Exegese

Maharaja Rahwana – yang dalam epos Ramayana distigmakan sebagai raja kawanan raksasa – pasti tak pernah membayangkan dirinya bakal mengalami nasib buruk, seiring kekalahan yang dialaminya dalam pertempuran melawan bala tentara Kiskenda. Rahwana tampaknya tidak pernah membayangkan citra keagungan dirinya luluh lantak seiring stigma yang dibangun oleh para pemenang perang. Tentunya, ia tidak bakal menyangka dirinya dicitrakan sebagai rajadiraja dari makhluk raksasa; yang biadab dan haus darah yang menjadi musuh dewa-dewa dan manusia.

Kita tidak tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan oleh para pemenang perang setelah kekalahan Maharaja Rahwana. Kita hanya tahu bahwa, menurut epos Ramayana yang ditulis para pemenang, leluhur Maharaja Rahwana adalah bangsa raksasa yang kejam, jahat, licik, rakus, brutal, haus darah, dan biadab. Padahal, di dalam berbagai versi tentang epos Ramayana selalu kita temukan gambaran bahwa Maharaja Rahwana hidup di Alengka, sebuah kota yang penuh bangunan berarsitektur tinggi, makmur, mewah, dan memiliki sistem pemerintah yang bersifat musyawarah dengan penasihat-penasihat maharaja yang cerdik dan bijak. Sebaliknya, para pemenang perang selalu digambarkan hidup di lingkungan hutan dengan penghuni “masyarakat kera” yang berperadaban rendah dan sistem pemerintahan bersifat kultus individu.

Lepas dari benar tidaknya epos Ramayana dalam konteks objektivitas sejarah, kita bisa menangkap terjadi proses ethnic cleansing dalam bentuk tumpas kelor terhadap Rahwana, saudara-saudara, keturunan, bala tentara, dan bahkan bangsanya. Proses itu mungkin terjadi karena di dalam pemikiran masyarakat yang terhegemoni pengaruh peradaban Aryan, puak-puak masyarakat yang digolongkan sebagai raksasa adalah musuh dewa-dewa dan manusia yang wajib dibasmi kapan pun dan di mana pun mereka berada. Lalu terjadilah ethnic cleansing itu. Komunitas “raksasa” yang melarikan diri tentu saja segera tersingkir dari lingkungan peradaban tinggi di Alengka. Bangsa raksasa, di kelak kemudian hari selalu digambarkan sebagai penghuni rimba raya.

Nasib buruk yang menimpa Rahwana dan bangsanya, ternyata dialami pula oleh para pahlawan Indian seperti Mangus Durango, Geronimo, Montezuma, Mohawk, dan Sitting Bull. Para pahlawan pejuang itu tak pernah membayangkan, seiring kekalahan yang mereka terima, bakal distigmakan sebagai pemimpin kawanan manusia biadab yang kejam dan jahat. Oleh karena stigma itu, orang-orang kulit putih boleh membasmi mereka kapan dan di mana saja tanpa perlu merasa berdosa.

Pada dekade 1960-an dan 1970-an, misalnya, hampir semua film western baik layar lebar maupun serial televisi seperti Red Sun, Alamo, Jango, Patt Garret, Billy the Kid, Wild Wild West, Rintintin, dan Bonanza menyuguhkan cerita-cerita yang diselingi penggambaran citra kebiadaban, kekejaman, kebrutalan, dan keganasan bangsa Indian. Suku Sioux, Apache Pawnee, Cayenne, Commanche, Toltecs, Mohican, dan Aztec nyaris digambarkan sebagai kawanan orang biadab yang suka perang, kejam, haus darah, dan brutal. Penonton film-film western dewasa itu selalu bersorak-sorak dan bertepuk tangan ketika menyaksikan para koboi dengan tanpa kenal ampun menembaki mereka.

Memasuki dekade 1980-an dan 1990-an baru muncul film-film yang agak objektif tentang bagaimana sebenarnya kesengsaraan dan penderitaan bangsa Indian ketika menghadapi para imigran Eropa yang serakah, bengis, kejam, tak kenal ampun, dan mau menang sendiri, yang merampas tanah dan berusaha membasmi mereka dari muka bumi Amerika. Film Dances with Wolf, Pocahontas, Columbus 1492, dan The Last of the Mohican, mengungkapkan bagaimana orang-orang Indian harus lari dan bersembunyi dari buruan para imigran Eropa.

