Yang Dikutuk yang Dipuji

Langit hitam dipadati gumpalan awan kelabu.

Nusa Jawa yang terapung di permukaan laut bergetar dalam selimut kabut ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kecurigaan yang menebar di segenap penjuru hingga sudut-sudutnya. Terang matahari dan cahaya rembulan purnama tidak mampu lagi mengusir kabut tebal yang menerkam ujung terdalam jiwa manusia yang hidup di atasnya. Bagaikan gembala memelihara ternak di tepi hutan yang banyak harimau dan serigala, demikian para penghuni Nusa Jawa saling melirik dan mencuri pandang dengan sorot mata penuh curiga, seolah-olah menghadapi ancaman hewan buas.

Seiring melesatnya waktu, langit pun terang tanpa awan. Biru.

Berbeda dengan langit biru terang tanpa awan. Di permukaan Nusa Jawa, kabut masih kuat dan pekat menutupi seluruh penjuru kehidupan para penghuninya. Bayangan-bayangan hewan buas dan hantu-hantu yang mengerikan berkeliaran di tengah gumpalan kabut: menyeringai, meraung, melolong, melenguh, dan menggeram bagai makhluk haus darah mengintai mangsa. Gerangan apakah yang terjadi di negeri subur dan makmur berkelimpah padi, buah-buahan, susu, dan madu itu?

Lebih sewindu lalu, menurut cerita burung yang menyebar dari mulut ke mulut, terjadi prahara yang mengerikan dan menabur kebinasaan di Nusa Jawa. Prahara itu akibat benturan dahsyat dua angin berkekuatan besar yang membadai; yang satu adalah badai merah yang datang dari arah barat, sedang yang lain adalah badai putih yang datang dari timur. Padahal, kedua badai itu pada awalnya sama, yakni angin sejuk dan segar yang berembus sepoi-sepoi membasahi pepohonan, rerumputan, serta bebatuan.

Penyebutan nama badai merah yang berembus dari barat dinisbatkan kepada sang penebar badai, Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Siti Jenar (Tanah Merah), yang digolongkan sebagai pembangkang. Lantaran itu, para pengikutnya disebut golongan Abangan yang memiliki makna pengikut Syaikh Siti Jenar. Dengan adanya sebutan Abangan maka kesukaan orang Jawa untuk menyama-nyamakan dan mengaitkan satu hal dengan hal lain pada gilirannya memunculkan sebutan golongan Putihan, yang selain dihubungkan dengan pakaian mereka yang serba putih juga dikaitkan dengan kata patuh (bahasa Arab = Muthi’an).

Munculnya sebutan golongan Putihan membawa perkembangan yang lain lagi. Jika sebelumnya golongan Abangan dinisbatkan sebagai pengikut Syaikh Siti Jenar maka dengan pemaknaan patuh bagi golongan Putihan menimbulkan asumsi tidak patuh alias membangkang pada golongan Abangan. Demikianlah, para pengikut Syaikh Siti Jenar dicap sebagai golongan pembangkang, bahkan murtad.

Menurut cerita, benturan dua badai berlawanan arah itu puncaknya terjadi di Kesultanan Demak, pusat kekuasaan Islam yang paling awal di Nusa Jawa. Tragisnya, prahara yang merupakan bagian dari drama di atas panggung kehidupan itu adalah benturan antara angin Islam dan angin Islam sendiri. Tragedi anak manusia apakah yang sedang berlangsung di zaman itu?

Pada perempat awal abad ke-16 Masehi, angin sejuk Islam yang dibawa oleh para penyebarnya sedang berembus kencang dan membadai di pantai utara Nusa Jawa. Bagaikan tiupan dari tengah samudera melanda gugusan pantai, demikianlah angin hijau yang semula sepoi-sepoi membasahi kegersangan jiwa para penghuni negeri yang telah letih dipanggang hingar-bingar tungku peperangan itu, berangsur-angsur menjadi badai yang menggetarkan. Hal itu berlangsung ketika menara gading Majapahit yang pernah menebarkan zaman keemasan di segenap penjuru negeri telah tak berdaya lagi. Padam. Terpuruk menjadi reruntuhan puing yang dihuni tikus, anjing geladak, burung gagak, rayap, dan kuman penyakit.

Di tengah meredupnya cahaya kekuatan Majapahit itulah angin sejuk Islam secara bergelombang mulai bertiup di pesisir utara Nusa Jawa. Bermula dari Gresik, Tuban, Ampel Denta, dan Bintara, angin sejuk itu menumbuhkan benih-benih kehidupan di reruntuhan negeri yang gersang. Bagaikan angin penggiring awan yang menurunkan rinai hujan, begitulah ia membasahi kegersangan jiwa penghuni negeri dengan siraman air ruhaniah. Setapak demi setapak, tunas-tunas kehidupan ruhani mulai tumbuh menghijau di tanah kerontang. Dan gumpalan awan pembawa hujan semakin berarak ke segenap penjuru negeri.

