BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

PATUNG-PATUNG MAITREYA

Islam mengharamkan pembuatan patung para nabi. Dan kaum Muslimin khususnya tidak dapat mentolerir patung dari Nabi Muhammad. Tetapi adalah suatu fakta bahwa kita percaya Maitreya yang disebut dalam Kitab-kitab suci Buddhis adalah nabi Islam. Patung-patung Maitreya didirikan oleh kaum Buddhis di seluruh benua Asia, dan mereka mengerjakan itu semuanya semata karena kecintaan dan perhatian mereka kepadanya. Dalam Quran Suci, Tuhan, ketika menggambarkan anugerah-Nya kepada Sulaiman, mewahyukan berikut ini:

“Dan di antara jin ada yang bekerja di hadapan dia dengan izin Tuhannya. Dan barangsiapa di antara    mereka berpaling dari perintah Kami, Kami akan membuat dia merasakan siksaan yang    menghanguskan. Mereka bekerja untuk dia apa yang ia sukai, berupa kanisah-kanisah, dan patung­    patung, dan mangkuk-mangkuk (besar) seperti bak air dan periuk-periuk yang tetap. Berbuatlah    syukur, wahai keluarga Dawud! Dan sedikit sekali di antara hamba-Ku yang syukur”. (Q.S. 34:12-13)

Dalam ayat-ayat ini jinn itu tiada lain adalah orang-orang asing yang dipekerjakan Sulaiman dalam pemerintahannya dan dicatat dalam pelayanannya, lihat Tawarich; dan patung atau arca dari para malaikat juga disebutkan. (2 Tawarich 2:2-18, 3:10-13).

Mengenai arca atau patung yang dibuat untuk Sulaiman yang disebutkan dalam al-Quran beberapa mufasir berpendapat bahwa mereka adalah patung binatang  dan beberapa orang lagi berpendapat bahwa mereka adalah arca para malaikat dan orang-orang lain. Karena itu, para mufassir ini telah mengemukakan pandangannya bahwa, menurut Sulaiman, penegakan patung itu bukanlah dosa atau bertentangan dengan doktrin akidah. Mereka berpendapat, bahwa patung semacam itu hanya haram kalau digunakan untuk keperluan ibadah. Ibrahim adalah seorang mukmin yang teguh dalam keesaan Tuhan dan dia dengan keras menentang berhala. Al-Quran menceriterakan tentang dia:

“Tatkala ia berkata kepada ayahnya dan kaumnya: Arca-arca apakah ini, yang kamu setia menyembahnya?” (Q.S. 21:52).

Betapa pun, suatu bukti yang jelas atas kedatangan Maitreya yang dijanjikan bisa diberikan oleh adanya patung-patung ini. Mereka mendirikannya dengan tujuan mulia dan demi penghormatan kepadanya di negara seperti Afghanistan, Cina, India, Jepang, Sinkiang, Burma dan Sri Lanka. Mereka mengungkapkan kecintaan umat itu kepadanya. Pastilah mereka telah bersusah-payah dalam memahat patung-patung ini, dan ini selanjutnya mengungkapkan kecintaan mereka yang tulus kepada seorang yang mereka harapkan pada suatu masa. Ratusan dan ribuan kaum Buddhis tetap menunggu dia. Sebagai fakta nyata, adalah sungguh luar biasa dan raksasa, betapa kaum Buddhis memahat patungnya di perbukitan batu besar di celah gunung.Di sinilah bangsa Buddhis itu menunjukkan keunikannya dalam kebebasan dan pencapaiannya. Sesungguhnya, agama mereka itu satu dari yang miris dan mengecewakan. Dan inilah sebabnya mengapa tujuan mereka di dunia ini adalah penolakan terhadap segala keinginan tanpa meninggalkan sedikitpun kecintaan kepada sesuatu atau seseorang, cinta, yakni, dalam cita-rasa kata yang tepat.

Mereka, seperti yang mereka yakini, tidak punya harapan untuk pembebasan di dunia ini. Tujuan utama seorang Buddhis adalah penolakan terhadap pertimbangan dan membawa besertanya penindasan terhadap segala hasrat pribadi atau penindasan terhadap pribadinya itu sendiri.  Bagi seorang yang tujuan utamanya adalah harapan untuk memusnahkan dirinya, sungguh aneh bahwa dia masih hadir di dunia ini.