Nasib tragis Rahwana dan bangsa Indian ternyata dialami pula oleh Syaikh Siti Jenar, penyebar Islam di Jawa pada perempat kedua abad ke-16. Beberapa waktu setelah penyerbuan Ibukota Majapahit oleh kelompok-kelompok muslim bersenjata yang dipimpin oleh Jakfar Shadiq, Susuhunan Kudus, Syaikh Siti Jenar disidang dengan tujuan menyebarkan ajaran bid’ah yang membahayakan kerajaan dan masyarakat Muslim.

Menurut sejumlah sumber historiografi sejenis babad, dalam sidang itu Syaikh Siti Jenar dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati. Namun, sumber-sumber tersebut justru menyulut kontroversi yang sangat membingungkan. Pasalnya, menurut kronologi waktu, tokoh-tokoh yang disebut sebagai anggota sidang Dewan Wali seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Raden Patah, dan Sunan Ampel sudah meninggal dunia belasan bahkan puluhan tahun sebelum peristiwa itu terjadi. Lebih membingungkan lagi, Susuhunan Giri (yang mungkin adalah Sunan Dalem, Susuhunan Giri II), dalam kasus itu dikisahkan membuat pernyataan: “Syaikh Siti Jenar kafir ‘inda an-nas wa mu’min ‘inda Allahi” (Syaikh Siti Jenar kafir menurut manusia, namun mukmin menurut Allah). Sementara Susuhunan Kudus, dikabarkan sangat menghormati dan memuliakan Syaikh Siti Jenar. Bahkan lebih aneh lagi disebutkan mayat Syaikh Siti Jenar menyebarkan bau wangi semerbak, namun kemudian menjelma menjadi anjing berbulu hitam. Konon, bangkai anjing itu dikubur di Masjid Agung Demak.

Lepas dari benar dan tidaknya sumber-sumber historiografi sejenis babad tersebut, yang jelas saat itu beribu-ribu bahkan berpuluh-puluh ribu orang yang menjadi pengikut, keluarga para pengikut, kawan para pengikut, mereka yang diduga menjadi pengikut, atau sekadar simpatisan Syaikh Siti Jenar, pasti merasa takut, tegang, dan bahkan panik. Soalnya, pemimpin mereka telah dijatuhi hukuman mati di Masjid Demak. Dan seiring eksekusi itu, meluas stigma bahwa Syaikh Siti Jenar bukan manusia, melainkan seekor cacing yang menjelma manusia ketika mendengar wejangan Sunan Bonang kepada Sunan Kalijaga. Itu sebabnya, ketika mati tokoh sesat itu dikisahkan jasadnya kembali lagi dalam wujud hewan.

Ketakutan dan ketegangan para pengikut semakin meningkat ketika mendengar kabar kematian Ki Lonthang beberapa waktu setelah kematian gurunya. Bahkan ketakutan dan ketegangan mereka pasti meningkat menjadi kepanikan manakala terdengar kabar susulan tentang dieksekusinya Ki Ageng Pengging, murid terkasih Syaikh Siti Jenar.

Sekalipun ketakutan, ketegangan, dan kepanikan yang dialami para pengikut Syaikh Siti Jenar tidak pernah dipaparkan. Namun, buku-buku seperti Babad Tanah Jawi, Suluk Syaikh Lemahbang, Boekoe Siti Djenar, dan Serat Wali Sanga mengungkapkan bagaimana Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan pengikut Syaikh Siti Jenar yang lain menyatakan tunduk kepada penguasa Demak. Dan sebagaimana nasib Rahwana dan bangsa Indian, selama beratus-ratus tahun Syaikh Siti Jenar dan para pengikutnya selalu distigmakan sebagai penyebar ajaran bid’ah yang sesat.

Sampai sekarang pun getaran rasa takut dan tegang masih terasa pada mereka yang menjadi pengikut Syaikh Siti Jenar. Entah takut entah tidak, entah tegang entah tidak, buktinya para pengikut Tarekat Akmaliyyah, tarekat yang dinisbatkah kepada Syaikh Siti Jenar, selalu mengamalkan dan melestarikan ajarannya secara sembunyi-sembunyi. Dogma dan doktrin dari amalan-amalan Tarekat Akmaliyyah haram diajarkan kepada masyarakat umum. Nama Syaikh Siti Jenar seolah-olah mewakili rasa takut dan tegang bagi mereka yang sekadar simpati kepadanya.