Pada saat yang hampir bersamaan, di bagian barat Nusa Jawa, tepatnya di Lemah Abang, di tlatah nagari Caruban, bertiuplah angin sejuk Islam yang membawa gumpalan kabut. Menerobos dan menembus hutan, lembah, gunung, bukit, jurang, dan persawahan yang kering dicekik kemarau panjang. Gumpalan kabut yang memuat butir-butir air itu membasahi setapak demi setapak hamparan lembah, bukit, gunung, ngarai, dan jurang kemanusiaan yang sudah gersang tanpa makna. Menara gading Galuh dan Pajajaran yang pernah memancarkan warna keemasan telah tidak berdaya kini; terpuruk menjadi reruntuhan puing kemanusiaan yang menyedihkan.

Embusan angin sejuk Islam yang bertiup makin kencang dari dua arah yang berlawanan itu ternyata tunduk pada hukum alam. Saat mereka bertemu pada satu pusaran tiba-tiba berubah menjadi puting beliung berkekuatan raksasa yang berpusar dahsyat melanda dan membinasakan segala yang diterjangnya. Keduanya bertumbuk. Dorong-mendorong pun berlangsung seru. Namun, kekuatan dahsyat angin dari timur terbukti memenangkan pergulatan sehingga angin prahara Islam yang membawa gumpalan kabut itu terdorong ke arah barat.

Bagaikan al-Maut menggiring wadyabala, begitulah prahara kemanusiaan itu tanpa kenal ampun melanda pedesaan; meluluhlantakkan rumah, sawah, pasar, kebun, kandang hewan, hutan, lembah, bukit, dan gunung. Dan di tempat-tempat di mana angin itu menderu, terhamparlah citra kebinasaan al-Maut; kepala terpisah dari tubuh, luka menganga, darah mengalir, air mata membanjir, derita menggenang, kegelisahan mencakar, keresahan menerkam, ketakutan mencekik, kepanikan merajalela, dan kematian mengintai di setiap sudut kehidupan.

Kebinasaan tampaknya belum cukup mengukir tragedi kehidupan anak manusia. Iblis, anasir kegelapan yang terlaknat dan terusir, beserta wadyabala bagaikan kawanan gagak pemakan bangkai yang memencar ke segala penjuru negeri seusai badai berlalu. Demikianlah, kawanan gagak hitam perwujudan iblis itu beterbangan sambil berkaok-kaok mengerikan. Menebar fitnah. Memangsa siapa saja yang ditemuinya. Memunguti serpihan daging dari mayat-mayat yang bergelimpangan.

Langit biru terang tanpa awan. Badai telah berlalu.

Terangnya langit biru dan berlalunya angin prahara yang menebar kebinasaan ternyata tidak serta merta mengusir gumpalan kabut dari Nusa Jawa. Sejauh mata memandang dari ufuk timur ke barat, hanya ada puing-puing reruntuhan jiwa manusia yang berserakan tanpa daya. Kesunyian menghampar. Kesenyapan tergelar. Hanya tangisan bocah-bocah yang menjadi yatim yang sayup-sayup terdengar memecah hening.

Syaikh Siti Jenar, sang penebar badai, konon mati di tengah amukan prahara itu. Tak seorang pun tahu di mana kuburnya. Menurut cerita, ada orang yang menyaksikan mayat Syaikh Siti Jenar berubah menjadi bangkai anjing. Sebagian menyatakan bangkai itu dihanyutkan ke sungai. Sebagian lagi menyatakan bangkai itu dikubur di Mantingan. Sedang menurut kesaksian yang lain, bangkai anjing jelmaan Syaikh Siti Jenar dimakamkan di belakang mihrab Masjid Agung Demak. Aneh, bangkai anjing dikubur di belakang mihrab masjid. Lebih aneh lagi ada yang menyaksikan bangkai Syaikh Siti Jenar menebarkan bau wangi semerbak.

Para pengikut setia Syaikh Lemah Abang, seperti Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir Banyubiru, Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, Sunan Panggung, dan Ki Lonthang dari waktu ke waktu mengalami nasib tak jauh dari gurunya, terhempas oleh pusaran angin prahara. Tidak satu pun di antara mereka pernah diketahui kuburnya. Dan bagi pengikut-pengikut dari kalangan kawula alit, tidak ada yang tersisa dari prahara dahsyat itu kecuali rasa takut, resah, gelisah, dan curiga yang menerkam jiwa.

Ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kecurigaan yang melanda kawula alit pengikut Syaikh Siti Jenar atau mereka yang dianggap berhubungan karena ikatan darah maupun perkawanan, pada dasarnya bersumber pada fitnah dahsyat yang disebarkan oleh kawanan gagak jelmaan iblis. Bagaikan ulat menggeragoti daging, demikianlah fitnah itu ditebar, memisahkan daging dari tulang. Daging-daging yang dianggap busuk hendaknya dikelupas dari tulang dan dibakar demi memelihara kesucian. Demikianlah, para pengikut Syaikh Siti Jenar tidak saja digolongkan sebagai daging busuk yang membahayakan kesucian tulang, tetapi dianggap bukan bagian dari tulang. Para pengikut Syaikh Siti Jenar dianggap telah murtad dari kebenaran Agama Rasulallah. Kawula alit yang terkena cap sebagai wong Abangan dianggap sebagai bukan bagian dari umat Islam dan darah mereka halal ditumpahkan.

Akibat yang ditimbulkan oleh fitnah itu sangat memilukan. Begitu kelam. Pekat. Gelap. Dan semua itu akibat ketidakmampuan manusia mengendalikan serigala nafsu duniawinya, sehingga terjadilah tragedi: manusia memakan sesamanya.

