Menyeberangi Samudera

Dibanding Dermayu, Muara Jati hanyalah pelabuhan kecil, namun dari sinilah orang memasok beras, gula aren, garam, dan terutama terasi. Pada paro tengah abad ke-15, Muara Jati merupakan pelabuhan penunjang bagi keramaian Dermayu.

Dipandang dari laut, Muara Jati tampak seperti kumpulan kampung nelayan dengan puluhan perahu kecil ditambatkan di tonggak-tonggak kayu. Sebuah geladak sepanjang lima puluh meter yang menjorok ke laut hanya digunakan untuk memunggah muatan dari dan ke atas perahu. Sejumlah rumah bambu beratap rumbia berderet kecoklatan di bawah garis hijau pepohonan yang melatarbelakanginya. Barang empat buah rumah besar bercat merah yang tegak perkasa di pinggir jalan ke arah geladak adalah rumah orang-orang Cina Muslim yang umumnya tengkulak beras. Sementara sebuah bangunan besar dengan pendapa yang berdiri menghadap laut adalah kediaman tandha, yakni pejabat bawahan Raja Galuh yang bertugas memungut pajak lalu lintas hasil bumi dan perikanan yang keluar dan masuk pelabuhan Muara Jati.

Nun Jauh di selatan Muara Jati, terpampang gunung Ciremai yang membiru diselimuti halimun, yang menurut cerita adalah tempat persemayaman dewa-dewa.

Di ujung geladak di atas riak gelombang pantai, San Ali berdiri tegak memandangi hamparan lembah, gunung, dan rimbunan pohon yang hijau kebiruan di balut kabut tipis: hamparan bumi Caruban, tanah kelahiran yang mengukir jiwa dan raganya. Ia memejamkan mata dan memanjatkan doa mohon agar jiwanya dikuatkan untuk meninggalkan rangkaian kenangan indah yang mengukir ingatannya.

San Ali menantikan perahu yang akan membawanya ke tengah samudera, meninggalkan tanah kelahiran tempat ia mendapat limpahan cinta kasih. Ia merasakan kepedihan mencekam jiwanya. Dari dalam hatinya terungkap suara jiwa yang mengharu biru kebulatan tekadnya. “O San Ali, akankah engkau tinggalkan tempat yang telah memberikan kedamaian bagi kehidupanmu? Akankah engkau tinggalkan orang-orang yang selama ini memberikan kasih sayang yang memaknai pembentukan jiwamu? Akankah engkau tinggalkan keceriaan penghuni padepokan yang senantiasa mengumandangkan nyanyian pepujian kebesaran Ilahi? Akankah engkau lupakan orang-orang desa yang dengan senyum tulus menyapamu dalam setiap perjumpaan?”

San Ali menarik napas panjang dan berat. Ia sadar bahwa hatinya berat meninggalkan rentangan kenangan yang sudah berurat dan berakar di jiwanya. Itu sebabnya, dengan menguatkan hati ia berbisik kepada ungkapan suara jiwanya.

“Adakah kehidupan yang mengalir tanpa perpisahan dan kesedihan? Air memancar dari mata air kemudian meninggalkan sumbernya untuk menuju ke sungai hingga ke muara dan memasuki samudera raya. Manusia lahir dari kandungan ibundanya kemudian tumbuh dewasa dan akhirnya mati meninggalkan segala yang melekat pada dirinya. Dunia beserta segala isinya dan alam semesta pun pada akhirnya mengalir ke suatu masa yang disebut Yaumul Akhir. Jadi, perpisahan dan kesedihan adalah bagian dari hidup. Sesungguhnya tidak ada yang langgeng di permukaan bumi ini.”

“Dengarlah, wahai suara hatiku, bahwa aku seperti juga engkau memiliki kenangan dengan kehidupan di Caruban yang indah yang membentang di kaki gunung Ciremai yang dilingkari ombak samudera, yang diwarnai gemericik air sungai dan kicau burung menyambut mentari pagi. Tetapi, wahai suara hatiku, ketahuilah bahwa segala keindahan itu telah berubah menjadi terali bagi ‘aku’-ku, karena aku sekarang bagai rajawali terkungkung dalam sangkar besi yang selalu merana setiap kali melihat burung lain terbang di angkasa, mereguk kebebasan jiwa dengan membentangkan sayap kehidupan.”

Ketika San Ali sedang bergulat dengan suara jiwanya, perahu yang bakal membawanya pergi dari bumi Caruban datang. Pemilik perahu itu bernama Tahrimah, laki-laki setengah umur dengan tubuh tegap dan otot-otot tangan kukuh. Wajahnya yang keras menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tabah melintasi kerasnya kehidupan. Dan sorot matanya yang berbinar-binar menunjukkan betapa teguhnya laki-laki itu memegang prinsip. Sementara kulitnya yang coklat kehitaman terbakar sinar matahari mencerminkan semangat hidup yang tak luntur terkena hujan dan tak lekang terkena panas.