Lepas dari soal takut dan tegang, citra Syaikh Siti Jenar sendiri selama kurun lebih empat abad memang tidak bisa lepas dari stigma kebid’ahan, kesesatan, kecacingan, dan keanjingan. Sementara, kita tidak pernah tahu apakah ia benar-benar jelmaan cacing. Kita juga tidak pernah tahu apakah ketika mati jasad Syaikh Siti Jenar berubah menjadi anjing. Bahkan kita tidak pernah tahu apakah bangkai anjing itu benar-benar dikubur di kompleks Masjid Agung Demak.

Kontroversi membingungkan tentang Syaikh Siti Jenar yang termuat dalam historiografi sejenis babad, ternyata tidak kita jumpai pada sejumlah naskah kuno asal Cirebon seperti Negara Kretabhumi, Pustaka Rajya-Rajya di Bhumi Nusantara, Purwaka Caruban Nagari, dan Babad Cherbon. Dalam naskah-naskah tersebut tidak dijumpai paparan absurd yang menggambarkan tokoh Syaikh Siti Jenar sebagai penjelmaan cacing. Tidak ada cerita yang menggambarkan mayatnya berubah menjadi anjing. Syaikh Siti Jenar, yang kelahiran Cirebon, digambarkan sangat manusiawi lengkap dengan silsilah keluarga yang berasal dari spesies manusia.

Lepas dari pro dan kontra kisah Rahwana, Indian, dan Syaikh Siti Jenar, ternyata faktor sumber-sumber naskah yang dijadikan acuan data dalam menggambarkan para tokoh itu menempati posisi kunci. Dikatakan posisi kunci kaerna sumber naskah acuan itulah yang sebenarnya membentuk frame of reference pembaca. Karena, naskah-naskah itulah yang sesungguhnya membangun asumsi, simpulan, opini, dan wacana tentang pokok masalah yang diperdebatkan.

Kita tidak tahu apakah Syaikh Siti Jenar yang dikenal penyebar bid’ah dan sesat itu sejatinya memang demikian, sesuai tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Yang jelas, pencitraan dan stigma itu tergantung sepenuhnya pada sumber-sumber historiografi yang mencatat tentangnya. Kenyataan tentang perbedaan sumber-sumber historiografi inilah yang diam-diam telah mendorong dan memotivasi saya untuk menulis kisah Syaikh Siti Jenar dari sisi lain. Siapa tahu dengan sumber-sumber asal Cirebon itu kita dapat menempatkan tokoh Syaikh Siti Jenar dalam bentuk yang berbeda dengan yang kita kenal selama ini. Maksudnya, siapa tahu bahwa di balik stigma kebid’ahan, kesesatan, kecacingan, dan keanjingan itu ternyata tersembunyi kemanusiaan atau bahkan keadimanusiaan.

Namun demikian, untuk memahami secara emic tentang siapa Syaikh Siti Jenar dan apa yang sebenarnya diajarkannya, sumber-sumber historiografi saja tidaklah cukup mewakili. Itu sebabnya perlu dilakukan pendekatan verstehen dengan metode kualitatif kepada para guru Tarekat Akmaliyyah, yang diam-diam masih dianut masyarakat Cirebon, Jawa Tengah, dan Jawa Timur meski secara sembunyi-sembunyi.

Melalui sumber-sumber historiografi asal Cirebon, ditambah sumber naskah dari Banten (Sajarah Banten), dan pendekatan verstehen, saya pada gilirannya dapat menangkap gambaran utuh tentang keberadaan Syaikh Siti Jenar beserta ajaran-ajarannya. Dan yang mengejutkan, gambaran utuh Syaikh Siti Jenar yang terbangun dalam konstruk pemahaman saya akibat proses pendekatan yang saya lakukan ternyata bertolak belakang dengan pencitraan dan stigma yang selama ini berlaku atas tokoh kontroversial tersebut.

Saya tidak tahu apakah gambaran utuh Syaikh Siti Jenar dalam bentuk konstruk pemahaman saya itu lebih proporsional dan lebih objektif dibanding gambaran yang dibangun sumber-sumber historiografi sejenis babad. Yang jelas, menyusun gambaran utuh Syaikh Siti Jenar ke dalam bentuk penelitian kualitatif sesuai tuntutan metodologi (an sich), saya rasakan mengalami banyak kesulitan, bahkan kemustahilan. Karena, keberadaan Syaikh Siti Jenar dan ajarannya terkait dengan pergulatan sosio-religi, ideologi, dogma, doktrin, dan pengalaman ruhani yang sulit dijabarkan oleh kaidah-kaidah ilmiah yang bertolak dari paradigma-paradigma, postulat-postulat, dan aksioma-aksioma sekular-materialistis. Oleh karena itu, saya memilih alternatif paling memungkinkan, yakni menyajikan hasil tangkapan saya terhadap sosok Syaikh Siti Jenar dan ajarannya dalam bentuk fiksi. Sajian itu saya beri judul Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar.

