BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

PERAGAAN KEBENARAN

Bangsa-bangsa sebelumnya hanya percaya kepada kitabnya masing-masing. Meskipun Yahudi dan Kristen mengikuti kitab yang sama, namun mereka menolak kebenaran yang utuh dan ketulusan:

“Dan kaum Yahudi berkata, kaum Nasrani tak menganut sesuatu (yang baik); dan kaum Nasrani  berkata: kaum Yahudi tak menganut sesuatu (yang baik); padahal mereka membaca Kitab (yang  sama)” (Q.S. 2:113).

Mereka tidak percaya akan adanya kehormatan dalam seseorang yang diluar batas negeri atau kaumnya.

Quran Suci telah diturunkan dan ini membawa besertanya  kabar baik:      

“Dan tiada satu umat, melainkan telah berlalu di kalangan mereka seorang juru-ingat” (Q.S. 35:24).      

“Dan sesungguhnya telah Kami bangkitkan bagi tiap-tiap umat seorang Utusan, sabdanya:

Mengabdilah kepada Allah dan jauhkanlah diri kamu dari setan” (Q.S. 16:36).

Kebenaran ini telah ditolak sebelum kedatangan Islam. Tetapi apakah dunia masa kini juga masih mengingkari dan menolak kebenaran universal ini? Tidak, kaum Brahma Samaj dan Teosofis, di antara umat Hindu, Unionis dan Rasionalis, di kalangan Kristen, mengumumkan tidak tertandinginya dan memuji kebenaran Quran Suci.

Para penentang Islam yang besar-besar meleleh di hadapan kebenaran-Nya. Sesungguhnya, transformasi yang diusung oleh Quran Suci sungguh tak ada tandingannya dalam sejarah dunia.

ISLAM YANG BENAR DAN KRISTEN SEJATI

Islam dan Kristen sebagaimana diajarkan oleh Kristus sendiri adalah agama bersaudara, hanya dipisahkan oleh para biarawan sepeninggal Yesus. Disini adalah keselarasan yang diberikan oleh J.F.Rutherford Pendiri dari Watch Tower Society ( Bala Keselamatan):

“Pada masa awal Kristiani Setan melakukan kerjanya demi maksud untuk membingungkan manusia berkenaan dengan pertanyaan yang penting ini. Para biarawan sepanjang waktu berperan sebagai wakil Tuhan di bumi. Setan mencengkeram fikiran dari para biarawan ini dan menyuntikkan dalam kepalanya doktrin, doktrin mana oleh para biarawan telah diajarkan kepada orang-orang mengenai Yesus dan pengurbanannya. Doktrin ini telah membuat kebingungan besar. Para rasul telah mengajarkan kebenaran, tetapi tidak lama setelah kematian mereka maka setan menemukan beberapa biarawan yang dengan khayalannya sendiri merasa bisa mengajarkan yang lebih hebat daripada para rasul yang terilham.

Doktrin trinitas pertama-tama diperkenalkan dalam gereja Kristen oleh seorang biarawan dari Antioch bernama Theopilus. Doktrin semacam itu yang diajarkan oleh sang biarawan, dan yang sejak itu diikuti oleh orang-orang lain, secara singkat adalah, bahwa ada tiga tuhan dalam satu, fikirnya, Tuhan bapa, tuhan anak, dan Tuhan ruhul kudus, ketiga-tiganya dalam kekuatan, substansi dan keabadian Kredo dari Church of England ditulis dengan kata-kata:

“Ada Satu Tuhan yang hidup dan benar….dan dalam kesatuan Ketuhanan ini ada tiga pribadi dalam   substansi, kekuasaan, dan keabadian, Bapa, Firman, dan Ruhul Kudus”.

