Meninggalkan Orang-Orang Tercinta

Di bawah cahaya rembulan yang bersinar separo ditutupi gumpalan awan di langit yang menghampar di angkasa pantai Muara Jati, di utara Caruban, San Ali berjalan di antara rimbunan hutan. Tak jauh di belakangnya – dalam jarak sekitar lima puluh tombak – sekitar seratus orang dengan senjata tombak, pedang, kelewang, dan kujang bergerak membayanginya. Mereka bagai kawanan serigala mengintai mangsa.

Ketika ia berada di dekat rimbunan bakau, tiba-tiba salah seorang dari gerombolan yang mengikuti itu melompat keluar sambil menghardik, “Berhentilah kau, e Ki Sanak! Berani benar kau melewati daerah kekuasaanku? Apa kau belum kenal siapa aku?”

San Ali yang sejak semula merasakan langkahnya diikuti sekumpulan orang segera menyergah dengan tegas, “Aku tahu siapa kalian! Bukankah kalian prajurit Pakuwuan Caruban yang diperintahkan Pamanda Rsi Bungsu untuk membunuhku?”

“Lancang sekali mulutmu, Ki Sanak!”

“Sudahlah Ki Sanak, tidak usah bersandiwara di depanku,” ujar San Ali tenang, “Sebagai putera ibunda Nyi Ratu Inten Dewi dan cucu Prabu Surawisesa, Ratu Aji di Pakuan, aku tahu persis watak dari Pamanda Rsi Bungsu yang licik.”

Mendengar bahwa San Ali adalah putera Nyi Ratu Inten Dewi, istri Ki Danusela, mantan junjungannya, orang itu tercengang kebingungan. Dia seperti baru sadar bahwa pemuda di depannya itu adalah San Ali. Namun, sebelum sempat dia berpikir lebih lanjut, tiba-tiba terdengar hiruk pikuk dari sekeliling hutan bakau yang diikuti oleh menghamburnya orang-orang bersenjata yang dengan beringas dan berteriak-teriak menyerbu San Ali.

“Bunuh!”

“Cincang!”

“Habisi!”

Bagaikan kawanan serigala menyerang seekor domba, begitulah gerombolan bersenjata itu menyerbu dengan beringas. Namun, sebagai santri yang bertahun-tahun dilatih pencak silat dan berbagai ilmu kanuragan, San Ali tidak gentar menghadapi serangan itu. Ia dengan tenang menyapukan pandangan ke arah utara, ke rerimbunan hutan bakau. Dengan gerakan seolah melarikan diri dari lawan, ia melompat dan lari dengan cepat meninggalkan orang-orang yang memburunya.

Dengan berlari cepat, San Ali telah membagi kekuatan lawan sedemikian rupa. Hanya mereka yang kuat tenaga dan cepat larinya yang bisa mendekatinya. Siasat San Ali ini mengena. Para pemburu beriringan mengejarnya. Ketika ada yang berhasil mendekat, serta merta ia memperlambat laju larinya. Dan saat jarak mereka tinggal satu tombak, tiba-tiba ia berbalik sambil menyabetkan kakinya ke bawah dengan gerakan setengah lingkaran.

Desh!

Blukk!

Sabetan kaki San Ali dengan telak menghantam kaki lawan. Dan tanpa ampun lagi, lawan yang terserimpung kakinya itu tumbang ke atas tanah. San Ali cepat bergerak lagi menjauh. Pada saat berurutan, para pemburu yang berlari cepat di belakang tak sempat menghentikan langkah saat mengetahui kawan di depannya tersungkur mendadak. Dan peristiwa menakjubkan pun terjadi, orang-orang yang berlomba memburu San Ali bergantian jatuh karena tersandung tubuh kawannya yang tersungkur lebih dulu. Disertai sumpah serapah, mereka yang bertumpang tindih itu memaki-maki San Ali dengan penuh amarah. Namun, sebelum mereka dapat berbuat sesuatu tiba-tiba San Ali melompat ke arah mereka. Kemudian dengan pukulan dan tendangan yang mantap, satu demi satu para pemburu yang bergelimpangan itu dihajarnya.

Gerak cepat San Ali dalam melumpuhkan lawan itu tidak berlangsung lama, sebab para pemburu lain sudah dekat jaraknya. Dengan gerakan secepat kijang ia melompat dan mengambil langkah seribu meninggalkan lawan-lawan yang terus mengejarnya. Tadinya ia sempat meragukan kemampuannya untuk mengalahkan lawan yang jumlahnya sekitar seratus orang. Namun, dengan keyakinan bahwa Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, ia terus berusaha melumpuhkan lawan dengan cara mengajaknya lari berputar-putar di sekitar pepohonan bakau. Lawan yang jaraknya dekat langsung dihantam dan ditinggal lagi, begitu seterusnya.

Taktik lari dan pukul itu membuat tenaganya terkuras. Sementara lawan-lawannya meski kelihatan letih dan babak-belur, jumlah mereka tak berkurang. Bahkan seperti tak ada habis-habisnya. Saat San Ali benar-benar kewalahan menghadapi serangan lawan, sambil mengamuk dengan gerakan-gerakan yang mulai kurang terarah, ia mengeluh dan memasrahkan hidupnya kepada ‘Aku’ semesta yang diyakini sebagai asal ‘aku’ pribadinya. “Ya, Allah, jika Engkau menghendaki ‘aku’ kembali kepada-Mu sekarang, kupasrahkan ‘aku’-ku untuk kembali kepada ‘Aku’-Mu.”

