BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

NUBUATAN DALAM NASKAH SUCI YANG LAIN

Sulit didapatkan satu Kitab agama Buddha yang tidak menyebutkan kedatangan Maitreya yang dijanjikan.

Sir Charles Eliot, mantan Dutabesar Britania Raya di Jepang, dalam bukunya “Japanese Buddhism”
menulis pada halaman 119-120:

“Maitreya itu khusus penting bagi sejarah ajaran karena ini berkaitan dengan sifat dan keadaan dari seorang Bodhisatva baik yang lebih lama maupun yang lebih baru”.
‘Dia disebutkan, dalam teks Pali dengan sedikit rincian – Seluruh aliran Buddhisme mengenalnya dan dia kerap kali disebut dalam kepustakaan Pali belakangan dan di dalam teks Buddhist Sanskrit sebagai “Lalit vistara” dan “Mahavastu”.

Lagi, cendikiawan terkemuka dari Madras, Pandit Kumar Swamy, dalam bukunya: “Buddha and the Gospel of Buddhism”, pada halaman 225 menulis:

“Buddha di masa depan hanyalah Boddhisatva Maitreya, penjelmaan dari kasih-sayang dan kebaikannya disebutkan”.

R.S. Hardy dalam bukunya “Manual of Buddhism” menulis:

“Selama Buddha menetap di Weluwana maka ayahnya Sudhodana, yang telah mendengar pencapaiannya menjadi Buddha, mengirim kepadanya seorang bangsawan – yang menyerahkan pesan ini atas nama raja: “Adalah kehendakku untuk melihatmu; maka datanglah ke mari; yang lain telah memperoleh manfaat dari Dharma, tetapi ayahmu atau kerabatmu yang lain, belum. Sekarang sudah tujuh tahun sejak terakhir aku melihatmu”. Setibanya di taman, Buddha duduk di atas sebuah singgasana – Pangeran Sakya itu berkata: “Siddharta (Buddha) ternyata lebih muda daripada kita-kita ini; dia itu kemenakan kita; kita pamannya dan kakeknya”. Karena itu mereka mengatakan kepada pangeran yang lebih muda itu untuk menyembahnya, sedangkan mereka duduk berjarak yang agak jauh. Buddha mengerti jalan fikiran mereka dan berkata: “Sanak-kerabatku tidak mau menghormati aku, tetapi aku akan mengatasi keengganan mereka” – Setelah Saryut menyembah Buddha. Kemudian Buddha meramalkan kepada mereka kedatangan Maitreya”.

Dalam kisah lain diriwayatkan:

“Suatu kali ayah dari Gautama Buddha mengungkapkan keinginannya untuk melihatnya. Dia mengirimkan beberapa utusan, yang berkata kepada Buddha; ayahmu ingin sekali melihatmu sebagai kembang Leli dari matahari itu; dan demikian pula ratu sangat mendambakanmu seperti malam pekat yang merindukan rembulan baru. Istananya berjarak 960 mil dari Kapilawastu. Buddha melakukan perjalanannya selama dua bulan, dengan berjalan kaki enambelas mil setiap hari. Seorang pengajar agama menyampaikan berita atas kedatangan Buddha kepada ayahnya. Lebih dari 500 pemuda dan pemudi mengelu-elukan dia dengan harum bunga-bungaan dan manisan. Orang-orang berkata bahwa mereka adalah sesepuh dan pamannya, dan bahwa dia adalah keponakannya. Maka mereka tidak suka untuk menghormatinya. Buddha yang membaca fikiran mereka; mengapa orang-orang yang dekat dan saya sayangi ini tidak mau menghormatiku, tetapi aku akan atasi penolakan mereka itu. Kemudian setelah itulah dia menceriterakan kepada mereka kedatangan dari Maitreya yang dijanjikan”. (“Manual of Buddhism”, oleh R.S. Hardy, halaman 203).

Kedatangan Maitreya juga disebutkan dalam Kitab-kitab suci Hindu. Ada suatu kitab terkenal bernama “Buddha charit” dari “Ashva ghosha”   dimana terbaca:

“Brahmin dan dewata yang lain dengan para pengawalnya dipanggil bersama-sama dari langit. Dan Maitreya yang diberkahi datang bersama para malaikat untuk menyegarkan kembali hukum Ilahi di bumi” (15:118).

