BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

NUBUATAN TENTANG MAITREYA YANG TERKENAL DI DUNIA

Jika nubuatan itu mengandung kesaksian baik dari kawan maupun lawan, ini merupakan bukti terbesar tentang penting dan keasliannya. Ini berbeda bila misalnya bila ada perselisihan pendapat atas asal­usulnya yang tepat. Keotentikan dari prognosis ini jelas dari fakta bahwa misionaris Kristen, Teosofi dan pakar Hindu telah mencoba melekatkannya kepada para orang suci dan nabinya sendiri. Tidak berapa lama yang lalu ketika saya di Madras dimana pusat Teosofi Adyar mengadakan suatu konferensi agama yang dihadiri oleh kaum Teosofi dari seluruh dunia. Pada peristiwa ini sejumlah besar kepustakaan telah diterbitkan dimana obyeknya adalah datangnya guru dunia, Maitreya, yang didiskusikan secara rinci. Maitreya yang dijanjikan telah disebutkan dalam buku-buku Kristen dan Teosofi dengan kata-kata berikut ini : “Maitreya Buddha yang ke lima belum datang. Yang belakangan ini adalah Kabbalistic Raja Almasih, utusan cahaya, Sosiosh juru-selamat Iran, yang akan datang dengan seekor kuda putih. Ini juga menjadi kedatangan Kristus yang kedua”. Lihat apokripa St. Yohanes. (“Isis Unveiled” oleh Madame Blavatsky, halaman 156).

“Kaum Buddhis menunggu kedatangan Maitreya Buddha di abad mendatang, demikian pula umat Hindu menunggu Kalki Avatar dari Wisnu yang akan datang dengan seekor kuda dengan pedang di tangan”. Avatara terakhir ini akan disebut Kalki. Dalam Bhagawat disebutkan bahwa Resi Maitreya, guru dunia masa kini yang disebut kawan Dwipayn Vyas Muni, yang akan menjadi guru terakhir dari Buddha yang dijanjikan. Pada saat Maitreya muncul untuk kedua kali dalam bentuk Almasih, dia menyeru kepada para muridnya untuk saling mencintai sama seperti dia mencintai mereka. Otoritas yang sama menulis selanjutnya bahwa Kalki Avatara dan Maitreya adalah dua Almasih, sebagaimana tulisnya: Dalam Wisnu Purana ditulis bahwa Resi Maitreya akan mengembangkan cahaya ruhani di abad kegelapan dan akan meletakkan landasan peradaban yang terbaik, berdasarkan persaudaraan, kasih­sayang dan harmoni. Namun, nabi ini bukanlah Kalki Avatara, yang akan datang belakangan, tetapi Maitreya ini telah didefinisikan sebagai pembimbing ruhani masa depan. Dalam buku lain dari kaum Teosofi “The Master of the Path” oleh Lead Beater halaman 51, “seseorang yang bernama Krishna Murti telah didefinisikan sebagai Dia Yang Dijanjikan dan telah ditulis bahwa: Pangeran Maitreya mengambil arah yang sama ketika dia mengunjungi Palestina, 2.000 tahun yang lalu”. Dalam “Buddha and Christ” oleh Jinarja Dass, halaman 8, telah ditulis: “Pada hari-hari itu ada dua di antara jutaan manusia yang berdiri sebagai menara di atas yang lain dalam kekuatan berkah dan cinta. Sumedha dan lainnya, di hari-hari belakangan kita kenal mereka sebagai Gautama Buddha dan Kristus”. Seorang orientalis yang terkenal di dunia, Prof. Max Muller menulis dalam “Chips from a German Workshop” jilid I halaman 452-453 : “Pernahkah kaum Buddhis mencoba mengetahui bahwa Buddha yang Dijanjikan itu tiada lebih daripada Maitreya yang diharapkan, guru Hukum, namun dia timbul sebagai utusan cinta (Almasih)”. “Maitreya, nama dari Budhisatva yang merupakan Buddha di masa depan. Agama Buddha berpegang bahwa kebenarannya secara berulang-ulang telah diajarkan oleh Buddha, yang muncul dalam suksesi dan doktrin setelah kemerosotan dan menghilangnya, akan sekali lagi terlaksana dan diajarkan oleh Buddha di masa depan. Suatu siklus dimana tiada Buddha yang muncul disebut kosong (Shunya). Tetapi dalam siklus ini ada lima, empat telah muncul, dan yang kelima adalah Maitreya. Teori Buddha yang datang kembali ini bukannya primitif, tetapi sudah pasti timbul sebelum kanon Pali, karena Metteya disebutkan dua kali di sana” (Digha Nikaya, No.26. Buddhavansha bab 2) dan kepercayaan itu menjadi mapan di semua aliran (E. Leuman,  “Maitreya Samiti”). “Ada satu makhluk , wahai saudaraku, yang lahir ke dunia demi kebaikan dan kemakmuran dari sebagian besar manusia, karena rahmat-Nya kepada dunia, demi kemaslahatan dan kebajikan dan kesejahteraan dewata dan manusia. Dan apakah makhluk itu? Seorang Tathagata, dan Arhat Buddha, Yang Utama”. (Digha Nikaya, 26). “Dia yang menaklukkan tidak akan ditaklukkan lagi” (Dhammapada). Edmund dan Pavri mendefinisikan Almasih Yang Dijanjikan yang disebutkan dalam Yohanes, sebagai Maitreya dan Almasih sebagai pribadi yang satu dan sama. (“Buddhist and Christian Gospels”, jilid II hal. 164; “The Coming of Christ”, hal. 106).

