BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

ADEGAN KE LIMA DALAM KARAKTER BUDDHISTIS

Riwayat hidup Buddha mengungkapkan anekdot menyedihkan tentang perpisahannya dengan yang akrab dan yang paling dicintai, sekali untuk selamanya. Perkawinan adalah suatu ikatan keagamaan dan hukum di antara suami dengan isteri. Jika tidak ada kesalahan, maka pembatalan atas perjanjian ini jelas diluar hukum. Sikap mental Buddha berubah. Dia meninggalkan kehidupan duniawi dan menjalani kerahiban, namun isteri dan anaknya tidak ada hal yang salah sehingga ditinggalkan. Tak ada bangsa yang bisa bertahan dengan mengikuti jejak langkah Buddha ini. Betapa pun, kaum Buddhis harus menikah, meskipun bertentangan dengan teladan yang digelar oleh Buddha dan harus berkumpul dengan para isteri dan anak-anaknya hingga akhir hayatnya. Di sini tidak ada analogi antara Buddha dan Nabi Muhammad. Memang, perpisahan sementara harus diikuti oleh orang yang tulus dalam mengabdi kepada Tuhan. Tetapi Nabi Muhammad juga hidup di tengah isteri dan anak-anaknya, menyampaikan risalah tentang cinta Ilahi, yang, sesungguhnya, adalah pelajaran yang paling bisa dipraktikkan oleh manusia. Contoh yang dilakukan oleh Buddha semasa hidupnya sendiri kelihatannya tidak bisa dipraktikkan bagi umat secara umum. Sebaliknya, karakter ideal dari Nabi Muhammad bisa diikuti oleh semua orang. Meskipun hidupnya menunjukkan sekilas perpisahannya dengan isteri dan anak-anaknya, di kala minum sedalam-dalamnya saat memuja dan menyembah Tuhannya. Menurut suatu riwayat,  beliau langsung meninggalkan isterinya seketika setelah mendengar panggilan salat. Ini bukanlah suatu tugas yang mudah, hanya ahli jiwa yang bisa menghayati arti pentingnya. Seorang laki-laki yang sedang bercengkerama dengan isterinya, menikmati keakraban pasangan yang lembut penuh daya tarik dengan penuh canda dan tawa, harus menarik diri mendengar panggilan. Ikatan cinta terputus di kala mendengar seruan . Beliau mengabdikan diri sepenuhnya kepada panggilan dan Tuhan. Ini adalah saat dimana beliau bangkit untuk berubah demi mengungkapkan kecintaanya kepada Tuhan, dan seketika melepaskan seluruh kesenangan duniawi, dan menghadap Tuhan lima kali sehari. Dalam berbuat demikian, beliau bersabda:

“Sesungguhnya memang ada kecintaan dan kehangatan kepada isteri dan anak-anak, tetapi ketenteraman hati itu terletak dalam pengabdian kepada Tuhan”. Adalah kilatan kecintaan kepada Tuhan ini yang mendorongnya dari isterinya bahkan di waktu malam hari. Sebagai hasilnya, beliau selalu ditemukan bersujud di hadapan Tuhan bahkan sebelum tengah malam.

Seorang laki-laki yang menyelinap pergi dari keluarganya, ke dalam pengasingan di rimba, tidak dapat mencapai ketinggian tempat berpijak seperti ini yang penuh pujaan setiap hari.

PELAJARAN KEENAM DARI KARAKTER BUDDHA

Upacara agama dan segala jenis sembahyang yang tidak ada pengaruhnya terhadap kehidupan moral dan spiritual bagi manusia itu tidak ada gunanya. Mereka yang dalam pencarian terhadap kebebasan abadi serta puncak kebenaran harus menjaga diri mereka terhadap nafsu mementingkan diri sendiri dan emosi pribadi. Sesuai dengan itu, Buddha berkata:

“Bukannya kebajikan orang lain, atau dosa mereka atas apa yang diperbuat dan tidak diperbuat, tetapi  adalah perbuatan salahnya sendiri serta kelalaiaannya yang harus diperhatikan oleh orang yang bijak.  Bagaikan sekuntum bunga yang indah, penuh warna-warni tetapi tanpa  harumnya, memang bagus  tetapi tak berbuah; begitulah kata-kata dari dia yang tidak diikuti dengan perbuatan yang sama”.

