BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

IDENTIFIKASI MAITREYA OLEH BUDDHA.

Mengenai identifikasi dari Maitreya yang Dijanjikan, Buddha telah memberikan wacana terinci dengan tulisannya sendiri. Dia berkata bahwa Dia Yang Dijanjikan itu kelak adalah:

Kasih sayang kepada segenap ciptaan.
Utusan perdamaian, seorang pembuat perdamaian.
Seorang yang tidurnya tak terganggu.
Seorang pemikir mendalam, seorang laki-laki yang bijaksana.
Seorang yang tidak akan dirasuki mimpi buruk.
Akan dibawah penjagaan langsung oleh para malaikat.
Pencinta yang sangat dari umat manusia.
Racun tidak dapat mencederainya.
Di bawah lindungan Allah dalam peperangan.
Selamat dari kerugian akibat api dan air.
Yang paling sukses di dunia dan setelah wafatnya dekat dengan Tuhannya.

Maitreya sebagai pengajar moral:

Amanah
Dihormati.
Lemah-lembut dalam bicara.
Berwibawa, terhormat.
Tidak sombong.
Tidak pernah menipu seseorang.
Tidak pernah meremehkan orang lain.
Menahan marahnya.
Tidak merasa senang atas kerugian orang lain.
Kasih-sayang kepada sesama makhluk seperti seorang ibu.
Gabungan dari perencanaan yang baik.
Suatu contoh bagi yang lain dalam perbuatan maupun kata-kata.
(Dhamma pad, Matteya Sutta, 151)

Sekarang marilah kita lihat sejauh mana Nabi Suci Muhammad cocok dengan kriteria yang ditetapkan oleh Buddha ini:

1.  Kasih-sayang kepada segenap ciptaan: Karena kebaikan budi Nabi Muhammad inilah, maka dia ditetapkan Tuhan “sebagai rahmat bagi sekalian bangsa” (Q.S. 21:107).

Kasih sayang dan penuh perhatian terhadap sesama makhluk ini mempunyai arti berbeda dari titik pandang bermacam ragam agama. Umumnya, dipercaya oleh umat Hindu dan Buddha bahwa menyembelih binatang itu bertentangan dengan kasih-sayang, atau perhatian terhadap makhluk. Sebagai kenyataan, maka umat Muslim, Kristen, Yahudi dan bahkan macam-macam sekte Hindu dan Buddha berbeda pendapat mengenai konsep vegetarian. Dalam hal ini kata-kata Buddha sendiri kiranya boleh dikutip:

“Di manakah kasih-sayang orang itu, yang percaya, bahwa dengan menyembelih binatang bisa menghapuskan dosanya? Dapatkah satu dosa baru menghilangkan dosa lama? Bisakah darah makhluk tak berdosa membersihkan manusia dari dosa-dosanya?” Kata-kata Buddha ini hanya ingin menunjukkan bahwa menganggap kurban binatang itu sebagai penghapus dosa adalah blunder besar. Pada zamannya, para Brahmana menurut Weda suka membakar hidup-hidup ratusan hewan sebagai kurban untuk para dewata. Mereka percaya bahwa tindakan ini bisa membebaskannya dari dosa dan perbuatan jahat mereka. Mereka senang menikmati adu binatang. Sering-kali mereka menggelar acara itu secara besar-besaran hanya untuk merusak panenan dan buah-buahan rakyat miskin. Buddha menyaksikan semua kekejaman terhadap binatang ini dan mengeraskan suaranya terhadap pemborosan yang tak masuk akal ini.

Apa yang kita yakini sebagai rahmat dan penuh perhatian terhadap binatang adalah dengan tidak mencederai dan menganiaya mereka. Dan penggunaan terbaik untuk mereka harus dimanfaatkan sesuai dengan maksud penciptaannya, dan dengan berbuat demikian kita tidak boleh melampaui batas. Binatang yang sakit, kurang sehat, lemah dan kurus-kering, tidak boleh digunakan untuk bekerja. Perawatan harus diberikan dengan memberi makanan yang pantas. Inilah bagaiamana kita memperlakukan binatang dan menggunakan mereka apa yang kiranya cocok. Mengumbar mereka kemana-mana atau menyembahnya atau menjadikan jumlah mereka jauh melebihi batas sehingga membuat cemas manusia jelas juga melawan ajaran Islam dan akal sehat.

