berani     menghancurkan benteng demi benteng di sini dengan keberanian dan kekuatanmu. Engkau, wahai Indra, dengan kawanmu yang berdoa kepada tuhan, telah menebas dari jauh Namuchi yang licik     dan pengkhianat” (Para komentator Hindu).

Nabi baru saja menyelesaikan satu pertempuran ketika dia diminta untuk berjuang di medan yang lain. Ini adalah tanda-bukti atas keberaniannya dan para sahabatnya. Tentunya, dalam pertempuran pertama, mereka tidak menghancurkan kastil, tetapi pada medan yang satu lagi, mereka menghancurkan benteng demi benteng dan menebarkan kegentaran di hati musuh-musuh mereka.

Dalam kata-kata Quran Suci:

“Dan Ia menghalau sebagian kaum Ahli Kitab yang membantu mereka dari benteng-benteng mereka,   dan Ia memasukkan rasa takut dalam hati mereka; sebagian kamu bunuh, dan sebagian lagi kamu   tawan” (Q.S. 33:26).

Tepat seperti mantera 6 dari Sukta ini yang cocok diterapkan untuk perang Ahzab, begitu pula, peristiwa yang dikisahkan dalam mantera berikutnya juga mempunyai kesamaan berkaitan dengan peristiwa dalam kehidupan Nabi dan berhubungan dengan periode tepat setelah perang yang disebut di atas. Inilah sebabnya mengapa Nabi dikatakan pergi dari pertempuran ke peperangan. Usaha yang sungguh-sungguh dari kaum Muslimin ini, tak diragukan lagi, merupakan tanda-bukti kegagah-beranian  dan daya tahan mereka. Nabi menghancurkan benteng-benteng Quraiza, Qainuq’a dan Nadir. Lagi, kata-kata dalam mantera (Namya yat Indra sakhya) dengan kawanmu yang tunduk berdoa kepada Tuhan, wahai Indra, dengan indahnya cocok bagi Nabi Suci Muhammad yang selalu berdoa kepada Tuhannya. Musuh-musuh Nabi dalam mantera ini disebut sebagai orang-orang yang terbaring jauh atau yang terbuang oleh Tuhan. Alkitab juga mengandung kesaksian atas hal ini dan menyatakan bahwa orang-orang ini ditolak Tuhan (Yeremia 6:30). Lagi, musuh-musuh kaum Muslim ini, kaum Yahudi, digambarkan dalam mantera ini sebagai ‘pengkhianat dan licik’. Orang-orang ini adalah sekutu dari kaum Muslimin dan dengan syarat perjanjian, yang mereka buat dengan Nabi, terikat untuk berjuang melawan musuh yang menyerang Madinah. Tetapi mereka terbukti berkhianat dan penuh tipu-daya serta meninggalkan sekutunya pada jam sebelas. Kata  Sanskerta mayinam berasal dari maya yang berarti suatu hal yang kelihatan indah padahal sesungguhnya tak ada harganya. Alkitab juga menggambarkan orang-orang ini sebagai perak yang ditolak (Yeremia 6:30).

Weda telah menyebut orang-orang ini Nemuchi. Arti daripada kata ini sebagaimana disebutkan dalam tata­bahasa Panini adalah, ‘seorang yang menahan hujan’. Arti lain dari kata ini adalah ‘patut dihukum’. Umat Yahudi berpendapat bahwa mereka satu-satunya penerima wahyu Ilahi dan hujan atau pancuran air wahyu Ilahi tidak akan jatuh ke umat lain. Indra atau Tuhan Yang-perkasa menebas orang-orang ini dan karena itu menunjukkan bahwa tak seorangpun bisa menahan wahyu Ilahi; ini tidak dapat dibatasi hanya khusus untuk Yahudi atau Arya saja tetapi adalah hadiah Tuhan yang bisa dikaruniakan kepada siapapun yang Ia sukai.

Kata ini, sebagai telah kami katakan, juga berarti bisa dihukum. Kaum Yahudi bisa dihukum di mata Tuhan tidak hanya karena kejahatan mereka melainkan juga karena tipu daya dan pengkhianatan terhadap Nabi Suci Muhammad, pemberi manfaat bagi seluruh umat manusia. Begitulah, mereka dihukum atas pengkhianatannya dan dihukum mati, dan pengadilan ini diumumkan oleh seorang pemimpin mereka sendiri. Kata namuchi, karenanya, cocok diterapkan kepada kaum Yahudi.