Mendadak terdengar pekikan takbir yang diteriakkan puluhan orang. Di antara pekikan itu terdengar dentam kaki kuda menghentak-hentak bumi yang diselingi jerit kesakitan dan pekik kematian di sana sini.

San Ali tercengang. Ia seperti bermimpi ketika menyaksikan puluhan orang berpakaian serba putih dengan menunggang kuda menyabetkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Dalam tempo singkat, ia melihat puluhan mayat bertumpuk-tumpuk di sekitarnya. Bahkan sekumpulan orang yang sedang mengepung dirinya tiba-tiba berhenti bergerak dan mendongak ke atas dengan wajah pucat. Kemudian bagaikan dikomando, para pengeroyok itu berhamburan ke arah utara menyelamatkan diri. Setelah suasana terkendali barulah San Ali mengetahui bahwa di antara para penunggang kuda itu terdapat ayahanda asuhnya, Ki Samadullah.

Rupanya, sejak berita kematian Ki Danusela sampai ke pakuwuan, Ki Samadullah menangkap gelagat kurang beres dari perilaku Rsi Bungsu. Itu sebabnya, dengan dalih menyusul Ki Danusela ke hutan Kawali, diam-diam dia membawa sekitar tiga puluh prajurit berkuda Pakuwuan Caruban. Alih-alih ke hutan Kawali, sebenarnya Ki Samadullah bersembunyi di kawasan gunung Sembung tak jauh dari Padepokan Giri Amparan Jati. Dari sanalah, dia memantau perkembangan pakuwuan yang sudah dikuasai oleh Rsi Bungsu.

Dari tempat persembunyiannya, Ki Samadullah mengirim utusan ke Kadipaten Demak untuk melaporkan kepada Adipati Demak, Arya Sumangsang, tentang nasib saudara tirinya, Ki Danusela. Arya Sumangsang, kelak menjadi penguasa Demak dengan gelar Abdul Fatah Surya Alam Sayidin Panatagama, kemudian mengirim adik tirinya seibu yang bernama Raden Kusen dengan membawa sekitar dua ratus orang prajurit Demak ke Caruban. Raden Kusen yang ibundanya seorang Cina muslim itu dengan mudah menyusup ke pelabuhan Muara Jati melalui jasa saudagar-saudagar Cina. Bahkan tanpa menemui kesulitan, ia dan pasukannya berhasil masuk hingga ke gunung Sembung.

Malam itu, di bawah bayangan rembulan yang bersinar separo, San Ali melihat Ki Samadullah menunggang kuda coklat. Di sampingnya, seorang lelaki berwibawa duduk di atas punggung kuda hitam perkasa. Kilatan matanya tajam, menyiratkan kecerdasan, keberanian, dan keteguhan jiwa. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, sedikit lebih tua dari San Ali, namun ia kelihatan matang.

Begitu melihat anak asuh kesayangannya selamat tak kurang suatu apa, Ki Samadullah segera melompat turun dari kuda. Dengan mata berkaca-kaca diliputi keharuan, dia langsung mendekati San Ali dan mendekapnya erat-erat.

“Alhamdulillah,” desah Ki Samadullah dengan air mata bercucuran, “engkau tak kurang suatu apa pun, Anakku. Aku yakin sekali Gusti Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang dikasihi-Nya celaka.”

“Pamanda Samadullah,” San Ali menarik napas berat, “ke mana saja Paman selama ini? Aku mencari-carimu di pakuwuan, namun tak ada yang tahu.”

“Aku sengaja bersembunyi di gunung Sembung, Anakku. Sebab, aku mendapat firasat tidak baik berkenaan dengan pamanmu Rsi Bungsu, segera setelah kuperoleh berita bahwa ayahandamu meninggal akibat diserang harimau di hutan Kawali. Karena itu, tanpa sepengetahuan Rsi Bungsu, aku membawa tiga puluh prajurit keluar pakuwuan untuk bersembunyi, dengan harapan rentangan waktu akan membongkar kebusukan Rsi Bungsu.

“Dan sekarang Paman yakin bahwa Pamanda Rsi Bungsulah yang merancangnya semua bencana yang menimpa Pakuwuan Caruban ini?”

“Kenyataan menunjukkan demikian,” sahut Ki Samadullah geram. “Lantaran itu, aku segera mengirim kurir ke Kadipaten Demak untuk melaporkan kejadian di pakuwuan kepada sang Adipati, yang tak lain adalah saudara ayahandamu. Beliau kemudian mengirim adiknya, Raden Kusen, untuk membalas kematian ayahandamu dan menghukum Rsi Bungsu.”

“Jadi?”

“Beliau inilah Raden Kusen, saudara ayahandamu,” kata Ki Samadullah menunjuk ke penunggang kuda hitam, ke arah lelaki yang penuh wibawa itu.

“Salam takzim, Pamanda,” kata San Ali menyalami dan mencium tangan lelaki itu.

“Engkaukah San Ali, putera Rakanda Danusela?” tanya Raden Kusen.

“Benar, Paman.”

Raden Kusen menatap mata San Ali seolah hendak mengukur kekuatan jiwa putera dari saudara tirinya itu. Seperti mengukur benda, ia menyapukan pandangannya ke San Ali dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Dan sejenak sesudah itu ia menepuk-nepuk bahu San Ali sambil berkata, “sebagai bahan dasar, mutumu sangat unggul, o Putera saudaraku. Tetapi untuk menjadi pusaka dahsyat, engkau masih perlu ditempa lebih keras lagi.”