Kita telah mendengar bahwa hidup ini sia-sia kecuali harapan untuk hidup. Namun kaum Buddhis mengharapkan hidup dan berdegup kencang untuk suatu perkara, bahkan setelah tujuannya yang memamah habis semua harapan, dan meskipun ini adalah agama yang mengecewakan dan miris. Harapan ini adalah penantian terhadap Maitreya yang dijanjikan. Dan ini bisa menjadi jaminan klaim kaum Buddhis bahwa mereka hidup itu hanya untuk menunggu datangnya Maitreya. Harapan dan ramalan atas kedatangan Maitreya dalam fikiran kaum Buddhis adalah sedemikian mendalam sehingga setiap orang dari mereka siap untuk mengurbankan segalanya demi itu. Kecintaan mereka kepada Dia Yang Dijanjikan telah mengambil giliran yang tak akan musnah dan merasuk ke lubuk hatinya yang paling dalam. Ini jelas tidak saja dari kitab-kitabnya melainkan dari transformasi yang melelahkan bertahun-tahun dalam memahat batu menjadi patung, patung-patung yang indah dari nabi yang dijanjikan itu. Para pematung Buddhis agaknya benar-benar mencurahkan ekpsresinya yang utuh kepada perasaannya yang paling mendalam waktu memahat patung dari dia yang paling dicintai ini, sehingga mereka membuatnya dengan sebaik-baiknya, yang menambah keindahannya.

Demikianlah, fakta ini tidak dapat dilewati ataupun diremehkan, bahwa patung-patung dari Maitreya atau Dia yang Dijanjikan, seperti yang dibangun para pematung Buddhis, bukanlah sekedar batu atau mainan yang dipahat dari batu, tetapi memberi mereka bentuk dari seorang yang sungguh-sungguh dinantikan,; ratusan dan ribuan jiwa yang penuh perasaan pastilah telah mencurahkan citra dan rasanya. Suatu gambaran pendek dari kehangatan dan kasih-sayang ini bisa diberikan di bawah ini:

Kira-kira sepuluh mil di sebelah selatan Beijing ada kuil yang luar biasa besar di Peuansi. Dia mempunyai sebuah balai pertemuan yang besar dengan enam galeri. Pintu kuil itu menghadap ke utara. Di sini terdapat banyak patung, dan bagi setiap orang yang melalui pintu utama, yang paling menarik dari semua patung itu yakni Maitreya (“Chinese Buddhism”, halaman 254).

Tidak hanya di Beijing kita bisa menemukan patung-patung semacam itu, tetapi di seluruh negeri. Ada banyak kuil di mana terdapat Maitreya. Belum tentu apakah para sahabat Nabi mengetahui sesuatu tentang patung dan nubuatan Buddha ini; tetapi adalah fakta bahwa mereka semuanya pertama-tama memutuskan untuk menyiarkan cahaya Islam di Cina. Mereka diperintahkan oleh Nabi Suci “untuk mencari ilmu sejauh mungkin sampai ke Cina”. Sesungguhnya ini mendorong mereka untuk datang ke negeri itu dan karenanya mereka mencapai keberhasilan yang besar dalam menyiarkan Islam di sana.

CINTA HEUN TSANG KEPADA MAITREYA

Heun Tsang, seorang musafir Cina, dilahirkan pada tahun 608 M. Dia melakukan perjalanan dari Cina ke India pada saat dimana dia harus menyusuri rute yang nyaris tak bisa ditembus melalui gunung dan gurun. Sakit yang dideritanya dalam menjalani semua kesulitan dalam perjalanan itu dengan segala cobaan dan hambatan bisa dengan jelas dibayangkan. Dia berjalan kaki sepanjang dan seluas India. Namun mengapa dia mau menempuh segala duka-derita ini? Pastilah ada beberapa cita-cita yang besar. Dia mulai dari Nalanda, Bengal dan mencapai Kaputa. Ini adalah tempat yang penuh dengan kuil. Di pusat kuil-kuil ini ada satu patung raksasa yang dibuat dari sandal wood, yang sangat dihormati karena kebesarannya. Ini diyakini mengatasi hati umat. Dengan keyakinan ini namanya adalah Avlochit Eshvara yang meramalkan masa depan umat. Orang-orang datang dengan bunga-bungaan yang paling harum berwarna-warni yang menarik dan dengan sangat rendah hati mereka merebahkan diri mereka di hadapannya.

