BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

KITAB SUCI AGAMA BUDDHA

“Maka celaka sekali orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka, lalu berkata: Ini dari Allah”.  (Q.S. 2:79).

Adalah suatu fakta yang dikenal umum bahwa Buddha tidak meninggalkan kitab atau naskah suci
sesudahnya. Seperti ditulis Ward:

“Buddha (seperti juga Yesus) tidak meninggalkan karya tulis sepeninggalnya, tetapi segera sesudah kematiannya, menurut tradisi Buddhistis ortodoks, suatu konsili besar dari 500 rahib datang bersama-sama di Rajagaha dan Upali dan Ananda  mengulangi masing-masing Vinya dan Dhamma…. tak disebutkan di sini pembuatan Abhi Dhamma divisi ke tiga yang, bersama Vinya dan Dhamma, melengkapi kanon Buddhis” (Ward, “Outline of Buddhism”, halaman 15). 
Ini terjadi demikian  meskipun apa yang dinasihatkan Buddha kepada para muridnya adalah:
Pelajarilah apa yang telah dikatakan, peganglah erat-erat, dan hayatilah dia” (Majjihma, 3:199)”.

Meskipun demikian penganut Buddhis percaya bahwa para murid Buddha telah menghafal dalam ingatan apa yang dikatakannya, dan sebelum ajarannya ditulis mereka adalah para perawi yang jujur.

Meskipun para muridnya gagal untuk menghafal semua kata-katanya, pastilah mereka ingat akan
maknanya. Namun dalam waktu singkat riwayat ini mengalami banyak perubahan.
Rhys Davids menulis tentang hal ini:

“Selanjutnya, fakta bahwa ajaran ini tidak disimpan dalam tulisan hingga berabad-abad setelah     wafatnya sang guru, teatpi terdapat hanya dalam tradisi lisan, membuatnya sangat sulit untuk     menentukan yang manakah ajarannya yang asli itu. Tetapi tidak ada disebutkan dalam Pitaka     orang-orang yang mengulanginya itu” (Rhys Davids, “Sakia” hal.360, 384, 389).

”Dalam seluruh Pitaka ada elemen dari ajaran yang sangat awal bercampur dengan hal-hal yang jelas masuk dari abad-abad belakangan….Tetapi kata-kata dari Buddha telah turun kepada kita dalam bahasa Pali, dan dalam bentuk  bahasa Pali yang sempurna, yang barangkali bahkan belum ada ketika saat inskripsi Asoka dibuat. Jadi kata-kata Buddha dalam Teks bahasa Pali adalah terjemahan dari bahasa lain serta ungkapan yang biasa dipergunakannya”. (Rhys Davids, “Outline of Buddhism” hal. 20).

Untuk koreksi dari kitab-kitab ini konsili yang sewaktu-waktu diadakan tidak ada gunanya akibat terpecahnya peringkat umat Buddha yang menimbulkan timbulnya pelbagai sekte dan usulan agar diterbitkan kitab yang terpisah serta berbeda. Di zaman modern, agama Buddha dianggap terdiri dari tiga bagian. Dalam terminologi keagamaan tiga bagian ini digambarkan sebagai tiga Keranjang (Tripitaka) nama-nama mereka adalah:

1. Vinya Pitaka,
2. Sutta Pitaka,
3. Abhidhamma Pitaka.

Sebagian dari yang kedua dari ini, Sutta Pitaka, dikenal sebagai Dhamma Pada. Kitab suci ini ditulis dalam bahasa Pali. Sejarah menceriterakan kepada kita bahwa bahasa yang digunakan Buddha tidak sampai kepada kita. Bahasa Pali itu datang belakangan; dan ini tidak pernah jadi bahasa lisan maupun tertulis pada saat pilar-pilar Ashoka diukir dengan ajaran serta doktrin Buddha. Maka kaum Buddhis mengakui bahwa kata-kata asli dari Buddha tidak pernah sampai kepada mereka tanpa perubahan. Seorang otoritas tentang keaslian seperti Mrs. Rhys Davids menulis:

“Dalam Pitaka Buddha tidak terdapat penyebutan seorangpun dari orang-orang yang menghafal  Pitaka dalam ingatan atau semacam yang mengulang-ulangi”.

Kitab-kitab suci yang ada kini tidak pernah disetujui sebagai yang otentik secara keseluruhan oleh umat Buddhis permulaan. Dalam konsili Rajgaha, seorang Eklesias seperti Puran menolak bersetuju terhadap otentisitas dari kitab itu sebagai yang asli. Puran sebaliknya lebih menyukai copynya sendiri. (4)

SEKTE SEKTE BUDDHA

Ada dua sekte besar di antara kaum Buddhis; 1. Mahayana, dan 2. Hinayana. Dikatakan bahwa yang pertama itu sangat jauh dari ajaran asli Buddha. Menurut Pali Pitaka Mahayana adalah khayalan yang tak berdasar dan sudah dirubah-rubah. Umat yang termasuk dalam sekte ini percaya bahwa Buddha bukanlah suatu entitas manusiawi. Mereka lebih mempercayai dia sebagai manusia super.