“Terima kasih, Paman,” kata San Ali penuh hormat.

Raden Kusen membisikkan sesuatu ke telinga Ki Samadullah. Sesaat kemudian, Ki Samadullah mengajak San Ali meninggalkan lokasi.

“Pamanda,” sergah San Ali, “tahukah Paman akan nasib ibundaku?”

“O Anakku, tambatan kesayanganku,” kata Ki Samadullah sambil mengelus-elus rambut San Ali. “Sungguh malang nasibmu. Ibundamu hanya sempat tinggal sekitar sepekan bersama kami di gunung Sembung. Dia pergi begitu saja tanpa pamit. Ibundamu, Nyi Kuwu, hanya sempat mengatakan kepada istriku bahwa dia akan mencari ke mana pun ayahandamu berada, meski nantinya yang ditemukan hanya tulang berbalut tanah. Sekitar sepekan setelah kepergiannya, salah seorang prajuritku menemukan ibundamu sakit keras di pinggiran hutan Kawali.

Prajurit itu kemudian membawa ibundamu ke gunung Sembung. Rupanya perjalanan siang dan malam tanpa kenal hujan dan angin membuat ibundamu kehabisan tenaga. Setelah tinggal selama tiga hari, ibundamu meninggal dan kami kebumikan di sana.”

“Jadi, ibunda saya meninggal di gunung Sembung? Kenapa Paman tidak memberi tahu?” tanya San Ali penasaran.

“Sejak awal peristiwa, ibundamu melarang kami memberitahumu,” kata Ki Samadullah menghela napas berat. “Kami semua tidak tahu alasan apa yang membuat Nyi Kuwu melarang kami. Kami hanya tahu bahwa beliau adalah puteri Prabu Surawisesa, Ratu Aji di Pakuan, yang segala perintahnya harus dipatuhi.”

“Astaghfirullah!” desah San Ali lirih. Tanpa terasa dari kelopak matanya mengalir air bening. Terbayang di lipatan kenangannya tentang belaian kasih yang telah ia dapatkan dari ibundanya itu. Betapa sabar dan penuh kasih ibundanya itu sehingga belum pernah San Ali menyaksikannya marah atau bermasam muka. Bahkan andaikata benar pernyataan Rsi Bungsu bahwa wanita itu bukan ibunda kandungnya, tetaplah San Ali mencintai dan menghormatinya sepenuh jiwa karena sejak kecil yang ia kenal sebagai ibunda hanyala Nyi Kuwu, Ratu Inten Dewi.

Melihat anak asuh yang dikasihinya tenggelam dalam kesedihan, Ki Samadullah merasakan hatinya pedih bagai mengalirkan darah. Selama ini, setiap dia mengunjungi San Ali, senantiasa yang dijumpainya adalah senyum dan tawa bahagia. Ketika mendampingi berkeliling desa dan keluar masuk hutan pun, dia senantiasa mendapati keceriaan mengitari kehidupan anak asuhnya itu. Kini, baru beberapa hari meninggalkan padepokan, anak itu telah terseret ke dalam lingkaran nasib memilukan sebagaimana pernah diramalkan Syaikh Datuk Kahfi.

Suasana hening melingkupi tlatah Muara Jati. San Ali diam. Ki Samadullah diam. Raden Kusen diam. Semua diam. Hanya angin dingin bertiup menebarkan bau anyir darah yang mulai mengering di tanah. Dan setelah lama suasana hening itu berlangsung, Raden Kusen dengan suara penuh wibawa berkata, “Sekaranglah waktu yang paling tepat untuk menjatuhkan hukuman bagi Rsi Bungsu. Bagaimana, Ki Samadullah, apakah orang-orangmu sudah siaga?”

“Patik, Yang Mulia,” kata Ki Samadullah, “sejak sore tadi, sekitar seratus orang santri dari Padepokan Giri Amparan Jati bersenjata lengkap telah patik siagakan di sekitar pakuwuan. Sekitar seratus orang pengikut Ki Gedeng Babadan juga sudah bersiaga. Dan sekitar tiga ratus orang pengikut patik dari Tegal Alang-Alang pun sudah mengitari pakuwuan sejak sore tadi.”

“Bagus,” kata Raden Kusen mantap. “Bagaimana dengan berita kehadiran pasukan Pajajaran yang akan mendukung kekuasaan Rsi Bungsu?”

“Patik, Yang Mulia,” kata Ki Samadullah. “Berita dari telik sandhi yang patik kirim menyatakan bahwa Rsi Bungsu memang meminta bantuan ke Pakuan. Patik dengar Maharaja Pakuan, Prabu Ratu Dewata, mengirimkan seribu prajurit di bawah pimpinan perwira bernama Terong Peot.”

“Berarti, kita harus secepatnya menyerang pakuwuan sebelum bala bantuan itu datang. Kalau sampai pasukan dari Pakuan datang, engkau bisa membayangkan bagaimana nasib Pakuwuan Caruban ini. Berita yang kuperoleh dari pedagang-pedagang Cina yang berniaga di pelabuhan Kalapa mengatakan Rsi Bungsu sengaja membuat laporan palsu bahwa kematian Kuwu Caruban akibat dibunuh oleh orang-orang Islam atas suruhan Guru Agung Syaikh Datuk Kahfi. Rsi Bungsu memutar balik kenyataan. Dia menyebarkan berita bahwa kematian Kuwu Caruban dilatari maksud jahat orang-orang Islam yang ingin merebut kekuasaan dari orang-orang Pajajaran yang beragama Hindu-Budha,” Raden Kusen memberi penjelasan.