Dengan mengingat obyek dimana mereka mendatanginya untuk mohon pertolongan Ilahi, orang-orang melempar rangkaian kembang ke tangan patung itu. Jika rangkaian itu masuk ke tangan dan tetap di sana, maka orang yang menghadiahkannya diperkirakan akan berhasil dalam tujuannya. Sebaliknya, bila seorang makhluk yang malang  berdegup kencang hingga tak dapat mencapai tangan dari patung itu, dan tak bisa menempatkan rangkaian bunganya di sana, ini diperkirakan menunjukkan kemalangan, kekecewaan dan masa depan yang kabur dari peziarah itu. Peziarah Cina Heun Tsang muncul di hadapan patung, dan sebagian besar maksud tujuannya dalam perjalanan yang jauh dan panjang itu diungkapkannya dalam tangisnya yang terbit dari lubuk hatinya yang paling dalam, akankah saya bangkit lagi di dunia ini di antara dewa-dewa untuk melayani Maitreya yang diberkahi?  Dengan keinginan inilah dia melemparkan rangkaian bunganya ke tangan sang patung, berkata: “Bila hasratku terpenuhi, dewa akan menerima rangkaian kembangku” Dengan keberuntungannya yang besar patung itu menerima rangkaian bunganya”.
(“In the footsteps of Buddha” oleh Grousset French, halaman 174).

Dan dengan  tuntasnya keseluruhan perjalanan itu sang musafir melupakan semua kesakitan dan
penderitaannya di sepanjang jalan. Dia menemukan ketenteraman yang luar-biasa. Lagi, karena kecintaan dan perhatiannya kepada Maitreya yang mendorongnya ke Kuil Sarnath di Benares. Dia
datang untuk melihat tempat yang disebut Bara Singa. Ini adalah tempat suci dimana Buddha
ditunjukkan suatu rukyah tentang Maitreya. Dan raja Ashoka membangun satu tugu untuk menghormati tempat suci tersebut  (“In the footsteps of Buddha” oleh Grousset F. halaman 154).

Suatu kali dia berkata: Saya sungguh-sungguh ingin memberikan hadiah dari perbuatan tulusku kepada beberapa orang lain, sedangkan sebaliknya saya bisa dibalas dengan dibangkitkan lagi secara baru di antara dewa pada saat Maitreya yang agung, dan karenanya mempunyai kesempatan untuk melayaninya, karena Maitreya adalah gabungan dari rahmat dan kasih. Dia selanjutnya berkata: Wahai, engkau yang diberkati, semua sujud dan sembahyangku adalah bagimu, dan engkau sendirilah, kepada siapa segenap ilmu itu dianugerahkan. Wahai Tathagata, saya begitu sungguh-sungguh ingin melihat wajahmu, yang penuh kasih, kebajikan dan simpati.
Saya ingin bangkit lagi setelah kematianku sebagai sahabatmu.

Dengan doa ini Heun Tsang menyerahkan jiwanya. (“In the footsteps of Buddha”, halaman 256).

Ini membawa penjelasan atas kasih yang mendalam yang berkobar di hati musafir Cina itu terhadap nabi yang dijanjikan dan yang mengurbankan seluruh jiwa-raganya demi cinta ini.

Seorang pengembara yang lain, Iching, mengungkapkan cintanya kepada Maitreya sebagai berikut ini:

Saya sungguh-sungguh tak mengharap sesuatu lagi dalam hidupku kecuali empat pemenuhan bagi Cina dan dunia Buddhis:
Ilmu
dan Kitab-kitab suci.
Berkumpulnya segenap manusia di bawah satu pohon.
Bertemunya dengan Nabi yang Dijanjikan.
Pencapaian atas kesadaran-diri yang Sempurna.
(In the footsteps of Buddha” oleh Grousset F. halaman 273).