BUDDHA MERAMALKAN MUHAMMAD SAW

 

BUDDHA MERAMALKAN KEDATANGAN NABI MUHAMMAD S.A.W.  ( / )

SEORANG PANGERAN CINA MENDAMBAKAN MAITREYA

Seorang pangeran Cina jatuh cinta dengan Maitreya yang tidak nampak. Dia berusaha mengungkapkan perasaan cintanya. Dia Yang-dijanjikan yang tercinta belum tiba dan tak kepada seorangpun dia bisa sujud di kakinya ataupun menyerahkan seluruh harta kekayaannya. Dalam wasiatnya segera sebelum dia meninggal dunia, dia mengungkapkan cintanya kepada Nabi yang dijanjikan itu dengan kata-kata yang sangat memukau. Dia menyatakan hasratnya untuk membelanjakan seluruhnya kepada Maitreya yang sangat dicintainya. Dia menyatakan: Saya, abdi Buddha, Si-Shant, tinggal sebatang-kara setelah kematian kedua orang-tua saya. Sebelum memindahkan sebatang pohon, saya menaruh perhatian yang sangat besar kepada orang tua saya. Berkali-kali saya memohon ke Langit, tetapi tak ada tanda-tanda yang ditunjukkan sebagai balasan. Saya ingin memberikan diri saya kepada ruh yang murni dan suci, sehingga saya bisa lepas dari kesunyian ini. Saya ingin membelanjakan seluruh harta kekayaan yang diwariskan kepada saya, sehingga patung itu, bisa dipahat dengan segala daya. Di tengah mereka biarlah patung Maitreya diukir dan di belakangnya Kshiti Garbha (seorang Buddha kuno). (“In the footsteps of Buddha”, halaman 326-327). Kata-kata dari pangeran yang dikisahkan ini mengungkapkan dalamnya kecintaan dan perhatiannya kepada nabi yang dijanjikan. Dia mengurbankan seluruh harta bendanya untuk memberikan ekspresi kepada cintanya yang berurat­berakar itu dalam bentuk patung-patung.

FAHIAN DALAM PENCARIANNYA ATAS MAITREYA

Seorang musafir Cina terkenal yang lain, Fahian, mengatur perjalanannya dari Cina untuk mencari Maitreya. Dia mencapai India, dan kemudian melintasi  hutan serta gurun yang belum pernah dirambah orang sampai di Provinsi Frontier. Di sana dia melihat sebuah patung Maitreya di sebuah kuil kuno. Kaum Buddhis sungguh-sungguh tertarik akan kebenaran Dia yang Dijanjikan, dan sebabnya mengapa mereka sanggup menjalani cobaan dan kesulitan hidup dalam pengembaraannya ke negeri-negeri yang sangat jauh, ribuan mil dari rumah, lebih lanjut dikomentari oleh Sir Charles Elliot sebagai berikut:

“Peziarah Cina menyebut patung-patung dan situs yang berkaitan dengan Maitreya tetapi rupanya,   juga, penuh dengan suatu pengabdian pribadi kepadanya dan menganggap dia berwenang melindungi   keimanannya di saat menunggu penampakannya di bumi”.

Dan lagi dalam “Hinduism and Buddhism” dia menulis:

Setelah Avlochit dan Manjusri menurut akidah Buddha Maitreya adalah pribadi yang penting, bahkan disebut “Ajeeta” yang berarti mustahil ditaklukkan. Menurut kitab suci Pali Dia adalah satu-sanya yang Dijanjikan. Dia tidak satu peringkat dengan para Buddha yang lain, tetapi akan di atas semuanya. Mengenai sifatnya, semua Buddha adalah yang terpilih dari ras manusia. Namun, Maitreya adalah seorang yang diberi status istimewa karena kecintaannya kepada umat manusia. Dia yang Dijanjikan dianggap sedang berbaring untuk menunggu turunnya dari ketinggian.
Mengenai warnanya, wajahnya adalah keemasan.