Kisah-kisah dramatis tentang manusia memakan sesamanya ini dengan cepat meluas di kalangan kawula alit. Bagaikan cerita menakutkan tentang hantu-hantu yang bergentayangan, hati mereka diliputi rasa takut, gelisah, resah, dan curiga mendengarkan betapa mengerikan kisah orang-orang tak bersalah yang binasa akibat dituduh menjadi pengikut Syaikh Siti Jenar. Ada kisah tentang orang-orang kaya yang binasa dan hartanya dijadikan jarahan. Ada pula kisah tentang orang-orang beristri cantik yang dimakan fitnah sebagai wong Abangan kemudian istri-istri mereka dijadikan rebutan. Atau tentang para nayakapraja yang kehilangan jabatan akibat fitnah dari kawan-kawan yang mengincar kedudukan mereka.

Hari dan pekan berlalu. Bulan dan tahun pun berganti. Namun rasa takut, gelisah, resah, dan curiga yang mencekam relung-relung jiwa para penghuni Nusa Jawa masih tetap bercokol kuat. Sebab kawanan gagak jelmaan iblis masih terus beterbangan menebar fitnah. Mereka selalu mengikuti ke arah mana serigala-serigala haus darah mencari mangsa. Dan saat kawanan serigala meninggalkan sisa-sisa daging mangsanya, datanglah kawanan gagak yang dengan kerakusan tiada tara memunguti serpih-serpih daging yang sudah basah oleh liur. Itulah upah mereka sebagai penebar fitnah.

Giri Amparan Jati, sebuah pesantren yang terletak di lereng gunung Sembung, di tlatah Kasunanan Cirebon Girang. Pada paro pertama abad ke-16 Giri Amparan Jati merupakan pusat pendidikan Islam yang menjadi tujuan bagi para musafir penuntut ilmu dari berbagai penjuru negeri. Tidak berbeda dengan tempat-tempat lain di Nusa Jawa, di pesantren yang telah berusia hampir satu abad itu para penghuninya tak luput dari intaian rasa takut, gelisah, resah, dan curiga akibat hempasan angin prahara yang menebar malapetaka. Bahkan di sana berlaku peraturan aneh yang dikenakan kepada para santri dan seluruh warga pesantren, yakni larangan untuk menanyakan segala sesuatu yang berkaitan dengan santri-santri generasi pertama yang diasuh oleh almarhum Syaikh Datuk Kahfi, pendiri pesantren.

Karena yang menetapkan larangan itu adalah Syaikh Maulana Jati, Syarif Hidayatullah, pengasuh pesantren Giri Amparan Jati yang juga Susuhunan Cirebon Girang, maka peraturan yang aneh itu dipatuhi begitu saja selama bertahun-tahun tanpa ada yang berani menanyakan alasannya. Bahkan di kalangan nayaka dan abdi Kasunanan Cirebon Girang pun tidak ada yang berani bertanya ini dan itu tentang peraturan aneh tersebut. Mereka seolah sepaham bahwa melanggar peraturan berarti mendatangkan laknat dan malapetaka.

Manusia adalah manusia. Semakin ia dilarang akan semakin kuat ia melanggar. Seperti kisah Nabi Adam dan istrinya, Hawa, keturunan mereka pun cenderung melanggar sesuatu yang dilarang. Itu sebabnya, meski dipatuhi di permukaan, di belakang justru dilanggar. Para santri Giri Amparan Jati, misalnya, dengan mencuri-curi berusaha mencari tahu latar di balik peraturan itu. Diam-diam mereka menjadikan peraturan itu sebagai bahan pembicaraan kasak-kusuk, terutama ketika sedang melakukan pekerjaan di luar waktu belajar. Di sela-sela kegiatan mengambil air untuk mengisi bak mandi, beristirahat usai berlatih silat, mencari kayu bakar, bahkan menjelang tidur.

Bertolak dari pembicaraan di lingkungan pesantren yang diikuti oleh nayaka dan abdi di Kasunanan Cirebon Girang, beredarlah kisah-kisah menakutkan yang terkait dengan para santri dari generasi pertama. Dan di antara semua cerita yang simpang-siur itu hampir semuanya terpusat pada satu tokoh utama bernama Syaikh Datuk Abdul Jalil yang juga disebut Syaikh Siti Jenar alias Syaikh Lemah Abang. Ternyata dari peraturan aneh itu muncul keanehan pula, di mana berbagai kisah buruk dan nista bergumul dengan berbagai kisah terpuji dan mulia tentang tokoh utama yang merupakan santri generasi pertama itu.

Pada satu sisi banyak beredar cerita kelam dan hitam tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. Misalnya, ada kisah yang menuturkan bahwa ia semula merupakan santri taat yang berubah menjadi jahat dan murtad karena mengikuti ajaran sesat setelah tinggal di Baghdad. Konon, di sana ia berguru kepada raja jin. Ada pula kisah yang menyatakan bahwa ia sesat karena mempelajari ilmu dari para tukang sihir Baghdad. Kisah sejenis yang lain lagi menuturkan bahwa santri pertama itu adalah anak yang durhaka terhadap orang tuanya sehingga diusir dan hidup dalam kesesatan. Ada lagi yang menyebutnya sebagai anak seorang rsi yang masuk Islam, namun kemudian memilih jalan sesat hingga murtad kembali. Bahkan muncul pula kasak-kusuk yang mengatakan bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil sebenarnya bukan dari golongan manusia. Ia adalah jelmaan cacing menjijikkan. Karena itu, kemuliaan Islam tak membawa manfaat apa-apa baginya kecuali kesesatan yang menuju ke kenistaan dan kehinaan. Bukti bahwa ia bukan manusia adalah saat mati mayatnya menjelma menjadi anjing.