Setelah cukup lama menunggu reaksi San Ali, Tahrimah menanyakan tujuan perjalanannya meninggalkan Muara Jati. “Apakah Yang Mulia San Ali, putera Kuwu Caruban, akan menuju pelabuhan Kalapa atau hanya ke Dermayu?”

“Engkau lebih tahu akan tujuanku, o Paman, sebab pemegang kemudi perahu ini adalah engkau. Apalah arti maksud dan tujuan kuucapkan jika di tengah laut engkau nantinya akan menenggelamkan perahumu. Dengan menumpang perahumu, o Paman, sudah kubulatkan tekadku untuk mengorbankan diriku dalam mencapai tujuanku yang sejati,” ujar San Ali.

“Tidak adakah lagi syak di hati Yang Mulia?” Tahrimah menguji.

“Sudah kubulatkan tekadku, seperti kuucapkan takbir saat kumulai sembahyang menghadap Dia,” ujar San Ali mantap.

“Jika demikian, naiklah o Anak ke atas perahuku. Dan ingat-ingatlah selalu, selama perjalanan di laut jangan sekali-kali Anak melakukan perbuatan lain yang membahayakan perahu ini. Dan berdoalah agar kita selamat melintasi lautan yang kadang-kadang mengamuk.”

San Ali tersenyum dan menganggukkan kepala.

Tahrimah ternyata orang yang memiliki pengetahuan luas tentang kehidupan. Ketika masih muda, dia pernah menjadi awak kapal dagang yang mengarungi tujuh samudera dan menyinggahi berbagai pelabuhan besar tempat kapal-kapal dari berbagai negeri berlabuh. Kini, setelah usia makin menua, dia hanya menjadi pengemudi perahu yang khusus mengantarkan orang-orang tertentu ke tujuan yang dikehendaki.

San Ali sangat terkesan mendengar kisah hidup Tahrimah. Itu sebabnya, ia bertanya banyak hal tentang berbagai peristiwa yang sedang dialaminya saat ini. “Bagaimanakah perasaan Paman saat pertama kali berlayar meninggalkan tanah kelahiran tercinta?”

“Semula berat dan menyedihkan, o Anak,” kata Tahrimah. “Tetapi, bersama menggelindingnya waktu kusadari bahwa menjadi kewajiban mendasar dari kita untuk meninggalkan segala sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.”

“Maksud Paman?” tanya San Ali belum paham.

“Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa bumi Caruban, anak, istri, rumah, orang tua, sahabat, guru, dan segala apa yang kucintai adalah milikku. Pada akhirnya kusadari bahwa semua itu bukan apa-apaku, apalagi milikku. Tubuh dan jiwaku pun pada hakikatnya bukanlah milikku.”

“Kalau begitu, Paman adalah seorang zahid,” ujar San Ali.

“Seorang zahid yang melakukan hidup zuhud adalah dia yang meninggalkan segala sesuatu yang menjadi miliknya. Zahid adalah dia yang meninggalkan segala apa yang bisa ditinggalkannya. Sedangkan ‘aku’ pada kenyataannya tidak memiliki apa pun yang bisa kutinggalkan. Semua merupakan milik-Nya: Kebesaran, Keagungan, Keindahan, Kekuasaan, Kehendak, Kemuliaan, Puji-pujian, dan Kemutlakan.”

“Engkau orang yang telah tercerahkan, o Paman,” kata San Ali dengan mata membinarkan rasa takjub, “Ajarkanlah kepadaku tentang jalanmu menuju-Nya!”

“Engkau memiliki jalanmu sendiri, o Anak,” kata Tahrimah datar. “Jalan yang telah kulalui akan berbeda dengan jalan yang harus engkau lalui.”

“Itu aku tahu, Paman,” San Ali memohon, “tetapi berikanlah kepadaku barang satu atau dua patah nasihat yang akan kujadikan bekal perjalananku.”

“Jika itu keinginanmu, aku akan memberimu dua nasihat yang boleh engkau ikuti dan boleh pula engkau abaikan.”

“Saya akan berjuang menjalankan nasihatmu, o Paman.”

“Pertama, lakukan Taubat, yakni engkau harus berpaling dari segala sesuatu kecuali Allah. Maksudnya, jika sebelum ini engkau pernah berbalik dari-Nya maka sekarang engkau wajib menghadapkan jiwa dan pikiranmu hanya kepada-Nya. Kedua, lakukan Dzikir, yakni ingatlah selalu Allah jika engkau lupa. Maksudnya, jika engkau selalu berusaha berada dalam keadaan melupakan segala sesuatu yang bukan Allah maka saat itulah engkau mengingat Allah.”