Dalam Rig Weda serta kitab lain semacam Namuchi berarti ruh jahat yang menahan awan dari membawa hujan turun ke bumi, dan kemudian Indra, menyembelih ruh jahat ini, membebaskan awan. Nyaris semua bangsa di dunia berpendapat bahwa wahyu Ilahi itu terbatas kepada lingkungan khusus saja, dan, karenanya membatasi awan hujan Samawi itu bagi dirinya sendiri Tetapi dunia berhutang budi kepada Nabi Islam yang telah menyembelih Namuchi ini dan mengumumkan bahwa pancuran dari hujan spiritual ini telah jatuh kepada segala bangsa dan tidak dibatasi kepada suatu kasta atau kelompok. Quran Suci berkata:

“Dan Allah menurunkan air dari langit, dan dengan ini Ia menghidupkan bumi setealh matinya.   Sesungguhnya dalam ini adalah pertanda bagi kaum yang mendengar” (Q.S. 16:65).

Dengan air dari langit jelas diartikan wahyu Ilahi. Tepat seperti hujan yang memberikan kehidupan fisik kepada bumi, begitu pula wahyu memberikan kehidupan ruhani kepada orang-orang yang menderita kematian akibat kejahatan mereka. Jadi, risalah universal dari Nabi memberikan kehidupan kepada segala bangsa di dunia  karena Nabi telah menyingkirkan Namuchi, ruh kejahatan.

Kekalahan musuh dalam penaklukan Mekkah.

Nubuatan berkenaan dengan peperangan oleh Nabi Suci berakhir dengan ramalan atas penaklukan
Mekkah. Di dalam Sukta yang sama dari Atharwa Weda, kita dapati:
(Atharwa Weda 20:21:9).

“Dengan semua keretamu yang rodanya melaju cepat, wahai Indra, engkau yang terkenal sampai    jauh telah melengserkan dua kali sepuluh raja manusia, dengan enampuluh ribu dan sembilanpuluh sembilan pengikut yang datang dengan senjatanya untuk bertempur bersama Sushrava yang tak   berkawan” – (Griffith).

“Wahai Indra, engkau telah mengalahkan duapuluh raja dan enampuluh ribu sembilanpuluh sembilan lelaki dengan keretamu yang melaju cepat yang datang untuk bertempur demi dia yang terpuji atau anak yatim yang tenar sampai jauh (Muhammad)” – (Para komentator Hindu).

Kita telah menyatakan dalam halaman yang lalu bahwa penduduk Mekkah pada saat datangnya Nabi itu hampir berjumlah enampuluh ribu orang. Mekkah pada saat itu mempunyai semacam pemerintahan yang demokratis. Setiap kabilah mempunyai pemimpinnya sendiri dan karena itu ada duapuluh kepala kabilah yang memerintah penduduk, Quraish adalah pimpinan tertinggi dan penjaga Ka’bah. Jadi, pada satu fihak, ada enampuluhribu orang dengan duapuluh pimpinan besar, dan di fihak lain ada seorang abandhu, atau hanya seorang laki-laki yang tak berdaya. Tetapi seorang lelaki ini (Muhammad) terkenal sangat jauh dan dipuji oleh banyak orang. Ini bukanlah pertempuran antara dua raja, melainkan antara seorang lelaki dengan segerombolan lawan; dan dunia telah menyaksikan betapa orang yang tak berdaya ini mengalahkan musuh-musuhnya dan betapa Tangan Tuhan bergerak seperti kereta yang melaju cepat untuk menggilas lawan-lawannya. Hanya satu fakta ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Muhammad adalah benar-benar seorang nabi dari Tuhan dan bahwa Tangan Ilahi senantiasa di belakangnya, yang dalam waktu yang sangat pendek telah mengangkatnya dari keadaan tak berdaya kepada ketinggian kekuasaan dan kejayaan.

Nubuatan yang sama juga terdapat dalam Rig Weda, 1:53:9, sebagai ramalan dari Resi Angiras, putera dari Resi Savya. Kata sushrava berarti ‘pantas dipuji atau benar-benar terpuji’, yang adalah serupa dengan nama Nabi Muhammad s.a.w.