Sementara pada sisi lain muncul pula kisah yang menempatkannya sebagai orang yang terpuji dan mulia. Ada satu kisah memaparkan bahwa ia adalah adik sepupu Syaikh Datuk Kahfi. Syaikh Datuk Abdul Jalil dikenal sebagai seorang alim yang berilmu luas bagai samudera. Ia lama tinggal di Baghdad dan menjadi syaikh besar di sana. Ada pula yang menuturkan bahwa ia merupakan seorang wali Allah yang keramat yang tanpa kenal pamrih menyebarkan Islam di bumi Pasundan dan Jawa. Bahkan beredar pula kisah yang berisi bahwa Syaikh Maulana Jati, Syarif Hidayatullah, adalah putera menantunya. Karena, istri ketiga beliau, Nyai Rara Baghdad, adalah puteri Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Pembicaraan kasak-kusuk yang bertentangan itu membuat para santri turut merasakan getar ketakutan, kegelisahan, keresahan, dan kecurigaan ketika mereka sampa pada berita-berita yang menyatakan bahwa orang-orang yang menjadi pengikut atau diduga menjadi pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil dikucilkan dan dibenci masyarakat. Bahkan beredar pula kisah bahwa mereka dibunuh oleh orang-orang tak dikenal. Para santri tidak pernah bertanya apakah peristiwa-peristiwa itu terjadi di tlatah Cirebon Girang atau di tempat lain. Mereka hanya meyakini begitu saja berita-berita itu sebagai kebenaran yang menakutkan.

Berbagai kisah simpang-siur tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil, yang semula hanya menjadi bahan pembicaraan kasak-kusuk, berubah menjadi persoalan serius ketika di Pesantren Giri Amparan Jati hadir seorang santri baru yang dihormati: Raden Ketib.

Raden Ketib adalah putera Pangeran Surodirejo, Adipati Palembang. Pangeran Surodirejo merupakan putera Raden Kusen, Adipati Terung. Raden Kusen adalah putera Ario Damar, Adipati Palembang terdahulu. Jadi, Raden Kusen adalah saudara tiri Adipati Demak Bintara, Raden Fatah. Dengan demikian, santri baru bernama Raden Ketib itu adalah putera saudara sepupu Sultan Demak, karena ayahandanya merupakan sepupu Sultan Tranggana.

Ihwal kehadiran Raden Ketib ke Giri Amparan Jati pada mulanya bukan sepenuhnya untuk menuntut ilmu keislaman kepada Syaikh Maulana Jati. Sebab, ayahanda Raden Ketib mengirimnya ke Giri Amparan Jati atas permintaan kakeknya, Raden Kusen.

Ceritanya, setelah Majapahit runtuh oleh serangan pasukan tombak yang dipimpin Susuhunan Kudus dan Pangeran Pancawati, Raden Kusen yang menjadi panglima perang Majapahit ditawan. Namun, karena Raden Kusen adalah paman Sultan Tranggana maka dia kemudian dibawa ke Demak. Setelah beberapa waktu tinggal di sana, Raden Kusen dipindahkan ke Kudus. Kepindahan ini ada kaitannya dengan hubungan keluarga antara Raden Kusen dan Susuhunan Kudus. Sebab, puteri Raden Kusen adalah istri Susuhunan Kudus. Selanjutnya, panglima tua itu dibawa ke Cirebon Girang dan tinggal di sana dengan menggunakan nama Pangeran Pamelekaran. Dia diambil menantu oleh Susuhunan Cirebon Girang, Syaikh Maulana Jati, dengan menikahi puterinya yang bernama Nyai Mertasari.

Meski didampingi istri yang cantik dan muda, jiwa Pangeran Pamelekaran tetap hampa. Sebab bagi orang setua dia, kehadiran cucu yang bisa mendengarkan dengan bangga kisah-kisah keperwiraan dan kebesarannya di masa lampau adalah daya hidup yang dahsyat baginya. Itu sebabnya, dia meminta Pangeran Surodirejo agar mengirimkan salah satu puteranya untuk menuntut ilmu di Giri Amparan Jati sekaligus akan diasuh dan dididik sendiri di ndalem Pamelekaran.

Menyadari bahwa ayahandanya adalah perwira unggul yang selalu jaya di medan tempur dan dikenal sebagai ahli tata praja sehingga menduduki jabatan Pecat Tandha (pejabat yang mengurus pajak dan bea cukai) di Terung, maka Pangeran Surodirejo pun mengirimkan putera sulungnya, Raden Ketib. Ia mengharapkan Raden Ketib kelak menjadi penggantinya sebagai Adipati Palembang. Pangeran Surodirejo yakin di bawah asuhan dan didikan kakeknya, Raden Ketib akan menjadi pemimpin yang ulet, tegas, teguh pendirian, dermawan, adil, dan dicintai rakyat.