Islam bukanlah agama pertapa. Ini lebih dekat kepada ilmu. Menurut Islam, binatang itu diciptakan demi kemaslahatan kta, sebagaimana Quran Suci secara eksplisit berfirman:

“Dan sesungguhnya dalam hal ternak, terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberi kamu minum dari  apa yang ada di dalam perutnya, dan mengenai (ternak) itu banyak sekali faedahnya bagi kamu, dan  sebagian kamu makan” (Q.S. 23:21).

Tidak diragukan lagi fakta bahwa kita mengumpulkan banyak sekali ilmu dari binatang. Mereka memberi banyak sekali keuntungan kepada kita dengan memberikan kulit, tulang, wol, jeroan, dan sebagainya. Banyak kebutuhan kita tergantung kepada barang-barang ini. Dan ada beberapa hewan, yang tidak ada gunya kecuali dagingnya. Dalam segala hal itu, penyembelihan sungguh diperlukan.

Bukanlah berlebihan untuk mengatakan bahwa perhatian dan kasih-sayang yang bersemayam di hati Nabi Muhammad untuk satwa ini tak ada duanya dalam sejarah. Bahkan Almasih dan Buddha tidak bisa menandinginya. Dalam kitab hadist kita dan kisah hidup Nabi Suci, banyak ditulis tentang hal ini. Suatu ringkasan atas hal ini mungkin menarik untuk disimak: Suatu kali Nabi pergi ke kebun, dan melihat seekor unta yang kelaparan. Belia memanggil tuannya dan bersabda: ‘Apakah engkau tidak takut kepada Tuhan, sehingga memperlakukan binatang yang malang seperti ini?’ Suatu kali Nabi dalam perjalanan. Seseorang membawa sebutir telur. Segera seekor gagak datang dan kelihatan menunjukkan kesedihannya karena itu. Maka rasulullah s.a.w. berkata: “Siapakah yang menyakiti burung yang malang itu dengan mengambil telurnya/” Orang itu menjawab: ‘Wahai Nabi, sayalah yang telah melakukannya”. Nabi kemudian memerintahkan agar telur itu diletakkan kembali ke sarangnya.

c. Nabi dengan keras melarang memotong daging dari binatang yang masih hidup, yang umum dilakukan orang.

d. Ia melarang menyakiti binatang dengan api. Dia melarang mendorong-dorong binatang untuk beradu satu sama lain. Seorang pelacur melihat seekor anjing sedemikian haus sehingga dia menjulurkan lidahnya ke bumi yang basah. Dia sangat menaruh kasihan kepada makhluk yang malang itu, dan memberinya air untuk memuaskan dahaganya yang sangat. Nabi, setelah mendengar anekdot tersebut, bersabda bahwa pintu surga dibukakan baginya. Seorang perempuan mengikat seekor kucing hingga kehausan dan kelaparan dan akhirnya mati. Mendengar hal ini Nabi mengatakan bahwa perempuan jahat itu akan membukakan jalannya sendiri ke neraka. Anas bin Malik, seorang sahabat Nabi, berkata: bahwa para sahabat Nabi suka melepas pelana dari unta mereka segera setelah mereka berhenti dalam perjalanan, kemudian mereka akan mendirikan salat sehingga binatang itu ditinggalkan bebas untuk mencari makanannya dan beristirahat.

Muhammad sebagai pembuat perdamaian. Nama ini sendiri adalah agamanya “Islam” yang berarti “damai”. Nabi telah disebut pertama sebagai pembuat perdamaian. “dan aku adalah permulaan orang pembuat perdamaian” (Q.S. 6:164). Sifat beliau ini tidak sekedar dibenarkan oleh makna kamus saja. Agama Islam itu, semua dan seluruhnya, sebagai risalah, adalah suatu peraturan dan petunjuk bagi perdamaian dan ketenteraman. Tidak ada satupun fatwa, yang tidak menyadari perdamaian. Seorang yang tidur tanpa terganggu. Al-Quran menyatakan Nabi yang bersabda: “Katakanlah: Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk Allah, Tuhan sarwa sekalian alam” (Q.S. 6:163). Betapa tenteram, nyaman dan damainya yang bersemayam di hati Nabi karena hidup dan matinya adalah demi Allah semata-mata! Hadist meriwayatkan, bahwa Nabi biasa salat sebelum berangkat tidur. Dia biasa memuji Tuhan, dan bersyukur kepada-Nya pada jam-jam itu. Beliau tak pernah tidur tanpa sebelumnya membaca al-Quran. Dan ketika menjelang lelap, beliau biasa berdoa: “Wahai Tuhan, saya mati dan hidup demi asma-Mu”. Dan ketika terbangun dari lelapnya, beliau biasa berdoa: “Segala puji bagi Allah, Dia, yang telah memberiku kehidupan sesudah kematianku”. Ini menunjukkan betapa tak terganggu dan damainya tidur yang dinikmati oleh Nabi, dengan seluruh penyerahan dirinya kepada Tuhan. Mengenai para Nabi yang lain beliau mengatakan bahwa mata mereka terpejam tetapi hatinya jaga. Sedangkan mengenai dirinya, beliau katakan bahwa matanye terpejam, tetapi hatinya selalu sibuk dalam berkomunikasi dengan Allah (H.R.Muslim, bab “Salat-ul-lail”).