Beberapa penulis Hindu telah mencoba melekatkan nubuatan ini kepada orang suci mereka sendiri Shankaracharya. Ini adalah pribadi yang sama, yang melakukan segala macam kesulitan terhadap kaum Buddhis di India karena dia berpandangan bahwa Buddha itu menentang Weda (Telah kita sebutkan sebelumnya, pandangannya terhadap Weda). Dia membantai kaum Buddhis sedemikian besar jumlahnya hingga tak seorangpun yang tersisa di India, entah terbunuh atau melarikan diri dari India.

Betapapun dengan semuanya ini, adalah sungguh melukai hati bila Shankaracharya inidihubungkan dengan Maitreya Yang Dijanjikan. Juga klaim kaum Teosofi bahwa Krishna Murti adalah Maitreya setelah beberapa waktu mereka gagal mempropagandakannya, sekarang hanya menunggu akan datangnya Maitreya. Ini adalah pelajaran Tuhan kepada kaum Teosofi dan kepada mereka yang mengira bahwa nabi itu seorang yang dibuat oleh manusia atau rekaan orang belaka. Tuhan memenuhi nubuatan Buddha dalam pribadi Muhammad 1400 tahun yang lalu.

Mengenai klaim dari kawan-kawan Kristiani kita, bisa dicatat bahwa atribut Maitreya itu tidak bisa didapati dalam pribadi Kristus dan cukuplah kita mintakan  perhatian  terhadap buku Monier Williams tentang Buddhisme, dimana dia mengungkapkan hal yang paling memalukan dalam mengaitkan Messiah dan Buddha. Dalam suatu bab khusus dia menulis:

“Adalah rupanya suatu kenaifan, dalam menyimpulkan pelajaran ini; Siapakah yang akan kita   pilih sebagai pedoman kita, harapan kita, juru selamat kita. “Cahaya Asia” atau cahaya dunia? (Buddhism and Christianity).