Patungnya, tinggi dan sangat berkesan, telah dipilih sedemikian seolah mengungkapkan kebiasaan orang barat yang tidak seperti Buddha dimana kedua kakinya bersila. Patung-patungnya diketemukan mula pertama di Kandhara. Satu patung yang sangat terkenal ada di Udian Nagar (sekarang Provinsi Northwest, Pakistan) yang telah disebutkan oleh Fahian, musafir Cina, dalam buku harian perjalanannya. Ini adalah satu patung yang sangat tua.

Dia menulis: Saya melihat satu patung Maitreya yang luar biasa besarnya di India utara, setinggi kira-kira 120 kaki. Pada festival khusus cahaya bersinar darinya. Raja-raja sekitar menyerahkan kurban kepadanya.
Seorang pengembara Cina yang lain, Huen Tsang, menulis lebih lanjut dengan menggambarkan bahwa ini adalah karya seorang murid terkemuka Buddha, yang bernama Ananda. Aslinya ini adalah tugu yang dibangun di sana sebagai peresmian atas nubuatan Buddha bahwa dia akan digantikan oleh Maitreya dan dia ini kelak akan menjadi tuan dari Langit setelah memperoleh titel Buddha yang tercerahkan.
Kelihatannya Fahian salah di sini. Sesungguhnya patung tinggi itu terdapat di Udian Nagar, sedangkan tugu itu terdapat dekat Benares, seperti yang telah kita sebutkan di atas. Cinta, kehangatan, pengabdian, perasaan dan pengurbanan dari para pencinta Maitreya ini jelas bisa dibayangkan. Betapa tidak kenal lelahnya para pematung dan orang-orang yang gila agama ini yang memahat gunung-gunung raksasa untuk memberikan ekspresi atas cinta mereka yang mendalam terhadap Dia yang Dijanjikan. Ini bukanlah tugas yang mudah. Ini memerlukan segenap kecerdasan, kerja keras dan harta kekayaan. Untuk membikin sebuah patung berkilauan pada zaman itu, dari mana cahaya itu bisa bersinar pasti merupakan eksperimen dari nalar yang sangat cerdas.

Pengurbanan yang dilakukan oleh raja dan pangeran mengungkap cinta mereka terhadap laki-laki, atas mana dibayangkan patung yang akan dibuatnya. Sebagai fakta nyata, tak ada bangsa lain yang demikian bersungguh-sungguh dan penuh pengabdian dalam mempersiapkan kedatangan Dia yang Dijanjikan kecuali umat ini.

Dalam biara dan kuil di Cina ada ukiran di kayu dan dinding batu yang luar biasa dan mengagumkan. Nyaris semua kuil di Cina menghadap ke selatan, dan semuanya kelihatannya dibangun dengan suatu bentuk yang mirip. Di tengah dari kuil itu adalah satu patung yang mengagumkan, dimana orang-orang menyebutnya: Mi-li-fo, yang berarti “Buddha yang akan datang”. Patung itu rupanya dari seorang pribadi yang berani dan sangat tulus. Dadanya lebar dan terbuka. Ada senyum di wajahnya. Ini adalah wakil dari bayangan Maitreya yang mengagumkan, yang diungkap oleh kuil Buddhis di Cina.

Beberapa peramal Buddhis Cina berpendapat bahwa Dia yang Dijanjikan, yang dirujuk oleh patung yang mengagumkan itu, akan muncul 3,000 tahun setelah Buddha wafat, dan bahwa dia adalah benar-benar satu penjelmaannya yang asli. (“Chinese Buddhism”, oleh Edkins, halaman 240).

MAITREYA DI PULAU JAWA

Patung-patung di Jawa terkenal karena tingginya. Selanjutnya, mereka itu yang paling indah dan menarik. Ini terutama di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Yang terkenal diantara ini adalah tiang di kiri-kanan yang merupakan galeri dari setiap patung. Diriwayatkan bahwa ini dibangun pada tahun 850 M. Dalam bentuknya tidak ada sentuhan dari arsitektur Hindu. Ini benar-benar seni Buddhis. Pada galeri ke tiga, terlihat patung Maitreya, yang agaknya sedang mengajar para sahabatnya. Peziarah dan pengabdi mengelilinginya dan memberikan ungkapan cinta dan pengabdian. Di samping ini, di mana terdapat lima patung Buddha yang menarik, ada satu Maitreya, yang dibuat mengatasi yang lain.