“Sejahat itukah laporan Pamanda Bungsu kepada Uwak Prabu Ratu Dewata?” San Ali menyergah bagai tak percaya.

“Anakku, San Ali,” kata Ki Samadullah sambil menepuk-nepuk bahu San Ali, “engkau belum mengetahui pahit dan getirnya kehidupan dunia. Engkau juga belum mengenal asinnya garam dan masamnya asam kekuasaan dunia. Tetapi jika engkau ingin tahu, demikianlah perilaku orang-orang yang mabuk kekuasaan.”

“Ya Allah, tujuan utama hidupku,” desah San Ali seolah kepada dirinya sendiri, “jauhkanlah hamba dari kejahatan nista seperti itu. Jangan Engkau palingkan hasrat hatiku kepada selain Engkau!”

“Semoga doa dan harapanmu terkabul, o Anakku,” kata Ki Samadullah menarik napas dalam-dalam. “Sungguh mulia tujuan hidup yang hendak engkau raih. Semoga engkau menjadi salah satu dari ‘san ali’ yang bisa menjadi pengobat bagi mereka yang menderita, sebagaimana harapan ayahanda dan ibundamu.”

“Jika demikian, Paman,” sergah San Ali cepat, “marilah kita berangkat sekarang juga ke pakuwuan.”

Malam berkabut menerkam bumi Caruban ketika barisan berkuda yang dipimpin Raden Kusen menerobos keheningan menuju ke pakuwuan yang sudah dikepung oleh sekitar seratus delapan puluh prajurit Demak, seratus santri Giri Amparan Jati, seratus pengikut Ki Gedeng Babadan, dan tiga ratus pengikut Ki Samadullah dari Tegal Alang-Alang. Tak sedikit pun suara keluar dari rombongan berkuda itu, kecuali detak-detak ladam yang menghantam tanah berbatu. Gerakan pasukan yang dipimpin Raden Kusen benar-benar seperti siluman: tanpa suara, tetapi langsung menembus ke kediaman musuh.

Ketika barisan berkuda berjarak sekitar tiga pal dari pakuwuan, tiba-tiba Raden Kusen mengangkat tangan. Seperti digerakkan oleh satu komando, seluruh pasukan berkuda berhenti serentak. Sejenak kemudian, kuda hitam yang ditunggangi Raden Kusen melangkah beberapa depa ke depan. Ia menepuk-nepukkan tangan tiga kali.

Tepukan Raden Kusen itu ternyata isyarat. Ini terlihat dari munculnya pasukan berkuda Demak secara serentak dari kanan dan kiri jalan. Rupanya pasukan itu sengaja ditempatkan di sekitar pakuwuan untuk sewaktu-waktu melakukan serangan mendadak jika dibutuhkan. Tanpa menimbulkan suara berarti, pasukan berkuda itu mengatur formasi dalam barisan-barisan berjajar tiga-tiga.

Beberapa jenak menunggu pasukannya merapikan barisan, Raden Kusen kemudian menepuk tangan lagi dua kali. Kali ini rupanya ia memerintahkan seorang prajurit untuk menyampaikan perintah menyerang kepada kepala-kepala kelompok yang sedang mengepung pakuwuan. Setelah menghormat, prajurit itu dengan gerak lincah berlari menembus kegelapan malam.

Raden Kusen kemudian melambaikan tangan, meminta Ki Samadullah yang berada di belakangnya mendekat. Dengan suara tenang ia berkata perlahan, “Ini pelajaran penting yang wajib dialami calon pemimpin, Ki.”

“Patik, Yang Mulia,” sahut Ki Samadullah takzim.

“Maksudku, segera setelah kita menguasai pakuwuan, kita akan bergerak cepat ke Muara Jati lagi,” kata Raden Kusen datar.

“Ke Muara Jati lagi, Yang Mulia?” gumam Ki Samadullah heran.

“Inilah yang kumaksud pelajaran penting, Ki,” kata Raden Kusen. “Sebab, sore tadi telah kuperoleh berita dari saudagar-saudagar Cina bahwa perahu-perahu dari gelombang pertama yang memuat lima ratus prajurit Pajajaran telah terlihat di timur muara sungai Cimanuk ke arah Dermayu. Sedang perahu-perahu gelombang kedua sore tadi baru memasuki perairan Karawang. Jadi, bisa dipastikan kalau perahu-perahu dari gelombang pertama malam ini sudah masuk ke perairan Caruban. Aku memperkirakan mereka akan mendarat paling lambat subuh nanti. Berarti, saat pagi datang mereka sudah siap bergerak menyerang ke pakuwuan.”

“Tapi. Yang Mulia,” Kata Ki Samadullah, “bukankah jumlah mereka yang datang malam ini hanya lima ratus? Bukankah jumlah pasukan Yang Mulia lebih banyak?

“Ketahuilah, Ki, bahwa jumlah lima ratus pasukan Pajajaran itu sangat berarti besar bagi sebuah pertempuran. Sebab, jumlah lima ratus itu adalah prajurit terlatih. Sedang jumlah tujuh ratus yang kita miliki, hanya dua ratus orang dari Demak yang benar-benar terlatih. Sisanya adalah orang-orang yang hanya memiliki keterampilan pencak silat seadanya, termasuk para santri dari Giri Amparan Jati. Jadi, Ki, dalam sebuah peperangan jangan sekali-kali menilai lawan hanya dari segi jumlah. Ini pelajaran penting.”