Saat dikirim ke Giri Amparan Jati, Raden Ketib adalah pemuda berusia enam belas tahun. Sedikitpun ia tidak pernah mengetahui maksud lain ayahandanya mengirim dirinya ke Pesantren Giri Amparan Jati. Ia mengira kehadirannya di pesantren itu semata-mata untuk menuntut ilmu atas petunjuk kakeknya. Itu sebabnya, meski keluarga pesantren sangat menghormatinya sebagai cucu Pangeran Pamelekaran, ia berusaha menjadi santri yang tidak menginginkan keistimewaan apa pun. Bersama-sama dengan santri yang lain, ia mencari kayu bakar, mengisi bak mandi, berlatih silat, dan tidur beramai-ramai di gubuk bambu beratap daun tal.

Usai mengerjakan tugas-tugasnya sebagai santri, biasanya di malam hari, Raden Ketib, sesuai pesan ayahandanya, datang ke ndalem Pemelekaran untuk menimba berbagai ilmu pengetahuan dari kakeknya, terutama ilmu keprajuritan dan tata praja. Namun berbeda dengan harapan ayahandanya, Raden Ketib ternyata tidak tertarik dengan ilmu keprajuritan dan tata praja. Ia lebih suka mendengarkan cerita tentang pengalaman kakeknya mengarungi samudera kehidupan. Dan Pangeran Pamelekaran yang sudah tua itu tampaknya lebih suka bercerita tentang berbagai pengalamannya daripada mengajari cucunya dengan ilmu keprajuritan dan tata praja.

Raden Ketib merupakan pemuda yang rendah hati. Itu tampak dari kegemarannya mengajak kawan-kawannya sesama santri untuk berkunjung ke ndalem Pamelekaran mendengarkan cerita-cerita menakjubkan yang pernah dialami kakeknya. Ia juga dikenal dermawan sehingga tak jarang uang saku yang diperoleh dari kakeknya habis dibagi-bagikan untuk kawan-kawannya. Sering juga ia ikut berkunjung ke rumah salah seorang kawannya yang ayahnya hanya seorang gedeng atau malah kuwu.

Bermula dari keakraban dengan kawan-kawan sesama santri, ia mengetahui tentang peraturan aneh serta kasak-kusuk itu. Raden Ketib tidak pernah menduga bahwa cerita yang pernah ia dengar tentang Syaikh Siti Jenar yang sesat dan murtad dari guru mengajinya itu ternyata berasal dari pesantren di mana ia menimba ilmu sekarang ini. Namun berbeda dengan kisah-kisah yang pernah ia dengar selama di Palembang, ternyata di Giri Amparan Jati ada beberapa kisah yang menggambarkan syaikh murtad itu sebagai orang yang terpuji dan mulia. Bahkan yang membuat keningnya berkerut adalah bisik-bisik yang menyatakan bahwa istri Syaikh Maulana Jati adalah puteri Syaikh Siti Jenar.

Kesimpangsiuran itu menumbuhkan rasa ingin tahu Raden Ketib. Cerita-cerita itu begitu menakjubkan. Ia sangat ingin menyingkap kabut yang menyelimuti kehidupan santri Giri Amparan Jati generasi pertama itu. Benarkah Syaikh Datuk Abdul Jalil sesat dan murtad? Benarkah dia berguru kepada tukang sihir Baghdad? Benarkah dia anak durhaka? Benarkah dia bukan manusia, melainkan seekor cacing tanpa ayah dan ibu? Benarkah dia ayahanda Nyai Rara Baghdad? Benarkah dia adik sepupu Syaikh Datuk Kahfi, Sunan Jati Purba, pendiri pesantren Giri Amparan Jati? Benarkah dia wali Allah yang menyebarkan Islam tanpa pamrih di nagari Galuh, Kretabhumi, Sumedanglarang, Sadawarna, Subang, Luragung, Bantarkawung, Demak, Majenang, Pasir, Mataram, hingga Pengging?

Kecamuk tanda tanya yang berjejal-jejal di kepala Raden Ketib menjadi bara api penasaran yang membakar hati dan benaknya, terutama setelah ia menghadapi jalan buntu ketika berusaha menguak lebih dalam tentang keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang membingungkan itu. Jalan buntu itu bermula dari kecurigaan yang mencuat dari setiap orang yang ditanyainya. Santri Giri Amparan Jati, nayaka, dan abdi Kasunanan Cirebon Girang tampaknya sama-sama memahami bahwa Raden Ketib adalah cucu Pangeran Pamelekaran. Ia juga kemenakan Sultan Demak. Itu sebabnya, mereka diam-diam menaruh curiga bahwa sangat mungkin Raden Ketib dikirim ke Giri Amparan Jati dan Kasunanan Cirebon Girang dilatari tujuan untuk mencari sisik-melik yang berkaitan dengan ajaran sesat Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Menghadapi jalan buntu itu sempat terbersit di benak Raden Ketib niat untuk menanyakan langsung hal tersebut kepada ramanda gurunya, Syaikh Maulana Jati. Namun, sebagai seorang yang sejak kecil dididik di lingkungan Kadipaten Palembang yang menanamkan nilai-nilai penghormatan dan pemuliaan terhadap guru, maka niat itu dibatalkannya. Apalagi dalam hal itu ada kasak-kusuk yang menyatakan bahwa ramanda gurunya adalah menantu Syaikh Datuk Abdul Jalil. Tentunya hal itu sangat kurang ajar dan tidak mengenal tata krama bagi seorang santri yang wajib memuliakan gurunya.

