MUHAMMAD dalam 'KITAB SUCI HINDU'

 

KEDATANGAN NABI MUHAMMAD DIRAMALKAN DALAM KITAB SUCI HINDU (18/18)
 

KOKOK AYAM JAGO SEBAGAI PENGUMUMAN ATAS KEDATANGAN SIRAJAM MUNIRA

Beberapa peristiwa sesungguhnya menakjubkan dan aneh. Kisah kehidupan lebah dengan ratunya sangat banyak persamaannya dengan kisah hidup dan karya Nabi Suci. Cinta, kesetiaan dan ketaatan yang lebah perlihatkan kepada ratunya, mengandung kemiripan yang dekat dengan kecintaan, kesetiaan serta ketaatan dari para Sahabat kepada Nabi Suci. Pemandangan dan kaca-mata yang aneh ini tidak diketemukan dalam kisah hidup nabi yang lain. Di manapun dalam buku ini saya telah berhubungan dan memperbincangkan topik ini secara rinci, menelusuri ratusan halaman, berdasarkan percobaan dan pengamatan atas orang-orang yang memelihara tawon. Saya telah menunjukkan dalam baris-baris yang telah lalu dengan merujuk kepada teks Alkitab bahwa kokok ayam jago adalah suatu tanda akan datangnya Dia Yang Agung Yang Dijanjikan. Apakah di sana, sesudah itu semuanya, yang mengungkapkan ayam jantan membangunkan di sepertiga malam dan mengingatkan orang-orang? Penyair dunia, menyebutnya seorang pendakwah dari matahari, yakni, dia memberikan kabar gembira atas kedatangan matahari. Ide para penyair itu barangkali tidak membutuhkan suatu penghormatan atau perhatian. Namun tepat ketika Alkitab telah menentukan bahwa saat berkokoknya ayam jago adalah waktu datangnya tuan dari rumah itu, Weda juga , telah mengakui dan membenarkan fakta ini, bahwa kokok ayam jantan adalah berita baik akan datangnya matahari. Seperti halnya mantera 16 dari Adhyay pertama Yajur Weda terbaca sebagai berikut:

Kukkto asi madhu jehva isham urjam avad (Yajur Weda 1: 16). Yakni,

“Engkau adalah ayam jantan dengan lidah manis; yang berkokok bagi kita menyerukan hujan dan benih”. Yakni untuk mengatakan, kokok ayam jago memberikan berita gembira akan saat ketika berkah dari langit akan dicurahkan ke bumi. Petrus yang dikatakan sebagai batu-karang dalam gereja Kristen, telah menolak Yesus tiga kali sebelum ayam jantan berkokok.(41) Ini untuk meramalkan dalam bahasa kiasan bahwa gereja Kristen, dalam tiga dari konferensi keagamaannya, akan mengingkari Yesus, dan membuang ajarannya yang sejati; dan kemudian melanjutkan dengan menolak dan menuduh Nabi Suci Muhammad yang kedatangannya oleh Yesus Kristus yang tidak diragukan lagi adalah seorang penginjil, dan membawa tanda bukti kebahagiaan (Injil) tentang kedatangan Nabi Suci dan pada akhirnya, persis seperti ketika Petrus menangis sedih dan bertaubat, dengan cara yang sama para pengikut Isa Almasih akan menyesal dan bertaubat, serta merubah keimanannya kepada Nabi Suci Muhammad, yang, sesungguhnya, adalah batu-karang dari semua agama di dunia.

Pertanyaan kedua adalah: Bila Sirajam Munira(Matahari Ruhani) itu akan muncul, dan siapakah dia dimana nubuatan ini akan digenapi? Sudah dijelaskan bahwa saat kedatangan Sirajam Munira, menurut Weda dan Alkitab, adalah sebentar sesudah lewat tengah malam, yakni, dia akan memunculkan dirinya pada Malam Yang Agung (Lailat al-Qadr). Namun waat tengah malam ini minta dipertimbangkan dengan hati-hati. Dalam Kitab Wahyu, satu hari itu dihitung dan berarti seribu tahun. Rujukan atas pengaruh ini telah dikutip dari Zend Avesta, Alkitab, Shastra Hindu dan Quran Suci di beberapa tempat dalam buku ini. (42) Nabi dilahirkan pada tahun 561 Masehi. Setelah 40 tahun beliau diangkat dalam kedudukan Sirajam Munira; karena itu, waktunya adalah 611 tahun sesudah Yesus; dan satu-satunya orang, pada saat itu, yang meng­klaim dirinya sebagai seorang nabi, adalah Muhammad s.a.w. Dia adalah laki-laki, yang bangun pada tengah malam, yang memperbarui dirinya ke gua yang gelap dan sempit serta menangis di hadapan Tuhan Yang Maha-tinggi, bermohon dengan sungguh-sungguh atas petunjuk-Nya guna mereformasi seluruh dunia

