BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

RAHMAT KEPADA SELURUH BANGSA BANGSA SUATU NUBUATAN YANG TERKENAL DARI BUDDHA

Buddha telah meramalkan kedatangan seorang “Maitreya” dan nubuatan itu begitu tenar sehingga beberapa misionaris Kristen, pandit Hindu dan propagandis Teosofi telah berusaha menerapkannya kepada pembaharunya masing-masing. Ini mendorong kepada keotentikan dari nubuatan tersebut.

Meskipun kaum Kristen tidak percaya kepada kenabian Buddha, mereka juga berusaha untuk menisbahkan ramalan ini kepada Kristus. Pundit Hindu mengira bahwa ini adalah ramalan untuk Shankara Acharya, dan kaum Teosofi mencoba sebisa  mungkin untuk menggunakannya bagi seorang Krisna Murti; tetapi mereka semua telah gagal dalam tanda-tandanya.

Nyaris semua kitab Buddhis berisi nubuatan ini.

Dalam Chakkavatti Sinhnad Suttanta (D III:76):

“Akan muncul di dunia seorang Buddha bernama Maitreya (seorang yang pemurah dan pengasih). Seorang yang suci, seorang yang utama, seorang yang tercerahkan, diberkahi dengan kebijaksanaan dalam tingkah-lakunya, beruntung, mengenal alam semesta; manusia pengendara yang tak tertandingi dari orang-orang yang dijinakkan hatinya, tuan dari para malaikat dan manusia, Buddha yang diberkahi bahkan seperti saya yang sekarang dibangkitkan di dunia, seorang Buddha yang dianugerahi dengan kualitas yang sama seperti ini. Apa yang disadarinya berkat ilmu supernatural­nya sendiri, akan disiarkannya ke alam semesta ini, dengan para malaikatnya, sahabatnya, dan kepala malaikat serta ras ahli filsafat dan Brahmin, pangeran dan awam, bahkan seperti saya sekarang, setelah mengenal semua pengetahuan ini, menerbitkan yang sama bagi sesama. Dia akan mengajarkan agamanya, terpuji asal-usulnya, terpuji pada puncaknya, terpuji pada tujuannya, dalam semangat maupun tulisan. Dia akan memproklamirkan kehidupan keagamaan, sempurna seluruhnya, dan murni sepenuhnya; bahkan seperti saya yang kini mengajarkan agamaku dan kehidupan serupa yang saya umumkan. Dia akan memimpin masyarakat pendeta berjumlah ribuan, bahkan saya kini hanya memimpin masyarakat pendeta sejumlah ratusan”.

“Ada cukup alasan untuk perbandingan antara Metteyya dengan ide barat tentang Almasih. Ide itu tentunya, tidak persis sama, tetapi ada beberapa hal yang sama. Zaman Metteyya digambarkan sebagai Abad Emas dimana raja, menteri dan rakyat akan bersaing satu sama lain dalam menjaga tatanan ketulusan dan kemenangan dari kebenaran” (11)

Nama pribadi dari Buddha yang akan datang, diberikan dalam sajak, dan di tempat lain, sebagai Ajita, Yang tak-terkalahkan! Inti-sari yang dirujuk adalah satu baris dalam dialog ke 26 dari Digha yang mencatat suatu nubuatan, yang diucapkan melalui mulut Buddha bahwa Metteyya akan mempunyai ribuan pengikut sedangkan Buddha sendiri hanya ratusan. (“Encyclopaedia of Religion and Ethics”, jilid I, hal 414).

Ada suatu alasan untuk percaya bahwa Maitreya (Buddha masa depan) misalnya, yang kedudukan ajarannya ditegakkan dengan lebih baik, haruslah aslinya mengambil dari pendahulunya. Dan ada tulisan yang patut dicatat serta otentik, semacam seperti Sanskrit-Tibetan Lexicon (Mahavyutpatti) dan catatan Tiongkok yang mendorong kita untuk percaya bahwa Maitreya ini bisa mempertahankan posisinya. Dalam satu hal, hendaknya diperhatikan akan peran “Bodhisattva yang Baik”, penolong dan Ilahiyah, yang sangat terhormat (paramarya) pemberi keamanan (abhayamdada) dan sebagainya. (Ibid. jilid 2 hal.258).

