BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

PENGAJAR AKHLAK DAN GABUNGAN MORAL YANG SUBLIM

“(Demi) tempat tinta, dan pena, dan apa yang mereka tulis!
Demi kenikmatan Tuhan dikau, engkau tidaklah gila.
Dan sesungguhnya engkau mendapat ganjaran yang tak ada putus-putusnya.
Dan sesungguhnya engkau mempunyai akhlak yang agung” (Q.S. 68:1-4).

Kebesaran Buddha adalah dalam cahaya yang bersinar dari akhlak yang diajarkannya kepada umat. Dia percaya bahwa penampakan mukjizat itu bukanlah suatu kriteria dari seorang pembaharu agama, seorang pengajar ataupun seorang nabi. Adalah moral dan akhlaknya yang membuktikan kebenaran atas ketulusannya. Bangsa-bangsa tidak dapat dibangun dengan penampakan mukjizat, melainkan dengan ajaran ruhani.

Kesucian akhlak Muhammad, sebagai pemilik dari moral yang sublim, tidak saja dipuji oleh Buddha, melainkan ini bisa ditaksir dari effektifitasnya terhadap umat yang hendak diperbaharui oleh nabi itu.

Bagi seorang pengajar, mungkin dia seorang pengajar yang elok tetapi mungkin hanya sedikit dari semua ajarannya yang bisa didaya-gunakan, atau bahwa semua fatwanya yang muluk-muluk itu tidak dapat dipraktekkan. Nabi dari Nazareth kelihatannya ajarannya sangat muluk, sehingga tidak ada pengaruhnya bagi para pengikutnya; tetapi Nabi Suci dengan keluhuran dari ajaran akhlaknya, telah berhasil dengan gemilang dalam meningkatkan umatnya kepada tujuan yang lebih tinggi dan sublim. Akhlak inilah yang merekatkan partikel pasir yang terpisah-pisah itu menjadi tembok yang kokoh. Kehidupan bangsa itu tergantung seberapa besar potensi individualnya. Kemampuan adalah bentuk luar dari kejujuran, yang berkaiatan dengan evolusi dari segenap kemampuan serta enersi yang diamanatkan kepadanya oleh Tuhan. Buddha menggambarkan yang dijanjikan sebagai gabungan dari duabelas kemuliaan akhlak, dan dalam kehormatan ini Nabi tidak terkalahkan maupun tertandingi.

Ketulusannya yang unik. Sesungguhnya manusia itu amanah. Dan umumnya, sampai dia dipaksa oleh kesesatan, panik atau ketakutan, dia akan selalu jujur.

Bagi semua nabi adalah yang menjadi tanda pertama dan terutama adalah di atas segala pamrih pribadi dan takut. Dan ini adalah perkara yang menggembirakan bahwa kebenaran dan ketulusan itu diterima oleh semua agama.

Buddha telah berkata: “Jangan berkata dusta, berkatalah yang benar, berbicara benar dengan bebas, Tanpa takut, dan penuh pengabdian”.

Jadi kebenaran dan ketulusan adalah akar kehidupan dari semua agama. Tetapi Muhammad, seorang tulus yang dijanjikan, menurut Buddha, adalah yang sangat jujur, karena dia adalah gabungan dari akhlak yang luhur.

Sebagai fakta nyata, dalam berbagai kitab suci seperti Weda, Zend Avesta, Taurat dan Perjanjian Baru juga, banyak ditekankan kepada berbicara benar, tetapi beberapa peristiwa yang dikecualikan telah diakui dalam berkata bohong, yang lebih disukai dibanding mengungkap kebenaran. Dan dusta semacam ini dilakukan pada saat:

Memuji Tuhan dengan berlebihan.
Mencari keuntungan pribadi demi kerugian agama yang lain.
Memuja para peramal, nabi dan orang-orang suci.
Karena pamrih pribadi dan karena ketakutan.

Para agamawan telah memberikan nama palsu terhadap dusta semacam itu. Sedangkan kehidupan Nabi Suci, pengutukannya yang heroik terhadap takhayul di negerinya, keberaniannya dalam menghadapi kemarahan para penyembah berhala, ketegarannya dalam menahan serangan mereka selama limabelas tahun di Mekkah, pengajarannya yang tiada henti, keterlibatannya dalam peperangan yang tak seimbang, ketabahannya dalam kemenangan, pengabdiannya yang utuh kepada prinsip hidup, semuanya menjadi saksi bahwa beliau dalam segala standar adalah seorang yang tulus.

