BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

TRADISI DARI MURID-MURID BUDDHA YANG TERKENAL

Ada suatu kitab berjudul “Anagat Vansha” (Sejarah dari peristiwa di masa depan). Yang berikut ini disalin dari “Journal of the Pali Textbook Society” tahun 1886 M. halaman 33 di Museum Library Colombo, Sri Lanka. Satu copy lagi dari ini terdapat di M.G.P.O. Hinayana Library, Rangoon.

Aham etrahi sumbudho Metteyo
capy hessati idheva bhaddake kappe
asamjate vassakotiye
Metteyo namena sambuddho
dvipaduttamo
Kattam bhavissati mama
ceayena rathaman panca
anatara dhanai.

Dalam kitab itu tertulis:

Puji kepada Dia yang Diberkahi, Buddha yang suci dan agung itu, yang saya telah mendengar pada suatu peristiwa tertentu. Yang Diberkahi tinggal di Kapilavastu dalam suatu gua di pohon beringin di tepi sungai Rohani. Kemudian seorang yang dihormati, Sariputta bertanya kepada Dia yang Diberkahi mengenai Penakluk di masa depan. Pahlawan yang akan mengikutimu adalah sebagai Buddha, apapun juga keadaannya. Peristiwa seutuhnya akan dipelajari. Nyatakanlah kepadaku. Engkau Yang-esa dan Melihat. Ketika dia mendengar pembicaraan para tetua. Yang Diberkahi memberikan jawaban:  Aku akan katakan kepadamu, Sariputta; berdoalah agar kaupasang telingamu karena aku akan bicara. Lingkaran kita adalah sesuatu yang membahagiakan. Tiga pemimpin telah hidup: Kaku-Sandha, Konagamana, dan pemimpin tambahan Kasapa. “Buddha yang utama adalah saya, tetapi setelahku Metteya akan datang, pada saat lingkaran yang bahagia ini berakhir. Sebelumnya,  kisah tentang tahun-tahun ini akan lenyap, kemudian Metteya disebut Yang Utama dan menjadi pemimpin dari seluruh umat manusia”. (“Buddhism in transition” diterjemahkan oleh Warren Pages, halaman 480-482).

Kisah ini berasal dari seorang murid besar Buddha dan sahabatnya. Kata-kata ini berbicara mengenai keagungan sang nabi. Dan karena inilah maka Dia yang Dijanjikan itu dipandang sebagai pendiri agama kemanusiaan.

KISAH DARI MURIDNYA YANG LAIN, ANANDA

Ananda adalah perawi yang lain dari nubuatan ini. Dia selalu menyukai rombongan Buddha. Kata-katanya dikutip dari “Milinda Prashnah”, suatu kitab dengan otoritas, yang telah lama merupakan kitab populer dalam bentuk bahasa Pali, telah diterjemahkan ke bahasa Sinhala, dan memiliki suatu posisi yang unik kedua hanya sesudah Pali Pitaka. Kitab ini diterbitkan di Colombo pada tahun 1877; ini mengungkapkan justru dalam Kata Pengantarnya bahwa kitab ini berisi percakapan antara Raja Milinda dengan seorang misionaris Buddha Nagsena, 500 tahun sesudah Buddha. Rev. T.W.Rhys Davids telah menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Mengenai otentisitasnya, dia menulis:

   Kitab ini telah datang ke rumahnya yang di selatan ini sebagai kitab dengan standar otoritas……

Prof. T.W.Rhys Davids menerjemahkan: Nagsena yang suci, telah dikatakan oleh dia yang diberkahi. Sekarang Tathagata tidak mengira Ananda adalah dia yang harus memimpin persaudaraan, atau bahwa pesan itu tergantung kepadanya. Tetapi sebaliknya ketika menggambarkan kemuliaan dan sifat dari Metteya, dia yang diberkahi, dia berkata demikian ini: - Dia akan menjadi pemimpin  suatu persaudaraan dari beberapa ribu orang jumlahnya seperti halnya saya sekarang yang menjadi pemimpin dari beberapa ratus orang jumlahnya. (T.W. Rhys Davids, “Milinda Prashnah” halaman 225).

Raja Milinda berkata kepada Nagsena, ujarnya: - Wahai Nagsena yang terhormat! Buddha yang diberkati telah meramalkan…Buddha tidak berfikir bahwa hanya dialah yang memimpin komunitas. Tetapi dengan mendefinisikan atribut dari Metteya, Buddha yang diberkati berkata: Dia akan memimpin seluruh kemanusiaan, sama seperti saya yang memimpin ratusan orang. (“Milinda Prashnah”, halaman 229).