“Patik paham, Yang Mulia.”

Hening malam tiba-tiba dipecahkan oleh pekikan dan jeritan serta gemerincing senjata beradu di kejauhan. Pertempuran tampaknya sedang berlangsung di pakuwuan. San Ali dan para prajurit penunggang kuda tampak gelisah menunggu perintah dari Raden Kusen untuk menyerang ke pakuwuan. Namun, Raden Kusen kelihatan tenang dan bergeming mendengar hiruk-pikuk pertempuran di kejauhan.

Dicekam kegelisahan dan bayang-bayang serunya pertempuran, San Ali tak tahan lagi. Ia membayangkan bagaimana nasib kawan-kawannya, para santri, ketika menghadapi prajurit-prajurit pakuwuan yang terlatih. Ia membayangkan betapa korban akan berjatuhan di pihak penyerbu. Setelah beberapa jenak dicekam kegelisahan, ia mendekati Raden Kusen dan bertanya, “Kenapa kita tidak membantu yang bertempur di sana, Paman?”

“Kita belum dapat laporan dari medan laga,” sahut Raden Kusen singkat.

“Laporan dari medan laga?” San Ali heran.

“Lihat obor itu!” Raden Kusen menunjuk nyala obor yang diayun-ayun di kejauhan. “Itu laporan dari prajurit tadi bahwa pertempuran sedang berjalan imbang. Karena itu, sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk menyerang agar lawan terkejut.”

“Saya paham, Paman,” San Ali berdecak kagum.

“Agar lawan mengira jumlah kita banyak maka setiap prajurit akan menyalakan dua obor. Kita akan menyerbu dari kegelapan dengan suara hiruk-pikuk dan obor yang digoyang-goyang,” kata Raden Kusen.

Raden Kusen mengangkat tangan kanan. Obor-obor secara berurutan menyala. Dalam waktu singkat keadaan sekitar menjadi terang benderang. Raden Kusen mendadak meneriakkan takbir dengan suara menggelegar bagai guntur. Sedeti sesudah itu ia memacu kudanya. Para prajurit di belakangnya buru-buru mengikuti. Bagaikan naga bertubuh api yang merayap di kegelapan malam, begitulah pasukan berkuda yang membawa obor itu bergerak ke pakuwuan.

Ketika jarak pasukan berkuda yang dipimpin Raden Kusen dengan pakuwuan tinggal satu pal, serta merta mereka berteriak-teriak mengumandangkan takbir ganti-berganti dan sahut-menyahut. Kemudian, bagaikan luapan air bah, pasukan berkuda itu menerjang ke arah gerbang pakuwuan, tempat para penyerbu dan prajurit pakuwuan sedang bertempur.

Kegentaran segera meluas di kalangan prajurit pakuwuan ketika mereka menyaksikan beratus-ratus cahaya obor berayun di kejauhan. Kegentaran makin memuncak manakala terdengar pekikan takbir yang makin mendekati gerbang. Dan puncak dari kegentaran itu berubah menjadi kepanikan manakala mereka menyaksikan bahwa para pembawa obor itu adalah pasukan berkuda yang dipastikan merupakan bagian dari kekuatan para penyerbu. Demikianlah, tanpa dapat dikendalikan lagi, prajurit pakuwuan berhamburan melarikan diri begitu mendengar detak-detak ladam menggeba bumi. Dan kepanikan pun makin tak terkendali ketika tubuh para prajurit pakuwuan bertumbangan ke atas bumi bagaikan rumput dibabat parang.

Barisan berkuda yang datang bagaikan air bah itu terus maju tak mempedulikan apa pun. Barang siapa menghalangi akan diinjak. Para penyerbu gabungan dari Padepokan Giri Amparan Jati, Kuwu Babadan, dan Tegal Alang-Alang yang melihat kedatangan bala bantuan segera menyibak memberi jalan. Dan pasukan berkuda pimpinan Raden Kusen itu dengan leluasa menerobos ke dalam pakuwuan. Dengan cambuk ekor ikan pari, pedang, tombak, dan panah, mereka membinasakan prajurit pakuwuan.

Dalam waktu singkat, pertahanan Pakuwuan Caruban bobol. Para prajurit pakuwuan yang bertempur tanpa komando pemimpin itu porak-poranda. Seraya berteriak-teriak kebingungan mereka berhamburan ke segala arah menyelamatkan diri. Sementara, sebagian yang lain berusaha menyelamatkan junjungannya, Kuwu baru, Rsi Bungsu dan keluarganya, keluar dari pakuwuan. Meski dengan susah payah, akhirnya Rsi Bungsu berhasil lolos dari kepungan musuh. Dan malam itu, Rsi Bungsu beserta keluarga dan sedikit prajurit menerobos kegelapan melewati lereng gunung Ciremai menuju ke Kadipaten Galuh.

Setelah sisa terakhir kekuatan Rsi Bungsu terhalau, di bawah temaram cahaya rembulan dan di tengah gumpalan kabut, Raden Kusen duduk gagah di atas kuda hitam, didampingi Ki Samadullah dan San Ali. Para penyerbu dari Demak, Padepokan Giri Amparan Jati, Kuwu Babadan, dan Tegal Alang-Alang berkerumun mengitari pemimpin mereka. Sementara di luar tembok pakuwuan, sebagian barisan berkuda bersiaga menunggu perintah lanjutan. Butir-butir jelaga dari obor terlihat menodai wajah prajurit berkuda, namun mereka bagai tak peduli. Putaran roda waktu telah membuat mereka berdiam diri dalam ketegangan.