“Di antara nubuatan yang diucapkan oleh Buddha adalah satu yang berkenaan dengan masa depan agama yang dia tegakkan dan puncak kemerosotannya serta lenyapnya dari muka bumi. Deklarasi ini terdapat dalam Anagatvansha (Kisah dari Peristiwa mendatang) dan diberikan di Kapilavastu dalam tanggapannya terhadap satu pertanyaan oleh Sariputta. Sejarah dari Buddha Maitreya di masa depan (Pali Metteyya) digambarkan, lalu sesudah jeda yang panjang sepeninggalnya terjadilah lima pelenyapan pencapaian, ketika para muridnya akan bangkit bahkan lebih tinggi derajatnya dalam kesucian dari metode dimana pengetahuan tentang rumus dan jalan keselamatan akan hilang, dari pelajaran, ketika teks suci itu sendiri akan dilupakan, dari simbol, jubah kependetaan, mangkuk, dan sebagainya.
  ……..Kemudian mereka akan menangis, berkata: Sejak sekarang dan selanjutnya kita akan dalam
  kegelapan”. (“Encyclopaedia of Religion and Ethics” jilid 2,  halaman 885).
 

“Om manipadme”, (Yah, 10 mutiara dalam teratai, Amien) yang kini adalah doa yang paling suci dari kaum Buddhis Tibet. .. Dalam gambar Tibet modern Maitreya digambarkan di singgasana teratai, (“Encyclopaedia of Religion and Ethics”, jilid 8 halaman 143).

“Maitreya, nama dari Bodhisatva yang adalah Buddha selanjutnya di masa depan. Teori tentang Buddha yang hadir berkali-kali mungkin tidak primitif, tetapi ini jelas, timbul sebelum kedekatan dengan kanun Pali, sebagaimana Metteyya disebut dua kali dalam Digha Nikaya, no.26, dan kepercayaan ini menjadi mapan di semua aliran”.(“Encyclopaedia Britannica” art. “Maitreya”).

“Maitreya nama dari Buddha masa depan, dalam satu dari karyanya termasuk dalam kanun Pali
Digha Nikaya …..patung-patung Maitreya terdapat dalam kuil-kuil Buddha, dari semua sekte, pada saat ini, dan kepercayaan terhadap kedatangannya di masa depan adalah merata di kalangan umat Buddhis”. (12)

“Maitreya, Buddha kemudian hari, beberapa menyebutnya Buddha Almasih”…

“Suatu kuil Lama di Peking berisi satu ukiran kayu dari orang suci setinggi 70 kaki. Di Urga Mongolia, sebuah ukiran emas setinggi 33 kaki, dalam rumah-rumah dan toko-toko , Patungnya mewakili rahmat” (“Crolier Encyclopaedia”, jilid 7).

“Maitreya akan datang untuk menegakkan kebenaran yang hilang dengan segenap kesuciannya”  (13)

KEMASYHURAN RAMALAN INI

Di antara Kepustakaan Buddhis belakangan.

Ada suatu kitab tentang agama Buddha yang berjilid-jilid dan otentik, “Milinda Prashna”. Ini berisi pertanyaan dari Raja Milinda. Raja ini dilahirkan 500 tahun setelah Buddha. Dia menyodorkan beberapa pertanyaan terhadap seorang Misionaris Buddhis Nagsena, dan setelah puas dirinya dengan jawabannya, dia mengumpulkan ini dalam sebuah kitab. Kitab ini diterbitkan oleh Buddhis Colombo pada tahun 1877, dengan biaya yang luar biasa besarnya. Ini diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh T.W.Rhys Davids. Setelah tiga tahun, pada tahun 1880 teks Pali ditransliterasikan ke huruf Latin oleh V.Treckner dari Edinburg, yang telah saya kaji di British Museum Oriental Library, London.