Kebijaksanaan dari nabi Suci. Kehidupan Nabi memberi suatu anekdot yang menunjukkan kebijaksanaannya yang tidak ada bandingannya.Saat itu adalah ketika kaum Quraish sedang bergotong royong untuk memperbaiki Ka’bah. Bermacam kabilah dan semuanya saling iri satu sama lain dan setiap suku ingin menaikkan Hajar Aswad ke dinding Ka’bah. Persaingan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah. Kemudian datanglah Nabi yang menggelar kainnya, meminta tiap kepala kabilah untuk memegang masing-masing ujungnya, mengangkatnya dan semuanya berperan serta dalam melaksanakan tugas yang suci dan terhormat itu.

Dalam rapat-rapat perang dan dalam menasihati delegasinya ketika mendiskusikan perkara yang Penting, dia bekerja secara ajaib dalam memberikan pandangannya sebagai hakim yang paling adil dan Penasihat yang terbaik. Karena sifat Nabi yang seperti inilah maka partikel pasir yang bertebaran di tanah Arab itu bisa di semen menjadi satu dinding yang kokoh dan solid. Kebal terhadap mimpi buruk.Di sini kita faham, mimpi buruk berarti impian yang timbul dari emosi yang berlebihan atau kekenyangan. Dalam Quran Suci, dikatakan tentang Nabi Muhammad:

“Sesungguhnya Allah telah memenuhi ru’ya Rasul-Nya dengan benar” (Q.S. 48:27).

Beliau melihat banyak ru’yah di masa mudanya dan itu benar terjadi seperti di siang hari. Mimpi buruk karena kekenyangan atau hasrat  dan emosi berlebihan tak mungkin terjadi pada para nabi. Menurut hadist dari Nabi kita:

“Ru’yah datang  dari Tuhan, sedangkan mimpi buruk datang dari Setan” (H.R. Bukhari). Dan dalam hadist lain dikatakan:  “Wahyu mulai turun kepadanya dengan ru’yah yang suci. Dia melihat  rukyah dan mereka terjadi dengan sebenarnya satu demi satu”. (H.R. Bukari. Malaikat akan menjaganya. Dikemukakan dalam segala kitab dan naskah suci, bahwa para nabi itu dijaga oleh malaikat. Dalam hal ini menarik untuk disebutkan, bahwa “Devdutta”, melihat kemuliaan yang menonjol dari Buddha, menyimpan dalam hatinya kecemburuan, dan karenanya kehilangan semua kekuatan pemikiran abstraksinya. Dia juga merencanakan skema jahat untuk  menghentikan tersiarnya hukum yang benar. Naik ke gunung dia gelindingkan sebuah batu untuk mencederai Buddha; batu itu terbelah menjadi dua, setiap belahan melewati sisinya, hanya satu kakinya yang terluka. Karena itu Buddha berkata kepada Devdutta:
 

“Wahai orang yang bodoh, betapa besarnya kerugian yang kamu timpakan pada dirimu sendiri,  dengan kejahatan serta niatmu untuk membunuh maka kamu telah menyebabkan darah Tatha­  gata mengalir”.

Bhikku (murid-murid Buddha) berkumpul untuk menjaganya, tetapi Buddha berkata kepada mereka:  “Ini, wahai Bhikku, adalah perkara yang mustahil, dan satu yang tak dapat terjadi pada   seseorang, yakni seseorang harus meninggalkan kehidupan Tathagata karena kekerasan”.  “Tathagata, wahai Bhikku, dikecualikan (dari kematian) karena sebab alami. Mereka ini, wahai Bhikku, adalah lima macam guru yang sekarang ini hidp di dunia. Dan ini, wahai Bhikku, adalah suatu perkara yang mustahil, bahawa seorang Tathagatha bisa disembelih oleh perbuatan seseorang selain dirinya sendiri. Para Tathagata, wahai Bhikku, dikecualikan (dari kematian) karena sebab (alami)”.