Dan inilah kesaksian dari para musuhnya:

Cesar Roma menanyakan kepada Abu Sufyan di majelisnya.
“Apakah engkau telah temukan dia (Muhammad itu) telah berbohong sebelumnya?”
Abu Sufyan menjawab: “Tidak”.
Cesar berkata: “Jika ia berdusta tentang Tuhan, mengapa dia tidak berbuat demikian kepada kaumnya?”
Ketika Nabi Suci mendaki bukit dan menyeru kepada para pemimpin Quraish dan bertanya:
“Jika kukatakan kepadamu bahwa sepasukan besar datang dari balik bukit, akankah kalian percaya?”
Mereka serentak menjawab: “Ya, karena kami tidak pernah menemukan kamu berkata bohong sedikitpun juga”.

Seorang musuh besar Islam seperti Abu Jahal suatu hari berkata kepada nabi:

“Sesungguhnya mereka tak mendustakan engkau, tetapi orang-orang lalimlah yang mendustakan ayat-ayat Allah” (Q.S. 6:33).

Dalam perjanjian damai Hudaibyah nabi setuju bahwa seseorang dari Mekkah yang msuk Islam dan minta perlindungan kepada nabi, harus dikembalikan. Sebagai kenyataan, ini berarti mengirim orang Mekkah yang baru masuk Islam kembali ke neraka musuh setelah mereka minta perlindungan kepada kaum Muslimin. Tetapi nabi begitu tulus  dan jujur dalam memegang kata-katanya, sehingga dia mengikuti perjanjian itu dengan sangat ketat dan keras.

Sifat manusia itu terlihat bila dia sedang dalam keadaan lemah. Seorang yang mengatakan tentang akhlaknya dan tidak mengakui kelemahannya tidak bisa disebut jujur. Orang-orang telah memuja-muji para nabi dan peramal mereka sehingga meningkatkan derajat mereka persis dengan status yang sama sebagai Tuhan. Tetapi Nabi Muhammad secara eksplisit berkali-kali mengumumkan: “Katakanlah saya ini manusia biasa seperti kalian”.

Ada suatu peristiwa yang menyentuh bagaimana seorang buta telah menginterupsi pembicaraan Nabi Suci dengan beberapa kepala dari kabilah Quraish. Nabi Suci mengambil sikap kurang senang atas interupsi ini dimana beliau lalu menerima wahyu ini:

“Ia bermuka masam dan berpaling, Karena orang buta datang kepadanya. Dan apakah yang membuat engkau tahu, bahwa ia boleh jadi akan menyucikan dirinya? Atau ia mau ingat, sehingga Peringatan itu berguna bagi dia? Adapun orang yang menganggap dirinya tak memerlukan apa-apa, Kepadanya engkau menaruh perhatian. Dan tak ada cacat bagi engkau jika ia tak mau menyucikan dirinya. Adapun orang yang datang kepada engkau dengan usaha keras, Dan ia takut, Kepadanya engkau tak menaruh perhatian. (Q.S. 80: 1-10).

Kurang-perhatiannya nabi kepada yang memotong perkataan, sedangkan beliau belum selesai bicaranya, sesungguhnya adalah sangat alami.
Lagi, dia tidak meremehkan pemotong pembicaraan itu atas interupsinya; melainkan hanya kurang senang.
Pada setiap kesempatan, bila pilihan itu diserahkan kepada masing-masing orang, pastilah dia akan menjadi orang terakhir yang tidak setuju dengan tindakannya sendiri semacam itu.
Apa yang melebihi dalam kejujuran seseorang adalah bahwa beliau, tidak mau menyembunyikan suatu wahyu yang menunjukkan kurang perhatiannya terhadap orang buta itu, dan karena ini ditulis dalam al-Quran serta diulang-ulangi dan dibaca selama-lamanya. Buddha, ketika meramalkan bahwa Dia yang Dijanjikan
itu sungguh jujur, berarti bahwa dia memang luar biasa dalam hal itu, sebagaimana telah kita tunjukkan.