Pertanyaan ke tiga adalah: Di tempat mana lahir Dia Yang Dijanjikan dari semua agama di dunia? Mantera berikut dari Weda telah dikutip di atas ketika memberikan penjelasan atas Gayatri mantra (Rig Weda 7:96:6):

“Menonjol dengan indah serta montok payudara Saraswati dalam pandangan serta terlihat oleh   semuanya; kami menyeru dan memohon untuk memberi kita anak-anak yang berani serta roti”. Professor Griffith telah menerjemahkannya sebagai berikut: “Semoga kita menyenangi payudara Saraswati yang indah sempurna, yang montok dengan alurnya.   Semoga kita mendapatkan makanan dan keturunan”. (Rig Weda 7:96:6).

Di antara terjemahan kami dan satunya lagi yang diberikan oleh Professor Griffith hanya ada sedikit perbedaan; tetapi arti dan pesan keduanya sama. Suatu permohonan ditujukan kepada dada Saraswati, yang montok dengan susu, agar menganugerahkan kepada kita susu ruhani dan putera yang berani. Dalam Quran Suci, ini disebut Umm-al-Qura, yakni, ibu dari semua kota dan bangsa di dunia, yang mengairi dengan susu dari keesaan Ilahi serta kenabian. Dada yang montok penuh susu ini sedemikian besar dan lebar sehingga Weda berkata bahwa ini adalah Vishv darashtah, yakni, bisa ditangkap dan di pandang oleh seluruh dunia. Duduk di pangkuannya, segenap bangsa di dunia menyusu di dadanya, dan dia tidak menolaknya, memberikan susu kepada setiap orang di dunia, baik Arya maupun Sudra, entah putih ataukah berwarna, baik Timur maupun Barat. Betapapun, istilah sarasvatah perlu dengan hati-hati dipertimbangkan. Ini berarti sumber dari semua sungai dan mata-air yang merupakan arti yang tepat dan benar dari istilah Arab Quran. Qura berarti reservoir atau persediaan air bawah-tanah dari mana mengalir dan berkumpul semua air dari aliran serta mata-air sekitarnya. Istilah Sanskrit sarasvatah dan istilah al-Quran dalam bahasa Arab, jelas serupa, menunjukkan kenyataan bahwa dalam al-Quran wahy atau wahyu dari semua aliran keruhanian (Kitab-kitab Wahyu) itu telah dikumpulkan dan disusun.

RESUME

Gayatri itu summum bonum dari agama Hindu, dan inti-sari Weda sehingga tanpa itu seorang Hindu tidak bisa disebut seorang Hindu. Tetapi  para pandit mengemukakan, berdasarkan tata-bahasa Sanskerta, bahwa artinya tidak terjangkau.
Maka mereka menambahkan kepada teks aslinya empat kata, Om, Bhur, bhuvah, svaha, untuk
membuatnya bisa difahami. Kata-kata ini tidak terdapat dalam Rig Weda 3:62.10 dan dalam Yajur Weda 3:35 serta tidak ada ‘OM’ dalam Yajur Weda 36:3.
Gayatri, ketika dibalik, menjadi tri-gay yang kenyataannya adalah istilah Arab Tariq, yang berari “Dia Yang datang di waktu malam” dan ini di dalam Quran Suci, adalah nama dari Nabi Suci Muhammad.
Karena Savita itu adalah nama Matahari yang nampak pada tengah malam, karena itu ini tidak dapat diartikan sebagai matahari yang terbit di pagi hari; ini adalah matahari ruhani yang muncul pada saat kegelapan spiritual. Istilah Gayatri yang adakah tri-gay atau Tariq, dan Savita, matahari yang muncul pada waktu malam, keduanya saling memperkuat dan membenarkan satu sama lain.
Setelah Savita, datang istilah Varenyam yang, ketika dibalik, menjadi Munira dan Sirajam Munira adalah gelar dari Nabi Suci Muhammad.
Lalu, kita menemukan istilah bhargo, istilah Sanskrit yang dalam kata Arab adalah barokah yang berarti diberkati dan suci, serta, sekali lagi, adalah satu sifat dari Nabi Suci.