Suatu Konsili dari para imam telah dilangsungkan di Nice, pada tahun 325 M., konsili mana membenarkan doktrin trinitas, dan belakangan konsili yang sama di Konstantinopel, mengkonfirmasi keilahian dari Ruhul Kudus dan keesaan Tuhan, mendeklarasikan doktrin trinitas sebagai kesatuan dalam doktrin gereja. Para biarawan sejak itu selalu berpegang kepada doktrin yang melecehkan Tuhan dan tidak masuk akal ini. Demi membantu para agennya agar doktrin ini tetap lekat di kepalanya maka setan harus mengadakan satu obyek yang kelihatan untuk melambangkannya. Segitiga mistis diciptakan sebagai simbol, yang bisa di dapati di makam mereka yang dikubur pada masa itu. Juga ada usaha untuk membuktikannya dengan membuat tiga kepala atau wajah di satu leher, matanya menjadi satu bagian dari masing-masing wajah.Juga suatu kombinasi dari segitiga dan lingkaran, dan kadang-kadang tumbuhan berdaun tiga juga digunakan demi maksud yang sama. Bila anda bertanya kepada seorang biarawan apa yang dimaksud dengan trinitas maka dia akan berkata: “Ini suatu misteri”. Dia tidak tahu, dan tak seorangpun tahu, karena ini palsu. Tidak pernah ada doktrin di zaman kemajuan yang lebih menipu dibandingkan dengan trinitas ini. Ini hanaya bisa berasal dari satu pemikiran, dan itu adalah fikiran Setan atau Iblis. Maksudnya adalah dan ini menghasilkan kekacauan dalam fikiran manusia serta menghancurkan filsafat sejati dari jaminan pengurbanan yang besar. Jika Yesus di bumi ini adalah Tuhan, dia melebihi lelaki yang sempurna dan karenanya tidak bisa menjadi harga yang tepat berkaitan dengan pembebasan manusia dari dosa. Karena itu adalah logis mengikuti pandangan bahwa mengalirnya darah Yesus tidak bisa membentuk dasar rekonsiliasi manusia dengan Tuhan. Jika Yesus itu satu bagian dari trinitas, maka adalah mustahil bagi trinitas atau bagian darinya untuk menyediakan harga pembebasan dari dosa bagi seorang laki-laki yang sempurna itu, karena ini tidak ada hubungannya yang tepat. Siapakah yang berminat untuk mebuat kekacauan semacam ini? Setan sang Iblis.

Untuk mengusung kebalauan ini dia menggunakan orang-orang yang berpamrih pribadi dan ambisius. Dia membujuk mereka untuk membuat dua yang lain yang sederajat dengan Tuhan dan menyembah makhluk lebih dari Sang Pencipta. Paulus meletakkan ini dengan kata-katanya:

“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Alllah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya fikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh…..       “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya”. (Surat Paulus kepada Jemaat di Roma, 1:21-22, 25).

Adalah suatu fakta yang bisa dicatat bahwa dalam sistim gereja maka nama Yesus telah dibuat lebih utama dibandingkan dengan Jehovah Tuhan. Para imam telah membujuk orang-orang agar menyembah Maria sebagai ibunya Yesus dan beribadah kepadanya, jadi memberi kehormatan kepada perempuan sederajat dengan Tuhan. Nama Maria dan Yesus lebih sering disebut-sebut dalam sistem gerejawi dibandingkan dengan Jehovah Tuhan. Penyembahan berhala serta obyek-obyek yang kasat mata juga telah diresapkan oleh para imam. Seluruh skema dan tujuan dari dalang di balik ini adalah untuk meminimalisir nama Jehovah dan membawa-Nya ke dalam hujatan, dan ejekan, serta pencemaran nama.

Adalah mustahil untuk mendapatkan pemahaman yang tepat dari rencana Tuhan untuk rekonsiliasi manusia dengan Tuhannya hingga hubungan antara Yesus dengan Tuhan itu dimengerti. Karenanya adalah mutlak penting bahawa doktrin palsu bernama trinitas ini harus disingkirkan dan digusur dari fikiran manusia hingga cahaya kebenaran bisa menyinari jiwanya.

Tiada lain hanya ada Tuhan Yang-esa, Pencipta langit dan bumi serta Pemberi nafas kepada segenap ciptaan”.

 (J.F. Rutherford, “Reconciliation”, halaman 100-103).

