Anak Yatim Piatu

Dalam bayangan pohon Kalpa, di bawah pancaran sinar matahari di pinggiran sungai kecil berair deras, di lingkaran rimbunan hutan dan belukar tak jauh dari Padepokan Giri Amparan Jati, di lereng Gunung Sembung, tlatah nagari Caruban, San Ali, putera Ki Danusela sang Kuwu Caruban, menuntut ilmu agama bersama-sama sahabat-sahabatnya di bawah asuhan Syaikh Datuk Kahfi. Laksana permata manikam memancarkan gemerlap keindahan, begitulah San Ali menjadi perhiasan padepokan karena kecerdasan, kesetiaan, dan kecintaannya yang tulus.

Sebagai penghuni padepokan sejak usia lima tahun, ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat akrab dengan lingkaran keprihatinan: membersihkan padepokan, mengisi bak mandi dan tempat wudhu, memasak dan mencuci pakaian, mencari kayu di hutan; menghafal pelajaran, manandai pelajaran dengan sah-sahan, mengkaji kitab; berpuasa, menjalankan riyadhoh, iktikaf, berdzikir, bersalawat; berlatih pencak silat, olah kanuragan, menghafal hizb-hizb, dan mengamalkan aurad.

Berbeda dengan murid-murid padepokan yang lain, bila ada waktu senggang ia gemar menjelajahi desa-desa di sekitar Gunung Sembung, memasuki hutan, melintasi pegunungan, menyusur sungai, menerobos hutan bakau, ke muara, dan menyusur pantai. Sepanjang perjalanan ia menyaksikan berbagai pemandangan yang menggugah ketenangan jiwanya. Hiruk pikuk pasar desa, petani yang bekerja di sawah, nelayan yang melaut mencari ikan, orang berkelahi, orang berjudi, lintah darat memeras penduduk desa, petani-petani membawa hasil bumi ke padepokan, pendeta menyiapkan sesaji di pura, brahmin bersamadi di sanggar pamujan, orang menderita sakit, dan orang mati baik yang dikubur maupun dibakar.

Semua pemandangan selama mengikuti langkah kakinya itu telah menerbitkan gumpalan awan tanda tanya di cakrawala pemikirannya yang belum dewasa. Ketika tanda tanya itu tak terjawab, gumpalan awan itu semakin memadati cakrawala di benaknya.

Ketika ia memberanikan diri untuk menanyakan pelbagai macam kehidupan manusia kepada Guru Agung Syaikh datuk Kahfi, sering kali tanda tanya justru semakin berjejal-jejal menggumpali isi kepalanya. Memang, jika murid-murid yang lain selalu mengiyakan penjelasan guru agung tentang kehidupan manusia yang bermuara ke alam akhirat, yakni neraka dan surga, maka San Ali kebalikannya. Ia tidak gampang puas dengan jawaban-jawaban yang lazimnay diberikan kepada anak-anak seusianya.

Misalnya tentang perbedaan antara kehidupan orang-orang durhaka dan celaka, seperti penjudi, pemabuk, pencuri, perampok, pelacur, penipu, pembunuh, pezina, dan pemuja berhala yang bakal menempati neraka; dan orang-orang saleh dan beruntung yang bakal menghuni surga. San Ali melihat persoalan ini hanya masalah penundaan waktu belaka. Intinya, keduanya sama ditinjau dari aspek amaliah. Maksudnya, jika di surga nanti orang bisa memenuhi semua keinginannya – termasuk hal-hal yang ketika di dunia diharamkan – maka pada hakikatnya orang durhaka tidak berbeda dengan orang saleh, kecuali dalam hal waktu pelaksanaannya. Kalau orang durhaka bisa sesuka hati menenggak minuman keras, mabuk, mencuri, merampok, dan menikmati berbagai kelezatan dunia, maka orang-orang saleh pun ketika di surga bisa menenggak khamr sampai mabuk, mandi di kolam susu dan madu, bersenang-senang, dan berbagai kelezatan surgawi lain. Bedanya, yang pertama dilampiaskan di dunia, sedang yang kedua menunggu di akhirat.

Tanda tanya yang berjejalan yang tak sederhana jawabannya itu membuat San Ali terjebak pada kebiasaan merenung untuk mencari sendiri jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di benaknya. Itu sebabnya, dalam setiap penjelajahan ia sering terlihat merenung di bawah pohon, di puncak bukit, di hamparan pasir pantai, dan bahkan di tengah hening malam ketika makhluk hidup tertidur dibuai mimpi. Dengan merenung, ia seperti menikmati kesendiriannya dan mengungkapkan gairah jiwanya yang berkobar-kobar. Di tengah hening malam ia sering merenungkan bintang-bintang yang memenuhi langit dengan kilau cahayanya yang laksana permata.

Benarkah bintang-bintang yang berkilauan memenuhi langit itu jika pagi menjelang bersembunyi di lautan dan menyinari dunia bawah? Kenapa bintang tidak pernah berada satu langit dengan matahari? Benarkah malaikat hanya turun ke bumi pada malam hari untuk memberkati dan melimpahi rezeki bagi orang-orang yang tekun menjalankan sembahyang malam? Di bintang-bintang itukah para malaikat tinggal? Apakah Arsy, singgasana Allah, terletak di salah satu bintang di langit?

Setelah semalaman merenung-renung tentang langit, bintang, rembulan, malaikat, dan Tuhan, San Ali biasanya turun ke desa-desa dan berbicara dengan orang-orang yang bekerja di sawah atau dengan para brahmin yang melakukan upacara bhakti di sanggar pamujan. Apakah dewa-dewa yang dipuja brahmin itu sama dengan Gusti Allah yang disembahnya? Kenapa Gusti Allah yang disembahnya tidak diwujudkan dalam bentuk-bentuk? Kenapa pula Gusti Allah tidak membutuhkan sesaji apa pun? Dan yang paling mengherankan, kenapa Syaikh Datuk Kahfi dengan sangat keras melarangnya membayang-bayangkan, membanding-bandingkan, dan memikirkan Gusti Allah? Bagaimana orang bisa mengenal Gusti Allah jika tidak boleh membayangkan, membandingkan, dan memikirkan-Nya?