Di Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran, kehidupan berlangsung sangat lamban dan jauh berbeda dengan Muara Jati, apalagi dibandingkan Dermayu yang hingar- bingar dipenuhi kesibukan. Satu-satunya tempat orang terlihat lalu lalang hanya di dermaga Kedunghalang, tempat perahu hilir-mudik dari dan ke pelabuhan Kalapa. Di situ tak henti-hentinya orang mengangkuti barang-barang dengan pikulan, gerobak, dan pedati yang ditarik kerbau. Selebihnya, hampir di seluruh sudut kotaraja Pakuan dilintasi orang-orang yang akan pergi ke pura dan sanggar pamujan. Hampir di setiap tepian jalan terlihat anjing bertubuh kurus duduk atau tiduran menikmati hangat matahari.

San Ali yang mengenakan jubah dan surban putih sebagai pertanda bahwa ia pemeluk Islam sejak menginjakkan kaki di pelabuhan Kalapa sudah menjadi perhatian orang. Ketika ia menuju ke kotaraja Pakuan dengan perahu yang melayari sungai Ciliwung, orang makin memandangnya dengan penuh curiga. Hanya bekal surat pengantar dari Ki Samadullah yang membuatnya lolos dari pos-pos pemeriksaan keamanan.

Sesuai pesan Ki Samadullah, San Ali harus menemui Samsitawratah, seorang rsi yang memiliki asrama bagi para brahmana muda pencari kebenaran. Menurut Ki Samadullah, hanya Rsi Samsitawratah di tlatah Pajajaran ini yang mampu mengupas hakikat kitab Catur Viphala warisan Prabu Kertawijaya, Maharaja Majapahit. Ki Samadullah sendiri sejauh ini membahas kitab itu bersama Ki Danusela hanya sebatas pada penafsiran demi penafsiran yang belum tentu benar pada tataran penerapannya.

Ketika San Ali mendekati pintu asrama, tampaklah seorang tua dengan hanya mengenakan cawat melintas di hadapannya. Sekalipun renta dan kurus kering, ada semacam kekuatan gaib melingkupinya. Meski hanya bercawat, orang merasakan getaran kuat setiap kali memandangnya. Setelah berdiam sejurus, dengan suara penuh wibawa orang tua yang ternyata Rsi Samsitawratah itu berkata, “Apakah yang engkau cari, o Anak Muda, hingga engkau menyeret tubuhmu ke sini?”

“Kucari hakikat ‘aku’ agar kutemukan ‘Aku’ sebagai sumberku,” jawab San Ali.

“Bagaimana engkau menemukan ‘Aku’ jika engkau masih meng-‘aku’?”

“Kepadamulah, o Yang Tercerahkan, kuharap pelajaran menuju ‘Aku’,” kata San Ali sambil mengeluarkan kitab rontal Catuh Viphala. “Karena, kudengar hanya Andhika Yang Tercerahkan yang mampu menguak makna kitab ini.”

“Lepaskan jubah dan surbanmu! Lepaskan segala milikmu! Tanpa perjuangan keras mengosongkan diri dari keakuan, jangan harap engkau bisa menangkap intisari kitab Catur Viphala dan mencapai tujuanmu.”

San Ali tercekat mendengar permintaan Rsi Samsitawratah. Bagaimana mungkin ia melepaskan jubah dan surbannya untuk kemudian bercawat seperti orang tua di hadapannya itu? Apakah maksud melepaskan segala milik berarti melepas segala atribut keislaman dengan meninggalkan sembahyang dan hukum syarak? Apakah pengosongan diri menjadi syarat mutlak bagi perjuangan menuju ‘Aku’?

Tanpa dapat dicegah benak San Ali dijejali oleh kilasan bayangan api neraka yang berkobar-kobar menelan dirinya manakala ia tanggalkan jubah dan surban dan hukum syarak. Namun, secepat itu di benaknya terbayang tentang perjalanan mencari hakikat ‘Aku’ sebagai pangkal segala ‘aku’. Mengapa ‘aku’-ku harus takut terhadap ‘aku’ neraka? Bukankah ‘aku’ neraka juga seperti ‘aku’-ku, yaitu berasal dari ‘Aku’ semesta?

Rsi Samsitawratah tampaknya menangkap keraguan San Ali. Itu sebabnya, dengan acuh tak acuh dia berkata seolah kepada dirinya sendiri. “Akal dan pikiran, keakuan, keinginan-keinginan, bentuk-bentuk, status, identitas diri, dan keanekaragaman citra diri adalah tirai yang memisahkan ‘aku’ dari ‘Aku’. Sebab, semua itu masih meng-‘aku’, belum ‘Aku’ yang sesungguhnya. Karena itu, jubah, surban, mahkota, keragaman adalah tirai yang wajib dibuka jika kita ingin menyatu dengan-Nya.”

