Pengantar Redaksi

Daya tahan setiap pemikiran, ajaran, aliran, ideologi, peradaban, dan semacamnya sangat ditentukan oleh seberapa besar pemikiran tersebut dapat diterima di tengah masyarakat, penguasa, dan komitmen para pengikutnya dalam menjaga kelangsungan. Bila ketiga komponen tersebut tumbuh subur maka akan menemukan masa kejayaan. Sebaliknya, bila satu dari ketiga komponen tersebut tidak seiring maka akan mengalami ketersendatan, keterpurukan, bahkan kepunahan.

Oleh karena itu, wajar bila sering kali terjadi sebuah pemikiran pada satu zaman masyhur, namun pada zaman yang berbeda mengalami keredupan, atau sebaliknya. Pada periode tertentu dikutuk, pada saat yang lain dipuja habis-habisan. Dalam situasi seperti ini kaum elit (masyarakat-agamawan-penguasa-intelektual) memegang peran yang sangat menentukan.

Salah satu contoh peran signifikan kaum elit ini dapat disimak dalam kasus yang menimpa Syaikh Siti Jenar. Dalam cerita-cerita babad, ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar dianggap sebagai bid’ah, menyimpang dari ajaran Islam. Oleh karena itu, melalui sidang dewan Wali Syaikh Siti Jenar dihukum mati. Polemik terjadi tatkala kitab rujukan yang berbeda kita jajarkan. Katakanlah novel yang akan dibaca ini kita jadikan rujukan.

Novel ini sangat menarik karena memberikan perspektif baru dalam cara baca-pandang terhadap sejarah. Dengan merujuk pada kitab-kitab versi Cirebon, novel ini mampu menghadirkan sisi-sisi kemanusiawian Syaikh Siti Jenar. Novel ini mampu hadir tanpa absurditas dan paradoksal. Tidak ada tragedi pengadilan oleh Wali Songo, apalagi hingga putusan hukuman mati.

Pada buku pertama ini memaparkan tentang konsep filosofis tentang Yang Wujud dan maujud serta pengalaman ruhani Syaikh Siti Jenar menuju Yang Mutlak. Bagian ini juga menyusur tentang asal usul Syaikh Siti Jenar hingga berangkat menjalankan ibadah haji ke Makah. Di Makah inilah Syaikh Siti Jenar “berjumpa” dengan Abu Bakar Ash-Shidiq yang mengajarkan tarekat kepadanya. Pada buku kedua nanti akan dimulai dari kembalinya Syaikh Siti Jenar dari Makah, menyebarkan ajarannya, hingga diangkat menjadi dewan Wali.

Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Mas Agus Sunyoto yang mempercayakan penerbitan karya ini kepada kami. Terima kasih juga kami haturkan kepada KH. A. Mustofa Bisri yang telah berkenan memberikan pengantar pada buku ini. Semoga memberikan manfaat bagi khasanah sastra dan historiografi, khususnya di tanah air dan dunia Islam pada umumnya. Selamat membaca.***