Suatu kali sekeluarnya dari hutan, ia menjumpai seorang brahmin tua mempersembahkan sesaji di altar dewa. Saat itu terlintas di benaknya bahwa sangat mustahil arca dewa bisa memakan sesaji persembahan sang brahmin. Namun, selintas juga terbentang di benaknya tentang ibadah qurban di dalam agama Islam: bukankah Gusti Allah Yang Tak Terpikirkan dan Tak Terjangkau Pancaindera itu sesungguhnya tidak butuh darah dan daging domba? Namun, kenapa tiap hari raya Idul Adha orang harus menyembelih domba?

Ia sering pula menemukan berbagai perilaku yang menurut pandangan penghuni padepokan digolongkan sebagai ahli maksiat. Kenapa orang bisa begitu tergila-gila berjudi sabung ayam? Mengapa orang bisa sangat menggemari minuman keras hingga mabuk? Kenapa orang suka membunuh sesamanya? Kenapa orang suka mencuri dan merampok, sementara ia dan kawan-kawannya di padepokan justru diwajibkan hidup menjauhi segala kebiasaan buruk itu?

Saat persoalan yang mengganjal pikirannya itu disampaikan kepada guru agung, ia sering memperoleh penjelasan yang kurang memuaskan. Penjelasan-penjelasan yang didasarkan pada dalil dari kitab-kitab itu seperti mengulang-ulang penjelasan lama tentang kehidupan orang-orang yang bakal menjadi penghuni neraka dan surga. Para ahli maksiat yang celaka itu, demikian Syaikh Datuk Kahfi mengulang-ulang, akan menjadi ahli neraka. Sedang penghuni padepokan yang saleh akan menjadi penghuni surga. Penjelasan ini tentu saja sangat tidak memuaskan pemuda secerdas San Ali, terutama ketika berbicara tentang keyakinan bahwa takdir baik dan buruk sepenuhnya di tangan Allah. Atas pertimbangan apa Gusti Allah menggolongkan orang sebagai manusia celaka yang bakal menjadi penghuni neraka, dan atas pertimbangan apa pula Gusti Allah menentukan orang menjadi penghuni surga.

Makin sering merenung, menelaah, mempersoalkan jawaban-jawaban atas pertanyaannya, dan menalar berbagai hal yang disaksikannya, ia merasakan betapa kerisauan makin kuat menerkam jiwanya. Ia merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang sulit diajak berdamai dengan sekedar penjelasan sederhana. Kerisauan itu sering kali hanya bisa ditenangkan dengan perjalanan keluar padepokan. Namun, manakala menyaksikan berbagai kenyataan hidup manusia, ia merasa benaknya pepat digumpali tanda tanya yang berjejal-jejal dan berkumpar-kumpar bagai lingkaran setan.

Kebiasaannya menjelajahi daerah-daerah di sekitar padepokan telah membuatnya dikenal dan dicintai banyak orang. Penduduk di sekitar gunung Sembung, terutama para brahmin, cepat sekali mengenali kehadirannya. Tubuhnya jangkung, tegap, dan berotot. Kulitnya putih kemerahan. Hidungnya mancung. Alis matanya tebal. Matanya setajam elang. Senyumnya selalu terkembang. Jalannya mantap dan gesit. Bicaranya terbuka dan berapi-api. Bagi para brahmin, semua yang ada pada diri San Ali adalah citra kehidupan anak yang ‘bangun’ di antara anak-anak yang ‘tidur’ dininabobokkan zaman.

San Ali! Begitu aneh nama itu untuk zamannya. Namun, keanehan itu menjadi keakraban bagi mereka yang telah mengenalnya. Dan bagaikan orang yang mengenal rajanya, begitulah orang di sekitar gunung Sembung dan Pakuwuan Caruban mengenal nama San Ali, sosok aneh tetapi akrab di mata, telinga, dan hati. Sebuah citra yang diharapkan bakal menjadi pemimpin besar di negeri kelahirannya.

San Ali sebenarnya nama yang kurang lazim digunakan orang baik di Jawa maupun di tanah Pasundan. Namun nama itu pemberian ayahandanya, Ki Danusela, Kuwu Caruban. Ceritanya, tiga bulan menjelang kelahiran putera sulungnya, penguasa Pakuwuan Caruban itu memperoleh impian menakjubkan tentang sembilan ekor kumbang hitam yang terbang mengitari tlatah Majapahit dan Pajajaran yang sedang dilanda bencana serbuan jutaan tikus yang merusak sawah dan ladang. Kesembilan ekor kumbang hitam itu dengan ajaib menyemburkan cairan hijau dari tubuh mereka. Cairan itu terbawa aliran sungai yang mengairi sawah dan ladang sehingga tikus-tikus perusak itu binasa. Kemudian secara ajaib pula kesembilan ekor kumbang itu menyemburkan air suci Amrtha yang membuat padi dan tanaman lain tumbuh subur seperti sediakala. Orang-orang yang semula bersedih dan putus asa kini bersorak-sorai meluapkan kegembiraan. Kehidupan kembali menjadi tenteram, aman, sentosa, dan kertaraharja.

Mimpi menakjubkan yang dialami Ki Danusela itu terulang sampai tiga kali dalam tempo sebulan. Lantaran pengaruh impian itu sangat kuat mencekam jiwanya maka ia berjanji jika anak pertamanya lahir laki-laki akan dinamakan San Ali, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti sembilan ekor kumbang hitam. Ki Danusela berharap puteranya kelak dapat menjadi salah satu dari ke sembilan kumbang yang menyemburkan Amrtha, yang membawa kesuburan dan kemakmuran bagi negerinya. Begitulah, nama San Ali benar-benar diberikan ketika bayi laki-laki itu lahir ke dunia.

Sebagai tanda sukacita dan gantungan harapannya terhadap bayi San Ali, Ki Danusela menyelenggarakan pesta besar selama tiga hari tiga malam. Kepada para tamu undangan dia menyatakan bahwa putera sulungnya itu kelak akan menjadi penggantinya sebagai Kuwu Caruban.