Akhirnya, tanpa banyak bicara San Ali melepas jubah dan surbannya. Kemudian dengan hanya bercawat ia bergabung dengan para brahmin yang tinggal di asrama.

Kehadiran San Ali di lingkungan brahmin mendapat perhatian serius dari Rsi Samsitawratah. Ini setidaknya terlihat dari kehendak Rsi Samsitawratah memberikan pelajaran khusus bagi San Ali, terutama dalam kaitan dengan kitab rontal Catur Viphala. Mula-mula, Rsi Samsitawratah menjelaskan urut-urutan Viphala yang berjumlah empat: nihsprha, nirbana, niskala, nirasraya.

“Ketahuilah bahwa yang dimaksud nihsprha adalah keadaan di mana tidak ada lagi sesuatu yang ingin dicapai manusia,” Rsi Samsitawratah menguraikan. “Nirbana berarti seseorang tidak lagi memiliki badan dan karenanya tidak ada lagi tujuan. Niskala adalah bersatu dengan Dia Yang Hampa, Yang Tak Terbayangkan, Tak Terpikirkan, Tak Terbandingkan. Dalam keadaan itulah, ‘aku’ menyatu dengan ‘Aku’. Dan kesudahan dari niskala adalah nirasraya, yakni keadaan di mana jiwa meninggalkan niskala dan melebur ke Parama-Laukika, yakni dimensi tertinggi yang bebas dari segala bentuk keadaan, tak mempunyai ciri-ciri, dan mengatasi ‘Aku’.”

Apa yang tercantum di dalam kitab rontal Catur Viphala merupakan hal yang gampang diuraikan, namun berat dijalankan. Hanya mereka yang benar-benar bertekad bulat menuju ‘Aku’ yang akan melaksanakannya. Demikianlah, seperti brahmin yang lain, San Ali melakukan latihan ruhani dengan ketat menuju Catur Viphala. Ia berpuasa selama berhari-hari. Seluruh waktunya dilewati dengan latihan meniadakan diri dan samadi. Daging mulai menyusut dari pipinya. Kelopak matanya cekung. Rambut awut-awutan. Bayangan aneh mulai sering memasuki mimpinya. Bahkan di tengah terik matahari, ia membiarkan tubuhnya terpanggang oleh kesakitan dan kehausan. Semuanya untuk menghilangkan keakuan di dalam dirinya.

San Ali dibimbing langsung oleh Rsi Samsitawratah dalam melatih samadi dan pengingkaran diri. Ia juga diajarkan bagaimana harus meniadakan diri dan berlatih menyatukan keakuan dirinya dengan alam sekitar: dengan pohon, kayu, batu, air, hewan, ikan, burung, bahkan awan. Dalam tempo singkat ia dapat mengingkari keakuan dirinya untuk menyatu dengan keakuan alam sekitarnya.

Rsi Samsitawratah mengajarkan pula bagaimana seorang brahmin tidur dengan mula-mula mengatur pernapasan dan menutup kelopak matanya hingga berangsur-angsur seluruh jiwanya padam. Jika jiwa telah padam, begitu uraian Catur Viphala, maka orang akan tidur tanpa mimpi dan tanpa perasaan. Sebaliknya, orang yang tidak memahami ajaran itu akan terperangkap ke dalam cakrabhawa, yakni terseret oleh mimpi-mimpi dan igauan di dalam tidur. Dan mereka yang terperangkap ke dalam cakrabhawa dengan sendirinya jiwanya akan jatuh ke neraka.

Berbagai latihan jiwa telah dilakukan San Ali, baik puasa, samadi, makanan dan minuman yang baik, tidur, hingga yoga. Dengan bimbingan langsung dari Rsi Samsitawratah, ia mengalami kemajuan pesat terutama dalam perjuangan meniadakan diri. Namun, ujung dari semua itu ia merasa betapa setelah keakuan dirinya mengembara ke berbagai perwujudan pada akhirnya akan kembali lagi pada keakuan diri. San Ali merasa pengembaraan jiwanya itu seperti pelarian diri yang tak diketahui ujungnya. Ia merasa seperti melanglang jagad untuk meninggalkan tubuhnya yang menyembunyikan ‘aku’, namun pelarian itu ternyata hanya sementara waktu. Ia merasa tidak menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya. Ia tidak merasa telah beroleh pencerahan sejati.

San Ali tidak sadar bahwa dengan menjalani hidup sebagai brahmin yang begitu ketat melakukan latihan samadi dan menolak diri, ia telah memperoleh berbagai kekuatan. Ini baru diketahuinya ketika ia bersama sejumlah brahmin muda mencari kayu di hutan. Saat itu, tanpa diketahui muncul seekor harimau besar yang kelaparan dan siap menerkam salah satu di antara mereka. Para brahmin yang ketakutan jatuh bangun melarikan diri.

