BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

BUDDHA SEBAGAI PEMBAHARU AGAMA WEDA

Umumnya dianggap bahwa Buddha itu tidak percaya kepada Tuhan ataupun dalam jiwa dan bahwa penolakannya atas adanya jiwa terdapat dalam “Vishudhi mag” (Bab 16).

Tetapi para filsuf Buddha tidak pernah berhasil dalam memecahkan masalah ini. Mereka menduga bahwa ada nasib buruk; ada perbuatan jahat, tetapi bukan pelakunya; ada keselamatan, tetapi bukan pencarinya; ada jalan tetapi tak seorangpun mengikutinya. Dengan perkataan lain, ada kesusahan, penderitaan, amal dan keselamatan, tetapi jiwa yang merasakan itu semua tidak ada. Perbuatan terjadi tanpa pelaku, yakni jiwa. Kebenaran dan keselamatan ada dan harus dicapai, tetapi yang meraih tujuan ini bukanlah suatu entitas atau benda substantif. Bagaimana bisa Buddha tidak mempercayai perasaan masing-masing orang dan kepercayaan umum dari semua agama. Sebagai fakta, penolakan terhadap jiwa dan Tuhan sebagai bagian dari Buddha adalah sama nilainya dengan mengingkari konsepsi Tuhan dan jiwa dalam agama Hindu. Dalam agama Weda jiwa itu dianggap sebagai kepingan Tuhan dan tak berubah serta segala sesuatu dipercaya sebagai Tuhan.

Di mata kaum Brahmana, Buddha adalah seorang ateis. Kini beberapa aliran filosofi Buddha juga bersifat ateis, tetapi apakah Gautama Sakyamuni Buddha sendiri seorang ateis itu sangat diragukan dan penolakannya terhadap dewa-dewi yang populer pasti tidak menjadikannya demikian.

Dalam inskripsi Rupnath (221 s.M.) Ashoka berjasa dengan mengatakan bahwa dewa-dewi yang sepanjang masa ini dipandang benar dalam Jambudvipa tidak boleh ditolak. (7)

Di mata para hakim Athena Socrates adalah seorang ateis, meskipun dia bahkan tak pernah menolak dewa-dewi Yunani, tetapi sekedar meng-klaim haknya untuk mempercayai sesuatu.

Buddha tidak percaya akan konsepsi jiwa dan Tuhan yang seperti ini. Menurutnya, jiwa itu lebih bisa berubah daripada jasad material dan dia hidup serta mati di setiap saat. Ini seperti suatu kaleidoscope. Ketika dia terpecah, maka berbagai bentuk dan gambar yang tak terhitung terlihat di dalamnya. Suatu gambar, sekali dibuat di dalamnya, tak akan pernah terlihat lagi, tidak peduli betapa sering anda memutarnya. Maka jiwa kini dan fikiran dan yang di masa depan tidak dapat seperti yang lama. Nama serta gambar-gambar itu semuanya variabel yang selalu menjalani perubahan setiap saat.

Buddha juga membuang doktrin inkarnasi dimana manusia dan binatang dipercaya sebagai Tuhan. Karena inilah maka disangka bahwa Buddha itu mengingkari adanya Tuhan dan jiwa. Sesungguhnya ini bukannya pengingkaran tetapi suatu penolakan terhadap kepercayaan Weda bahwa segalanya itu Tuhan dan dia ber- inkarnasi dalam segala sesuatu dan bahwa jiwa itu subyek yang bisa dipindah-pindahkan.

Di samping ini Buddha menentang upacara penyerahan kurban bakaran, yang berarti bahwa seseorang itu bisa mencapai tujuan duniawi maupun agamawi dengan hanya sekedar menyerahkan kurban ini di hadapan Tuhan tanpa berbuat kebajikan sedikitpun. Dengan kepercayaan semacam ini dalam pandangan, maka kaum Hindu ingin menenangkan dewa-dewi.
Buddha mengangkat suara melawan upacara barbar ini dan menentang ide ini dengan sangat keras.