Dalam kutipan ini peristiwanya telah diamati dalam suatu wahyu. Kaum Buddhis menangkap bahwa Maitreya, dia yang dijanjikan itu, berkaitan dengan langit Tushita. Tushita berarti ketenteraman sejati dan kepuasan. Ini mendorong kita untuk menarik kesimpulan, bahwa dia yang dijanjikan itu akan mencapai tingkat yang tertinggi dalam perdamaian, ketenteraman, dan kenikmatan. Quran Suci menyatakan tentang Nabi Suci:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhan dikau, dengan perasaan ridla, amat memuaskan di hati. Masuklah di antara hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke Taman-Ku!” (Q.S. 89: 27-30).

Ini tiada lain adalah istirahat dan tenteramnya fikiran yang membuatnya tetap bisa melayani bahkan ketika menghadapi cobaan yang paling berat di tangan para lawannya. Dia tak pernah mengeluh di hadapan Tuhan atas penderitaannya. Sebaliknya, dia berdoa dan bersujud di hadapan Tuhan malam dan siang. Dari sini kita dapat lebih membayangkan akan kedamaian fikirannya yang sudah sangat berkembang.

Kitab Sanskerta yang lain, naskah suci yang otoritatif dari sekte Buddhis Mahayana adalah Lalita vistara, yang mengungkapkan peristiwa kehidupan Buddha. Kaum Buddhis Cina sangat menghormati dan memiliki keyakinan kuat terhadap kitab ini. Ini berisi nubuatan tentang Maitreya dalam istilah yang sangat istimewa. (“Nidan prevritah”, Adhyay 26:8,10; Adhyay 5:39). Kitab Sanskrit yang lain yakni Sadhna Mala jilid I dan II, diterbitkan oleh Oriental Institute dari Baroda State (India) berbicara tentang jejak utama dari dia yang dijanjikan (Maitreya Sadhuam, halaman 50).

Dalam “Buddhist Philosophy in India and Ceylon” oleh Bridal Keith, ditulis: “Kedatangan Buddha yang dinamai Metteya, telah dikenal dalam kanun”. (“Digha Nikaya” 3:76, diterjemahkan oleh Sir Charles Eliot). Ada delapan baris tentang Maitreya dalam Ekottra berbahasa Cina (Bridal Keith’s “Buddhist Philosophy in India and Ceylon”).

PARA SAHABAT NABI DALAM PULUHAN RIBU

Seperti halnya Quran Suci yang telah diramalkan sebagai mukjizat dari Nabi yang terakhir, begitu pula pencapaian dari puluhan ribu sahabatnya adalah fakta yang sudah diperkirakan. Jika Quran Suci adalah mukjizatnya yang lisan, maka kumpulan sahabatnya adalah keajaiban spiritualnya yang tertinggi. Inilah sebabnya mengapa banyak nabi pendahulunya memanggil mereka orang-orang suci. Sebagai fakta nyata, ini adalah suatu kisah yang hidup dan suatu tanda yang menakjubkan atas kesuciannya yang luar-biasa. Buddha telah menyatakan bahwa Buddha Maitreya yang akan datang akan seperti dia. Ada banyak kemiripan antara Buddha dengan Nabi Muhammad. Persamaannya adalah kecintaannya akan budi-pekerti yang luhur dan kebenciannya kepada kejahatan; sebagaimana Quran Suci telah menyatakan:

“Tetapi kepada kamu, Allah telah menimbulkan kecintaan kepada iman, dan menampakkan indah (iman) itu di dalam hati kamu, dan kepada kamu, Ia telah menimbulkan benci kepada kekafiran, melanggar batas, dan mendurhaka. Demikian itulah orang-orang yang terpimpin pada jalan yang benar” (Q.S. 49:7).

Dan mereka dikatakan seperti bintang yang memberi petunjuk kepada umat: “Para sahabatku ibarat bintang; siapapun dari mereka yang kauikuti, engkau akan mengikuti arah yang benar” (Mishqat 27:12). Mereka juga disucikan dari dosa: “Seorang Utusan di antara mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan menyucikan mereka” (Q.S. 62:2).

