Membaca Sejarah Tanpa Kepentingan

Oleh KH. A. Mustofa Bisri

Orang yang dengan cerdas membaca sejarah kehidupan manusia – termasuk dan khususnya yang berkaitan dengan keimanan – akan menjumpai banyak kekacauan bahkan tragedi ketika nafsu dan urusan kekuasaan (kekuasaan apa saja) memimpin pihak-pihak berkepentingan.

Kekacauan itu tidak hanya pada kehidupan lahir, tapi juga pada kebeningan dan penalaran. Dalam sejarah umat Islam sendiri, kita dapat melihat banyak perilaku tak Islam pada orang-orang Islam. Perilaku ini akibat kekacauan berpikir tercampur dengan semangat keberagaman yang tidak ditunjang oleh pendalaman pemahaman, plus kebodohan menyadari garis batas yang memang tipis antara ghirah (semangat) keagamaan dan nafsu tersembunyi. Tengoklah kekacauan yang terjadi sejak zaman sahabat Usman bin Affan hingga sekarang, baik yang jelas asal-usul persoalannya hingga yang samar.

Seandainya kekuasaan tidak ikut campur bahkan memimpin kehidupan sampai pada persoalan keimanan umat sedemikian rupa, saya rasa – secara lahiriah – wujud kehidupan kaum beragama tidak seperti sekarang ini. Tengoklah “sakti”-nya kekuasaan dalam menggiring kehidupan umat selama ini. Setiap penguasa selalu membawa dan mendakwah “akidah”-nya dengan pemaksaan yang memang dimungkinkan oleh kekuasaannya. Jangan coba-coba berbeda “akidah” dengan pihak yang berkuasa. Ingat, soal wacana qadim-hadits Al-Qur’an saja telah membawa korban, gara-gara kebenaran hanya milik penguasa. Sabda Pandita Ratu!

Kekacauan yang terjadi di tanah air pun banyak diopinikan sebagai berkaitan dengan soal agama, namun keyakinan saya bergeming: itu hanya buntut persoalan. Persoalan sejatinya ialah ulah pihak berkepentingan (politik/kekuasaan) yang bisanya cuma mengajak Tuhan untuk mendukung kepentingannya, namun tidak ditunjang oleh kemampuan sendiri. Dikiranya Tuhan adalah “pandai besi” yang sewaktu-waktu bisa mereka minta buatkan pedang untuk melawan hamba-hamba-Nya sendiri. Masya Allah.

Demikianlah, karena kekacauan itu, melihat manusia secara utuh sebagaimana adanya menjadi barang luks. Apalagi bila manusia itu merupakan pihak yang kalah oleh kekuasaan. Seberapa banyak orang yang mengetahui sirah, riwayat lengkap kehidupan al-Hallaj, misalnya? Bahkan kisah tokoh kita sendiri, Syaikh Abdul Jalil atau Syaikh Siti Jenar, banyak di antara kita hanya tahu bahwa wali songo tinari itu telah dihukum mati – sebagaimana al-Hallaj karena ajarannya dianggap menyimpang. Bagaimana kira-kira wajah sejarah seandainya yang dekat dengan pusat kekuasaan saat itu justru Syaikh Siti Jenar? Apa yang bakal terjadi jika “akidah” penguasa sama dengan Syaikh Siti Jenar?

Buku-buku yang ditulis belakangan tentang “tokoh kontroversial” itu umumnya sekadar menjelaskan sebab musabab kenapa beliau dihukum. Orang hampir tak pernah disuguhi riwayat pribadinya sebagai manusia beriman. Untunglah ada Saudara Agus Sunyoto yang menyusun buku tentang tokoh legendaris itu dengan maraji’ (referensi) yang lain sehingga kita bisa membaca riwayat hidupnya yang hanya kita kenal sebagai ‘pesakitan’ saja.

Maka, selamat menikmati.