Percaya diri. Kita hidup bekerja-sama dan tergantung satu sama lain.Tetapi, meminta pengurbanan orang lain, sedang kita sendiri tidak mau melakukannya, adalah bertentangan dengan percaya diri.

Suatu sifat yang menonjol dari karakter Nabi Suci Muhammad adalah kebaikannya kepada orang lain, tetapi dia tidak pernah mengharap kebaikan orang lain terhadapnya. Jika kebetulan ada seseorang yang berbuat baik kepadanya maka dia akan berterimakasih, bila tidak maka dia tidak cocok disebut orang yang percaya diri. Ada suatu perintah baginya dalam al-Quran:

“Dan janganlah memberi sesuatu untuk mencari keuntungan” (Q.S. 74:6).

Ini mencederai keduanya, baik bagi yang memberi maupun yang menerima. Seperti halnya bagi fihak penerima, bila dia menolak untuk membayar kembali atau membalas budi yang diberikan kepadanya, maka itu adalah penolakan terhadap rasa percaya diri dan memalukan di mata orang-orang lain. Percaya diri adalah bagian yang penting dari sikap yang baik.

Anekdot ini mengungkap betapa percaya dirinya Nabi Muhammad itu:

Abu Bakar adalah seorang kawan intim dan sahabat nabi di gua Bukit Tsur. Dia setia dan taat, dan selalu siap-sedia untuk apa pun dan segalanya bagi kawannya yang mulia. Meskipun demikian, ia dibayar kembali oleh Nabi ketika dia menghadiahkan seekora unta ketika Nabi hijrah ke Madinah. Tempat duduk yang dirasa paling nyaman dan cocok untuk masjid di Madinah, dibayar ongkosnya kepada pemiliknya, meskipun yang belakangan ingin memberikannya tanpa beaya.

Setiap kali nabi menerima hadiah maka biasanya dia membalasnya kembali. Raja Yaman suatu kali mengirim jubah sebagai hadiah kepada nabi, dan sebaliknya beliau juga menghadiahakan jubah lain untuk Raja tersebut. Sesuai dengan gambaran atas karakter Nabi ini maka beliau menolak zakat bagi dirinya, keluarga dan anak-anaknya. Sopan-santun dalam pembicaraan: Sopan santun dan lemah lembut adalah gambaran besar dari keturunan yang baik. Tuhan telah menggambarkan dia sebagai rahmat-Nya. Nabi adalah seorang yang sangat sopan, lemah-lembut dan dermawan. Al-Quran berkata:

“Jadi dengan rahmat Allah itulah engkau bertindak lemah-lembut terhadap mereka” (Q.S. 3:158).

Sepanjang hidupnya, nabi tidak pernah memaki orang. Dia tidak pernah memperlakukan orang dengan kata-kata kasar. Dia akan meyakinkan orang dengan paling sopan, lemah-lembut dan penuh kehangatan, dan dia menghentikan orang dari menggunakan bahasa yang kasar.

Orang Yahudi biasa mengata-ngatainya dengan kata-kata yang paling kasar tetapi nabi selalu menahan diri dari membalasnya, dan dia mengajarkan yang lain sesopan dan selemah-lembut dirinya.

Berjiwa ksatria dan berwibawa. Nabi itu kesatria dan wibawa sejak lahirnya maupun naluriahnya. Dia berasal dari kabilah yang menonjol yakni Quraish dan kekesatriaannya itu dibabarkan dalam moralnya yang sublim. Rumah dari Dia Yang Maha-suci di mekkah adalah di bawah penjagaan dari kabilah ini. Melintasi jazirah Arab para kafilah yang kaya-raya dirampok; tetapi kaum Quraish sangat berpengaruh dan terkemuka sehingga kafilah mereka tidak takut apa-apa. Kebal dari kebanggaan: Quran Suci menyeru kepada kaum Muslimin pada umumnya dan Nabi khususnya agar tidak berjalan dengan bangga hati di muka bumi:

 “Dan janganlah berjalan di bumi dengan bersorak-sorai” (Q.S. 17:37).

Dan lagi:

 

“Adapun hamba Tuhan Yang Maha-pemurah ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan   rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menegur mereka, mereka berkata: Damai!”. (Q.S. 25:63). 