Ketika mendengarkan cerita-cerita kakeknya, sempat pula terbersit keinginan di benak Raden Ketib untuk menanyakan tentang kisah Syaikh Datuk Abdul Jalil. Namun, keinginan itu lagi-lagi terpaksa ditahan. Raden Ketib sadar bahwa kakeknya menetap di Cirebon Girang baru beberapa tahun saja. Sementara Syaikh Datuk Abdul Jalil saat tinggal di Cirebon Girang sudah puluhan tahun silam. Di samping itu, ia tidak ingin menyinggung perasaan kakeknya karena bagaimanapun Sultan Demak yang mendiamkan saja pembunuhan Syaikh Abdul Jalil oleh Sunan Kudus itu adalah kemenakannya. Terlebih lagi, Sunan Kudus sendiri adalah menantunya.

Keinginan kuat Raden Ketib untuk menguak rahasia Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata makin meningkatkan kecurigaan para santri, nayaka, dan abdi Kasunanan Cirebon Girang. Dengan cara terang-terangan atau samar, mereka berusaha menghindar setiap kali didekati Raden Ketib. Sebagai orang yang tanggap dengan keadaan, ia cepat menyadari bahwa dirinya diam-diam telah dikucilkan dari kehidupan pesantren maupun kasunanan.

Menyadari bahwa dirinya tidak melihat kemungkinan memperoleh sesuatu dari pesantren maupun kasunanan maka dengan semangat tetap membara ia berusaha mencari penjelasan dari tempat lain. Diam-diam pada waktu senggang ia berkeliling ke desa-desa di sekitar Giri Amparan Jati. Berangkat dari pengalaman di pesantren dan kasunanan, Raden Ketib tidak menanyakan langsung segala sesuatu yang berkait dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ia biasanya memulai pembicaraan dengan menanyakan ihwal keberadaan desa yang disinggahinya, baik berkait dengan nama desa, pendiri, asal-usul surau, dan berbagai hal yang menyangkut desa tersebut.

Hari dan pekan berlalu. Perjuangan gigih Raden Ketib untuk menguak rahasia kebenaran di balik cerita-cerita tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil mendatangkan hasil juga, meski berserakan dan tidak utuh. Misalnya saja, ia memperoleh penjelasan bahwa pada awal didirikan oleh Syaikh Datuk Kahfi, Giri Amparan Jati dinamakan padepokan. Sebutan pesantren baru dilakukan oleh seorang santri dari generasi keempat bernama Raden Sahid asal Tuban yang bergelar Syaikh Malaya, setelah Syaikh Datuk Kahfi wafat. Dia menyarankan kepada Syaikh Maulana Jati agar nama padepokan diganti menjadi pesantren.

Lain dari itu, Raden Ketib beroleh pula penjelasan tentang siapa saja di antara santri-santri Giri Amparan Jati generasi pertama yang kemudian menjadi pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di antara mereka itu, menurut cerita yang didengar Raden Ketib, adalah Ki Gedeng Pasambangan, cucu Ki Gedeng Tapa, Ki Gedeng Tegal Alang-Alang, Ki Gedeng Babadan, Ki Gedeng Surantaka dan Ki Gedeng Singapura. Mereka itu adalah kawan-kawan akrab Syaikh Datuk Abdul Jalil sejak usia lima tahunan di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi. Mereka tumbuh bersama di lingkungan yang sama hingga dewasa. Itu sebabnya, mereka mengetahui benar kelebihan-kelebihan sekaligus kekurangan sahabat yang akhirnya menjadi guru ruhani mereka.

Manusia boleh berencana dan berusaha, namun Tuhanlah penentu keputusan akhir. Rencana dan usaha Raden Ketib untuk menguak jati diri Syaikh Datuk Abdul Jalil ternyata harus terhenti di tengah jalan. Para santri Giri Amparan Jati generasi pertama yang diharapkan dapat memberikan penjelasan tentang cerita-cerita sahabat mereka ternyata telah banyak yang meninggal dunia. Hanya Ki Gedeng Pasambangan yang masih hidup. Sayangnya, dia telah pergi ke Banten Girang dan tidak diketahui kapan kembalinya.

Bagi pemuda remaja yang haus pengetahuan dan ingin beroleh kebenaran, menelusuri jejak-jejak kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil yang penuh liku-liku merupakan tantangan yang memesona. Bagai orang kehausan meminum air laut, begitulah Raden Ketib terus berusaha mencari titik terang tentang tokoh aneh yang dikutuk sekaligus dipuji itu. Dan semakin ditelusuri semakin ditemukan keanehan-keanehan dari jejak-jejak yang ditinggalkan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil. Para sahabat karibnya yang sudah meninggal dunia, misalnya, tidak ada satu pun yang diketahuhi di mana kuburnya. Pihak keluarga yang ditanya tentang ketidaklaziman itu umumnya hanya memberi penjelasan bahwa para sahabat dan murid Syaikh Datuk Abdul Jalil jika akan meninggal dunia selalu meninggalkan wasiat yang menyatakan bahwa kubur mereka hendaknya tidak diberi batu nisan atau tanda apa pun. Alasannya, mereka tidak mau diberhalakan oleh anak dan cucunya.