Suatu kemiripan lainnya yang diramalkan oleh Buddha adalah bahwa Dia Yang Dijanjikan ini akan menjadi “Pemimpin dari kumpulan puluhan ribu orang, sama seperti dirinya yang menjadi kepala dari ratusan di antara mereka”. Kebesaran para sahabat Nabi Suci tidak hanya dalam jumlah melainkan juga dalam keluhuran yang sejati dari kemuliaan akhlak dan kesucian hidup. Le Comte de Bouillanvilliers berkata:

“Dan sejujurnya kita boleh katakan bahwa tak ada peristiwa sejarah yang patut dibanggakan, yang telah mengejutkan khayalan kita dengan keadaan yang lebih hidup, atau itu sendiri bisa lebih merupakan kejutan yang menyenangkan, bila dibandingkan dengan yang kita temukan dalam  kehidupan kaum Muslimin pada awalnya”.(18)

Ada beberapa ratus kaum Buddhis pada saat Buddha wafat tetapi dengan sangat cepat mereka telah kehilangan ajaran dari tuannya:   “Agama Buddha seluruhnya berubah dalam jangka pendek selama sepuluh tahun” (“Primitive Buddhism” oleh Elizabeth A. Reed, halaman 25).


Sebaliknya, para pengikut Nabi Suci menghayati seluruh risalah Ilahi dalam hatinya, dan melaksanakannya dalam praktik. Mereka mencintai risalah-Nya dan Utusan-Nya sedemikian besar sehingga mereka siap sedia untuk menyerahkan segalanya baginya. Dalam jumlah mereka ribuan tetapi dalam amal perbuatan mereka tak ada tandingannya, baik dalam pelayanan maupun kesucian, dan mereka adalah kunang-kunang dari cahaya Nabi Suci.

Dan jasa ini mengalir kepada Nabi Suci yang telah bisa menghasilkan kelas pengikut yang merupakan kesatuan dari ketulusan, kebenaran, kecintaan kepada Kebenaran Ilahi dan kehormatan.

Buddha benar ketika meramalkan tentang mereka:

“Bersiap-siaga dan berfikirlah sebaik-baiknya; berpegang tanganlah kalian, dia yang baik budi dan penuh rahmat kepada dunia ini (Rahmat-an-lil-alamien) akan berbicara, akan mencurahkan hujan   Hukum yang tiada henti dan menyegarkan bagi mereka yang menunggu pencerahan. Dan jika ini akan menyingkirkannya demi anak-anaknya, Buddhisatva di sini, berjuang untuk pencerahan”.

“Dan saat itu fikiran berikut muncul dalam jiwa Buddhisattva Maitreya….Kita tidak pernah melihat, begitu besarnya kerumunan, begitu besarnya jumlah Buddhisattva, kita tidak pernah mendengar  begitu besarnya kerumunan manusia yang setelah muncul dari celah bumi, telah berdiri hadir di  hadapan Tuhannya untuk menghormati, menghargai, mengagungkan dan menyembahnya serta  menyalaminya dengan pekik penuh kegembiraan. Kapankah mereka akan datang di sini dalam bentuk kumpulan yang sebesar itu? Semuanya adalah perukyah yang besar, bijaksana dan kuat ingatannya, yang tampak luarnya sedap dipandang, kapankah mereka akan datang?” (Saddharam Pundrik 14: 4, 6, 7).

H.G. Wells, menulis:

“Dapatkah seseorang yang tidak bersifat baik itu mempunyai teman? Karena mereka yang kenal     Muhammad beriman kepadanya dengan sebenar-benarnya. Khadijah bisa jadi beriman kepadanya sepanjang hari tetapi itu bisa dikatakan karena mencintainya. Abu Bakar adalah seorang saksi yang lebih baik, dan dia tak pernah goyah dalam pengabdiannya. Abu Bakar beriman kepada Nabi, dan adalah sulit bagi seseorang yang membaca sejarah masa itu untuk tidak percaya kepada Abu Bakar. Ali juga membahayakan jiwanya demi nabi dalam hari-harinya yang penuh kegelapan”. (“The Outline of History”, halaman 325).

 


 
18.