“Buddha atau Kristus? Adalah sekedar suatu ejekan untuk mengajukan pertanyaan ini kepada    orang-orang yang rasional dan mau berfikir dalam abad ke sembilanbelas; kitab mana harus kita    peluk dalam hati kita pada jam terakhir, kitab yang memberi tahu kita tentang orang mati,    ketiadaan, Buddha yang menyerahkan kematiannya atau Kitab yang mengungkapkan kepada kita  tentang yang hidup, kehidupan abadi yang diberikan oleh Kristus “. (Monier Williams, hal.536-563). Sebagai kenyataan bab ini berjudul: Nubuatan tentang Maitreya yang dikenal luas di dunia.

Klaim dari kaum Kristen, Teosofi dan Hindu telah membuktikan bahwa nubuatan ini terkenal dalam istilah yang paling jelas tanpa kebingungan lagi dalam kitab-kitab agama Buddha. Suatu kesimpulan ringkas dari tema mereka ini bisa diberikan di bawah ini:

Kaum Buddhis, begitu pula Persia, Hindu dan Kristen, telah menunggu seorang yang dijanjikan.
Namanya adalah Maitreya.
Dia kelak akan benar-benar seorang Maitreya dalam arti maupun kata.
Dia adalah gabungan dari rahmat dan penuh kehangatan.
Dia akan menjadi pemilik pedang, yakni pedang kebenaran, dan dia akan mempertahankan diri,
sebagaimana kata Quran Suci:

“(Perang) diizinkan kepada orang-orang yang diperangi, karena mereka dianiaya. Dan sesungguhnya Allah itu kuasa untuk menolong mereka. (Yaitu) orang-orang yang diusir dari rumah mereka tanpa alasan yang benar, kecuali hanya karena mereka berkata: Tuhan kami ialah Allah” (Q.S. 22:39-40).

Maitreya yang akan datang, Wishnu Avatara dan Sosiosh dengan seekor kuda putihnya merujuk kepada kehidupan yang murni serta paling sublim, yang akan dipimpin oleh orang yang dijanjikan itu. Ini juga menunjukkan tertekannya nafsu jahat dengan pribadi yang tulus. Sebagai kenyataan, para sejarawan mengungkapkan kuda nabi yang disebut Buraq yang berwarna putih. Teka-teki ini dengan indahnya telah ditafsirkan dalam Wahyu kepada St. Yohanes, yang terbaca:

“Lalu aku melihat sorga terbuka; sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil” (Wahyu 19:11).

Pedang di tangan dan seekor kuda putih yang ditungganginya diikuti pernyataan bahwa bahwa Dia yang Dijanjikan itu adalah seorang yang jujur dan benar, dan ia akan mengadili dengan pertolongan kebenaran dan berjuang untuk penyebarannya. Setiap kata dalam wahyu ini membuktikan Muhammad sebagai dia yang dijanjikan seperti yang dirujuk di atas. Dia diakui terkenal sebagai yang terpercaya (Al-Ameen) dan yang benar (Siddiq) oleh para musuhnya. Wahyu kepada Santo Yohanes itu ditulis pada tahun 96 M. Setelah Almasih maka giliran Nabi Suci yang telah berperang dan berjihad untuk menyebarkan kebenaran. Dan tidak ada sesuatupun yang membingungkan tentang kuda putih yang dimilikinya untuk berkendaraan. Nama dari dua kudanya adalah “Luhuf” dan “Sanjah”. Adalah aneh bahwa tak seorangpun nabi Bani Israil yang boleh mengendarai kuda.

Tuhan melarang berdagang dengan Mesir yang terkenal akan perdagangan kudanya (Ulangan 17:16), dan hanya Sulaiman yang empunya kuda.

Para hakim dan pangeran Bani Israil biasanya menggunakan keledai dan bihar sebagai kendaraan.
Karena itu nubuatan tentang seorang penunggang kuda adalah Muhammad dan pengendara keledai adalah Kristus. Bahwa Maitreya adalah teman Viasji adalah terang dari nubuatan, yang telah diramalkan tentang Nabi Suci oleh Vyasji dalam Bhavishya Purana (didiskusikan dalam “Prophet Muhammad in Hindu Scriptures” di tempat lain dalam buku ini).
Maitreya adalah Buddha yang terakhir dan Nabi; sebagaimana juga telah dikatakan dalam al-Quran:

“Muhammad bukanlah ayah salah seorang dari orang-orang kamu, melainkan dia itu Utusan Allah dan segel (penutup) para Nabi”. (Q.S. 33:40).