Kuwu Caruban adalah jabatan yang sangat penting di antara kuwu-kuwu yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Galuh. Karena, Pakuwuan Caruban berkembang lebih pesat dibanding pakuwuan lain. Bahkan pada perkembangan selanjutnya, Pakuwuan Caruban terdiri atas beberapa pakuwuan yang tergabung di bawah kekuasaan Ki Danusela. Meski wilayah teritorial Kuwu Caruban sudah hampir manyamai wilayah nagari, Ki Danusela yang rendah hati itu tetap menyebut dirinya sebagai kuwu. Dan wilayah kekuasaannya tetap dia namakan pakuwuan. Itu sebabnya, San Ali yang kelak menggantikan ayahandanya akan memiliki kekuasaan penting di wilayah Galuh.

Sebenarnya, di balik kemuliaan yang dilimpahkan kepada bayi San Ali, tak banyak yang tahu bahwa Ki Danusela bukanlah ayahanda kandung dari bayi yang diakui sebagai putera sulung itu. Menurut cerita kalangan dalam pakuwuan, ayahanda kandung bayi San Ali adalah seorang ulama asal Malaka yang masih tergolong bangsawan kerajaan. Namanya Syaikh Datuk Sholeh, peranakan Melayu-Gujarat. Ibundanya perempuan Melayu.

Menurut cerita, saat Sultan Muzaffar Syah naik ke tangga kekuasaan Kesultanan Malaka menggantikan saudaranya yang terbunuh, terjadi perselisihan antara pejabat-pejabat keturunan Tamil yang dipimpin Tun Ali dan bangsawan-bangsawan Melayu yang dipimpin Seri Wak Raja I. ibunda Sultan Muzaffar Syah sendiri adalah keturunan Tamil dan sesaudara dengan Tun Ali. Demikianlah, golongan Tamil yang dipimpin Tun Ali menang dan bangsawan-bangsawan Melayu tersingkir dari lingkaran kekuasaan. Di antara bangsawan yang tersingkir itu tersebutlah nama Syaikh Datuk Sholeh.

Kepergian Syaikh Datuk Sholeh meninggalkan Malaka dilatarai usaha penyelamatan diri. Karena, Tun Ali merancang persekongkolan politik sehingga sejumlah pejabat Melayu tewas terbunuh, termasuk Seri Wak Raja II putera Seri Wak Raja I. Demikianlah, Syaikh Datuk Sholeh diikuti istrinya yang hamil muda meninggalkan Malaka untuk berniaga sambil mendakwahkan agama.

Tempat awal yang didatangi Syaikh Datuk Sholeh adalah pelabuhan Palembang. Namun, ia tidak dapat tinggal lama di daerah itu sebab banyak saudagar Tamil berniaga di sana. Lantaran itu, ia bertolak dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain hingga tiba di pelabuhan Dermayu (sekarang Indramayu), Caruban, yang termasuk wilayah Kerajaan Galuh di tanah Pasundan.

Di bandar Dermayu itulah Syaikh Datuk Sholeh tinggal dan berdagang sambil menyiarkan agama Islam. Tempat itu, menurutnya, dianggap tepat karena tidak seorang pun saudagar Tamil dijumpai di sana. Syaikh Datuk Sholeh dengan cepat menjalin keakraban dengan penduduk bandar Dermayu yang umumnya terdiri atas orang-orang Cina Muslim, Melayu Muslim, Melayu Bengali, Jawa, dan Sunda yang masih beragama Hindu-Budha.

Sebagai saudagar sekaligus penyiar agama Islam, Syaikh Datuk Sholeh dikenal pandai, lurus hati, dermawan, santun, dan pintar bergaul. Ia disukai orang-orang. Dalam waktu singkat ia dikenal sampai ke Caruban. Di antara sejumlah orang yang dikenalnya dengan baik adalah Ki Danusela. Meski Ki Danusela beragama Hindu-Budha, hubungan mereka sangat akrab. Sering mereka berdua kelihatan berbicara soal kehidupan masyarakat, tata pemerintahan, dan bahkan falsafah hidup.

Hubungan Syaikh Datuk Sholeh dan Ki Danusela berlanjut ke jalinan kekeluargaan. Ceritanya, saat kemenakan Syaikh Datuk Sholeh yang bernama Syaikh Datuk Kahfi menyusul ke Caruban, Ki Danusela sangat tertarik dan simpati terhadap kecerdasan, keluasan ilmu, kebijaksanaan, dan kesantunannya. Berangkat dari ketertarikan dan rasa simpati itulah Ki Danusela kemudian menikahkannya dengan adik ipar perempuannya yang bernama Nyi Rara Anjung. Dengan demikian, Syaikh Datuk Kahfi dan Syaikh Datuk Sholeh secara langsung telah masuk ke dalam lingkungan Kuwu Caruban.

Ki Danusela adalah keturunan Prabu Kertawijaya, Maharaja Majapahit. Dia menikahi Ratu Inten Dewi, puteri Prabu Surawisesa Ratu Sanghiang, Ratu Aji di Pakuan, keturunan Sri Baduga Maharaja, yakni Maharaja Pajajaran yang gugur dalam peristiwa Bubat. Oleh Prabu Surawisesa mertuanya, Ki Danusela diangkat sebagai kuwu di Caruban dengan tugas utama emmantau Kerajaan Galuh yang merupakan bawahan Kerajaan Pajajaran.

Dalam menjalankan tugas sebagai kuwu, Ki Danusela dibantu oleh seorang pangraksabhumi, pejabat yang mengurusi pertanian dan perikanan, beragama Islam yang bernama Ki Samadullah. Ki Samadullah yang memiliki nama asal Raden Walangsungsang masih langsung keturunan Raja Galuh. Ayahandanya adalah Raden Pamanah Rasa, putera Prabu Anggalarang, Raja Galuh. Ibundanya bernama Nyi Subanglarang, puteri Ki Gedeng Tapa, Mangkubumi Singapura, yang tidak lain dan tidak bukan adalah adik Prabu Anggalarang. Pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dan Nyi Subanglarang ini melahirkan Raden Walangsungsang, Nyi Rara Santang, dan Raden Sangara.