San Ali sadar ia tidak sempat lagi menyelamatkan diri. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk memusatkan pikiran dan perasaannya. Menolak keakuan dirinya untuk bersembunyi di balik keakuan harimau. Sebuah peristiwa adikodrati terjadi. Harimau itu mendadak tercengang dan kemudian merunduk seolah-olah mengikuti kehendak San Ali. Kemudian seperti hewan jinak, dengan gerak lamban dia melangkah mendekat, lalu menggesek-gesekkan kepalanya ke tubuh San Ali. Sesudah itu, dia membalikkan badan dan pergi.

Peristiwa menakjubkan itu dengan segera menyebar di asrama dan menimbulkan iri hati di antara para brahmin yang lebih lama bermukim tetapi belum memiliki kelebihan seperti San Ali. Dalam tempo singkat ada kasak-kusuk yang menyatakan bahwa San Ali adalah telik sandhi orang-orang Islam yang disusupkan ke asrama, dengan tujuan utama menghancurkan kekuatan Pajajaran dari dalam. Peristiwa menakjubkan itu seolah-olah pamer kekuatan dan merupakan tantangan kepada Rsi Samsitawratah. Kasak-kusuk terus bergulir. Dan San Ali merasa betapa seluruh penghuni asrama seolah-olah mengamati segala gerak-geriknya dengan penuh curiga.

Bagi San Ali, peristiwa di hutan itu justru telah menyadarkan dirinya bahwa apa yang selama ini dipelajarinya di asrama bukanlah tujuan akhir yang hendak dicapainya. Ia merasa bahwa ‘jalan keselamatan’ menuju ‘Aku’ akan sulit dijangkau dengan cara yang selama ini dipelajarinya di asrama. Ia menangkap sasmita bahwa apa yang dijalankannya dengan latihan-latihan ketat selama ini justru tidak sesuai dengan intisari maknawi dari kitab rontal Catur Viphala.

Tampaknya gejolak pikiran San Ali itu ditangkap oleh Rsi Samsitawratah. Itu sebabnya, ketika ia menghadap, guru para brahmin itu memberikan kitab rontal Catur Viphala sambil berkata, “Ketahuilah, o Anak Muda, bahwa asrama ini hanya persinggahanmu sementara dalam menuju ‘Aku’. Sebab, ada sesuatu di dalam dirimu yang tak gampang ditundukkan oleh sekadar latihan penolakan diri dan samadi. Jalan yang engkau lintasi masih sangat panjang. Karena itu, o Anak Muda, pergilah engkau mengikuti garis hidupmu seperti air mengikuti aliran sungai. Hanya pesanku, janganlah engkau berbalik arah dan putus asa dalam mencapai tujuan.”

“Ampun seribu ampun, o Guru Agung,” San Ali mengiba, “Hamba berharap dengan mengikuti jalan Brahmin melalui arahan kitab Catur Viphala maka kehausan jiwa hamba segera terobati. Tetapi, ternyata tidak. Semakin hamba berlatih semakin kuat kehausan itu mencekik hidup hamba.”

“Jalan pembebasan memang rumit dan berliku-liku. Karena itu, o Anak Muda, lihatlah para brahmin di asrama ini. Mereka yang sudah berusia lanjut pun tidak dijamin meraih kebebasan sempurna. Lantaran itu, o Anak Muda, pergilah ke muaramu. Ikuti liku-liku aliran yang membawamu ke samudera pembebasan. Semoga engkau dapat meraih tujuan yang mulia itu.”

“Hamba mohon restu, o Guru Agung,” San Ali menghatur sembah.

“Pergilah menuju muaramu, o jiwa yang dicekam rindu.”

Dengan hati dibakar kehausan akan pengetahuan sejati, San Ali meninggalkan asrama. Saat ia melangkahkan kaki meninggalkan pintu, beberapa brahmin muda yang bersamanya sewaktu di hutan, menghadang. Dengan berbagai rayuan mereka menginginkan San Ali bersedia tinggal lebih lama. “Jika engkau berkenan tinggal barang setahun di sini, kami yakin engkau akan bisa belajar terbang ke angkasa, berjalan di atas air, kebal senjata tajam, menembus tembok, dan bahkan menghilang.”

“Itu semua bukanlah keinginanku,” San Ali tersenyum. “Yang Mulia Guru Agung Samsitawratah lebih mengetahui tentang apa yang menjadi keinginan utamaku. Karena itu, o kawan-kawan tercinta, beliau menghendaki aku pergi dari asrama ini untuk mencari muara yang bakal mengantarku ke samudera kebebasanku.”

Melalui pelabuhan Kalapa, San Ali memulai pengembaraannya melintasi samudera dengan menumpang jung milik seorang Cina Muslim bernama Haji Nasuhah yang bernama asli Thio Bun Cai. Usianya sekitar tujuh puluh tahun, namun dia terlihat sepuluh tahun lebih muda. Otot-otot di tubuhnya – terutama di kedua lengannya – masih kukuh dan perkasa.