 

Betapapun tingginya kedudukan Nabi yang diembannya di kalangan umatnya, namun dia tak pernah menyukai kebanggan ataupun pembedaan terhadap dirinya. Orang-orang Quraish yang paling dihormati biasa naik haji dan menginap di Muzdalifah, dimana orang lain tak boleh menikmati privilese ini. Tetapi Nabi sendiri, meskipun seorang Quraish, tidak pernah mau menerima pembedaan semacam itu   Bahkan sebelum dan sesudah pengakuan kenabiannya, dia selalu tinggal  bersama orang-orang kebanyakan, dan dia tidak senang akan suatu tempat khusus yang disediakan buatnya, atau suatu tenda khusus penahan panas matahari, sedangkan yang lain juga sama-sama menolak.
 

Para sahabatnya memberi persediaan kursi kepadanya tetapi beliau menyatakan bahwa siapa yang datang pertama dialah yang layak atas keistimewaan itu. Dia biasa berperan-serta dalam segala pekerjaan; yang sedang dikerjakan oleh yang lain-lain juga.

Ketika masjid di Madinah sedang dibangun, dia sendiri yang bekerja sebagai tukang biasa. Di samping itu beliau juga biasa menggali parit pada perang Uhud. Dan inilah kejadian yang dikutip Dalam hadist bahwa beliau terlihat penuh debu dalam peperangan ketika dia bekerja.

Dalam segala pekerjaan beliau satu peringkat dengan para sahabatnya. Dia tidak pernah memakai mahkota atau tempat duduk yang lebih tinggi, tetapi duduk bersama para sahabatnya di hambal yang sama, sedemikian sehingga seorang yang baru datang tidak dapat membedakan di antara mereka yang mana  Nabi itu dan seringkali menanyakannya: Siapakah di antara kalian yang bernama Muhammad?

Di atas segala tipu daya. Ada banyak peristiwa dimana aNabi memberikan suatu bukti atas kejujurannya yang mutlak. Suatu kejadian atau dua bisa dikutip di sini. Sebelum beliau diangkat sebagai nabi di Mekkah suatu kali Abdullah bin Abil’amsa menutup perjanjian dengan Nabi dan memintanya menunggu di suatu tempat serta menyelesaikan masalahnya. Namun dia lupa akan kata-katanya. Setelah tiga hari dia teringat akan hal itu, dia dapati Nabi, tepat dimana dia telah meninggalkannya. Nabi, waktu melihatnya, menyatakan bahwa beliau telah menunggu dia selama tiga hari terus-menerus. Dalam perang Badar, kaum Muslimin sangat sedikit jumlahnya dan mereka sangat membutuhkan pasukan. Dua dari sahabat nabi, Abu Hudzaifah dan Abu Hassal, ketika tiba dari Mekkah di tahan dalam perjalanan oleh musuh namun kemudian dibebaskan dengan syarat mereka tidak boleh ikut berperang di fihak Nabi. Mereka menceriterakan seluruh kisah kepada Nabi dan beliau menyatakan, Kita harus menepati janji, silahkan kalian pergi dan biarlah kata-kata itu dipenuhi; kita tidak membutuhkan sesuatu kecuali pertolongan Tuhan.

Bebas dari dipermalukan. Quran Suci menyatakan:

 “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum memperolok-olok kaum yang lain;   barangkali (kaum lain) itu lebih baik daripada mereka; dan jangan pula kaum perempuan yang   satu (memperolok-olok) kaum perempuan yang lain; barangkali (kaum perempuan lain) itu lebih   baik daripada mereka. Dan janganlah mencela orang-orang kamu sendiri, dan jangan pula saling   memanggil dengan nama ejekan. Buruk sekali nama jelek itu sesudah beriman; dan baranagsiapa   tak bertobat, mereka orang lalim” (Q.S. 49:11).

Bahkan para nabi lain tidak menyeru orang agar tidak merendahkan orang lain, tetapi hanyalah nabi

Islam ini yang mengajar kepada seluruh negeri agar tidak memandang rendah bangsa lain. Dia  memberi kepada seluruh umat manusia status persamaan sepenuhnya dan membunyikan lonceng  kematian kepada segala jenis perbedaan akibat kasta, iklim, warna kulit dan ras. Dia merekatkan seluruh kaum Muslmin sebagai saudara. Dia telah mengakui kedatangan semua juru ingat, rasul, dan  para nabi di pelbagai bangsa serta menyatakan bahwa semua negara adalah kreasi dari Tuhan Yang­esa.