Raden Kusen, lelaki gagah dengan kulit putih kemerahan dan mata agak sipit tetapi setajam rajawali itu, begitu menakjubkan dan memukau mereka yang berada di sekelilingnya. Putera Adipati Palembang, Ario Damar, itu begitu tenang menghadapi berbagai persoalan. Bahkan menghadapi kemenangan gemilang seperti sekarang ini pun, ia mampu mengendalikan kegembiraan.

Dengan suara penuh wibawa Raden Kusen berkata dengan nada mengingatkan, “Kita belum sepenuhnya meraih kemenangan karena malam ini pasukan gelombang pertama dari Pajajaran akan mendarat di Muara Jati. Jika mereka kita biarkan maka esok pagi Pakuwuan Caruban akan jatuh ke tangan mereka. Dan kita semua tahu apa tindakan pasukan Pajajaran terhadap mereka yang dianggap memberontak?”

Suara-suara segera menggema. Raden Kusen dengan tenang mengamati reaksi ucapannya terhadap orang-orang itu, terutama terhadap Ki Samadullah dan San Ali. Dan tak lama kemudian, hiruk-pikuk itu makin gaduh, tetapi secara pasti menunjuk pada maksud yang sama: bahwa malam itu juga mereka semua harus ke Muara Jati untuk menghadang pasukan Pajajaran. Daripada dibunuh lebih baik membunuh. Dan pekikan takbir pun mengumandang sahut-menyahut sebagai tanda kebulatan tekad mereka untuk menyambut kedatangan lawan.

Malam itu, setelah menyisakan sekitar lima puluh orang untuk menjaga pakuwuan, Raden Kusen didampingi Ki Samadullah dan San Ali menuju Muara Jati, diikuti barisan berkuda, para santri padepokan, pengikut Ki Gedeng Babadan, dan pengikut Ki Samadullah dari Tegal Alang-Alang. Rombongan bergerak cepat, menembus kabut malam yang mulai menutupi permukaan bumi Caruban.

Perhitungan Raden Kusen bahwa perahu-perahu pasukan Pajajaran gelombang pertama akan mendarat menjelang subuh ternyata terbukti. Ketika barisan yang dipimpinnya sampai di Muara Jati, di keremangan laut sudah terlihat beyangan hitam dari sekitar tiga puluh perahu yang bergerak diam-diam mendekati pantai.

Tanpa menunggu waktu, Raden Kusen segera bertindak cepat dengan memerintahkan pasukan panah yang berjumlah sekitar lima puluh untuk berbaris memanjang sejajar pantai. Tugas utama mereka adalah menembaki prajurit Pajajaran yang akan mendarat. Sementara lima puluh pasukan tombak desiagakan di lapis kedua, yakni di belakang pasukan panah. Sedang di lapis ketiga disiagakan pasukan pedang, cambuk, dan kujang. Barisan berkuda justru ditempatkan paling belakang.

Perahu-perahu besar yang berisi prajurit Pajajaran mendekati pantai Muara Jati. Dan seirama dengan deburan ombak yang membentur lambung perahu yang mulai menyentuh pasir, berlompatanlah para prajurit iyu ke dalam air yang setinggi lutut. Kemudian, bagai siluman mereka bergerak menepi. Mereka tidak sadar bahwa di sepanjang pantai telah menunggu para penebar maut. Rupanya Terong Peot, manggalayuddha pasukan Pajajaran itu telah memberikan kepastian bahwa prajurit-prajurit dari Pakuwuan Caruban akan menyambut mereka di Muara Jati.

Saat prajurit-prajurit Pajajaran berada dalam jarak sekitar sepuluh tombak dari pantai, tiba-tiba terdengar pekik takbir yang dikumandangkan oleh Raden Kusen. Dari atas kudanya, ia mengacungkan pedang ke arah laut. Dan bagaikan semburan air hujan, begitulah puluhan anak panah melesat dengan kecepatan kilat dari busur prajurit Demak.

Prajurit Pajajaran yang tak menduga bakal diserang mendadak, terkejut luar biasa begitu mendengar pekikan takbir. Sebagai prajurit terlatih, mereka buru-buru berbalik arah. Tetapi, kecepatan mereka di air tak segesit di darat. Itu sebabnya, sebagian di antara mereka – sekitar tiga puluh orang – yang berada pada posisi paling depan langsung bertumbangan ketika anak panah menghujam perut, dada, bahu, leher, dan bahkan mata. Dan jerit kesakitan pun mengumandang bersahut-sahutan. Sungguh sangat memilukan. Rupanya, luka akibat panah itu menjadi sangat sakit terkena asin air laut.

Ketika prajurit Pajajaran sedang panikdan berlarian di perairan Muara Jati, Raden Kusen memberikan komando lanjutan dengan pekikan takbir dan isyarat pedang. Kali ini pasukan lapis kedua berlari cepat ke arah laut. Saat jarak mereka dari pantai sekitar lima tombak, serta merta mereka melemparkan tombak ke arah prajurit Pajajaran. dan sejenak sesudah itu mereka membalikkan badan dan kembali ke posisinya semula di belakang pasukan panah.