Savita adalah yang mengalirkan gerak serta membangkitkan kehidupan, yang adalah gelar lain dari Nabi Suci. Tentang beliau dikatakan dalam Quran Suci:

“Ia (Nabi Suci) mengajak kamu kepada apa yang memberi hidup kepada kamu”(Q.S. 9:24).

Dia disebut devta; Pangeran dari para dewa; yang paling suci dari orang-orang suci; yang  menjamin dan membenarkan kesucian dari semua nabi di dunia.
Dia yang membersihkan seluruh bangsa di dunia dari segala macam syirik, menegakkan mereka dengan teguh di batu-karang Keesaan Ilahi. Guru yang bijaksana, yang menarik dunia dari kutukan penyembahan berhala; penyembahan bintang, matahari, mengajarkan kepada mereka ilmu yang luhur serta merubah keimanan mereka sepenuhnya kepada Tuhan Yang Esa dan Sejati.
Baik Weda maupun Alkitab telah mengumumkan saat kedatangan Dia yang Dijanjikan dari segenap agama di dunia, yang akan berlangsung segera setelah tengah malam.
Resi Weda dan pengemban Injil, Yesus Kristus, telah mengkomunikasikan saat ini kepada dunia, tidak berdasarkan konsultasi bersama, melainkan setelah menerima wahyu dari Tuhan Yang Maha-tinggi.
Weda dan Alkitab keduanya menyatakan kepada kita bahwa kokok dari ayam jantan adalah kabar gembira atas kedatangan Sirajam Munira ruhani itu.
Kedatangan Nabi Suci disebut Lailat al-Qadr di mana para malaikat dan ruh (yakni, kata Ilahi) akan turun hingga terbitnya waktu fajar pagi.
Setelah Yesus, pada habisnya tengah malam, yakni, setelah 611 tahun (satu hari berarti 1000 tahun), adalah saat yang diperkirakan dari datangnya Sirajam Munira.
Dalam Weda, Sarasvatah adalah aliran air dari mana dunia akan memperoleh suatu pancuran yang sangat besar dari susu spiritual. Tidak ada sungai Sarasvati di India. Ini hanya ada dalam khayalan para pandit.
Sesungguhnya Sarasvatah adalah sungai atau aliran dari mana terjun ke semua sungai di dunia. Dan ini adalah Quran Suci dimana Wahyu Ilahi dari segala bangsa dan agama telah dikumpulkan. Istilah Sarasvatah dan Quran, menurut leksikon, telah memiliki arti yang sama, yakni, dimana berkumpul air dari segenap hujan samawi. Dalam bahasa Arab, qara berarti persediaan air di bawah tanah, dan Quran berarti di mana terkumpul air dari segenap sungai.
Dari Sarasvatah ini Weda telah menyatakan suatu kualitas yang menonjol, Vishv darshtah, yakni, terlihat dan tertangkap oleh seluruh dunia. Tetapi sungai Sarasvati tidak kelihatan dan tertangkap oleh seorangpun.
Dalam kebaikannya, dalam Gayatri, induk dari Weda, ada pujian dan kabar gembira akan Sirajam Munira yang akan datang pada waktu malam, yakni ketika dunia dan bangsa-bangsa sedang meluncur dalam kegelapan. Dia datang pada waktu malam, dan membawa bersamanya suatu perbendaharaan yang sangat berharga yakni susu yang merupakan inti-sari dari semua Kitab Wahyu di dunia - Weda, Taurat, Zend Avesta dan Injil; yang mengungkapkan pelajaran yang demikian luhur tentang Keesaan Ilahi dan kenabian yang mencocokkan kaum Arya dan Israil kedalam persaudaraan yang hangat, dan yang mempersatukan seluruh agama di dunia ke dalam satu ikatan bersama. Dan ini, sebenarnya, adalah cahaya dari Sirajam Munira (Matahari Ruhani) yang mengusir dan menghilangkan segala jenis kegelapan;
Gayatri yang mempertajam penalaran manusia, dan menyucikan ras manusia dari kotoran serta karat dari saling memarahi dan bertengkar.

(Atharwa Weda 20:127:4)

 


 41, 42

Matius 26:34,75. Lukas 22:24.61, Markus 14:30.72.
Quran Suci 22:47,24. Manu 1:66.73; Farvardin 3:40:2.