MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (15/18)
 

MUHAMMAD DENGAN SEPULUH RIBU SAHABATNYA
(Rig Weda 5:27:1).

“Pemilik wahana, yang tulus dan pencinta kebenaran, sangat bijaksana, gagah-perkasa dan dermawan, Mamah (Muhammad) telah menghadiahi aku dengan kata-katanya. Putera dari Yang Maha-kuasa, memiliki semua asma yang baik-baik, rahmat bagi seluruh alam, telah menjadi tenar dengan sepuluh ribu (sahabatnya)”.

Setiap kata dari nubuatan ini menyatakan kebenaran dari Nabi Suci Muhammad. Beliau adalah penuh ketulusan dan pencinta kebenaran. Dari sejak kecilnya beliau dikenal akan kejujuran dan ketulusannya.

Orang-orang memenggilnya Al-Amin, pemegang amanah atau orang yang terpercaya. Ketika Abu Bakar mengetahui bahwa Muhammad mendakwahkan diri atas kenabiannya, maka dia langsung mempercayainya, karena dia tahu benar bahwa Muhammad itu tak pernah berdusta. Begitu pula, fakta yang tak terhitung jumlahnya yang diriwayatkan dalam kitab-kitab sejarah menunjukkan akan kebijaksanaan Nabi yang luar biasa. Begitu gagah-perkasanya beliau, sehingga selama perang Ahzab, Nabi dengan sekali pukulan palunya, bisa memecahkan batu besar yang orang lain tidak mampu. Beliau begitu dermawan sehingga menghadiahkan segalanya kepada para pengikutnya dan dirinya sendiri tidak punya apa-apa. Apapun juga kekayaan atau rampasan perang datang, langsung dibagikannya ke masyarakat, Nabi sendiri tidak mengambil sedikitpun buat dirinya. “Rahmat bagi semesta alam” adalah julukan khusus dari Nabi Suci, dan begitu pula, beliau adalah satu-satunya Nabi yang terkenal dengan sepuluh ribu sahabatnya.

Semua gelar ini jelas cocok untuk Nabi, tetapi gelar pertama yakni ‘pemilik wahana’ perlu sedikit komentar. Jelas bahwa Nabi tidak memiliki atribut ini, tetapi bila kita mengambil makna yang sejati dari kata ini,kami akan menemukan bahwa ini juga sesuai dengan Nabi Suci. Kata ‘anaswanta’ (pemilik wahana) digunakan pada beberapa peristiwa dalam kitab Hindu. Misalnya, Indra dikatakan menaiki kereta (Rig Weda 1:127:7). Kemudian dia dikatakan memecahkan suatu wahana cakrawala. (38) Begitu pula, matahari itu dikatakan mengendarai wahana yang ditarik oleh kuda, dan anaknya di lahirkan di wahana (Rig Weda 10:85:10). Semua kutipan ini menunjukkan bahwa kata ini digunakan dalam arti kiasan. Ini tidak berarti memuat dalam wahana dalam arti harfiah, Swami Dayanand juga telah menggambarkannya, tetapi ini berarti, yang mulia, terhormat dan berwibawa. Jadi, ‘pemilik wahana’ juga merupakan gelar dari Nabi Muhammad dan, dengan mengambil maknanya yang sesungguhnya, sangat tepat buat dia.

Ka’bah dari kaum Muslim

Atharwa Weda berisi Sukta yang panjang dalam pujian kepada Ka’bah. Namun, agar bisa memahami nubuatan ini dengan jelas, tiga fakta hendaknya di simpan dalam ingatan.

Mantera ini diberi judul sebagai Purush Medha, yang berarti ‘pengurbanan manusia’. Pada masa-masa awal seorang pribadi yang besar dikurbankan, dan mantera ini dibacakan pada peristiwa penyerahan kurban persis untuk mengingat peristiwa itu. ‘Atharwa Resi’ yang di rujuk dalam mantera ini adalah Nabi Ismail. Kami telah memperbincangkan hal ini cukup panjang dalam nubuatan Ibrahim. Menurut penelitian kami, Ibrahim dan Brahmaji adalah dua nama dari pribadi yang sama. Puteranya yang sulung dikenal sebagai Atharwa atau Ismail dan yang lebih muda dinamai Angira atau Ishak. Mantera ini mengacu kepada Ismail yang dikurbankan. Ini adalah suatu perkara nyata, suatu pengurbanan baik bapak maupun puteranya. Puteranya ini dalam usianya yang lanjut adalah satu-satunya harapan Ibrahim, putera keduanya belum dilahirkan sampai terjadinya peristiwa ini. Dengan mengabaikan hal ini, dia memutuskan untuk mengurbankan puteranya, setelah melihat dirinya berbuat demikian dalam rukyah. Karena itu, ini adalah suatu pengurbanan besar baginya di samping pengurbanan puteranya.

Dengan menyimpan fakta-fakta ini dalam ingatan maka arti dari mantera ini akan menjadi lebih jelas:

“Maka setelah dua-duanya berserah diri, dan ia (Ibrahim) menelungkupkan dia di atas dahinya.
Dan Kami menyeru kepadanya: wahai Ibrahim, Sesungguhnya engkau telah memenuhi impian (dikau). Demikianlah Kami mengganjar orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. 37:103-105).