Sekalipun Haji Nasuhah orang Cina asli dan bermata sipit, kehidupan yang keras laut telah mengubah warna kulitnya menjadi coklat kemerahan. Alisnya tebal dan berbentuk pedang, mencerminkan betapa keras watak nakhoda berkepala gundul yang selalu ditutupi kopiah putih itu. Untaian tasbih yang selalu berputar menunjukkan betapa kukuh dia mengingat Tuhan di tengah kesibukannya mengatur arah kapal. Sementara di balik senyuman yang selalu menghiasi bibirnya itu terungkap keteguhan jiwa dari seorang tua yang sudah teruji mengarungi samudera kehidupan.

Penampilan Haji Nasuhah yang mencerminkan citra keramahan seorang Muslim itu sebenarnya baru terlihat sekitar dua dasawarsa silam. Sebelum masa itu, dia bukanlah Muslim bahkan bukan manusia dari golongan baik. Thio Bun Cai merupakan bajak laut yang sangat ditakuti di Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Para saudagar Cina menjulukinya Lamhai Lomo (Iblis dari Selatan). Sebagai bajak laut bekas pengikut Liang Tau Ming, Thio Bun Cai memiliki pangkalan di Ku Kang (Palembang) dan sewaktu-waktu dapat menggerakkan armadanya dengan cepat. Nama Lamhai Lomo sebagai bajak laut yang telengas dan tak kenal ampun, membuat siapa saja yang melintasi Selat Malaka atau Laut Cina Selatan dicekam ketakutan.

Roda kehidupan berputar mengikuti takdirnya, kadang di atas kadang di bawah, kadang mengubah kedudukan orang dari kaya ke miskin, dari jahat ke baik, dari durhaka ke saleh, dari kejam ke welas asih. Roda kehidupan Thio Bun Cai pun berubah ketika bertemu dengan Syaikh Ibrahim as-Samarkandy (ayahanda Raden Ali Rahmatullah) yang menjadi tamu Adipati Palembang, Ario Damar.

Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja. Ketika itu, kapal yang ditumpangi ulama asal negeri Samarkand itu dirampok oleh Thio Bun Cai di sekitar kepulauan Anambas. Syaikh Ibrahim saat itu sedang dalam perjalanan dari Pandurangga di negeri Campa ke Palembang untuk mengunjungi kemenakan tiri istrinya yang menjadi Adipati Palembang. Dalam peristiwa itu, Thio Bun Cai menyaksikan keajaiban pada diri Syaikh Ibrahim. Ceritanya, saat kapal dari Campa itu dikepung, terjadi kepanikan di antara para penumpangnya. Bahkan dalam kepanikan itu seorang penumpang anak-anak berusia lima tahun jatuh ke laut dan hilang ditelan ombak. Saat itulah, seorang penumpang yang kemudian dikenal bernama Syaikh Ibrahim as-Samarkandy melompat ke laut. Ajaib, tubuhnya tidak tenggelam. Sebaliknya dengan tenang ia berdiri di atas hamparan air laut. Kemudian ia membungkuk dan tangannya menggapai ke bawah. Lalu dalam sekejap terlihatlah anak kecil yang sebelumnya sudah tenggelam itu. Dan seperti gerakan rajawali, Syaikh Ibrahim menggendong anak itu dan membawanya melompat ke atas kapal.

Thio Bun Cai dan anak buahnya terkesima menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Melalui ketakjuban itulah Thio Bun Cai akhirnya melepas mangsanya. Bahkan seperti terpesona oleh sesuatu yang ada di dalam diri Syaikh Ibrahim, Thio Bun Cai mengikuti ke mana pun ia pergi. Sejak pertemuan itu terjadi perubahan besar di dalam hidupnya. Dia yang sebelumnya telengas dan kejam tiba-tiba berubah menjadi penyabar dan penyayang. Dia yang sebelumnya sangat berkuasa tiba-tiba selalu mengalah dalam setiap persoalan. Dia yang sebelumnya memiliki bukit harta hasil rampokan tiba-tiba membagikan seluruh kekayaannya kepada orang-orang miskin tanpa sisa. Bahkan puncak dari perubahan itu terlihat ketika dia mengikrarkan diri sebagai Muslim dan menunaikan ibadah haji ke tanah suci dengan menggunakan jung, satu-satunya miliknya yang tersisa.