Hujan tombak di kegelapan malam itu dalam tempo singkat menambah jumlah korban di pihak lawan. Dengan cepat tubuh sebagian mereka yang turun ke laut terlihat mengapung menjadi mayat dengan tikaman panah dan tombak. Sementara itu, prajurit-prajurit lain yang masih di atas perahu enggan turun. Dan kepanikan makin meningkat manakala dari tepi pantai terlihat beribu-ribu obor dinyalakan.

Manggalayuddha Pajajaran cepat mengambil kesimpulan bahwa pasukannya telah masuk ke dalam perangkap musuh. Untuk menghindari korban lebih besar, dia memerintahkan prajuritnya naik kembali ke atas perahu. Dan menjelang subuh itu, perahu-perahu Pajajaran kembali bertolak ke tengah laut. Meninggalkan beberapa puluh mayat yang mengapung di permukaan laut dipermainkan gelombang.

Menjelang subuh, Raden Kusen didampingi Ki Samadullah dan San Ali beserta seluruh prajurit dengan penuh kegembiraan kembali ke pakuwuan. Seyogyanya, saat tiba di pendapa pakuwuan Ki Samadullah akan langsung mengumumkan bahwa yang menjadi kuwu di Caruban adalah San Ali, putera Ki Danusela. Namun, sepanjang perjalanan San Ali yang sudah menangkap keinginan bapak asuh yang mencintainya itu dengan tegas menyatakan penolakannya. Penolakan San Ali tentu saja mengejutkan Ki Samadullah.

“Jika Pamanda menyayangi saya setulus hati, tentu Paman bisa memahami bahwa tujuan utama saya bukanlah kekuasaan duniawi. Karena itu, jika Paman memaksa saya untuk menduduki kursi Kuwu Caruban, berarti Paman telah memberikan beban yang sangat berat yang sangat mungkin tidak mampu saya pikul,” kata San Ali.

“jika engkau menolak jabatan kuwu,” kata Ki Samadullah, “lantas siapa yang akan menggantikan kedudukan ayahandamu?”

“Saya sudah menyaksikan betapa hebat Pamanda Raden Kusen mengatasi masalah sebesar ini. Karena itu, tidak salah jika saya menginginkan Pamanda Raden Kusenlah yang cocok menggantikan kedudukan Ayahanda Danusela. Saya kira, Pamanda Raden Kusen akan mendapat dukungan dari Kerajaan Galuh melalui Pamanda Samadullah. Saya yakin, Pamanda Samadullah dapat memberikan dukungan kepada beliau sebab ditinjau dari segi nasab, hubungan Paman dan kerabat Kerajaan Galuh sangat dekat.”

“Anakku,” sahut Ki Samadullah memegang bahu San Ali, “apakah dengan ini engkau akan meninggalkan aku? Apakah engkau tetap melaksanakan tekadmu berkelana mencari hakikat sejati ‘Aku’?”

“Maafkan saya, Paman,” kata San Ali menguatkan hati. “Saya sudah membulatkan tekad untuk mencari hakikat sejati ‘Aku’ sebagaimana hal itu pernah saya ungkapkan kepada guru agung. Dan sekeluar saya dari padepokan, makin kuatlah tekad saya untuk melaksanakan impian saya itu.”

“Semoga Allah senantiasa merahmati dan melindungimu, Nak.” Titik air bening mulai terlihat di sudut mata Ki Samadullah.

“Paman, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu yang telah begitu tulus mencintai manusia sebatangkara seperti saya,” San Ali berkata lirih.

“Kenapa engkau berkata begitu, Nak?”

“Saya lahir dalam keadaan yatim. Ketika bayi, saya sudah yatim piatu. Hanya berkat budi baik ayahanda dan ibunda, paman dan bibi, saya bisa menjadi seperti sekarang ini.”

“Siapa yang menceritakan hal dirimu itu, Nak?” Ki Samadullah penasaran.

“Pamanda Rsi Bungsu,” kata San Ali. “Dan beliau benar, bukan?”

Ki Samadullah menunduk. Butiran air bening jatuh dari kelopak matanya.

“Saya tahu, Pamanda, bibi, ayahanda, ibunda, dan guru agung menyimpan rahasia ini agar saya tidak sedih dan merasa sebatangkara di dunia. Tatapi, Paman, dengan terbukanya kenyataan ini makin kuatlah keinginan saya mengejar impian. Sebab, dengan menyadari kesebatangkaraan saya maka saya makin mudah melepaskan segala sesuatu selain ‘Dia’ yang saya tuju.”

Sepanjang perjalanan akhirnya Ki Samadullah tidak berkata-kata lagi. Dia tenggelam dalam kepedihan. Sungguh, jauh di dalam lubuk jiwanya ingin sekali dia mengantarkan ke mana pun San Ali pergi. Namun, keinginan aneh anak asuhnya yang tak lazim mencari hakikat sejati ‘Dia’ Yang Tak Terpikir dan Tak Terbayang – adalah kemustahilan yang sulit dipahami. Ah, betapa aneh garis kehidupan anak itu: lahir ke dunia sebagai yatim piatu dan didewasakan di lingkungan padepokan yang penuh keprihatinan, kini setelah dewasa akan mengembara dengan tujuan melepas dunia untuk menuju ke ‘aku’ yang tak tergambarkan keberadaan-Nya.