Dalam Atharwa Weda kami dapati: (Atharwa Weda 10:2:26)

“Atharwa menjahit kepala dan hatinya bersama-sama, kesalehan bergerak di dahinya”.

Nabi Ibrahim melihat dalam mimpi bahwa dia mengurbankan puteranya, Ismail. Dia meminta pandangan puteranya akan masalah ini, dan puteranya menjawab: 

“Wahai ayahku! kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau; insya Allah     engkau akan menemukan aku golongan orang yang sabar” (Q.S.37:102).

Jadi, Ismail dengan gembira menaati permintaan ayahnya, dan inilah apa yang dikatakan Weda bahwa Atharwa atau Ismail telah menjahit kepalanya dengan hatinya, dengan perkataan lain, setuju untuk meletakkan kepalanya.
Dalam mantera berikutnya, dikatakan: (Atharwa Weda 10:2:27).

“Kepala Atharwa adalah suatu tempat dimana tinggal para dewa. Ini tertutup dari segala penjuru, hati   dan perlengkapan yang menjaganya”

Tempat dimana Ibrahim mengurbankan puteranya adalah tempat duduk para malaikat dan ruhul kudus. Ini dibentengi dengan baik dan dijaga, sehingga musuh tak akan pernah bisa menaklukkannya. Kata pranah, dalam mantera, berarti malaikat, dengan kepala yang dimaksudkan adalah Ismail dan dengan hati, yang dituju adalah Ibrahim. Semua atribut yang menonjol ini hanya terdapat dalam Ka’bah kaum Muslimin dan tak ada dalam bangunan keagamaan yang lain. Ka’bah adalah tempat dimana para malaikat tinggal dan yang dilindungi dari musuh, tak ada kekuatan yang membencinya yang pernah bisa mengalahkannya, para malaikat dan Tuhanlah penjaganya.

BEBERAPA ATRIBUT LAIN DARI KA’BAH
(Atharwa Weda 10:2:28)

“Apakah itu dibangun tinggi, dindingnya bergaris lurus atau tidak, tetapi Tuhan kelihatan di setiap sudutnya. Dia yang mengenal Rumah Tuhan, akan mengetahuinya karena Tuhan diingat di sana”

Ka’bah itu bukanlah suatu bangunan yang indah atau dihias-hias, - tidak, bahkan ini tidak dibangun dengan metodologi atau ketepatan. Dindingnya tidak paralel satu sama lain. Jika panjang salah satu dindingnya adalah 26 kaki, maka panjang yang satunya lagi 25 kaki dan begitu pula lebarnya yang sebelah 22 kaki dan di sebalah lainnya 20kaki. Ini bukan suatu kuil emas atau perak  tetapi suatu bangunan yang sangat sederhana dari batu-bata biasa; tetapi meskipun demikian ini dianggap suci oleh jutaan orang yang menemukan dalam setiap inci dari bangunan ini manifestasi dari Tuhan serta rahmatnya yang tak terhingga. Tuhan selalu diingat di sini dan dia yang pergi ke Ka’bah merasa benar betapa dekat dia kepada Tuhan. Weda benar ketika menggambarkannya sebagai suatu bangunan tanpa dinding yang lurus tetapi di mana Tuhan terlihat dan dipuja.

Dalam mantera yang berikutnya kita dapati: (Atharwa Weda 10:2:29)

“Dia yang mengenal Rumah Tuhan yang suci ini, yang penuh dengan kehidupan, Tuhan dan Brahma   (Nabi dari Tuhan) menghadiahi dia penglihatan mendalam, kehidupan dan anak-anak”.

Ka’bah dari kaum Muslimin dipenuhi dengan kehidupan ruhani dan menjadi sumber utama spiritualitas. Telah ditulis dalam Taurat Musa bahwa Ibrahim mendapat kabar gembira atas anaknya yang besar dan keturunannya yang banyak. Bahkan hingga kini para pengikut Ibrahim lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan kaum lain. Inilah tepatnya apa yang dikatakan oleh mantera Weda, ‘dia yang menghubungkan dirinya dengan Rumah Tuhan, yakni Ka’bah kaum Muslimin, akan diberi penglihatan mendalam, kehidupan serta keturunan yang besar”.

Mantera yang berikut ini juga memberi makna yang sama: (Atharwa Weda 10:2:30)

“Dia yang mengenal Rumah suci ini, spiritualitas dan penglihatan mendalam tidak akan
meninggalkannya sebelum usia tua, karena Tuhan diingat dalam Rumah ini”.

Bila seseorang sekali telah diberi penglihatan mendalam yang benar dan dia menyusuri jejak-langkah Nabi Suci dan mempelajari apa arti Ka’bah itu, ruhaninya akan meningkat dari hari ke hari dan dia tak akan terpisahkan dari ilham dan petunjuk Ilahi.