“Sakya Muni tidak pernah berinkarnasi di dunia; dia hanya menurunkan bayangannya dan Buddha sendiri adalah Tuhan Yang Maha-kuasa, abadi dan hidup selamanya”. (3)

Sebaliknya sekte Hinayana tidak mempercayai Tuhan dan wahyu-Nya (“Buddhism” oleh Bhikku Narada). Dia selanjutnya menulis bahwa Buddha adalah seorang manusia. Dia dilahirkan, hidup dan meninggal, dan seterusnya. Buddha sendiri telah mengumumkan:

“Menggantungkan keselamatan kepada yang lain itu negatif tetapi menggantungkan kepada diri sendiri itu positif”. Lagi, diriwayatkan dia telah berkata: “Jadilah kepulauan dirimu sendiri, dan jadilah pelabuhanmu sendiri.  Janganlah mencari perlindungan di bawah orang lain” (Parinibhan Sutta).

Sebagai kenyataan, bahasa Pali dimana Kitab-kitab suci ini ditulis, adalah penanggung-jawab tunggal dari terciptanya sekte-sekte di kalangan Buddhis ini. Tata-bahasa Pali adalah begitu membingungkan sehingga setiap cendikiawan bisa meramunya sesuai dengan pandanagannya sendiri. Untuk merinci dan membetulkan ajaran Buddha serta merawatnya dari perubahan maka tiga konsili berturutan dalam masa satu abad telah diselenggarakan. Namun adalah suatu kenyataan yang diakui bahwa kitab-kitab suci ini ditulis jauh belakangan sesudah Buddha. Keith berkata bahwa Sutta Pitaka ditulis 200 tahun sesudah Ashoka wafat dan satu dari seksinya dilengkapi pada abad kedua Masehi. (5) Sekte Buddhis yang berbeda-beda menarik otoritasnya untuk kepercayaannya masing-masing dari berbagai kitab serta naskah suci. Setiap sekte mempercayai bahwa naskahnyalah  yang paling otentik. Tetapi pakar penyusun “Sacred Books of the east” menulis:

“Seluruh MSS India secara perbandingan adalah modern dan seseorang barangkali telah menyerahkan  lebih banyak MSS India daripada yang lain. Mr. A.Burnel, belakangan telah mengungkapkan  keyakinannya bahwa tak ada MS yang ditulis seribu tahun yang lalu yang masih ada di India, dan  adalah nyaris mustahil untuk menemukan satu yang ditulis limaratus tahun yang lalu, karena  sebagian besar MSS yang meng-klaim berasal dari masa itu adalah hanya copy dari MSS yang tua  dimana tanggalnya juga diulangi lagi oleh yang meng-copy”.  (“Sacred Books of the East”, jilid 10 halaman 29).

Tiga konsili yang dilangsungkan dengan sukses setelah setiap abad telah mengeluarkan fatwa bahwa telah terjadi penambahan dan penghapusan dari Kitab-kitab suci tersebut.
Beberapa bagian dari Pitaka telah ditambahkan kepadanya setelah konvensi ke tiga pada 242 s.M. (6)

Buddha dikatakan telah mengumumkan, bahwa: “Sepeninggalku lima perkara akan hilang berturutan”. Dari sini, satu dari ajarannya akan hilang, karena itu kaum Buddhis percaya bahwa saatnya akan tiba dimana seorang Raja Buddhis akan mengumumkan bahwa barangsiapa ingat akan empat baris ajarannya maka dia akan mendapat hadiah seribu keping perak dalam peti emas di punggung seekor gajah. Namun tak seorang pun di kota bisa memenangkan piala itu bahkan setelah itu diumumkan berulang-kali.

Dalam sebuah buku berjudul, “What is Buddhism” yang baru-baru ini diterbitkan oleh Buddhi Mission London (pada halaman 176) dinyatakan: Tanya: Tetapi apakah anda bahkan tidak menganggap kitab suci anda sendiri itu sebagai bisa dipercaya?

Jawab: “Sudah pasti tidak. Kecenderungan dari penelitian modern itu menunjukkan bahwa kitab suci Buddhis, sebagaimana Alkitab Kristen terdiri dari penulisan yang bermacam ragam, disusun oleh pengarang yang berlainan dalam abad yang berbeda-beda, jadi tak satupun, atau satu bagian darinya bisa dipercaya sebagai kata-kata pribadi Yang Tercerahkan sendiri”.

 


 
3.
4.
5.
6.