Maitreya akan menjadi utusan dari rahmat serta kasih-sayang ke seluruh lama semesta. Kedatangannya akan terjadi pada abad kegelapan (Kaliyuga). Dalam terminologi Hindu abad di dunia ini dibagi dalam empat abad (yugas). 1. Krutayuga, 2. Tretayuga, 3. Dwaparyuga, 4. Kaliyuga. Semua resi Hindu (utusan) muncul dalam ketiga abad pertama (periode) dan Muhammad muncul pada abad Kaliyuga.

SUMBER NUBUATAN TENTANG MAITREYA

Perkara lain yang menunjukkan keaslian akan pentingnya nubuatan ini tentang kedatangan Nabi Yang Dijanjikan terdapat dalam daftar sumber yang diberikan di bawah ini:

Nubuatan ini diberikan oleh murid Buddha yang terkenal dan terkemuka.
Disebutkannya adalah oleh percakapan Buddha sendiri.
Raja Buddhis membuat patung-patung dari Maitreya yang akan datang di pelbagai kota di Asia, semacam Kandhara, Gaya, Benares, di Provinsi Frontier, Deccan, Burma, Cina, Jepang, dan tempat-tempat yang terjauh di Asia Tengah. Beberapa dari patung ini setinggi 120 kaki.
Tidak saja Gautama Buddha melainkan juga semua Buddha yang terdahulu darinya mengharapkan kedatangan Dia yang Dijanjikan.
Dalam Kitab-kitab agama Buddha yang paling otentik dan standar, lukisanan sosok Dia yang Dijanjikan itu digambarkan dengan terang, supaya orang-orang tidak tertipu dalam mengenalinya.
Beberapa gambaran atas sifat-sifat khususnya yang menonjol juga telah diberikan.
Kualitas moralnya digambarkan dalam pujian yang ditulis dengan istilah yang jelas dan istimewa.
Masa kedatangannya telah disebutkan, tetapi tidak dalam istilah yang persis. Ada perbedaan pandangan tentang pertanyaan ini.
Maitreya, Dia yang Dijanjikan, telah digambarkan sebagai pembimbing dari seluruh umat manusia.
Disebutkan dalam istilah yang terbuka bahwa dia adalah akhir dari para nabi, bahwa tidak ada Buddha lagi yang muncul sesudahnya.
Dalam kepustakaan sejarah kaum Buddhis, disebutkan sebagai suatu fakta bahwa Dia Yang Dijanjikan ditunggu dimana-mana dengan sangat.
Nama “Maitreya” sendiri berhubungan dengan  seorang yang dikenal tanpa suatu keraguan.
Buddha menyebut Dia yang Dijanjikan adalah seorang Buddha dan digambarkan pelariannya itu sama dengan Buddha yang  Dijanjikan kelak.
Buddha menekankan nubuatan ini sedemikian kuatnya sehingga para muridnya semuanya lupa akan kesedihan atas kematiannya.
Kaum Buddhis sangat ingin tahu tentang Maitreya sehingga mereka menyangka setiap dan masing-masing pembaharu sebagai dia yang dijanjikan. Ada banyak kejadian semacam ini dalam sejarah kaum Buddhis.

Dalam Kitab-kitab suci agama Buddha disebutkan tidak saja tentang akhlaknya yang mulia dan patung­patung yang didirikan untuknya, melainkan juga tanda-bukti dan akhlak para muridnya, kaum mukmin dan para pengikutnya, yang diberikan secara rinci. Dia digambarkan sebagai gabungan dari akhlak semacam itu yang belum pernah ada pembaharu lain yang menyamainya.