Nasib buruk menimpa Raden Walangsungsang dan adik-adiknya saat mereka menginjak dewasa. Tiba-tiba ibunda mereka terkena pageblug dan meninggal dunia. Raden Walangsungsang dan adik-adiknya kemudian meninggalkan istana Galuh dan menetap di rumah seorang pengikut Budha bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Dia kemudian diambil menantu oleh Ki Gedeng Danuwarsih, dikawinkan dengan Nyi Indang Geulis, puterinya.

Melalui Ki Gedeng Danuwarsih, yang tak lain adalah sahabat Ki Danusela, Raden Walangsungsang bekerja di Pakuwuan Caruban. Bahkan ia diberi kepercayaan besar menduduki jabatan pangraksabhumi menggantikan Ki Danusela. Melalui Raden Walangsungsang inilah Ki Danusela mengetahui perkembangan Kerajaan Galuh, dimana kesetiaan kerajaan itu terhadap Pajajaran masih sangat kuat. Melalui Raden Walangsungsang juga Ki Danusela mengetahui perkembangan agama Islam di pesisir utara Nusa Jawa, terutama di Dermayu.

Selama menjabat sebagai pangraksabhumi, Raden Walangsungsang berkenalan dengan Syaikh Datuk Kahfi dan Syaikh Datuk Sholeh. Ia kemudian berguru agama Islam kepada Syaikh Datuk Kahfi. Setelah mengetahui keluasan ilmu gurunya, ia memohon agar Syaikh Datuk Kahfi membuka sebuah padepokan untuk mendidik masyarakat.

Atas upaya Raden Walangsungsang, kakeknya, Ki Gedeng Tapa, memberikan sebidang tanah di lereng gunung Sembung kepada Syaikh Datuk Kahfi sebagai shima (perdikan), yang bebas pajak. Di tanah itulah Syaikh Datuk Kahfi membangun padepokan yang kemudian dikenal dengan nama Giri Amparan Jati (Gunung Tempat Menggelar Kebenaran). Syaikh Datuk Kahfi kemudian memberi nama baru untuk Raden Walangsungsang, yakni Samadullah. Dan sejak itu, orang mengenal pangraksabhumi Caruban dengan nama Ki Samadullah.

Meski berbeda agama, antara Ki Danusela dan Ki Samadullah terjalin kecocokan terutama tentang hal-hal yang bersifat ruhani. Mereka sering terlihat berdua di pendapa sepanjang malam membahas pengalaman ruhani masing-masing. Bahkan sebuah kitab rontal milik Ki Danusela warisan Maharaja Majapahit yang dikenal dengan nama Catur Viphala, mereka jadikan bahasan mendalam.

Hubungan Ki Samadullah, Syaikh Datuk Sholeh, Syaikh Datuk Kahfi, dan Ki Danusela berlangsung sangat akrab. Itu sebabnya, ketika Syaikh Datuk Sholeh wafat terkena pageblug, Ki Danusela yang belum dikaruniai putera itu meminta agar diperkenankan mengangkat bayi yatim yang ada di dalam kandungan istri Syaikh Datuk Sholeh. Baik Syaikh Datuk Kahfi maupun Ki Samadullah tidak keberatan, meski mereka tahu Ki Danusela beragama Hindu-Budha. Begitulah, putera Syaikh Datuk Sholeh diangkat anak oleh Ki Danusela. Bahkan atas dasar mimpinya yang menakjubkan, Ki Danusela kemudian menamakan bayi itu San Ali.

Merasa prihatin dengan nasib bayi San Ali, Ki Samadullah diam-diam ikut mengasuh dan mengamati perkembangannya dengan penuh kasih sayang. Apalagi Ki Samadullah juga belum dikaruniai putera. Namun, belum lama San Ali merasakan belaian kasih ibunda kandungnya, tiba-tiba ia ditinggal pergi selama-lamanya. Ketika itu usia San Ali menginjak tiga bulan, ibundanya secara mendadak tertular pageblug yang sedang melanda tlatah Caruban. Lantaran peristiwa menyedihkan itu, Ki Samadullah dan istri menumpahkan seluruh kasih dan sayang mereka kepada bayi San Ali yang kini yatim piatu.

Peristiwa menyedihkan yang menimpa San Ali berkembang menjadi fitnah keji yang membahayakan keselamatan jiwa bayi tanpa dosa itu. Ceritanya, beberapa saat setelah ibundanya meninggal, tersebar berita bahwa bayi berusia tiga bulan itu adalah pangkal dari malapetaka yang bakal menimpa Kuwu Caruban. Bayi itu harus disingkirkan jauh-jauh dari pakuwuan sebelum melapetaka yang ditimbulkannya meluas ke mana-mana. Tanda bahwa bayi itu berbahaya adalah kematian kedua orang tuanya dan meluasnya pageblug di tlatah Caruban.

Akibat fitnah yang kuat itu, Ki Danusela sempat terpengaruh. Itu sebabnya, dia membicarakan masalah itu dengan Ki Samadullah sebelum menyampaikannya kepada Syaikh Datuk Kahfi. Ki Samadullah tentu saja terkejut dengan berita bersifat fitnah itu. Lantaran itu, ia dengan terpaksa mengungkapkan ramalan rahasia gurunya, Syaikh Datuk Kahfi tentang kemuliaan yang bakal diraih putera Ki Danusela itu. “Menurut guru saya, putera Tuan bakal menjadi seorang waliyullah yang mulia sepanjang zaman. Karena itu, Tuan, saya menilai wajar jika sejak kecil ia sudah yatim piatu sebab Kangjeng Nabi Muhammad pun sejak kecil mengalami nasib demikian,” ujar Ki Samadullah.