Kenyataan ini benar-benar membingungkan Raden Ketib. Selama hidup di Kadipaten Palembang, ia terbiasa membaca surat yasin, tahlil, dan kenduri untuk memperingati orang yang meninggal dunia. Ternyata upacara itu tidak satu pun dilakukan oleh sahabat-sahabat dan murid-murid Syaikh Datuk Abdul Jalil. Padahal, sejak ia tinggal di Giri Amparan Jati, kebiasaan semacam itu juga dilakukan orang. Kenyataan ini, pikir Raden Ketib, sungguh teramat aneh.

Tanpa terasa, telah tiga tahun Raden Ketib tinggal sebagai santri di Giri Amparan Jati. Tanpa terasa pula usianya bertambah. Keakraban antara Raden Ketib dan kakeknya makin erat manakala Nyai Mertasari, istri kakeknya, melahirkan putera yang diberi nama Raden Santri. Raden Ketib yang hampir dua puluh usianya itu harus memanggil ‘paman’ kepada bayi yang baru lahir. Aneh sekali rasanya seorang pemuda memanggil bayi dengan sebutan paman.

Sebenarnya, jika ditelusuri lebih jauh, hal yang dialami oleh Raden Ketib itu tidak aneh dibanding silsilah kakeknya. Pangeran Pamelekaran yang bernama Raden Kusen itu kedudukannya adalah adik tiri sekaligus kemenakan Raden Fatah, Adipati Demak Bintara. Bagaimana hal rumit itu bisa terjadi?

Ceritanya, Raden Kusen adalah putera Ario Damar. Ario Damar sendiri adalah putera Prabu Kertawijaya Wijaya Parakramawarddhana, Maharaja Majapahit. Ario Damar kemudian dianugerahi seorang perempuan Cina bernama Retno Subanci oleh ayahandanya. Saat itu Retno Subanci adalah salah seorang selir ayahandanya yang sedang hamil muda. Ario Damar diwanti-wanti agar tidak menyentuh Retno Subanci sebelum bayi yang dikandungnya lahir. Tak lama kemudian lahirlah bayi laki-laki yang diberi nama Raden Fatah. Kemudian, Retno Subanci dinikah oleh Ario Damar. Lalu lahirlah Raden Kusen yang menurunkan beberapa putera dan puteri, di antaranya Pangeran Surodirejo, ayahanda Raden Ketib.

Berawal dari mempertanyakan keanehan-keanehan silsilah keluarganya itulah Raden Ketib tanpa pernah direncanakan sebelumnya, tiba-tiba menyinggung hal ihwal keanehan cerita-cerita yang menyangkut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Dan satu hal yang tak pernah diduga oleh Raden Ketib, ternyata kakeknya pernah bertemu dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil meski sangat singkat. “Dia memanggil aku dengan sebutan paman karena dia putera angkat Ki Danusela, putera Eyang Prabu Kertawijaya. Dia mengira aku adalah adik dari Rakanda Raden Fatah. Itu tidak salah, tetapi dia sebenarnya juga bisa menyebutku rakanda karena aku adalah kemenakan Ki Danusela,” katanya sambil tertawa.

Merasa bahwa kakeknya hanya kenal sepintas saja dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil, Raden Ketib kemudian menuturkan betapa selama ini ia berusaha mencari tahu tentang tokoh aneh itu. Pangeran Pamelekaran mengerutkan kening mendengar penuturan cucunya. Tetapi, sesaat kemudian dia menyatakan akan memanggil Ki Gedeng Pasambangan, putera Ki Gedeng Tapa, yang merupakan kawan Syaikh Datuk Abdul Jalil. “Biarlah Ki Gedeng Pasambangan menuturkan segala sesuatu yang diketahuinya kepadamu,” kata Pangeran Pamelekaran datar.

“Tapi Eyang,” sahut Raden Ketib takzim, “bagaimana jika cerita Ki Gedeng Pasambangan nanti menyinggung perasaan Eyang?”

“Menyinggung perasaanku?” Pangeran Pamelekaran mengernyitkan kening.

“Iya, Eyang,” sahut Raden Ketib, “sebab menurut cerita-cerita yang saya dengar, yang berperan penting dalam kematian Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah Susuhunan Kudus, yaitu menantu Eyang. Kemudian, sultan yang mendiamkan saja pembunuhan itu adalah kemenakan Eyang.”

“Ha…ha…ha,” Pangeran Pamelekaran terbahak. Setelah itu dengan suara serius dia berkata, “Kebenaran harus diungkap apa adanya. Itu prinsipku. Aku tak pernah tersinggung. Bahkan engkau harus tahu bagaimana sikapku terhadap Susuhunan Kudus, menantuku itu. Ketahuilah, saat penyerbuan awal pasukan Demak ke Majapahit yang dipimpin Susuhunan Ngudung, ayahanda Susuhunan Kudus, yang tak lain adalah besanku, akulah yang menjadi manggalayuddha Majapahit. Dalam pertempuran itu, aku harus berhadapan dengan dia selaku panglima Demak. Aku tikam lehernya dengan keris. Meski dia sudah mengenakan pusaka kutang antakusuma, toh mati juga ia di tanganku. Itulah kenyataan, Ngger. Aku tidak akan tersinggung jika diungkap bahwa aku telah tega membunuh besanku demi mempertahankan kerajaan kafir Majapahit.”