SUATU GAMBARAN DARI KA’BAH 

(Atharwa Weda 10:2:31)

“Tempat tinggal para malaikat ini mempunyai delapan lingkaran dan sembilan pintu. Bangunan ini    tak terkalahkan, di sana ada kehidupan abadi di dalamnya dan ini berkilauan dengan cahaya Ilahi”.

Weda telah memberikan gambaran yang benar tentang Ka’bah. Sesungguhnya, Rumah Tuhan mempunyai sembilan pintu. 1 Bab Ibrahim, 2. Bab-al-Vida, 3. Bab-al-Safa, 4 bab Ali, 5. Bab Abbas, 6. Bab al-Nabi, 7. Bab al-Salam, 8. Bab al-Ziarat, 9. Bab al-Haram. Delapan lingkaran adalah garis alami yang mengitari wilayah itu di antara perbukitan yang mengitarinya, namanya adalah: 1. Jabl Khalij, 2. Jabl Kaikan, 3. Jabl Hindi, 4. Jabl Lala, 5. Jabl Kada, 6. Jabl Abu Hadida, 7. Jabl Abi Qabes, 8. Jabl Umar. Lagi, Ka’bah adalah tempat tinggal para malaikat dan tetap selalu tak terkalahkan.

(Atharwa Weda 10:2:32)

“Ruh Yang Unggul yang pantas disembah tinggal di Rumah yang dibangun di atas tiga pilar dan tiga kuda-kuda kayu serta ini adalah pusat dari kehidupan abadi. Manusia ilahiyah mengenal ini baik­baik”. Ka’bah tidak ada berhala ataupun benda obyek sesembahan yang lain. Ini adalah suatu bangunan biasa tegak di atas tiga pilar dengan tiga kuda-kuda kayu di atasnya, namun demikian ini adalah pusat dari kehidupan abadi dan suatu tambang ruhani. Ruh Yang Maha-tinggi terlihat dan terasakan di sini bagi manusia ilahiyah yang memiliki kedalaman penglihatan.

(Atharwa Weda 10:2:33)

“Brahma atau Ibrahim tinggal di hunian ini yang disinari oleh cahaya langit dan diselimuti dengan berkah Ilahi. Ini adalah tempat yang memberi kehidupan (ruhani) kepada orang-orang dan tak bisa ditaklukkan”.

Semua mantera dari Atharwa Weda di atas telah memberi gambaran tentang Ka’bah dan memuji tempat ibadah yang suci ini. Setiap mantera memberi gelar yang baru yang merupakan kualitas karakteristik sejati dari Rumah Tuhan ini. Untuk menyimpulkan seluruh perkara ini, maka Ka’bah adalah suatu memorial yang memperingati suatu pengurbanan yang besar; ini selalu bebas dari pemerintahan, para penghuninya mendapatkan makanan yang berlimpah, dinding-dindingnya tidak dibangun lurus, ini adalah tempat yang penuh dengan kehidupan spiritual, ini memiliki sembilan pintu dan delapan lingkaran, ada tiga pilar dan tiga kuda-kuda di atasnya, dan ini adalah tempat dimana Ibrahim datang dari tanah yang jauh, membuatnya jadi tempat tinggal untuk sementara lalu membangun Rumah Tuhan di sana.

Jadi, mantera-mantera ini tepat sesuai dengan gambaran al-Quran mengenai Ka’bah: 

 

“Sesungguhnya rumah permulaan yang ditetapkan bagi manusia ialah Rumah yang ada di Bakkah, yang diberkahi dan pimpinan bagi sekalian bangsa.  Di dalamnya terdapat tanda bukti yang terang, (yaitu) Tempat Ibrahim; dan barangsiapa    Memasuki itu ia akan aman”. (Q.S. 3:95-96).

 


 38,

Rig Veda 1:126.3, 6:27.8.
Nighantu, III:16, Rigveda, 1:127.10, 6:3.6, 7:63.3, 8:97.11, 9:7.6.
Rig Veda i:123.7, iii:7.1, X:65.8, Athar xx.127.7-10, Aita Br. Vi:32.1.
Altindisches Leban, 131.
Zeitschrift der Deutschen Morgenlandischen Gesellschaff, 42, 237; Buddha, 396.
St. Petersburg Dictionary.
‘Sanskrit Bhashya’ dari Khem Karan memberi dua arti dari kata Parikesit. ‘Sarvat Aishvary Yuktasya’
(memiliki segala jenis atribut dan kekuasaan), dan kedua ‘seorang yang memberikan perlindungan lengkap kepada umat’; Quran Suci juga berkata tentang Nabi Suci sebagai  ‘lemah-lembut terhadap kaum mukmin’
 

(Q.S. 15:88).

Atharva Veda, 20:21.6, Rig Veda, 1:53.6.
Ibid. 2:15.6, 4:30.11, 8:91.7, 10:75.6, 10:38.5.
Yajur Veda 3:35.36:3, Rig Veda, mandal 3, Sukt 62, mantra 10.
Rig Veda 8:4.16. Sam nah shishihi bhurijoriv Khahsvram.
Matius 26:34,75. Lukas 22:24.61, Markus 14:30.72.
Quran Suci 22:47,24. Manu 1:66.73; Farvardin 3:40:2.