Sepulang haji, Thio Bun Cai mendapat nama baru: Haji Nasuhah. Karena, dia telah berikrar untuk melakukan taubatan nashuhah, yakni tidak akan mengulangi kesalahan dan kekeliruannya di masa lampau. Dan sejak itu, perkumpulan bajak laut yang dipimpinnya dibubarkan. Atas jasa baik Syaikh Ibrahim, para bekas anak buahnya dijadikan pengawal samudera Adipati Palembang. Thio Bun Cai yang sudah menjadi Haji Nasuhah menghabiskan sisa hidupnya dengan memperbanyak ibadah. Kalau pun dia dituntut untuk bekerja maka hal itu dilakukan hanya sebatas mengantarkan orang-orang yang butuh tenaga dan keterampilannya mengarungi samudera.

Putaran roda kehidupan Haji Nasuhah sangat menarik hati San Ali. Itu sebabnya, sepanjang perjalanan mengarungi laut, ia terus bertanya berbagai hal, terutama tentang Syaikh Ibrahim as-Samarkandy yang memiliki kelebihan karomah. Haji Nasuhah, entah kenapa, didesak oleh semacam keharusan untuk menjawab semua pertanyaan San Ali. Lantaran itu, hampir seluruh waktu senggang mereka gunakan untuk berbicara berbagai hal, terutama yang bersangkut-paut dengan perjuangan menuju ‘Aku’ yang dilingkari berlapis-lapis hijab.

Lewat perbincangan dan membanding-bandingkan pengalaman masing-masing, San Ali menangkap kesamaan dalam tataran amaliah ketika seseorang melakukan taubatan nashuhah – menghadapkan pikiran dan perasaan hanya kepada Allah – untuk menuju hakikat ‘Aku’. Kesamaan itu meliputi ‘kewajiban’ meninggalkan segala sesuatu, baik sukarela atau terpaksa, kecuali Allah. Meski menangkap adanya kesamaan, San Ali tetap menginginkan kepastian dari simpulannya itu dengan menanyakan langsung kepada Haji Nasuhah. “Apakah orang-orang yang menuju ke Dia memang ‘wajib’ meninggalkan segala sesuatu yang bukan Dia?”

“Aku kira engkau sudah mengalami peristiwa itu. Aku kira engkau pun sudah merasakan betapa pahitnya harus melepas segala yang pernah engkau miliki. Dan kita masing-masing akan mengalami tingkat kepahitan sesuai tingkat kepemilikan kita. Semakin kuat perasaan dan pikiran kita mencintai segala yang kita anggap milik kita maka semakin kuat pula tingkat kepahitan yang harus kita telan,” kata Haji Nasuhah.

“Apakah pada awalnya Tuan Haji merasa pahit ketika harus membagi-bagikan harta benda yang Tuan miliki kepada orang lain?” tanya San Ali.

“Soal membagi-bagi harta malah kulakukan dengan sukarela seolah-olah orang memikul yang berusaha melepas beban,” kata Haji Nasuhah datar.

“Jikalau begitu, peristiwa pelepasan apa yang menurut Tuan Haji sangat pahit dan menyakitkan?” San Ali memburu.

“Ketika aku harus kehilangan anak dan istri yang kutinggalkan di pulau Lingga. Ketika istriku meninggal akibat terkena sampar, anak lelakiku satu-satunya, Thio Ban Tong, yang berusia sembilan tahun menghilang tak diketahui rimbanya. Orang-orang kepercayaanku yang kutugaskan menjaganya ternyata tidak mengetahui ke mana anak tunggal penyambung kehidupan leluhurku itu pergi.”

“Istri mati mungkin masih bisa aku mencari ganti. Tetapi, kalau anak lelaki hilang tak tentu rimba ke mana pula harus kucari ganti? Karena itu, o Anak Muda, waktu itu kulewati dengan segala kepanikan. Kuancam bunuh semua orang kepercayaanku jika mereka tidak menemukan anak yang kuamanatkan penjagaannya kepada mereka. Kusekap anak-anak mereka untuk memaksa agar mereka benar-benar mencari anakku.”

“Di saat kepanikanku memuncak, tiba-tiba Syaikh Ibrahim datang. Dengan nasihat dan uraiannya tentang hukum kehidupan dan orang-orang yang ‘dipanggil’ oleh Allah maka sadarlah aku bahwa segala apa yang kualami itu adalah bagian dari cobaan Allah untuk menguji tekadku bertaubat. Setelah itu, seluruh sisa harta milikku kubagi-bagikan dan aku menunaikan haji ke tanah suci. Persoalan hilangnya Thio Ban Tong kuserahkan kepada-Nya. Dia yang memberi Dia pula yang berhak meminta kembali.”

“Kemarahanku pun akhirnya pudar. Kumaafkan mereka dan kukembalikan anak-anak mereka. Kukatakan kepada mereka bahwa betapa pun ketat anakku dijaga, bahkan ketika kujaga sendiri, kalau Dia telah berkehendak meminta maka tidak ada satu pun makhluk yang bisa menghalangi. Dan akhirnya aku sendiri menyadari, betapa sebenarnya diriku tidak memiliki apa-apa di dunia ini; nama besar, kekayaan, istri, anak, tubuh, nyawa, dan ruhku sendiri; semua milik Allah,” papar Haji Nasuhah.