Ki Danusela sangat percaya kepada Ki Samadullah dan terutama kepada adik iparnya, Syaikh Datuk Kahfi, sehingga setiap fitnah keji yang dialamatkan kepada San Ali terhalau. Bahkan atas saran Ki Samadullah, Ki dan Nyi Danusela merelakan putera sulung mereka yang ketika itu berusia lima tahun dikirim ke Padepokan Giri Amparan Jati untuk dididik ilmu pengetahuan agama. Sebulan sekali, Ki Danusela bergantian dengan Ki Samadullah menjenguk San Ali, melimpahkan kasih dan sayang kepada bocah itu.

Apa yang dikemukakan Ki Samadullah berkenaan dengan ramalan Syaikh Datuk Kahfi ternyata terbukti. Ini setidaknya terlihat betapa dalam waktu singkat San Ali sudah dikenal di padepokan sebagai santri yang paling cerdas dan sangat disayangi Syaikh Datuk Kahfi. Berbagai pelajaran agama cepat diselesaikannya menandingi santri-santri lain. Bahkan berbagai persoalan yang diajukan San Ali kepada guru agungnya dalam setiap akhir pengembaraannya selalu menambah wawasan baru bagi warga padepokan, terutama bagi Syaikh Datuk Kahfi.

Warga padepokan tidak lagi menilai warga di luar kelompok mereka – terutama yang beragama Hindu-Budha – sebagai golongan kafir yang najis. Syaikh Datuk Kahfi yang semula memandang bahwa umat yang menyembah Gusti Allah hanya Islam, telah mengubah pandangan bahwa segala ciptaan di alam semesta ini pada hakikatnya menyembah Gusti Allah dengan nama dan tata cara berbeda. Seluruh umat manusia, malaikat, hewan, tetumbuhan, jin, setan, bahkan iblis: semuanya adalah penyembah Gusti Allah, meski harus diakui bahwa Islamlah satu-satunya agama yang paling sempurna di dalam pengaturan tata cara menyembah Gusti Allah dan tata kehidupan manusia. Dan semua perubahan itu terjadi setelah San Ali dan Syaikh Datuk Kahfi berbincang membahas berbagai persoalan hidup.

Selama menuntut ilmu di Padepokan Giri Amparan Jati, San Ali juga dikenal piawai dalam pencak silat, olah kanuragan, dan menyanyikan tembang-tembang pepujian. Malahan ia sering terlihat perdebatan dengan guru agungnya tentang berbagai masalah, terutama dalam pelajaran manthiq dan ilmu kalam. Sementara dalam hal tauhid dan olah batiniah, keduanya seperti memiliki kesamaan cita rasa. Boleh jadi lantara itu ia sering terlihat mengikuti Syaikh Datuk Kahfi melakukan iktikaf untuk mengamalkan aurad dengan mengerjakan dzikrullah, tafakkur, ta’ammul, dan tahannuts.

Seiring dengan perubahan waktu yang mengantarkannya ke alam kedewasaan, terjadi perubahan sikap dan perilaku San Ali. Selama waktu luang seusai zhuhur, ia sering terlihat merenung seorang diri di bawah pohon Kalpa hingga matahari condong ke barat dan beduk asyar mulai ditabuh orang. Entah apa yang dirasakannya saat itu. Ia merasakan kegelisahan menerkam jiwanya sehingga membuatnya betah berlama-lama menenangkan diri. Ia seolah-olah melupakan keriangan yang selama ini direguknya di padepokan atau saat berkeliling keluar masuk hutan.

Syaikh Datuk Kahfi rupanya memahami benar perkembangan murid terkasihnya itu. Dia menagkap sasmita bahwa muridnya itu bakal menjadi guru agung yang jauh melebihi kebesaran dirinya. Murid yang sekaligus saudara sepupunya itu, dalam pandangannya, adalah samudera pengetahuan yang sedang menuju pasang kemasyhuran jati dirinya. Lantaran itu, seluruh ilmu pengetahuan yang dimilikinya sudah diniatkan akan dilimpahkan kepada San Ali tanpa sisa. Dan San Ali sendiri bagaikan musafir menenggak air laut, yang semakin kehausan setiap kali menghirup pengetahuan dari gurunya.

Sebagai guru agung, Syaikh Datuk Kahfi mengetahui secara gaib bahwa San Ali tidak akan menjadi manusia kebanyakan seperti murid yang lain. Kalau pun San Ali akan menjadi kuwu menggantikan kedudukan orang tuanya maka ia tidak akan menjadi kuwu biasa. Ia akan membawa perubahan besar bagi zamannya. Namun, diam-diam Syaikh datuk Kahfi mendapat firasat bahwa San Ali yang dikasihinya itu tidak akan menjadi penguasa duniawi. Ia akan menjadi guru agung termasyhur: penuntun manusia ke jalan Ilahi!

Sebagai orang yang telah kenyang memakan pahit dan getir kehidupan, Syaikh Datuk Kahfi merasakan suatu kemestian dari derita pedih yang bakal dialami muridnya. San Ali akan menduduki derajat ruhani sangat tinggi di zamannya. Syaikh Datuk Kahfi diam-diam mendoakan agar muridnya itu senantiasa tabah dan tawakal menghadapi ujian Ilahi, karena telah termaktub di dalam dalil bahwa siapa yang berderajat ruhani tinggi maka hidupnya akan senantiasa diterpa ujian berat berupa kebalakan sebagaimana hal itu dialami para nabi dan wali.

Tentang kemestian kehidupan pedih yang bakal dilewati San Ali, Syaikh Datuk Kahfi juga telah menguraikannya kepada Ki Samadullah dalam suatu pertemuan rahasia di Masjid Giri Amparan Jati. Dengan penuh harap, dia meminta agar Ki Samadullah dengan suka cita menjadi pembela dalam persoalan apa saja yang berkenaan dengan lingkaran nasib yang bakal menjerat San Ali. Dengan hati diliputi keprihatinan, Syaikh Datuk Kahfi menjelaskan nasib pedih yang bakal dialami San Ali. “Jagalah rahasia Allah ini! Jangan sekali-kali ada yang mengetahuinya, termasuk San Ali,” ujarnya mewanti-wanti.