Segala pembicaraan Ki Samadullah dengan San Ali ternyata didengarkan dengan cermat oleh Raden Kusen. Itu sebabnya, ketika mereka tiba di pakuwuan, segera dibuat keputusan bahwa kekuasaan Kuwu Caruban dipercayakan kepada Ki Samadullah. Karena, selain masih keturunan Raja Galuh, dia dianggap paling berpengalaman menjadi pejabat pangraksabhumi membantu tugas-tugas Ki Danusela. Untuk mengamankan pakuwuan, dua ratus prajurit Demak tetap disiagakan untuk membentengi pakuwuan dari serangan Pajajaran atau gerakan subversif pengikut Rsi Bungsu. Bahkan Raden Kusen dengan penuh keberanian membuat keputusan bahwa Pakuwuan Caruban bukan lagi menjadi bagian wilayah Pajajaran, melainkan bagian wilayah Kadipaten Demak.

“Umumkan kepada seluruh warga pakuwuan bahwa hari ini, waktu pecat sawet (pukul 10.00), hari Soma Manis, tanggal 19, bulan Badra, tahun Saka 1392, penguasa negeri ini sudah berganti. Katakan kepada seluruh penduduk Pakuwuan Caruban bahwa Gusti mereka sekarang ini bukan lagi Prabu Ratu Dewata di Pajajaran, melainkan Adipati Demak, Arya Sumangsang, putera Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit, yakni saudara Ki Danusela.”

San Ali menghadap Syaikh Datuk Kahfi untuk berpamitan. Ini sangat penting baginya sebab selain sebagai guru agung yang menempa pribadi dan cara pikirnya, Syaikh Datuk Kahfi adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang memiliki hubungan darah dengannya. Dan lantaran hubungan darah itu, ia menjadi mafhum kenapa guru agung itu begitu memanjakan dan mengistimewakan dirinya dibanding murid-murid lain.

Di hadapan Syaikh Datuk Kahfi, yang diketahuinya sebagai adik sepupu ayahanda kandungnya, San Ali tidak mampu menyampaikan sesuatu kecuali menundukkan kepala memandangi anyaman tikar yang tergelar di bawahnya. Ia merasakan dadanya kosong. Hampa. Entah apa yang terjadi, ia hanya merasakan bahwa niatnya yang kuat untuk mengembara mencari ‘aku’ telah menimbulkan beban berat di hatinya untuk berpisah dengan orang-orang yang dicintainya, terutama Syaikh Datuk Kahfi dan istrinya. Mereka selama bertahun-tahun telah mengasuh, membimbing, dan memberikan kasih sayang seperti orang tua kepada anak. Kebersatuan adalah kebahagiaan. Perpisahan adalah kepedihan.

Syaikh Datuk Kahfi kelihatan sulit untuk menyembunyikan kepedihan yang mengharu biru hatinya. Namun, sebagai seorang guru agung yang menjadi teladan bagi para muridnya, dia harus berjuang keras mengalahkan kepedihan jiwa. Memang benar, berpisah dengan orang tercinta sangat berat dan menyakitkan, namun keharusan berpisah dengan segala sesuatu selain Dia adalah tuntutan mutlak. Itu sebabnya, dengan hati berat dia menasihati sepupunya. “Pergilah engkau mengikuti tuntutan jiwamu, o Anakku terkasih, sebab hanya dia yang berjuang keras menuju Dia yang akan sampai ke Dia. Segala apa yang engkau alami selama ini adalah bagian dari perjalanan yang mesti engkau lewati. Tinggalkan segala sesuatu yang ada pada dirimu hingga tak bersisa kecuali keyakinanmu terhadap Dia.”

“Hamba akan jadikan nasihat Guru Agung sebagai azimat,” kata San Ali takzim. “Tetapi, bolehkah hamba bertanya sesuatu tentang hal hamba?”

“Bertanyalah, o Anakku.”

“Benarkah leluhur hamba berasal dari negeri Malaka?” tanya San Ali tegas.

“Sepengetahuanku memang begitu, Anakku,” jawab Syaikh Datuk Kahfi. “Tetapi barang satu abad lalu leluhur kita tidak bertempat di tanah semenanjung. Mereka datang dari negeri Gujarat. Menurut cerita ayahandaku, Syaikh Datuk Ahmad, leluhur kita adalah bangsawan dan ulama di Gujarat. Kakekku, Syaikh Datuk Isa adalah leluhur yang tinggal di Malaka. Beliau sekeluarga awalnya datang ke negeri Perlak kemudian merantau ke Semenanjung, yakni Malaka.”

“Berarti, sangat mungkin negeri Gujarat pun bukan tempat asal leluhur kita. Sebab, bukan sesuatu yang mustahil jika leluhur keluarga kita berasal dari negeri Arab, Rum, dan mungkin Maghrib,” kata San Ali menyimpulkan.

“Memang benar, Anakku,” kata Syaikh Datuk Kahfi, “sebab kalau diurut-urut, semuanya berasal dari negeri Arab di mana Bapa Adam dan Ibu Hawa pertama kali tinggal di bumi.”

“Sebelum tinggal di negeri Arab, di manakah Bapa Adam dan Ibu Hawa tinggal? Apakah di tempat bernama Jannah Darussalam?” tanya San Ali.

“Sejauh yang kupahami dari kitab-kitab memang demikian, o Anakku.”

“Jikalau begitu, o Guru Agung, hamba mohon pamit secepatnya karena hamba memiliki pandangan bahwa mencari Dia haruslah mencari rangkaian galur di mana Dia menempatkan manusia pertama ciptaan-Nya di muka bumi,” kata San Ali.

“Mudah-mudahan engkau menemukan apa yang engkau cari, Anakku,” kata Syaikh Datuk Kahfi dengan mata berkaca-kaca.