MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (14/18)

Suatu kesaksian gabungan dari tiga Weda.

Nubuatan berikut ini diberikan oleh tiga Weda, Rig Weda (8:96:13-15), Atharwa Weda (20:137:7-9) dan Sama Weda (3:10:1). Kesaksian gabungan dari Weda ini menunjukkan bahwa ini benar-benar sesuatu yang besar sehingga nubuatan ini merujuknya. Dan pada waktu yang sama ini selain jelas juga terang di samping keagungannya.

(Atharwa Weda 20:137: 7-8-9)

7. “Tetesan hitam masuk ke dada Ansumati, maju bersama sepuluh ribu di sekelilingnya. Indra dengan kekuatannya mencarinya ketika itu menahan nafas; si hati-pahlawan meletakkan senjatanya ke samping” (Atharwa Weda 20:137:7)

8. “Aku melihat tetesan di jarak kejauhan bergerak di lengkung tepi sungai Ansumati, seperti awan hitam yang tercelup ke air. Pahlawan, aku kirim kau berangkat. Pergilah berjuang dalam peperangan” (Atharwa Weda 20:137:8).

9. “Dan kemudian tetesan di dada Ansumati, bersinar dengan cahaya, memakai tubuhnya yang cocok; dan Indra, dengan Brihaspati yang membantunya, menaklukkan kaum yang tak bertuhan yang datang melawannya. (Atharwa Weda 20:137:9).

Terjemahan bahasa Inggris dari mufasir Hindu

“Krisna Chandra (rembulan hitam) menyelam di Anusmati (haud-i-Kauthar). Indra dilindungi dengan sepuluh ribu orang yang gagah-berani di sekelilingnya. Pejuang yang berani telah meletakkan senjatanya dan menyanyikan kemenangan”.

“Saya melihat rembulan bergerak di kejauhan, di tepi sungai Ansumati, seperti awan gelap yang terbenam di dalam air. Pahlawan, saya kirim kau berangkat. Pergilah, berjuanglah dalam peperangan”.

“Dan kemudian di dada Anusumati (haud-i-Kauthar) rembulan hitam memakaikan jasad nyatanya bersinar dengan cahaya, dan Indra, dengan bantuan Brihaspati, menaklukkan suku-suku yang tak bertuhan yang datang melawannya”.

Sesuai dengan sudut pandang agama Hindu, sebagaimana disajikan oleh Syna Acharya, mufasir Weda, rembulan menjadi benar-benar hitam sewaktu malam terakhir dari satu bulan dan kemudian setelah terbenam di dalam sungai imaginer Ansumati, dia kembali bersinar lagi dan timbul sebagai bulan baru.

Tetapi dalam cahaya Gita, mantera ini berarti bahwa bila kata-kata Ilahi dirusakkan, Krisna Chandra datang ke dunia ini dalam pribadi seorang yang baru dan memberikan sinar baru bagi dunia. Demikianlah, kita temukan Krisna memberi nasihat Arjuna dalam Gita: (4:1-8).

“Hukum yang tak berubah ini, pertama Aku wahyukan ke Vivasvan  (Matahari atau Jibril). Vivasvan
mewahyukannya kepada Manu dan Manu menceriterakan kepada Ikshvaku.
Raj Rishi mengenal benar kerajaan yang diserahkan dari seorang kepada yang lain dan yang sekarang menjadi suatu negeri yang sudah hancur.
Ini adalah hukum tua yang sama yang kuajarkan kepadamu hari ini. Engkau adalah temanku dan abdiku. Ini semuanya adalah rahasia.
Arjuna berkata: “Tuanku! Engkau dilahirkan dalam abad ini dan Vivasvat sudah lahir jauh hari sebelumnya; bagaimana saya tahu bahwa engkau berbicara seperti ini juga sebelumnya?”
Sri Krisna berkata: “Wahai Arjuna! Engkau dan aku mempunyai beberapa kelahiran, Aku mengetahui semuanya tetapi engkau tidak mengetahui”.
Jiwa yang abadi, Tuhan dari segala ciptaan membabarkan Dirinya dalam pribadi seseorang tanpa pernah dilahirkan.
Wahai Arjuna! di saat agama rusak dan hujatan kepada Tuhan merajalela, Aku ungkapkan diriku dan menjadikan kekuatanKu tergelar di dunia.
Aku nampak di setiap abad untuk menjaga mereka yang salih, memerangi pembuat kejahatan dan
memegang teguh agama”.

Dengan satu kata, pada waktu rembulan menjadi gelap atau ketika agama kehilangan cahaya dan
kekuatannya serta dunia ini mengalami kerusakan, maka seorang nabi baru akan muncul dengan cahaya Ilahi yang sama dengan yang diberikan kepada para pendahulunya.

Dalam Weda pula rembulan (dan menurut beberapa orang matahari juga) digambarkan sebagai Sahasr shringo vrikhbho yah smudrat udachrat, ‘seekor banteng dengan seribu tanduk yang muncul dari laut’.