WASIAT BUDDHA DI TEMPAT WAFATNYA

Dalam kitab yang terkenal dari agama Buddha, Maha pri Nibhan Sutta dan T.W.Rhys Davids, J.Eitel, Carlongen Newman telah menulis berdasarkan otoritas dari kitab-kitab Buddhis dalam bahasa Sanskrit dari bahasa  Cina yang paling berwenang; bahwa Buddha yang Diberkahi maju ke depan dengan suatu rombongan besar dari para pengikutnya ke tempat tinggal Malla yang ada di Koshinagar di seberang sungai Harinyvati. Setelah sampai dia berbicara kepada Ananda, ujarnya:

Bawakan aku sebuah bantal. Kepalanya harus menghadap ke utara di antara dua pohon cemara. Wahai Ananda, saya merasa lemah; saya ingin berbaring. Bantal dibawakan kepadanya, dan Buddha berbaring atasnya. Kemudian ketika dia kembali kesadarannya dan telah terbangun, beberapa tanda istimewa muncul di pepohonan dan di langit serta di bumi. Ananda menganggap hal ini menunjukkan hormat. Tetapi Buddha mengatakan tanda-tanda ini tidak ada kaitannya dengan penghormatan terhadap dirinya, tetapi penghormatan besar adalah kesadaran akan dirinya, ikatan kewajiban dan pengikut yang tulus. Buddha melanjutkan kata-katanya: “Wahai Ananda, jadi, bisakah engkau menghormati tuanmu?” Mendengar hal ini, air mata mengalir di pipi Ananda. Ini karena ia merasa bahwa ia masih belum apa-apa kecuali pencari kebenaran, dan dia masih begitu jauh dari tujuan yang sempurna: tetapi tuannya, tuannya yang baik hati, akan segera wafat. Kemudian Buddha bertanya kepada para muridnya: Saudara-saudaraku, dimanakah Ananda? Seseorang memanggil Ananda. Ananda menghampiri dan berkata kepada Tuan yang dihormatinya:  Kegelapan dan kegalauan sedang mencari kebijaksanaan. Orang-orang yang terbenam dalam dengan emosi, dan nafsu, dan buta, sangat mendambakan cahaya. Wahai engkau yang begitu sempurna, “pencetus cahaya kebijaksanaan”. Dengan kata-kata ini Ananda duduk di sampingnya, dan Buddha berkata: Ananda, hentikanlah; jangan bersedih hati atau berurai air mata seperti ini. Bukankah telah kuberitahukan berulang-kali kepadamu sebelum ini, bahwa adalah fitrah kita untuk berpisah dengan yang kita kasihi dan barang-barang yang disukai. Seorang yang tidak bijak akan mengira bahwa dirinya adalah segalanya, tetapi seorang yang sadar mengenal bahwa ego-nya itu bukanlah realitas. Dia menyadari khayalan alam semesta ini, dan yakin bahwa semuanya akan lenyap kecuali kebenaran dan ketulusan.

Saya menyerahkan diri jasmaniku ini yang berupa daging dan tulang. Ruh dari alam ini akan terus hadir. Saya telah memutuskan untuk mencari peristirahatan dan kedamaian, karena saya telah menyelesaikan karya risalah saya. Hanya inilah apa yang kucari sekarang. Wahai Ananda, engkau sangat dekat kepadaku karena pengabdian dan kecintaanmu yang takkan musnah. Apapun yang kaukerjakan itu sudah benar, teruslah berusaha dengan sekuat mungkin tenagamu. Hanya dengan demikian kemudian kamu akan menemukan pembebasan dari nafsu rendahmu, takhayul dan kebodohan. Kemudian Ananda menahan tangisnya dan bertanya siapakah yang kelak akan mengajar mereka setelah (Buddha) tiada. Untuk ini Gautama Buddha menjawab: Saya bukanlah satu-satunya Buddha yang datang ke dunia ini, ataupun saya bukanlah kereta yang terakhir. Pada saatnya yang tepat, Buddha yang lain akan bangkit – seorang yang suci, cahaya di atas cahaya, dan seorang yang akan menyebarkan kebijaksanaan dan ilmu. Dia akan mengetahui rahasia alam, dan akan dengan seluruh keagungannya, dia akan menjadi pemimpin yang mengungguli seluruh manusia dan menjadi pengajar umat manusia dan jin. Dia akan menggelar kebenaran Ilahi dengan cara yang sama seperti yang saya kerjakan. Dia akan menyiarkan agamanya dan ini dalam kenyataannya akan menjadi yang terbaik. Dia akan mencapai puncak kejayaan dan kemuliaan. Dia akan menikmati kehidupan bersama orang-orang yang tulus, seperti yang saya lakukan. Murid-muridnya akan berkali-lipat menjadi ribuan sedangkan saya hanya beberapa ratus. Ananda merasa tenteram dengan kata-kata ini lalu berkata: Doakan, Tuan, bagaimana kita bisa tahu akan hal itu? Untuk ini Buddha yang diberkahi berkata: Dia kelak adalah Maitreya yang seutuh-utuhnya. (“Gospel of Buddha” oleh Carus P. halaman 215-218).