Adalah suatu kebetulan yang mengagumkan bahwa gambaran fisik Maitreya yang dilukiskan dalam kitab Buddhis berbahasa Sanskerta “Lalit vistara” persis sama dengan potret Maitreya yang ada di galeri pertama dari candi Borobudur di Jawa Tengah. Candi ini dibangun pada tahun 750 M.

MAITREYA DI CEYLON

Pada waktu merosotnya Buddhisme, Ceylon diperintah oleh seorang raja bernama Dhatusen. Dia membangun satu patung besar untuk mengenang Maitreya. Untuk rincian sepenuhnya silahkan melihat “Buddhism Primitive and Present in Magadha Ceylon”, oleh S.R. Compleston A.D.

Musafir Cina Fahian, menulis dalam catatan perjalanannya bahwa dia menemukan patrung Maitreya di banyak tempat di Ceylon, meskipun negeri itu dihuni oleh kaum ateis dan non-religius.

Ini mengungkap fakta, bahwa apapun keyakinan orang dalam agamanya, mereka dengan sungguh­sungguh menunggu nabi yang dijanjikan itu.

MAITREYA DI TIBET

Seperti negeri-negeri Buddhis lain, Tibet yang bergunung-gunung tidak lepas dari patung Maitreya.
Dalam bahasa Tibet atau dalam istilah keagamaan dari bangsa Tibet dalam kata ‘Champa’ yang menunjuk kepada kembang kuning yang harum. Dan ini disebutkan dalam kitab sucinya sebagai “Bardo”. Bangsa Tibet sangat berharap akan kedatangannya seperti umat dari negeri Buddhis lainnya. (“Tibetan Book of the Dead”, oleh Evens Wentz, halaman 101)

Karena itu atas perintah Dalai Lama, sebuah patung yang luar-biasa besar setinggi sekitar 80 kaki dibangun di Tibet mewakili Maitreya. Ini dilapis emas, sehingga semoga Maitreya bisa menerimanya dan segera datang ke dunia. (“Manual of Buddhism”, oleh S.R.Hardy).

DalamCyclopaedia of Religion and Ethics”, jilid I, halaman 98-99, ditemui di sana, bahwa:

“Amita-bha, berarti cahaya yang tak ternilai. Di antara Buddha yang tak terhitung ada satu, yakni Amita-bha, Buddha dari terbenamnya matahari, dewa dari cahaya yang tak terbatas, yang bersyukur atas janji lamanya, dia telah memenangkan bagi dirinya kebahagian dalam mengendalikan alam semesta, di mana tiada lagi tujuan yang jahat. Orang-orang dari negeri itu,  sama dengan dewata kita. Tiada yang lain kecuali Boddhisatva dan hanya sedikit Arhat; dunia itu benar-benar tanah yang bahagia (suatu Sukhavati), atau seperti yang dikatakan Vishnupurana suatu Sukha. Meskipun Maitreya mempunyai suatu surga di tanah di mana Amita-bha memanggil orang-orang pilihannya, dan kepada siapa dia memberi mereka pertolongan dari dua Bodthisatva yang Besar. Amita-bha pada suatu saat nyaris berbeda dari Sakyamuni yang abadi (teratai dari hukum yang benar); datang dan dianggap sebagai Buddha yang setengah-abadi,  yang berinkarnasi di bawah munculnya bayangan Sakyamuni yang manusiawi”. (19).

MAITREYA DI ASIA TENGAH

Di samping India dan negeri yang disebut di atas, patung-patung Maitreya juga didapati sampai sejauh Asia Tengah. Sebagai fakta nyata, nubuatan atas kedatangan Dia yang Dijanjikan itu diukir di negeri yang kelak menjadi lapangan penyiaran Islam. Sir Charles Eliot menulis: “Suatu kuil Maitreya telah diketemukan di Turfan, Asia Tengah, dengan suatu inskripsi Cina yang menyatakan dia sebagai dewa yang aktif dan dermawan, yang menampakkan dirinya dalam banyak sifat mulia”. Inilah Muhammad.

 


 

19.