Nubuat ini menyajikan suatu tanda-bukti yang terang atas kebenaran Nabi Suci. Rembulan ruhani telah menjadi hitam dan ada kegelapan di seluruh penjuru dunia. Tak ada satu agamapun yang menyinarkan cahayanya yang asli. Di India, orang-orang menyebut rembulan itu sebagai Krisna atau si hitam. Karena itu, pada saat semacam itu, ketika dunia gelap dan murung, Nabi Muhammad muncul seperti matahari dengan seribu pendar dan pancaran cahayanya. Weda berkata bahwa matahari ini akan bersinar selamanya, dia akan terjaga dari kegelapan dan bersinar terang di alam semesta ini demikian agung seperti kuasa yang menang berderap maju di padang. Pada penaklukan Mekkah, Nabi muncul dengan para sahabatnya seperti matahari dengan seribu lidah cahaya, dan dalam kata-kata mantera, dia dengan beraninya meletakkan senjatanya dan memberi maaf serta pengampunan kepada musuhnya yang paling sengit. Hal itu adalah suatu nubuatan yang pantas dicatat, yang digenapi dalam kehidupan Nabi kata demi kata.

Quran Suci juga menyatakan:

“Dan Kami telah membuat malam dan siang sebagai dua pertanda, dan Kami lenyapkan pertanda malam, dan Kami tampakkan pertanda siang, sehingga kamu dapat mencari karunia Tuhan kamu, dan agar kamu tahu bilangan tahun dan perhitungan. Dan Kami menjelaskan segala sesuatu sejelas-jelasnya”.(Q.S.17:12).

Tanda siang adalah matahari dan tanda malam adalah rembulan. Tuhan membuat tanda malam berlalu atau rembulan kehilangan cahaya serta terangnya. Ilmu modern telah menunjukkan bahwa rembulan seperti matahari juga memiliki cahayanya sendiri, tetapi secara perlahan dia mendingin dan menjadi gelap.

Kata-kata dalam al-Quran tidak saja merujuk kepada dunia fisik serta siang hari dan malamnya, melainkan juga dunia ruhani. Pertama, rembulan biasa memberikan cahayanya ke bumi tetapi karena pendinginannya maka dia menjadi gelap sehingga dijadikan pertanda malam hari. Malam di sini berarti kegelapan jahiliyah dan kekafiran, serta berlalunya malam menunjukkan bahwa kebodohan akan lenyap dan cahaya Islam akan menggantikan
tempatnya. Pad berlalunya malam Nabi muncul ke langit dunia seperti matahari yang bersinar sedemikian sehingga dengan cahayanya manusia akan mencari karunia Ilahi.

Rembulan sebagai motto bangsa Arab.

Di negeri Arab sebelum Islam, rembulan adalah lambang nasional dan motto bangsa Arab. Bab dari Quran Suci yang meramalkan berakhirnya kaum Mekkah, juga diberi judul ‘al-Qmar’, ‘Rembulan’, dan dimulai dengan kata-kata:

“Sa’at sudah dekat dan rembulan terbelah” (Q.S. 54:1).

Karena itu, rembulan mewakili kekuasaan bangsa Arab penyembah berhala, dan bahwa dia terbelah dua menunjukkan surutnya kekuasaan itu melalui instrumen Nabi Suci. Peristiwa ini terjadi pada perang Badar. Karena itu, al-Quran telah menggabungkan dua fakta ini, menunjukkan bahwa menjadi gelapnya rembulan sebagaimana digambarkan dalam Weda dan kembali bersinarnya itu sama dengan munculnya Nabi Suci Muhammad dan penyingkiran kekuasaan lawan-lawannya.

Suatu fakta yang aneh bahwa mantera Weda setelah menyebutkan menjadi gelapnya rembulan, lalu berkata “Para pahlawan, aku kirimkan engkau keluar. Pergilah, berjuanglah dalam pertempuran’. Jelas, rupanya seperti tak ada hubungan antara dua fakta ini, tetapi dalam kenyataannya ini adalah suatu bukti lain dari fakta-fakta yang  telah kami ceriterakan di atas. Kaum Muslimin diminta keluar dari kota Medinah dan memerangi orang-orang kafir:

“(Perang) diizinkan kepada orang-orang yang diperangi” (Q.S. 22:39).

Jadi para pahlawan Muslim diminta pergi keluar dan berperang. Mereka diberi julukan ‘pemberani, karena mereka sangat sedikit jumlahnya dan tanpa persediaan yang memadai untuk bertempur  toh bisa mengalahkan kekuatan lawan yang jauh lebih besar dan perkasa. Dalam perang Badar serta peperangan lain yang mengikutinya para sahabat Nabi dengan gagah-berani telah berjuang melawan musuh­musuhnya, dan pada pertempuran yang menentukan, yakni penaklukan Mekkah, beliau sekali lagi menggenapi nubuatan Weda ‘Indra maju dengan sepuluh ribu orang di sekitarnya’. Nabi Suci memiliki sepuluh ribu sahabat bersamanya ketika beliau maju menuju Mekkah dan menaklukkannya. Tetapi beliau tak membunuh lawannya seorangpun, namun, sebagaimana dikatakan Weda, ‘pahlawan yang lembut hati itu meletakkan senjatanya ke samping’. Beliau menaklukkan kota tanpa pertumpahan darah. Fakta sejarah yang benar-benar terjadi ini diperkuat oleh mantera Weda yang hanya benar pada masa Nabi Suci dan tak ada seorang Nabi atau Resi lainpun  yang mengalaminya. Hanya Nabi Islam yang perkasa dan welas-asih yang memenuhi ramalan Weda ini. Kata-kata terakhir dari mantera, ‘Indra, dengan pertolongan Brihaspati (Tuhan dari dunia) menaklukkan suku-suku yang tak bertuhan yang datang melawan dia’, juga cocok untuk Nabi Muhammad, yang dengan pertolongan serta rahmat Ilahi mengalahkan para musuhnya.