Menarik kesimpulan dari kutipan ini yakni bahwa Buddha tidak hanya mengakui para Buddha sebelumnya, melainkan juga merujuk dalam istilah yang ditekankan akan kedatangan seorang Buddha yang belakangan, yang digambarkannya sebagai orang suci. Quran Suci berbicara tentang Nabi Muhammad dengan istilah yang tidak ke sana-sini sebagai:

“Dan Allah akan melindungi engkau dari manusia jahat” (Q.S. 5:67).

Lagi dia digambarkan sebagai seorang yang menampakkan cahayanya di tanah yang penuh kegalauan dan kegelapan. Karena kepemimpinannya yang diberikan ke segenap bangsa di dunia maka dia adalah segala cahaya; al-Quran mengungkapkannya: “Cahaya di atas cahaya” (Q.S. 24:35).

Kitab yang diusung olehnya dikatakan dalam al-Quran:

“Ini adalah ayat-ayat Kitab yang penuh Hikmah” (Q.S. 10:1).

Dia yang dijanjikan akan mengetahui semua rahasia alam itu dimanifestasikan dari al-Quran, dimana kitab ini menggambarkan nabi sebagai yang mengetahui rajhasia alam yang paling dalam. Lagi dia menyebutnya sebagai pembimbing seluruh umat manusia dan guru baik manusia maupun jin.

“Engkau hanyalah juru-ingat, dan tiap-tipa bangsa mempunyai seorang pemimpin” (Q.S. 13:7).

 

Ini adalah sifat beliau satu-satunya yakni menjadi pembimbing dari seluruh dunia sedangkan para nabi yang lain datang membimbing masing-masing kaumnya.  Sebagai nubuat, dikatakan bahwa beliau akan memperagakan kebenaran Ilahi seperti yang diajarkan olehnya. Al-Quran telah membenarkannya dengan kata-kata:

 

“Utusan dari Allah, yang membacakan halaman-halaman yang suci. Yang didalamnya berisi Kitab-kitab yang benar” (Q.S. 98: 2-3).

 

Bahwa semua  tujuan yang benar ini diperlukan sebagai petunjuk bagi manusia, baik yang sebelumnya  sudah diturunkan ataupun belum, semuanya ditemukan dalam Quran Suci.  Dia akan menyiarkan agamanya sebaik mungkin dari seluruh agama yang ada, kata Quran Suci:

 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu dan Aku lengkapkan nikmat-Ku kepada kamu dan Aku pilihkan untuk kamu Islam sebagai agama” (Q.S. 5:3).

 

“Dia akan mencapai puncak kejayaannya”, dibenarkan oleh al-Quran:

 

“Boleh jadi Tuhan dikau akan menaikkan engkau pada kedudukan yang amat mulia” (Q.S. 17:79).

 

Seorang lelaki yang para lawannya berencana untuk menyingkirkannya dari kota sebagai orang yang tak berdaya telah ditingkatkan ke suatu kedudukan yang luhur dan berwibawa. Demikianlah para pakar yang besar dan terkemuka telah menulis tentang dia: “Yang paling sukses dari semua Nabi serta segenap pribadi keagamaan” (17).

Kata-kata Buddha : Bahwa dia akan memimpin kehidupan orang-orang tulus dipraktekkan seratus prosen oleh Nabi. Dia tidak saja memimpin kehidupannya sendiri yang paling tulus melainkan dia meramu ribuan umat menjadi bebas dari dosa.

Lagi bahwa dia akan menikmati persahabatan dengan ribuan pengikutnya serta muridnya telah jelas dari fakta historis bahwa pada saat penaklukan Mekkah, Nabi memimpin sepuluh ribu bangsa Arab. Dan segera setelah wafatnya jumlah itu berkembang menjadi lebih dari tujuhpuluh ribu. Betapa besar mukjizat semacam ini bagi seorang laki-laki, yang dilawan oleh berpuluh  ribu orang dan dia menjadi magnet bagi mereka semua, untuk memasukkannya menjadi mereka yang berniat baik dan kawan serta pengikutnya. Tidak ada kemungkinan sukses yang lebih baik dari ini. Jadi, dia telah memerintah mereka tidak saja secara fisik melainkan juga spiritual, karena kehangatan dan kecintaan kepadanya telah terpateri dalam hati mereka.

 


 
17.