SELURUH AL-QURAN DI SIMPAN DALAM INGATAN

Wahyu dan penglihatan ‘dalam’ Buddha kita puji dama nubuatannya mengenai Quran Suci. Berabad-abad sebelumnya, dia telah menggambarkan Kitab  Suci itu sebagai kumpulan dari kebajikan yang menonjol. Quran Suci ditulis dalam fikiran umat sebagai kebajikan yang tak tertandingi, karena tidak ada Alkitab maupun Kitab keagamaan atau naskah suci yang lain yang tetap di simpan dalam ingatan umat. Tak diragukan lagi ada bebarapa tulisan yang disenangi orang dan dihargai lebih dari hidup mereka sendiri, dan mereka menyimpan isinya dalam ingatan. Tetapi kesinambungan dimana Quran Suci selalu diingat dalam ingatan tak ada contohnya dimanapun. Tak ada naskah suci, tulisan atau kitab dimana begitu banyak orang mengabdikan dirinya untuk menghafalkannya, selain Quran Suci. Kitab suci agama melewati perubahan tak terduga dan abad-abad yang gelap menimpanya, sehingga isinya sendiri dan kehadirannya dicurigai. Dalam kegalauan seperti inilah maka Weda berkembang dari satu menjadi empat kitab,  dan kemudian dari empat menjadi sebanyak 1131, ada suatu ayat dalam Maha Bhashya yang menerangkan bahwa ada seratus dan satu bait Yajur Weda, seribu Sama Weda, duapuluh satu macam Rig Weda dan sembilan Atharwa Weda. Pada hari-hari ini kita bisa melihat selusin Weda yang diterbitkan, sesungguhnya, yang bisa menerangkan perubahannya.

Versi Masorah dan Septuagint dari Perjanjian Lama, edisi resmi yang berbeda dari Saduki dan Farisi, kepustakaan apokripal yang dipercaya sebagai bagian dari naskah suci yang terilham, dipakai oleh satu sekte dan ditolak oleh sekte yang lain, versi yang berbeda-beda dari Alkitab apokripal, membuktikan kredibilitas fakta bahwa tidak ada kitab suci keagamaan yang tidak tersentuh atau terjaga dengan rapi atau tersimpan dalam ingatan dalam masa kehidupan nabi kepada siapa itu diwahyukan.

Sampai sedemikian besar dan luas kebenaran yang telah diajarkan oleh Weda, Zend Avesta, dan Alkitab suci begitu pula dari Buddha sendiri, tidak dijaga oleh misionarisnya, sebagaimana telah kita buktikan di bawah judul “Kitab-kitab suci Buddhis”.

Mengenai Quran Suci Sir William Muir berdiri saksi sebagai berikut:

“Tetapi ada alasan yang baik untuk percaya bahwa banyak copy yang terpisah-pisah, merangkum  di antaranya seluruh al-Quran atau nyaris seluruhnya, yang sudah ada sejak masa-hidupnya Nabi  yang ditulis oleh para pengikutnya” (“Life of Mahomet”, Introduction, halaman 18).

Ada hadist sahih yang menyatakan bahwa Abu Bakar telah membangun satu masjid kecil di rumahnya. Dan dalam masjid inilah dia biasa membaca Quran Suci.

“Dia sangat suka menghafalkannya. Tidak hanya laki-laki, tetapi kaum perempuan juga berlomba   dalam hal ini. Di antara mereka adalah Aisyah, Hafsah, Ummi Salmah dan Ummi Warqah, yang   telah hafal seluruh al-Quran dalam hatinya” (Ibn-I-Jarir Tabri).

AL-QURAN DIWAHYUKAN DAN DITULIS BERSAMAAN

Gautama Buddha telah meramalkan mengenai Maitreya yang dijanjikan dimana risalahnya akan diterbitkan. Di antara semua Kitab suci dari langit dan Alkitab, adalah Quran Suci sendiri yang dijadikan tulisan sejak kitab ini turun kepada Nabi. Selanjutnya ini di simpan dalam ingatan, dimana Nabi melakukannya  dengan dibacakan kepada mereka yang di sekitarnya.

Karena alasan ini sejarah wahyu Quran Suci  jauh lebih lengkap daripada kasus Kitab suci yang lain. Dalam hadist sahih kita, saat turunnya ayat, tempat dimana itu diwahyukan, dan latar-belakang dari setiap ayat semua tercatat dengan rinci. Setiap copy antik dari Quran Suci memiliki sejarah di belakangnya, yang tidak hancur sampai sekarang, dan rantai ingatan itu menuju langsung kepada Nabi Suci.