Tidak dikuasai oleh rasa balas dendam. Ini adalah satu dari sifat nabi yang paling menonjol. Dalam masa dama begitu juga di saat peperangan, dia itu tahan uji dan sabar. Pada situasi biasa, manusia itu bisa tahan uji, tetapi membabarkan kualitas yang menonjol ini pada saat dia memiliki tongkat komando dan mahkota adalah lebih jarang. Kemudian yang sering adalah membalas kepada mereka yang dari tangannya dia mengalami penganiayaan ketika masa susah. Nabi mempunyai kisah yang lain untuk diceriterakan. Ketika beliau sedang meramu kekuasaan kerajaan yang besar sesudah penaklukan Mekkah, dia mengampuni semua musuh Islam yang terkalahkan. “Katakan, wahai orang-orang Mekkah, apakah yang kauharapkan dariku hari ini?” adalah kata-kata Nabi kepada kabilah yang dikalahkannya sesudah selama ini menganiaya dia. Dan dia memaafkan semuanya atas apa yang mereka perbuat terutama pada saat ketika dia dengan segenap sarana yang dimilikinya bisa membalas kepada mereka karena dialah yang memegang Pemerintahan. Hindun, isteri dari lawan Islam yang besar Abu Sufyan, yang demikian brutal karena merobek dada paman nabi, Hamzah dan mengunyah jantung, hati dan ginjalnya serta memotong buah zakarnya dan mengalungkannya, karena kebenciannya yang sangat. Pada waktu penaklukan Mekkah, dia muncul dengan tabir di hadapan nabi, tetapi dikenali karena tingkah-lakunya  yang menyakitkan. Tetapi Nabi tidak mau mengungkit peristiwa yang sangat menyedihkan dan menyiksa itu. Seketika itu juga Hindun menangis: “Nabi dari Tuhan Yang-benar, tendamu terlihat menjadi kediaman orang yang paling dicintai sekarang, meskipun sebelumnya sangat saya benci”. Nabi mengampuni dia. Umumnya dalam keadaan semacam itu, manusia akan bangkit marahnya dan tak ada lain yang menghalanginya untuk membalas apa yang telah dilakukan kepadanya sebelumnya. Orang Arab buas yang membunuh Hamzah adalah seorang Mekkah. Ketika Mekkah ditaklukkan keum Muslimin, dia lari untuk menyelamatkan jiwanya dan tiba di Taif. Namun di sana dia tidak dapat hidup tenteram. Akhirnya, dia datang kepada Nabi. Sesungguhnya, siapapun yang tidak dapat menemukan kedamaian di manapun juga, hanya bisa menemukannya di bawah bayangan Muhammad. Ada banyak kejadian seperti ini dalam sejarah Nabi yang paling sabar ini, yang tidak saja mengungkapkan betapa nabi itu bisa mengendalikan kemarahan dan amukannya, melainkan juga rahmatnya bisa mendinginkan kemarahan dan amuk orang-orang lain.

Sedih atas kesusahan orang lain. Mekkah adalah tempat kelahiran Nabi, tetapi penduduk Mekkah adalah musuhnya yang besar. Selama tiga tahun mereka mendiamkan beliau. Mereka memutuskan tak boleh ada sebutir biji-bijianpun makanan yang sampai ke tangan beliau. Setelah banyak penderitaan Nabi terpaksa meninggalkan Mekkah. Setelah beliau hijrah maka suatu  wabah kelaparan yang menakutkan menimpa kota itu, sedemikian rupa sehingga orang-orang terpaksa makan tulang dan bangkai. Maka datanglah Abu Sufyan ke hadapan beliau, dan berkata: “Wahai Muhammad! orang-orangmu akan binasa”. Seketika itu juga, Nabi mengangkat tangannya dan mendoakan agar  musuhnya dibebaskan dari penderitaan ini. Dalam perang Uhud Nabi dilempari batu sedemikian banyak sampai giginya berdarah-darah. Tetapi orang yang penyabar ini tidak membalas kutukan sedikitpun. Sebaliknya dia berdoa: “Wahai Tuhan! Ampunilah orang-orang ini karena mereka tidak tahu”. Berbeda dengan Raja-raja dunia yang lain, nabi tidak pernah senang dengan kesusahan orang lain, ataupun bangga atas kemenangan yang diperoleh.