Menurut Nabi Muhammad dan al-Quran, menjaga diri dari kejahatan atau menyelamatkan diri dari dosa adalah tujuan utama dari ibadah. Al-Quran berkata:

 

“Sesungguhnya salat itu menjaga (diri) seseorang dari perbuatan keji dan munkar” (Q.S. 29:45).

 

Seperti dalam perintah untuk berpuasa dikatakan:

 

“Wahai orang yang beriman, puasa diwajibkan kepadamu, sebagaimana diwajibkan kepada orang­orang sebelum kamu, supaya kamu bisa menjaga diri dari kejahatan” (Q.S. 2:183).

 

Seorang yang  beribadah kepada Tuhan demi keserakahan atau kekikiran telah dirujuk dalam ayat ini:

“Tahukan engkau orang yang mengambil keinginan rendahnya sebagai tuhan?” (Q.S. 25:43)

Tidak hanya sekedar menyembah patung yang dikutuk, melainkan juga mengikuti hawa-nafsunya dengan membabi-buta, sama juga, terkutuk.

Banyak orang yang menganggap dirinya hamba Tuhan Yang Esa sesungguhnya menundukkan diri dalam penyerahan kepada berhala mereka yang terbesar, yakni hawa nafsunya. Nabi Muhammad dari buaian hingga ke liang kubur melewati keadaan yang sulit, suatu kesulitan yang jarang bisa ditemui dalam kehidupan seorang yang sendirian. Keadaan yatim piatu adalah kondisi yang sangat tidak berdaya, sedangkan mengemban tugas sebagai raja adalah puncak dari kekuasaan. Dari seorang yang yatim piatu, dia merambat naik ke puncak kemuliaan kerajaan, tetapi dia tidak membawa sedikitpun perubahan dalam cara hidupnya. Dia hidup persis sama sederhananya dalam jenis makanannya, sama sederhananya dalam berpakaian serta dalam segala hal yang khusus dia menjalani hidup yang sama sederhananya dengan ketika dia menjalani hidupnya dalam keadaan yatim-piatu. Meskipun dia penguasa dari Negara, perabot rumahnya terdiri dari satu hambal yang kasar dari daun kurma sebagai tempat tidurnya dan satu bejana air dari tanah. Dia tidak malu-malu untuk bekerja, dia menjahit sepatunya dan menambal pakaiannya sendiri.

Ketika masjid Madinah sedang dibangun, beliau bekerja seperti pekerja yang lain. Ini adalah adegan pertapa dari segala keinginan duniawi dan keserakahan, yang tersisih dari kehidupan Nabi Muhammad.

Buddha, juga menganggap keserakahan duniawi itu sebagai menipu, menjauh darinya berarti menuntun kepada keselamatan akhir.

Quran Suci mengatakan: 

“Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia; tetapi sesuatu yang kekal, (yakni) perbuatan baik, itu menurut Tuhan dikau baik sekali ganjarannya, dan baik sekali harapannya” (Q.S. 18:46).

Jadi Quran Suci tidak mengajarkan doa untuk memohon emas yang tak terbatas, kekayaan atau panjang umur, seperti yang kita temui dalam Weda.

Sebaliknya, Quran Suci mengajarkan semacam permohonan untuk membantu seseorang agar bisa mencapai tingkat tertinggi dari ketulusan, kebebasan dari dosa, serta kebaikan.

ANEKDOT KE TUJUH

Keselamatan (nirwana) adalah tingkat kesucian seseorang dimana dikenal sebagai kedamaian dan ketenteraman jiwa. Menghilangkan benturan kecil-kecilan dalam kehidupan dan mengurbankan segalanya untuk memperoleh kedamaian abadi adalah sesuatu yang sulit dipikul. Hingga keinginan nafsu rendah, sebagai suatu akibat dari keserakahan dan kekikiran, dihapuskan dari dalam, maka tak seorangpun dapat selamat dari api neraka. Quran Suci, dalam mendiskusikan berbagai tahap dari jiwa manusia telah berbicara mengenai ketenteraman dan kedamaian jiwa:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhan dikau, dengan perasaan ridla, amat memuaskan   di hati. Masuklah di antara hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke Taman-Ku” (Q.S. 89:27-30).

Menurut fraseologi Buddhis status ini disebut kedamaian sempurna, ketulusan, harmoni, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Buddha telah meramalkan kedatangan seorang Buddha seperti dia, karena itu, dianggap cocok untuk menunjukkan beberapa persamaan di antara Buddha dengan Nabi Muhammad.