Sebagai murid yang patuh dan setia, dengan sepenuh jiwa Ki Samadullah menyanggupi permintaan gurunya. “Saya akan senantiasa mematuhi amanat Yang Mulia. Saya akan melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan bagi San Ali, buah hati saya.”

Sejak peristiwa larut malam di Masjid Giri Amparan Jati itu, kecintaan Ki Samadullah kepada anak asuhnya makin kuat berurat dan berakar. Bagaikan induk harimau melindungi anaknya, begitulah Ki Samadullah memperlakukan San Ali. Ke mana pun San Ali berada dia selalu berusaha mengetahui dan mendampinginya. Itu sebabnya, dia tak jarang menemani San Ali berkeliling ke desa-desa di sekitar Gunung Sembung, keluar dan masuk hutan. Bahkan karena begitu seringnya mendampingi San Ali, Ki Samadullah menjadi sangat dikenal masyarakat sebagai petinggi Kerajaan Galuh yang dermawan dan mencintai rakyat, karena selama bersama San Ali, dia acap kali mengulurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

San Ali tampaknya merasakan perubahan sikap ayahanda asuh tercintanya itu. Ia juga merasakan perubahan sikap dari guru agungnya. Bahkan sikap ayahanda dan ibundanya. Dan ujung dari perasaannya itu, ia merasa tidak bahagia dengan itu semua. Ia menangkap sasmita bahwa kecintaan orang-orang di sekitarnya terhadap dirinya, tentu ada batasnya. Cinta mereka bukanlah cinta sejati yang abadi sepanjang masa.

Saat usianya masuk sembilan belas tahun, San Ali bertambah sering terlihat termenung duduk di bawah pohon Kalpa yang tumbuh rindang di tepi sungai. Lewat derasnya arus sungai, ia menangkap kenyataan bahwa aliran air yang terus-menerus itu akan mengalir menuju muara hingga ke samudera raya. Lewat gemerlap cahaya matahari, ia menyaksikan betapa sinar dunia itu bergerak dari timur ke barat sepanjang waktu seolah masuk ke sarangnya di dunia bawah. Bahkan saat menyaksikan warga desa di sekitar padepokan meninggal dunia, ia menyadari adanya aliran kehidupan manusia, seperti gerakan air dan matahari menuju ke arah tertentu: pusat dari segala sesuatu.

Selama termenung, ia menyadari bahwa pada hakikatnya segala apa yang tergelar di alam semesta ini adalah perwujudan dari ‘aku’. Air sungai, matahari, pepohonan, bebatuan, awan-gumawan, langit, gunung-gemunung, hewan, manusia, dan seluruh isi jagad raya ini memiliki ‘aku’ masing-masing. Andaikata matahari bisa bicara maka dia akan berkata: aku matahari. Begitu juga dengan seluruh isi jagad raya, pasti akan mengatakan ‘aku’ ini dan ‘aku’ itu. Dan ‘aku’ masing-masing itu, pikir San Ali, pastilah memiliki pusat ‘aku’ semesta dari mana ‘aku’ masing-masing itu berasal dan ke mana ‘aku’ masing-masing itu kembali.

Selama ini ia telah diajarkan bagaimana melakukan penyembahan kepada Gusti Allah, Pencipta alam semesta, Pangkal kejadian segala. Atau tentang surga yang diperuntukkan bagi orang-orang saleh yang menyembah dan mengikuti peraturan agama yang diturunkan Gusti Allah. Ia juga telah diajarkan tentang neraka yang diperuntukkan bagi orang-orang kafir yang mengabaikan ajaran agama. Ia belajar berbagai masalah kehidupan beragama yang membawa seseorang sebagai muslim sejati, yakni mereka yang berbaris beriringan bersama-sama dengan orang-orang takwa yang dicintai Allah menuju surga tempat kenikmatan dan kelezatan abadi.

Kesadaran San Ali tentang hakikat ‘aku’ pribadi dan ‘Aku’ semesta itu telah membawanya ke suatu hamparan keagamaan luar biasa dalam memaknai hidup. Jika sebelumnya, seperti murid-murid padepokan yang lain, ia memiliki harapan besar untuk menjadi penghuni surga yang penuh kenikmatan maka kini ia meragukan harapannya itu sebagai kebenaran mutlak. Bukankah surga pada hakikatnya adalah ‘aku’ pribadi – dan bukan ‘Aku’ semesta yang menjadi sumber segala ‘aku’? Bukankah ‘aku’-ku akan menyatu dengan ‘aku’ surga jika harapanku memang ke sana? Bukankah agama mengajarkan intisari hakikat inna li Allahi wa inna ilaihi rajiun, yang bermakna sesungguhnya semua ‘aku’ berasal dari ‘Aku’, dan semua ‘aku’ akan kembali ke ‘Aku’ sebagai asal segala ‘aku’.

Dengan kesadaran itu San Ali mulai merasakan kegelisahan mencakari jiwanya. Ia mulai mempertanyakan segala perilaku ibadah yang telah dijalankannya selama ini. Gusti Allah yang bagaimana yang ia sembah selama ini? Apakah ketundukan ‘aku’-nya di dalam sembahyang benar-benar perwujudan dari ketundukan ‘aku’ terhadap ‘Aku’? bukankah sampai saat ini ia belum menemukan hakikat dari ‘aku’ pribadinya? Di manakah ‘aku’ pribadiku berada? Di mana ‘aku’ pribadiku bisa ditemukan? Apakah ‘aku’-ku bersembunyi di kedalaman hati, jantung, paru-paru, aliran darah, sumsum, atau otak? Tidak satu pun pelajaran yang diterimanya dari Syaikh Datuk Kahfi memberikan penjelasan yang memuaskan tentang semua pertanyaan ini. Dan San Ali mendapati kenyataan yang makin membuatnya gamang: “Jika keberadaan ‘aku’ pribadiku saja belum kuketahui hakikatnya, bagaimana mungkin aku mengetahui hakikat ‘Aku’ semesta? Dan jika hakikat ‘Aku’ semesta belum kuketahui, bagaimana ‘aku’ bisa sampai kepada-Nya?”