Kata-kata asli dalam bahasa Pali dari ramalan itu terdapat pada halaman 159 dimulai dari baris keenam.

“Bhante Nagsena, Bhasitam P. etam Bhagvata Tatha gattassa kho Ananda na evam hoti, aham Bhikku sangham paraharissam iti va ti, mamuddesko Bhikku sangho iti va ti, Puna ca Metteyyassa bhagvato sabbavagunanam paridi payamanena evam bhanitam, so anek asahassam Bhikkusangham pariharissiti seytha pi aham etarhi anekasatam Bhikkusangham pariharamiti. Bhasitam. Petam Maharaja Bhagvata Tathagatassa kho Ananda na evam hoti, aham Bhikkusangham pariharamu eti va, mamuddesiko Bhikkusangho ti vati, Metteyyassa pi bhagvato sabhava gunani paridi paymanena bhagvata Bhanitam. So anek asahassam Bhikkusangham pariharissiti seyatha pi aham etarahi anekasatam Bhikkusangham pariharamiti”.

Terjemahan bahasa Inggris dari naskah ini oleh T.W.Rhys davids dalam “Sacred Books of the East” berbunyi sebagai berikut:

“Yang terhormat Nagsena; telah dikatakan oleh dia yang diberkati. Sekarang Tathagata tidak memikirkan Ananda, yakni, dia yang harus memimpin persaudaraan, atau bahwa perintahnya itu bergantung kepadanya.Tetapi sebaliknya, ketika menggambarkan kemuliaan akhlak dan sifat dari Maitreya, dia yang diberkati, berkata sebagai berikut: “Dia akan menjadi pemimpin suatu persaudaraan yang berjumlah beberapa ribu sedangkan saya sekarang pemimpin dari persaudaraan yang terdiri dari beberapa ratus jumlahnya”. (Terjemahan ini ketika saya bandingkan dengan baris-baris dalam bahasa Pali saya dapati tidak lengkap. Dalam aslinya kata-kata ini diulang dua kali). “Raja Milinda berkata bahwa ada pertentangan dalam kata-kata Buddha. Suatu kali dia berkata bahwa tidak diperlukan lagi Tathagata atau Buddha, dan pada kali yang lain dia berkata bahwa Maitreya dengan sifat semacam dan semacam ini akan datang. Bhikku nagsena menjawab bahwa tidak ada kontradiksi. Dikatakan bahwa, saya tidak saja Buddha kepada siapa bergantung kepemimpinan dan tatanan. Setelah saya ada Buddha Maitreya lain dengan sifat mulia semacam dan semacam itu akan tiba. Saya sekarang adalah pimpinan dari rausan, sedangkan dia akan menjadi pimpinan ribuan”. (“Sacred Books of the East”, jilid 35 halaman 225). Tidak saja sepanjang zaman Raja Milinda, tetapi misionaris Buddha juga selalu mengumumkan dengan penuh penekanan bahwa Maitreya Buddhisatva akan datang.Bahkan pada dewasa ini, seorang pendeta Burma, Ledi Sayadow, mempropagandakan bahwa kedatangan Buddha Maitreya sudah sangat dekat.

Dalam hubungan ini dia mendeklarasikan bahwa Maitreya Yang Diberkati telah meninggalkan langit Tushita dan sekarang dia menjadi seorang anak muda pada tahun 1914 . (“Coming World Teacher” oleh Pavri, halaman 52).

Rujukan yang sama atas nubuatan ini dapat diketemukan dalam buku-buku suci Buddhisme dengan
bermacam-ragam bahasa misalnya Burma, Cina, dan Sinhala dengan sedikit perubahan  verbal.

 


 

11.

12.

13.