Buddha tidak percaya kepada ajaran Weda yang tidak masuk akal begitu juga asal-usulnya yang Ilahiyah. Catatannya sendiri tentang Weda adalah bahwa karena sejarah dan saat dikumpulkannya Weda itu salah dan mereka jauh dari perasaan serta tanda-bukti Ilahi, maka mereka tidak mungkin merupakan sabda Ilahi (Buddha Shastra Adhyay 2 Sutar 1).

Weda ini mencurigakan dan jauh dari kebenaran, adalah seperti rumput-rumputan, langka dari semua kenyataan, nilai atau kebenaran.(8) Buddha melawan pengurbanan Weda, dan mengumumkan dengan tegas bahwa ajaran Weda itu tiada lain kecuali tidak masuk akal dan pembodohan (“Buddha” oleh Oldenberg, hal. 172). Dan lagi: dengan membaca Weda, memberi hadiah kepada pendeta, berkurban untuk dewata, dan praktek yang lama serta latihan ibadah lainnya tidak bisa menyucikan seseorang atau mengeluarkan dia dari takhayul. (9) Tetapi Buddha tidak bisa dipersalahkan akan penolakan ini, bahkan Dayananda menulis dalam Satyarth Prakash:

“Melihat perbuatan jahat dari Popes (pendeta Hindu) ini, Buddhisme dan Jainisme yang sangat marah membunyikan lonceng kematian terhadap kitab-kitab agama Hindu serta Weda” (“Satyarth Prakash” bab 11).

BUDDHISME DAN UTUSAN YANG MEMBENARKAN

Quran Suci telah membenarkan banyak prinsip agama Buddha. Doktrin pertumbuhan berangsur-angsur baik fisik maupun segi spiritual dan kemungkinan perubahan jiwa serta penolakan atas asal-usul diakui adalah merupakan prinsip Islam. Quran Suci mengatakan:

“Dan mereka bertanya kepada engkau tentang Ruh. Katakanlah: Ruh itu dari perintah Tuhanku, dan  kamu tak diberi ilmu (tentang itu)  kecuali hanya sedikit” (Q.S. 17:85).

Tiga hal perlu dipertimbangkan dalam ayat ini:
Ruh itu adalah perintah.
Ini adalah perintah Tuhan (Rabb).
Ruh itu ilmu.

Arti pertama bahwa ruh adalah perintah, yang datang mewujud oleh perintah Tuhan dan ada dengan perintah Ilahi. Arti kedua yalah bahwa ini merupakan perintah Tuhan (Rabb). Istilah Arab ‘Rabb’ berarti Dia yang menciptakan sesuatu dan secara berangsur membuatnya maju dan ber-evolusi setelah melalui bermacam tahapan. Ketiga, Buddha mengambil ruh sebagai ilmu. Maka Nabi Suci dan Buddha saling membenarkan dalam konsepsi mereka tentang ruh. Tidak hanya Buddha, melainkan juga semua Nabiyullah menentang filosofi Hindu ini berhadapan mata dengan mata dalam kepercayaan ini.

Klaim Buddha adalah bahwa dia seorang guru perbaikan moral serta perbuatan baik. Dia percaya bahwa tujuan ini tidak dapat dicapai dengan pengurbanan binatang  dan melakukan upacara atau resital puji-pujian. Dan bahwa tak seorang pendeta atau pandit pun yang dapat menjadi perantara dosa dari umat manusia. Sebaliknya, dia percaya bahwa setiap individu itu memanggul salibnya sendiri. Dan ini sungguh seirama dengan semangat Islam.

Klaim Buddha sebagai pembaharu dari ajaran Weda sesuai dengan konsepsi Islam, bahwa di saat
kesalahan merayap kedalam dasar-dasar suatu agama, maka seorang pembaharu harus datang untuk membetulkannya. Buddha juga telah dipersalahkan karena mengkonsumsi babi. Tetapi kita dapati dalam istilah eksplisit di “Outline of Buddhism” beberapa pakar modern menyatakan bahwa Gautama tidak makan babi. (10) tetapi semacam umbi yang sangat digemari oleh babi.

Kitab agama Buddha hanya berceritera banyak tentang hal ini, bahwa Buddha meninggal seperti “Shushk”. Shushk berarti ‘kering’, Sukar mardva berarti ‘selembut daging seekor babi, dan nama ini diberikan untuk umbi-umbian itu’.
 

 


 
7.
8.
9.
10.