Setelah belajar selama limabelas tahun, datanglah saat ia harus meninggalkan padepokan untuk menguji segala ilmu pengetahuan yang telah ia miliki di tengah gelanggang kehidupan manusia. San Ali pergi berbekal petuah Syaikh Datuk Kahfi agar selalu mengikatkan diri pada tali Ilahi – intisari hakiki dari ‘Aku’ semesta yang menjadi pusat semua ‘aku’ pribadi – di mana pun ia berada. Dan intisari dari ikatan tali Ilahi itu adalah suatu keyakinan yang menandaskan bahwa ‘Aku’ semesta itulah pangkal segala: engkau akan mengenal Dia karena Dia! Engkau tahu Dia karena Dia!

Kepergian San Ali dari Padepokan adalah bagian dari pencarian sejati dari hakikat ‘aku’ yang bermuara ke ‘aku’. Sebab, bagi ‘harimau’ seperti San Ali dibutuhkan rimba raya yang lebih luas untuk menemukan sarangnya yang sejati. Bagi Syaikh Datuk Kahfi, kepergian San Ali merupakan bagian dari ujian menunaikan tekad untuk mencari hakikat sejati ‘Aku’ yang menurut para pencari-Nya dilingkari tujuh samudera, tujuh lembah, tujuh gunung, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh rimba, dan tujuh benteng yang dipenuhi pasukan penghalang berkekuatan mahadahsyat. Hanya dia yang berjiwa ksatria dan benar-benar berjuang keras menuju ‘Aku’ yang akan sampai kepada-Nya.

Perjalanan San Ali mencari ‘Aku’ sebagai sangkan paran (asal usul) segala ‘aku’ pada dasarnya merupakan hal aneh bagi seumumnya manusia lumrah. Sebab, manusia umumnya mencari kemuliaan dan kenikmatan hidup berupa harta kekayaan, pangkat tinggi, derajat kehornatan, kekuasaan, atau kenikmatan perempuan. Bahkan bagi sebagian orang yang mengaku beriman dan beramal saleh, yang lazim diburu adalah kenikmatan ukhrawi, seperti surga yang penuh bidadari jelita, makanan lezat, susu, madu, hawa sejuk, dan kenikmatan lain. Jadi, perjalanan San Ali adalah pencarian luar biasa dahsyat yang tak menjanjikan apa-apa kecuali kembali kepada Asal Usul kejadian yang tak bisa dibayang-bayangkan, dibanding-bandingkan, dan disetarakan dengan sesuatu.

Perjalanan mencari ‘Aku’ pada dasarnya gampang diucapkan, namun sulit diamalkan. Sebab, ‘Aku’ yang dikenal San Ali dengan nama Allah bukanlah ‘Aku’ statis yang membiarkan diri-Nya gampang ditemukan apalagi dijamah ‘aku’ ciptaan-Nya. Dia menggelar bermacam-macam hijab dan berlapis-lapis tirai penghalang untuk menguji tekad dan semangat ‘aku’ dalam menuju ‘Aku’. Semakin dekat ‘aku’ kepada ‘Aku’ maka ujian pun makin luar biasa dahsyat hingga pada satu titik di mana ‘aku’ tidak melihat ‘aku’ yang lain kecuali ‘Aku’.

Rintangan awal dari perjalanan San Ali mencari ‘Aku’ dibentangkan sejak ia melangkahkan kaki keluar dari Padepokan Giri Amparan menuju Pakuwuan Caruban, tempat ayahanda dan ibundanya. Tujuannya ke Pakuwuan Caruban adalah atas perintah Syaikh Datuk Kahfi, untuk memohon doa dan restu dari ayahandanya, ibundanya, serta Ki Samadullah dan istrinya sebelum pengembaraan batiniahnya dimulai. Namun, justru di sanalah rintangan berat dimulai dalam bentuk tragedi yang menimpa orang-orang yang dicintainya.

Saat tiba di pakuwuan yang dijumpainya hanya Rsi Bungsu, adik ibundanya, yang selama bertahun-tahun menjadi penasihat ayahandanya. Rsi Bungsu ternyata telah menggantikan kedudukan Ki Danusela sebagai Kuwu Caruban. Kenyataan itu, tentu sangat mengejutkan San Ali. Ia merasakan dirinya seperti disambar petir di siang hari.

Menurut penjelasan Rsi Bungsu, Ki Danusela telah wafat diterkam harimau saat berburu kijang di hutan Kawali sekitar tiga pekan silam. Sementara nasib Nyi Ratu Inten Dewi, ibunda San Ali, hingga kini tak diketahui. Sejak kematian suaminya, Nyi Ratu Inten menjadi hilang ingatan. Suatu malam dia pergi dan tidak diketahui rimbanya.

Selama bertahun-tahun hidup di padepokan, San Ali selalu diterkam kerinduan ingin hidup bersama kedua orang tuanya. Namun, kini mereka telah tiada. Kenyataan pahit itu sulit diterima San Ali. Jiwanya sangat terpukul. Itu sebabnya, dengan gencar dan terkesan menuduh ia mempertanyakan perubahan keadaan itu kepada Rsi Bungsu.

Kenapa kematian ayahandanya tidak diberitakan ke padepokan? Benarkah ibundanya hilang akal dan lari meninggalkan pakuwuan setelah kematian ayahandanya? “Saya khawatir, jangan-jangan semua ini adalah akal bulus Pamanda belaka.”

“Apa maksudmu, o Kemenakanku tercinta?” ujar Rsi Bungsu dengan muka merah padam menunjukkan kobaran api amarah.

“Apakah saya salah jika menaruh syak wasangka bahwa ayahanda saya meninggal dunia karena upaya pembunuhan? Dan apakah saya salah jikalau menaruh curiga bahwa ibunda saya telah secara sengaja disingkirkan dari pakuwuan dengan tuduhan hilang akal? Dan ujung dari semua itu, salahkah jika saya mencurigai orang yang sekarang menduduki kursi Kuwu Caruban?” sergah San Ali dengan suara ditekan keras.