“Berarti Tuan Haji sekarang ini sebatangkara seperti saya?”

“Bagi mereka yang sudah ‘bangun’, seluruh manusia pada dasarnya sebatangkara di dunia ini. Itu sebabnya, bagi mereka yang sudah ‘bangun’ tidak dikenal kebanggaan atas ras, suku bangsa, marga, keluarga, nama besar, atau apa saja yang bersifat kelompok. Dan bagi mereka yang sudah ‘bangun’, menjadi suatu ‘kewajiban’ untuk menggantungkan kesebatangkaraannya kepada Dia Yang Mahatunggal; Dia Yang Mahasebatangkara, yang tidak memiliki istri, anak, keluarga, dan kerabat; kepada Dia jua kita, orang-orang sebatangkara ini, wajib mengarahkan harapan dan tujuan.”

“Kalau jalan menuju Dia harus dilalui dengan meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia, kenapa Dia menciptakan dunia?” tanya San Ali.

“Tidakkah engkau ketahui bahwa dunia ini diciptakan sebagai penjara bagi kita?”

“Penjara?” sergah San Ali heran.

“Ketahuilah, o Anak Muda, bahwa dunia ini adalah tempat leluhur kita, Bapa Adam dan Ibu Hawa, menjalani hukuman setelah melanggar perintah Allah. Jadi, hakikat dunia ini sebenarnya adalah penjara bagi Bapa Adam dan Ibu Hawa beserta keturunannya. Dan seperti makna ad-dunya sendiri yang berarti dekat atau singkat, maka kehidupan di dunia ini sungguh hanya persinggahan singkat belaka bagi anak cucu Adam dan Hawa yang memikul hukuman di penjara bernama dunia ini. Karena itu, bagi mereka yang sudah ‘bangun’ akan memandang bahwa tidak pantas dan sangat keliru jika manusia sebagai keturunan Adam dan Hawa menjadikan dunia ini sebagai hunian yang menyenangkan, apalagi sampai membangun mahligai kekuasaan dan kekayaan turun-temurun, seolah-olah dunia ini hunian abadi.”

“Jika demikian, kenapa kita harus bekerja mencari nafkah jika pada akhirnya kita harus menganggap dunia ini penjara yang tidak menyenangkan?”

“Karena tubuh kita adalah bagian dari jazad maddi (materi) maka tubuh kita pun membutuhkan makanan dan minuman bersifat maddi (materi). Karena itulah, agama mengajarkan agar kita, manusia, keturunan Adam dan Hawa, tidak berlebihan dalam memanfaatkan dunia apalagi sampai mencintainya.”

“Ada kisah menarik tentang pemanfaatan dunia yang kuperoleh dari guru agungku, Syaikh Ibrahim, melalui cerita pemburu kera,” lanjut Haji Nasuhah.

Pemburu itu tahu bahwa kera sangat suka buah ceri. Ia sangat paham cara berpikir kera. Itu sebabnya, ia menempatkan buah-buah ceri ke dalam botol gelas bening yang berleher sempit. Kemudian ia letakkan botol gelas itu di tempat kera-kera biasanya berkeliaran.

Tak lama, pemburu itu melihat seekor kera datang. Kera itu memasukkan tangannya ke dalam botol dan mengambil buah ceri dalam jumlah banyak. Tetapi, dia kemudian sadar bahwa tangannya yang menggenggam buah ceri tidak bisa ditarik keluar.

Kera menjerit-jerit panik. Tangannya tidak bisa lepas dari botol karena dia tetap menggenggam erat buah ceri. Sang pemburu kemudian datang. Kera ketakutan dan berusaha melarikan diri, namun karena tangannya membawa botol maka dia tidak dapat berlari kencang. Setelah tertangkap, pemburu itu memukul siku kera sehingga genggamannya atas buah-buah ceri itu mengendor. Tangan kera itu memang bisa lepas dari botol, tetapi ia telah tertangkap.

“Aku segera menyadari bahwa kera yang dimaksud di dalam kisah itu adalah aku. Betapa kusadari bahwa selama itu aku terlalu menggenggam erat-erat harta duniawi sehingga aku tidak bisa melepaskan diri dari jeratan botol duniawi. Kematian istri dan kehilangan anak kesayangan kuanggap sebagai pukulan ‘Sang Pemburu’ ke sikuku. Nah, sekarang ini aku merasa sebagai kera yang bebas dari jeratan botol, tetapi harus patuh dan setia kepada ‘Sang Pemburu’ yang memeliharaku dengan baik. Aku tidak perlu lagi mencari buah ceri karena Dia telah menyediakan semua kebutuhanku.”