“Karena ini, wahai Bhikku, pergilah masing-masing ke biaranya, karena para Tathagata tidak membutuhkan perlindungan”.

Sekarang, kita tiba kepada Nabi Suci atau Maitreya Buddha.
Di Mekkah, satu-satunya  musuh Nabi hanyalah kaum Quraish. Di Madinah, kaum Yahudi adalah bangsa yang sangat berkuasa, dan sedikit saja bicara sudah menjadikan mereka musuh yang menakutkan. Begitu pula halnya dengan kaum Kristiani. Para kabilah lain di Arabia pada saat itu juga telah berhasil ditarik oleh Quraish agar memihak mereka.

Tak ada kebaikan ataupun kemurahan betapapun, yang diperlihatkan Nabi, bisa memuaskan kaum Yahudi, tak suatupun yang dapat merukunkan perasaan pahit yang mereka hidupkan, mereka segera saja menempatkan dirinya di jajaran musuh-musuh Islam.
Kaum Kristen juga lebih menyukai penyembah berhala dengan segala ikutannya yang jahat daripada ajaran Muhammad.
Dalam suasana yang mencekam ini diwahyukan dalam Quran Suci:

“Dan Allah akan melindungi engkau dari manusia” (Q.S. 5:67).

Bahwa beliau akan selalu di bawah perlindungan Ilahi di tengah bahaya yang tak terhitung yang mengancamnya  dari segala penjuru dan rencana jahat tak terhitung yang mengancam jiwanya.

Ketika ayat ini diwahyukan beliau memanggil penjaga rumahnya dan meminta dia pergi karena Tuhan telah menjanjikan perlindungan baginya. Ketika kita membaca Kitab-kitab Buddhis kita akan menemukan di sana dua atau tiga musuh dari Buddha dan ketika para Bhikku berkumpul untuk  menjaga dan melindunginya, maka dia berkata:

“Dan ini, wahai Bhikku, adalah perkara yang mustahil dan tak mungkin terjadi bahwa seorang  Tathagata itu bisa terbunuh……Karena itu, pergilah, wahai Bhikku, masing-masing ke  biaranya karena seorang Tathagata tidak perlu dilindungi”.

Begitu pula, meskipun para musuh Nabi Suci datang menyerbunya dalam jumlah ribuan adalah mustahil bagi mereka untuk memisahkan dia dari hidupnya dengan kekerasan. Apapun juga usaha yang dilakukan terhadapnya, dia akan diselamatkan oleh malaikat.

Pencinta umat manusia. Terutama, Nabi Suci berseru terhadap ketidak-adilan terhadap manusia dan mengajak manusia dengan kasih-sayang untuk berbuat adil kepada setiap jiwa manusia. Ketika teraniaya dan terancam oleh kekuatan yang luar-biasa besar, maka dia, sebagaimana Ibrahim, Krishna, Musa dan Daud selalu dilawan oleh kekuatan fisik, meskipun itu merupakan perang yang tak seimbang.

Tidak ada persamaannya dalam sejarah peperangan dimana seorang laki-laki bersama begitu sedikit sahabatnya melawan musuh yang berlipat dua, tiga, tidak, bahkan terkadang sepuluh kali lipat namun nyaris di setiap waktu dia selalu menang.

Dalam sepuluh tahun diai menaklukkan 1.000.000 mil persegi wilayah. Namun, dalam seluruh pertempuran ini hanya 150 musuh yang terbunuh dan 125 orang mukmin yang menyerahkan jiwanya baginya. Ini adalah contoh yang tiada tandingannya dalam sedikitnya darah yang tertumpah. Tidak pernah dalam sejarah peperangan bahwa seseorang dengan begitu sedikit pertumpahan darah bisa menguasai satu juta mil persegi dalam sepuluh tahun. Ini adalah mukjizat besar atas kecintaan kepada kemanusiaan yang dipunyai oleh Nabi Suci Maitreya. Akibat kemurahan yang berupa sangat sedikitnya hilangnya jiwa manusia ini yang telah membuat kabilah Arab yang gemar berperang  itu hilang kebenciannya.