Karena banyaknya manusia yang menyimpan wahyu dalam ingatan inilah maka kritikus yang sangat benci seperti Sir William Muir terpaksa mengakui ketepatan dan kesempurnaan dari Quran Suci dalam kata-kata berikut ini:

“Barangkali di dunia ini tidak ada karya lain yang bisa bertahan selama dua belas abad dengan teks yang demikian murni” Dia selanjutnya mengutip catatan dari von Hammer : “Kami memegang al-Quran ini dengan keyakinan penuh sebagai kata-kata Muhammad, sebagaimana kaum Muslim memegangnya sebagai firman Tuhan”.

Sebagai fakta nyata kaum Orientalis terdorong untuk percaya sedemikian karena fakta yang tak terbantah. Al-Quran tesimpan dengan aman dan terjaga mulai sejak periode yang paling awal. Sudah dijelaskan bahwa wahyu itu perlu disimpan dalam penjagaan. Copy-nya di kirim ke pelbagai negara dan bermacam bangsa. Negara yang diberi amanat, menyebarkannya ke Timur maupun Barat dalam jangka waktu yang sangat singkat, dan karena itu copy dari Quran Suci juga segera tersebar ke seluruh dunia.

Dan adalah suatu fakta yang diakui bahwa terdapat banyak golongan di antara Muslim masa kini dan semuanya mereka beriman dan mengikuti al-Quran yang sama. Tak ada satu titik koma ataupun satu huruf dari Kitab itu telah dirubah. Dan ini adalah sesungguhnya apa yang diramalkan oleh Buddha serta juga para nabi yang lain. Para nabi terdahulu telah meramalkan bahwa wahyu dari nabi yang dijanjikan itu akan dijamin terjaga dan aman. Dan adalah atribut al-Quran ini yang membuktikan kebenaran Nabi Suci sebagai yang terakhir dari galaksi.

Dalam al-Quran Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Penjaga dari Kitab ini (Q.S. 15:9) dan menyatakan ini sebagai wahyu kenabian yang terakhir, dan dengan kemuliaannya Islam akan berdiri sebagai agama yang terakhir.

Basant Kummar Bose menulis dalam “Muhammadanism”, Calcutta, 1931, halaman 4:     “Maka tak ada kesempatan bagi setiap orang yang mau merubah atau penipu yang berpura-pura saleh dalam al-Quran, yang membedakannya dari nyaris semua karya agama lain dari zaman kuno….       Adalah sungguh aneh bahwa pribadi yang buta-huruf ini bisa menyusun kitab yang terbaik dalam       bahasa”.

Charles Francis Potter menulis dalam “The Faiths Men Live”:      “Kitab ini lebih banyak dibaca orang dibanding kitab lain di dunia. Alkitab Kristen mungkin suatu buku yang paling laku. Tetapi hampir 250 juta pengikut Nabi Muhammad membaca dan mengaji ruku’ yang panjang dari al-Quran lima kali sehari, setiap hari seumur hidupnya, sejak mereka bisa berbicara”.

John William Draper menulis dalam “A History of the Intellectual Development in Europe” jilid I  halaman 343-344:       “Al-Quran berlimpah dalam anjuran moral yang mulia serta etika, komposisinya begitu beragam sehingga kita tidak bisa melewatkan satu halamanpun tanpa menemukan sebanyak mungkin yang bisa dipetik. Konstruksi yang beragam ini menghasilkan teks dan motto, serta aturan yang lengkap dalam dirinya, cocok untuk orang biasa dalam menghadapi setiap peristiwa kehidupan”.