Kasih-sayang kepada umat seperti seorang ibu. Semua filantropis mencintai kemanusiaan sepanjang hidupnya. Tetapi suatu kecintaan yang alami dan naluri seperti seorang ibu kepada anak-anaknya patut dipertimbangkan. Perlakuan para lawan nabi dan musuh Islam di Mekkah, bisa dibandingkan dengan anak yang nakal dan tidak patuh kepada ibunya. Betapa orang-orang Mekkah memperlakukan Nabi tak disembunyikan pada siapapun.

Namun cara dimana Nabi menunjukkan naluri cinta, kehangatan dan penuh perhatiannya demi kebaikan mereka adalah bukti yang jelas dari perasaannya yang penuh rahmat. Dia menaruh simpati yang sebesar-besarnya kepada fakir-miskin, budak yang hina. Suatu kisah bisa dikutip di sini. Zaid bin Harits adalah seorang budak, yang dibebaskan oleh Nabi. Ayah Zaid datang untuk membawanya pulang, tetapi cintanya kepada Nabi begitu kuat di hatinya sehingga dia lebih cinta dan simpati kepada Nabi di bandingkan bapaknya sendiri. Lagi, seseorang suatu kali muncul ke hadapan Nabi  dan berkata: Wahai Nabi yang paling ditinggikan Tuhan, berapa kali saya harus memaafkan seorang budak? Nabi lama berdiam diri. Dia mengulangi pertanyaannya namun Nabi tetap terdiam. Ketika dia bertanya untuk ke tiga kalinya, maka jawaban Nabi adalah: “Tujuhpuluh kali”.

Memaafkan suatu kesalahan dan apalagi itu adalah kesalahan seorang budak, dan di atas itu memaafkan tujuhpuluh kali sehari, sesungguhnya adalah sesuatu yang mustahil dicapai. Hanyalah jiwa yang seperti ibu, yang bisa memiliki begitu besar cinta dan kasih untuk melakukan ini semua. Nabi telah meletakkan semuanya ini dalam praktik. Anas yang adalah pembantu Nabi, mengatakan bahwa Nabi Suci dalam sepanjang hayatnya tidak pernah berteriak, apalagi mengatakan seperti ‘Cih’, kepadanya.

Selalu berfikir positif. Quran Suci mengatakan:

“(Yaitu) orang yang mengingat-ingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring di atas lambung mereka, dan mereka merenungkan tentang terciptanya langit dan bumi: Tuhan kami, Engkau tak menciptakan itu sia-sia!” (Q.S. 3:190).

Dan lagi Dia memerintahkan Nabi agar berkata:

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku dan pengurbananku dan hidupku dan matiku adalah untuk   Allah, Tuhan sarwa sekalian alam” (Q.S. 6:163).

Seorang yang ingat kepada Tuhan sewaktu duduk dan berdiri tak akan pernah lalai terhadap kewajibannya dan beramal salih kepada sesama manusia. Adalah kegelisahannya kepada perbaikan kemanusiaan yang memaksanya untuk bersujud dan bermohon dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan serta ber-rendah-hati dalam doanya. Di samping segala perlawanan, dia berdoa dan sangat gelisah serta cemas demi perbaikan dan ketulusan akan umatnya.

Suatu contoh-teladan bagi yang lain: Nabi Muhammad adalah satu-satunya nabi di seluruh galaksi, yang kehidupannya telah ditulis dalam rincian yang sangat ketat. Orang-orang bisa menemukan keselamatan dalam mengikuti jalan kehidupannya. Ini sesuai dengan perintah Quran Suci:

“Sesungguhnya dalam diri Rasulullah kamu mempunyai teladan yang baik bagi orang yang mendambakan Allah dan Hari Akhir, dan yang ingat sebanyak-banyaknya kepada Allah” (Q.S. 33:21).