Keputusan untuk menuangkan hasil pendalaman tentang Syaikh Siti Jenar dalam bentuk fiksi, selain saya maksudkan untuk mengatasi faktor-faktor kesulitan teknis-metodologis, juga saya harapkan bisa lebih memudahkan masyarakat pembaca memahami kisah tokoh kontroversi ini dari sisi pandang yang lain. Sebab, melalui karya fiksi, pengungkapan dan pemaparan hal-hal yang bersifat abstrak dan absurd dapat dijembatani oleh pilihan kata-kata dan kalimat-kalimat konotatif dan metaforik.

Yang lebih mendasar, penulisan kisah Syaikh Siti Jenar dalam bentuk fiksi ini saya maksudkan juga untuk menghindari terjadinya pro dan kontra yang mengarah ke perdebatan klise yang berlarut-larut. Artinya, melalui karya fiksi, kisah Syaikh Siti Jenar boleh diterima sebagai keniscayaan bagi mereka yang sepaham, namun boleh juga dicampakkan seperti sampah bagi mereka yang tidak sepaham. Keberadaan karya fiksi memang tidak untuk diperdebatkan secara ideologis, politis, dan agamis, karena di dalamnya selain terdapat paparan deskriptif, ungkapan-ungkapan metaforik, konotatif, personifikatif, dan asosiatif, juga terdapat refleksi dari hasil pengendapan renungan kontemplatif, pengalaman ruhani pribadi, dan tentunya tak ketinggalan gambaran-gambaran imajinatif pengarang yang absurd.

Para pelaku dalam cerita ini digambarkan sebagai manusia-manusia dengan berbagai perwatakan yang khas. Meski ditampilkan dalam bentuk individu-individu, mereka pada dasarnya bukan mewakili manusia dalam kapasitas pribadi. Mereka mewakili fenomena-fenomena, naluri-naluri, sifat-sifat, perilaku-perilaku, dan kecenderungan-kecenderungan nafsu terdalam manusia sebagaimana dikenal dalam ajaran sufi. Itu sebabnya, sebagian terbesar nama pelaku dalam cerita ini lebih mewakili citra naluri, sifat, perilaku, dan kecenderungan nafsu manusia ketimbang mewakili figur individu manusia historis. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pun tidak sekadar mewakili waktu dan tempat pada bentangan sejarah, tetapi juga mengungkapkan simbol-simbol perkembangan jiwa manusia menuju kesempurnaan sebagaimana dikemukakan oleh ajaran sufi.

Sebelum dicetak menjadi buku oleh Penerbit LKiS Yogyakarta, naskah Suluk Abdul Jalil ini pernah dimuat secara bersambung di Harian Bangsa (2001-2002).

Pada bagian ini dipaparkan pandangan-pandangan filosofis tokoh Syaikh Datuk Abdul Jalil atas apa yang disebut Yang Wujud dan yang maujud, serta berbagai pengalaman ruhani dalam menuju Yang Mutlak. Buku ini juga memuat asal usul dan masa kecil tokoh Abdul Jalil, kisah perjalanan sejak dari Cirebon, Pakuan, Palembang, sampai ke Malaka. Di sini jelas tergambar bahwa tokoh Syaikh Siti Jenar yang bernama Syaikh Datuk Abdul Jalil itu bukanlah orang Jawa, apalagi seekor cacing. Ia adalah seorang habaib dan berasal dari keluarga ulama di Malaka yang asal usul kakek buyutnya dari Gujarat.

Selaku pengarang, saya berharap dengan hadirnya buku ini masyarakat pembaca akan memiliki cakrawala baru bukan hanya mengenai apa dan siapa sebenarnya Syaikh Siti Jenar, melainkan yang lebih fundamental adalah munculnya perspektif baru tentang dinamika ajaran Tauhid yang bersifat universal, khususnya tentang ajaran Sasyahidan atau Wahdatusy Syuhud yang diajarkan Syaikh Siti Jenar, yang banyak disalahpahami selama ini. Lain dari itu, terdapatnya ungkapan-ungkapan teknis sufisme yang bersifat esoteris di dalam buku ini sengaja tidak diberi makna dan penjelasan, agar tidak terjadi monopoli penafsiran oleh pengarang. Semoga isi buku ini bisa menjadi masukan dan bahan renungan bagi para pencari Kebenaran Sejati.

Agus Sanyoto

Malang, Ramadhan 1423 H.