Harry Gaylord Dorman menulis dalam “Towards Understanding Islam”: “(Quran) ini, adalah suatu wahyu tertulis dari Tuhan, yang diimlakkan kepada Muhammad oleh Jibril,  sempurna di setiap hurufnya. Ini adalah mukjizat yang senantiasa hadir, berdiri saksi bagi dirinya dan  Muhammad, nabi dari Tuhan. Kualitas mukjizatnya terdapat sebagian dalam style, begitu sempurna  dan luhur, sehingga baik manusia dan jin tak mungkin bisa menghasilkan satu surat saja meskipun  itu surat yang terpendek, dan sebagian isinya ajaran, nubuatan tentang masa depan, dan begitu  menakjubkan ketepatan informasinya dimana seorang buta-huruf seperti Muhammad mustahil bisa mengumpulkannya dengan kehendak sendiri”.

Paul Casanova mengemukakan dalam L.Enseignement de Arabian College de Ferance in Legon Doverture tanggal 26 April 1909: “Bilamana Muhammad ditanya tentang mukjizat, sebagai bukti otentisitas dakwahnya, dia mengutip   komposisi al-Quran  dan kemuliaannya yang tak tertandingi; sebagai bukti bahwa ini berasal dari   Tuhan. Dan sesungguhnya, bahkan bagi mereka yang non-Muslim, tidak ada yang lebih   menakjubkan daripada bahasanya, dimana dengan ruang lingkup yang melimpah dan irama yang   memukau dengan lagu yang sederhana, telah merampas pujian dari orang-orang primitif itu yang   sangat menyukai keelokan. Melimpahnya silabus dengan irama yang agung dan suatu ritme yang   mengesankan, telah menimbulkan banyak detik-detik yang bisa merubah pandangan orang yang   paling benci dan paling  skeptis”.

James A. Michener menyatakan dalam ‘Islam the Misunderstood Religion”, Reader’s Digest, May 1955:  “Al-Quran kemungkinan adalah kitab yang paling sering dibaca orang di dunia ini. Sesungguhnya   yang paling sering dihafal, dan mungkin yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari- hari dari   umat yang beriman kepadanya. Tidak sepanjang seperti Perjanjian Baru, ditulis dalam style yang   luhur, ini bukan sajak dan bukan pula prosa, namun dia memiliki kemampuan untuk membangkitkan   para pendengarnya dalam kegairahan iman. Al-Quran diturunkan kepada Muhammad antara tahun   610 dan 632 di kota Mekkah dan Madinah. Para penulis yang salih menuliskannya dalam “helaian   kertas, kulit kayu dan daun atau kulit binatang”.

Sebagai penutup kata-kata yang transparan dari Buddha:  “Wahyu-Nya akan lebih elok. Mereka yang mendengarkannya tak akan bosan-bosannya dalam    mendengarkan, mereka bahkan menyukai untuk mendengarnya lagi lebih lanjut” (T.W. Rhys Davids, halaman 183).

 

Dan inilah penutup oleh Laura Vaccia Vaglieri:

“Secara keseluruhan kita dapati di dalamnya suatu kumpulan kebijaksanaan yang bisa digunakan oleh orang-orang yang paling cerdas, filosof yang paling besar dan politisi yang paling ahli,….Tetapi di sini ada bukti Ketuhanan dalam al-Quran, adalah suatu fakta bahwa dia telah dijaga tanpa tersentuh melintasi abad-abad sejak turunyya Wahyu hingga hari ini….Dibaca dan dibaca lagi oleh dunia Muslim, Kitab ini tidak menimbulkan dalam diri orang-orang beriman kelelahan sedikitpun, bahkan,  dengan mengulang-ulanginya maka semakin dicintai dari hari ke hari. Ini menimbulkan perasaan  mendalam, rasa takut dan hormat kepada seseorang yang membaca atau mendengarkannya….

Karena  itu, tanpa sarana kekerasan atau senjata maupun melalui tekanan misionaris yang membujuk, yang  menyebabkan terpancarnya islam secara besar-besaran dan cepat; tetapi di atas semuanya melalui  fakta bahwa Kitab ini, yang disajikan oleh kaum Muslimin untuk menaklukkan dengan kebebasan  untuk  menerima ataukah menolaknya, ini adalah Kitab Tuhan, kata Kebenaran, mukjizat terbesar  yang ditunjukkan Muhammad kepada mereka yang dalam keraguan dan mereka yang tetap  berkepala-batu” (”Apologize de L Islamisme”, halaman 57-59).