“Lancang mulutmu, San Ali,” bentak Rsi Bungsu dengan suara menggelegar. “Sungguh aku tidak pernah menduga, murid terkasih Syaikh Datuk Kahfi memiliki mulut selancang dan sekejam dirimu. Tuduhanmu sangat menyakitkan karena tanpa dasar apa pun. Dan ketahuilah, o Kemenakanku, jika saat ini aku berkenan, akan kusuruh punggawa pakuwuan untuk menangkap dan membunuhmu yang telah berbuat tidak tahu tata krama di hadapan Yang Dipertuan Caruban. Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah putera bungsu Prabu Surawisesa, Ratu Sanghiang? Tidak tahukah engkau bahwa saudara tuaku, Prabu Ratu Dewata, Ratu Aji di Pakuan, adalah maharaja di Pajajaran?”

“Saya akan sukacita jika Pamanda membunuhku sekarang,” tantang San Ali dengan mata berkilat-kilat.

“Ketahuilah, o San Ali,” tukas Rsi Bungsu menahan amarah, “sebagai seorang paman, aku akan memaafkan perilaku burukmu yang melanggar tata krama itu. Aku tidak akan memerintahkan punggawa untuk menangkap dan membunuhmu. Namun, sebagai Kuwu Caruban, adik Maharaja Pajajaran, perbuatanmu itu wajib dihukum agar tidak ditiru oleh kerabat pakuwuan dan kawula alit yang lain.”

“Pamanda akan memenjarakan saya?” tanya San Ali mengernyitkan dahi.

“Hal itu tidak akan terjadi,” kata Rsi Bungsu datar, “sebab jika engkau dijatuhi hukuman penjara maka orang-orang akan membenarkan tuduhanmu yang keji itu. Untuk kesalahanmu itu, o San Ali, aku selaku Kuwu Caruban yang mewakili Maharaja Pajajaran, menyatakan bahwa sejak saat ini engkau telah dianggap bukan lagi bagian dari keluarga pakuwuan, apalagi keturunan Ramanda Prabu Surawisesa. San Ali tidak berhak lagi menyandang gelar kebangsawanan. San Ali sudah menjadi kawula alit dari kaum sudra papa yang tidak memiliki martabat dan derajat apa pun di bumi Pajajaran ini.”

Mendengar keputusan Rsi Bungsu, San Ali berdiri dengan gagah dan tertawa lepas seolah tidak terpengaruh sedikit pun dengan keputusan pamannya. “Sekalipun kini saya telah menjadi kawula alit, di dalam darah saya tetap mengalir darah yang sama dengan darah Ki Danusela, Kuwu Caruban, yang mengalirkan darah raja-raja Majapahit. Darah saya sama dengan darah ibundaku, Nyi Ratu Inten Dewi, darah Pajajaran yang juga mengalir di darahmu, Paman. Karena itu, o Pamanda Bungsu, sekalipun kini engkau tidak mau mengakui aku sebagai kemenakanmu, aku tetap menganggapmu sebagai pamanku karena di dalam tubuh kita mengalir darah yang sama. Dan ketahuilah, o Pamanda, bahwa dengan kekuasaanmu sekarang, engkau dapat mengangkat seratus ekor kera dengan gelar-gelar kebangsawanan. Namun, apa pun gelar yang engkau berikan, mereka tetaplah hewan karena darah, daging, dan tulang mereka adalah hewan.”

“Ketahuilah, o Pamanda tercinta,” lanjutnya, “kehadiran saya di pakuwuan ini sebenarnya hanya ingin memohon doa restu dari ayahanda dan ibunda karena saya akan mengemban tugas dari guru agung untuk menjalankan dharma kehidupan saya. Sedikit pun saya tidak pernah berpikir tentang kekuasaan duniawi apalagi jabatan kuwu di Caruban ini. Karena itu, o Pamanda, engkau tidak perlu khawatir jikalau saya akan menggalang kekuatan untuk merebut kekuasaan dari tanganmu.”

Ucapa San Ali benar-benar menusuk perasaan Rsi Bungsu. Itu sebabnya, dengan suara penuh amarah dia menyerang dengan kata-kata menyakitkan, “Ketahuilah, o San Ali, bahwa sejatinya engkau tidak memiliki hak untuk berbicara tentang darah Majapahit yang mengalir di tubuh Kakanda Danusela apalagi darah Pajajaran dari Kakanda Nyi Ratu Inten Dewi. Ketahuilah, o Anak, bahwa engkau bukanlah keturunan mereka. Karena, orang yang menjadi ayahandamu adalah orang asing keturunan Melayu-Jambudwipa yang bernama Syaikh Datuk Sholeh yang mati diganyang pageblug. Begitu juga orang yang menjadi ibunda kandungmu. Jadi, San Ali, tidak ada darah Majapahit apalagi darah Pajajaran di tubuhmu. Cukup adil jika aku melarangmu menggunakan gelar kebangsawanan karena sejatinya engkau memang bukan berasal dari kalangan yang demikian.”

San Ali merasakan kepalanya bagai disambar petir. Ia tercengang mendengar uraian Rsi Bungsu. Ia benar-benar kebingungan. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin. Benarkah ia bukan anak kandung Ki Danusela? Kenapa selama ini tidak ada yang membicarakan persoalan itu? Benarkah ayahandanya orang asing keturunan Melayu-Jambudwipa bernama Datuk Sholeh? Benarkah ayahanda dan ibunda kandungnya telah meninggal terkena pageblug? Kenapa guru agung tidak pernah menceritakan hal itu?

Dengan benak digumpali tanda tanya berjejal-jejal dan hati penasaran, San Ali dengan langkah limbung meninggalkan pendapa pakuwuan. Seluruh kebanggaannya sebagai putera Kuwu Caruban hancur binasa. Ia merasakan bumi tempatnya berpijak terhempas ke bawah. Ia tidak memiliki apa-apa lagi: kehormatan hidup, kebanggaan darah biru, orang tua kandung, dan bahkan orang tua angkat yang mencintainya. San Ali benar-benar merasakan ‘aku’-nya terasing sendiri: hina dan papa!