Tak bisa dicederai oleh racun. Di luar racun yang sangat fatal bagi manusia, maka Setan mengatasi yang lain dalam effektifitasnya. Dia tidak hanya menyerang tubuh kita, melainkan juga merasuk dalam pribadi spiritual dan menjadi penyebab dari keterasingan dan keruntuhan yang paling dalam. Mengapa Nabi Suci tidak takut oleh tambahan racun dari Setan atau kejahatan bisa dijawab oleh dirinya. Nabi menyatakan bahwa setiap orang mempunyai setan dalam dirinya, tetapi setan itu telah masuk Islam dan tidak perlu ditakuti lagi. Karena itu Setan tak pernah mengganggunya untuk melakukan perbuatan jahat. Terhadap racun yang biasa, dikatakan bahwa banyak orang mencampuri makanannya dengan racun, namun itu tidak akan merugikan kesehatannya. Seringkali terjadi bahwa Nabi tahu bahwa makanannya dicampuri racun dan beliau seketika tidak mau memakannya. Suatu anekdot dari seorang perempuan Yahudi dengan kisah yang semacam itu tercatat dalam hadist. Selamat dalam pertempuran. Lihat nomor enam. Terlindung dari bahaya api dan air. Ada banyak kisah tentang  banyak nabi yang oleh musuhnya dimasukkan ke api atau atau dicoba ditenggelamkan dalam air tetapi api dan air itu tidak dapat mencederai mereka.

Sesungguhnya ini bukanlah suatu mukjizat yang mengagumkan. Banyak orang yang berjalan di api dan bahkan mereka bukan orang suci. Namun, tanda-bukti ini digenapi sebaik-baiknya dalam pribadi Nabi Suci dengan secara ini:

Dalam kehidupan beberapa nabi sendiri ketika bangsa-bangsa menulikan telinganya terhadap risalah Ilahi, badai api dan air datang menimpa mereka. Rahmat Nabi Suci tidak saja menyelamatkan dirinya dari setiap gangguan api atau air, tetapi juga seluruh bangsa dijaga keamanannya dari siksaan  semacam itu. Al-Quran merujuknya sebagai berikut:

 

“Dan tatkala mereka berkata: Ya Allah, jika ini sungguh-sungguh kebenaran dari Engkau, maka    hujanilah kami dengan batu dari langit, atau timpakanlah kepada kami siksaan yang pedih. Dan Allah tak akan menyiksa mereka selagi engkau berada ditengah-tengah mereka; dan Allah tak akan menyiksa mereka selagi mereka memohon ampun (Q.S. 8: 32-33).

Betapa agungnya keputusan Tuhan ini. Dalam perang Badar suatu hujan yeng lebat membuat  kerusakan besar terhadap musuh, sedangkan hujan yang sama terbukti menjadi rahmat yang besar  bagi Nabi dan para sahabatnya.

Keberhasilan sepenuhnya di dunia ini dan di akhirat. Tidak ada sukses yang lebih baik bagi seseorang yang terpenuhi di hadapan gigi para penentangnya. Ketika Nabi naik ke mimbar dengan missi sucinya maka tak ada teman ataupun seseorang yang bersimpati kepadanya. Jika kejayaan dari rancangannya, kekurangan dalam sarananya, dan demikian besar hasilnya adalah tiga ukuran yang memperlihatkan ke-genius-an seseorang, lalu siapa yang berani membandingkannya dalam kemanusiaan orang besar dalam sejarah modern yang bisa melebihi Muhammad? Tidak kurang dari suatu mukjizat bahwa seseorang yang tidak mempunyai teman ataupun simpatisan, yang pada saat wafatnya tak seorangpun musuhnya yang tersisa di jazirah itu. Dia menemukan bangsanya seluruhnya dalam penyembahan berhala. Beliau meleburnya menjadi kaum Muslimin, yang membenci tuhan palsu dan hanya berhasrat untuk Tuhan Yang-esa dan Ghaib. Dia merubah suatu kaum yang penuh kejahatan menjadi satu yang terpuji dan tulus. Seorang dapat memperkirakan kebesaran ruhani Nabi Suci di alam mendatang dengan keberhasilan yang dicapainya di dalam kehidupan ini.

Kata-kata Buddha bahwa: “Yang paling berhasil di dunia dan setelah wafatnya dekat kepada Tuhannya” (atau dia yang berangkat ke Brahma Loka).

Bandingkanlah kata-kata ini dengan ayat-ayat dari al-Quran:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhan dikau, dengan perasaan ridla, amat memuaskan di hati Masuklah di antara hama-hamba-Ku, Dan masuklah ke Taman-Ku! (Q.S. 89:27-30).

Kata-kata terakhirnya adalah: “Subhana Rabbiyyal A’la”, “Maha-berkah Allah Yang Maha-tinggi”, Dan ruh dari Nabi besar itu terbang ke haribaan Sahabatnya Yang Maha-tinggi.