“Dalam peristiwa itu banyak orang menyalahkan aku. Namun, aku tidak peduli. Karena, aku sudah berkali-kali mengingatkan bahwa aku adalah murid yang setia dan teguh memegang amanat guru. Telah berkali-kali kukatakan bahwa aku tetap memegang amanat guruku, Raden Ali Rahmatullah, Susuhunan Ampel Denta, yang menitahkan aku agar mengabdi pada Majapahit apa pun yang terjadi, demi melindungi pemeluk-pemeluk Islam di pedalaman. Tetapi, mereka tidak peduli. Mereka tidak menghargai prinsip hidupku. Dan mereka baru sadar setelah semuanya terjadi.”

Raden Ketib menarik napas dalam-dalam mendengar kisah kakeknya. Namun terlepas dari keberpihakannya kepada Pangeran Pamelekaran, Raden Ketib menangkap sasmita bahwa kakeknya itu berpendirian teguh dan tidak mudah menyerah. Itu sebabnya, kakeknya hanya bisa disejajarkan dengan tokoh Bisma dalam cerita Mahabarata, yakni berani menanggung risiko apa pun demi memegang teguh prinsip yang diyakini kebenarannya.

Janji Pangeran Pamelekaran untuk mengundang Ki Gedeng Pasambangan ternyata dipenuhi kira-kira sehari setelah sahabat Syaikh Datuk Abdul Jalil itu kembali dari Banten Girang. Raden Ketib yang tidak menduga bakal secepat itu bertemu dengan Ki Gedeng Pasambangan, tak bisa berkata-kata ketika tiba di ndalem Pamelekaran, kecuali mencium takzim lutut kakeknya dengan hati berbunga-bunga. Dan bagi Pangeran Pamelekaran sendiri merupakan suatu kebahagiaan tak terhingga jika dia bisa memenuhi hasrat dan keinginan cucunya.

Malam itu, setelah memperkenalkan Raden Ketib sebagai cucu tercintanya, Pangeran Pamelekaran mengajak Ki Gedeng Pasambangan untuk mengingat saat-saat menegangkan ketika mereka menyerbu Pakuwuan Caruban dan kemudian menghadang pasukan Pajajaran yang dipimpin Terong Peot di pantai Muara Jati. Ki Gedeng Pasambangan yang saat itu merupakan santri Giri Amparan Jati tentu masih mengingat peristiwa itu dengan jelas. Dia kemudian menuturkan kepada Raden Ketib betapa gagah dan beraninya Pangeran Pamelekaran ketika itu. Namun, saat menyinggung nama San Ali, yakni nama kecil Syaikh Datuk Abdul Jalil, Ki Gedeng Pasambangan tampak sekali berusaha menghindar.

Sebagai orang yang sudah kenyang menelan pahit dan getir kehidupan, Pangeran Pamelekaran memahami kecanggungan Ki Gedeng Pasambangan ketika menyinggung hal sahabat dan guru tercintanya. Itu sebabnya, dia langsung meminta Ki Gedeng Pasambangan untuk menuturkan apa adanya segala sesuatu yang diketahuinya tentang Syaikh Datuk Abdul Jalil. “Engkau tak perlu ragu dan curiga, Ki. Engkau mestinya telah tahu betapa aku memiliki prinsip yang sama dengan Abdul Jalil tentang penyerangan ke Majapahit. Engkau juga tentu tahu bahwa di tanganku ini pula besanku Susuhunan Ngudung melayang jiwanya. Karena itu, Ki, ceritakan apa adanya tentang San Ali, kemenakanku itu. Cucuku sangat besar hasratnya untuk mengetahui kisah San Ali yang sampai kini simpang siur,” kata Pangeran Pamelekaran dengan suara berat.

“Abdi akan laksanakan titah Yang Mulia,” kata Ki Gedeng Pasambangan takzim.

Beberapa jenak setelah Pangeran Pamelekaran berpamitan hendak beristirahat, Ki Gedeng Pasambangan yang duduk berdua berhadap-hadapan dengan Raden Ketib memulai ceritanya. Dia bercerita berdasarkan kesaksian pribadi, penuturan Syaikh Datuk Abdul Jalil, fatwa dan kisah dari Syaikh Datuk Kahfi, cerita dari kawan-kawannya sesama santri, penuturan kakeknya, yaitu Ki Gedeng Tapa, dan cerita dari Haji Abdullah Iman, yakni Pangeran Walangsungsang Cakrabuwana, Kepala Nagari Cirebon, yang tak lain adalah saudara sepupunya.

Berdasar cerita-cerita itu, Ki Gedeng Pasambangan menuturkan kisah kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil secara luas dan mendalam sejak awal kelahiran, pengembaraan, silsilah keluarga, pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, hingga ke masa memilukan saat ia terhempas angin prahara fitnah yang mengerikan.